• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1. Pendahuluan.

Penelitian peningkatan kinerja daya saing tenaga kerja akan terdiri dari faktor efektifitas, efisiensi, kualitas hasil kerja, ketepatan waktu, produktifitas dan keselamatan kerja. Analisis penelitian dari faktor efisiensi kerja ini akan terdiri dari perencanaan alokasi tenaga kerjanya dan kinerja komponen biaya. Dalam analisis faktor dan variabel kinerja daya saing tenaga kerja yang terkait dengan ketepatan waktu serta produktifitas pada pekerjaan jalan akan dilakukan perhitungan waktu (input) dan pengukuran kuantitas (output). Selanjutnya dilakukan identifikasi faktor dan variabel yang berpengaruh, analisis penyebab daya saing rendah dan analisis peningkatan kinerja daya saing dengan tindakan korektif dan preventif atas waktu kerja yang non-produktif.

Analisis peningkatan kinerja daya saing tenaga kerja konstruksi dari faktor efektifitas dan kualitas hasil kerja dan keselamatan kerja ini terkait kepada kompetensi kerja dari tenaga kerja untuk tingkat manajerial dan tenaga pelaksana. Analisisnya akan terdiri dari identifikasi faktor dan variabel kinerja daya saing yang terkait dengan pencapaian kompetensi kerja, analisis faktor dan variabel yang berpengaruh pada kinerja daya saing, analisis penyebab kinerja daya saing rendah, analisis peningkatan kinerja daya saing dan analisis permodelan, simulasi dalam kebijakan peningkatan kinerja daya saing.

4.2. Analisis peningkatan kinerja daya saing tenaga kerja dari faktor efisiensi kerja.

Analisis penelitian peningkatan kinerja daya saing tenaga kerja dari faktor efisiensi kerja ini akan terdiri dari perencanaan alokasi tenaga kerja dan kinerja komponen biaya tenaga kerja pada pekerjaan jalan.

4.2.1. Perencanaan alokasi tenaga kerja pada proyek jalan.

Perencanaan alokasi tenaga kerja digunakan untuk memperkirakan jumlah tenaga kerja yang diperlukan dalam suatu proyek. Dalam penelitian tentang alokasi tenaga kerja ini digunakan struktur organisasi proyek sebagai alat dalam perencanaan. Berdasarkan model struktur organisasi dapat direncanakan

(2)

banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan oleh suatu proyek jalan pada masing-masing jabatan.119 Perencanaan ini dimaksudkan agar memperoleh tingkat jumlah tenaga kerja yang efisien. Penelitian mengenai Struktur Organisasi Proyek Jalan adalah Struktur Organisasi Proyek Jalan secara Umum, Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 10 M – Rp. 50 M, nilai Rp. 50 – Rp.100 M dan diatas Rp. 100 M. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan untuk Struktur Organisasi Proyek Jalan secara Umum tersebut ditunjukkan pada Gambar 4.1

Gambar 4.1. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan secara umum

Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 10 M – Rp. 50 M ditunjukkan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 10 M – Rp. 50 M

119 Apriyani Talaohu, Perencanaan Alokasi Tenaga Kerja Pada Proyek Jalan Di Perusahaan

Project Manager Site Manager Pelaksana Heavy Equipment Manager Mekanik Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance Admin Manager Akuntan Admin Purcashing Logistik OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION

Drafter QS

OPERATIONAL ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION

Project Manager

Quality

Assurance Assurance Safety

Heavy Equipment Mekanik Site Manager Pelaksana Admin Manager Akuntan Admin Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quantity Surveryor Drafter Purcashing Logistik

(3)

Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 50 M – Rp. 100 M dapat ditunjukkan pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 50 M – Rp. 100 M Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai diatas Rp. 100 M dapat ditunjukkan pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai diatas Rp. 100 M Hasil Struktur Organisasi Proyek Jalan tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk merencanakan alokasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering dengan cara menetapkan Model Struktur Organisasi Proyek Jalan. Untuk alokasi jumlah dan kualifikasi tenaga kerja dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Heavy Equipment Manager Mekanik Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance

OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION

Site Manager Pelaksana Project Manager Deputy PM Admin Manager Akuntan Admin Purcashing Logistik Adkon Quantity Surveyor

OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING ADMINISTRATION

Project Manager Heavy Equipment Manager Mekanik Site Manager Pelaksana Plant

Manager Manager Admin

Akuntan Admin Umum Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance Purcashing Logistik

(4)

Tabel 4.1. Hasil analisis jumlah dan kualifikasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering Proje ct Man ager D eput y PM Pl an t Man ager

Site Manager Pelaksana Supe

rv

isor

Heavy quipment Mekanik En

gi n eeri n g Man ager Cost E n gi n eer Sur ve ying Planni ng Qualit y Assur anc e S afety Assu ran ce QS Drafe tr L ab oratory Gudang Ad mi n istrati on Man ager A kunt an &

Keuangan Purcashing Logistik Administrasi Adminisrasi Kont

ra k Cost Con trol Umu m JUMLAH 1 1 1 1 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Min Max 1 1 1 1 1 1 1 4 1 12 2 3 1 1 1 6 1 2 1 2 1 12 1 4 1 3 1 12 1 2 1 4 1 1 1 2 1 2 1 2 1 3 1 5 1 4 1 1 1 1 1 1 STATUS 1. Tetap 2. Tdk Tetap 3. Kontrak proyek 1 1 1 1 2 1 1 2 1 1 3 2 2 2 2 2 3 2 1 1 2 2 2 1 2 1 PENDIDIKAN S1 S1 D3 S1 D3 D3 D3 D3 S1 S1 D3 S1 D3 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 D3 D3 D3 S1 S1 D3 Min Max S1 S2 S1 S1 D3 3 D D3 S1 D3 S1 D3 S1 3 D S1 D3 D3 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 S1 D3 D3 S1 S1 D3 D3 D3 S1 D3 1 S D3 S1 D3 S1 D3 3 D D3 S1 D3 S1 D3 D3 KOMPETENSI 1. Bersertifikat 2. Tidak bersertifikat 1 1 1 1 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 1 1 2 2 2 1 2 1 PENGALAMAN 1. 2 – 5 thn 2. 5 – 10 thn 3. > 10 thn 2 2 1 2 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 1 1 1 2 2 1 2 2 2 1 2 2

(5)

Perencanaan alokasi tenaga kerja ini dapat dilakukan bila telah ditetapkan Model Struktur Organisasi Proyek Jalan. Perencanaan alokasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering pada proyek jalan dengan berdasarkan nilai proyek untuk nilai proyek jalan antara Rp. 10 M – Rp. 50 M, alokasi jumlah dan kualifikasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering ditunjukkan pada Gambar 4.5. dan Tabel 4.2. yang selengkapnya dapat dilihat pada BUKU LAMPIRAN -

ANALISIS IV – 1. Daftar perusahaan yang menjadi responden tercantum pada LAMPIRAN IV – 1.

Gambar 4.5. Struktur dan jumlah tenaga kerja pada proyek antara Rp. 10 M – Rp. 50 M Tabel 4.2. Kualifikasi tenaga kerja pada proyek antara Rp. 10 M – Rp. 50 M

Project Manager Site Manager Pelaksana Heavy Equiment Mekanik Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance Qua

n

ti

ty

Surveyor Drafter Administration Manager Akuntan & keuangan Purcashing Logisit

k Administrasi Pendidikan S1 S1 D3 D3 D3 S1 S1 D3 S1 D3 D3 S1 D3 S1 D3 D3 D3 D3 Kompetensi 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 Pengalaman 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 2-5 5-10 2-5 5-10 2-5 2-5 2-5 5-10 2-5 5-10 5-10 5-10 Project Manager Quality

Assurance Assurance Safety

OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION DIVISION

Heavy Equipment Mekanik Site Manager Pelaksana Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quantity Surveryor Drafter Admin Manager Akuntan Admin Purcashing Logistik 1 org Tetap

1 org Tetap 1 org tetap Tdk

Tdk tetap 2 org 2 org Kontrak proyek

1 org tetap Tdk

Tetap 1 org

1 org Tetap 1 org tetap Tdk

Tdk tetap

1 org 1 org tetap Tdk Tdk tetap Tdk tetap 2 org 2 org Tetap Tetap 1 org 1 org 1 org 1 org 1 org Tdktetap Tdk tetap Tetap Keterangan :

(6)

Untuk nilai proyek antara Rp. 50 M – Rp. 100 M, alokasi jumlah dan kualifikasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering ditunjukkan pada Gambar 4.6. dan Tabel 4.3.

