1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reumatoid Arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun sistemik yang menyebabkan inflamasi jaringan ikat, terutama di sendi. Rangkaian dan keparahan beragam, dan rentang manifestasi luas. Manifestasi RA mungkin minimal dengan inflamasi ringan hanya beberapa sendi dan sedikit kerusakan struktural, atau sedikit progresi, dengan sendi multifel yang mengalami inflamasi dan deformitas nyata. Sebagian besar pasien menunjukan pola keterlibatan simetrik sendi perifer multipel dan periode remisi dan eksaserbasi (Priscella , 2016). AR merupakan gangguan autoimun sistemik kronik dengan tanda inflamasi erosife, kronis dan simetris pada jaringan sendi sinovial sendi. Tingkat keparahan penyakit sendi dapat berfluktuasi sepanjang waktu, namun pertambahan derajat kerusakan sendi, deformitas dan kecacatan merupakan hasil akhir umum dari penyakit yang menetap ( Black, 2014 )
Angka kejadian Reumatoid Artritis pada tahun 2016 yang di laporkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO adalah mencapai 20% dari penduduk dunia, dimana 5-10% adalah mereka yang berusia 5-20 tahun dan 20% adalah mereka yang berusia 55 tahun, sedangkan hasil riset kesehatan dasar (Rikesda) Indonesia tahun 2013 prevalensi penyakit Reumatoid Artritis adalah 24,7%.Prevalensi yang di diagnosa nakes lebih tinggi perempuan 13,4% di bandingkan dengan laki laki1 0.3%. Angka ini menunjukan bahwa nyeri akibat rematik sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat
Indoneseia (Maris F.Yuliana S, 2016) .
repository.unimus.ac.id/745/2/BAB%20I.pdf
Berdasarkan prevalensi Riskesdas 2007, penyakit sendi di Indonesia sebanyak 30,3% dan jumlah penderita rematik pada tahun 2011 diperkirakan prevalensinya mencapai 29,35%, dan tahun 2012 prevalensinya sebanyak 51,94%, dan pada tahun 2013 prevalensinya sebanyak 50,93%`. Pada tahun 2014 prevalensinya 52,67 dan pada tahun 2015 prevalensi 47,17 % (Depkes,
2
2012). Dari data di atas dapat di simpulkan bahwa prevalensi remathoid arthritis dari tahu ketahun terjadi peningkatan.
Penyebab dari Reamathiod Arthirits (RA) belum dapat di tentukan secara pasti, tetapi beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA di pengaruhi oleh faktor yang bisa meningkatkan resiko terkena Arthritia Remathoid. . Beberapa faktor yang meyebabkan penyakit remathoid arthritis yaitu faktor usia, kebanyakan penderita remathoid arthritis berusia 40 tahun keatas, faktor Lingkungan, walaupun belum sepenuhnya terbukti, faktor lingkungan dapat menyebabkan seseorang terserang Reamthoid Arthritis karena berkaitan dengan kekuatan daya tahan tubuh, faktor genetik, walaupun kecil mempunyai keluarga yang menderita remathoid arthritis meningkatkan resiko seseorang untuk terkena ini juga, faktor Jenis kelamin, pria lebih jarang terkena penyakit RA dibandingkan dengan wanita, faktor Obesitas, seseorang dengan berat badan lebih memiliki resiko tinggi terserang rematoid arthritis, khusunya wanita berusia di bawah 55 tahun.
Tanda dan gejala Remathoid Arthritis, pasien pasien RA akan menunjukan tanda nyeri pada persendian, bengkak, kekakuan pada sendi terutama sendi pada bangun tidur dan terbatas gerakannya. Secara lebih rinci pada tahap permulaan akan timbul nyeri pada sendi sendi, akan panas dan membengkak demam (pireksia), anemia, berat badan menurun, kekuatan berkurang. Sedangkan pada tahap lanjut akan ditemukan adanya kekakauan terutama di pagi hari, gerakan menjadi terbatas, rasa nyeri dan nyeri tekan, deformitas bertambah, bengkak, kelemahan, dan depresi (Risnanto, 2014).
