1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jenis transportasi yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia ialah jenis transportasi darat sebab aktivitas masyarakat banyak berlokasi di darat, karena itu sarana serta prasarana untuk mendukung transportasi darat perlu dibangun sesuai dengan kebutuhan serta dilakukan peninjauan agar masyarakat merasa nyaman. Salah satu sarana yang sangat berpengaruh terhadap transportasi darat ialah jalan. Jalan telah memiliki sejarah tersendiri pada perkembangannya untuk bisa membuat kebutuhan manusia terpenuhi. Sebab manusia tidak bisa hanya tinggal di satu tempat saja untuk bertahan hidup, mereka perlu menemukan sumber kehidupan dari beragam tempat. Mayoritas sumber kehidupan tidak bisa ditemukan di satu tempat saja, tetapi tersebar di beragam wilayah serta di beragam musim, hal tersebut bisa dilihat dari persebaran flora dan fauna yang berbeda-beda di masing-masing daerah. Maka dari itu, terdapat tuntutan kepada manusia untuk terus melakukan komunikasi serta menjaga relasi dengan individu lainnya yang menuntut tiap-tiap individu untuk berpindah. Karena itu jalan merupakan hal yang krusial saat manusia berpindah.
Di Indonesia, jalan ialah sarana transportasi yang sangat krusial untuk bisa menetapkan perkembangan ekonomi serta membuat khalayak umum sejahtera. Setiap harinya banyak individu dari beragam kelompok memanfaatkan jalan dalam kehidupannya, roda perekonomian setiap waktu terus berjalan sebab jalan juga merupakan saran mobilitas masyarakat dari satu tempat ke tempat lain untuk bisa bekerja dan memenuhi kebutuhannya.
Pulau Kalimantan ialah bagian dari pulau di negara Indonesia yang mempunyai jumlah penduduk paling padat. Kabupaten Penajam sebagai calon Ibu Kota Indonesia juga berlokasi di pulau Kalimantan begitu juga dengan pusat perekonomian Indonesia yang direncakan akan berada di Kalimatang. Pertumbuhan perekonomian di pulau Kalimantan terutama Provinsi Kalimatan Timur akan berkembang dengan sangat cepat dan terdapat potensi bisa mengejar ekonomi nasional. Hal itu disebabkan bahwa industri perdagangan, peternakan serta jasa yang mendorong kenaikan pada perekomian kalimatan timur. Beragam daerah industry di Kalimatan Timur juga ikut serta mendorong tumbuhnya ekonomi di sana, misalnya adalah Samarindah yang merupakan daerah industri di Kalimantan.
Sebuah sarana yang ditujukkan bagi pengguna lalu lintas mencakup bangunan tambahannya serta seluruh bagian yang dimiliki ialah jalan. Dari dahulu agar kebutuhan manusia serta masyarakat bisa dipenuhi mulai dari bidang ekonomi, politik, pengetahuan dan lainnya bergantung terhadap jalan sebagai sarana yang paling penting, begitu juga dengan transportasi di masa sebelumnya yang bisa menggunakan tenaga kuda tetap membutuhkan jalan untuk bisa berpindah.
Sesuai dengan Undang-Undang RI No 38 Tahun 2004 tentang Jalan, jalan merupakan sarana transportasi darat yang mencakup seluruh unsur jalan, mencakup bangunan lainnya yang ditujukkan untuk pengguna lalu lintas kecuali jalan ekreta api, jalan lori dan jalan kabel.
Kemudian sesuai dengan Undang-Undang RI No 22 Tahun 2009 terkait Lalu lintas dan Angkutan Jalan menjabarkan bahwa jalan ialah semua unsur jalan mencakup bangunan pelengkapnya serta perlengkapan yang ditujukkan untuk pengguna lalu lintas.
Terdapat beragam sejarah berkembangnya jalan di beragam daerah, di awali dari jalan yang masih sangat kecil dan hanya terbuat dari tanah asli. Di jaman perdaban, yang sudah memiliki kemampupan untuk membuat perkembangan pada jalanan masa kini hingga menjadi lebih baik daripada jalan tanah pada masa Romawi, Yunani dan sebagainya. Terkini serta lebih baik pada konteksi ini memiliki arti bukan hanya jalanan yang bisa dilalui oleh manusai saja tetapi juga bisa dilalui menggunakan kendaraan yang lebih besar. Hal tersebut diakibatkan sebab peradaban ini sudah berkembangan darai segi teknologi sehingga memiliki kemampuan untuk membuat pada perkerasan hingga memiliki struktur yang mumpuni.