Gambar 6.5. Alokasi Tenaga Kerja pada proyek jalan dengan nilai proyek Rp.50M – Rp. 100 M

Gambar 4.6. Struktur dan jumlah tenaga kerja pada proyek antara Rp. 50 M – Rp. 100 M

Tabel 4.3. Kualifikasi tenaga kerja pada proyek antara Rp. 50 M – Rp. 100 M

Project Manager Plant

Manager

Site Manager Pelaksana Heavy Equiment Mekanik Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance Administration Manager Akuntan & keuangan Purcashing Logisit

k Administrasi Umum Pendidikan S1 D3 S1 D3 D3 D3 S1 S1 D3 S1 D3 D3 S1 D3 D3 D3 D3 D3 Kompetensi 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1 Pengalaman 5-10 2-5 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 2-5 5-10 2-5 5-10 2-5 5-10 2-5 5-10 5-10 5-10 5-10

OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION DIVISION

Planning Admin Manager Akuntan Engineering Manager 1 org Tetap Cost Engineer 1 org Tetap Surveying 2 org Kontrak proyek

1 org tetap Tdk Tetap 1 org 1 org Tetap Purcashing 1 org tetap Tdk Admin Tdk tetap 1 org Logistik 1 org tetap Tdk Heavy Equipment Mekanik Tdk tetap 2 org Tetap 1 org Site Manager Pelaksana Tdk tetap 2 org Tetap 1 org Safety Assurance 1 org Tdktetap Quality Assurance 1 org Tdk tetap Project Manager 1 org Tetap Plant Manager 1 org Tetap Umum tetap 1 org Keterangan :

(7)

Untuk nilai proyek diatas Rp. 100 M, alokasi jumlah dan kualifikasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering ditunjukkan pada Gambar 4.7. dan Tabel 4.4.

Gambar 4.7. Struktur dan jumlah tenaga kerja pada proyek diatas Rp. 100 M Tabel 4.4. Kualifikasi tenaga kerja pada proyek diatas Rp. 100 M

Project Manager Deputy PM Site Manager Pelaksana Heavy Equiment Mekanik Engineering Manager Cost Engineer Surveying Planning Quality Assurance Safety Assurance Qua

n

ti

ty

Surveyor Administration Manager Akuntan & keuangan Purcashing Logisit

k

Administrasi Adkon

Pendidikan S1 S1 S1 D3 D3 D3 S1 S1 D3 S1 D3 D3 S1 S1 D3 D3 D3 D3 S1

Kompetensi 1 1 1 2 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 1

Pengalaman 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 5-10 2-5 5-10 2-5 5-10 2-5 2-5 5-10 2-5 5-10 5-10 5-10 2-5

Analisis penelitian tentang alokasi tenaga kerja ini secara lengkap dapat dilihat pada BUKU LAMPIRAN - ANALISIS IV – 1.

OPERATIONAL DIVISION ENGINEERING DIVISION ADMINISTRATION DIVISION

Planning Admin Manager Akuntan Engineering Manager 1 org Tetap Cost Engineer 1 org Tetap Surveying

2 org Kontrak proyek

1 org Tdk tetap Tetap 1 org 1 org Tetap Purcashing 1 org Tdk tetap Admin Tdk tetap 1 org Logistik 1 org tetap Tdk Heavy Equipment Mekanik Tdk tetap 2 org Tetap 1 org Site Manager Pelaksana Tdk tetap 2 org Tetap 1 org Safety Assurance 1 org Tdktetap Quality Assurance 1 org Tdk tetap Project Manager 1 org Tetap Quantity Surveyor tidak tetap 1 org Deputy PM 1 org Tetap Adkon 1 org tetap Keterangan :

(8)

4.2.2. Efisiensi biaya tenaga kerja pada proyek jalan. 4.2.2.1. Komponen biaya proyek jalan.

Pada pelaksanaan proyek konstruksi jalan terdapat komponen sumber daya yang mempengaruhi yaitu material, tenaga kerja, peralatan, keuangan dan manajemen. Dalam melakukan estimasi biaya biaya suatu proyek, kontraktor harus mempunyai data yang dapat dijadikan dasar acuan penghitungan. Dari data dan analisis biaya tersebut, maka kontraktor dapat melakukan estimasi berbagai jenis biaya proyek. Keakuratan estimasi tersebut sangat menentukan dalam mengurangi resiko penyimpangan biaya pelaksanaan proyek dan juga untuk mendapatkan biaya pelaksanaan yang efisien. Dalam mengoptimalkan biaya tenaga kerja, faktor-faktor penting yang harus diketahui adalah besarnya rencana anggaran biaya dan besarnya realisasi biaya pelaksanaan proyek. Kedua data tersebut kemudian dianalisis sehingga dapat diketahui besarnya kinerja biaya yang terjadi dalam setiap proyek. Kinerja biaya tersebut yang menjadi pedoman dalam mengoptimalkan biaya tenaga kerja. Dengan mengoptimalkan komponen biaya tenaga kerja, maka akan didapatkan biaya tenaga kerja yang efisien.

Tujuan utama kontraktor adalah menyelesaikan proyek sesuai dengan waktu, biaya dan mutu yang telah ditentukan. Biaya proyek dibagi atas dua jenis yaitu biaya langsung dan biaya tidak langsung.120 Pada biaya langsung terdiri atas biaya material, biaya alat, biaya tenaga kerja, dan biaya subkontraktor. Sedangkan biaya tidak langsung terbagi atas biaya alokasi umum, biaya penyusutan, biaya bunga, pajak, ketidak-pastian atau contingency, biaya overhead kantor pusat dan laba. Pada proyek konstruksi jalan, komponen tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja kontrak, tenaga kerja tetap, tenaga kerja upah per jam, dan tenaga kerja upah borongan.121

4.2.2.2. Penelitian model perhitungan biaya tenaga kerja.

Penelitian tentang model perhitungan biaya tenaga kerja yang efisien pada proyek jalan dilakukan dengan cara mengoptimalkan komponen biaya tenaga kerja dengan kerangka proses di atas. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data rencana anggaran biaya langsung dan realisasi biaya langsung proyek

120 Asiyanto. Construction Project Cost Management. Jakarta: PT Pradnya Paramita, 2003. 121 Soeharto, I. Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional. Jakarta : Erlangga.

(9)

meliputi biaya material, biaya tenaga kerja, biaya alat, biaya sub kontraktor dan biaya overhead lapangan. Metode pemodelan biaya dianggap merupakan metode yang layak atas dasar suatu asumsi.122 Metode penelitiannya dilakukan dengan menggunakan data rencana anggaran biaya proyek dan realisasi dari biaya proyek. Kedua input angka biaya tesebut digunakan untuk mendapatkan pemodelan kinerja biaya, kemudian optimalisasi dilakukan terhadap pemodelan kinerja biaya ini. Penelitian ini dibagi ke dalam dua tahap penelitian, masing-masing tahap memiliki dua permodelan yang selanjutnya akan gabungkan untuk memperoleh hasil akhir. Tahap pertama yaitu model tentang kontribusi komponen-komponen biaya langsung proyek terhadap biaya langsung proyek, dan tahap kedua model tentang bobot realisasi komponen biaya yang mempengaruhi kinerja komponen biaya proyek. Pemodelan yang pertama mengenai kontribusi komponen-komponen biaya langsung proyek terhadap biaya langsung proyek, ditunjukkan pada Gambar 4.8.

Gambar 4.8. Grafik pemodelan komponen biaya terhadap biaya langsung Untuk input data digunakan persamaan :

(Rencana Biaya – Realisasi Biaya)

Y = x 100 % ... (1) Rencana Biaya

(Rencana biaya Xn – Realisasi Biaya Xn)

Xn = x 100 % ...(2)

Rencana Biaya Xn

122 Ashworth. Cost Studies Of Buildings. Longman Group UK Limited, 1988. Keterangan:

Y : Kinerja Biaya Langsung

X : Kinerja Komponen Biaya Langsung (Material, Alat, Tenaga Kerja, Sub Kontraktor, Overhead Lapangan)

i : Variabel Bebas j : Sampel Proyek

k : Jenis Variabel k yang mempunyai keterkaitan terhadap Variabel i l : Sampel Proyek l yang mempunyai keterkaitan terhadap Sampel j

Biaya Komponen Biaya Y = f ( XIjkl ) Kinerja Biaya Langsung

(10)

Selanjutnya pemodelan bagian kedua adalah mengenai bobot realisasi komponen biaya yang mempengaruhi kinerja komponen biaya proyek. Berikut dapat diidentifikasikan komponen biaya yang memberikan kontribusi penyimpangan negatif dan positif seperti ditujukkan pada Gambar 4.9.

Gambar 4.9. Grafik pemodelan bobot komponen biaya terhadap kinerja komponen biaya langsung.

Untuk input digunakan persamaan :

(Rencana Biaya Xn – Realisasi Biaya Xn)

Ym = Xn= x 100 % ... (3)

Rencana Biaya Xn

(Realisasi Biaya Xn)

Xm = x 100 % ... (4)

Rencana Biaya Total

Penelitian bagian pertama dilakukan dengan tujuan mengkaji kontribusi masing-masing komponen biaya pelaksanaan proyek agar didapat pemodelan biaya pelaksanaan proyek, selanjutnya digunakan untuk melakukan pengendalian biaya pelaksanaan proyek. Konstelasi permasalahan tahap pertama, ditujunkkan pada Gambar 4.10.

