163
Berikut ini akan dipaparkan temuan studi dari hasil kajian yang telah dilakukan dalam bab-bab sebelumnya.
5.1.1 Alternatif Bentuk Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD
Berdasarkan kajian terhadap beberapa peraturan perundangan mengenai peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan lindung dan beberapa tinjuan literatur, dapat diidentifikasi lima skenario bentuk peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional, yaitu peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional langsung kepada pemerintah pusat, peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara LSM dimana LSM hanya berperan sebagai penerus informasi (penyambung lidah) antara masyatakat lokal dan pemerintah pusat, peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara LSM kepada pemerintah pusat, peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara kerjasama antara LSM dan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat.
Dari hasil analisis, dapat diidentifikasi 8 (delapan) alternatif bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD. Alternatif pertama mengacu kepada skenario pertama, yaitu bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD langsung kepada pemerintah pusat. Alternatif kedua, ketiga, dan keempat mengacu kepada skenario kedua, yaitu bentuk peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. Alternatif kedua, bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara pemerintah provinsi kepada pemerintah pusat. Sedangkan alternatif ketiga, melalui perantara pemerintah kabupaten kepada pemerintah pusat. Dan alternatif keempat, melalui
perantara kerjasama antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupetan kepada pemerintah pusat.
Sedangkan alternatif kelima mengacu pada skenario ketiga yaitu bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara LSM dimana LSM hanya berperan sebagai penerus informasi (penyambung lidah) antara komunitas adat Orang Rimba dan pemerintah pusat. Dan alternatif keenam mengacu kepada skenario keempat yaitu bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara LSM kepada pemerintah pusat. Namun pada alternatif keenam ini LSM tidak hanya berperan sebagai penerus informasi (penyambung lidah) saja tetapi disini LSM menjadi bagian dari komunitas adat Orang Rimba dan secara bersama-sama melaksanakan pemberdayaan dan pembelajaran sebelum komunitas adat Orang Rimba berperan serta dalam penataan kembali kawasan TNBD.
Untuk alternatif ketujuh dan kedelapan mengacu kepada skenario kelima yaitu bentuk serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional melalui perantara kerjasama antara LSM dan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. Alternatif ketujuh, bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara kerjasama antara LSM dan pemerintah provinsi kepada pemerintah pusat. Sedangkan alternatif kedelapan, melalui perantara kerjasama antara LSM dan pemerintah kabupaten kepada pemerintah pusat.
5.1.2 Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kawasan TNBD yang terjadi selama ini dan Permasalahannya
Berdasarkan analisis terhadap persepsi pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, dijelaskan bahwa BKSDA Jambi kurang melibatkan komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kawasan TNBD. Pemangku kepentingan kawasan TNBD menjelaskan bahwa dalam penataan kawasan TNBD, BKSDA Jambi hanya melibatkan beberapa tumenggung sebagai perwakilan dari komunitas adat Orang Rimba. Namun beberapa tumenggung yang dilibatkan tersebut ternyata belum cukup representatif untuk dikatakan sebagai wakil dari komunitas adat Orang Rimba. Semula BKSDA Jambi menilai bahwa beberapa
menyampaikan usulan dan masukan. Namun kenyataannya adalah setiap orang komunitas adat Orang Rimba hanya bisa mewakilkan diri mereka sendiri. Hal inilah yang menjadi hambatan bagi BKSDA Jambi karena meeka belum menemukan bentuk pelibatan komunitas adat Orang Rimba yang tepat. Dampak dari kurang terlibatnya komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD adalah penataan kawasan TNDB yang telah dilakukan BKSDA Jambi tidak sesuai di lapangan. Penataan kawasan TNBD yang dilaksanakan oleh BKSDA Jambi ini merupakan langkah awal untuk melaksanakan pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD ke depannya. Namun dalam penataan kawasan TNBD saja sudah menimbulkan masalah bagi komunitas adat Orang Rimba sehingga pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD kedepannya belum dapat dilaksanakan. Agar semua pemangku kepentingan mau ikut terlibat dalam pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD kedepannya maka penataan kawasan TNBD harus didukung oleh semua pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, terutama komunitas adat Orang Rimba.