“Departemen Pekerjaan Umum yang memegang tanggung jawab pada bidang Infraktur sudah memperoleh keberhasilan dibangun di masa tersebut. Kebayoran baru dengan Batavia melalui jaringan jalan yang mempuyai lebar hingga 40meter sukses dilaksanakan oleh pemerintah. Mempunyai dua jalan dengan dimensi yang besar untuk pengguna lalu lintas, dua jalan untuk pengendara menengah, serta taman yang memiliki dimensi 6 meter merupakan pemisah antar kedua jalur itu. Hingga sekarang jalanan ini umumnya disebut sebagai Jl. Jend Sudirman dan Jl. M.H Thamrin merupakan satu satunya jalan yang mempunyai dimensi yang cukup besar maka dari itu pembangunan jalan tersebut menghabiskan dana yang besar.
Di awal masa 1960an daerah Cililitan serta Tanjung Priok merupakan daerah yang selanjutnya akan dibangun. Jalan itu dikenal dengan nama Jakarta Bypass. Di tahun 1963 jalanan ini selesai dikerjakan dengan bantuan dana hibah dari USAID selanjutnya dilakukan peresmian oleh Presiden Soekarno. Khalayak umum juga bisa menyebut jalan tersebut sebagai jalan “Jakarta Bebas” sebab pemerintah membangu dengan rancangan yang bagus, hal tersebut
bisa diamati melalui jalan serta strukturnya yang kuat. Jalanan yang baik tersebut membuat pengguna lalu lintas bisa melaluinya dengan bebas dan nyaman.
Selanjutnya pada era kepemimpinan Soeharto terdapat peta kekuasaan yang berubah, khalayak umum menyebut perubahan tersebut masuk ke pada masa Order Baru. Pada masa tersebut “Jalan Tol” sudah ditetapkan menjadi jalan dengan bebas hambatan. Jalan ini dikerjakan saat selesai pekerjaan jalan yang menjadi penghubung Kota Jakarta ke Kota bogor.
Jalan tersebut tergolong dalam kelas 1 dan memiliki kriteria serta kualitas yang baik maka tidak heran bahwa membutuhkan dana yang sangat besar untuk membangun jalanan tersebut.
Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai struktur jalan yang modern di Asia Tenggah, salah satunya ialah jalan Jagorawi yang diubah menjadi Tol Jagorawi yang merupakan sebuah kebanggaan bagi negara Indonesia sebab pada masa jalan itu dibangung hal tersebut merupakan hal yang modern. Kesuksesan itu merupakan langkah awal dalam sejarah membangun jalan-jalan lain di Indonesia. Sebab, saat membangun Tol Jagorawi banyak pembangunan jalan lainnya terutama jalan bebas hambatan pada banyak wilayah di Indonesia.
Perjalanan yang sangat jauh untuk membangun infrastruktur jalan di Indonesia memperlihatkan bahwa perkembangan serta perubahan jaman seiring dengan berjalannya waktu dibarengi dengan infrastuktur jalan yang juga ikut perkembangan menyesuaikan dengan kebutuhan manusia. Padaa mulanya jalan hanya berbentuk jalur setapak dari tanah berkembang menjadi jalan yang mempunyai dimensi lebar serta panjang yang lebih luass serta terbuat dari ragam campuran sehingga menciptakan perkerasan yang baik. Pengaruh iklim yang buruk merupakan masalah pokok pada situasi jalanan ini. Diawali dari kendaraan kecil sampai kendaraan besar bisa melalui jalan kapanpun sebab mempunyai struktur yang kuat.
Perkembangan zaman serta teknologi berjalan dengan beriringan, konstruksi jalan raya di Indonesia juga berkembang, tidak hanya jalan Tol yang memperoleh kebanggaan dalam perkembangan tekonologi ini melainkan terdapat jenis jalan lainnya seperti jalan laying, jalan bawah tanah, jembatan antar pulai dan beragam inovasi jalanan lain di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena untuk bisa memenuhi kebutuhan jalan masyarakat di daerah untuk bisa mendukung aktivitas ekonomi di wilayah itu.
