SAMBUTAN DIREKSI
PT PELABUHAN INDONESIA I, II, III DAN IV (PERSERO)
Perkembangan pelabuhan di Indonesia terlebih di dunia semakin pesat dan komplek. Era kontainerisasi mengubah fasilitas dan peralatan pelabuhan, pola distribusi serta diperlukan sistem informasi yang canggih seiring dengan era globalisasi. Peraturan kepelabuhanan pun harus disesuaikan dengan perkembangan pasca ditetapkannya Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang mengarah ke liberalisasi yang memberikan kesempatan kepada pihak swasta Indonesia untuk berperan serta dalam mengelola pelabuhan khususnya sebagai terminal operator dengan harapan menumbuhkan kompetisi yang menghasilkan efisiensi dan efektifitas di pelabuhan.
Untuk mengelola pelabuhan di samping tersedianya fasilitas dan peralatan yang canggih, harus dikelola oleh sumber daya manusia (SDM) pelabuhan yang profesional, yang mempunyai dedikasi dan disiplin tinggi, berkualitas serta berpengetahuan kepelabuhanan yang memadai.
Untuk melahirkan SDM tersebut dapat melalui berbagai jalan, salah satunya adalah melalui knowledge management, yaitu sebuah proses dalam mentrasformasikan kompetensi yang melekat pada individu menjadi kompetensi yang melekat pada perusahaan dan mengelolanya untuk ditransfer kepada anggota perusahaan lainnya. Penyusunan buku referensi kepelabuhanan merupakan salah satu tujuan untuk menambah pengetahuan para pengelola pelabuhan khususnya dan masyarakat pada umumnya di bidang kepelabuhanan.
Di tengah langkanya penerbitan buku-buku yang mengupas tentang kepelabuhanan, maka dengan diterbitkan Edisi II Buku Referensi Kepelabuhanan ini merupakan produk olah pikir insan- insan pegawai PT Pelabuhan Indonesia (Persero) I, II, III dan IV untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat di dalam mengenalkan hal-hal kepelabuhanan di Indonesia khususnya dan dunia kepelabuhanan pada umumnya.
Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II merupakan pemutakhiran dan penyempurnaan dari Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi I yang telah diterbitkan pada tahun 2000 yang disusun atas prakarsa para Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero), yaitu Bapak (Alm) S.F. Makalew, Ir. A. Harbani, Frans R. Masengi dan Ir. Sumardi dan dilaksanakan oleh Tim Penyusun yang diketuai oleh Bapak Ir. Sumardi, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero).
Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II merupakan cerminan penyesuaian situasi dan perkembangan, dinamika internal dan eksternal perusahaan, serta pengelolaan, pengembangan dan pentransferan berbagai wawasan, pengetahuan dan kompetensi bidang kepelabuhanan.
Apa yang tertuang dalam 13 (tiga belas) Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II, yang meliputi:
Manajemen Kepelabuhanan, Pelayaran dan Perkapalan, Perencanaan, Perancangan dan
Pembangunan Pelabuhan, Bangunan Fasilitas Pelabuhan, Peralatan Pelabuhan, Pengoperasian Pelabuhan, Alat Bantu Navigasi Kepelabuhanan, Manajemen Sumber Daya Manusia Pelabuhan, Manajemen Keuangan Pelabuhan, Sistem Informasi Manajemen Pelabuhan, Manajemen Mutu dan Risiko Pelabuhan, Pengelolaan Lingkungan Hidup di Pelabuhan serta Terminologi Kepelabuhanan dan Pelayaran; sesunguhnya merupakan gambaran kondisi saat ini, harapan dan cita-cita kita sebagai insan pelabuhan dalam mengembangkan arah perusahaan menjadi lebih baik.
Selanjutnya, kami atas nama Direksi PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero) menyampaikan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Sdr. Dr. A. Edy Hidayat N, SE, MM (Direktur Personalia dan Umum PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero)) selaku Ketua Tim Penyusun Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II beserta dengan segenap anggota tim-nya atas torehan karya gemilang, yang tentunya kami yakin dan percaya penuh bahwa apa yang telah terukir dalam buku ini tidak akan terlaksana apabila tidak dilandasi semangat kebersamaan, kesungguhan, keuletan dan kerja keras serta semangat maju bersama dari para anggota Tim Penyusun.
Diharapkan, dengan diterbitkannya Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II ini dapat dijadikan bahan diskusi dan pembelajaran untuk lebih meningkatkan pemahaman dan kelancaran dalam implementasinya menuju pelabuhan yang lebih baik.
Akhirnya semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta rahmat kepada kita semua untuk selalu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua. Amin.
Jakarta, Maret 2009
DIREKSI
PT PELABUHAN INDONESIA I (PERSERO) DIREKTUR UTAMA,
DIREKSI
PT PELABUHAN INDONESIA III (PERSERO) DIREKTUR UTAMA,
DIREKSI
PT PELABUHAN INDONESIA II (PERSERO) DIREKTUR UTAMA,
DIREKSI
PT PELABUHAN INDONESIA IV (PERSERO) DIREKTUR UTAMA,
KATA PENGANTAR
Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta memanjatkan puji syukur kepada-Nya, alhamdulillah Tim Penyusun Revisi Buku Referensi Kepelabuhanan yang dibentuk oleh Direksi PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero) telah menyelesaikan tugasnya untuk merevisi Buku Referensi Kepelabuhanan ini yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi perkembangan dunia kepelabuhanan dewasa ini yang semakin komplek.
Edisi II Buku Referensi Kepelabuhanan disusun oleh insan-insan pelabuhan yaitu para pegawai PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero). Edisi sebelumnya diterbitkan pada tahun 2000.
Pada Edisi I terdapat 11 (sebelas) seri, sedangkan pada Edisi II ini bertambah 2 (dua) seri sehingga jumlahnya menjadi 13 (tiga belas) seri dengan penyesuaian isi, materi dan judul buku.
Buku Referensi Kepelabuhanan ini merupakan buku ilmiah populer tentang kepelabuhanan di Indonesia yang bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang ruang lingkup pengelolaan pelabuhan di Indonesia yang menguraikan tentang apa itu manajemen kepelabuhanan, pelayaran dan perkapalan, perencanaan, perancangan dan pembangunan pelabuhan, bangunan fasilitas dan peralatan pelabuhan, pengoperasian pelabuhan, alat bantu navigasi kepelabuhanan, manajemen SDM pelabuhan, manajemen keuangan pelabuhan, sistem informasi manajemen pelabuhan, manajemen mutu dan risiko pelabuhan, pengelolaan lingkungan hidup di pelabuhan serta terminologi kepelabuhanan dan pelayaran.
Tim Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa buku referensi ini terlalu sederhana dan jauh dari sempurna untuk disebut sebagai pegangan sebuah referensi atau knowledge management bagi para insan pelabuhan ataupun masyarakat umum yang ingin mempelajari pengetahuan kepelabuhanan, namun demikian ini adalah salah satu upaya untuk mengisi kekurangan buku- buku yang mengupas tentang kepelabuhanan di Indonesia.
Buku Referensi Kepelabuhanan Edisi II ini terdiri dari 13 (tiga belas) seri yaitu :
SERI JUDUL BUKU PENyUSUN
Seri 1 Manajemen Kepelabuhanan Pelindo III
Seri 2 Pelayaran dan Perkapalan Pelindo IV
Seri 3 Perencanaan, Perancangan dan Pembangunan Pelabuhan Pelindo I
Seri 4 Bangunan Fasilitas Pelabuhan Pelindo II
Seri 5 Peralatan Pelabuhan Pelindo IV
Seri 6 Pengoperasian Pelabuhan Pelindo I
Seri 7 Alat Bantu Navigasi Kepelabuhanan Pelindo IV
Seri 8 Manajemen Sumber Daya Manusia Pelabuhan Pelindo II
Seri 9 Manajemen Keuangan Pelabuhan Pelindo III
Seri 10 Sistem Informasi Manajemen Pelabuhan Pelindo II Seri 11 Manajemen Mutu dan Risiko Pelabuhan Pelindo III Seri 12 Pengelolaan Lingkungan Hidup di Pelabuhan Pelindo I Seri 13 Terminologi Kepelabuhanan dan Pelayaran Pelindo III
Disadari pula bahwa buku referensi kepelabuhanan ini masih banyak kelemahan dan kekurangan maka Tim Penyusun mengharapkan saran, masukan dan nasehat dari semua pihak agar bisa diperbaiki pada edisi yang akan datang sehingga menjadi lebih sempurna.
