• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Sebuah organisasi membutuhkan sebuah kekompakan antar anggota agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan sebuah organisasi.

Kekompakan diperoleh melalui sebuah komunikasi atau interaksi yang sering terjalin di dalam organisasi yang dilakukan antar anggota. Anggota dapat melakukan interaksi apabila memiliki kesamaan makna yang ada di organisasi. Dengan kesamaan makna yang diperoleh oleh anggota akan membentuk perilaku para anggota dalam bertindak atau bertugas sesuai makna atau filosofi yang ada dalam organisasi. Dibutuhkan proses yang tepat atau langkah-langkah yang tepat dalam membentuk para anggota agar sesuai tujuan dan cita-cita dalam organisasi. Proses yang tepat ini berupa cara organisasi memperkenalkan budaya-budaya yang dalam organisasi.

Budaya dalam organisasi yang beraneka ragam ini dicoba disosialisasikan kepada para anggota baru untuk beradaptasi. Dalam sebuah organisasi, komunikasi menjadi bagian penting dari proses pengiriman dan penerimaan pesan dari berbagai informasi, baik pemimpin organisasi dengan anggota, atau anggota dengan anggota. Oleh karena itu, komunikasi dalam organisasi merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan agar terciptanya kesamaan makna antara pihak-pihak dalam organisasi.

Kesalahpahaman didalam organisasi merupakan adanya komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Komunikasi dalam berorganisasi bertujuan untuk menyampaikan beberapa informasi secara langsung bagi para pihak yang melakukan komunikasi, komunikasi dalam organisasi memberikan kemudahan untuk para anggota dalam bekerja sesuai perintah atau norma yang diberikan oleh pendiri atau pemegang kekuasaan tertinggi.

Di Jawa Timur terdapat salah satu kabupaten terkenal dengan seni tarian reyognya bernama Ponorogo. Ponorogo memiliki banyak sekali organisasi

(2)

2 pencak silat seperti, Kera Sakti, Pagar Nusa, Bunga Islam, Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW), Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan masih banyak yang lain, semua organisasi pencak silat tersebut memiliki keunikan masing-masing. Namun, yang paling terkenal di Ponorogo adalah dua organisasi bersaudara yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Persaudaraan Setia Hati Winongo (PSHW). Kedua organisasi ini selalu berlomba-lomba menjadi yang terbaik di Ponorogo. Entah dalam jumlah masa, loyalitas, solidaritas dan prestasi pencak silat. Peneliti telah melakukan pengamatan bahwa tidak jarang kedua organisasi ini sering bersiteru sehingga menimbulkan keresahan pada warga Ponorogo karena seringnya mereka berkelahi sampai jatuh korban dan nyawa. Hal ini berawal dari kedua organisasi tersebut biasa disebut STK (Sedulur Tunggal Kecer).

Kedua persuadaraan tersebut sering berpapasan ketika satu suro untuk bersilaturahmi ke makam pendiri dua organisasi tersebut. Para anggota dari kedua organisasi mempunyai sikap solidaritas yang tinggi, banyak para anggota baru mempunyai pedoman apabila salah satu anggota organisasi mereka diserang, anggota yang lain akan membalaskan dendam anggota yang menjadi korban.

Persaudauraan Setia Hati Terate merupakan salah satu organisasi perguruan pencak silat, meskipun tidak dicantumkan nama pencak silat didalam namanya. Menurut (Jateng, 2018) dan (Wardoyo, 2018) pada tahun 2018 Persaudaraan Setia Hati Terate memiliki 67.000 anggota baru.

Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) adalah organisasi perguruan pencak silat yang besar dan masih sangat aktif, Persaudaraan Setia Hati Terate sudah dikenal baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Persaudaraan Setia Hati Terate berdiri pada tahun 1922 berpusat di Madiun Jawa Timur.

Pendiri organisasi ini adalah Harjo Utomo yang juga merupakan salah satu tokoh Pahlawan Nasional di Indonesia.

Dalam perekrutan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate menggunakan sistem terbuka, semua warga Negara di dunia dapat

(3)