Namun konstruksi jalan hingga sekarang ini belum merata dan tidak mencakup seluruh daerah di Indonesia terutama daerah pedalaman. Bisa dilihat dan diamati bahwa banyak daerah di Indonesia yang tidak mempunyai sarana jalan yang memadai, padahal kenyamanan penggunaan jalan semestinya bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
Tidak terdapatnya jalanan aspal membentuk aktivitas sosial, ekonomi ataupun aktivitas edukasi masih terhambat dan bisa dinilai sangat pasif di wilayan yang tidak mempunyai jalanan
aspal, misalnya masih terdapat banyak murid ataupun guru di suatu wilayah yang sulit untuk bisa sampai di sekolah sebab harus melalui jalan setapak dan juga menyebrangi sungai disebabkan tidak terdapat jalan darat yang bisa mengakomodasi hingga ke tempat tujuan. Hal tersebut harus menjadi atensi untuk pemerintah agar memberikan perhatian lebih dalam meningkatkan fasilitas umum yang sangat diperlukan untuk masyarakat di daerah pedalaman.
Bukan hanya masyarakat yang tinggal di desa-desa ataupun pendalaman saja yang menghadapi personal itu, namun masyarakat di tingkat kabupaten serta kota juga kerap kali memiliki permasalahan dengan kondisi jalan yang sering rusak, berlupang, beralur hingga tidak laya untuk bisa dilalui dengan kendaraan terutama kendaraan besar.
Melihat situasi dan kondisi tersebut menggambarkan adanya ketimpangan dari tiap-tiap wilayah di Indonesia, sebab di kota-kota besar merupakan daerah yang maju serta terdapat sarana dan prasarana umum yang sangat memadai. Jika terjadi kerusakan juga akan dengan cepat dilakukan perbaikan agar masyarakat bisa terus merasa nyaman. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada daerah-daerah di pedalaman, untuk memperoleh saran tersebut bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang hingga pembangunan mulai dilakukan oleh pemerintah, dan apabila saran tersebut mengalami kerusakan membutuhkan waktu yang panjang juga hingga dilakukan perbaikan ataupun pembangunan kembali.
Dapat dibayangkan jika jalan dibangun secara merata di masing-masing wilayah Indonesia. Melalui jalanan yang memadai seluruh aktivitas bisa dilakukan dengan lebih lancer dan bisa menciptakan peningkatan pada beragam aktivitas yang di lakukan di masing-masing wwilayahnya misalnya dapat meningkatkan ekonomi daerahnya karena masyarakat dapat berpindah dengan lebih mudah.
Pembangunan ekonomi ialah suatu proses untuk peningkatan secara rutin serta upaya pemerintah untuk bisa membuat pendapatan perkapitanya mengalami peningkatan. Cara yang diambil pemerintahan ialah dengan menyediakan infrastuktur di sebuah wilaya yang mempunyai fungsi penting untuk membuat perekonomian dan meningkat serta kemajuan negara. Sebab hal itu ialah upaya untuk membuat pertumbuhan merata dan seimbang serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur yang mencukup bisa meningkatkan aktivitas produksi agar perekonomian, pengembangan daerah dari segi wisaya dan budaya bisa berjalan dengan lancer.
Jalan ialah bagian dari banyaknya infrastruktur darah yang sering dimanfaatkan oleh manusia. Jalan merupakan penghubung dari sebuah wilayah ke wilayah lain. Jaringan jalan yang mencukupi bisa memberikan kemampuan yang baik dalam melayani pengguna jalannya. Bukan hanya perancangan geometric, perkerasan jalan juga perlu dirancang dengan
baik untuk bisa menciptakan perkerasan yang baik dan bisa menopang beban kendaraannya dan membuat peningkatan pada mutu system dan memenuhi kenyamanan, keamanan dari para pengguna jalan.
Kota Samarinda adalah ibu kota provinsi Kalimantan Timur yang memiliki luas 718,00 km² dan terletak antara 117º03'00” Bujur Timur dan 117º18'14” Bujur Timur serta diantara 00º19'02” Lintang Selatan dan 00º42'34” Lintang Selatan. Berdasarkan Badan Pusat Statistik, hingga tahun 2020 Kota Samarinda mempunyai penduduk sejumlah 827.994 jiwa dengan jumlah kendaraan di tahun 2019 tercatat hampir 700.000 kendaraan roda dua dan empat berseliweran di jalan. Hal tersebut terus mengalami pertembuhan melihat bahwa Kota Samarinda memiliki pertumbuhan penduduk yang besar yang dikarenakan kelahiran baru atau pendatang yang menetap untuk bekerja di Kota Samarinda. Tidak seimbangnya pembangunan jalan dengan peningkatan banyaknya kendaraan menyebabkan Kota Samarinda menjadi kota yang erat kaitanny dengan kemacetan.
