1 Tahun 2020 merupakan tahun yang bersejarah bagi perkembangan bisnis online di seluruh dunia terutama di Indonesia. Berawal dari berkembangnya wabah Covid-19 yang berasal dari Wuhan, Cina yang pada akhirnya sampai ke Indonesia. Pandemi Covid-19 menimbulkan banyak kerugian di bidang ekonomi terutama perdagangan. Hal ini tentunya menimbulkan dampak yang besar, seperti menipisnya lapangan pekerjaan, banyaknya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di beberapa perusahaan, menurunnya aktifitas ekspor impor serta berdampak pada Inflasi.
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk di Indonesia dan semakin banyaknya usia siap kerja, sementara lapangan pekerjaan sangat minim. Hal ini menambah angka pengangguran di Indonesia, salah satu cara untuk mengurangi pengangguran ialah dengan kewirausahaan. Kewirausahaan merupakan suatu kemampun untuk mengelola sesuatu yang ada dalam diri untuk ditingkatkan agar lebih optimal sehingga bisa meningkatkan taraf hidup di masa mendatang (Hendro, 2014). Melalui kewirausahaan, lapangan pekerjaan yang luas dapat diciptakan, sehingga tidak bergantung pada orang lain dalam mendapatkan pekerjaan dan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi pengangguran dengan cara membuka lapangan pekerjaan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik jumlah angkatan kerja pada Agustus 2020 sebanyak 138,22 juta orang naik 2,36 juta orang dibanding Agustus 2019. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 sebesar 7,07%, meningkat 1,84% poin dibandingkan dengan Agustus 2019. Penduduk yang bekerja sebanyak 128,45 juta orang, turun sebanyak 0,31 juta orang dari Agustus 2019.
Tabel 1.1. Penduduk Usia Kerja dan Angkatan Kerja, Agustus 2018-2020
Sumber : Badan Pusat Statistik (BPS)
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja dan menggambarkan kurang termanfaatkannya pasokan tenaga kerja. TPT hasil Sakernas Agustus 2020 sebesar 7,07 persen. Hal ini menunjukkan dari 100 orang angkatan kerja, terdapat sekitar tujuh orang penganggur. Pada Agustus 2020, TPT mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu sebesar 1,94 persen poin dibandingkan dengan Agustus 2019. Persentase perbandingan TPT laki-laki sebesar 7,46 persen lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yaitu sebesar 6,46 persen.
Agustus Agustus Agustus
2018 2019 2020
Juta Orang Juta Orang Juta Orang Juta Orang Persen Juta Orang Persen Penduduk Usia Kerja 198.13 201.19 203.97 3.06 1.54% 2.78 1.38%
Angkatan Kerja 133.36 135.86 138.22 2.50 1.87% 2.36 1.74%
Bekerja 126.29 128.76 128.45 2.47 1.96% -0.31 -0.24%
Pengangguran 7.07 7.10 9.77 0.03 0.42% 2.67 37.61%
Bukan Angkatan Kerja 64.77 65.33 65.75 0.56 0.86% 0.42 0.64%
Persen Persen Persen
Tingkat Pengangguran
Terbuka (TPT) 5.30 5.23 7.07
Perkotaan 6.44 6.29 8.98
Pedesaan 3.97 3.92 4.71
Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK) 67.31 67.53 67.77
Laki-laki 82.80 83.25 82.41
Perempuan 51.80 51.81 53.13
Keterangan : Perhitungan dengan menggunakan penimbang hasil proyeksi SUSPAS 2015
0.01 1.32 -0.07 -0.15 -0.05 0.22 0.45 1.84 2.69 0.79 0.24 -0.84 Perubahan Perubahan
Ags 2018 - Ags 2019 Ags 2019 - 2020
Status Keadaan Ketenagakerjaan
Dibandingkan TPT Agustus 2019 laki-laki bertambah 2,12 persen poin sedangkan TPT perempuan naik sebesar 1,24 persen poin ditunjukkan melalui tabel berikut :
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.1. Tren Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Menurut Jenis Kelamin (Persen) Agustus 2018-Agustus 2020
Penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 dikelompokkan menjadi empat komponen yaitu penganggur, bukan angkatan kerja yang pernah berhenti bekerja pada Februari – Agustus 2020, penduduk yang bekerja dengan status sementara tidak bekerja, dan penduduk bekerja yang mengalami gangguan jam kerja. Kondisi pertama dan kedua merupakan dampak pandemi Covid-19 pada mereka yang berhenti bekerja, sedangkan kondisi ketiga dan keempat merupakan dampak pandemi Covid-19 yang dirasakan oleh mereka yang saat ini masih bekerja.