Tim Penyusun mengucapkan terima kasih kepada Direksi PT Pelabuhan Indonesia I, II, III dan IV (Persero) yang telah mempercayakan kepada tim untuk merevisi buku referensi kepelabuhanan ini serta kepada semua pihak yang terlibat di dalam penyiapan, editing dan penyelesaian buku referensi ini.
Semoga sumbangsih yang berharga tersebut dicatat sebagai amal kebaikan di sisi Allah Yang Maha Kuasa dan mendapatkan keberkahan dari-NYA.
Jakarta, Maret 2009 Tim Penyusun
Dr. A. Edy Hidayat N, SE, MM.
Ketua
TIM PENyUSUN
PENGARAH
PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Drs. Harry Sutanto
Drs. I Wayan Bajera PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)
Capt. A. Syaifuddin Capt. Soepadi SW Ir. Satoto Prayasutiksno, MBA.
Drs. Abdulhaq Munawar, Ak.
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Ir. Suprihat, Dipl.HE, MBA.
Drs. Robert H. Sianipar, MM.
Drs. Faris Assagaf Drs. Wahyu Suparyono, MM, Ak.
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Ir. Djarwo Surjanto, Dpl.HE.
Ir. Alfred Natsir Drs. Mulyono, MBA, Ak.
Ir. Max K. Lumempouw, MPM.
KETUA
Dr. A. Edy Hidayat N,SE,MM. - PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) WAKIL KETUA 1
dr. Wahyu Setiakusumah, MARS. - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) WAKIL KETUA 2
dr. J.D. Dunda, SKM. - PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) WAKIL KETUA 3
Ir. P. Pudji Hartoyo, MM. - PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) SEKRETARIS
Chiefy Adi K., S.Psi. - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)
TIM TEKNIS
PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Ir. Iman AS, M.Sc. (Koordinator)
Drs. M. Hamid Wijaya, MM.
Tri Gunadi, SE, MM.
Arief Hutomo, SE, DESS.
Ir. Indra Wijaya, MM.
Basuki Soleh, SE, M.Si.
Ferrial Dunan Sidabutar, ST, MT.
PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Drs. Sudarsono (Koordinator)
Yeyen M. Bunyamin, S. Kom.
Drs. Nurjadin Surur, MM.
Ir. Ari Basuki Hanung Hamboro, Psi, M.Sc.
Drs. R. Riawan Heru Satrio, ST.
Ir. Dani Rusli, M.Sc.
Drs. Heru Widodo
PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Amik Suradji (Koordinator)
Henri Handoko, SH, DESS.
Capt. Fadjar Santoso, M.Sc.
Drs. M. Chairoel Anwar, MM.
Drs. Suryawan, MM.
Ir. Tunggal Tripinto A, DESS.
Drs. Hardjono, M. Sc.
Dothy, ST, M.Sc.
PT Pelabuhan Indonesia IV (Persero) Ir. Prasetyadi, DESS. (Koordinator)
Ir. Alif Abadi, MM.
Heru Bakti Fireno, SE, MM.
Ir. Edy D.M. Nursewan, DESS.
Dwi Rahmat Toto S, SE.
Sunarto Jusuf Yunus Rijal Jauhar Rio Y.S. Baan, SE, MM.
DAFTAR ISI
Halaman
SAMBUTAN DIREKSI iii
KATA PENGANTAR v
TIM PENyUSUN vii
DAFTAR ISI ix
BAB I PENGERTIAN UMUM 1
1.1 Karakteristik Perusahaan Pelabuhan 1
1.2 Ketentuan Umum Laporan Keuangan 3
1.3 Keterbatasan Laporan Keuangan 11
BAB II NERACA 13
2.1 Akuntansi Aset 13
2.2 Akuntansi Kewajiban 21
2.3 Akuntansi Ekuitas 29
BAB III LAPORAN RUGI LABA 31
3.1 Pengertian 31
3.2 Penghasilan 31
3.3 Beban 33
BAB IV ANGGARAN 35
4.1. Anggaran Pendapatan dan Biaya 35
4.2. Anggaran Kas 36
4.3. Penggunaan Rasio-rasio Analisis Laporan Keuangan
dalam Pengambilan Keputusan 37
4.4. Kegunaan Analisis Laporan Keuangan 40
4.5. Proses Keputusan Investasi 41
DAFTAR PUSTAKA 43
Manajemen keuangan secara sederhana dapat diartikan dengan bagaimana merencanakan dana perusahaan, melakukan pengelolaan agar lebih berdaya guna serta mengendalikannya supaya terarah pada tujuan optimalisasi sumber dana perusahaan.
Manajemen keuangan pelabuhan ditafsirkan sebagai upaya menghimpun dana yang berasal dari usaha pelayanan jasa dan usaha-usaha lain yang digunakan untuk kebutuhan kelangsungan hidup perusahaan, yaitu membiayai kebutuhan operasional, pemeliharaan fasilitas dan lain-lain dengan tujuan akhir memperoleh keuntungan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pelanggan.
Seorang manajer keuangan dituntut untuk dapat menghimpun dana baik secara internal yang berasal dari pelayanan jasa maupun dana eksternal yang berasal dari pinjaman dalam maupun luar negeri. Dari sumber dana yang dihimpun tersebut manajer keuangan harus dapat mengendalikan penggunaan dana sebaik-baiknya serta mengendalikan pengeluaran - pengeluaran sesuai dengan rencana dan ketentuan yang telah dibakukan.
Untuk itu dengan koordinasi antar bagian maka disusunlah rencana kerja dan anggaran tahunan.
Pencatatan dan laporan atas terjadinya transaksi keuangan dikerjakan dengan tertib, akurat dan tepat waktu. Analisis terhadap laporan keuangan disajikan dengan informatif sebagai bahan pengambilan keputusan pimpinan dalam menentukan kebijakan lebih lanjut.
1.1 KARAKTERISTIK PERUSAHAAN PELABUHAN 1.1.1. Sifat Pengelolaan Operasional
a. Sifat kegiatan yang dilakukan perusahaan pelabuhan adalah bidang jasa kepelabuhanan dan usaha lain yang terkait dengan bidang kepelabuhanan.
b. Dalam mendukung pembiayaan kegiatan jasa kepelabuhanan, perusahaan pelabuhan dapat :
1) Menerima pembayaran atas jasa kapal, barang, pengusahaan alat, terminal, dermaga khusus, dan hasil usaha lainnya.
2) Menerima bantuan/hibah dan atau subsidi yang berasal baik dari pemerintah maupun pihak lain berupa uang ataupun barang.
3) Menerima hasil kerja sama usaha dengan pihak lain yang terkait.
PENGERTIAN UMUM
1
c. Dalam rangka pengembangan usaha, perusahaan pelabuhan dapat : 1) Menerima pinjaman dari bank, lembaga keuangan lain dan atau
pinjaman dari luar negeri berdasarkan atas persetujuan pemilik atau pemerintah.
2) Bekerja sama dengan lembaga lain yang memiliki keterkaitan fungsi.