(Kinerja dalam %)

Gambar 4.10. Hubungan antara biaya langsung dengan komponen biaya

Keterangan :

X1 : Kinerja Biaya Peralatan

X2 : Kinerja Biaya Material

X3 : Kinerja Biaya Tenaga Kerja

X4 : Kinerja Biaya Sub Kontraktor

X5 : Kinerja Biaya Overhead Lapangan

Y : Kinerja Biaya Langsung Proyek X1 X2 X3 Y X4 X5 Keterangan :

Ym : Kinerja Komponen Biaya Langsung

m : 1 s/d n

Xmp : Bobot Komponen Biaya Langsung

p : 1 s/d n Kinerja Komponen Biaya Bobot Komponen Biaya Ym = f ( Xmp )

(11)

Hubungan tersebut menggambarkan konstribusi Kinerja Biaya Peralatan (X1),

Kinerja Biaya Material (X2), Kinerja Biaya Tenaga Kerja (X3), Kinerja Biaya Sub

Kontraktor (X4), dan Kinerja Biaya Overhead Lapangan (X5) dengan Kinerja

Biaya Langsung Proyek (Y). Penelitian bagian kedua dilakukan bertujuan untuk mengkaji kontribusi masing-masing bobot komponen biaya langsung sehingga diperoleh pemodelan komposisi komponen biaya langsung, selanjutnya digunakan untuk melakukan estimasi biaya pelaksanaan proyek. Permasalahan bagian kedua dapat digambarkan pada Gambar 4.11.

Gambar 4.11. Hubungan antara bobot komponen biaya dengan kinerja komponen biaya langsung

Hubungan tersebut menggambarkan konstribusi bobot komponen Biaya Langsung (Zn) dengan kinerja komponen Biaya Langsung (Xn).

4.2.2.3. Biaya tenaga kerja.

Data penelitian diperoleh dari 75 proyek jalan baru yang telah selesai pelaksanaannya antara tahun 2000 sampai 2005 dengan biaya di atas 2 milyar rupiah di seluruh wilayah Indonesia. Data biaya tenaga kerja digunakan untuk menghitung kinerja biaya tenaga kerja dan bobot realisasi biaya tenaga kerja terhadap biaya langsung. Dari 75 proyek yang disurvey, diperoleh hasil perhitungan kinerja biaya tenaga kerja dan bobot realisasi biaya tenaga kerja seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.5. Bobot realisasi dan kinerja biaya tenaga kerja diperoleh dengan persamaan (2) dan (4).

Tabel 4.5. Data biaya dan kinerja biaya tenaga kerja

Biaya Langsung (dalam juta rupiah)

Biaya Tenaga Kerja (dalam juta rupiah) No Proyek

Rencana Realisasi Rencana Realisasi

Bobot Realisasi Kinerja Biaya TK (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1 Proyek 1 492 490 123 101 20.61% 17.89% 2 Proyek 2 606 596 144 117 19.63% 18.75% 3 Proyek 3 8.313 8.262 1.112 471 5.70% 57.64% 4 Proyek 4 591 581 139 112 19.28% 19.42% 5 Proyek 6 2.877 2.736 435 417 15.24% 4.14% 6 Proyek 7 8.013 7.962 912 471 5.92% 48.36% 7 Proyek 10 1.869 1.824 61 54 2.96% 11.48% 8 Proyek 12 5.061 5.023 364 325 6.47% 10.71% 9 Proyek 13 2.877 2.787 268 247 8.86% 7.84% Zn Xn Keterangan :

Zn : Bobot komponen Biaya Langsung

(12)

Biaya Langsung (dalam juta rupiah)

Biaya Tenaga Kerja (dalam juta rupiah) No Proyek

Rencana Realisasi Rencana Realisasi

Bobot Realisasi Kinerja Biaya TK (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 10 Proyek 16 5.516 5.424 1.297 1.045 19.27% 19.43% 11 Proyek 17 8.921 8.866 1.015 525 5.92% 48.28% 12 Proyek 18 5.055 4.928 366 356 7.22% 2.73% 13 Proyek 19 4.178 4.209 1.115 1.145 27.20% -2.69% 14 Proyek 20 9.730 9.715 65 61 0.63% 5.93% 15 Proyek 22 5.883 5.749 495 517 8.99% -4.44% 16 Proyek 23 8.865 8.851 59 56 0.63% 5.08% 17 Proyek 26 1.754 1.734 96 39 2.25% 59.38% 18 Proyek 27 14.436 14.917 1.038 1.135 7.61% -9.34% 19 Proyek 28 3.193 3.201 362 335 10.47% 7.46% 20 Proyek 29 4.089 3.997 344 359 8.98% -4.36% 21 Proyek 30 6.303 6.148 222 191 3.11% 13.96% 22 Proyek 32 6.813 7.100 682 955 13.45% -40.03% 23 Proyek 33 7.174 6.894 628 619 8.98% 1.43% 24 Proyek 36 1.666 1.615 376 220 13.62% 41.49% 25 Proyek 37 5.201 5.149 389 350 6.80% 10.03% 26 Proyek 39 5.170 5.274 381 371 7.03% 2.62% 27 Proyek 41 3.258 3.254 180 182 5.59% -1.11% 28 Proyek 42 11.770 11.507 584 574 4.99% 1.71% 29 Proyek 43 6.098 5.994 219 196 3.27% 10.50% 30 Proyek 45 4.578 4.531 1515 145 3.20% 90.43% 31 Proyek 46 2.623 2.565 130 128 4.99% 1.54% 32 Proyek 47 27.412 26.947 453 489 1.81% -7.95% 33 Proyek 50 9.226 9.172 386 267 2.91% 30.74% 34 Proyek 53 2.987 2.913 105 90 3.09% 14.29% 35 Proyek 54 4.096 4.287 409 588 13.72% -43.77% 36 Proyek 57 5.771 5.699 288 497 8.72% -72.57% 37 Proyek 60 12.535 12.320 450 402 3.26% 10.67% 38 Proyek 61 4.214 4.049 369 364 8.99% 1.36% 39 Proyek 64 11.430 11.071 1.065 981 8.86% 7.89% 40 Proyek 65 7.708 7.723 874 809 10.48% 7.44% 41 Proyek 67 4.548 4.438 280 276 6.21% 1.54% 42 Proyek 68 3.193 3.201 362 335 10.47% 7.46% 43 Proyek 69 14.361 13.870 1.040 987 7.12% 5.10% 44 Proyek 70 15.638 15.754 4.173 4.286 27.21% -2.71% 45 Proyek 71 5.886 5.754 292 287 4.99% 1.71%

Data dan hasil perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada BUKU LAMPIRAN

- ANALISIS IV – 1.

Dari tabulasi data di atas dapat dilihat gambaran biaya tenaga kerja pada proyek. Gambaran data biaya tenaga kerja tersebut menjelaskan kondisi biaya tenaga kerja pada proyek yang terjadi, yaitu cost underrun dan cost overrun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.6.

(13)

Tabel 4.6. Kondisi Biaya Tenaga Kerja

No Komponen Biaya Variance Rentang Kinerja Bobot Sampel 1 Biaya Langsung 0 - 4,9 % 100% 36 2 Biaya Tenaga Kerja

Cost

Underrun 0 - 90,43 % 0,63 - 20,61 % 35

1 Biaya Langsung -4,66 - -0,19 % 100% 9 2 Biaya Tenaga Kerja

Cost

Overrun -72,57 - -1,11 % 1,81 - 27,21 % 10

Berdasarkan hasil analisis kinerja biaya tenaga kerja di atas diperoleh angka rata-rata 9,28%, dengan standar deviasi 0,262, median sebesar 0,0743, angka minimum sebesar -0,7257, dan maksimum sebesar 0,9043. Koefisien kecondongan gambar atau skewness besarnya 0,1279 dan kelancipan gambar berada pada kurtosis 3,3864. Hasil perhitungan kinerja biaya tenaga kerja ini ditujukkan dalam bentuk histogram pada Gambar 4.12. Hasil analisis data bobot realisasi biaya tenaga kerja diperoleh angka rata-rata 8,82%, standar deviasi 0,0645, angka minimum pada 0,0063 dan maksimum pada 0,2721. Koefisien kecondongan gambar atau skewness besarnya 1,31 dan kelancipan gambar berada pada kurtosis 1,46. Hasil perhitungan bobot realisasi biaya tenaga kerja ditunjukkan dalam bentuk histogram pada Gambar 4.13. Kedua Gambar ini menunjukkan sebaran kinerja biaya dan bobot realisasi berbentuk normal.

Kinerja Upah .88 .75 .63 .50 .38 .25 .13 0.00 -.13 -.25 -.38 -.50 -.63 -.75 F requ enc y 20 10 0

Bobot Realisasi Biaya Upah

.275 .250 .225 .200 .175 .150 .125 .100 .075 .050 .025 0.000 F rek uens i 10 8 6 4 2 0

4.2.2.4. Kontribusi kinerja biaya tenaga kerja.

Untuk mengetahui model hubungan kinerja biaya tenaga kerja terhadap kinerja biaya langsung dilakukan analisa regresi sederhana. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi kinerja biaya langsung (YBL) atas

kinerja biaya tenaga kerja (XTK) yaitu :

YBL = 0,009414 + 0,01744 XTK

Gambar 4.12 Histogram Sebaran Data Kinerja Biaya Tenaga Kerja

Gambar 4.13. Histogram Sebaran Data Bobot Realisasi Biaya Tenaga

(14)

Sesuai dengan metode penelitian yang telah diuraikan, dilakukan teknik simulasi Monte Carlo menggunakan program Crystall Ball dengan iterasi sebanyak 3000 kali, kinerja biaya tenaga kerja (XTK) sebagai random variable dengan

menggunakan distribusi normal dengan parameter mean = 9,28 %, standar deviasi = 26,24 %. Hasil teknik simulasi ini ditunjukkan pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14. Grafik Kontribusi Biaya Tenaga Kerja Terhadap Kinerja Biaya Langsung

Berdasarkan Gambar 4.14. dapat dilihat bahwa kinerja biaya langsung dipengaruhi oleh kinerja biaya tenaga kerja, pada nilai probabilitas 50% sebesar 1,11%. Hal ini berarti bahwa kinerja biaya tenaga kerja dengan probabilitas 50% menyebabkan kinerja biaya langsung sebesar 1,11%. Dari nilai percentiles dalam batas 2,5 % sampai dengan 97,5 % diperoleh kinerja biaya tenaga kerja menyebabkan terjadinya kinerja positif minimum 0,23% dan kinerja positif maksimum 2,01%, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.7. Pada Tabel ini terlihat bahwa kinerja biaya tenaga kerja memiliki probabilitas yang besar untuk memberikan kontribusi kinerja biaya proyek positif.

