1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wilayah kepesisiran didefinisikan oleh Kay dan Alder (1999) sebagai wilayah pertemuan darat dan laut dengan proses-proses alam yang bervariasi dan dinamis dalam membentuk wilayah tersebut. Hal yang serupa diungkapkan oleh Mardiatno dan Shafarani (2014) bahwa wilayah kepesisiran merupakan wilayah transisi antara darat dan laut yang memiliki sumberdaya yang potensial, baik sumberdaya hayati maupun non hayati. Hal tersebut dapat menjadi nilai strategis dalam pengembangan wilayah. Pengembangan suatu wilayah tidak dapat terlepas dari upaya pengelolaan sumberdaya secara tepat.
Salah satu ciri dari wilayah yang sedang berkembang adalah pertumbuhan penduduk. Kay dan Alder (1999) menambahkan bahwa pertumbuhan penduduk di wilayah kepesisiran berbanding lurus dengan tingkat percepatan urbanisasi. Hal ini memicu perkembangan permukiman dan transportasi di wilayah kepesisiran.
Bertambahnya jumlah penduduk dan merebaknya permukiman di wilayah kepesisiran akan berdampak lanjutan pada kebutuhan air bersih.
Kebutuhan air bersih dapat terpenuhi dengan memanfaatkan airtanah.
Airtanah merupakan sumber air bersih yang paling banyak digunakan oleh penduduk dalam beraktivitas (Santosa dan Adji, 2014). Berkembangnya aktivitas manusia di suatu wilayah mendorong terjadinya eksploitasi airtanah (Gimenez- Forcada, 2014). Hal yang serupa diungkapkan sebelumnya oleh Cheng dan Ouazar (2003) bahwa eksploitasi airtanah di wilayah kepesisiran disebabkan oleh pertumbuhan penduduk serta perkembangan industri dan pertanian. Hal ini mengakibatkan terjadinya penurunan muka airtanah hingga ke bawah permukaan laut, sehingga memberikan peluang kepada air laut untuk masuk ke dalam sistem akuifer atau dikenal dengan istilah intrusi air laut. Bagian dari wilayah kepesisiran yang relatif memiliki pertumbuhan yang cepat adalah wilayah pantai dan pesisir.
Salah satu wilayah yang berkembang cepat adalah wilayah pantai dan pesisir
Sanden.
2 Wilayah pantai dan pesisir Sanden mulai berkembang menjadi kawasan pariwisata, pertanian, dan perikanan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.1 yang menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan di wilayah pantai dan pesisir Kecamatan Sanden. Perkembangan wilayah kepesisiran semakin didukung oleh adanya aksesibilitas yang memadai, yaitu tersedianya fasilitas jalan yang memadai pada tahun 2014.
Gambar 1.1. Perubahan Penggunaan Lahan di Wilayah Pantai dan Pesisir Kecamatan Sanden Tahun 2006 – 2015 (Sumber: Google Earth, 2015)
Perkembangan aktivitas manusia di wilayah pantai dan pesisir berpengaruh
terhadap kuantitas dan kualitas airtanah dimana airtanah berperan sebagai sumber
air utama di wilayah tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Wiridjati (2014), airtanah di sebagian wilayah kepesisiran di Desa Srigading
memiliki kadar klorida dan nitrat yang tinggi karena adanya aktivitas manusia,
seperti kegiatan tambak udang, pertanian, dan limbah septiktank. Hal ini didukung
oleh penelitian yang dilakukan oleh Rakhman (2014) bahwa daerah kajian belum
mengalami intrusi air laut, tetapi terindikasi adanya peningkatan kadar garam
terlarut pada airtanah. Pemodelan airtanah di Kecamatan Sanden, seperti yang
dilakukan oleh Kabahari (2014) menunjukkan bahwa wilayah pantai dan pesisir
daerah kajian memiliki risiko tinggi untuk terjadi intrusi air laut. Hal ini
disebabkan oleh letak interface yang berada pada kedalaman 48 m.
3 Kajian terkait keasinan airtanah di wilayah pantai dan pesisir menjadi penting karena dampak yang diterima oleh masyarakat akan sangat besar, terlebih di wilayah tersebut sudah mulai berkembang dan populasi penduduk di wilayah tersebut semakin meningkat. Sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rentang empat tahun, yaitu antara tahun 2010 hingga 2013, terjadi peningkatan jumlah penduduk pada Desa Srigading, Gadingharjo, dan Gadingsari, Kecamatan Sanden. Hal ini akan berpengaruh terhadap kepadatan penduduk di ketiga desa tersebut (Gambar 1.2). Peningkatan jumlah penduduk berdampak pada berkembangnya aktivitas ekonomi penduduk yang memanfaatkan ruang yang tersedia di wilayah kepesisiran (Marfai, dkk., 2011).
Dampak selanjutnya berkaitan dengan kebutuhan air yang semakin meningkat.