1.1.2.. Bentuk Usaha
Bentuk usaha perusahaan pelabuhan terbagi menjadi 2 (dua) bagian utama, yaitu :
a. Jasa kepelabuhanan yang menyediakan dan mengusahakan antara lain:
a) Kolam-kolam pelabuhan dan perairan untuk lalu lintas dan tempat berlabuhnya kapal;
b) Dermaga dan fasilitas lain untuk tambat, bongkar muat barang termasuk hewan, dan fasilitas naik turunnya penumpang;
c) Gudang-gudang dan tempat penimbunan barang-barang, angkutan bandar, alat bongkar muat, dan peralatan pelabuhan;
d) Jasa-jasa yang berhubungan dengan pemanduan (pilotage) dan penundaan kapal;
e) Tanah untuk berbagai bangunan dan lapangan, industri dan gedung- gedung/bangunan yang berhubungan dengan kepentingan kelancaran angkutan laut;
f) Pengadaan listrik, air minum, dan instalasi pembuangan limbah;
g) Jasa terminal, kegiatan konsolidasi, dan distribusi barang termasuk hewan; dan
h) Jasa konsultasi, pendidikan, dan pelatihan yang berkaitan dengan usaha kepelabuhanan.
b. Jasa penunjang non-kepelabuhanan yaitu jasa yang berfungsi dalam peningkatan mutu kinerja perusahaan pelabuhan, namun tidak terkait secara langsung dengan pelayanan kepelabuhanan kepada masyarakat, seperti penyewaan alat-alat pelabuhan, penyediaan air bersih, telepon umum, dan penyediaan listrik.
1.1.3. Bentuk Kepemilikan
Perusahaan pelabuhan dimiliki baik oleh pemerintah maupun swasta dengan tujuan utamanya adalah untuk memberikan fasilitas pelayanan kepelabuhanan.
1.2 KETENTUAN UMUM LAPORAN KEUANGAN 1.2.1. Tujuan Laporan Keuangan
a. Laporan keuangan bertujuan memberikan informasi yang tepat dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang rasional, seperti :
1) Investor (pemegang saham);
2) Karyawan;
3) Pemberi pinjaman;
4) Pemasok dan kreditur usaha lainnya;
5) Pelanggan;
6) Pemerintah; dan 7) Masyarakat.
b. Pihak pengguna laporan keuangan perusahaan pelabuhan mempunyai kepentingan bersama dalam rangka menilai :
1) Jasa kepelabuhanan yang diberikan dan kesinambungan pelayanan tersebut.
2) Kinerja manajemen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dalam mengelola perusahaan.
c. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah :
1) Jumlah dan sifat aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan pelabuhan.
2) Pengaruh transaksi, peristiwa, dan situasi lainnya yang meng ubah nilai dan sifat ekuitas.
3) Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya dalam kurun waktu tertentu (satu periode) dan hubungan antara keduanya.
4) Cara entitas perusahaan pelabuhan mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi pinjaman, dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditasnya.
5) Usaha jasa kepelabuhanan.
d. Laporan keuangan juga merupakan sarana pertanggungjawaban manajemen atas pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
1.2.2. Komponen Laporan Keuangan
a. Laporan keuangan yang lengkap bagi perusahaan pelabuhan terdiri dari : 1) Neraca;
2) Laporan laba rugi;
3) Laporan perubahan ekuitas;
4) Laporan arus kas; dan
5) Catatan atas laporan keuangan.
b. Neraca
1) Tujuan neraca adalah menyediakan informasi mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas serta informasi mengenai hubungan di antara unsur-unsur tersebut pada waktu tertentu. Informasi dalam neraca dan penjelasannya dapat membantu para pengguna laporan keuangan untuk menilai : a) Kemampuan perusahaan pelabuhan untuk memberikan jasa
kepelabuhanan secara berkelanjutan;
b) Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk me menuhi kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal.
2) Neraca mencakup struktur perusahaan pelabuhan secara keseluruhan dan harus menyajikan total aset , kewajiban, dan ekuitas.
c. Laporan Laba Rugi
1) Tujuan utama laporan laba rugi adalah menyediakan informasi :
a) Pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat ekuitas.
b) Hubungan antar transaksi dan peristiwa lainnya.
c) Bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan ber bagai jasa kepelabuhanan.
2) Informasi dalam laporan laba rugi yang dipergunakan bersama dengan informasi dalam laporan keuangan lainnya dapat mem bantu para pengguna laporan keuangan untuk :
a) Mengevaluasi kinerja dalam kurun waktu tertentu (satu periode).
b) Menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan entitas dalam memberikan jasa kepelabuhanan.
c) Menilai pelaksanaan tanggung jawab dan kinerja mana jemen perusahaan pelabuhan.
3) Laporan laba rugi mencakup struktur perusahaan pelabuhan secara keseluruhan dan menyajikan perhitungan jumlah laba atau rugi selama periode tertentu. Laba atau rugi tersebut selanjutnya tercermin pada ekuitas dalam neraca.
d. Laporan Perubahan Ekuitas
1) Tujuan laporan perubahan ekuitas adalah menyediakan informasi bagi pengguna laporan keuangan yang meliputi :
a) Pengaruh hasil perhitungan laba rugi terhadap posisi ekuitas;
b) Mengetahui posisi ekuitas sehingga dapat menilai sumber daya bersih yang dimiliki oleh perusahaan pelabuhan.
2) Laporan perubahan ekuitas mencakup struktur perusahaan pelabuhan secara keseluruhan dan menyajikan informasi penam bah an atau
pengurangan ekuitas atas kinerja perusahaan pelabuhan yang tercermin dalam laporan laba rugi pada kurun waktu tertentu (satu periode).
e. Laporan Arus Kas
1) Tujuan utama laporan arus kas adalah memberikan informasi kepada para pengguna laporan keuangan untuk :
a) Melihat kemampuan perusahaan pelabuhan dalam menghasil kan kas dan setara kas.
b) Melihat kebutuhan perusahaan pelabuhan dalam menggunakan arus kas tersebut.
2) Laporan arus kas mencakup struktur perusahaan pelabuhan secara keseluruhan dan menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dalam suatu periode.
f. Catatan atas Laporan Keuangan
Tujuan catatan atas laporan keuangan adalah menyediakan informasi bagi pengguna laporan keuangan mengenai :
1) Gambaran umum perusahaan pelabuhan.
2) Ikhtisar kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusun an laporan keuangan.
3) Penjelasan atas pos-pos yang terdapat dalam setiap komponen laporan keuangan.
4) Pengungkapan hal-hal penting lainnya yang berguna untuk pengambilan keputusan ataupun kebijakan perusahaan pelabuhan lainnya yang dapat mempengaruhi perusahaan pelabuhan secara keseluruhan.
g. Bagi perusahaan pelabuhan yang telah mencatatkan diri di bursa efek melalui penerbitan efek hutang atau efek ekuitas (go public), maka selain mengacu pada pedoman ini, juga harus mengikuti keten tuan tambahan yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK).
1.2.3. Tanggung Jawab atas Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Manajemen perusahaan pelabuhan bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan.
1.2.4. Bahasa Laporan Keuangan
Laporan keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika laporan keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari bahasa Indonesia, maka laporan keuangan yang disusun dalam bahasa lain selain bahasa Indonesia tersebut harus memuat informasi dan waktu yang sama, serta diterbitkan dalam waktu bersamaan dengan laporan keuangan yang disusun dalam bahasa Indonesia.
1.2.5. Mata Uang Pelaporan
a. Pelaporan harus dinyatakan dalam mata uang rupiah. Jika transaksi menggunakan mata uang lain selain dari rupiah maka laporan tersebut harus dikonversikan dalam mata uang rupiah.
b. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan meng gunakan kurs yang berlaku pada saat tersebut.
1.2.6. Kebijakan Akuntansi
Kebijakan tersebut harus mencerminkan prinsip kehati-hatian dan men cakup semua hal yang material dan sesuai dengan ketentuan dalam standar akuntansi yang berlaku. Jika standar akuntansi yang ada belum mengatur masalah pengakuan, pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi atau peristiwa, maka harus ditetapkan kebijakan akuntansi agar laporan keuangan yang disajikan memuat informasi yang relevan dengan kebutuhan para pengguna laporan.
