6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Status Nutrisi
2.1.1 Definisi Status Nutrisi
Status nutrisi merupakan hasil interaksi antara makanan yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Menurut Supariasa dkk (2014), status nutrisi merupakan suatu hasil dari keseimbangan antara pemasukan makanan dan penyerapan zat gizi atau nutrien dan penggunaan zat gizi tersebut untuk aktifitas fisiologis tubuh. Status nutrisi juga diartikan sebagai kondisi fisik seseorang yang dipengaruhi oleh diet (Roth, 2010).
2.1.2 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Nutrisi
Menurut penelitian yang dilakukan Pahlevi (2012), Mukherjee dkk (2008), dan Chen dkk (2014) mengenai determinan status nutrisi, dapat disimpulkan beberapa faktor yang berpengaruh terhadap status nutrisi anak yaitu:
2.2.2.1 Konsumsi energi
Konsumsi makanan meliputi jumlah, jenis makanan yang dimakan serta frekuensi makan dalam waktu satu hari. Menurut Supariasa dkk (2014), konsumsi makanan atau energi memengaruhi status nutrisi secara langsung. Energi digunakan oleh tubuh untuk melakukan aktifitas fisiologis, serta berperan dalam pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan.
Beberapa faktor yang memengaruhi konsumsi makanan yaitu:
2.1.2.1.1 Faktor sosioekonomi
Faktor sosioekonomi yang memengaruhi proses konsumsi makanan yaitu pendapatan keluarga, tempat tinggal, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan ibu, serta jumlah anggota keluarga atau jumlah anak.
Menurut Ramachandran dan Snehalatha (2010), prevalensi obesitas yang tinggi hingga beberapa dekade yang lalu masih terpusat pada negara dengan pendapatan tinggi, namun akhir-akhir ini obesitas bahkan sudah mencapai Negara dengan pendapatan terendah di dunia.
Tingkat pengetahuan ibu mengenai nutrisi berpengaruh terhadap usaha perbaikan status nutrisi di dalam keluarga dan perilaku sadar gizi di dalam keluarga.
Penguasaan informasi mengenai nutrisi merupakan salah satu penentu kualitas pelayanan ibu di dalam keluarga, khususnya dalam hal penyajian dan penyediaan makanan bergizi seimbang. Menurut Mukherjee (2008), ibu dengan tingkat pendidikan maksimal sekolah dasar, menyumbang angka prevalensi tertinggi untuk anak dengan underweight. Sedangkan prevalensi anak dengan underweight terendah didapatkan pada mereka dengan ibu berpendidikan perguruan tinggi atau lebih tinggi. Jumlah anggota keluarga memiliki hubungan yang signifikan secara statistik terhadap status nutrisi anak. Kondisi underweight memiliki prevalensi tertinggi pada keluarga yang beranggotakan lebih dari 5 orang, atau pada anak yang memiliki saudara lebih dari 3 orang (Mukherjee dkk, 2008).
2.1.2.1.2 Faktor psikologis
Faktor psikologis yang mampu memengaruhi konsumsi makan seorang anak adalah kondisi kesepian atau kesendirian dan merasa kehilangan. Jika anak
berada dalam kondisi tersebut, anak cenderung akan mengurangi asupan makanan sebagai suatu bentuk reaksi tubuh akibat menurunnya kerja hormon yang menimbulkan rasa lapar dan ingin makan. Anak juga akan cenderung merasa tidak diperhatikan dan berusaha untuk menarik perhatian dengan mengurangi asupan makanan.
2.2.2.2 Keluaran energi 2.1.2.2.1 Aktifitas fisik
Menurut Baruki dkk (2006), aktifitas fisik berpengaruh terhadap status nutrisi anak. Aktifitas fisik merupakan faktor protektif melawan obesitas dan overweight. Penelitian tersebut mendapatkan hasil yaitu anak dengan status nutrisi
normal memiliki aktifitas fisik yang lebih aktif baik berupa berolahraga rutin, maupun beraktifitas di luar rumah dibandingkan anak dengan status nutrisi overweight ataupun obesitas. Penurunan aktifitas fisik juga dipengaruhi oleh faktor
mekanik, yaitu meningkatnya penggunaan transportasi bermotor, dan kecenderungan menonton televisi dan bermain video games dibandingkan bermain di luar rumah juga turut berperan dalam terciptanya keseimbangan energi positif (Ramachandran dan Snehalatha, 2010).
