• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 1. Latar Belakang Masalah

Maksiat merupakan tindakan manusia yang melanggar hukum moral yang bertentangan dengan perintah Allah. Maksiat dapat melemahkan dan memutuskan jalan menuju tuhan. Maksiat membuat seorang individu untuk berbuat suatu hal yang condong kepada kemungkaran. Perbuatan maksiat mempunyai ciri-ciri intrinsik yaitu dapat menghasilkan kepuasan diri, mengasikkan serta nikmat sehingga dapat membuat seorang individu senang dan bahkan kecanduan untuk melakukan kembali hal tersebut Contohnya zina yang dapat menimbulkan kecanduan psikologi. Manusia adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah namun di sisi lain manusia akan menjadi hina di sisi Allah jika ia sendiri menenggelamkan dirinya dalam perbuatan maksiat. Menurut ajaran Islam orang yang semacam ini lebih hina dari binatang, karena ia diberikan mata oleh Allah namun tidak digunakan untuk melihat ayat-ayat Allah selain itu diberi telinga oleh Allah namun tidak digunakan untuk mendengarkan firman Allah.

Menurut ajaran Islam kerugian bagi manusia yang melakukan maksiat yaitu menjadi penghalang untuk memperoleh ilmu pengetahuan, terhalangnya ketaatan kepada Allah, menyebabkan seseorang menjadi hina, hilangnya rasa malu, mendapat akhir hidup yang buruk, hati menjadi keras, menghilangkan berkah, membuat hati menjadi sempit, mendapatkan laknat dan siksa Allah di akhirat (Hamidi, 2006: 92).

Maksiat terdiri dari beberapa golongan yaitu: berzina, minum minuman keras, membunuh, syirik, murtad, fitnah dan mencuri. Maksiat yang dimaksud disini yaitu tentang perzinaan. Dalam hukum Islam perzinaan dianggap sebagai suatu perbuatan yang sangat terkutuk dan dianggap sebagai jarimah. Pendapat ini disepakati oleh ulama, kecuali

(2)

perbedaan hukumannya. Menurut sebagian ulama tanpa memandang pelakunya, baik dilakukan oleh orang yang belum menikah atau orang yang telah menikah, selama persetubuhan tersebut berada di luar kerangka pernikahan, hal itu disebut sebagai zina dan dianggap sebagai perbuatan melawan hukum. Juga tidak mengurangi nilai kepidanaannya, walaupun hal itu dilakukan secara sukarela atau suka sama suka.

Meskipun tidak ada yang merasa dirugikan, zina dipandang oleh Islam sebagai pelanggaran seksualitas yang sangat tercela, tanpa kenal prioritas dan diharamkan dalam segala keadaan (Hakim, 2000: 69).

Secara harfiyah, zina berarti fahisyah, yaitu perbuatan keji. Zina dalam pengertian istilah adalah hubungan kelamin antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang satu sama lain tidak terikat hubungan perkawinan (Ali, 2007: 37). Oleh karenanya penyaluran nafsu syahwat (tindakan zina) diluar perkawinan tidak sesuai dengan cara yang ditentukan Islam dan oleh karena itu, perzinaan dilarang secara tegas oleh Islam (Syarifuddin, 2010: 274).

Dari penjelasan tersebut bahwasannya persetubuhan yang diharamkan dan dianggap zina adalah persetubuhan di dalam farji, di mana zakar di dalam farji seperti batang celak di dalam botol celak atau seperti timba di dalam sumur. Persetubuhan dianggap zina, minimal dengan terbenamnya hasyafah(pucuk zakar) pada farji, atau yang sejenis hasyafah jika zakar tidak mempunyai hasyafah, dan menurut pendapat yang kuat, zakar tidak disyaratkan ereksi (Audah, 2006: 531).

