ANALISIS KASUS OFFICIAL LOLY CANDY GRUP TERHADAP TEKNOLOGI INFORMASI
Diajukan Untuk Memenuhi
Salah Satu Tugas Mata Kuliah Etika Profesi Dosen : Hetty Hasanah S.H, M.H.
Disusun Oleh : 10113524 Yovan Aprilliano
Kelas:
Etprof-2
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
2017
Jaringan Grup Pedofil Candy
Terungkapnya jaringan pedofilia di media sosial oleh Kepolisian Indonesia menghebohkan publik. Polri mencokok empat admin grup Facebook yang diberi nama 'Official Candy's Group'.
Di grup yang beranggotakan 7.479 orang ini, terdapat ratusan konten pornografi anak-anak.
"Berdasarkan yang kami lakukan analisa, ada 600 images, terdiri dari 500 video dan 100 foto,"
ujar Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat.
Wahyu menyatakan salah satu admin grup tersebut terhubung dengan sebelas grup pedofil di sembilan negara, termasuk di antaranya dari Peru dan Amerika serikat. "Salah satu admin WW itu yang punya koneksi. Dari grup Facebook itu connect ke WhatsApp dan Telegram sehingga di ada 11 grup lagi yang internasional."
Kasus ini mengingatkan publik pada begitu mudahnya pedofil memperoleh akses terhadap materi pornografi anak, maupun foto-foto bocah di bawah umur. Investigasi BBC awal bulan ini menyatakan pedofil sangat leluasa menyebarkan konten-konten pornografi melibatkan anak di bawah umur melalui grup-grup privat di Facebook. Seringkali konten foto anak itu bahkan tidak mengandung muatan seksual, namun tersebar di grup yang dikelola jaringan pedofilia.
Lembaga Commons Media Committee di Inggris menyatakan teguran mereka kepada Facebook tak kunjung digubris. Mereka menemukan fakta 80 persen konten anak-anak di grup yang berisi para pedofil tak juga dihapus oleh sistem moderasi Facebook.
Jika dikaitkan dengan situasi di Indonesia, muncul kekhawatiran lain setelah grup Candy terungkap kepolisian. Banyak orang tua yang memakai Facebook di Tanah Air mengunggah foto ataupun video yang menampilkan anak-anak mereka. Pakar telematika Abimanyu Wachjoehidajat, menegaskan orangtua patut berhati-hati mengunggah konten semacam itu. "Saat seseorang mengunggah foto anaknya, konten ini tidak akan pernah hilang lagi dari ranah internet. Mau si anaknya atau orangtuanya sudah menghapus konten tersebut," ungkap Abimanyu ketika dihubungi VICE Indonesia.
Pada era pemanfaatan media sosial yang massif seperti sekarang, sebagian pengguna Internet sebetulnya sadar bahaya mengunggah foto anak tanpa kehati-hatian. Influencer sosial media Cinta Ruhama Amelz—yang juga sering memposting foto anaknya—berbagi saran kepada orang tua lain. Dia mengingatkan agar foto anak yang diunggah tidak mencantumkan informasi mengenai lokasi spesifik, seperti alamat rumah atau alamat sekolah.
Aisyah Khairunnisa, ibu yang tinggal di Jakarta, mengamini pendapat tersebut. Dia mempublikasikan foto anaknya setelah beberapa trik khusus. "Gue mencoba 'cari aman' pas posting foto anak dengan kasih watermark di salah fotonya. Awalnya gue begitu buat menghindari supaya anak gue engga dicomot fotonya sama akun-akun penjual bayi," ungkap Aisyah. "Tapi secara zaman semakin canggih, sekarang ada aja usaha orang jahat untuk crop muka anak dan ditempel ke foto naked body."
Dihubungi terpisah, Pengamat media sosial Enda Nasution menyatakan pornografi anak biasanya diproduksi oleh jaringan kecil. Sangat mungkin sebagian besar konten lain diambil dari foto-foto anak yang tersebar di jejaring sosial. "Yang produksi konten orisinal begitu sangat kecil 5 persen," ujarnya.
Enda menyatakan Polri juga pasti masih kesulitan melacak di grup medsos mana saja beredar konten anak yang rentan diakses pedofilia. "Permintaan data ke facebook itu tentu pakai prosedur karena Facebook enggak bisa serta merta ngasih data tanpa ada permintaan resmi dari kepolisian. Sedangkan biasanya kepolisian penyelesaian kasusnya lewat dijebak bukannya dicari informasinya."
Apapun itu, mengunggah foto anak ke medsos terlalu sering bukan pilihan bijak. Enda merasa setiap orang tua kini perlu berpikir ulang setiap kali hendak posting foto sang buah hati.