1.2.7. Penyajian
a. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar posisi keuangan (neraca), kinerja (laporan laba rugi), perubahan ekuitas, dan arus kas disertai pengungkapan yang diharuskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan likuiditas, sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh temponya.
c. Laporan laba rugi dikelompokan secara berjenjang (multiple step).
d. Perubahan ekuitas disajikan berdasarkan urutan waktu terjadinya.
e. Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematik dengan urutan penyajian sesuai dengan komponen utamanya yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan. Informasi dalam catatan atas laporan keuangan berkaitan dengan pos-pos dalam neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas yang sifatnya memberikan penjelasan, baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
f. Dalam catatan atas laporan keuangan tidak diperkenankan meng gunakan kata “sebagian besar” untuk menggambarkan bagian dari suatu jumlah tetapi harus dinyatakan dalam jumlah nominal atau persentase.
g. Perubahan akuntansi wajib memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1) Perubahan estimasi akuntansi
Estimasi akuntansi dapat diubah jika terdapat perubahan kondisi yang mendasarinya. Selain itu, juga wajib diungkapkan pengaruh material
dari perubahan yang terjadi baik pada periode berjalan maupun pada periode-periode berikutnya.
2) Perubahan kebijakan akuntansi
a) Kebijakan akuntansi dapat diubah jika :
(1) Terdapat peraturan perundangan atau standar akun tansi yang berbeda penerapannya; atau
(2) Diperkirakan bahwa perubahan tersebut akan meng hasilkan penyajian kejadian atau transaksi yang lebih sesuai dalam laporan keuangan.
b) Dampak perubahan kebijakan akuntansi harus diperlaku kan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian.
c) Dalam hal perlakuan secara retrospektif dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya atau meng ikuti ketentuan dalam PSAK yang berlaku jika terd a pat aturan lain dalam ketentuan masa transisi pada standar akuntansi keuangan baru.
3) Terdapat kesalahan mendasar
Koreksi kesalahan mendasar dilakukan secara retrospektif dengan melakukan penyajian ulang untuk seluruh periode sajian dan melaporkan dampaknya terhadap masa sebelum periode sajian.
h. Pada setiap lembar neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas, harus diberi pernyataan bahwa “Catatan atas Laporan Keuangan merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan”.
1.2.8. Konsistensi Penyajian
a. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten kecuali :
1) Terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasional entitas perusahaan pelabuhan; atau
2) Perubahan tesebut diperkenankan oleh PSAK.
b. Jika penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka penyajian periode sebelumnya harus direklasifikasi untuk memastikan keterbandingan, sifat, dan jumlah. Selain itu alasan reklasifikasi juga harus diungkapkan. Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup diungkapkan alasannya.
1.2.9. Materialitas dan Agregrasi
a. Penyajian laporan keuangan didasarkan pada konsep materialitas.
b. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam lapor an keuangan, sedangkan yang jumlahnya tidak material dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat dan fungsinya sejenis.
c. Informasi dianggap material jika kelalaian untuk mencan tum kan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement) informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan yang diambil.
1.2.10. Saling Hapus (Offsetting)
Jumlah aset dan kewajiban yang disajikan pada neraca tidak boleh disalinghapuskan dengan kewajiban atau aset lain, kecuali secara hukum dibenarkan dan saling hapus tersebut mencerminkan prakiraan realisasi atau penye lesaian aset atau kewajiban. Pos-pos pendapatan dan beban tidak boleh disalinghapuskan, kecuali yang berhubungan dengan transaksi lindung nilai.
1.2.11. Periode Pelaporan
Laporan keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan tahun takwim.
Dalam hal perusahaan pelabuhan baru berdiri, laporan keuangan dapat disajikan untuk periode yang lebih pendek dari satu takwim. Selain itu, untuk kepentingan pihak lainnya, pihak perusahaan pelabuhan dapat membuat dua laporan yaitu dengan menggunakan periode tahun takwim dan periode efektif, dengan mencantumkan :
a. Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu tahunan.
b. Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam dua periode pelaporan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan tidak dapat diper bandingkan.
1.2.12. Informasi Komparatif
a. Laporan keuangan tahunan dan interim harus disajikan secara kom paratif dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan untuk laporan pendapatan dan beban interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan akhir periode interim yang dilaporkan.
b. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
1.2.13. Laporan Keuangan Interim
a. Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan keuangan tahunan dan harus dipandang sebagai bagian integral dari laporan periode tahunan. Penyusunan laporan interim dapat dilakukan secara bulanan, triwulanan, semesteran atau periode lain yang kurang dari satu tahun.
b. Laporan keuangan interim memuat komponen yang sama seperti laporan keuangan tahunan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
c. Penyajian laporan keuangan interim komparasi adalah sebagai berikut:
1) Neraca per akhir periode interim tahun berjalan disajikan secara komparatif dengan neraca pada akhir tahun sebelumnya.
2) Laporan laba rugi untuk periode interim tahun berjalan disajikan secara komparatif dengan laporan laba rugi periode interim tahun sebelumnya.
Penyajian laporan laba rugi interim untuk periode setelah laporan keuangan interim pertama meliputi informasi untuk periode yang dimulai:
a) Awal tahun sampai dengan akhir periode interim yang bersangkutan;
dan
b) Awal periode interim sampai dengan akhir periode interim yang bersangkutan.
3) Laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk periode interim tahun berjalan disajikan secara komparatif dengan laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas dengan akhir periode interim tahun sebelumnya.
d. Penyajian laporan keuangan interim triwulanan yang berakhir per 30 September 20X1 adalah sebagai berikut :
Komponen Laporan Keuangan
Periode Interim Periode Komparatif
Neraca Per 30 September 20x1 Per 31 Desember 20x0 Laporan Laba Rugi 1 Jan s.d. 30 Sep 20x1
1 Juli s.d. 30 Sep 20x1
1 Jan s.d. 30 Sep 20x0 1 Juli s.d. 30 Sep 20x0 Laporan Arus Kas 1 Jan s.d. 30 Sep 20x1 1 Jan s.d. 30 Sep 20x0 Laporan Perubahan
Ekuitas
1 Jan s.d. 30 Sep 20x1 1 Jan s.d. 30 Sep 20x0
e. Dalam hal perusahaan pelabuhan menyampaikan laporan mengenai ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan, maka laporan keuangan interim harus memuat data minimum sebagai berikut :
1) Pendapatan, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa (termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif, dan laba bersih;
2) Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan;
3) Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa dan tidak sering terjadi;
4) Kewajiban kontinjensi;
5) Perubahan akuntansi; dan
6) Perubahan yang material pada unsur laporan perubahan ekuitas.
1.2.14. Laporan Keuangan Konsolidasian
a. Laporan keuangan konsolidasian adalah suatu laporan keuangan dari suatu grup perusahaan yang disajikan sebagai satu kesatuan ekonomi.
b. Penyusunan laporan keuangan konsolidasian merupakan gabungan laporan keuangan wilayah perusahaan pelabuhan yang kemudian dikonsolidasikan dengan laporan keuangan anak-anak perusahaan.
c. Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan perusahaan pelabuhan dan anak perusahaan digabungkan satu per satu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang sejenis dari aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasian dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut : 1) Transaksi dan saldo resiprokal antara perusahaan pelabuhan (induk
perusahaan) dan anak perusahaan harus dieliminasi.
2) Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang timbul dari transaksi antara perusahaan pelabuhan dan anak perusahaan harus dieliminasi.
d. Untuk tujuan konsolidasi, tanggal laporan keuangan anak perusahaan pada dasarnya harus sama dengan tanggal laporan keuangan perusahaan pelabuhan. Apabila tanggal laporan keuangan tersebut berbeda maka laporan keuangan konsolidasian per tanggal laporan keuangan perusahaan pelabuhan masih dapat dilakukan sepanjang :
1) Perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan;
dan
2) Peristiwa atau transaksi material yang terjadi di antara tanggal pelaporan tersebut diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi.
e. Laporan keuangan konsolidasian disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang sama untuk transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis.
f. Hak minoritas (minority interest) harus disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasian antara kewajiban dan ekuitas, sedangkan hak minoritas dalam laba disajikan dalam laporan laba rugi konsolidasian.