Maka dari itu, membangunan jalan ialah usaha pemerintah untuk bisa menyelesaikan persoalan kepadatan lalu lintas. Dengan terdapatnya jalan para pengendara bisa pergi tanpa hambatan dan bisa meminimalisir waktu tempuh dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Jalan Olahbebaya mempunyai total panjang 17,12 kilometer yang pembangunannya direncanakan pada tahun 2021. Sebelum pembangunan jalan Olahbebaya , perjalanan dari Samarinda menuju ke wilayah Balikpapan membutuhkan waktu sekitar 3 jam.
Dengan adanya jalan Olahbebaya waktu tempuh diperkirakan hanya dengan 1,5-2 jam.
Pembangunan akan di bagi beberapa tahap, dengan tahap pertama akan dikerjakan sepanjang 3,827 kilometer.
Untuk memperoleh konstruksi jalan bisa digunakan sesuai dengan umu rencannya dan terus memberikan fungsi yang optimal, maka dibutuhkan perencanaan perkerasan jalan agar jalan bisa sesuai dengan yang diharapkan. Dibutuhkan perencanaan untuk perkerasan jalan yang baik agar sesuai dengan persyaratan teknis yang harus dipenuhi saat membangun jalan.
Perencanaan yang tepat juga sangat memengaruhi biaya yang dikeluarkan saat membangun jalan. Maka dari itu dibutuhkan Analisa biaya serta metode pengerjaan konstruksi perkerasan kaku dan perkerasan lentur.
Perancangkan untuk meningkatkan jalan tersebut ialah salah satu usaha untuk bisa menyelesaikan masalah lalu lintas. Berhubungan dengan masalah tersebut, maka dibutuhkan kapasitas jalan yang lebih banyak maka dari itu diperlukan metode yang optimal dalam
merancang pemabngunan jlana agar didapatkan hasil yang paling ekonomin, namun tetapi bisa memberika rasa nyaman dan aman pada pengendara kendaraan.
Lalu lintas yang terdapat di Kota Samarinda kerap kali dihadang oleh problema- problema bagi pengguna lalu lintas, mulai dari pengenara motor, mobil hingga truk-truk besar.
Hal tersebut menyebabkan tidak efektifnya kegiatan para individu di Kota Samarindah.
Problema yang sering terjadi ialah kepadatan lalu lintas yang umumnya terjadi di hari kerja sebab Kota Samarinda memiliki banyak perusahaan-perusahaan yang merupakan tujuan para pekerja dari beragam daerah dalam mencari pekerjaan.
Tidak hanya individu saja yang memperoleh pengaruh negatif dari problema kepadatan lalu lintas itu. Sektor ekonomi juga terhambat karna waktu tempuh yang dibutuhkan dalam perjalanan sangat panjang sehingga memperlambat proses distribusi. Pembangunan jalan Olahbebaya ialah bagian dari usaha untuk membuat perpindahan di dalam kota ataupun dari luat kota mengalami peningkatan di Kota Samarinda serta juga untuk menyelesaikan kepadatan llau lintasnya. Konstruksi jalan Olahbebaya akan mulai dibangunan di tahun 2021
Peningkatan jalan dibutuhkan sebab akan adanya kerusakan pada jalan tersebut misalnya pengelupasan, lubang-lubang di jalanan dan juga jalan yang bergelombang.
Kerusakan itu juga disebabkan oleh konstruksi jalan tidak mempunyai aliran drainase untuk bsia mengalirkan air yang menggenang sehingga membuat kerusakan semakin rusak. Maka dilakukanlah studi perencanaan untuk meningkatkan ruas jalan, yang mana perancangan pembangunan jalan dengan melakukan pertimbangan faktor volume lalu lintas yang melalui jalan serta peningkatan banyaknya kendaraan yang melalui jalanan.