Menurut penulis zina ialah suatu perbuatan seksual atau persetubuhan yang dilakukan atas dasar suka sama suka oleh seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang mana dari kedua belah pihak tidak terikat perkawinan yang sah dalam syari’at islam. Ketegasan larangan ini terlihat dalam firman Allah dalam surat Al-Isra’ ayat 32 (Departemen Agama RI, 2008: 285):

(3)



















Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

Berdasarkan larangan yang bersifat tegas di atas maka tindakan zina (penyaluran syahwat di luar ikatan pernikahan) hukumnya adalah haram. Alasan Allah melarang perbuatan zina adalah bahwa perbuatan zina merupakan sebuah perbuatan yang keji, hina dan buruk. Karena perbuatan zina hanya akan merendahkan harkat, martabat dan kehormatan manusia. Maka untuk menyikapi hal tersebut, Allah telah menyiapkan cara yang jauh lebih baik yaitu perkawinan/pernikahan.

Sebelum pengkajian lebih mendalam mengenai beberapa ihwal perbuatan zina terlebih dahulu perlu diketahui mengenai unsur-unsur delik (jarimah) secara umum yang harus dipenuhi yaitu: a). Nash yang melarang perbuatan dan mengancam hukuman terhadapnya. Unsur ini biasa disebut unsur formil (rukun syar’i). b). Adanya tingkah laku yang membentuk jarimah, baik berupa perbuatan-perbuatan nyata ataupun sikap tidak berbuat. Unsur ini biasa disebut unsur materiil (rukun maddi).

C). Pelaku adalah orang mukallaf yaitu orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban terhadap jarimah yang diperbuat. Unsur ini disebut unsur moril (rukun adabi) (Hanafi, 1993: 5). Jika unsur-unsur tersebut ada pada suatu perbuatan, maka dapat diklasifikasikan sebagai delik (jarimah) dengan akibat hukum berupa ancaman sanksi yang telah dilegitimasi oleh syara’ (Hukum Islam).

Islam telah menetapkan bentuk-bentuk hukuman untuk suatu tindak kejahatan atau jinayah beradasarkan apa yang ditetapkan sendiri oleh Allah dalam wahyu-Nya dan penjelasan yang diberikan Nabi dalam haditsnya. Allah mengetahui dan Maha Adil. Oleh karena itu, apapun bentuk sanksi hukuman yang ditetapkan Allah atas suatu kejahatan

(4)

berdasarkan keadilan illahi yang bersifat universal, adalah kewajiban umat Islam untuk memahami, mematuhi dan menjalankannya (Syarifuddin, 2010: 256).

Oleh karenanya, orang yang melakukan tindak perzinaan akan diberi hukuman pidana islam, sanksi hukum bagi wanita dan/atau laki- laki yang berstatus pemudi dan/atau pemuda adalah hukuman cambuk 100 kali. Sebagaimana yang termaktub dalam surah An-Nur ayat 2 (Depertemen Agmaa RI, 2008: 350) :























































Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

Dalam pelaksanaa cambuk tidak ada belas kasihan kepada pelaku zina serta eksekusinya disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Sedangkan sanksi hukum bagi wanita dan/atau laki-laki yang berstatus janda dan/atau duda adalah hukuman rajam (ditanam sampai leher kemudian dilempari batu sampai meninggal). Dalam pelaksanaan hukuman rajam tidak ada belas kasihan kepada pelaku zina serta eksekusinya disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.

Berdasarkan sanksi hukum di atas dapat disimpukan bahwa syari’at Islam tidak membedakan setiap orang, apakah ia seorang raja atau putra raja

(5)

dan/atau hamba sahaya, kaya atau miskin, hitam atau putih (Ali, 2007:

50).

Oleh karena itu, apabila seseorang telah terbukti melakukan perbuatan zina, maka akan dijatuhkan hukuman/sanksi seperti yang telah disebutkan diatas.