1.3 KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN
Pengambilan keputusan ekonomi tidak dapat semata-mata didasarkan atas informasi yang terdapat dalam laporan keuangan. Hal ini disebabkan karena laporan keuangan memiliki keterbatasan, antara lain :
1. Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa yang telah lampau.
2. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi pihak pengguna.
Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi semata-mata dari laporan keuangan.
3. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan taksiran.
4. Hanya melaporkan informasi yang material.
5. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Jika terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai penilaian suatu pos, maka dipilih alternatif yang menghasilkan kenaikan laba atau nilai aset yang paling kecil.
6. Lebih menekankan pada penyajian transaksi dan peristiwa sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya (formalitas).
7. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan sehingga menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber daya ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan pelabuhan. Pedoman ini akan menyeragamkan metode akuntansi, jika memungkinkan, untuk mengurangi variasi dalam hal tersebut.
2.1 AKUNTANSI ASET
2.1.1. Pengertian dan Karakteristik
a. Aset (aktiva) adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan pelabuhan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu di mana manfaat ekonomis di masa depan diharapkan akan diperoleh.
b. Manfaat ekonomis masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi dari aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan setara kas kepada perusahaan. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktivitas operasional perusahaan. Mungkin pula berbentuk sesuatu yang dapat diubah menjadi kas atau setara kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi pengeluaran kas.
c. Perusahaan pelabuhan biasanya menggunakan aset untuk memberikan jasa kepelabuhanan berupa jasa kapal, bongkar muat, gudang dan sebagainya.
d. Manfaat ekonomis masa depan yang terwujud dalam aset dapat mengalir dengan beberapa cara, misalnya, aset dapat :
1) Digunakan baik sendiri maupun bersama aset lain dalam memberikan jasa kepelabuhanan oleh perusahaan pelabuhan;
2) Dipertukarkan dengan aset lain; atau 3) Digunakan untuk menyelesaikan kewajiban.
e. Pada umumnya, aset tetap memiliki bentuk fisik. Namun demi kian, bentuk fisik tersebut tidak esensial untuk menentukan eksis tensi aset. Oleh karena itu, aset tidak berwujud, misalnya, meru pa kan aset kalau aset tersebut mendatangkan manfaat eko no mis di masa depan dan dikuasai oleh perusahaan pelabuhan.
f. Pada umumnya aset, misalnya, piutang dan properti, di hu bung kan dengan hak menurut hukum, termasuk hak milik. Namun demi kian, eksistensi aset ditentukan bukan semata-mata oleh adanya hak milik tetapi berdasarkan kemampuan untuk me ngen dalikan manfaat yang diharapkan dari aset tersebut, misal nya, properti yang diperoleh melalui sewa pembiayaan
NERACA
2
(finance lease), maka properti tersebut dapat diakui menjadi aset. Selain itu, suatu barang atau jasa dapat memenuhi definisi aset meskipun tidak dikuasai berdasarkan hukum, misalnya, pengetahuan yang diperoleh melalui aktivitas pengembangan dapat memenuhi definisi aset jika dengan merahasiakan pengetahuan tersebut, perusahaan pelabuhan menikmati manfaat yang diharapkan dari pengetahuan tersebut.
g. Aset perusahaan pelabuhan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi di masa lalu. Perusahaan pelabuhan biasanya memperoleh aset melalui pembelian, tetapi transaksi atau peristiwa lain juga dapat menghasilkan aset. Misalnya, properti yang diterima perusahaan pelabuhan dari pemerintah sebagai bagian dari program untuk merangsang pertumbuhan ekonomi nasional.
h. Transaksi atau peristiwa yang diharapkan terjadi di masa depan tidak dengan sendirinya memunculkan aset, misalnya maksud untuk membeli persediaan tidak dengan sendirinya memenuhi definisi aset.
i. Ada hubungan erat antara terjadinya pengeluaran dan timbulnya aset, tetapi kedua peristiwa ini tidak perlu harus terjadi bersamaan. Oleh karena itu kalau perusahaan pelabuhan melakukan pengeluaran, peristiwa ini memberikan bukti bahwa perusahaan pelabuhan tersebut mengharapkan manfaat ekonomis tetapi belum merupakan bukti konklusif bahwa suatu barang atau jasa yang memenuhi definisi aset telah diperoleh. Sama halnya dengan tidak adanya pengeluaran dari perusahaan pelabuhan tidak mengecualikan suatu barang atau jasa memenuhi definisi aset dan dengan demikian terdapat kemungkinan untuk diakui dalam neraca, misalnya barang atau jasa yang telah didonasikan kepada perusahaan pelabuhan memenuhi definisi aset.
j. Aset Kontinjensi :
1) Aset kontinjensi merupakan aset potensial yang timbul dari peristiwa masa lalu dan keberadaannya menjadi pasti dengan terjadi atau tidak terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa datang yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali perusahaan.
2) Timbulnya aset kontinjensi biasanya dari peristiwa tidak terencana atau tidak diharapkan yang menimbulkan kemungkinan arus masuk manfaat ekonomis bagi perusahaan pelabuhan.
3) Aset kontinjensi tidak diakui dalam laporan keuangan karena dapat menimbulkan pengakuan penghasilan yang mungkin tidak pernah terealisasikan. Akan tetapi, apabila realisasi penghasilan sudah dapat dipastikan, aset tersebut bukan merupakan aset kontinjensi, melainkan diakui sebagai aset.
4) Perusahaan pelabuhan mengkaji ulang aset kontinjensi secara terus- menerus untuk memastikan bahwa perkembangannya telah tercermin dengan semestinya dalam laporan keuangan. Jika dapat dipastikan bahwa perusahaan pelabuhan akan menerima arus masuk manfaat ekonomis, perusahaan pelabuhan akan mengakui aset dan penghasilan terkait dalam laporan keuangan pada periode timbulnya kepastian tersebut.
5) Akan tetapi, apabila yang timbul hanya kemungkinan besar (bahwa perusahaan akan memperoleh arus masuk manfaat ekonomis), perusahaan pelabuhan mengungkapkannya sebagai aset kontinjensi.
Pengungkapan tersebut meliputi uraian singkat mengenai karakteristik aset kontinjensi pada tanggal neraca dan, apabila praktis, estimasi dampak finansialnya.
2.1.2. Aset Lancar
a. Kas dan Setara Kas
a) Kas adalah mata uang kertas dan logam baik rupiah mau pun mata uang asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.
b) Setara kas adalah penempatan dana sementara untuk kepentingan likuiditas perusahaan dan dengan cepat dapat dijadikan kas tanpa menghadapi risiko perubahan nilai yang signifikan.
b. Investasi Jangka Pendek
a) Investasi jangka pendek (investasi lancar) adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama satu tahun atau kurang.
b) Efek (security) adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari efek.
c) Efek utang (debt security) adalah efek yang menunjukkan hubungan utang piutang antara kreditor dengan entitas yang menerbitkan efek.
d) Efek ekuitas (equity security) adalah efek yang menunjukkan hak kepemilikan atas suatu ekuitas, atau hak untuk memperoleh (misalnya:
waran, opsi beli) atau hak untuk menjual (misalnya opsi jual) kepemilikan tersebut dengan harga yang telah atau akan ditetapkan.
e) Nilai wajar (fair value) adalah jumlah yang dapat diperoleh dari pertukaran instrumen keuangan dalam transaksi antar pihak-pihak yang bebas, bukan karena paksaan atau likuidasi. Jika terdapat harga pasar untuk instrumen tersebut, nilai wajar yang harus digunakan dihitung
dengan cara mengalikan volume saham yang diperdagangkan dengan harga pasar per unit.