3 mendaftarkan diri menjadi anggota tanpa melihat suku, ras, agama, warna kulit, dan latar belakang yang lain. Keunikan lain dalam perekrutan anggota adalah juga terbuka bagi bangsa lain, ini terbukti ada 10 komisariat di luar Indonesia yang tersebar disembilan negara yaitu negara tetangga Malaysia dan Timor Leste, Serta beberapa Negara di benua eropa seperti Belanda, Rusia (Moskow), Belgia dan Perancis. Sedangkan tiga Negara lain tersebar antara lain Hongkong, Korea Selatan, dan Jepang. Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) kini terkenal di dunia. Oleh karena itu, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, sehingga pengembangan budaya ajaran Pencak Silat dapat terus dilaksanakan dengan lebih baik lagi tanpa kehilangan ciri Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) berusaha memaksimalkan potensi warganya untuk pembangunan bersama dengan mengembangkan sistem organisasi yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Pemerintah telah mengakui adanya Orgnisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Indonesia. Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan organisasi resmi yang sudah disahkan dan diperkuat oleh badan hukum. Dalam AD/ART PSHT 2016 Bab V tentang Lambang, Atribut dan Hak paten, bahwa “SH Terate mempunyai Hak Paten yag diterbitkan oleh Kementrian Hukum dan Hak Asasi Republik Indonesia sebagai jaminan perlindungan hukum atas suatu produk/kekayaan intelektual yang menjadi asset organisasi”. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) juga merupakan salah satu pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Oleh karena hal tersebut kedudukannya diakui di masyarakat negeri sendiri maupun diluar negeri. Keberadaan (PSHT) yang sudah terkenal didalam dan diluar negeri membuat organisasi tersebut mempunyai kedudukan hukum yang cukup kuat walaupun tanpa adanya Badan Hukum.

Semua anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) serta Komite Olahraga Nasional (KONI), mengenal Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tanpa adanya tambahan hal yang lain. Pernyataan tersebut sesuai dengan yang

(4)

4 tertera dalam AD/ART pada tahun 1951 hingga 2016 dan sudah menyelesaikan akta notaris yang sah. Pada tahun 1948 tepatnya tanggal 28 Mei Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mendirikan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Surakarta bersama dengan Sembilan perguruan pencak silat lainnya.

Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate mempunyai dasar dan tujuan seperti ikut mendidik manusia berbudi pekerti luhur, tahu benar dan salah dan juga menjaga kedamaian di masyarakat atau sering disebut “Memayu Hayuning Bawono”. Pada kalimat tersebut mengajarkan seni bela diri pencak silat untuk melindungi diri ketika terdesak. Di dalam seni bela diri tersebut terkandung aspek-aspek olahraga yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, serta pencak silat adalah hal yang menjadi budaya bangsa Indonesia yang perlu dijaga dan dikembangkan. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) memiliki filosofi dan doktrin wajib bahwa manusia harus setia pada hatinya atau memiliki keSH (kesetia Hatian) pada dirinya sendiri. Kecuali kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada kekuatan lain di atas umat manusia yang dapat mengalahkan umat manusia.

Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) bukan hanya berfokus pada pembelajaran seni ilmu bela diri (fisik) tetapi juga memiliki ajaran ke-SH-an atau lebih dikenal dengan ke-Setia Hati-an. Para anggota atau siswa Persaudaraan Setia Hati Terate sering memaknai ini sebagai ajaran mengenali diri sendiri. Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate lebih mengutamakan persaudaraan ketimbang pencak silat, pencak silat hanyalah tingkatan pertama dalam metode pembelajaran Persaudaraan Setia Hati Terate.

Didalam AD/ART PSHT pada tahun 2016 yang berada dalam mukadimah (PSHT) alenia ke 3 yang berisi “Pencak Silat, salah satu ajaran Setia Hati dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan, dan kebahagiaan dari kebenaran terhadap setiap penyerang.

(5)

5 Dalam pada itu Setia Hati sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang ada di luar dirinya; oleh karena itu pencak silat hanyalah syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.”. Mukadimah PSHT tersebut menekankan bahwa seni bela diri pencak silat adalah tingkatan pertama didalam ke SH-an atau ke-Setia Hati-an.

Sikap loyalitas Persaudaraan Setia Hati Terate ditujukan oleh seluruh para anggota terlihat jelas oleh masyarakat dalam kegiatan sehari-hari.

Seperti, Dalam kasus para anggota Persaudaraan Setia Hati Terate mendatangi Mapolsek Papar di Kediri, yang mempertanyakan tindak lanjut penanganan kasus pengeroyokan yag mengakibatkan dua korban anggota PSHT terluka parah (Mashudi, 2018). Hal tersebut membuktikan nilai persaudaraan para warga dan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate yang membantu permasalahan dari anggota lain sedang terkena masalah.

Menekankan pada rasa persaudaraan yang cukup kuat merupakan budaya organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Rasa persaudaraan mereka terbukti dengan terus tersambungnya tali silaturahmi yang dilakukan dengan cara berdzikir bersama di Alon-Alon Ponorogo menurut (Pebrianti, 2017) yang diikuti kurang lebih 24.000 anggota dari 21 ranting di Ponorogo. Dzikir ini selain untuk menyambung tali silaturahmi juga bermaksud untuk mendoakan Negara Kesatuan Republik Indonesia dikarenakan pada musim politik ini dikhawatirkan banyak terjadi kerusuhan. Pada musim politik ini, organisasi ini sudah berirkar untuk bersikap netral dalam pemilu dengan tidak memakai atribut politik apapun dalam setiap kegitannya.