Adapun perzinaan ini bertitik fokus terhadap fenomena yang marak terjadi saat ini di Kota Padang, maka dari itu marilah sedikit mengulas tentang Kota Padang. Menurut sejarah, Kota Padang tidak terlepas dari peranannya sebagai kawasan rantau Minangkabau. Berawal dari kampung nelayan di muara Batang Arau lalu berkembang menjadi Bandar pelabuhan yang ramai setelah masuknya Belanda di bawah bendera Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), hari jadi kota padang ini ditetapkan pada 7 Agustus 1669, yang merupakan hari terjadinya pergolakan masyarakat Pauh dan Koto Tangah melawan monopoli VOC.

Kota Padang adalah Kota terbesar di pantai Barat Pulau Sumatera sekaligus ibu Kota dari Provinsi Sumatera Barat (https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Padang diunduh pada tanggal 8 Februari 2017).

Penduduk Kota Padang mayoritas memeluk Agama Islam.

Kebanyakan pemeluknya adalah orang Minang, sebagai masyarakat Minang filsafah “Adat Basandi Syarak syarak basandi kitabullah”

diharapkan bukan hanya dalam semboyan semata-mata, tetapi harus benar-benar terwujud dalam kehidupan sosial masyarakat. Kota Padang sebagai ibukota Provinsi khususnya umat Muslim wajib memelihara harkat dan martabat dirinya sendiri dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dimana dengan diberlakukannya Peraturan Provinsi Sumatera Barat tentang maksiat diharapkan dapat memberantas segala perbuatan yang berhubungan dengan maksiat yang ada di Provinsi Sumatera Barat yang lebih khususnya di Kota Padang.

(6)

Sebagai daerah ibu Kota Sumatera Barat, Kota Padang memiliki banyak objek wisata, banyaknya objek wisata yang berada di kota Padang justru memiliki dampak positif dan negatif oleh pemerintah kota Padang.

Beberapa objek wisata yang sering dirazia atau digunakan untuk tempat perzinaan di kota padang diantaranya adalah pantai padang, pantai air manis, bukit nobita, bukit lampu, dan lain-lain.

Sebagai salah satu tempat tujuan wisata, Kota padang juga memiliki tempat persinggahan dan tempat peristirahatan seperti hotel, in de kost, cafe atau warung remang-remang. Dari sisi negatifnya tempat tersebut justru dijadikan tempat kemaksiatan atau tempat perzinaan oleh pasangan mesum. Beberapa tempat di kota Padang juga dijadikan untuk menjajakan jasa seks seperti lantai dua Pasar Raya, di jalan Diponegoro, di jalan By Pass Kota Padang dan lain-lain. Sebagai pemerintah daerah, semestinya kota Padang memberikan layanan publik yang baik, layanan dapat berwujud respon pemerintah kota padang dalam meregulasi kebijakan dalam bentuk aturan-aturan yang dapat mengantisipasi berbagai problem. Peraturan Daerah yang ditetapkan pada 17 tahun yang lalu, dengan melihat kenyataan yang ada di lapangan masih jauh dari harapan.

Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat telah membentuk Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat, yang harus dijalankan oleh pemerintah daerah Propinsi Sumatera Barat termasuk Kota Padang. Adapun materi muatan peraturan Daerah ini hanya berupa pencegahan dan pemberantasan terjadinya tindakan maksiat sedangkan proses pidananya sudah diatur dalam KUHP, berdasarkan latar belakang di atas penulis menetapkan kasus penelitian terhadap pencegahan dan pemberantasan maksiat khususnya perzinaan di Kota Padang, sebagai mana diatur dalam pasal 284 kitab Undang-Undang Hukum Pidana (dijelaskan bahwa yang terancam pidana jika yang melakukan zina adalah salah seorang dari

(7)

wanita atau pria atau juga kedua-duanya dalam status sudah kawin).