Tabel 4.7. Batas Probabilitas Kontribusi Kinerja Biaya Tenaga Kerja

Percentile Y XTK Batas Probabilitas Kontribusi

0.0% -0.28% -69.91% 2.5% 0.23% -40.75% 0.23% 5.0% 0.36% -33.11% 50.0% 1.11% 9.82% 95.0% 1.87% 53.15% 97.5% 2.01% 61.33% 2.01% 100.0% 2.47% 87.82% Cumulative Chart Mean = 0. 01 .000 .250 .500 .750 1.000 0 750 3000 -0.00 0.01 0.01 0.02 0.02 3,000 Trials 2,976 Displayed Forecast: Kinerj a BL-TK

(15)

4.2.2.5. Identifikasi kinerja komponen biaya tenaga kerja sebagai biaya langsung.

Proses identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui batasan kinerja biaya material, biaya tenaga kerja, biaya alat, biaya sub kontraktor dan biaya overhead lapangan berupa batas atas dan batas bawah kinerja yang diperoleh dari simulasi permodelan.Untuk mengetahui range kinerja biaya tenaga kerja, dilakukan regresi sederhana antara bobot realisasi biaya tenaga kerja terhadap kinerja biaya tenaga kerja. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh persamaan regresi kinerja biaya tenaga kerja (XTK) atas bobot biaya tenaga kerja (ZTK) yaitu :

Sesuai dengan metode penelitian yang telah diuraikan, dilakukan teknik simulasi Monte Carlo menggunakan program Crystall Ball dengan iterasi sebanyak 3000 kali, bobot realisasi biaya tenaga kerja (ZTK) sebagai random variable dengan

menggunakan distribusi normal dengan parameter mean = 8,82%, standar deviasi = 6,45%. Hasil simulasi ditunjukkan pada Gambar 4.15.

Gambar 4.15. Grafik Model Kinerja Biaya Tenaga Kerja

Berdasarkan Gambar 4.15. diketahui nilai pada probabilitas 50% sebesar 7,80%. Hal ini berarti bahwa terjadinya kinerja biaya tenaga kerja dengan probabilitas 50% adalah sebesar 7,80%. Dari nilai percentiles dalam batas 2,5 % sampai dengan 97,5 % diketahui batas bawah kinerja biaya tenaga kerja adalah 0,61% dan batas atas kinerja biaya tenaga kerja sebesar 17,71%, yang ditunjukkan pada Tabel 4.8.

Cumulative Chart Mean = 8.08E-2 .000 .250 .500 .750 1.000 0 750 3000

8.64E-4 5.01E-2 9.94E-2 1.49E-1 1.98E-1

3,000 Trials 2,968 Displayed

Forecast: Kinerja Upah vs Bobot Upah

(16)

Tabel 4.8. Batas Probabilitas Peyimpangan Biaya Tenaga Kerja

Percentile XTK ZTK Batas Probabilitas Kinerja

0.0% 0.08% 0.63% 2.5% 0.61% 1.25% 0.61% 5.0% 1.20% 1.93% 50.0% 7.80% 9.60% 95.0% 16.15% 19.31% 97.5% 17.71% 21.13% 17.71% 100.0% 22.84% 27.10%

4.2.2.6. Optimalisasi biaya tenaga kerja.

Setelah memperoleh hasil kinerja biaya langsung dengan simulasi Monte Carlo, selanjutnya dilakukan optimalisasi biaya tenaga kerja dengan bantuan program Opquest dan menghasilkan permodelan yang akan digunakan dalam melakukan optimalisasi, yaitu :

Y = -0,02272 + 0,02826 Z1 + 0,03173 Z2 + 0,04127 Z3 + 0,00852 Z4 + 0,03481 Z5.

dimana : Z1 = bobot biaya material

Z2 = bobot biaya tenaga kerja

Z3 = bobot biaya peralatan

Z4 = bobot biaya sub kontraktor

Z5 = bobot biaya overhead lapangan

dengan cara perhitungan yang sama untuk setiap komponen biaya seperti cara perhitungan pada komponen biaya tenaga kerja diperoleh batasan berikut ini : 1. Kinerja Biaya Langsung (Y) = Maksimum

2. 1,49 % < Bobot Biaya Material < 74,17 % 3. 0,63 % < Bobot Biaya Tenaga kerja < 27,21 % 4. 1,03 % < Bobot Biaya Alat < 24,67 %

5. 0,25 % < Bobot Biaya Sub Kontraktor < 92,60 % 6. 1,80 % < Bobot Biaya Overhead Lapangan < 19,50 %

7. Bobot Biaya Material + Bobot Biaya Tenaga kerja + Bobot Biaya Alat + Bobot Biaya Sub Kontraktor + Bobot Biaya Overhead Lapangan = 100 %

Dari hasil optimalisasi diperoleh bobot komponen biaya langsung yang optimal pada Tabel 4.9.

(17)

Tabel 4.9. Bobot Optimal Komponen Biaya Langsung N Kinerja Biaya Langsung Material Tenaga kerja Alat Sub Kon Overhead 1 1.36E-03 46.90% 8.82% 8.38% 30.14% 5.77% 5 1.46E-03 23.19% 13.71% 21.74% 38.38% 2.99% 8 6.45E-03 65.24% 2.16% 17.77% 9.30% 5.53% 45 8.44E-03 73.09% 2.37% 19.88% 0.25% 4.41%

Dari Tabel 4.9. diperoleh batasan bobot komponen biaya langsung yang optimal, yaitu :

1. Bobot biaya material : 23,19% - 73,03% dari biaya langsung 2. Bobot biaya tenaga kerja : 2.16% - 13,71% dari biaya langsung 3. Bobot biaya peralatan : 17,69% - 22,09% dari biaya langsung 4. Bobot biaya sub kontraktor : 6,35% - 38,38% dari biaya langsung 5. Bobot biaya overhead lapangan : 2,99% - 6,51% dari biaya langsung Berdasarkan penelitian di atas, diperoleh hasil temuan sebagai berikut :

1. Hasil analisis model persamaan regresi kinerja biaya tenaga kerja (XTK)

atas bobot biaya tenaga kerja (ZTK) adalah XTK = -0,00461 + 0,860 ZTK

dengan nilai Adjusted R2 = 0,584. Hal ini berarti bahwa tingkat pengaruh kinerja biaya tenaga kerja terhadap bobot biaya tenaga kerja adalah sebesar 0,584 atau 58,40%. Angka ini merupakan nilai tingkat pengaruh kinerja biaya tenaga kerja dari estimasi biaya tenaga kerja yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan.

2. Analisis tentang kontribusi kinerja biaya tenaga kerja menunjukkan terjadinya kinerja biaya langsung positif minimum 0,23% dan kinerja positif maksimum 2,01%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja biaya tenaga kerja memberikan kontribusi yang positif terhadap kinerja biaya langsung pada proyek jalan, tetapi karena porsinya relatif kecil maka kontribusi ini tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan komponen biaya lainnya.

3. Estimasi biaya tenaga kerja merupakan suatu perkiraan yang memiliki probabilitas yang dapat lebih rendah atau lebih tinggi. Dari analisis penelitian dihasilkan batas bawah kinerja biaya tenaga kerja adalah 0,61% dan batas atas kinerja biaya tenaga kerja sebesar 17,71%. Hal ini berarti bahwa kinerja biaya tenaga kerja pada proyek jalan mempunyai

(18)

kemungkinan deviasi dari estimasi biaya tenaga kerja antara 0,16% sampai dengan 17,71%. Batasan angka ini dapat digunakan oleh kontraktor dalam membuat estimasi biaya tenaga kerja.

4. Dari hasil perhitungan optimalisasi diperoleh bobot biaya tenaga kerja pada proyek jalan antara 2,16% sampai dengan 13,71 % dari total biaya langsung. Dengan teknik simulasi Monte Carlo terhadap hasil optimalisasi tadi diperoleh bobot biaya tenaga kerja optimal pada probabilitas 50% sampai dengan 95% sebesar 6,52% sampai dengan 11%. Hal ini berarti bahwa bobot biaya tenaga kerja optimal berada pada batas 6,52% - 11% dari total biaya langsung.

Berdasarkan analisis penelitian dan temuan di atas dapat disimpulkan bahwa : 1. Kinerja biaya material, tenaga kerja, alat, sub kontraktor, dan overhead

lapangan secara bersama-sama ikut menentukan kinerja biaya pelaksanaan proyek. Jika kinerja biaya pelaksanaan proyek akan ditingkatkan maka kinerja biaya material, kinerja biaya tenaga kerja, kinerja biaya alat, kinerja biaya sub kontraktor dan kinerja biaya overhead lapangan secara bersama-sama perlu ditingkatkan.