Namun saat ini, urusan kawasan TNBD tidak lagi dipegang oleh BKSDA Jambi tetapi pada tahun 2007, Departemen Kehutanan telah membentuk Balai TNBD sebagai perpanjangan tangan di daerah untuk mengurus kawasan TNBD. Oleh karena itu, saat ini Balai TNBD harus melakukan penataan kembali kawasan TNBD dengan melibatkan komunitas adat Orang Rimba. Balai TNBD tidak bisa melaksanakan penataan kawasan TNBD secara sepihak sebab di dalam kawasan TNBD sendiri terdapat komunitas adat Orang Rimba yang selama bertahun-tahun telah tinggal di dalamnya. Dari hasil wawancara diketahui bahwa komunitas adat Orang Rimba juga mempunyai wilayah adat sendiri dalam mengelola kawasan TNBD. Oleh sebab itu, jika Balai TNBD ingin melibatkan komunitas adat Orang Rimba dalam pengelolaan kolaboratif TNBD kedepannya maka penataan kembali kawasan TNBD seharusnya menyesuaikan dengan wilayah adat komunitas adat Orang Rimba.
5.1.3 Persepsi Pemangku Kepentingan Penataan Kawasan TNBD terhadap Bentuk Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD
Berdasarkan analisis terhadap persepsi pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, maka pemerintah pusat diharapkan berperan dalam
pelaksanaan penunjukkan dan penetapan kawasan TNBD. Sebelum melaksanakan penunjukkan kawasan TNBD, pemerintah pusat harus menampung aspirasi dan usulan dari daerah terlebih dahulu. Jadi, pemerintah pusat tidak bisa melaksanakan penunjukkan kawasan TNBD secara sepihak tanpa ada usulan dan aspirasi dari daerah. Pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD menjelaskan bahwa penunjukkan kawasan TNBD yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan sudah sesuai dengan yang mereka harapkan dimana penunjukkan kawasan TNBD merupakan aspirasi dari daerah. Setelah pemerintah melaksanakan penunjukkan kawasan TNBD, tahapan selanjutnya adalah melaksanakan penataan kawasan TNBD. Untuk melaksanakan penataan kawasan TNBD, pemerintah pusat mempunyai perpanjangan tangan di daerah yaitu Balai TNBD. Balai TNBD ini lah yang mempunyai kewenangan untuk mengurus kawasan TNBD termasuk dalam penataan kawasan TNBD, yang mencakup penataan batas dan penataan zona di dalam kawasan TNBD. Selain itu Balai TNBD juga berperan dalam pelaksanaan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba bersama dengan pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya. Peran pemerintah pusat berikutnya adalah melaksanakan penetapan kawasan TNBD setelah menerima hasil penataan kawasan TNBD dari daerah.
Dalam penataan kembali kawasan TNBD, pemerintah provinsi terlibat dalam penataan batas kawasan TNBD bersama pemangku kepentingan penataan kawaan lainnya. Pemerintah provinsi diharapkan berperan untuk mengkoordinasikan penataan batas kawasan TNBD lintas kabupaten. Sedangkan dalam pelaksanaan penataan zona di dalam kawasan TNBD, pemerintah provinsi tidak mempunyai kewenangan. Pemerintah provinsi cukup mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD yang telah dilaksanakan. Disamping itu, pemerintah provinsi diharapkan dapat memberikan dukungannya terhadap hasil penataan kawasan TNBD sebelum diserahkan kepada pemerintah pusat. Dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD, pemerintah provinsi juga dapat berperan dalam pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba bersama dengan pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya.
Berdasarkan persepsi pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD dijelaskan bahwa pemerintah kabupaten memiliki peran yang hampir sama dengan pemerintah provinsi yaitu berperan dalam penataan batas kawasan TNBD di masing-masing kabupaten. Pemerintah kabupaten juga tidak memiliki kewenangan untuk melaksanakan penataan zona di dalam kawasan TNBD. Pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD mengemukakan bahwa pemerintah kabupaten cukup mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD yang telah dilaksanakan. Namun terhadap hasil penataan kawaan TNBD, pemerintah kabupaten diharapkan dapat memberikan dukungan sebelum hasil penataan kawasan TNBD diserahkan kepada pemerintah provinsi. Peran pemerintah kabupaten dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba yaitu bersama pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya melaksanakan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba.
Selanjutnya pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD menjelaskan bahwa LSM juga dapat berperan dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba. Dalam hal ini, LSM dapat berperan sebagai mediator dan penghubung antara komunitas adat Orang Rimba dengan pemerintah. LSM sebagai pihak yang cukup dengan dengan komunitas adat Orang Rimba berperan mendampingi komunitas adat Orang Rimba selama berperan serta dalam penataan kembali kawasan TNBD. Namun peran LSM yang paling penting adalah melaksanakan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba bersama pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya. LSM yang selama bertahun-tahun menjalin interkasi dengan komunitas adat Orang Rimba tentunya lebih mengetahui kebutuhan dan keinginan komunitas adat Orang Rimba sehingga dapat disampaikan kepeda pemerintah.