Pencegahan dan pemberantasas maksiat di Propinsi Sumatera Barat terkait zina terdapat pada pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pencegahan dan Pemberantasan maksiat yaitu:

(1) Setiap orang, pribadi maupun kelompok dilarang melakukan tindakan perzinaan

(2)Setiap orang, baik pribadi maupun kelompok, dilarang melakukan tindakan yang mengarah pada terjadinya perzinaan dan tindakan yang merangsang nafsu birahi yang dilakukan dengan gerakan dan/atau tidak menutupi bagian tubuh yang dilarang oleh norma agama dan adat;

(3)Setiap orang, baik pribadi maupun kelompok, dilarang melakukan tindakan yang merangsang nafsu birahi melalui tulisan, gambar, dan narasi, dan dalam bentuk lainnya

Dari penjelasan permasalahan diatas, maka penulis berkeinginan untuk mengkaji permasalahan dalam bentuk karya ilmiah yang berupa sebuah Skripsi dengan judul: ”Implementasi Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat Dalam Perspektif Hukum Pidana Islam (Studi Kasus di Kota Padang)”.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latarbelakang di atas, yang mana penulis membahas tentang pencegahan dan pemberantasan maksiat khususnya tentang perzinaan maka yang menjadi rumusan masalahnya dalam penelitian ini adalah: bagaimana implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 tentang Perzinaan di Kota Padang dalam perspektif Hukum Pidana Islam

(8)

3. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang tertuang di dalam identifiksai masalah. Maka pertanyaan penelitian adalah:

3.1. Bagaimana Implementasi Pasal 5 Peaturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 mengenai Perzinaan di Kota Padang?

3.2. Bagaimana Tinjauan hukum Islam terhadap Implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 tentang Perzinaan di Kota Padang?

4. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 4.1. Tujuan penelitian

4.1.1. Untuk mengetahui proses implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomar 11 Tahun 2001 mengenai Perzinaan.

4.1.2. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap Implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 tentang Perzinaan.

4.2. Kegunaan penelitian

4.2.1. Secara teoritis, kegunaan penelitian ini adalah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentang sejauh mana implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomar 11 Tahun 2001 mengenai Perzinaan.

4.2.2. Dengan terwujudnya penulisan karya ilmiah ini akan menambah cakrawala berpikir penulis, terutama masalah tinjauan hukum islam terhadap implementasi Pasal 5 Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomar 11 Tahun 2001 mengenai Perzinaan.

5. Signifikan Penelitian

Signifikasi penelitian, bagi penulis untuk mengasah kemampuan untuk meneliti tentang bagaimana keberadaan Peraturan Propinsi

(9)

Sumatera Barat no 11 tahun 2001 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat pada saat ini. Sebagai peraturan Propinsi Sumatera Barat seharusnya setiap daerahnya menerapkan peraturan ini dengan sebaik mungkin agar terhindar Sumatera Barat khususnya Kota Padang dari kemaksiatan.

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan dan informasi sehingga pemerintah sebagai regulator dapat mempertimbangan untuk menjadi hasil penelitian ini sebagai rujukan bagi pemerintah terhadap bagaimana implementasi peraturan Propinsi Sumatera Barat no 11 tahun 2001 tentang pencegahan dan pemberantasan maksiat pada saat ini.

Bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan, penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pustaka, referensi dan informasi tambahan untuk penelitian-penelitian selanjudnya apa lagi bagi mahasiswa jurusan Jinayah Siyasah.

6. Kerangka Teori 6.1. Implementasi

Kerangka kerja teoritik berangkat dari kebijakan itu sendiri dimana tujuan-tujuan dan sasaran ditetapkan. Di sini proses implementasi bermula. Proses implementasi akan berbeda tergantung pada sifat kebijakan yang dilaksanakan. macam keputusan yang berbeda akan menunjukkan karakteristik, struktur dan hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan sehingga proses implementasi akan mengalami perbedaan. Van Meter dan Van Horn, menggolongkan kebijakan- kebijakan menurut karakteristik yang berbeda yakni: jumlah perubahan yang terjadi dan sejauh mana consensus menyangkut tujuan antara pemerentah serta dalam proses implementasi berlangsung (Winarno, 2005: 172). Unsur perubahan merupakan karakteristik yang paling penting setidaknya dalam dua hal:

(10)

a. Implementasi akan di pengaruhi oleh sejauh mana kebijakan menyimpang dari kebijakan-kebijakan sebelumnya. Untuk hal ini, perubahan – perubahan inkremental lebih cenderung menimbulkan tanggapan positif daripada perubahan-perubahan derastis (rasional), seperti tela dikemukakan sebelumnya perubahan inkremental yang di dasarkan pada pembuatan keputusa secara inkremental padadasarnya merupakan remidial dan diarahkan lebih banyak kepada perbaikan terhadap ketidak sempurnaan sosial yang nyata sekarang ini dari pada mempromosikan tujuan sosial dari masa depan. Hal ini sangat berbeda dengan perubahan yang didasarkan pada keputusan rasional yang lebih berorientasi pada perubahan besar dan mendasar. Akibatnya peluang terjadi konflik maupun ketidak sepakatan antara pelaku pembuat kebujakan akan sangat besar.

b. Proses implementasi akan dipengaruhi oleh jumlah perubahan organisasi yang diperlukan. Implementasi yang efektif akan sangat mungkin terjadi jika lembaga pelaksana tidak diharuskan melakaukan progenisasi secara derastis. Kegagalan program – program sosial banyak berasal dari meningkatnya tuntutan yang dibuat terhadap struktur-struktur dan prosedur-prosedur administratif yang ada.

Van Meter dan Van Horn (Winarno 2008:146-147) mendefinisikan implementasi kebijakan publik sebagai tindakan-tindakan dalam keputusan- keputusan sebelumnya. Tindakan-tindakan ini mencakup usaha-usaha untuk mengubah keputusan-keputusan menjadi tindakan-tindakan operasional dalam kurun waktu tertentu maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan besar dankecil yang ditetapkan oleh keputusan- keputusan kebijakan yang dilakukan oleh organisasi publik yang diarahkan untuk mencapai tujuantujuan yang telah ditetapkan.

Adapun makna implementasi menurut Daniel A. Mazmanian dan Paul Sabatier (1979) sebagaimana dikutip dalam buku Solihin Abdul Wahab (2008: 65), mengatakan bahwa:

(11)

Implementasi adalah memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi kebijaksanaan yakni kejadian-kejadian dan kegiatan-kegiatan yang timbul sesudah disahkannya pedomanpedoman kebijaksanaan Negara yang mencakup baik usaha-usaha untuk mengadministrasikannya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat atau kejadian- kejadian.

Dari penjelasan-penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa implementasi kebijakan tidak akan dimulai sebelum tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran ditetapkan atau diidentifikasi oleh keputusan-keputusan kebijakan. Jadi implementasi merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan oleh berbagai aktor sehingga pada akhirnya akan mendapatkan suatu hasil yang sesuai dengan tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran kebijakan itu sendiri.

Terdapat beberapa teori dari beberapa ahli mengenai implementasi kebijakan, yaitu:

a. Teori George C. Edward Menurut pandangan Edward III (dalam Subarsono, 2011: 90-92) implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variable, yaitu:

1) Komunikasi, yaitu keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan, dimana yang menjadi tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group), sehingga akan mengurangi distorsi implementasi.

2) Sumberdaya, meskipun isi kebijakan telah dikomunikasikan secara jelas dan konsisten, tetapi apabila implementor kekurangan sumberdaya untuk melaksanakan, maka implementasi tidak akan berjalan efektif. Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia, misalnya kompetensi implementor dan sumber daya finansial.

3) Disposisi, adalah watak dan karakteristik yang dimiliki oleh implementor, seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis. Apabila implementor memiliki disposisi yang baik, maka implementor tersebut

(12)

dapat menjalankan kebijakan dengan baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika implementor memiliki sikap atau perspektif yang berbeda dengan pembuat kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.

4)Struktur Birokrasi, Struktur organisasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan. Aspek dari struktur organisasi adalah Standard Operating Procedure (SOP) dan fragmentasi.