2. Kinerja biaya tenaga kerja memberikan kontribusi positif terhadap kinerja biaya pelaksanaan proyek. Makin tinggi kinerja biaya tenaga kerja maka kinerja biaya pelaksanaan proyek akan makin baik. Jika kinerja biaya pelaksanaan proyek akan ditingkatkan maka kinerja tenaga kerja perlu ditingkatkan.

3. Pada proyek jalan bobot biaya tenaga kerja ikut menentukan kinerja biaya tenaga kerja. Makin tepat perencanaan bobot biaya tenaga kerja berarti makin baik kinerja biaya tenaga kerja. Jika akan meningkatkan kinerja tenaga kerja, ketepatan dalam estimasi biaya tenaga kerja perlu ditingkatkan.

4. Bobot biaya tenaga kerja terhadap jumlah total biaya langsung pada pelaksanaan proyek jalan yang efisien adalah pada kisaran antara 6,52 % sampai 11% dari total biaya langsung. Bila kontraktor akan mengefisienkan biaya pelaksanaan proyek jalan, maka untuk biaya tenaga kerja sebaiknya dalam batas tersebut.

(19)

Analisis penelitian tentang efisiensi biaya tenaga kerja ini secara lengkap dapat dilihat pada BUKU LAMPIRAN - ANALISIS IV – 2.

4.3. Analisis peningkatan kinerja daya saing dari faktor ketepatan waktu dan produktifitas kerja.

4.3.1. Faktor dan variabel kinerja daya saing tenaga kerja yang terkait dengan ketepatan waktu dan produktifitas pada pekerjaan jalan.

Faktor dan variabel kinerja daya saing tenaga kerja yang terkait dengan produktifitas pada pekerjaan jalan diperoleh dengan cara observasi proses kegiatan konstruksi dari proyek jalan yang terletak di 14 lokasi di Indonesia yaitu di Medan, Cibubur (2 lokasi), Cikampek, Banten, DKI Jakarta, Surabaya, Samarinda, Bali, Lombok, Manado, Ternate, Kupang dan Jayapura,123 yang ditunjukkan pada Gambar 4.16. Variabel terikat (Y) dalam kinerja daya saing dari faktor produktifitas diperoleh melalui penelitian dan dihitung dari waktu kerja yang tidak produktif pada pelaksanaan pekerjaan jalan serta indeks produktifitasnya.124 Pengumpulan data penelitian tentang indeks produktifitas tenaga kerja proyek jalan dilakukan dengan mengukur elemen waktu non produktif yang terjadi dalam beberapa paket pekerjaan jalan berupa data primer. Jumlah data penelitian adalah :

 15 lokasi proyek yang dipilih di 13 propinsi

 433 proses kerja yang diobservasi di 15 lokasi proyek  1115 kegiatan yang diobservasi di 433 proses kerja / lokasi.

123 CITS, Construction Industry Training Study, Puslatjakon dan LPJK, 2003.

124 Listinia Rozana, Peningkatan Produktifitas Tenaga Kerja Konstruksi Pekerjaan Jalan

(20)

Gambar 4.16. Peta lokasi proyek jalan yang diteliti.

Observasi ini menghasilkan data primer berupa informasi atas kinerja dan produktifitas dari individu tenaga kerja dan kru untuk proses kerja yang dipilih dalam bidang konstruksi jalan. Setiap proses dalam observasi ini dikerjakan untuk menghasilkan :

1. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu proses kerja dan produktifitas individu yang terkait dan kegiatan yang tidak produktif dihitung dalam jam.

2. Keluaran kuantitas yang dihasilkan selama periode observasi dihitung dalam unit output.

3. Kondisi spesifik yang berlaku selama periode observasi, termasuk diantaranya input tenaga kerja dalam jumlah dan kualifikasi, motivasi, tingkat upah, bahan, keadaan cuaca dan sebagainya.

Hasil survey digunakan sebagai dasar standar perhitungan kinerja tenaga kerja dan rate produktifitas, untuk memperbaiki estimasi biaya konstruksi dan untuk membantu definisi dari standar kinerja dari tenaga kerja. Aktifitas produktif yang dipertimbangkan adalah yang mempunyai hubungan langsung dengan kinerja

(21)

individu, sedangkan aktifitas non-produktif adalah yang berhubungan dengan interupsi, kelambatan karena berbagai sebab, seperti antara lain:125

 perlengkapan atau alat yang rusak  mencari peralatan, bahan dan informasi  kesalahan yang dilakukan oleh pekerja  kekurangan bahan

 alasan pribadi pekerja

 datang terlambat dan pulang lebih awal  terlambat melakukan persiapan kerja  waktu idle

4.3.1.1. Perhitungan waktu (input)

Perhitungan waktu akan menghasilkan informasi berikut :126

 Total waktu observasi (jam) yang digunakan untuk menyelesaikan seluruh proses.

 Total waktu kegiatan produktif (jam) yang digunakan untuk menyelesaikan seluruh proses.

 Total waktu kegiatan non-produktif, yang digunakan untuk menyelesaikan seluruh proses, dan dirinci menjadi elemen-elemen waktu non-produktif.

4.3.1.2. Pengukuran kuantitas (output)

Sebagai dasar penghitungan angka produktifitas pekerja individual dan kru, kuantitas output yang dihasilkan untuk seluruh proses kerja dan untuk sub-proses / kegiatan individual, telah ditentukan dengan suatu cara agar output tersebut dapat langsung dihubungkan dengan catatan waktu.

4.3.1.3. Pencatatan kondisi kerja

Untuk pengukuran waktu dengan kondisi khusus yang berlaku selama periode observasi diperlukan informasi mengenai:127

 Lokasi, ruang lingkup dan karakteristik proyek konstruksi lainnya  Nama, pengalaman dan karakteristik kontraktor/sub-kontraktor lainnya  Deskripsi detail mengelai proses kerja beserta sub-prosesnya

125 CITS, Construction Industry Training Study, Puslatjakon dan LPJK, 2003. 126 Ibid.

(22)

 Jumlah dan kualifikasi pekerja yang dilibatkan dalam proses

 Spesifikasi dan deskripsi alat, perlengkapan dan bahan yang digunakan  Kondisi cuaca selama periode observasi

 Tingkat upah pekerja yang dilibatkan dalam proses kerja

Proses dan aktifitas kerja berupa faktor dan variabel kinerja daya saing tenaga kerja yang terkait dengan produktifitas pada pekerjaan jalan yang diobservasi diuraikan pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10. Proses kerja dan aktifitas yang diobservasi.

PROSES

DAN AKTIFITAS YANG

DIOBSERVASI 1. Tangerang 2. Cib

ubur I 3. Cib ubur II 4. Medan 5. Ba li 6. M ata ra m 7. Manado 8. Ternat e 9. Pa pua 10. Tenggarong 11. Kupang 12. Cikampek 13. Jakart a

1. RIGID PAVEMENT (CONCRETE) CONSTRUCTION

1.001 Mulai persiapan. √ √ 1.002 Akhir persiapan. 1.003 Pembersihan 1.004 Watering √ 1.005 Pouring √ 1.006 Vibrating √ 1.007 Leveling √ 1.008 Routing √ 1.009 Pemasangan Formwork √ √ 1.010 Pembongkaran Formwork √ 1.011 Pemasangan pembesian √ 1.012 Pengecoran beton √

2. KONSTRUKSI KANSTIN (CURB )

2001 Mulai persiapan. √ √ √ √

2.002 Akhir persiapan. √ √

2.003 Pemasangan tanda (marking) √ √ √ √

2.004 Transportasi curb √ √ √ 2.005 Transportasi adukan √ √ √ 2.006 Pemasangan √ √ √ √ 2.007 Pengawasan √ √ √ 2.008 Pencampuran adukan √ √ √ √ 2.009 Finishing √ √ √ 2.010 Pengecoran

3. KONSTRUKSI DRAINASI BETON

3.001 Mulai persiapan. √ √ √ √

3.002 Akhir persiapan. √ √ √

3.003 Pembersihan

(23)

PROSES

DAN AKTIFITAS YANG

DIOBSERVASI 1. Tangerang 2. Cib

ubur I 3. Cib ubur II 4. Medan 5. Ba li 6. M ata ra m 7. M ana do 8. Ternat e 9. Pa pua 10. Tenggarong 11. Kupang 12. Cikampek 13. Jakart a 3.005 Pengecoran √ 3.006 Vibrating 3.007 Leveling 3.008 Pemasangan pembesian √ √ 3.009 Penimbunan kembali √ √ 3.010 Marking pembesian √ √ √ 3.011 Penggalian saluran √ √ √ 3.012 Pemindahan tanah √ √ 3.013 Pemasangan Formwork √ √ √ 3.014 Pembongkaran Formwork √ √

4. KONSTRUKSI ASPAL HOTMIXED

4.001 Mulai persiapan √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4.002 Akhir persiapan. √ √ 4.003 Pembersihan √ √ √ √ √ √ 4.004 Spraying √ √ √ √ √ √ √ 4.005 Spreading √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4.006 Compacting √ √ √ √ √ √ √ √ √ 4.007 Kontrol lalulintas √ 4.008 Levelling √ √ √ √ √ √ √

5. KONSTRUKSI PONDASI BETON BERTULANG UNTUK DINDING PENAHAN TANAH

5.001 Mulai persiapan √ 5.002 Akhir persiapan √ 5.003 Transportasi besi beton √ 5.005 Pemasangan pembesian √ 5.006 Pemasangan Formwork √

