• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN STAIN PEKALONGAN (Junaeti, S.Sos)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENDIDIKAN PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN STAIN PEKALONGAN (Junaeti, S.Sos)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENDIDIKAN PEMUSTAKA DI PERPUSTAKAAN STAIN PEKALONGAN (Junaeti,

S.Sos)

A. LATAR BELAKANG

Perpustakaan di perguruan tinggi memegang peranan yang penting karena membantu perguruan tinggi untuk mewujudkan tri dharma perguruan tingginya, meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sehingga sering kali perpustakaan perguruan tinggi disebut sebagai the heart of education atau jantungnya perguruan tinggi. Perpustakaan juga seringkali disebut sebagai center of learning dan center of education. Mengacu hal tersebut, dan seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, maka Perpustakaan STAIN Pekalongan berusaha untuk menyediakan berbagai sumber literatur dan menyediakan berbagai jenis layanan yang menunjang proses belajar dan mengajar di STAIN Pekalongan. Dengan adanya berbagai layanan dan berbagai sumber informasi itu, tidak semua pemustaka paham dan mengetahui, terutama pemustaka dari unsur mahasiswa baru, staff pengajar, dan karyawan baru. Terkadang mahasiswa lama pun tidak paham tentang aturan atau pun tata tertib yang berlaku, dan akibatnya terjadi beberapa pelanggaran yang merugikan pemustaka yang lain. Perilaku pengunjung atau pemakai di perpustakaan pun bermacam-macam. Hal ini didasarkan pada heterogennya latar belakang pengunjung atau pemakai. Petugas perpustakaan ataupun pustakawan harus bersikap bijak untuk menghadapi para pengguna jasa layanan yang ditawarkan oleh masing-masing

perpustakaan dan mencari solusi terbaik agar pelayanan yang ditawarkan bisa dinikmati oleh pengguna jasa layanan dan juga supaya terjaga kondisi perpustakaan yang aman, kondusif dan dinamis.

Maraknya pemberitaan kasus mutilasi di televisi, ternyata telah merambah di perpustakaan.

Kasus mutilasi yang terjadi di suatu perpustakaan berupa penyobekan halaman tertentu, atau hilangnya bab tertentu pada suatu bahan koleksi. Di perpustakaan juga terjadi kegiatan vadalisme berupa mencoret-coret koleksi bahan pustaka dan yang lebih parah adalah

terjadinya kehilangan bahan koleksi baik secara sengaja maupun tidak. Hal ini bisa dikatakan sebagai perilaku yang menyimpang dari pengunjung atau pemakai jasa layanan di

perpustakaan.

Disamping perilaku tersebut, seringkali pengguna jasa perpustakaan atau pemustaka, ketika berkunjung ke perpustakaan tidak tahu apa yang akan dikerjakan. Mereka langsung mencari koleksi ke rak, tanpa tahu letak subyek yang dikehendaki jelas sangat menyulitkan dan

merepotkan. Melihat katalog, sebagian dari mereka juga belum paham. Apalagi dihadapkan dengan OPAC (online public acces), atau katalog online.

(2)

perpustakaan. Mereka juga harus diajarkan bagaimana menggunakan sarana yang ada untuk mengakses informasi, bagaimana memanfatkan layanan yang disediakan oleh perpustakaan, diajarkan pula di mana mereka bisa menanyakan apabila mereka menemui kesulitan atau mereka tidak menemukan koleksi yang diinginkan sedangkan perpustakaan tidak memilikinya.

Cara yang ditempuh pihak perpustakaan yaitu dengan melakukan suatu pendidikan kepada pemakai atau pemustaka.

Pendidikan pemakai atau sering disebut user education adalah suatu proses dimana pemakai perpustakaan, pertama-tama disadarkan akan sebuah perpustakaan yang tidak hanya berupa gedung saja, tetapi lebih pada mengenai fungsi perpustakaan itu secara menyeluruh. Dimana pemakai akan dikenalkan pada jumlah sumber-sumber perpustakaan, jasa layanan yang ada di perpustakaan dan sumber informasi yang tersedia bagi pemakai. Seperti katalog atau alat bantu penelusuran yang lain seperti Online Public Acces (OPAC) ketika perpustakan sudah terotomasi. Kedua, pemakai diajarkan bagaimana menggunakan sumber perpustakaan, jasa layanan dan sumber informasi tersebut yang bertujuan untuk mengenalkan keberadan

perpustakaan, mekanisme penelusuran informasi dan memanfaatkan segala fasilitas yang ada di perpustakaan seperti internet secara efektif, telebih dengan adanya ledakan informasi pada era globalisasi ini. Ketiga, pemakai diberikan suatu arahan tentang pemanfaatan suatu koleksi yang benar sehingga tindakan seperti mutilasi, vandalisme maupun pencurian tidak merambah di ranah perpustakaan.

B. TUJUAN

1. Mengenal fasilitas-fasilitas fisik gedung perpustakaan;

2. Mengenal bagian-bagian layanan dan staf tiap bagian secara tepat;

3. Mengenal kebijakan-kebijakan perpustakaan seperti tata tertib perpustakaan, prosedur menjadi anggota, jam layanan, larangan, sanksi, dll;

(3)

5. Mengenal pengorganisasian koleksi dengan tujuan untuk mengurangi kebingungan pemakai dalam mencari bahan-bahan bacaan yang dibutuhkan;

6. Dapat menemukan sumber-sumber informasi yang dibutuhkan melalui katalog yang telah disediakan;

7. Menjadikan perpustakaan sebagai sumber belajar, rekreasi dan refreshing;

8. Memperlakukan bahan pustaka atau koleksi secara benar, tepat dan berdaya guna;

9. Termotivasi untuk kembali dan menggunakan sumber-sumber yang ada di perpustakaan, dan

10. Terjalinnya komunikasi yang akrab antara pemakai dengan petugas/pustakawan, yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja perpustakaan dalam melakukan layanan prima kepada pemakai.