Hal ini pula yang berpotensi menimbulkan intrusi air asin sebagai akibat dari pemompaan airtanah, baik untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun untuk kebutuhan air irigasi. Kualitas airtanah di wilayah pantai dan pesisir dapat dipertahankan agar tidak terjadi proses intrusi air asin ke dalam akuifer dengan melakukan pengukuran dan analisis terkait dengan hidrogeokimia airtanah.
Gambar 1.2. Grafik Kepadatan Penduduk Desa Gadingsari, Gadingharjo, dan Srigading Tahun 2010 – 2015
(Sumber: BPS Kabupaten Bantul, 2011 – 2016)
Identifikasi airtanah tawar dan airtanah asin dapat dilakukan dengan data komposisi kimia airtanah. Hal ini dibuktikan oleh Ebraheem et al. (1997) yang
1060 1080 1100 1120 1140 1160 1180 1200 1220 1240
2010 2011 2012 2013 2014 2015
K e p ad atan Pe n d u d u k (ji wa/ km
2)
Tahun
Desa Gadingsari Desa Gadingharjo Desa Srigading
4 telah melakukan penelitian terkait dengan pencemaran airtanah karena intrusi air asin dengan mengombinasikan data hidrogeologi dan geofisik dengan data komposisi kimia airtanah melalui pemantauan banyak sumur. Hidrogeokimia pun dapat digunakan dalam mengidentifikasi intrusi air asin dalam perspektif ruang dan waktu seperti penelitian yang dilakukan oleh Gimenez-Forcada (2014).
Dengan demikian, konsep hidrogeokimia untuk mengkaji keasinan airtanah dapat diterapkan pada daerah kajian.
1.2. Perumusan Masalah
Peningkatan jumlah penduduk akan menimbulkan berbagai aktivitas perekonomian dengan memanfaatkan lahan di wilayah pantai dan pesisir, seperti pembukaan lahan untuk perikanan, pertanian, dan pariwisata. Perkembangan suatu wilayah sebagai sebagai bentuk dari aktivitas manusia memiliki dampak bagi lingkungan, baik dampak positif maupun negatif. Dampak positif yang dihasilkan cenderung ke arah perekonomian masyarakat yang mengalami peningkatan. Misalnya perubahan penggunaan lahan yang semula lahan kosong menjadi lahan perikanan dan pertanian, serta wisata alam yang sedang populer di kalangan masyarakat. Hal ini akan mendorong perekonomian masyarakat setempat, mulai dari kegiatan tambak hingga pembukaan warung makan dan toilet umum di pesisir. Meskipun demikian, ketika aktivitas manusia telah mendominasi, maka keseimbangan alam akan terganggu. Salah satu bentuk dari ketidakseimbangan alam adalah adanya proses intrusi air asin ke dalam akuifer.
Penelitian yang dilakukan oleh Kabahari (2014) menunjukkan bahwa letak interface berada pada kedalaman 48 m. Berdasarkan hasil pemodelan, sejauh 400
m ke utara dari pantai merupakan daerah yang sangat rawan terjadi intrusi air laut
jika terdapat aktivitas pemompaan airtanah yang berlebihan. Wiridjati (2014)
menunjukkan bahwa kandungan nitrat dan klorida di dalam airtanah tergolong
tinggi karena aktivitas tambak udang dan permukiman yang padat. Sama halnya
dengan Rakhman (2014) yang mengemukakan bahwa di wilayah pantai dan
pesisir Kecamatan Sanden terdapat peningkatan kadar garam terlarut pada
5 airtanah. Berdasarkan hal tersebut dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti antara lain sebagai berikut.
(1) Bagaimana pola aliran airtanah (flownet) di wilayah pantai dan pesisir Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul?
(2) Bagaimana karakteristik hidrogeokimia airtanah di daerah penelitian?
(3) Apa saja faktor yang mempengaruhi tingkat keasinan airtanah di daerah penelitian?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
(1) menganalisis pola aliran airtanah (flownet) di daerah penelitian;
(2) menganalisis karakteristik hidrogeokimia airtanah di daerah penelitian; dan (3) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keasinan airtanah di
daerah kajian ditinjau dari pola aliran airtanah (flownet), hidrogeokimia, dan daya hantar listrik.
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diantaranya sebagai berikut.
(1) Penelitian ini diharapkan dapat bemanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan geografi fisik dan lingkungan, khususnya pada bidang ilmu geohidrologi.
(2) Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai keasinan airtanah di wilayah pantai dan pesisir Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul.
(3) Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dalam mengelola sumberdaya airtanah di daerah kajian agar dapat meminimalkan pencemaran airtanah asin.
1.5. Telaah Pustaka 1.5.1. Wilayah kepesisiran
Wilayah kepesisiran didefinisikan oleh Kay dan Alder (1999) sebagai
wilayah pertemuan darat dan laut dengan proses-proses alam yang bervariasi dan
6 dinamis dalam membentuk wilayah tersebut. Mardiatno dan Shafarani (2014) menambahkan bahwa wilayah kepesisiran merupakan wilayah transisi antara darat dan laut yang memiliki potensi sumberdaya yang besar, baik sumberdaya hayati maupun non-hayati.