Struktur organisasi yang terlalu panjang akan cenderung melemahkan pengawasan dan menimbulkan red-tape, yakni prosedur birokrasi yang rumit dan kompleks, yang menjadikan aktivitas organisasi tidak fleksibel.

b. Teori Daniel A. Mazmanian dan Paul A. Sabatier Menurut Mazmanian dan Sabatier (dalam Subarsono, 2011: 94) ada tiga kelompok variabel yang mempengaruhi keberhasilan implementasi, yakni karakteristik dari masalah (tractability of the problems), karakteristik kebijakan/undang- undang (ability of statute to structure implementation) dan variabel lingkungan (nonstatutory variables affecting implementation).

6.2. Zina

Secara harfiyah, zina berarti fahisyah, yaitu perbuatan keji. Zina dalam pengertian istilah adalah hubungan kelamin antara seorang lelaki dengan seorang perempuan yang satu sama lain tidak terikat hubungan perkawinan (Ali, 2007: 37). Oleh karenanya penyaluran nafsu syahwat (tindakan zina) diluar perkawinan tidak sesuai dengan cara yang ditentukan Islam dan oleh karena itu, perzinaan dilarang secara tegas dan keras oleh Islam (Syarifuddin, 2010: 274).

Persetubuhan yang diharamkan dan dianggap zina adalah persetubuhan di dalam farji, di mana zakar di dalam farji seperti batang celak di dalam botol celak atau seperti timba di dalam sumur.

Persetubuhan dianggap zina, minimal dengan terbenamnya

(13)

hasyafah(pucuk zakar) pada farji, atau yang sejenis hasyafah jika zakar tidak mempunyai hasyafah, dan menurut pendapat yang kuat, zakar tidak disyaratkan ereksi (Audah, 2007: 531).

Menurut Abdul Halim Hasan, zina artinya seorang laki-laki memasukkan kemaluannya ke dalam kemaluan perempuan, dengan tidak ada nikah dan terjadinya tidak pula dengan subhat (Hasan, 2006:

531).Pengertian ini hampir serupa dengan pengertian yang dikemukakan oleh Abdul Djamali, yakni zina adalah perbuatan memasukkan kemaluan laki-laki sampai katuknya ke dalam kemaluan perempuan yang diinginkan (Djamili, 2002: 198).

Adapun menurut ulama fiqih pengertian zina adalah memasukkan zakar ke dalam farji yang haram dengan tidak subhat.Dan menurut Ibnu Rusyd pengertian zina adalah persetubuhan yang dilakukan bukan karena nikah yang sah/semu nikah dan bukan karena pemilikan hamba sahaya.

Sedangkan menurut Hamka, berzina adalah segala persetubuhan di luar nikah, dan di juzu’ yang lain beliau mendefinisikan zina sebagai segala persetubuhan yang tidak disyahkan dengan nikah, atau yang tidak syah nikahnya (Hamka, 1983: 4).

Sedangkan pengertian zina dalam KUHP terdapat dalam pasal 284 KUHP tidak dengan jelas mendefinisikan tentang pengertian zina, tetapi cenderung memaparkan tentang kriteria pelaku yang dapat dijerat oleh pasal perzinaan.Penjelasan pasal 284 KUZHP zina diartikan sebagai persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan isterinya atau suaminya (soesilo, 1996: 209). Sedangkan yang dimaksud dengan persetubuhan ialah perpaduan antara anggota kemaluan laki-laki dan perempuan yang biasa dijalankan untuk mendapatkan anak, jadi anggota laki-laki masuk ke dalam anggota perempuan, sehingga mengeluarkan air mani. Pengertian ini relatif sama dengan istilah adultery dalam bahasa Inggeris yang diartikan sebagai“Voluntary sexual intercourse by a

(14)

married person with one who is not his or her spouse”. Jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berarti “Hubungan seksual sukarela oleh seseorang yang terikat perkawinan dengan orang yang bukan suami atau isterinya” (Marpaung, 2004: 42).