Aktor utama yang perlu dilibatkan dalam bentuk peran serta ini adalah komunitas adat Orang Rimba. Komunitas adat Orang Rimba tidak lagi menjadi objek dalam penataan kawasan TNBD tetapi sekaligus menjadi subjek karena mereka selama bertahun-tahun tinggal di dalam kawasan TNBD. Peran komunitas adat Orang Rimba dalam bentuk peran serta ini adalah melaksanakan pemberdayaan dan pembelajaran bersama pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya sebelum terlibat dalam penataan kembali kawasan
TNBD. Melalui pemberdayaan dan pembelajaran ini diharapkan komunitas adat Orang Rimba dapat menggambarkan wilayah adat mereka ke dalam bentuk peta sederhana. Peran komunitas adat Orang Rimba selanjutnya adalah melaksanakan penataan batas dan penataan zona di dalam kawasan TNBD bersama pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD lainnya.
Dari penjelasan pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD diketahui bahwa masyarakat desa yang tinggal di sekitar kawasan TNBD juga perlu dilibatkan dalam penataan kembali kawasan TNBD. Peran masyarakat desa ini hanya terlibat dalam penataan batas kawasan TNBD karena mereka tidak mempunyai kewenangan dalam penataan zona di dalam kawasan TNBD. Pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD menjelaskan bahwa masyarakat desa cukup mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD agar akses mereka ke dalam kawasan TNBD dibatasi.
5.1.4 Preferensi terhadap Bentuk Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD
Berdasarkan preferensi pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, maka preferensi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang mengajukan alternatif bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD yang baru atau di luar dari dari alternatif yang telah disusun oleh penulis sebagai alterantif
kesembilan. Kelompok ini menganggap semua pemangku kepentingan
penataan kawasan TNBD perlu dilibatkan dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba, mulai dari pemerintah pusat, Balai TNBD, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, LSM, dan masyarakat desa. Alasan yang dikemukakan oleh kelompok ini adalah karena masing-masing pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD mempunyai peran yang berbeda dalam penataan kembali kawasan TNBD. Dengan telibatnya semua pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD maka semua kepentingan dapat diakomodir dalam penataan kembali kawasan TNBD. Selain itu pada alternatif kesembilan ini, semua pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD dapat memberikan dukungan mereka terhadap hasil penataan kemablia kawasan TNBD. Kedepannya diharapkan tidak
ada lagi pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD yang merasa tidak dilibatkan sehingga konflik dalam penataan kawasan TNBD tidak terjadi lagi.
2. Kelompok kedua merupakan kelompok yang juga mengajukan alternatif bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba yang baru atau diluar dari 8 (delapan) alternatif yang telah disusun oleh penulis sebagai alternatif
kesepuluh. Kelompok ini menganggap kewenangan penataan batas dan
penataan zona di dalam kawasan TNBD dipegang oleh pemerintah pusat. Jadi, kelompok ini mengemukakan bahwa pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten tidak perlu dilibatkan dalam penataan kembali kawasan TNBD. Jadi kelompok ini lebih memilih bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara LSM dan masyarakat desa kepada pemerintah pusat. Kelompok ini juga merasa perlu melibatkan masyarakat desa karena masyarakat desa sebagai pihak yang sering berinteraksi dengan kawasan TNBD selain komunitas adat Orang Rimba.
3. Kelompok yang menganggap bahwa alternatif kelima merupakan bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD yang paling ideal. Kelompok ini mengemukakan alasan bahwa dari 8 (delapan) alternatif yang dirumuskan, alternatif keenam tidak terlalu rumit jika dibandingkan alternatif lainnya. Mereka menjelaskan bahwa semakin banyak pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD yang dilibatkan maka akan banyak kepentingan di dalamnya dan bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba akan menjadi lebih rumit. Selain itu, mereka juga mengemukakan bahwa tidak perlu dilakukan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba mengingat anggaran yang dimiliki pemerintah sangat terbatas. Disamping itu, kelompok ini juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah, LSM, dan masyarakat desa tidak mempunyai kewenangan dalam penataan kawasan TNBD, mereka hanya sebatas mengetahui hasil penataan kawasan TNBD yang telah dilaksanakan.