Ruas jalan Olahbebaya Kota Samarinda merupakan jalur alternatif penghubung Kota Samarinda dan Kota Balikpapan. Banyak kendaraan pribadi, truk, maupun bus ditambah kendaraan dari perusahaan tambang yang melalui jalan ini untuk mengoptimlakan waktu tempuh dari kota Samarinda ke kota Balikpapan ataupun kebalikannya. Pertambahan jumlah kendaraan yang melalui jalan menyebabkan kapasitas layanan yang diberikan oleh jalan Olahbebaya mengalami penurunan, maka dibutuhkan peningkatan pada ruas jalan tersebut untuk melakukan antisipasi adanya kerusakan yang semakin buruh pada struktur jalannya.
Pertambahan volume kendaraahn yang menyebabkan menurunnya kapasitas lyanan jalan memungkinkan jalan menjadi bergelombang, beralur, rusak ataupun membuat lubang-lubang.
Hal tersebut diperparah karna di sebagian jalan tidak mempunyai aliran drainase yang akan membuat para kerusakan jalan nantinya.
Saat perkerasan jalan dirancang, material perkerasan jalan adalah bagian yang utama untuk bisa mempertimbangkan analisis indikator perancangannya, hal itu menyebabkan perkerasan jalan yang mempunyai mutu yang baik diperlukan sekali. Mutu jalan yang dibahas padpa konteks ini ialah kekuatan dari masing-masing lapisan perkerasannya, unsur lapis tersebut mecakup beragam jenis material granuler yang membantu menyokong kapasitas stuktur pekrerasannya. Unsur material yang memiliki mutu tinggi diposisikan di atas, dan lapisan dibawahnya memiliki mutu yang terus menurun. Hal tersebut disebabkan karena lapisan bawah hanya menerima tegangan beban kendaraan yang lebih minim dibandingkan dengan lapisan atasnya.
Pada intinya peran jangan bisa menurun apabila terjadi pertambahan umur, jika dilalui oleh kendaraan bermuatan besar. Jalan raya tersebut menjadi rusak dalam waktu yang pendek dan tidak melihat apakah jalan tersebut baru saja diperbaiki ataupun baru saja dibangun.
Beragam hasil penelitian yang sudah dilaksanakan menunjukkan bahwa masalah pokok dari kerusakan jalan itu ialah kualitas pengerjaan, darinase serta kendaraan dengan muatan yang besar. Kerusakan jalan saekarang merupaka nsebuah isu yang mana satu pihak menyebutkan pada kerusakan yang terjadi di umur jalan yang masih muda diakibatkan oleh rancangannya yang tidak baik sehingga menciptakan dengan kualitas yang tidak baik.
Pengaruh yang diciptakan dari kendaraan dengan muatan besar ialah jalanan yang rusak walaupun belum tercapai umur rencan layanannya. Pengaruh buruk lainnya yang diciptakan dari kendaraan tersebut ialah membuat tingkat keselamatan dan pelayanan di jalan tersebut menjadi menurun begitu juga dengan mutu lingkungannya. Kerusakan jalan yang terjadi ialah percampuran dari beragam faktor yang berhubungan. Selain terdapatnya kendaraan dengan muatan yang besar, faktor lainnya misalnya saat jalan direncanakn, diawasi, dilaksanakan serta faktor lingkungan juga membawa pengaruh pada jalan tersebut. Overloading ialah sebuah situasi beban ganda kendaraan mempunyai berat yang lebih besar dibandingkan dengan ketentuan yang ada maka bisa menyebabkan kerusakaan sebelum umur rencana dari layanan jalan tersebut.
Jalan yang rusak sebelum umur rencanaya tercapai disebabkan oleh jalan menopang beban yang melebihin maksimal daya yang bisa ditopang oleh struktur tersebut. Kerusakan itu juga diakibatkan oleh salah satu faktor yakni adanya beban berlebihan pada kendaraan yang membawa barang lebih dari batasan beban yang telah ditentukan, walaupun secara langsung hal tersebut hanya memengaruhi kondisi kendaraannya saja tetapi secara tidak langsung
overload bisa menyebabkan kerusakan pada jalan yang dilaluinnya. Umum rencana perkerasan jalan ialah total tahun dari jalan itu dibuka untuk lalu lintas kendaraan hingga dibutuhkan sebuah perbaikan. (Sukirman, 1999:93)
Ragam serta ukuran beban kendaraan yang bermacam-macam mengakibatkan pengaruh yang berbeda beda pada kerusakan di lapisan-lapisan jalan tidak sama. Apabila beban yang dibawa oleh sebuah kendaraan besar maka akan membuat umur perkerasan jalan lebih cepat dijumpai, hal ini diakibatkan kendaraan yang melalui mempunyai angkat ekuivalen yang semakin besar serta kendaraan yang melewati sebuah jalan mempunyai beban berulang yang memengaruhi indeks permukaan akhir umur rencana (IPt) dari perkerasan jalan raya.