Dalam penulisan penelitian ini akan dijelaskan mengenai pengertian pokok-pokok istilah yang akan digunakan sehubungan dengan obyek dan ruang lingkup penulisan sehingga mempunyai batasan yang jelas dan tepat dalam penggunaannya. Adapun istilah serta pengertian yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi:

a. Zina adalah perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yg tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan); perbuatan bersanggama seorang laki-laki yang terikat perkawinan dengan seorang perempuan yang bukan istrinya, atau seorang perempuan yang terikat perkawinan dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya (KBBI Online).

b. Zina dalam KUHP adalah laki-laki dan perempuan yang melakukan gendak (Overspel).

c. Zina dalam Rancangan KUHP tahun 2013 adalah persetubuhan di luar ikatan pernikahan yang sah.

d. Zina dalam Hukum Islam adalah penyaluran insting seksual yang dilakukan seseorang kepada lawan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan atau kepada sesama jenis atau kepada selain manusia.

e. Tindak pidana menurut Moeljatno adah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan yang disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut (Andrisman, 2005: 54)

f. Perzinaan adalah perbuatan zina (KBBI Online).

g. Pemidanaan adalah tujuan dari pidana itu sendiri yaitu : (i) Pembalasan, membuat pelaku menderita;

(ii)Upaya preventif, mencegah terjadinya tindak pidana ; (iii) Merehabilitasi pelaku;

(15)

(iv) Melindungi masyarakat (Andrisman, 2005: 24).

7. Studi Literatur

Dalam penulisan skiripsi ini penulis juga melakukan tinjauan kepustakaan dengan cara meneliti atau menelaah karya ilmiah atau skripsi yang sudah pernah diteliti oleh mahasiswa sebelumnya, mencari metode- metode serta teknik peneliti baik dalam pengumpulan data dan menghindari duplikasi-duplikasi yang tidak diinginkan (Nazir, 1983: 93).

Penulis menemukan skripsi:

Afdal, Bp: 307.231 Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol Padang “Efektifitas Pelaksanaan Peraturan Propinsi Sumatera Barat Nomor 11 Tahun 2001 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Maksiat (Studi Kasus Penanggulangan Judi Togel Di Kota Padang)”. Yang mana di dalamnya membahas tentang efektifitas pemerintah Kota Padang dalam menanggulangi perjudian togel di Kota Padang.

Abdul Aziz D. Matelo, Bp : 271 409 030 Universitas Negeri Gorontalo“Implementasi Pasal 3 Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 10 Tahun 2003 Tentang Pencegahan Maksiat (Studi Penelitian Di Kota Gorontalo)”. Dimana di dalamnya membahas pengimplementasian pasal 3 terdapat berbagai kendala yang dilakukan oleh pemerintah Kota Gorontalo dalam menanggulangi kasus zina.

Dari tinjauan Pustaka diatas dapatlah diambil sebuah kesimpulan bahwa penelitian tentang judul yang penyusun buat belum pernah ada yang membahas sebelumnya, dari beberapa karya yang membahas perzinaan, nampak perbedaan dengan permasalahan yang penulis bahas, walaupun karya-karya tersebut membahas tentang persoalan zina.

8. Metode Penelitian

Metode Penelitian adalah suatu metode penelitian yang pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiono, 2005: 2):

(16)

8.1. Jenis Penelitian

Untuk melakukan penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian lapangan (field research) yang mengambil fokus penelitian di Kota Padang. Selanjutnya dalam penelitian ini penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu penelitian yang berusaha menggambarkan kejadian-kejadian yang terjadi dilapangan atau penelitian yang mencoba menggambarkan, menunjukkan dan menafsirkan suatu fenomena yang berkembang yang terjadi pada masa sekarang (Faisal, 2004: 15). Melalui pendekatan yuridis sosiologis empiris yaitu, suatu penelitian yang menggunakan bahan kepustakaan atau data data sekunder sebagai data awalnya kemudian dilanjutkan dengan data primer atau data lapangan (Amirudin dan Asikin, 2004: 133). Dalam hal ini penulis turun kelapangan untuk meneliti hal-hal yang terkait dengan masalah yang sedang penulis teliti.