5.007 Transportasi Formwork 5.008 Pengawasan √

6. KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH BETON BERTULANG

6.001 Mulai persiapan √ √

6.002 Akhir persiapan

6.003 Pembuatan tanda (Marking) √

6.004 Pemasangan pembesian √ √ 6.005 Pengawasan √ √ 6.006 Pemasangan Formwork √ 6.007 Pemadatan tanah √ 6.008 Pengecoran √ 6.009 Pemasangan Dolken √ 6.010 Pembongkaran Formwork √ 6.011 Vibrating √ 6.012 Levelling √ 6.013 Penimbunan kembali √

(24)

PROSES

DAN AKTIFITAS YANG

DIOBSERVASI 1. Tangerang 2. Cib

ubur I 3. Cib ubur II 4. Medan 5. Ba li 6. M ata ra m 7. M ana do 8. Ternat e 9. Pa pua 10. Tenggarong 11. Kupang 12. Cikampek 13. Jakart a

6.014 Perkuatan dinding saluran √ 6.015 Transportasi Dolken √ 6.016 Transportasi Formwork √

7. KONSTRUKSI PEKERJAAN TANAH

7.001 Mulai persiapan √ √ √ √ √ √ √ √ 7.002 Akhir persiapan √ √ 7.003 Levelling √ √ √ √ √ √ 7.004 Watering 7.005 Compacting √ √ √ √ √ 7.006 Penggalian √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 7.007 Penimbunan kembali √ √ √ 7.008 Pemindahan tanah √ √ √ √ √ √ √ 7.009 Vibrating √ 7.10 Loading √ √ √

8. KONSTRUKSI SUB-BASE BETON

8.001 Mulai persiapan √ 8.002 Akhir persiapan √ 8.003 Levelling √ √ 8.004 Pemberian tanda (Marking) √ 8.005 Compacting √ √ 8.006 Pemasangan Formwork √ 8.007 Pemasangan dolken √ 8.008 Pengawasan 8.009 Pengecoran √ 8.010 Finishing √

9. KONSTRUKSI PERKERASAN DENGAN PENETRASI ASPAL

9.001 Mulai persiapan √

9.002 Akhir persiapan

9.003 Spreading lapisan dasar √ 9.004 Asphalt Spraying √ 9.005 Compacting √ 9.006 Sand Spreading √ 9.007 Transportasi aspal panas √ 9.008 Transportasi lapisan dasar √ 9.009 Transportasi pasir √

9.010 Pembuatan tanda (marking)

10. KONSTRUKSI SUB-BASE

10.001 Mulai persiapan √ √ √ √

10.002 Akhir persiapan √

10.003 Levelling √ √ √ √ √ √ √

(25)

PROSES

DAN AKTIFITAS YANG

DIOBSERVASI 1. Tangerang 2. Cib

ubur I 3. Cib ubur II 4. Medan 5. Ba li 6. M ata ra m 7. M ana do 8. Ternat e 9. Pa pua 10. Tenggarong 11. Kupang 12. Cikampek 13. Jakart a 10.005 Pemadatan √ √ √ √ √ √ 10.006 Penggalian √ √ √ 10.007 Watering √ √ √ √

11. KONSTRUKSI SALURAN BATU KALI

11.001 Mulai persiapan √ √ √ √ √ √ √

11.002 Akhir persiapan √ √ √ √ √

11.003 Penggalian √ √ √ √ √ √

11.004 Pemindahan tanah √ √ √ √ √ √ √ √ 11.005 Pembuatan tanda (Marking) √ √ √ √ √ √ √

11.006 Finishing √ √ √ √ √ √ √ √

12. KONSTRUKSI DINDING PENAHAN TANAH BATU KALI

12.001 Mulai persiapan √ √ √ √ √ √

12.002 Akhir persiapan √

12.003 Penggalian √ √

12.004 Pemindahan tanah √ √ √ √

12.005 Pembuatan tanda (Marking) √ √ √ √

12.006 Finishing √ √

13. KONSRUKSI ASPHALT MIXING PLANT

13.001 Mulai persiapan √ √ √ √

13.002 Akhir persiapan √

13.004 Pemasukan agregat √ √ √ √ √ √ 13.005 Spraying aspal √ √ √ √ √ √ 13.006 Pengangkatan ke truk √ √ √ √ √ √

14. KONSTRUKSI GORONG-GORONG BETON

14.001 Mulai persiapan √

14.002 Akhir persiapan

14.003 Pembuatan tanda (Marking) √

14.004 Penggalian √ √

14.005 Pengecoran beton dasar 14.006 Pemasangan Formwork √

14.007 Pemasangan pembesian √

14.008 Levelling √

14.009 Pengecoran √

15. KONSTRUKSI SUB GRADE

15.001 Mulai persiapan √ √

15.002 Akhir persiapan

15.003 Levelling √ √

15.004 Compacting √

(26)

Berdasarkan panduan analisis harga satuan sebagai dasar perhitungan Engineer’s Estimate (EE) dan Owner’s Estimate (OE) untuk pekerjaaan jalan128, diperoleh angka struktur biaya untuk semua pekerjaaan yang diobservasi dan ditunjukkan pada Tabel 4.11. Struktur biaya ini digunakan untuk melihat berapa besar kontribusi pekerja dalam setiap proses kerja.129 Komponen biaya tenaga kerja relatif kecil dibanding dengan komponen biaya bahan dan peralatan. Perhitungan analisis struktur biaya tersebut diuraikan dalam BUKU LAMPIRAN -

ANALISIS IV - 3.

Tabel 4.11. Struktur biaya dari proses kerja.

No Jenis pekerjaan No. analisis Pekerja % Bahan % Alat % Over Head % Total %

A Pekerjaan tanah El - 311 9 0 82 9

B Sub-grade El - 33 5 0 86 9

C Sub-base El - 51 1 76 14 9

D Sub-base semen El - 231 5 83 3 9

E Perkerasan aspal hot mixed El - 634 0,3 80,7 10 9

F Perkerasan beton (rigid pavement) El - 231 5 83 3 9

G Perkerasan aspal penetrasi El - 817 0,5 86,5 4 9

H Pondasi dinding penahan tanah beton bertulang El - 231 El - 232 9 81 1 9

I Dinding penahan tanah beton bertulang El - 231 5 83 3 9

J Dinding penahan tanah batu kali El - 33 13 76 2 9

K Saluran beton bertulang El - 231 5 83 3 9

L Saluran batu kali El - 33 13 76 2 9

M Kanstin (curb) El -845 5 75 11 9

N Gorong-gorong beton El - 231 El - 232 9 81 1 9 100

Struktur biaya di atas menunjukkan biaya satu satuan kerja atau unit price. Dalam perhitungan biaya konstruksi, unit price ini dikalikan dengan kuantitas jenis pekerjaan masing-masing. Observasi yang dilakukan menghasilkan indeks produktifitas dari pekerjaan jalan di 14 lokasi yang disebutkan. Dari hasil ini dipilih yang terbukti paling mewakili terlihat dari tingkat indeksnya, yang ditunjukkan dalam Tabel 4.12. Rumus indikator produktifitas IP, adalah :

(27)

dimana : i = jenis pekerjaan ke 1 j = uraian kegiatan kerja ke j

Tabel 4.12. Indeks Produktifitas hasil survey.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Medan Cibubur 1 Cibubur 2 Cikampek BantenDKI Jakarta Surabaya Samarinda Bali Mataram Manado Ternate Kupang Jayapura No Kegiatan 5.995 2.299 3.054 4.113 1.834 3.151 2.435 2.396 5.870 2.458 9.140 5.130 4.944 5.791 Jumlah Lokasi yang ada datanya 1 Kerb 5.481 2.008 2.786 2

2 Perkerasan (aspal hotmix) 1.070 1.461 1.083 2.018 0.489 2.537 1.058 1.527 2.034 1.528 10

3 Pondasi bawah 4.549 4.834 1.663 1.995 9.471 2.380 3.577 5.443 8

4 Drainase

(pasangan batu) 8.166 4.631 4.688 1.698 8.634 5.523 3.850 4.995 4.230 9

5 Dinding penahan (pasangan batu) 2.618 3.521 2.885 2.729 4.015 3.143 6

6 Pencampuran aspal 4.837 5.566 33.722 12.316 10.099 14.552 6

7 Lapisan bawah 2.446 2.648 1.782 3

8 Drainase (beton) 1.695 7.026 0.896 4.058 3.087 5

9 Pekerjaan tanah 13.245 4.033 5.309 3.102 2.100 1.842 4.385 2.668 2.827 5.849 10

10 Perkerasan kaku (beton) 3.230 0.439 2

11 Penulangan pondasi 3.230 1

12 Pondasi bawah (semen) 1.626 2.771 2

13 Dinding penahan (beton) 1.190 2.547 2

14 Perkerasan (penetrasi aspal) 2.971 1

15 Gorong-gorong (beton) 7.065 3.975 2

Lokasi dimana indeks produktifitas yang terendah dari satu jenis kegiatan kerja

Jenis pekerjaan yang datanya diperoleh dari 7 lokasi atau lebih Jenis pekerjaan yang datanya diperoleh dari 2 lokasi atau kurang

Sumber : diolah dari hasil survey CITS, 2003.