f) Keuntungan atau kerugian kepemilikan (holding gain or loss) adalah perubahan neto dalam nilai wajar efek, tidak termasuk :
(1) Dividen atau pendapatan bunga yang telah diakui namun belum diterima (basis akrual), dan
(2) Setiap penurunan nilai efek yang bersifat permanen.
g) Reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
c. Piutang Usaha
a) Piutang menurut sumber terjadinya dikelompokkan men jadi dua jenis, yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain.
b) Piutang usaha adalah hak bagi perusahaan pelabuhan untuk menagih sesuatu jumlah piutang kepada pemakai jasa kepelabuhanan atas pemakaian jasa dan fasilitas pelabuhan.
c) Piutang lain-lain adalah piutang dari kegiatan usaha selain piutang usaha.
d. Persediaan
a) Persediaan adalah :
(1) Aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;
(2) Aset dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; dan
(3) Aset yang tersedia dalam bentuk bahan atau perlengkap an untuk digunakan dalam pemberian pelayanan, proses produksi, dan mendukung kegiatan administratif.
b) Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan usaha normal dikurangi dengan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan (kalau ada).
e. Biaya Dibayar Dimuka
Biaya dibayar dimuka adalah pembayaran biaya dimuka, yang manfaatnya akan digunakan untuk satu periode kegiatan perusahaan pelabuhan di masa yang akan datang.
f. Pajak Dibayar Dimuka
Pajak dibayar dimuka adalah pembayaran pajak yang manfaatnya akan digunakan oleh perusahaan pelabuhan di masa dalam satu periode mendatang.
g. Aset Lancar Lainnya
Aset lancar lainnya adalah aset lancar yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu pos-pos aset lancar yang ada dan tidak cukup material untuk disajikan dalam pos tersendiri.
2.1.3. Aset Tidak Lancar
a. Investasi Jangka Panjang
Investasi jangka panjang adalah penanaman dana dalam waktu lebih dari satu tahun yang ditujukan tidak semata-mata untuk menghasilkan pendapatan tetapi juga untuk menjaga solvabilitas atau kelancaran operasional perusahaan pelabuhan.
b. Properti Investasi
a) Properti investasi (investment property) adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee/penyewa melalui finance lease) untuk menghasilkan sewa atau untuk kenaikan nilai atau keduanya, dan tidak untuk :
(1) Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif; atau
(2) Dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.
b) Properti yang digunakan sendiri (owner occupied property) adalah properti yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui finance lease) untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif.
c. Aset Tetap
a) Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh untuk digunakan dalam operasi perusahaan pelabuhan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan pelabuhan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
b) Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dipergunakan.
c) Masa manfaat adalah periode penggunaan yang diharapkan dari suatu aset tetap. Masa manfaat aset tetap harus ditelaah ulang secara periodik dan jika harapan berbeda secara signifikan dengan estimasi sebelumnya, maka beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan.
d) Nilai sisa (residu) adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan.
e) Jumlah tercatat (carrying amount) adalah :
(1) Nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aset setelah dikurangi akumulasi penyusutan;
(2) Nilai appraisal; atau
(3) Nilai aset tetap setelah dikurangi penurunan nilai.
d. Aset Sewaan (d.h. Aset Sewa Guna Usaha)
a) Aset sewaan (leased asset) adalah aset yang diperoleh perusahaan pelabuhan (sebagai lessee) melalui perjanjian sewa (lease) yang diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan (finance lease).
b) Sewa (lease) adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya, lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.
c) Sewa pembiayaan (finance lease) adalah sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat dialihkan, dapat juga tidak dialihkan.
d) Sewa biasa (operating lease) adalah sewa selain sewa pembiayaan.
e. Aset Kerjasama Operasi
a) Kerjasama operasi adalah investasi dalam bentuk kerjasama antara 2 (dua) pihak atau lebih untuk melakukan suatu usaha bersama dengan menggunakan aset dan atau hak usaha yang dimiliki dan secara bersama- sama menanggung risiko usaha tersebut sesuai perjanjian.
b) Aset kerjasama operasi adalah aset sehubungan dengan kerjasama operasi.
f. Aset Pengelolaan Bersama
a) Joint ventures adalah perjanjian kontraktual antara dua atau lebih pihak untuk melaksanakan kegiatan ekonomi yang dikendalikan bersama.
b) Venturer adalah salah satu pihak dalam joint ventures yang ikut melakukan pengendalian bersama terhadap joint ventures tersebut.
c) Pengendalian bersama (joint control) adalah pengendalian bersama oleh para venturer atas suatu kegiatan usaha yang didasarkan pada perjanjian kontraktual.
d) Pengendalian Bersama Operasional (PBO) merupakan kegiatan joint ventures yang meliputi pemanfaatan aset dan sumber daya lainnya dari para venturer dan tidak memerlukan pembentukan suatu perseroan terbatas, firma, badan usaha lain atau suatu pengelolaan keuangan yang terlepas dari venturer. Perjanjian joint ventures biasanya mengatur cara pembagian pendapatan dari penjualan produk ber sama (joint product) dan pembagian beban bersama lainnya yang terjadi.
e) Pengendalian Bersama Aset (PBA), merupakan ke giatan joint ventures di mana para venturer melakukan pengendalian bersama dan kepemilikan bersama atas satu atau lebih aset yang diserah kan oleh venturer, atau dibeli untuk di gunakan dalam melak sana kan kegiatan joint ventures.
Masing-masing venturer dapat mengambil bagiannya atas output yang dihasilkan oleh aset ter sebut dan masing-masing memikul bagiannya atas beban yang terjadi.
g. Aset Tidak Berwujud
a) Aset tidak berwujud adalah aset non-moneter yang dapat diiden tifi kasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan adminis tratif.
b) Riset adalah penelitian orisinal dan terencana yang dilaksanakan dengan harapan memperoleh pembaruan pengetahuan dan pemahaman teknis atas ilmu yang baru.
c) Pengembangan adalah penerapan temuan riset atau pengetahuan lainnya pada suatu rencana atau rancangan produksi bahan baku, alat, produk, proses, sistem, atau jasa yang sifatnya baru atau yang meng alami perbaikan yang substansial, sebelum dimulainya produksi komersial atau pemakaian.
d) Amortisasi adalah alokasi sistematis dari nilai aset tidak berwujud yang dapat didepresiasi selama masa manfaat aset tersebut.
h. Aset Pajak Tangguhan
a) Pajak penghasilan adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan per- pajakan, pajak ini dikenakan atas penghasilan kena pajak per usahaan.
b) Pajak penghasilan final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis penghasilan, transaksi, atau usaha tertentu.
c) Laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.
d) Penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung ber- dasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
e) Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguh an (deferred tax) yang diperhitungkan dalam penghitungan laba atau rugi pada satu periode.
f) Pajak kini (current tax) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) atas penghasilan kena pajak pada satu periode.
g) Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak penghasilan terutang (payable) untuk periode men datang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
h) Aset pajak tangguhan (deferred tax assets) adalah jumlah pa jak penghasilan terpulihkan (recoverable) pada periode men datang sebagai akibat adanya :
(1) Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan; dan (2) Sisa kompensasi kerugian.
i) Perbedaan temporer (temporary differences) adalah perbedaan antara jumlah tercatat aset atau kewajiban dengan DPP-nya. Perbedaan temporer dapat berupa :
(1) Perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah kena pajak (taxable amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode men datang pada saat nilai tercatat aset dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled); atau
(2) Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan (deductible amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode men datang pada saat nilai ter catat aset dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled).
j) Dasar pengenaan pajak (DPP) aset atau kewajiban adalah nilai aset atau kewajiban yang diakui oleh Direktorat Jendral Pajak dalam penghitungan laba fiskal.
k) Surat Ketetapan Pajak adalah surat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang dapat berupa :
(1) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jum lah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
(2) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan adalah surat keputusan yang menentukan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.