4. Kelompok yang menganggap bahwa alternatif keenam merupakan bentuk peran serta komuntias adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD yang paling ideal. Kelompok ini mengemukakan alasan
bahwa pemerintah daerah dan masyarakat desa tidak mempunyai kewenangan untuk terlibat dalam penataan kembali kawasan TNBD. Jadi, kelompok ini menjelaskan bahwa bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba yang paling ideal adalah melalui perantara LSM kepada pemerintah pusat. LSM sebagai pihak yang cukup dekat dengan komunitas adat Orang Rimba perlu dilibatkan dalam bentuk peran serta sebagai pendamping komunitas adat Orang Rimba. LSM ini disini juga dapat berperan sebagai perantara antara komunitas adat Orang Rimba dengan Balai TNBD. Berbeda dengan kelompok ketiga, kelompok ini menjelaskan bahwa perlu dilakukan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba sebelum mereka terlibat dalam penataan kembali kawasan TNBD. Pemberdayaan dan pembelajaran ini bertujuan agar komunitas adat Orang Rimba dapat menggambarkan wilayah adat mereka ke dalam peta sederhana.
5.2 Kesimpulan
Berdasarkan tinjauan literatur dan berdasarkan temuan studi hasil di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian maka dihasilkan bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD sebagai alternatif kesembilan atau alternatif yang paling ideal, yaitu bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD melalui perantara kerjasama antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, LSM, dan masyarakat desa kepada pemerintah pusat. Dengan demikian seluruh kepentingan pemangku penataan kawasan TNBD dapat terakomodir. Oleh karena itu, agar penataan kembali kawasan TNBD dapat berjalan maka komunitas adat Orang Rimba harus benar-benar diberi kesempatan untuk ikut berperan serta di dalamnya.
2. Bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD berbeda dengan peran serta masyarakat dalam penataan ruang secara umum. Komunitas adat Orang Rimba sebagai salah satu komunitas adat yang dikatakan cukup terbelakang, baik dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, dll perlu dilaksanakan pemberdayaan terhadap mereka terlebih dahulu sebelum berperan serta dalam penataan
kembali kawasan TNBD. Selain itu, bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD juga berbeda dengan peran serta masyarakat adat dalam kawasan lindung lainnya di Indonesia karena perberdaan adat istiadat yang mereka anut. Oleh sebab itu bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba tidak tepat jika digunakan untuk masyarakat adat lainnya dalam penataan kawasan lindung di Indonesia.
3. Berdasarkan hal tersebut di atas, sebagai rincian tahapannya maka pembagian peran pemerintah pusat, Balai TNBD, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, LSM, dan masyarakat desa dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD adalah sebagai berikut:
Tabel V.1
Pembagian Peran Pemerintah Pusat, Balai TNBD, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, LSM, dan Masyarakat Desa dalam Bentuk Peran
Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD Rincian Bentuk Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD Pemerintah Pusat dan Balai TNBD Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten LSM Komunitas Adat Orang Rimba Masyarakat Desa Penunjukkan Kawasan TNBD Melaksanakan penunjukkan kawasan TNBD setelah menerima aspirasi dan usulan dari daerah
Memberikan aspirasi dan usulan penunjukkan kawasan TNBD kepada pemerintah pusat
Pemberdayaan dan Pembelajaran
Melaksanakan pemberdayaan dan pembelajaran terhadap komunitas adat Orang Rimba sebelum mereka terlibat dalam penataan kembali kawasan TNBD
Rincian Bentuk Peran Serta Komunitas Adat Orang Rimba dalam Penataan Kembali Kawasan TNBD Pemerintah Pusat dan Balai TNBD Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten LSM Komunitas Adat Orang Rimba Masyarakat Desa terhadap Komunitas Adat Orang Rimba Penataan Kawasan TNBD (Penataan Batas dan Petanaan Zona di dalam Kawasan TNBD) Melaksanakan penataan zona di dalam kawasan TNBD Mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD Mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD Mendampingi komunitas adat Orang Rimba dalam penataan zona di dalam kawasan TNBD Melaksanakan penataan zona di dalam kawasan TNBD Mengetahui hasil penataan zona di dalam kawasan TNBD Melaksanakan penataan batas Kawasan TNBD Melaksanakan penataan batas Kawasan TNBD Melaksanakan penataan batas Kawasan TNBD Mendampingi komunitas adat Orang Rimba dalam penataan batas kawasan TNBD Melaksanakan penataan batas Kawasan TNBD Melaksanakan penataan batas Kawasan TNBD Penetapan Kawasan TNBD Melaksanakan penetapan kawasan TNBD setelah menerima hasil penataan kawasan TNBD dari daerah.
Memberikan dukungan terhadap hasil penataan kawasan TNBD yang telah disepakati bersama.