Akibat penyakit remathoid artritis tidak cepat di tangani maka akan berdampak pembatasan aktifitas sehari hari dan penyakit ini bisa menyerang bagian tubuh yang lainnya bahkan bisa menyebabkan persendian bergeser atau berubah bentuk dan bisa mengakibatkan terjadinya resiko injury.
Setiap manusia membutuhan rasa aman dan nyaman hal itu tidak bisa di pungkiri terlebih dalam kondisi saat sedang sakit, perlu kita ketahui ketika manusia dalam kondisi sehat dan tidak sakit mereka akan melakukan aktifitas dan tugasnya sebagai manusa yang sempurna. Kebutuhan dasar manusia
3
menurut beberapa ahli mengatakan menurut Waston, dia mengungkapkan bahwasanya aktifitas keperawatan memiliki hubungan aspek humanitis, yaitu kebutuhan pemahaman atas dirinya sendiri, kebutuhan pengakuan dan perhatian dari pihak lain, kebutuhan mendapatkan pelayanan yang baik daripihak lain, kebutuhan akan pemecahan masalah, kebutuhan kesehatan yang normal, dan menurut King kebutuhan dasar manusia di bagi menjadi 3 (tiga) yaitu kebutuhan akan informasi, kebutuhan akan cara pencegahan, dan kebutuhan akan cara perawatan atau penyembuhan ketika sakit. Untuk mencapai kesehatan yang optimal pada masyarakat dan memberikan rasa aman dan nyaman.
Maka dengan itu pemerintah melakukan upaya pada penderita Reumatoid Artritis untuk membangkitkan semangat hidup lansia agar mereka tetep di hargaidan dan tetap berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat, upaya promitif yang di lakukan pada pasien Reumatoid Artritis dapat berupa penyuluhan masyarakat lanjut usia. Upaya perventif yang di lakukan pada pasien Reumatoid Artritis yaitu, upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit maupun komplikasi penyakit yang di sebabkan oleh proses ketuaan contohnya menjaga berat badan ideal, banyak mengkonsumsi sayuran misalnya jus seledri, wortel dan beberapa jenis herbal yaitu kunyit, daun lidah buaya serta minyak juniper,, melakukan olah raga ringan secara rutin, serta kompres es untuk menurunkan ambang nyeri. Upaya kuratif yang di lakukan pada pasien Reumatoid Artritis yaitu, upaya pengobatan pada usia lanjut dapat berupa kegiatan pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan spesifik melalui sidtem rujukan. Upaya rehabilitatif yang di lakukan pada pasien rematoid artrtitis yaitu upaya mengembalikan fungsi organ yang telah menurun berupa kegiatan memebrikan informasi, pengetahuan dan pelayanan tentang penggunaan alat pendengaran, perawatan fisioterapi.
Adapun peran perawat memiliki untuk memandirikan keluarga dalam merawat anggota keluarganya yang menderita Reumatoid Artritis sehingga keluargnya mampu merawat anggota keluarganya yang sakit adapun fungsi perawat sebagai Pemberi asuhan keperawatanpada penderita Reumatoid
4
Artritis dimana fungsi perawat memperhatikan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakanproses keperawatan dari yang sederhana sampai dengan kompleks, sebagaipendidik (Educator)pada penderita Reumatoid Artritis untuk memberikan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan remathoid arthritismulai dari pengetahuan sampai dengan cara perawatan. Sebagai fasililatorpada penderita rematoid artrtis dimana perawat merupakan tempat untuk bertanya atau tempat memecahkan masalah kesehatan serta dapat memberikan solusi yang di hadapi oleh klien, begitu juga perawat sebagai peran pengamat kesehatan pada penderita Reumatoid Artritis untuk melaksanakan monitoring terhadap perubahan yang terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan, observasi dan pengumpulan data, sebagai Konselorpada penderita Reumatoid Artritis yaitu perawat berfungsi untuk menyadarkan dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkakan perkembangan seseorang, sebagai koordinator pada penderita Reumatoid Artritisperan ini dilakukan untuk mengarahkan, merencanakan, serta mengorganisasikan pelayanan kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan kebutuhan si pasien, sebagai Kolaborasipada penderita Reumatoid Artritisperawat bekerja sebagai tim yang terdiri dari dokter, fisioterapi, ahli gizi, dan lain lain.