Badan Pusat Statistik juga mencatat 29,12 juta orang (14,28%) penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19, terdiri dari pengangguran karna Covid-19 (2,56 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (0,76 juta orang, sementara tidak bekerja karena Covid-19 (1,77 juta orang), dan penduduk yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (24,03 juta orang).
Tabel 1.2. Dampak Covid-19 terhadap Penduduk Usia Kerja Menurut Jenis Kelamin dan Daerah Tempat Tinggal, Agustus 2020
Sumber : Badan Pusat Statistik
Di Indonesia, tenaga kerja yang bekerja sebagai pekerja penuh (jam kerja minimal 35 jam per minggu) sebesar 63,85% pada Agustus 2020. Sementara 36,15 persen merupakan pekerja tidak penuh (jam kerja kurang dari 35 jam per minggu). Pekerja tidak penuh dikelompokkan lagi menjadi dua kategori, yaitu setengah penganggur dan pekerja paruh waktu, dan masing-masing sebesar 10,19 persen dan 25,96 persen. Pekerja tidak penuh mengalami peningkatan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 7,19 persen poin ada Agustus 2020 dibandingkan Agustus 2019.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.2. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Jam Kerja Agustus 2018-Agustus 2020
Laki-laki Perempuan Perkotaan Pedesaan (Juta Orang) (Juta Orang) (Juta Orang) (Juta Orang)
a. Pengangguran Karena Covid-19 1.95 0.62 1.66 0.9 2.56 b. Bukan Angkatan Kerja (BAK)
Karena Covid-19 0.23 0.52 0.53 0.23 0.76
c. Sementara Tidak Bekerja
Karena Covid-19 1.09 0.68 1.27 0.5 1.77
d. Penduduk Bekerja yang mengalami Pengurangan Jam
Kerja Karena Covid-19 14.76 9.27 16.82 7.21 24.03
Total 18.03 11.09 20.28 8.84 29.12
Penduduk Usia Kerja (PUK) 101.96 102.02 115.82 88.15 203.97 Persentase terhadap PUK 17.41 11.15 17.75 9.71 14.28 Keterangan :
Total (Juta Orang)
1. Perhitungan dengan menggunakan penimbang hasil proyeksi SUSPAS 2015
2. Pengangguran karena Covic-19 adalah penganggur yang pernah berhenti bekerja karena covid-19 selama bulan Februari - Agustus 2020
3. Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 adalah penduduk usia kerja yang termasuk dalam kategori bukan angkatan kerja dan pernah berhenti bekerja karena Covid-19 selama bulan Februari-Agustus 2020 4. Sementara Tidak Bekerja karena Covid-19 adalah penduduk bekerja namun karena Covid-19 menjadi sementara tidak bekerja
Je nis Ke lamin Dae rah Te mpat Tinggi Kompone n
Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, kelompok umur dewasa (25-59 tahun) merupakan kelompok umur yang paling banyak terdampak Covid-19 pada semua komponen. Sementara itu kelompok umur muda (15-24 tahun) yang terdampak paling besar pada komponen pengangguran karena Covid-19. Pada kelompok umur tua 60 tahun keatas) yang terdampak paling besar pada komponen bukan angkatan kerja karena Covid-19.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.3. Dampak Covid-19 terhadap Penduduk Usia Kerja Menurut Kelompok Umur Agustus 2018-Agustus 2020
Sehubungan dengan adanya wabah Covid-19 ini pemerintah menetapkan ke-bijakan tentang New Normal, seperti wajib menggunakan masker ketika diluar rumah, rajin mencuci tangan dan menjaga kebersihan, menjaga jarak dengan orang lain, penerapan WFH (Work From Home), belajar secara daring bagi pelajar dan Mahasiswa serta mengurangi bepergian untuk hal-hal yang tidak perlu.
Selain dampak negatif yang disebutkan diatas, ada pula dampak positif yang dapat diubah menjadi peluang. Keadaan new normal membuka kesempatan baru bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi bisnis online terutama bagi karyawan swasta yang ingin mencari penghasilan tambahan. Melalui teknologi berbasis online, transaksi jual beli lebih fleksibel karena dapat dijangkau oleh masyarakat luas tanpa
terbatas jarak dan waktu, dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja, tidak membutuhkan modal awal yang besar untuk memulai sebuah usaha, tidak membutuhkan tempat yang luas untuk gudang penyimpan barang, lebih fleksibel karna jangkauan pemasarannya lebih luas, memudahkan calon pembeli untuk memilih produk yang diinginkan, pembayaran bisa dilakukan secara transfer dan keuntungan lainnya.
Berdasarkan data yang diperoleh dari republika.co.id jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2020 tercatat sekitar 175,5 juta jiwa dari jumlah populasi sebanyak 258.583.016 penduduk. Terlebih lagi Kominfo mencatat pada tahun 2019 bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama dari 10 negara terbesar pengguna e-commerce dengan pertumbuhan 78%. Hal ini semakin menambah peluang untuk membuka bisnis online. Berikut beberapa contoh media pemasaran bisnis online, seperti Instagram, Twitter, Whatsapp, Facebook, serta melalui E-Commerce seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli.com, dan Bukalapak.
Tabel 1.3. Persentase Usaha E-Commerce menurut Jumlah Tenaga Kerja, dan Peningkatan Pendapatan Usaha Dampak Pandemi COVID-19, Tahun 2020
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik persentase usaha E-Commerce menurut jumlah tenaga kerja lapangan usaha, dan persentase peningkatan pendapatan usaha dampak pandemi Covid-19 tahun 2020 jumlah tenaga kerja 1-4
Jumlah Tenaga Kerja
1 - 4 orang 25,98 46,18 12,05 15,79
5 - 19 orang 32,56 39,53 10,47 17,44
20 - 99 orang 23,53 29,41 11,77 35,29
100 orang dan lebih - 100 -
-Sumber : Badan Pusat Statistik
Persentase Peningkatan Pendapatan Usaha
orang yang mengalami peningkatan >75% sebesar 15,79%, sedangkan 100 orang lebih mengalami peningkatan pendapatan usaha sebesar 25-50%. Dari data tersebut menunjukkan peningkatan yang cukup baik, sehingga apabila pekerja meluangkan waktu untuk memiliki bisnis secara online, secara otomatis akan meningkatkan pendapatan diluar pendapatan pokok yang diperoleh dari hasil bekerja di perusahaan.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.4. Usaha E-Commerce menurut Lapangan Usaha/Kategori, Tahun 2019 Usaha yang termasuk kategori G (Perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor) mendominasi kegiatan E-Commerce, dengan persentase hampir separuh dari keseluruhan usaha yaitu sebesar 48,42 persen. Kegiatan usaha E-Commerce terbesar kedua (17,55 persen) adalah kategori I yaitu usaha yang bergerak di sektor penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum. Sementara itu usaha yang tercakup kedalam kategori B (Pertambangan dan Penggalian) dan C (Industri Pengolahan) merupakan usaha E-Commerce terbesar ketiga dibandingkan dengan kategori-kategori yang lainnya yaitu sebesar 10,28 persen.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.5. Usaha E-Commerce menurut Dua Kelompok Barang dan Jasa yang Terjual Terbesar Melalui Transaksi E-Commerce, Tahun 2019
Dalam usaha E-Commerce jenis barang/jasa yang paling banyak terjual pada tahun 2019 adalah makanan, minuman dan bahan makanan, yaitu 30,95 persen dari keseluruhan usaha yang menjadi sampel E-Commerce. Jenis barang/jasa yang banyak terjual pada urutan kedua adalah fashion, meliputi baju, kemeja, jaket, kaos, kaos kaki, alas kaki, aksesoris, ikat pinggang, kacamata dan sebagainya dengan proporsi 23,95 persen. Di urutan ketiga, adalah jenis barang/jasa yang tergabung dalam kategori lainnya, dan terdiri dari jasa kesehatan, terapi, refleksi dan lain-lain mencapai 17,99 persen. Urutan selanjutnya adalah kosmetik/kecantikan sebesar 8,87 persen dan barang-barang rumahtangga seperti furnitur, peralatan dapur dan lain-lain yang terjual sebesar 8,29 persen.
Hasil analisa Badan Pusat Statistik, 16.277 usaha E-Commerce yang dianalisis, sebanyak 71,18 persen usaha diantaranya memulai penjualan melalui internet selama kurun waktu tiga tahun terakhir. Sementara itu 26,90 persen usaha mulai berjualan online pada tahun 2010 hingga tahun 2016, dan hanya 1,92 persen usaha yang memulai sebelum tahun 2010. Grafik berikut ini menunjukkan bahwa dari 53,52 persen usaha yang langsung melakukan E-Commerce saat mulai beroperasi, sebanyak 51,97 persennya adalah usaha yang bergerak pada sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor.