"Motivasinya engga jelek, cuma harus disadari ada risiko kalau sampai diakses oleh orang yang engga tepat."
Sejauh ini Polri menjerat orang-orang yang terlibat jaringan Candy dengan pasal-pasal dari UU Informasi dan Teknologi. Para pedofil itu dianggap bersalah menyebar konten pornografi. Jika ditemukan bila ada yang menjadi pelaku kekerasan seksual pada anak, maka pasal yang dipakai adalah pidana. Hukuman bagi pedofil yang sekaligus melakukan kekerasan seksual di Indonesia bertambah berat.
Pemerintah Indonesia telah merevisi hukuman bagi pelaku kejahatan seksual yang selama ini dianggap terlalu ringan yang diatur dalam UU No. 23 tahun 2002. Kini ditambahkan satu pasal baru hukuman dikebiri secara kimiawi bagi siapapun yang melakukan kejahatan seksual pada anak. Beleid tersebut telah disahkan dalam Rapat Paripurna DPR. Di dalamnya tercantum hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual pada anak-anak meskipun ditolak dua fraksi yakni Gerindra dan PKS, karena keputusan tersebut dianggap tidak solutif bagi perlindungan anak.
Menurut Sudut Pandang Penulis:
Jejeran orang yang berada dalam loly candy grup adalah termasuk kasus pornografi anak , mengapa disebut pornografi anak karena Kasus ini mengingatkan publik pada begitu mudahnya pedofil memperoleh akses terhadap materi pornografi anak, maupun foto-foto bocah di bawah umur.Di grup yang beranggotakan 7.479 orang ini, terdapat ratusan konten pornografi anak- anak. "Berdasarkan yang kami lakukan analisa, ada 600 images, terdiri dari 500 video dan 100 foto. Dalam Kasus tersebut official candy group terkena pasal 282 KUHP dapat dikenakan untuk penyebaran pornografi.Bunyi pasal 282 KUHP :
(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta,
menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.
(2) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, ataupun barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin, memasukkan ke dalam negeri, meneruskan mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkan, atau menunjuk sebagai bisa diperoleh, diancam, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga bahwa tulisan, gambazan atau benda itu me!anggar kesusilaan, dengan pidana paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
(3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagai pencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau ‘ Tak hanya satu pasal official loly candy grup terkena Pasal 27 ayat (1) UU ITE mengatur larangan mendistribusikan, mentransmisikan, dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.isi Pasal 27 ayat (1) UU ITE :
Terpidana juga terkena kasus Penyimpanan Produk Pornografi yeng berkaitan dengan Pasal 6 UU 44/2008 mengatur bahwa setiap orang dilarang..., memiliki, atau menyimpan produk pornografi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), kecuali yang diberi kewenangan oleh peraturan perundang-undangan.
Terpidanan juga Memfasilitasi Pornografi, otomatis terpidana tejerat Pasal 7 UU 44/2008 mengatur bahwa setiap orang dilarang mendanai atau memfasilitasi perbuatan sebagaimana .
Official loly candy grup termasuk kategori pedofilia , pedofilia adalah gangguan seksual yang berupa nafsu seksual terhadap remaja atau anak-anak di bawah usia 14 tahun.
... Seseorang bisa dianggap pedofil jika usianya minimal 16 tahun. Menurut media massa, pedofilia lebih dikenal sebagai aksi pelecehan anak.
Pedofilia Menurut UU Perlindungan Anak
sejak diberlakukannya UU Perlindungan Anak yang merupakan langkah pemerintah untuk meningkatkan jaminan perlindungan terhadap anak, mengenai tindak pidana perbuatan cabul terhadap anak diatur lebih spesifik dan lebih melindungi kepentingan bagi anak. Seseorang dikategorikan sebagai anak apabila belum berusia 18 tahun.[1]
Kemudian, terkait ketentuan mengenai pencabulan terhadap anak, terdapat dalam Pasal 81 jo. Pasal 76D dan Pasal 82 . Pasal 76E UU 35/2014 yang berbunyi:
Pasal 76D
Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 81
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76D dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku pula bagi Setiap Orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
(3) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Pasal 76E
Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.
Pasal 82
(1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
Jadi disini official loly candy grup terjerat 7 pasal , menurut peulis hukuman yg setimpal adalah seumur hidup dengan disuntik kebiri atau hukuman mati
Daftar Pustaka :
http://www.hukumonline.com/index.php/klinik/detail/lt51acb08aa431a/pedofilia-menurut- hukum-indonesia.