Sumber: Hasil Analisis 2007
4. Berdasarkan penjelasan pada poin sebelumnya, agar bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD
dapat berjalan dengan baik sehingga terwujudnya pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD kedepannya, maka bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD adalah dengan melibatkan semua pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, mulai dari pemerintah pusat, Balai TNBD, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, LSM, dan masyarakat desa. Jika semua pemangku kepentingan mendukung hasil penataan kembali kawasan TNBD maka kedepannya pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD dapat dilaksanakan kedepannya.
5.3 Rekomendasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian, rekomendasi yang dapat dikemukakan penulis adalah sebagai berikut:
1. Penataan kawasan TNBD yang dilakukan oleh BKSDA Jambi ternyata menimbulkan masalah di lapangan. Hal ini terjadi karena BKSDA Jambi kurang melibatkan komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kawasan TNBD. Diharapkan setelah ditemukannya bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba yang ideal maka penataan kembali kawasan TNBD dapat berjalan sesuai dengan keinginan pemangku kepentingan kawasan TNBD sehingga kedepannya pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD dapat dilaksanakan.
2. Berdasarkan hasil wawancara dengan pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD dijelaskan bahwa peran pemerintah pusat lebih tepat dalam melaksanakan penunjukkan dan penetapan kawasan TNBD setelah menerima aspirasi dan usulan dari daerah. Pemerintah pusat mempunyai Balai TNBD sebagai perpanjangan tangan di daerah yang bertugas untuk mengurus kawasan TNBD.
3. Komunitas adat Orang Rimba sebagai masyarakat adat yang selama bertahun-tahun telah menempati kawasan TNBD mempunyai pengaturan wilayah adat sendiri dalam pengelolaan kawasan TNBD. Tujuan komunitas adar Orang Rimba mengelola kawasan TNBD sama dengan pemerintah yaitu untuk mengkonservasi kawasan TNBD agar tetap lestari. Diharapkan pengaturan wilayah adat versi komunitas adat Orang Rimba dapat diakomodir dalam penataan kembali kawasan TNBD.
4. Kecurigaan antara LSM dan pemerintah yang terjadi selama ini di sebabkan oleh kurangnya komunikasi antara kedua belah pihak. LSM mencurigai pemerintah yang mempunyai maksud akan mengeluarkan komunitas adat Orang Rimba dari dalam kawasan TNBD sedangkan pemerintah mencurigai LSM yang memprovokasi komunitas adat Orang Rimba untuk menentang pemerintah. Diharapkan dalam penataan kembali kawasan TNBD ini, pemerintah dan LSM dapat duduk bersama dan saling terbuka. Sebenarnya LSM dan pemerintah mempunyai tujuan yang sama yaitu mengkonservasi kawasan TNBD dengan tetap memperhatikan kehidupan dan penghidupan komunitas adat Orang Rimba.
5. Agar penataan kembali kawasan TNBD berjalan sesuai dengan pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, maka perlu dilibatkan semua pemangku kepentingan penataan kawasan TNBD, mulai dari pemerintah pusat, Balai TNBD, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, LSM, komunitas adat Orang Rimba, dan masyarakat desa sekitar kawasan TNBD.
5.4 Kelemahan Studi
Kelemahan yang terdapat pada studi ini diantaranya adalah :
1. Dalam pengambilan data primer di lapangan, peneliti mengalami kendala yaitu kebudayaan komunitas adat Orang Rimba yang sangat tertutup dengan orang luar. Dalam pengambilan data primer di lapangan peneliti dibantu oleh seorang wakil dari LSM KKI Warsi sebagai penerjemah bahasa komunitas adat Orang Rimba.
2. Selain itu, yang menjadi obyek kajian dalam studi ini adalah penataan kembali kawasan TNBD dan tidak berfokus pada pengelolaan kawasan TNBD, sehingga rekomendasi dari studi ini hanya dapat digunakan sebagai masukan dalam bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam penataan kembali kawasan TNBD dan bukan pada bentuk peran komunitas adat Orang Rimba dalam pengelolaan kawasan TNBD kedepannya.
5.5 Saran Studi Lanjutan
Berkaitan dengan kelemahan studi dan rekomendasi hasil studi, studi lanjutan yang dapat dilakukan diantaranya adalah :
1. Studi mengenai alternatif bentuk peran serta masyarakat lokal dalam penataan kawasan taman nasional lain di Indonesia.
2. Studi mengenai alternatif pengelolaan kolaboratif kawasan TNBD kedepannya.
3. Studi alternatif bentuk peran serta komunitas adat Orang Rimba dalam pengelolaan kawasan TNBD kedepannya.