• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dwi Martha Agustina 1, Hamzah 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dwi Martha Agustina 1, Hamzah 2"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

THE CORRELATION BETWEEN COMPASSION FATIGUE AND WORKING PERIOD WITH THE NURSE’S CARING BEHAVIOR TO CARE

THE PATIENT AT EMERGENCY UNIT BANJARMASIN ULIN HOSPITAL

Dwi Martha Agustina1, Hamzah2

ABSTRACT

Background: The Patient’s condition who comes to the emergency unit can not be predicted his/her condition. He/she comes with different condition, and needs treatment quickly and correctly. The nurse is demanded to be efficient and quick to handle the patient, and in the fact, all of the treatment is possible to get success or not to handle the patient. In this case, it can appear stress for the nurse and it can cause compassion fatigue that will give impact to the treatment which is based on caring to the patient.

Objective: To know the correlation between compassion fatigue and working period with the nurse’s caring behavior to care the patient at emergency unit.

Methods: This research uses analitic descriptive planning by using cross sectional approach. The research population is the executor nurse at emergency unit Ulin General Hospital, Banjarmasin. The sample is taken by using purposive sample method and there are 28 respondents. The data is collected by using questioner. Bivariate data analysis uses spearmanrank and multivariate uses logistic regression test (p)= 0,05

Result: In bivariate analysis, there is correlation between compassion fatigue. Compassion satisfaction and burnout with the nurse’s caring behavior in handling the patient at emergency unit Ulin General Hospital, Banjarmasin. In other hand, there is no correlation between working period with the nurse,s caring behavior value is 0,863. The multivariate analysis result shows that the independent variable which is the most correlated to the nurse’s caring behavior is compassion satisfaction with p value is 0,026, a=0,05

Key Words: Compassion fatigue, Compassion satisfaction, Burnout, Working Period and Caring

(2)

1

Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

2

Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya

HUBUNGAN ANTARA COMPASSION FATIGUE DAN MASA KERJA DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT DALAM MENANGANI PASIEN

DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD ULIN BANJARMASIN

Dwi Martha Agustina1, Hamzah2

INTISARI

Latar Belakang: Keadaan pasien yang datang ke Instalasi Gawat darurat tidak dapat diprediksi keadaannya, datang dengan kondisi yang berbeda-beda, membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Perawat di tuntut sigap dan cepat dalam menangani pasien, dan dalam kenyataannya segala tindakan ada kemungkinan berhasil atau tidak dalam menangani pasien. Hal ini dapat menimbulkan suatu stress tersendiri bagi perawat yang dapat menimbulkan compassion fatigue yang akan berdampak dalam memberikan penanganan yang didasari caring terhadap pasien

Tujuan: Mengetahui hubungan antara compassin Fatigue dan Masa Kerja dengan perilaku

caring perawat dalam menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat

Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan deskriftif analitik dengan pendekatan cross

sectional. Populasi penelitian adalah perawat pelaksana di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.

Sampel yang diambil menggunakan metode purposive sampling dan bejumlah 28 responden. Pengumpulan data dengan kuesioner. Analisa data bivariate dengan spearman rank dan multivariate menggunakan uji regresi logistic (p)=0,05

Hasil: Dalam analisis bivariate terdapat hubungan antara compassion fatigue, compassion

satisfaction dan burnout dengan perilaku caring perawat dalam menangani pasien di

instalasi gawat darurat RSUD Ulin Banjaramasin, sedangkan masa kerja tidak ada hubungan dengan perilaku caring perawat dengan nilai p value 0,863. Hasil analisis multivariate menunjukkan bahwa variabel independent yang paling berhubungan dengan perilaku caring perawat adalah compassion satisfaction dengan nilai p value 0,026, a=0,05

(3)

PENDAHULUAN

Instalasi Gawat darurat (IGD) merupakan “Show Window” atau pintu gerbang pasien yang datang ke rumah sakit terutama pasien yang mengalami kegawatdaruratan. Instalasi Gawat Darurat memiliki karakteristik ruangan yang unik dimana beban kerja cukup tinggi dan memerlukan tindakan penanganan yang cepat, tepat dan terampil. Sedangkan, perawat yang memiliki sifat dan kepribadian dasar sangat peduli dengan pasien, Perawat yang bekerja di berbagai bidang keperawatan antara lain keperawatan kegawatdaruratan, perawat dipaliative, keperawatan jiwa, public health dan Bekerja di lingkungan yang tidak mendukung merupakan kontribusi terbesar terjadinya compassion fatigue.