Untuk itu penulis mengambil judul karya tulis ilmiah Reumathoid Arthritis untuk mempelajari lebih jauh tentang “ Asuhan keperawatan pada keluarga Tn. S khusunya Ny, C dengan gangguan sistem muskuloskeletal “Rematik” : Reumatoid Artritis di Kelurahan Suka Mulya VI RT 07 /RW 01 Kecamatan Kemayoran, Jakarata Pusat.
5 B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan ilmiah ini adalah sebagaiberikut : 1. Tujuan umum
Mamapu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga Tn. S khususnya Ny. C dengan gangguan sistem muskuloskeletal “ reumatik “ : Reumatoid Artrtitis di Kelurahan Suka Mulya VI RT 07 RW 01 Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.
2. Tujuan Khusus
Melalui pendekatan proses keperawatan keluarga, di harapkan penulis mampu:
a. Mampu melakukan pengkajian pada keluarga dengan gangguan sistem muskuloskeletal “ reumatik “ ; Reumathoid arthritis .
b. Mampu menganalisa data untuk merumuskan masalah keluarga dengan gangguan sistem muskuloskeletal : “reumatik “: Reumatoid Artritis c. Mampu menyusun diagnosa pada keluarga dengan gangguan sistem
muskuloskeletal : “reumatik “ : Reumatoid Artritis .
d. Mamapu memproritaskan masalah keperawatan dengan cara skoring e. Mampu merencanakan tindakan keperawatan keluarga dengan
gangguan sistem muskuloskeletal : “reumatik “ : Reumatoid Artritis. f. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan keluarga dengan
gangguan sistem muskuloskeletal : “reumatik “ : Reumatoid Artritis. g. Mampu melakukan evaluasi pada keluarga dengan gangguan sistem
muskuloskeletal : “reumatik “ : Reumatoid Artritis.
h. Mampu mengidentifikasi faktor-faktor pendukung, penghambat, serta dapat mencari solusinya.
i. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi.
j. Mampu memberikan sumbang saran untuk meningkatkan asuhan keperawatan keluarga.
C. Metode Penulisan
Metode penulisan yang di gunakan adalah metode deskrptif, yaitu suatu metode yang dilakukan dengan cara mengamati, meganalisa dan menarik kesimpulandari pengalaman dan situasi yang berlangsung.
6
Adapun tekhnik yang di gunakan dalam penulisan karya tulis ailmiah adalah:
1. Studi kepustakaan
Studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari teori-teori, buku-buku / literatur yang berkaitan dengan gangguan sistem muskuloskeletal ” Rematik”: Reumatoid Artritis.
2. Setudi kasus
a. Observasi langsung
Mengadakan observasi secara langsung pada keluarga untuk mengetahui fisik anggota keluarga dan mengobservasi keadaan rumah serta lingkungannya.
b. Wawancara
Wawancara dilakukan kepada pasien, seluruh anggotta keluarga, tim kesehatan (petugas kesehatan) untuk mendapatkan informasi yang terkait dengan status kesehatan.
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh keadaan umum dan sehat pasien pada keadaan saat ini.
D. Ruang Lingkup
Mengingat banyaknya masalah yang ada di keluarga, maka dalam karya tulis ilmiah ini penulis hanya membatasi masalah Asuhan keperawatan pada keluatga Tn. S khusnya Ny. C dengan gangguan sistem muskuloskeletal “ reumatik “ Reumatoid Artritis di Kelurahan Suka Mulya VI RT 07/RW 01 Kecamatan Kemayoran Jakarta Puat.
7 E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan yang di gunakan dalam karya tulis ilmiahini adalah sebagai berikut
BAB I : Pendahuluan, terdiri dalam latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, Ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan teori, terdiri dari konsep medis, yang berhubungan dengan Reumatik, konsep dasar asuhan keperawatan keluarga dengan masalah reumatik Pada Tn. S khusunya Ny. C
BAB III : Tinjauan kasus merupakan hasil dari observasi secara langsung tentang asuhan Keperawatan keluarga yang telah di berikan melalui pendekatan proses Keperawatan.
BAB IV : Pembahasan, membahas tentang kesenjangan yang terjadi antara landasan teori dengan hasil observasi pada penerapan asuhan keperawatan yang dilakukan.