(3) Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
(4) Surat Ketetapan Pajak Nihil adalah surat keputusan yang me nentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak.
l) Surat Tagihan Pajak adalah surat yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda.
i. Aset Lain-lain
Aset lain-lain adalah pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan dalam kelompok pos investasi, aset lancar, aset tetap, dan aset tidak berwujud.
2.2 AKUNTANSI KEWAJIBAN
2.2.1. Pengertian dan Karakteristik
a. Kewajiban adalah hutang perusahaan pelabuhan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, dan penyelesaiannya diharapkan meng akibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan pelabuhan yang mengandung manfaat ekonomi.
b. Karakteristik dasar kewajiban (liabilities) adalah bahwa perusahaan pelabuhan mempunyai kewajiban (obligation) masa kini. Kewa jiban merupakan suatu tugas dan tanggung jawab untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak mengikat atau peraturan perundang- undangan yang disertai jum lah yang terhutang untuk pembayaran barang dan jasa yang telah diterima. Kewajiban juga dapat timbul dari praktik bisnis yang lazim, kebiasaan, dan keinginan untuk memelihara hubungan bisnis yang baik atau bertindak dengan cara yang adil.
c. Kewajiban masa kini berbeda dengan komitmen di masa depan. Keputusan manajemen perusahaan pelabuhan untuk membeli aset di masa depan tidak dengan sendirinya menimbulkan kewajiban kini. Kewajiban biasanya timbul hanya jika aset telah diterima atau perusahaan pelabuhan telah membuat perjanjian yang tidak dapat dibatalkan untuk membeli aset. Perjanjian yang tak dapat diba tal kan adalah apabila terdapat konsekuensi ekonomi berupa keluarnya sumber daya kepada pihak lain apabila perusahaan pelabuhan gagal untuk memenuhi kewajiban tersebut.
d. Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya mengakibatkan perusahaan pelabuhan untuk menyerahkan/mengor bank an sumber daya yang memiliki manfaat masa depan demi untuk memenuhi tuntutan pihak lain.
Penyelesaian kewa jib an masa kini dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan :
1) Pembayaran kas;
2) Penyerahan aset lain;
3) Pemberian jasa kepelabuhanan;
4) Penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain; atau 5) Konversi kewajiban menjadi ekuitas.
Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain, seperti kreditur membebaskan atau membatalkan haknya.
e. Kewajiban timbul dari transaksi atau peristiwa masa lalu, sebagai contoh pembelian barang atau penggunaan jasa dapat menimbul kan hutang usaha (kecuali kalau dibayarkan dimuka atau pada saat penyerahan) dan penerimaan pinjaman bank menimbulkan kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut.
f. Beberapa jenis kewajiban hanya dapat diukur dengan mengguna kan estimasi dalam derajat yang substansial. Secara umum, kewa jiban ini disebut sebagai kewajiban diestimasi (provision). Dalam pengertian sempit, kewajiban diestimasi semacam itu tidak di pan dang sebagai kewajiban, karena kewajiban hanya mencakupi jumlah yang dapat ditentukan tanpa perlu membuat estimasi. Namun demikian, definisi kewajiban dalam huruf a mengikuti pen dekatan luas. Jadi, kalau ke wajiban diestimasi menyangkut kewa jiban masa kini dan memenuhi ketentuan lain dalam definisi tersebut, maka pos yang bersangkutan merupakan kewajiban meskipun jumlahnya hanya diestimasi, sebagai contoh kewajiban diestimasi untuk menutup kewajiban manfaat pensiun karyawan.
g. Kewajiban diakui dalam neraca (laporan posisi keuangan) apabila besar kemungkinan pengeluaran sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
h. Kewajiban diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam yaitu kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang.
i. Suatu kewajiban diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek, jika : 1) Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal
operasional perusahaan; atau
2) Jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca.
j. Kewajiban jangka pendek dapat diklasifikasikan dengan cara yang serupa dengan aset lancar. Beberapa kewajiban jangka pendek seperti hutang dagang dan biaya pegawai serta biaya operasional lainnya membentuk sebagian modal kerja yang digunakan dalam siklus ope rasio nal normal perusahaan.
Pos-pos operasional seperti itu dikla sifi kasikan sebagai kewajiban jangka pendek walaupun pos-pos tersebut diselesaikan dalam jangka waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca.
k. Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang tidak diharap kan diselesaikan dalam jangka waktu siklus operasional normal perusahaan atau 12 (dua belas) bulan setelah tanggal neraca, atau juga bisa diartikan semua kewajiban selain yang diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek.
l. Kewajiban jangka panjang tetap dikategorikan kewajiban jangka panjang walaupun kewajiban tersebut akan jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca apabila :
1) Kesepakatan awal perjanjian pin jaman untuk waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan;
2) Perusa haan bermaksud membiayai kembali kewajib an nya dengan pendanaan jangka panjang; dan
3) Maksud pada angka 2 didukung perjanjian pembiayaan kembali atau penjadwalan kembali pembayaran yang resmi disepakati sebelum laporan keuangan disetujui.
2.2.2. Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu satu siklus normal operasional perusahaan atau jatuh tempo dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan dari tanggal neraca.
a. Hutang Usaha
Hutang usaha adalah kewajiban yang timbul karena pengadaan kebutuhan barang atau jasa untuk pelaksanaan aktivitas operasional perusahaan pelabuhan.
b. Hutang Bagi Hasil Pendapatan
a) Hutang bagi hasil pendapatan adalah hutang atas bagian pendapatan berupa bagi hasil (sharing) yang diberikan kepada mitra usaha atas kegiatan kerjasama usaha dalam bentuk kerjasama operasi (KSO).
b) Bagi hasil adalah bagian pendapatan dari hasil kegiatan kerjasama usaha yang besarannya telah disepakati antara perusahaan pelabuhan dengan mitra usaha.
c. Beban yang Masih Harus Dibayar
Beban yang masih harus dibayar adalah beban yang telah diakru hingga tanggal neraca. Pada umumnya beban ini belum dibayar karena dokumen penagihan belum diterima atau akibat jatuh tempo pembayarannya.
d. Hutang Bank Jangka Pendek
Hutang bank jangka pendek sebagai kewajiban lancar adalah kewajiban kepada bank atau lembaga keuangan yang akan dibayar atau diselesaikan dalam periode kurang dari 1 (satu) tahun atau satu siklus normal ope rasional perusahaan pelabuhan, yang digunakan untuk pelak sana an kegiatannya.
e. Uang Titipan dan Uang untuk Diperhitungkan
a) Uang titipan adalah uang yang diterima perusahaan pelabuhan sebagai kewajiban yang akan dibayar atau disele sai kan dalam periode kurang dari 1 (satu) tahun atau satu siklus normal ope rasional perusahaan pelabuhan.
b) Uang untuk diperhitungkan adalah uang yang diterima perusahaan pelabuhan dari pengguna jasa sebelum jasa kepelabuhanan diberikan.