C. PESERTA

1. Mahasiswa Baru 2. Mahasiswa lama yang belum mengikuti pendidikan pemustaka 3.

Pengunjung dari luar

D. WAKTU PELAKSANAAN

1. Pendidikan Pemustaka dilaksanakan setiap bulan Agustus - September 2. Bimbingan pemustaka dilaksanakan setiap hari  meliputi bimbingan penelusuran informasi, literatur dan

hadis.

E. MEKANISME PENDAFTARAN

(4)

pemakai biasanya berjumlah sekitar 40 mahasiswa (setiap kelas). Sedangkan bimbingan pemustaka bisa langsung menghubungi petugas pada saat jam kerja.

F. METODE USER EDUCATION

Metode yang digunakan meliputi : 1. Ceramah Memberikan pengarahan secara langsung kepada peserta pendidikan pemakai dalam acara TASKA (Taaruf Studi Kampus) dan ketika

mulai orientasi perpustakaan 2. Tanya

jawab Pesert

a dikasih kesempatan untuk berdialog mengenai semua hal tentang perpustakaan STAIN Pekalongan.

3. Orientasi perpustakaan

Peserta pendidikan pemustaka diajak langsung berkeliling di setiap bagian layanan yang ada di perpustakaan

4. Mengunduh panduan perpustakaan stain pekalongan di web perpustakaan (perpustakaan-stain.pekalongan.ac.id)

5. Bimbingan pemakai yang dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

G. MATERI PENDIDIKAN PEMUSTAKA

Materi pendidikan pemustaka meliputi : 1. Tata Tertib Perpustakaan STAIN Pekalongan. 2.

Mengenalkan jenis-jenis layanan yang ada di Perpustakaan STAIN Pekalongan, meliputi : a.Peminjaman Locker

b.Penggunaan fasilitas internet c.Foto Copy

d.Sirkulasi e.Tandon f.Referensi

(5)

3. Peraturan disetiap jenis layanan yang ada di Perpustakaan STAIN Pekalongan 4. Cara Memperlakukan Koleksi

5. Cara penelusuran informasi melalui OPAC (online Public Acces) dan Maktabah Syamila 6. Cara mencari informasi e-Journal dan sumber rujukan lain di internet.

H. KENDALA

1. Kurangnya petugas/pustakawan yang menangani pendidikan pemustaka.

2. Kurangnya kesadaran petugas/staff perpustakaan akan arti penting pendidikan

pemustaka. Seringkali petugas menganggap bahwa mereka sudah dewasa dan bisa mengerti sendiri peraturan yang diterapkan.

3. Minimnya pengetahuan petugas mengenai pendidikan pemustaka, sehingga pesan yangdiutarakan tidak sampai kepada pemustaka.

4. Belum adanya standar baku mengenai materi pendidikan pemustaka itu sendiri.

5. Kurangnya koordinasi dalam pelaksanaan pendidikan pemustaka.

6. Minimnya dana (seringkali tidak ada) yang disediakan untuk pelaksanaan pendidikan pemustaka

I. USAHA YANG DILAKUKAN (REKOMENDASI)

1. Melakukan koordinasi secara teratur, agar tercipta kekompakan

2. Berusaha menambah pengetahuan dengan cara diskusi dan dalam pertemuan rutin 3. Berbenah diri untuk senantiasa memberikan layanan yang terbaik dengan keramahan, menambah wawasan dan pengetahuan akan sumber literatur yang dimiliki sehingga bisa memberikan info yang akurat kepada pemustaka.

4. Menyusun standar baku materi pendidikan pemakai.

J. PENUTUP

Demikian sekilas gambaran pelaksanaan pendidikan pemustaka di STAIN Pekalongan, ke depan semoga lebih baik dan terarah. Saran dan kritik yang membangun kami nantikan.

(6)

 

PENYUSUN

 

Referensi

Dokumen terkait

Pendapatan suatu negara biasanya dapat diukur dengan pendapatan perkapita penduduk nya,besar rendahnya pendapatan ini ditentukan yang bekerja di dalam rumah tangga, dalam

Setelah diperoleh hasil dari uji prasyarat analisis, maka dilanjutkan dengan pengujian hipotesis alternatif (Ha) yang berbunyi “terdapat perbedaan yang signifikan hasil

Artinya: Syahnya nikah dengan mendahulukan qabul dan mengakhirkan ijab itu karena tercapainya / tersampaikannya maksud.. Hal ini dilatarbelakangi ketika qabul didahulukan

Failure Modes and Effect Analysis merupakan suatu metode yang bertujuan untuk mengevaluasi desain sistem dengan mempertibangkan bermacam-macam jenis kegagalan dari

Dengan demikian hipotesis yang kesatu yang menyatakan “ bauran promosi secara parsial berpengaruh signifikan terhadap minat beli aplikasi OVO (Studi pada Mahasiswa

terdiri dari Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Inspektorat, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Daerah

Dan dalam Pasal 1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak disebutkan bahwa “Pengangkatan Anak adalah

Berdasarkan analisis musim penangkapan ikan dengan metode prosentase rata-rata (Lampiran 2 dan Gambar 1), terlihat bahwa ikan cakalang di perairan Belang dapat ditangkap