2.1.2.2.2 Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi dan perubahan status nutrisi memiliki hubungan timbal balik. Penyakit infeksi dapat menyebabkan perburukan status nutrisi, atau status nutrisi yang buruk akan meningkatkan risiko terserang penyakit infeksi (Supariasa dkk, 2014).
2.1.3 Penilaian Status Nutrisi Anak
Penilaian status nutrisi pada umumnya dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satu cara pengukuran yang sederhana, mudah dan banyak digunakan adalah pengukuran antropometri (Rismawan dkk, 2008). Antropometri gizi merupakan pengukuran dimensi dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa dkk, 2014). Penggunaan pengukuran antropometri bertujuan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi, yang dapat dilihat dari pola pertumbuhan fisik maupun proporsi jaringan tubuh (lemak, otot, air) (Supariasa dkk, 2014). Ukuran pertumbuhan yang sangat banyak digunakan untuk menentukan status nutrisi adalah berat badan (BB) dan tinggi badan (TB) (Rismawan dkk, 2008).
Dalam penggunaannya, ukuran pertumbuhan jarang digunakan secara tersendiri, penilaian status nutrisi pada umumnya mengombinasikan beberapa ukuran pertumbuhan untuk mendapatkan nilai indeks antropometri. Indeks antropometri merupakan hasil pengukuran kombinasi beberapa parameter ukuran pertumbuhan (Supariasa dkk, 2014). Adapun beberapa indeks antropometri pediatrik yaitu:
2.2.2.1 Berat badan menurut umur (BB/U) 2.2.2.2 Tinggi badan menurut umur (TB/U)
2.2.2.3 Berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) 2.2.2.4 Lingkar lengan atas menurut umur (LLA/U) 2.2.2.5 Indeks massa tubuh (IMT)
Menurut Sjarif dkk (2011) dan Supariasa dkk (2014), penilaian status nutrisi anak saat kini dapat diukur dengan menggunakan indeks BB/TB. Ukuran
BB dan TB memiliki hubungan yang linear dalam kondisi normal. Peningkatan BB akan diikuti dengan peningkatan TB dengan kecepatan tertentu (Supariasa dkk, 2014).
Seperti indeks antropometri lainnya, indeks BB/TB juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan indeks BB/TB diantaranya yaitu tidak memerlukan data umur dan dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal dan kurus). Sedangkan kekurangannya yaitu memerlukan dua jenis alat ukur, tidak memberikan gambaran tinggi badan yang cukup atau kelebihan tinggi badan menurut umurnya, serta sering terjadi kesulitan saat melakukan pengukuran tinggi badan pada balita (Supariasa dkk, 2014). Grafik pertumbuhan yang digunakan untuk anak usia 2 – 20 tahun yaitu CDC 2000 Growth Chart BMI for age (Tabel. 2.1).
Tabel 2.1
Status Nutrisi berdasarkan Kriteria CDC 2000
Persentil Status nutrisi
> 95th Obesitas
≥ 85 th dan ≤ 95th Overweight
≥ 5 th dan < 85th Normal
< 5th Underweight
Sumber: (Sjarif dkk, 2011, 5)
2.2. Persepsi
2.2.1 Definisi Persepsi
Pengertian persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu suatu bentuk tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu. Persepsi juga diartikan sebagai suatu pengamatan terhadap objek tertentu, peristiwa maupun hubungan, yang didapatkan dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat, 2007). Sugihartono (2007) menyatakan persepsi merupakan
kemampuan otak untuk menerjemahkan rangasangan atau proses menerjemahkan rangsangan yang masuk melalui alat indera manusia.