Uang ini nantinya akan diperhitungkan dengan realisasi tagihan pelayanan jasa kepelabuhan yang diberikan.
f. Bagian Kewajiban Jangka Panjang yang akan Jatuh Tempo
Bagian kewajiban jangka panjang yang segera jatuh tempo adalah bagian dari hutang jangka panjang yang telah jatuh tempo dalam periode berjalan atau akan dilunasi dalam waktu kurang dari satu tahun.
g. Hutang Pajak
Hutang pajak adalah pajak yang harus dibayar oleh perusahaan pelabuhan dan yang sudah dipungut oleh perusahaan pelabuhan tetapi belum disetorkan ke kas negara berdasarkan ketentuan yang berlaku.
h. Kewajiban Imbalan Kerja Jangka Pendek
Kewajiban imbalan kerja jangka pendek adalah kewajiban atas imbalan kerja (selain pesangon pemutusan kontrak kerja dan imbalan berbasis ekuitas)
yang jatuh tempo dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan jasa.
i. Hutang Dividen
Hutang dividen adalah kewajiban kepada pemegang saham sebagai akibat pengumuman pemberian dividen yang belum dibayarkan oleh perusahaan pelabuhan.
j. Kewajiban Diestimasi Jangka Pendek
a) Kewajiban diestimasi adalah kewajiban perusahaan pelabuhan yang jumlah dan waktunya belum pasti.
b) Kewajiban diestimasi jangka pendek adalah kewajiban perusahaan pelabuhan yang jumlah dan waktunya belum pasti serta dibentuk untuk estimasi pengeluaran dalam jangka pendek (diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu satu siklus normal operasi perusahaan pelabuhan atau jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca).
c) Kewajiban diestimasi jangka pendek lainnya adalah kewajiban diestimasi jangka pendek yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu pos-pos kewajiban diestimasi yang ada dan tidak cukup material untuk disajikan dalam pos tersendiri.
k. Pendapatan Diterima Dimuka Jangka Pendek
a) Pendapatan diterima dimuka adalah uang yang diterima dari pihak lain sehubungan dengan jasa yang akan dilakukan oleh perusahaan pelabuhan di masa depan tetapi jasa tersebut belum dilakukan atau belum selesai.
b) Pendapatan diterima dimuka jangka pendek adalah pendapatan diterima dimuka apabila :
(1) Diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu satu siklus normal operasi perusahaan; atau
(2) Jatuh tempo dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca.
l. Kewajiban Jangka Pendek Lainnya
Kewajiban jangka pendek lainnya merupakan pos yang dimak sudkan untuk menampung kewajiban-kewajiban perusahaan yang tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu pos kewajib an jangka pendek (kewajiban lancar) yang ada dan tidak cukup material untuk disajikan dalam pos tersendiri.
2.2.3. Kewajiban Jangka Panjang
Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang akan diselesaikan lebih dari satu siklus normal operasional perusahaan pelabuhan atau jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas bulan) dari tanggal neraca.
Kewajiban jangka panjang perusahaan pelabuhan, antara lain terdiri dari : a. Hutang bank jangka panjang;
b. Hutang obligasi;
c. Hutang kepada pemerintah;
d. Hutang sewa guna usaha;
e. Hutang hipotek;
f. Kewajiban imbalan kerja jangka panjang;
g. Kewajiban diestimasi jangka panjang lainnya;
h. Pendapatan diterima dimuka jangka panjang;
i. Kewajiban pajak tangguhan; dan j. Kewajiban subordinasi.
a. Hutang Bank Jangka Panjang
Hutang bank jangka panjang adalah kewajiban kepada bank atau lembaga ke uangan yang akan dibayar atau diselesaikan dalam periode lebih dari satu tahun atau satu siklus normal operasional perusa ha an, mana yang lebih panjang yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan perusahaan pelabuhan.
b. Hutang Obligasi
Hutang obligasi adalah kewajiban kepada pihak ketiga karena penerbitan surat hutang dengan janji untuk membayarkan jumlah tertentu pada tanggal yang telah disepakati ditambah dengan pembayaran bunga secara berkala pada tingkat bunga yang telah dinyatakan dalam perjanjian (bonds indenture).
c. Hutang kepada Pemerintah
Hutang kepada pemerintah adalah kewajiban kepada pemerintah daerah atau pusat yang akan dibayar atau diselesaikan dalam periode lebih dari satu tahun atau satu siklus normal operasional perusa ha an, mana yang lebih panjang, yang digunakan untuk pelaksanaan kegiatan perusahaan pelabuhan.
d. Hutang Sewa (d.h Hutang Sewa Guna Usaha)
Hutang sewa adalah kewajiban kepada pihak ketiga sebagai akibat perjanjian sewa pembiayaan (finance lease) yang dilakukan oleh perusahaan pelabuhan untuk pelaksanaan kegiatan operasionalnya.
e. Hutang Hipotek
Hutang hipotek adalah kewajiban kepada pihak ketiga dengan jaminan bangunan atau benda tak bergerak lainnya.
f. Kewajiban Imbalan Kerja Jangka Panjang
Kewajiban imbalan kerja jangka panjang adalah kewajiban atas imbalan kerja yang jatuh tempo lebih dari 12 (dua belas) bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan jasa.
g. Kewajiban Diestimasi Jangka Panjang
a) Kewajiban diestimasi adalah kewajiban perusahaan pelabuhan yang jumlah dan waktunya belum pasti.
b) Kewajiban diestimasi jangka panjang adalah kewajiban perusahaan pelabuhan yang jumlah dan waktunya belum pasti yang dibentuk untuk estimasi pengeluaran dalam jangka panjang (diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu lebih dari satu siklus normal operasi perusahaan pelabuhan atau jatuh tempo dalam jangka waktu lebih dari dua belas bulan dari tanggal neraca).
h. Pendapatan Diterima Dimuka Jangka Panjang
a) Pendapatan diterima dimuka adalah uang yang diterima dari pihak lain sehubungan dengan jasa yang akan dilakukan oleh perusahaan pelabuhan di masa depan tetapi jasa tersebut belum dilakukan atau belum selesai.
b) Pendapatan diterima dimuka jangka panjang adalah pendapatan diterima dimuka apabila :
(1) Diperkirakan akan diselesaikan lebih dari jangka waktu satu siklus normal operasi perusahaan; atau
(2) Jatuh tempo dalam jangka waktu lebih dari dua belas bulan dari tanggal neraca.
i. Kewajiban Pajak Tangguhan
a) Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan pajak ini dikenakan atas peng hasil an kena pajak perusahaan.
b) Pajak Penghasilan (PPh) Final adalah pajak penghasilan yang bersifat final, yaitu bahwa setelah pelunasannya, kewajiban pajak telah selesai dan penghasilan yang dikenakan pajak penghasilan final tidak digabungkan dengan jenis penghasilan lain yang terkena pajak penghasilan yang bersifat tidak final. Pajak jenis ini dapat dikenakan terhadap jenis penghasilan, transaksi, atau usaha tertentu.
c) Laba akuntansi adalah laba atau rugi bersih selama satu periode sebelum dikurangi beban pajak.
d) Penghasilan kena pajak atau laba fiskal (taxable profit) atau rugi pajak (tax loss) adalah laba atau rugi selama satu periode yang dihitung berdasarkan peraturan perpajakan dan yang menjadi dasar penghitungan pajak penghasilan.
e) Beban pajak (tax expense) atau penghasilan pajak (tax income) adalah jumlah agregat pajak kini (current tax) dan pajak tangguhan (deferred tax) yang diperhitungkan dalam peng hitungan laba atau rugi pada satu periode.
f) Pajak kini (current tax) adalah jumlah pajak penghasilan terhutang (payable) atas penghasilan kena pajak pada satu periode.
g) Kewajiban pajak tangguhan (deferred tax liabilities) adalah jumlah pajak penghasilan terhutang (payable) untuk periode men datang sebagai akibat adanya perbedaan temporer kena pajak.
h) Perbedaan temporer (temporary differences) adalah perbeda an antara jumlah tercatat aset atau kewajiban dengan Dasar Pengenaan Pajaknya.
Perbedaan temporer dapat berupa :
(1) Perbedaan temporer kena pajak (taxable temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menimbulkan suatu jumlah kena pajak (taxable amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aset dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled); atau
(2) Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences) adalah perbedaan temporer yang menim bulkan suatu jumlah yang boleh dikurangkan (deductible amounts) dalam penghitungan laba fiskal periode mendatang pada saat nilai tercatat aset dipulihkan (recovered) atau nilai tercatat kewajiban tersebut dilunasi (settled).
i) Dasar Pengenaan Pajak (DPP) aset atau kewajiban ada lah nilai aset atau kewajiban yang diakui oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam penghitungan laba fiskal.
j) Surat Ketetapan Pajak adalah surat yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Pajak yang dapat berupa :
(1) Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terhutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar;