1
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Covid-19 telah memengaruhi bisnis dan organisasi di seluruh dunia.
Mengutip laporan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) Economic Outlook Interim Report September 2020 diperkirakan proyeksi
kontraksi ekonomi global tahun 2020 menjadi -4,5% dari -7.6% pada bulan Juni lalu, sedangkan di Indonesia terdapat 4 kerugian yang dapat dirasakan menurut Hadiwardoyo (2020) yaitu, kerugian nasional, sektoral, entitas usaha, dan individu.
Indonesia memiliki berbagai jenis badan usaha, salah satunya koperasi.
Koperasi merupakan bagian dari entitas usaha yang dirugakan dengan adanya pandemi. Menurut Zulhartati (2010), selain upaya mencapai konsumsi, menggalakkan kegiatan produksi, dan menyediakan fasilitas simpan pinjam, masyarakat juga membutuhkan suatu lembaga untuk membantu produsen dalam menjual produknya kepada konsumen. Sekretaris Kemkop UKM Rully Indrawan memaparkan bahwa jumlah koperasi yang dibubarkan sebanyak 81.686 koperasi. Terdapat 45.629 koperasi pada tahun 2016, 32.778 koperasi
pada tahun 2017, 2.830 koperasi pada tahun 2018, dan 449 koperasi pada tahun 2019. Saat ini jumlah koperasi yang ada sekitar 126.000, dan perlu direvitalisasi secara penuh untuk meningkatkan kualitasnya dan meningkatkan kemanfaatan bagi anggotanya (Hadinagoro S., Suharyono)
Pemerintah dapat membubarkan koperasi yang tidak sesuai dengan tujuan pendirian koperasi. Menurut Pasal 3 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1994 Tentang Pembubaran Koperasi Oleh Pemerintah (PP No 17/1994), apabila koperasi dinyatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap, salah satu koperasi tersebut akan
dibubarkan oleh pemerintah.
Kondisi kinerja koperasi Indonesia beberapa tahun terakhir telah menunjukkan perkembangan yang positif atau sedang membaik. Seiring berjalannya waktu, struktur permodalan koperasi semakin didominasi oleh modal eksternal yang biasanya muncul dalam bentuk hutang. Pada aspek non keuangan, koperasi Indonesia menunjukkan tren penurunan, jumlah koperasi yang tidak aktif bertambah dengan bertambahnya jumlah koperasi, jumlah koperasi aktif yang belum menerapkan RAT meningkat, jumlah anggota menurun, dan tenaga kerja belum mampu dimaksimalkan, karena keterbatasan koperasi baik keuangan maupun organisasinya. (Siregar P., Abi)
Perbaikan apa yang telah terjadi atau sedang berlangsung yaitu, kerugian koperasi akibat pandemi, banyaknya koperasi yang dibubarkan akibat pailit, kondisi koperasi di Indonesia, maka diperlukan suatu evaluasi terhadap kinerja koperasi. Kinerja diartikan sebagai pencapaian-pencapaian tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, pengukuran kinerja merupakan upaya yang dilakukan oleh pemangku kepentingan untuk menentukan / mengevaluasi dan memperbaiki strategi yang tepat di masa depan.
Tingkat kesehatan/kinerja koperasi dapat diketahui melalui penilaian kinerja koperasi. Penilaian kinerja koperasi bermanfaat untuk :
1. Mewujudkan pengelolaan koperasi simpan pinjam yang sehat dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
2. Mewujudkan pelayanan terbaik bagi para pengguna jasa
3. Meningkatkan citra dan kredibilitas koperasi simpan pinjam sebagai lembaga keuangan yang mampu mengelola usahanya sesuai dengan peraturan yang berlaku
4. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dari pengelolaan koperasi simpan pinjam
5. Terjaminnya aset kegiatan simpan pinjam oleh koperasi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
6. Meningkatkan manfaat ekonomi anggota dalam kegiatan usaha simpan pinjam oleh koperasi (Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor: 06 / Per / Dep.6 / IV/
2016)
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan Soedarsa dan Natalia (2016) mengenai tingkat kesehatan/kinerja koperasi menggunakan Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor: 14/PER/M.KUKM/XII/2009 pada 7 aspek. Hasil yang didapatkan adalah predikat cukup sehat pada tiap koperasi. Pada penelitian Sudaryanti dan Sahroni (2017) dengan peraturan yang sama aspek kemandirian dan pertumbuhan dinyatakan kurang sehat, sedangkan 3 aspek lainnya dinyatakan sehat. Pada penelitian Prasetyo dan Agung (2017) pada 7 aspek, koperasi berada pada tingkat sehat, sama dengan penelitian Bhakti, dkk (2018) penelitian pada koperasi juga mendapatkan predikat cukup sehat. Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan Putri, dkk (2017) hasil penelitian menunjukkan bahwa 13 koperasi dinyatakan cukup sehat dan dua yang lainnya berada dalam predikat kurang sehat.