Hal ini, apabila tidak segera diatasi maka akan menguras stamina dan emosi perawat (Novita, 2012), serta menimbulkan tekanan yang dapat mempengaruhi perilaku Caring perawat dalam menangani pasien di Instalasi Gawat darurat.

Mengingat bahwa Caring dianggap oleh banyak perawat sebagai aspek penting dalam keperawatan. Watson dalam Kozier & Erb (2010) meyakini praktik caring, sebagai pusat keperawatan, yang menggambarkan caring sebagai dasar sebuah kesatuan yang universal (kebaikan, kepedulian, dan cinta terhadap diri sendiri dan orang lain). Caring digambarkan sebagai moral ideal keperawatan; hal tersebut meliputi keinginan untuk merawat, dan tindakan merawat (caring).

Menangani pasien yang didasari caring akan meningkatkan kepuasan pasien di IGD, dan sebaliknya apabila perawat tidak mampu memberikan pelayanan yang didasari caring pasien dan keluarga pun tidak puas akan pelayanan IGD dan akan berimbas kepada image suatu Rumah Sakit, mengingat bahwa IGD merupakan Show window suatu Rumah Sakit.

Sehingga perlunya perawat memberikan pelayanan yang didasari oleh caring. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini bersifat analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional, Sampel dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana di IGD RSUD Ulin Banjarmasin yang masuk dalam kriteria inklusi, yaitu: Perawat merupakan perawat pelaksana,karena perawat pelaksana yang memberikan perawatan dan pelayanan secara langsung pada pasien selama 24 jam (shift) , tidak dalam kondisi sakit, tidak dalam kondisi cuti lebih dari satu bulan, bersedia menjadi responden. Selama penelitian sampel yang didapatkan yaitu berjulam 28 perawat pelaksana. Pada penelitian ini menggunakan 2 Instrumen, dimana untuk menilai Compassion Fatigue diukur menggunakan Professional Quality of Life Scale, Versi lima (ProQOL5) yang dikembangkan oleh Stamm (2010). Professional Quality of Life Scale, Versi lima (ProQOL5) memiliki 30 item dan peserta di berikan pilihan dengan menggunakan skala likert yang terdiri dari 5 poin yaitu (1: pernah, 2: Jarang, 3: kadang-kadang 4: sering, dan 5:sangat sering). Professional Quality of Life Scale, Versi lima (ProQOL5) dibagi menjadi tiga subskala terpisah masing-masing memiliki 10 item: compassion satisfaction, Burnout, secondary traumatic Stress, setiap sub-skala mengukur konstruk yang berbeda. Tiga sub skala yang dinilai secara terpisah, burnout dan secondary traumatic stress mewakili dua komponen dari compassion fatigue. Dari hasil ketiga komponen dilaporkan dengan hasil rendah, sedang, dan tinggi untuk ketiga sub skala tersebut. Sedangkan perilaku Caring menggunakan CBI (Caring Behaviour Inventory) Instrument ini hasil terjemahan dari dari instrumen milik Wolf (Chrisnawati cit Watson,2011) yang diberi nama Caring Behavior Inventory berdasarkan teori

(4)

caringtranspersonal Watson. Caring Behavior Inventory menggunakan skala Likert dengan 4 point penilaian.

Kuesioner tersebut akan diberikan bersamaan oleh peneliti kepada respondent dan memberikan kesempatan pada responden untuk membaca dengan tenang serta dipersilahkan apabila ada pertanyaan terkait dari isi kuesioner tersebut. Peneliti memberikan kuesioner tersebut dalam 3 shif dinas perawat yaitu pada dinas pagi, siang dan malam hal ini agar menghindari responden yang sama nantinya, peneliti juga memiliki catatan kecil untuk menandai perawat yang sudah mendapatkan kuesioner pada satu hari itu, karena tidak menutup kemungkinan di hari berikutnya adalah perawat yang sama yang berdinas di IGD RSUD Ulin Banjarmasin.

Analisa data yang dilakukan meliputi analisa univariat, analisa bivariate, analisa multivariate.

Responden sebagai sampel penelitian memiliki pertimbangan etik dengan menyakini bahwa responden harus dilindungi dengan memperhatikan obtain consent, informed consent, protect from harm, ensure privacy, anonymity.

HASIL

a. Karakteristik Responden

Berikut karakteristik responden penelitian meliputi, jenis kelamin, usia, pendidikan terakhir, suku,dan masa kerja dilihat pada table.