Dari beberapa pendapat mengenai definisi persepsi di atas, didapatkan bahwa persepsi muncul secara spontan ketika dipicu oleh stimulus atau rangsangan yang kemudian diproses dan diinterpretasikan untuk menghasilkan informasi atau makna. Persepsi adalah suatu kesan pribadi yang bersifat sangat subjektif, dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan dijadikan suatu kebiasaan.
2.2.2 Proses Pembentukan Persepsi
Proses pembentukan persepsi menurut Desvianto (2013) terdiri atas tiga tahap pokok, yaitu:
2.2.2.1 Stimulasi atau Seleksi
Tahap pertama diawali dengan adanya stimulasi yang menimbulkan perhatian atau atensi subjek secara sadar. Namun, tidak semua stimulus akan diterima. Stimulus yang begitu banyak dari lingkungan kemudian akan diseleksi untuk masuk ke tahap selanjutnya.
2.2.2.2 Pengelompokan atau Organization
Stimulus yang telah diseleksi kemudian dikelompokkan berdasarkan pengertian atau pemahaman yang dimiliki oleh subjek.
2.2.2.3 Interpretasi – Evaluasi
Tahap selanjutnya yaitu interpretasi dan evaluasi, dimana pada tahap ini akan terbentuk suatu kesimpulan. Tahap ini bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh berbagai faktor personal, yang terdiri atas pengalaman terdahulu, asumsi mengenai perilaku seseorang, ekspektasi, pengetahuan yang dimiliki, dan perasaan atau mood dari subjek tersebut.
2.2.3 Persepsi dan Status Nutrisi
Hubungan antara persepsi dan status nutrisi merupakan suatu hubungan tidak langsung yang dipengaruhi oleh berberapa faktor. Faktor sosioekonomi yang secara langsung memengaruhi konsumsi energi juga didapatkan memengaruhi pembentukan persepsi. Tingkat pendidikan yang tinggi diasosiasikan dengan pengetahuan ibu yang tinggi mengenai status nutrisi. Hal ini didasari oleh semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kesempatan mengakses dan mendapatkan berbagai informasi juga semakin tinggi, begitupun terhadap informasi mengenai status nutrisi (Manios Y dkk, 2009). Menurut Cruz dkk (2012), pemahaman ibu yang kurang mengenai status nutrisi, merupakan faktor penyebab kesalahan dalam mengklasifikasikan status nutrisi anak. Selain itu, faktor yang sigifikan berpengaruh terhadap persepsi ibu yaitu indeks massa tubuh (IMT) ibu. Pada penelitian sebelumnya, didapatkan bahwa ibu dengan IMT overweight cenderung tidak melihat anak mereka yang overweight sebagai overweight. Faktor lainnya yang memiliki hubungan kuat dengan persepsi yang salah yaitu anak laki-laki. Penelitian Manios dkk (2009) mendapatkan bahwa ibu cenderung underestimate terhadap status nutrisi anak laki-laki. Ibu memiliki kecenderungan lebih sensitif terhadap bentuk badan dan status nutrisi anak perempuan, sedangkan untuk anak laki-laki yang memiliki ukuran badan yang lebih besar dianggap memiliki manfaat fisik yang baik. Namun penelitian lainnya mendapatkan hasil yang berkebalikan, dimana ibu cenderung menilai anak laki-lakinya lebih kurus dibandingkan dengan kenyataan (Molina dkk, 2009).
2.2.4 Body Image Silhouette Chart
Pengukuran persepsi terhadap status nutrisi anak, dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pada penelitian sebelumnya, pengukuran persepsi ibu terhadap status nutrisi anak diukur dengan menggunakan “Body Image Silhouette Chart” de Collin (Aparicio dkk, 2013; Russo dkk, 2012). Body Image Silhouette Chart terdiri atas tujuh gambar siluet anak laki-laki dan perempuan yang diberi nomor satu hingga tujuh (Gambar 2.1).