Saat proses membangun sebuah infrastruktur membutuhkan biaya yang besar. Maka dari itu dibutuhkan perhitungan anggara dari mulai gaji, biaya material untuk bisa memahami total biaya yang perlu dikeluarkan dalam mebangun infrastruktur tersebut berdasarkan dengan ketetapan yang berlaku.
Gagalnya rencana konstruksi jalan pada sebuah daerah yang memiliki iklim tropis lebih sering terjadi jika dilakukan perbandingan dengan daerah yang memiliki iklim sedang. Hal tersebut disebabkan karakteristik tanah dan batuan memperoleh pengaruh yang besar dari iklim. Sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang telah dilakukan maka bisa disimpulkan bahwa jumlah biaya pengoperasian kendaraan mendapatkan pengaruh dari kondisi jalan raya dan material yang digunakan, karakteristik lalu lintas serta strategi pemeliharaan. Perbandingan perencanaan perkerasan yang dilaksanakan harapnnya mendapatkan hasil struktur perkerasan yang baik serta efisien dari total biaya ataupun struktur hingga dapat membagikan pelayanan yang baik untuk para pengguna jalan hingga menyetuh umur rencana sesuai yang diharapkan.
Dalam penulisan Tugas Akhir ini ruas jalan Olahbebaya tebal perkerasannya akan direncanakan menggunakan metode AASHTO 93 dengam melakukan penyesuaian pada situasi di Indonesia. Selanjutnya akan dilaksanakan perbandinga diantara dua jenis perkerasan yakni perkerasan lentur serta kaku, dari perbandingan itu maka dapat dipahami hasil ketebalan perkerasan, total anggara biaya pembangunan yang diperlukan untuk setiap jenis perkerasan serta efektivitas perkerasan dari umur rencana yang di tentukan.
Dari uraian di atas, perencanaan perkerasan yang sesuai dengan persyaratan teknis menurut fungsi, volume, dan sifat lalu lintas, sehingga pembangunan konstruksi jalan dapat berguna bagi perkembangan di kawasan industri dan daerah sekitarnya. Maka dari itu perlu dilakukan studi perencanaan perkerasan pada jalan Olahbebaya di Kota Samarinda.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut, maka permasalahan yang akan diselesaikan dalam tugas akhir ini adalah :
1. Berapa tebal konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) di proyek jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827 ?
2. Berapa tebal konstruksi perkerasan lentur (flexible pavement) di proyek jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827 ?
3. Berapa Rencana Anggaran Biaya (RAB) dalam merencanakan tebal perkerasan pada jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827 ?
1.3 Tujuan Perencanaan
Adapun tujuan dari tugas akhir ini yaitu :
1. Untuk mengetahui tebal perkerasan kaku (rigid pavement) di proyek jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827
2. Untuk mengetahui tebal perkerasan lentur (flexible pavement) di proyek jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827
3. Untuk mengetahui jumlah Rencana Anggaran Biaya (RAB) pada perkerasan jalan Olahbebaya pada STA 0+000– STA 3+827
1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah dari tugas akhir ini adalah :
1. Tidak menghitung perencanaan geometric jalan Olahbebaya Samarinda.
2. Tidak menghitung perencanaan drainase.
3. Tidak menghitung perencanaan lapisan tambahan (overlay).
1.5 Manfaat Perencanaan
Dalam meranjcang penulisan tugas akhir ini, penulis mengharapkan dapat memberikan manfaat kepada:
1. Untuk mahasiswa, dengan terdapatnya perencanaan ini harapannya bisa menjadi refreksi dalam menyusun suatu penelitian atau kaji dan pengembangan ilmu di bidang Teknik Sipil terkait perkerasan kaku serta perkerasan lentur
2. Bagi Instansi terkait, harapannya dengna terdapatnya penelitian ini maka bisa menjadi pertimbangan dalam memilih perkerasan untuk jalan yang optimal serta bisa memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan permasalahan yang ada.