Perhitungan analisis indeks produktifitas tersebut di atas diuraikan dalam BUKU

LAMPIRAN - ANALISIS IV – 3 dan daftar pakar yang menjadi responden

dicantumkan pada LAMPIRAN IV – 2.

Langkah awal dalam menganalisis adalah dengan memasukkan data yang ada dalam kuisioner dengan memberi kode pada variabel dependent. Variabel dependent (Y) ditentukan dari ranking perhitungan di atas dan data yang diperoleh lebih dari 7 atau 50 % dari total lokasi yang disurvey, adalah:

IP ij =

∑∑ Elemen Waktu Produktif ij

(28)

YA: produktifitas tenaga kerja konstruksi pekerjaan jalan pada paket

pekerjaan tanah

YB: produktifitas tenaga kerja konstruksi pekerjaan jalan pada paket

pekerjaan pondasi bawah

YC: produktifitas tenaga kerja konstruksi pekerjaan jalan pada paket

pekerjaan perkerasan

YD: produktifitas tenaga kerja konstruksi pekerjaan jalan pada paket

pekerjaan drainase.

Variabel independent (X) diperoleh dari kajian pustaka dan teori pada Bab II butir 2.6.5. Dari daftar variabel tersebut, variabel dari faktor eksternal yang dapat mempengaruhi produktifitas tenaga kerja tidak dianalisis lebih lanjut karena diluar kemampuan tenaga kerja untuk memperbaikinya. Faktor yang dianalisis selanjutnya adalah faktor internal. Penggabungan dari variabel-variabel sejenis menghasilkan daftar variabel yang diberi kode untuk 12 variabel independent diuraikan dalam Tabel 4.13. dan Tabel 4.14.

Tabel 4.13. Kode variable independent

Pekerjaan Tanah Pekerjaan Pondasi Bawah Pekerjaan Perkerasan Pekerjaan Drainase Keterangan AX BX CX DX 1 s/d 12 No.Urut EWKNP

EWKNP = Elemen Waktu Kerja Non Produktif

Tabel 4.14. Rincian Elemen Waktu Non Produktif

No. Elemen Waktu Non Produktif Kode Tanggung

Jawab X1 Penundaan administrasi/ Manajemen

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan/penundaan memulai) karena adanya ketidakefisienan & / ketidakefektifan dalam hal :

- instruksi dan atau rencana kerja termasuk membaca gambar

Ts X2 Mencari alat, perlengkapan atau informasi

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan/ penundaan memulai) karena adanya ketidakefisienan & / ketidakefektifan:

- mencari alat & perlengkapan (penempatan alat & perlengkapan tidak tertata baik, lokasi penyimpanan jauh dari lokasi kerja, ketersediaan alat & perlengkapan terbatas sehingga penggunaan alat & perlengkapan bergantian, dll)

- informasi (penempatan informasi/gambar kerja/prosedur kerja tidak tertata baik, lokasi papan informasi jauh dari lokasi kerja, penyampaian

Ts

Manajemen Lokasi

(29)

No. Elemen Waktu Non Produktif Kode Tanggung Jawab informasi yang tidak/kurang jelas sehingga perlu mencari informasi

berulang-ulang

X3 Istirahat karena bahan tidak tersedia

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam perhitungan kebutuhan bahan, terjadi kehilangan bahan (dicuri), terjadi kerusakan bahan akibat pengiriman/transportasi, kualitas bahan yang rendah, atau akibat buruknya penanganan bahan,dll

Ts

X4 Istirahat karena perlengkapan rusak

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam hal perhitungan jumlah dan kualitas kebutuhan perlengkapan, sering terjadi kerusakan perlengkapan akibat pengiriman/ transportasi, kualitas perlengkapan yang rendah, atau akibat buruknya penanganan perlengkapan, dll

Tw

X5 Menunggu kolega

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam penjadwalan pengiriman bahan, dll

Tw X6 Menunggu bahan

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam penjadwalan pengiriman alat, dll

Tw X7 Menunggu alat atau perlengkapan

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam penjadwalan penempatan kolega/ rekan kerja, dll

Tw X8 Persiapan awal dan akhir

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan/ penundaan memulai) karena adanya persiapan bahan, alat & perlengkapannya pada awal pekerjaan, dan penyimpanan serta pembersihannya pada akhir pekerjaan

Tn

Pengawasan

X9 Alasan pribadi

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kebutuhan pribadi. Misalnya ke KM/WC, merokok, kesehatan yang kurang baik (pusing, dll), dihubungi oleh keluarganya, dll

Tp+Ter X10 Koreksi kesalahan individual

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena adanya kesalahan dalam mengerjakan pekerjaan, menerjemahkan instruksi, membaca gambar, dll

Tp X11 Keterlambatan

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) karena lamanya perjalanan akibat jauhnya lokasi base camp dengan site

Tp X12 Menunggu (idle)

Menggunakan waktu untuk kegiatan non produktif (keterlambatan /penundaan memulai) untuk menunggu penyelesaian proses/tahapan kerja oleh pihak /kolega lainnya

Tp

Tenaga Kerja

(30)

Keterangan :

Ts = Elemen waktu diluar kegiatan Tw = Elemen waktu menunggu

Tn = Elemen waktu keterlambatan persiapan kerja

Tp+Ter = Elemen waktu non produktif dari pekerja dan pengaruh luar kerja Tr = Elemen waktu non produktif karena alasan pribadi

Berdasarkan tabel tersebut dapat terlihat beberapa elemen waktu kerja non produktif yang terjadi menjadi lingkup tanggung jawab manajemen lokasi, pengawasan dan tenaga kerja. Aspek-aspek tersebut menjadi penting untuk diperhatikan guna mencapai peningkatan produktifitas yang berarti pula peningkatan daya saing. Selain itu, skill, knowledge dan attitude termasuk pula dalam faktor – faktor yang mempengaruhi produktifitas. Produktifitas dipengaruhi pula oleh faktor eksternal lain, seperti kondisi cuaca dan lainnya yang tidak dapat diperhitungkan dengan pasti, hanya dapat diperkirakan dan dikurangi dampaknya.

4.3.2. Analisis faktor dan variabel produktifitas yang berpengaruh pada kinerja daya saing tenaga kerja.

Untuk mencari tingkat pengaruh dari variabel independent Xij dan Dij

elemen waktu kerja non produktif yang terjadi dengan produktifitas tenaga kerja konstruksi pekerjaan jalan dalam empat paket pekerjaan yang sudah ditentukan sebelumnya, maka dilakukan analisis korelasi dengan bantuan software SPSS. Variabel independent merupakan hasil kali antara frekuensi terjadinya elemen waktu kerja non produktif dengan dampaknya terhadap produktifitas tenaga kerja. Data yang dikumpulkan dari kuisioner berupa data non parametrik sehingga digunakan analisis korelasi Spearman. Dengan bantuan software SPSS, didapatkan hasil analisis korelasi yang diuraikan pada Tabel 4.15.

Tabel 4.15. Hasil analisis korelasi

X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 YA Correlation Coefficient -0.184 -0.14 -0.02 0.19 -0.015 0.02 0.185 -0.226 -0.056 -0.159 -0.43* 0.035 YB Correlation Coefficient -0.002 -0.122 0.422* -0.147 0.047 -0.131 -0.216 0.051 -0.221 -0.089 -0.148 -0.195 YC Correlation Coefficient 0.386 0.365 0.065 0.129 0.069 -0.087 -0.014 -0.061 -0.028 0.265 0.494* -0.099 YD Correlation Coefficient -0.256 -0.23 -0.297 -0.228 -0.072 -0.045 0.002 -0.143 -0.304 -0.364 -0.43* -0.074

(31)

Hasil tersebut menjelaskan bahwa tingkat korelasi terhadap produktifitas tenaga kerja konstruksi pada pekerjaan jalan.:

1. Dalam pekerjaan tanah, elemen waktu kerja non produktif yaitu melakukan keterlambatan (X11) memiliki tingkat korelasi sedang.

2. Dalam pekerjaan pondasi bawah, elemen waktu kerja non produktif yaitu melakukan istirahat karena bahan tidak tersedia (X3) memiliki

tingkat korelasi sedang.

3. Dalam pekerjaan perkerasan, elemen waktu kerja non produktif yaitu melakukan keterlambatan (X11) memiliki tingkat korelasi sedang.

4. Dalam pekerjaan drainase, elemen waktu kerja non produktif yaitu melakukan keterlambatan (X11) memiliki tingkat korelasi sedang.

4.3.3. Analisis penyebab kinerja daya saing rendah dari faktor produktifitas.

Analisis tentang penyebab dari rendahnya kinerja daya saing dari faktor produktifitas dilakukan dengan analisis risk ranking. Analisis penyebab ini dimaksudkan dari 12 variabel atau elemen waktu kerja non produktif yang telah teridentifikasi di atas, dicari risk ranking atau prioritas dari elemen waktu kerja non produktif. Berdasarkan data frekuensi terjadinya elemen waktu kerja non produktif dan dampaknya terhadap produktifitas, dilakukan analisis risk ranking dengan membuat bobot dari frekuensi dan dampak dari tiap elemen waktu kerja non produktif. Hasil analisis risk ranking diuraikan dalam Tabel 4.16.

Tabel 4.16. Analisis risk ranking dari YA - pekerjaan tanah.