Pada kesempatan lain, Persaudaraan Setia Hati Terate juga mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi. Para anggota Persaudaraan Setia Hati Terate sering menggalang dana untuk para korban bencana di wilayah lain di Indonesia. Pada tahun 2018 (Pebrianti, detikNews, 2018) dan (Today, 2018)

(6)

6 Mereka ikut bersimpati dengan adanya bencana di Indonesia. Selain penggalangan dana, jiwa sosial mereka juga tercermin dengan banyaknya anggota yang ikut dalam kegiatan masyarakat seperti, membantu mengamankan para korban banjir yang terjadi di Ponorogo pada senin 19 Maret 2019.

Dalam kenyataannya, Persaudaraan Setia Hati Terate sering dipandang negatif oleh masyarakat. Ini dikarenakan adanya anggota dari Persaudaraan Setia Hati Terate sering berbuat kriminalitas tawuran dengan perguruan pencak silat yang lain. Padahal nilai yang dijunjung kuat yaitu mendidik manusia berbudi pekerti luhur, tahu benar dan juga salah serta “Memayu Hayuning Bawono” yang artinya memelihara kedamaian di seluruh jagat raya. Kriminalitas yang dilakukan beberapa oknum anggota ataupun warga Persaudaraan Setia Hati Terate mungkin juga dikarenakan kurangnya pemahaman akan makna dan nilai organsisasi pada Persaudaraan Setia Hati Terate.

Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terhadap organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate, dikarenakan organisasi ini memiliki komitmen untuk memegang kuat budaya organisasinya serta memiliki anggota yang begitu loyal atau setia terhadap organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Budaya organisasi yang sudah terbentuk dan ingin dikembangkan serta diperkuat atau bahkan ingin diubah, membutuhkan praktek yang bisa membantu menyatukan budaya dari para anggota organisasi dengan budaya organisasinya. Terciptanya budaya organsisasi diharapkan mampu dalam pemahaman makna dan nilai yang menjamin bahwa budaya tersebut memelihara para anggota. Dari awal berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai sekarang makna dan nilai organisasi tetap melekat dihati para anggotanya. Komitmen terhadap budaya organisasi ini tidak lepas dari proses penanaman makna dan nilai organisasi kepada anggotanya.

(7)

7 Dalam mewariskan budaya organisasi dan menjalankan fungsi budaya organisasinya, diperlukan sebuah pemahaman makna dan nilai organisasi oleh anggotanya. Sehingga “Makna dan Nilai Organisai Menurut Anggota”

merupakan rumusan judul yang dipilih oleh peneliti dalam penelitian ini.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang muncul dari latar belakang adalah:

Bagaimana Makna dan Nilai budaya organisasi menurut anggota Persaudaraan Setia Hati Terate di Ponorogo?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Makna dan Nilai budaya organisasi menurut anggota Persaudaraan Setia Hati Terate.

1.4. Manfaat Penelitian 1. Bagi Peneliti

Dapat menerapkan ilmu yang didapat tentang makna dan nilai budaya organisasi menurut anggota Persaudaraan Setia Hati Terate.

2. Bagi Akademisi

Diharapkan penelitian ini mampu memberikan masukan untuk penelitian lainnya mengenai budaya organisasi tentang makna dan nilai organisasi menurut anggota.

3. Bagi Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi motivasi baru dalam memaksimalkan diri, berkaitan dengan makna dan nilai budaya organisasi menurut anggota Persaudaraan Setia Hati Terate sehingga menghasilkan anggota-anggota yang mempunyai pemahaman terhadap organisasinya sendiri.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan bagi peneliti sekaligus bagi pembaca mengenai pengaruh pengetahuan kewirausahaan, motivasi dan

Hasil pelatihan kerja yang telah dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan keterampilan kerja karyawan, sehingga kinerja organisasi pada unit kerjanya menjadi lebih baik,

a) Bagi Masyarakat, khususnya pelaku aktif organisasi di masyarakat diharapkan dengan penelitian ini dapat memberikan masukan dan.. motivasi mengenai urgensi

Seorang investor ingin meminimalkan ketidakpastian dan memaksimalkan tingkat pengembalian yang diharapkan, maka investor dapat menganalisis hal tersebut dengan

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan serta pengetahuan baru mengenai book tax differences yang dikelompokkan menjadi perbedaan tetap dan

Di Dusun Made seluruh masyarakatnya melestarikan Organisasi Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate ( PSHT ). Dusun Sempu menjadi basis Persaudaraan Setia Hati Winongo

Penelitian ini akan memberikan masukan mengenai pengaruh Budaya organisasi dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan, guna mewujudkan suatu perilaku yang

Karyawan yang memiliki tinggat motivasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan yang tidak memiliki motivasi, motivasi juga harus mempunyai budaya organisasi yang bisa