Sumber : Badan Pusat Statistik
Gambar 1.6. Usaha E-Commerce Menurut Selisih Tahun Mulai e-commerce dengan Tahun Mulai Operasi Tahun 2019
Walaupun kesempatan untuk berbisnis online bertambah, tidak semua orang dapat mengambil kesempatan ini. Penelitian mengenai pengaruh pengetahuan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha yang dilakukan oleh Agung Ibnu Farhan (2019) menunjukkan hasil bahwa pengetahuan kewirausahaan berpengaruh signifikan terhadap minat berwirausaha, penelitian yang dilakukan oleh Noviantoro (2017) menunjukan hasil bahwa variabel pengetahuan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Dari kedua penelitian ini sama-sama mendukung adanya pengaruh pengetahuan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha, sehingga masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pengaruh pengetahuan kewirausahaan terhadap minat berwirausaha.
Penelitian sebelumnya mengenai pengaruh Motivasi terhadap minat berwirausaha yang dilakukan oleh Noviantoro (2017) menyebutkan bahwa Motivasi berwirausaha berpengaruh positif terhadap Minat berwirausaha. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Agung Ibnu Farhan (2019) menyatakan bahwa secara parsial variabel motivasi berpengaruh terhadap variabel Minat berwirausaha. Dari kedua penelitian ini maka penulis masih ingin melakukan penelitian ulang tentang pengaruh motivasi terhadap minat berwirausaha.
Penelitian mengenai pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha yang dilakukan oleh Novita Kurniawan (2019) bahwa Lingkungan Keluarga berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat berwirausaha dapat diterima. Hal ini diperkuat oleh Oktarina et al (2019) dalam penelitiannya menunjukkan hasil bahwa lingkungan keluarga mempunyai pengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Penelitian mengenai pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha akan dikaji ulang untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat berwirausaha.
Berdasarkan uraian latar belakang dan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan hasil yang sama, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan judul “Pengaruh Pengetahuan Kewirausahaan, Motivasi dan Lingkungan Keluarga terhadap Minat usaha Online dimasa Pandemi Covid-19 pada Karyawan Swasta di Kawasan Industri Cikarang.”
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang penelitian yang disampaikan diatas, maka permasalahan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah pengetahuan kewirausahaan berpengaruh positif terhadap minat usaha online dimasa pandemi Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang?
2. Apakah motivasi berpengaruh positif terhadap minat usaha online dimasa pandemi Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang? 3. Apakah lingkungan keluarga berpengaruh positif terhadap minat usaha online di
1.3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh pengetahuan kewirausahaan terhadap minat usaha online dimasa pandemi Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang. 2. Mengetahui pengaruh motivasi terhadap minat usaha online dimasa pandemi
Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang.
3. Mengetahui pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat usaha online dimasa pandemi Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang.
1.4. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan bagi peneliti sekaligus bagi pembaca mengenai pengaruh pengetahuan kewirausahaan, motivasi dan lingkungan keluarga terhadap minat usaha online dimasa pan-demi Covid-19 pada karyawan swasta di Kawasan Industri Cikarang.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk mengem-bangkan teori ilmu pengetahuan saat melakukan penelitian serta dapat mengembangkan wawasan yang telah dimiliki.
b. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan mampu membantu meningkatkan kualitas pendidikan tentang kewirausahaan agar dapat diterapkan dalam kehidupan nyata ketika terjun di dunia bisnis. Serta dapat memotivasi mahasiswa untuk menciptakan lapangan kerja. Dengan terciptanya lapangan kerja baru, maka jumlah pengangguran akan semakin berkurang.
c. Bagi pihak lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai media informasi yang berguna bagi khalayak umum atau sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.5. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi yang akan dilakukan peneliti berdasarkan pada aturan sistematika yang sudah ditetapkan oleh Universitas Pelita Bangsa Fakultas Ekonomi Bisnis.
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, sistematika penelitian.
BAB II : LANDASAN TEORI
Pada bab ini dibahas mengenai landasan teori, penelitian terdahulu yang relevan, hipotesis dan model penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini menguraikan tentang jenis dan desain penelitian, definisi operasional dan pengukuran variabel, populasi dan metode pengambilan sampel, jenis, sumber dan teknik pengumpulan data, serta metode analisis.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini menjelaskan tentang gambaran umum penelitian, analisis data atau pengujian hipotesis yang terdiri dari uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik dan uji hipotesis.
BAB V : PENUTUP