NILAI NILAI

SETEMPAT KESELURUHAN NILAI PRIORITAS

X SUMBER-SUMBER RESIKO Frek Dmpk AKHIR ALL

F/P A/R F/P A/R (%)

(%) (%) (%) : 0.5 (%) : 0.5

1 Melakukan penundaan

administrasi/ manajemen 28.9659 51.67427 14.48295 25.83713 40.320086 6

2 Mencari alat, perlengkapan atau

informasi 28.70808 54.45694 14.35404 27.22847 41.582512 4

3 Melakukan istirahat karena bahan

tidak tersedia 25.5906 61.02799 12.7953 30.51399 43.309294 3

4 Melakukan istirahat karena

perlengkapan rusak 29.95302 57.41707 14.97651 28.70853 43.685042 2

5 Menunggu bahan 24.58848 54.96794 12.29424 28.48397 40.778209 5

6 Menunggu alat atau

(32)

NILAI NILAI

SETEMPAT KESELURUHAN NILAI PRIORITAS

X SUMBER-SUMBER RESIKO Frek Dmpk AKHIR ALL

F/P A/R F/P A/R (%)

(%) (%) (%) : 0.5 (%) : 0.5

7 Menunggu kolega 23.81192 35.2581 11.90596 17.62905 29.535014 11

8 Melakukan persiapan awal dan

akhir 27.78052 42.07458 13.89026 21.03729 34.927550 9

9 Melakukan kegiatan dengan

alasan pribadi 24.78838 31.57157 13.39419 15.78578 29.179973 12

10 Melakukan koreksi kesalahan

individual 24.19959 52.08618 12.0998 24.04309 38.142887 8

11 Melakukan keterlambatan 24.10136 42.4292 13.05068 21.2146 34.265283 10 12 Menunggu / idle 29.34179 47.67473 14.67089 23.83737 38.508260 7

FREKUENSI DAMPAK

KRITERIA SKALA KRITERIA SKALA

Jarang 1 Sangat Kecil 1

Kadang-kadang 2 Kecil 2

Sedang 3 Sedang 3

Sering 4 Besar 4

Sangat Sering 5 Sangat Besar 5

Analisis risk ranking untuk pekerjaan pondasi bawah, perkerasan dan drainase dilakukan dengan cara yang sama Berdasarkan data frekuensi terjadinya elemen waktu kerja non produktif dan dampaknya terhadap produktifitas, dilakukan analisis risk level dengan membuat bobot dari frekuensi dan dampak dari tiap elemen waktu kerja non produktif. Hasil analisis risk level dari pekerjaan tanah yang diuraikan dalam Tabel 4.17.

Tabel 4.17. Analisis Risk Level dari YA - pekerjaan tanah

NILAI NILAI

SETEMPAT KESELURUHAN NILAI RISK

X SUMBER-SUMBER RESIKO Frek Dmpk AKHIR LEVEL

F/P A/R F/P A/R (%) PRIORITY

(%) (%) (%) : 0.5 (%) : 0.5

1 Melakukan penundaan administrasi/ manajemen

28.9659 51.67427 14.48295 25.83713 40.320086 H 2 Mencari alat, perlengkapan atau informasi

28.70808 54.45694 14.35404 27.22847 41.582512 E 3 Melakukan istirahat karena bahan tidak tersedia

25.5906 61.02799 12.7953 30.51399 43.309294 E 4 Melakukan istirahat karena perlengkapan rusak

(33)

NILAI NILAI

SETEMPAT KESELURUHAN NILAI RISK

X SUMBER-SUMBER RESIKO Frek Dmpk AKHIR LEVEL

F/P A/R F/P A/R (%) PRIORITY

(%) (%) (%) : 0.5 (%) : 0.5

5 Menunggu bahan 24.58848 54.96794 12.29424 28.48397 40.778209 E 6 Menunggu alat atau perlengkapan

27.06872 61.96794 13.53436 30.98397 44.518330 E 7 Menunggu kolega

23.81192 35.2581 11.90596 17.62905 29.535014 L 8 Melakukan persiapan awal dan akhir

27.78052 42.07458 13.89026 21.03729 34.927550 M 9 Melakukan kegiatan dengan alasan pribadi

24.78838 31.57157 13.39419 15.78578 29.179973 L 10 Melakukan koreksi kesalahan individual

24.19959 52.08618 12.0998 24.04309 38.142887 H 11 Melakukan keterlambatan

24.10136 42.4292 13.05068 21.2146 34.265283 M 12 Menunggu / idle

29.34179 47.67473 14.67089 23.83737 38.508260 H

Keterangan Risk Level Priority dan Dampak E = Extreme Risk M = Moderate Risk

H = Hign Risk L = Low Risk

Dari nilai akhir tersebut, dibuat 4 kelompok kriteria dengan cara mencari selisih nilai minimum dan maksimum dari nilai akhir kemudian dibagi 4 sehingga didapatkan kelompok kriteria risk level yang diuraikan dalam Tabel 4.18.

Tabel 4.18. Kriteria Kelompok Risk Level Keterangan Risk Level Priority dan Dampak 3.83458931

E = Extreme Risk 44.5183303 40.683741

H = High Risk 40.683741 34.8491517

M = Moderate Risk 34.8491517 33.0145624

L = Low Risk 33.0145624 29.179973

Analisis risk level untuk pekerjaan pondasi bawah, perkerasan dan drainase dilakukan dengan cara yang sama. Berdasarkan analisis risk ranking elemen waktu kerja non produktif didapatkan hasil yang diuraikan dalam Tabel 4.29.

(34)

Tabel 4.19. Risk Ranking dari 4 paket pekerjaan jalan

RISK RANKING

YA YB YC YD

X ELEMEN WAKTU KERJA NON PRODUKTIF

Pek. TANAH Pek. PONDASI BAWAH

Pek. PER KERASAN

Pek. DRAINASE

1 Melakukan penundaan administrasi/ manajemen 6 5 7 5

2 Mencari alat, perlengkapan atau informasi 4 6 5 4

3 Melakukan istirahat karena bahan tidak tersedia 3 2 2 2

4 Melakukan istirahat karena perlengkapan rusak 2 4 4 9

5 Menunggu bahan 5 1 1 1

6 Menunggu alat atau perlengkapan 1 3 3 3

7 Menunggu kolega 11 11 11 11

8 Melakukan persiapan awal dan akhir 9 8 10 8

9 Melakukan kegiatan dengan alasan pribadi 12 12 12 12

10 Melakukan koreksi kesalahan individual 8 7 8 7

11 Melakukan keterlambatan 10 10 9 10

12 Menunggu 7 9 6 6

Risk ranking ke 1, 2, 3

Dari keseluruhan paket pekerjaan, urutan no.1 terdapat pada elemen waktu non produktif sebagai berikut:

1. X7. Menunggu alat atau perlengkapan untuk pekerjaan tanah

2. X4. Menunggu bahan untuk pekerjaan pondasi bawah, perkerasan

dan drainase

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa dalam pekerjaan tanah menunggu alat atau perlengkapan (X6) merupakan faktor penyebab dengan resiko tertinggi.

Sedangkan dalam pekerjaan pondasi bawah, perkerasan dan drainase menunggu bahan (X5) menjadi faktor penyebab dengan resiko tertingginya. Dari hasil

tersebut, sangat dimungkinkan kegiatan yang berkaitan alat dan bahan menjadi faktor yang dominan dalam keempat paket perkerjaan jalan.

4.3.4. Analisis peningkatan kinerja daya saing produktifitas dengan tindakan korektif dan preventif.

Analisis peningkatan kinerja daya saing produktifitas dilakukan dengan cara memperoleh masukan dari para pakar yang secara deskriptif tentang

Gambar

Gambar 4.2. Model Struktur Organisasi Proyek Jalan dengan nilai Rp. 10 M – Rp. 50 M
Tabel 4.1. Hasil analisis jumlah dan kualifikasi tenaga kerja di tingkat manajerial/engineering
Gambar 6.5. Alokasi Tenaga Kerja pada proyek jalan dengan nilai proyek  Rp.50M – Rp. 100 M
Gambar 4.7. Struktur dan jumlah tenaga kerja pada proyek diatas Rp. 100 M   Tabel 4.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

sponden mengatakan tidak baik tentang Puskesmas Batua maka dia tidak akan me- meriksakan kesehatannya Walaupun tidak bisa dipungkiri persepsi pasien tidak baik

Secara lebih mendalam, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil digital UMKM di Kota Semarang dan mengukur ada tidaknya korelasi antara keahlian menggunakan komputer dengan

Fokus dari permasalahan ini adalah para siswa kurang motivasi saat pelajaran sosiologi didalam kelas hal ini terlihat dari beberapa kondisi yang telah peneliti

Selama kegiatan observasi peneliti : 1) Melakukan observasi dengan memakai format observasi, dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran (aktivitas guru dan

Berdasarkan data-data di atas dapat dibuat grafik faktor daya, arus beban, arus kapasitor, daya nyata, daya semu, daya reaktif sebelum dan sesudah perbaikan (baik secara manual

Dari pengujian balistik pada spesimen resin, spesimen resin retak yang cukup panjang setelah diuji balistik dengan sudut tembak 45° dan pecah setelah diuji balistik

Puji dan syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala yang berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan

Keterbukaan sutradara dalam menyampaikan ide-ide pemikiran terhadap pementasan “Loman”, serta memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan pemeran guna mendukung