Saat ini Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Batu mencatat ada 206 koperasi yang berdiri di Kota Batu, namun dari jumlah tersebut tercatat sebanyak 50 di antaranya sudah tidak memenuhi
persyaratan lagi sebagai sebuah koperasi. Hal ini membuat 50 koperasi ini terancam dibubarkan. Kota Batu memiliki 3 kecamatan yaitu Kecamatan Batu, Kecamatan Bumiaji, dan Kecamatan Junrejo. Koperasi dan lembaga keuangan lain tersebar di setiap kecamatan, namun pada penelitian ini peneliti hanya memokuskan pada satu koperasi yaitu Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri Kota Batu. Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri telah berdiri sejak tahun 2009 dan termasuk dalam koperasi aktif. Menurut informasi masyarakat sekitar, koperasi ini sangat berperan dalam mensejahterakan masyarakat melalui bantuan modal bagi sektor-sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).
Kota Batu menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada awal Mei dan berakhir pada akhir Mei 2020. Setelah itu, ditetapkan New Normal per 1 Juni hingga sekarang. Berdasarkan wawancara dengan Bu Tutut
Andayani selaku karyawan koperasi, nasabah koperasi kesulitan membayar angsuran mulai bulan Maret hingga September 2020. Kredit yang diberikan pun tidak sebanyak seperti di bulan-bulan sebelumnya. Pada tahun 2019 kredit atau pinjaman yang diberikan sebesar 389.517.188, sedangkan pada tahun 2020 kredit atau pinjaman yang diberikan sebesar 312.923.1822. Pinjaman yang diberikan tahun 2020 tidak sebanyak di tahun 2019, karena adanya pandemi Covid-19 ini.
Secara tidak langsung hal tersebut merupakan akibat dari ditetapkannya pandemi Covid-19 dan PSBB di Kota Batu. Koperasi juga telah berdiskusi dan memutuskan untuk mengeluarkan kredit kepada anggota yang sudah lama saja dan tidak memberikan kredit pada anggota baru.. Koperasi Wanita Mandiri menganggap ini menjadi tantangan baru, bagaimana koperasi menjaga likuiditas dan solvabilitasnya, sehingga tidak mengalami kebangkrutan.
Tabel 1.1. Data Angsuran Piutang dan Pemberian Pinjaman Tahun 2019 dan Tahun 2020
Sumber : Laporan Pinjaman Bulanan Koperasi Wanita Mandiri Kota Batu
Tabel 1.1 merupakan data angsuran piutang dan pemberian pinjaman Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri tahun 2019 dan 2020. Angsuran pinjaman dan pemberian pinjaman triwulan pertama hingga triwulan ketiga di tahun 2019 mengalami kenaikan dan mulai mengalami ketidakstabilan hingga penurunan di triwulan keempat 2019 hingga triwulan ketiga tahun 2020. Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, nasabah koperasi kesulitan mengangsur pada bulan Maret hingga September dan koperasi pun memutuskan untuk
Tahun Triwulan Angsuran Pinjaman Pemberian Pinjaman 2019 Triwulan I 65,615,000 89,000,000
Triwulan II 107,591,250 99,000,000 Triwulan III 133,098,362 119,236,188 Triwulan IV 100,585,500 82,281,000 2020 Triwulan I 117,963,256 51,000,000 Triwulan II 65,311,500 39,000,000 Triwulan III 54,657,500 38,012,500 Triwulan IV 66,515,000 173,910,682
mengeluarkan sedikit pinjaman kepada nasabah koperasi.
Perlu diketahui kinerja koperasi melihat fenomena banyaknya koperasi yang dibubarkan baik di Indonesia maupun di Kota Batu akibat dari kinerja yang kurang baik serta fenomena pada KSP Wanita Mandiri Kota Batu terkait dengan penurunan angsuran dan pemberian pinjaman. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mengangkat judul “Analisis Tingkat Kesehatan Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri Kota Batu Tahun 2019 dan 2020”.
B. Rumusan Masalah
Apakah kinerja Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri Kota Batu sehat pada tahun 2019 dan 2020 ?
C. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan Penelitian :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja Koperasi Simpan Pinjam Wanita Mandiri Kota Batu sehat pada tahun 2019 dan 2020.
2. Manfaat Penelitian :
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Bagi koperasi :
Sebagai masukan bagi koperasi untuk mengetahui tingkat kesehatan koperasinya sebelum dan saat pandemi sehingga dapat digunakan
sebagai perbaikan dan pertimbangan dalam menjalankan aktivitas koperasi saat dan setelah pandemi Covid-19 terjadi.
b. Bagi pihak ketiga (kreditur) :
Sebagai pertimbangan kreditur untuk memberikan dana kepada koperasi dalam rangka memperkuat struktur permodalan serta meningkatkan kegiatan usaha koperasi.
c. Bagi peneliti selanjutnya :
Sebagai pengetahuan dan referensi untuk penelitian lebih lanjut dan mendalam mengenai permasalahan sejenis.
D. Batasan Penelitian
Batasan masalah digunakan agar permasalahan menjadi jelas dan terpusat serta tujuan dapat tercapai. Batasan masalah dari penelitian ini yaitu : 1. Laporan keuangan yang digunakan adalah laporan keuangan tahunan
koperasi yaitu tahun 2019 dan 2020
2. Metode yang digunakan adalah analisis rasio keuangan berdasarkan Peraturan Deputi Bidang Pengawasan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Nomor : 06/ Per/ Dep.6/ IV/ 2016 tentang pedoman penilaian tingkat kesehatan/ kinerja koperas