Snead (1982), CERC (1984), Selby (1985), serta Cookie dan Doomkamp (1994) dalam Sunarto (2001) membagi wilayah kepesisiran menjadi tiga bagian, yaitu perairan laut dekat pantai, pantai, dan pesisir. Bird (2008) mengemukakan hal yang sama bahwa wilayah kepesisiran terbagi menjadi tiga bagian, yaitu zona pecah gelombang yang termasuk dalam perairan dekat pantai, pantai, dan pesisir (Gambar 1.3).
Gambar 1.3. Pembagian Wilayah Kepesisiran (Bird, 2008 dalam Sunarto, 2001)
CERC (1984, dalam Sunarto, 2001), mendefinisikan pantai sebagai daerah pertemuan antara darat dan laut yang ditandai dengan air laut pasang tertinggi dan air laut surut terendah. Bird (2008) mengungkapkan hal yang sama bahwa pantai merupakan zona antara batas air surut dan pasang yang dapat memperluas ke dasar tebing. Zona ini mencakup depan pantai, dekat pantai dan belakang pantai.
Pesisir merupakan daerah yang membentang di darat yang tidak mencapai laut. Pesisir dan laut dibatasi oleh suatu jalur yang disebut pantai (Sunarto, 2001).
Menurut Snead (1982, dalam Sunarto, 2001) pesisir merupakan daerah yang
7 membentang yang ditandai dengan perubahan topografi pertama di permukaan daratan. Marfai, dkk (2011) menambahkan bahwa pesisir merupakan suatu ekosistem yang memiliki potensi sumberdaya alam, baik di daratan maupun di perairan. Hal tersebut menyebabkan kawasan pesisir memiliki fungsi ekonomis yang disertai dengan efek pengganda, yaitu berkembangnya kegiatan yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan kegiatan ekonomi utama.
1.5.2. Airtanah dan pola aliran airtanah (Flownet)
Airtanah merupakan air yang berada pada berbagai formasi batuan, tepatnya pada zona jenuh air yang memiliki tekanan hidrostatis yang sama atau lebih besar daripada tekanan udara (Todd, 1980). Hal yang sama diungkapkan oleh Bisri (2012) bahwa airtanah berada pada rongga-rongga lapisan geologi dalam keadaan jenuh.
Sumber utama yang mengisi airtanah adalah air hujan yang meresap ke dalam tanah. Air hujan tersebut kemudian mengalami suatu proses, yaitu daur hidrologi (Todd, 1980; Fetter, 1988; dan Bisri, 2012). Bisri (2012) mengemukakan bahwa daur hidrologi merupakan rangkaian proses sirkulasi air, mulai dari penguapan, hujan, aliran permukaan, aliran airtanah hingga menuju ke laut, dan menguap kembali. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Todd (1980) dan Fetter (1988) yang mengemukakan bahwa daur hidrologi merupakan proses perjalanan air dari laut ke udara, sungai, danau, dan kembali ke laut. Proses yang terjadi antara lain evaporasi, transpirasi, hujan, dan limpasan permukaan.
Gambaran mengenai daur hidrologi ditunjukkan melalui Gambar 1.4.
Gambar 1.4. Daur Hidrologi
(Fetter, 1988)
8 Mintakat airtanah terbagi menjadi dua bagian, yaitu mintakat aerasi dan saturasi. Rongga-rongga tanah pada mintakat aerasi terisi oleh air vadose dan udara, sedangkan rongga pada mintakat saturasi terisi oleh air dan memiliki tekanan hidrostatis. Kedua mintakat ini dibatasi oleh bidang muka airtanah (water table). Pembagian mintakat airtanah dapat dilihat pada Gambar 1.5.
Gambar 1.5. Agihan Vertikal Airtanah (Todd, 1980)
Airtanah bergerak atau mengalir di dalam akuifer dimana konduktivitas hidrolik sangat berpengaruh terhadap arah aliran airtanah (Todd, 1980). Akuifer itu sendiri merupakan perlapisan batuan yang jenuh air (saturated zone). Zona saturasi dan aerasi dibatasi oleh bidang muka airtanah. Sama halnya dengan elevasi di suatu wilayah, tiga buah titik tinggi dapat diolah menjadi kontur ketinggian. Dengan demikian, tiga buah sumur yang menunjukkan tinggi muka airtanah pun dapat diolah menjadi kontur airtanah. Garis kontur airtanah atau dapat disebut sebagai garis ekuipotensial digunakan sebagai acuan dalam menentukan arah aliran airtanah. Penentuan arah aliran airtanah dilakukan dengan menarik garis aliran tegak lurus dengan garis kontur airtanah (Todd, 1980).
1.5.3. Airtanah asin
Airtanah asin adalah airtanah yang telah mengalami perubahan komposisi kimia airtanah akibat proses-proses alamiah, sehingga airtanah tersebut memiliki
Permukaan tanah
Zo n a aer asi Zo n a sat u ra si A ir v ad o se A ir tan ah
Batuan kedap
Zona kapiler Zona vadose tengah
Zona lengas tanah