Sumber: (Aparicio dkk, 2013, 195; Russo dkk, 2012, 3)
Gambar 2.1 Body Image Silhouette Chart
Dalam penggunaannya, ibu akan diminta untuk menunjuk satu gambar yang menurut mereka paling menggambarkan bentuk tubuh anak mereka pada saat ini (persepsi nyata). Selanjutnya, ibu diminta menunjuk satu gambar lagi sebagai gambar bentuk tubuh yang diharapkan untuk dimiliki oleh anaknya (persepsi ideal subjektif). Ketujuh gambar siluet masing-masing memiliki interpretasi status nutrisi (Tabel 2.2).
Tabel 2.2
Interpretasi Gambar “Body Image Silhouette Chart”
Nomor Gambar Interpretasi Gambar 1 atau 2 Underweight
Gambar 3 Normal
Gambar 4 atau 5 Overweight Gambar 6 atau 7 Obesitas
Sumber: (Aparicio dkk, 2013, 195; Russo dkk, 2012, 3)
Kategori persepsi nyata akan dibandingkan dengan kategori status nutrisi anak untuk mendapatkan kesimpulan benar atau tidaknya persepsi ibu menilai status nutrisi anaknya. Hasil dari persepsi nyata dan persepsi ideal subjektif kemudian dapat diolah untuk mendapatkan ketidakpuasan bentuk tubuh atau Feel minus Ideal Discrepancy (FID) ditentukan dengan rumus:
FID = Nomor gambar persepsi nyata – nomor gambar persepsi ideal subjektif.
FID bernilai positif, menyatakan gambar tubuh nyata lebih gemuk dibanding gambar tubuh ideal atau berarti ibu berkeinginan agar anaknya menjadi lebih kurus. FID bernilai negatif, berarti gambar tubuh nyata lebih kurus dibanding gambar tubuh ideal atau berarti ibu berkeinginan agar anaknya menjadi lebih gemuk. Sedangkan FID bernilai 0 menyatakan tidak ada ketidaksesuaian, gambar tubuh nyata sama dengan gambar tubuh ideal, atau keinginan ibu sudah tercapai (Zaccagni dkk, 2014; Aparicio dkk, 2013).
Informasi lain yang bisa didapatkan yaitu Feel minus Actual weight status Inconsistency (FAI) yaitu suatu indeks untuk menilai konsistensi persepsi ibu dalam
menilai bentuk tubuh anaknya apakah dipersepsikan lebih gemuk, lebih kurus ataupun sama dengan status nutrisi anak sesungguhnya. Kategori yang didapatkan yaitu underestimated, overestimated, ataupun persepsi realistik. Apabila kategori yang didapatkan adalah underestimated, maka berarti ibu memersepsikan anaknya lebih kurus dibandingkan keadaan sebenarnya. Apabila kategori yang didapatkan adalah overestimated, maka berarti ibu memersepsikan anaknya lebih gemuk dibandingkan keadaan sebenarnya. Sedangkan apabila kategori yang didapatkan
adalah persepsi realistik, maka ibu memersepsikan kondisi anaknya sesuai dengan kondisi sebenarnya. Adapun rumus indeks FAI yaitu:
FAI = Kode golongan gambar persepsi nyata – Kode status nutrisi anak Keterangan kode golongan gambar persepsi nyata (Tabel 2.3):
Tabel 2.3
Kode Golongan Gambar Persepsi Nyata Nomor gambar Status Nutrisi Kode
1 dan 2 Underweight 1
3 Normal 2
4 dan 5 Overweight 3
6 dan 7 Obesitas 4
Sumber: (Zaccagni, 2014, 3)
Keterangan kode status nutrisi anak (Tabel 2.4):
Tabel 2.4
Kode Status Nutrisi Anak Status Nutrisi Kode Severely underweight
dan Underweight
1
Normal 2
Overweight 3
Obesitas 4
Sumber: (Zaccagni, 2014, 3)
Nilai dari FAI yaitu rentang -3 sampai +3, nilai negatif berarti underestimated, nilai positif berarti overestimated, nilai 0 berarti persepsi realistik (Zaccagni dkk, 2014).