8.2. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Padang. Alasan penulis memilih daerah ini karena didaerah ini begitu maraknya kasus kemaksiatan di Kota Padang.

8.3. Sumber Data

Sumber data yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dapat memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Sumber data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah;

8.3.1. Data Primer

Sumber primer adalah data yang bersifat otoritatif.

Artinya sumber primer adalah data utama yang dapat dijadikan jawaban terhadap masalah penelitian. Sumber primer ini merupakan data-data yang penulis peroleh dari kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau wawancara.

(17)

Pencatatan sumber data utama yaitu wawancara dengan Satpol PP kota Padang, MUI Kota Padang, LKAAM Kota Padang dan bagian hukum Setda Kota Padang melalui pengamatan dan wawancara merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar dan bertanya yang dilakukan secara sadar, terarah dan senantiasa bertujuan memperoleh informasi yang diperlukan.

8.3.2. Data Sekunder

Sumber sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data yang dibutuhkan dalam melakukan penelitian (Gulo, 2001: 64).

Sumber sekunder dalam penelitian ini adalah Peraturan Propinsi Sumatera Barat, buku-buku yang berkaitan dengan penulis bahas serta bahan-bahan yang berkaitan dengan pokok bahasan dan lain-lain.

8.4. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dan informasi yang diperlukan, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu:

8.4.1. Wawancara

Wawancara bertujuan untuk mendapatkan keterangan atau pendirian dari seseorang secara lisan dengan cara bercakap-cakap secara bertatap muka (Affifudin dan saebani, 2009: 131). langkah yang penulis lakukan adalah melakukan wawancara dengan Satpol PP kota Padang, MUI Kota Padang, LKAAM Kota Padang dan bagian hukum Setda Kota Padang.

8.4.2. Study Dokumentasi

Studi dokumentasi adalah setiap bahan tertulis atau film untuk menelusuri data historis (Bungin, 2008: 121). Study dokumentasi dalam penelitian ini berupa fakta-fakta yang relavan dengan kajian penulis.

(18)

8.5. Teknik Analisis Data

Bahan hukum yang telah diperoleh akan diinventarisir dan dianalisis secara kualitatif, yaitu analisis yang dilakukan dengan memahami dan merangkai data yang telah dikumpulkan dan disusun secara sistematis yang berasal dari norma-norma hukum, norma adat dan norma agama dan nantinya akan ditarik kesimpulan.

Referensi

Dokumen terkait

Penyerapan tenaga kerja merupakan jumlah tertentu dari tenaga kerja yang digunakan dalam suatu unit usaha tertentu atau dengan kata lain penyerapan tenaga kerja

Variabel reliability (X 2 ), yang meliputi indikator petugas memberikan pelayanan yang tepat, petugas memberikan pelayanan yang cepat, petugas memberikan pelayanan

Menjelaskan cara menyelesaikan soal cerita tentang penjumlahan atau pengurangan bilangan bulat Bersama siswa mendiskusikan cara penyelesaian soal cerita tentang penjumlahan

Hasil penelitian untuk faktor permintaan secara simultan ada pengaruh nyata antara tingkat pendapatan, selera, jumlah tanggungan dan harapan masa yang akan datang

Lempeng pelljatah bellih yang menghasilkan distribusi penjatahan terbaik adalah lempellg penjatah benih dengan Pis 0°, dengan pengoperasian pada keeepatan 15 rpm,

Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi perusahaan dalam meningkatkan minat beli produk bedak wajah viva cosmetics dengan melalui beberapa analisis faktor

Berdasarkan pengamatan kemampuan berbahasa siswa pada siklus 1 telah mengalami peningkatan dari pratindakan walaupun belum mencapai persentase KKM yang telah ditentukan.

Skor SKB Nilai Akhir Ketera ngan Status S-1 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS / S-1 PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INGGRIS. Nama