Tabel 1

Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Pendidikan Terakhir, Suku, dan Masa kerja di IGD RSUD Ulin Banjarmasin

24 November-18 Desember 2015 (N=28)

Karakteristik Responden Jumlah %

Jenis Kelamin Pria Wanita 10 18 35,7 64,3 Usia Young adult (22-30 th) 10 35,7 Adult (31-40 th) 17 60,7

Old Adult (diatas41 tahun) 1 3,6

Pendidikan terakhir D 3 Keperawatan 21 75 D 4 Keperawatan 2 7,1 S1 Kep.Ners 5 17,9 Suku Banjar 25 89,3 Masa Kerja Establishment Stage (0-2 th) 7 25,0 Advancement Stage (3-10 th) 18 64,3 Maintanance Stage (>10 th) 3 10,7

(5)

b. Gambaran responden berdasarkan Compassion fatigue dilihat dari Burnout, Compassion fatigue dilihat dari Secondary Traumatic Stress dan

Compassion satisfaction dan Perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin

Tabel 2

Distribusi responden berdasarkan compassion fatigue dilihat dari secondary traumatic stress yang dialami perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin

24 November-18 Desember 2015 (N=28)

Tabel 3

Distribusi responden berdasarkan compassion satisfaction yang dialami perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin

24 November-18 Desember 2015 (N=28)

Tabel 4

Distribusi responden berdasarkan compassion fatigue dilihat dari Burnout yang dialami perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin

24 November-18 Desember 2015 (N=28)

Tabel 5

Distribusi responden berdasarkan Perilaku Caring yang dimiliki perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin

24 November-18 Desember 2015 (N=28)

Kategori Jumlah Persentase (%)

Perilaku Caring perawat dalam menangani pasien Kehadiran

Caring 25 89,3

Kategori Jumlah Persentase (%)

Compassion fatigue (secondary Traumatic Stress) Compassion fatigue/STS rendah

Compassion fatigue/STS sedang Compassion fatigue/STS tinggi

5 15 8 17,9 53,6 28,6

Kategori Jumlah Persentase (%)

Compassion satisfaction

Compassion Satisfaction rendah Compassion Satisfaction sedang Compassion Satisfaction tinggi

4 14 10 14,3 50,0 35,7

Kategori Jumlah Persentase (%)

Burnout Burnout rendah Burnout sedang Burnout tinggi 7 20 1 25,0 71,4 3,60

(6)

Kurang Caring 3 10,7 Rasa Hormat Caring Kurang Caring 24 4 85,7 14,3

Memiliki Hubungan Yang Positif

Caring Kurang Caring 23 5 82,1 17,9

Memiliki pengetahuan dan keterampilan Profesional

Caring Kurang Caring 25 3 89,3 10,7

Menghargai pengalaman orang lain

Caring Kurang Caring 24 4 85,7 14,3

Perilaku Caring Secara Umum

Caring Kurang Caring 23 5 82,1 17,9

c. Hubungan antara compassion fatigue dilihat dari burnout, compassion fatigue dilihat dari Secondary Traumatic Stress, compassion satisfaction, Masa Kerja, dan

Karakteristik responden (Usia, Jenis Kelamin, Pendidikan terakhir) dengan perilaku caring perawat dalam menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat RSUD Ulin Banjarmasin

Tabel 6

Hubungan antara compassion fatigue dilihat dari Secondary Traumatic Stress dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Tabel 7

Hubungan antara Compassion fatigue dilihat dari Burnout dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

caring Kurang caring

N % N % n %

Compassion fatigue/STS 0,008

Rendah 5 100 0 0,00 5 17,9

Sedang 14 93,3 1 6,7 15 53,6

Tinggi 4 50,0 4 50,0 8 28,6

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

Caring Kurang caring

N % N % n %

Burnout 0,050

Rendah 7 100 0 0,00 7 25,0

Sedang 16 80,0 4 20,0 20 71,4

(7)

Tabel 8

Hubungan antara compassion satisfaction dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Tabel 9

Hubungan antara Masa Kerja dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Tabel 10

Hubungan antara Usia dengan perilaku caring perawat

di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Tabel 11

Hubungan antara Jenis Kelamin dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

caring Kurang caring

N % N % n %

Compassion satisfaction 0,003

Rendah 1 25,0 3 75,0 4 14,3

Sedang 12 85,7 2 14,3 14 50,0

Tinggi 10 100 0 0,00 10 35,7

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

caring Kurang caring

N % N % N %

Masa Kerja 0,863

Establishmen tStage(0-2 th) 6 85,7 1 14,3 7 25,0

Advancement Stage (3-10 th) 14 77,8 4 22,2 18 64,3

Maintanance Stage (>10 th) 3 100 0 0,00 3 10,7

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

caring Kurang caring

N % N % N %

Usia 0,759

22-30 tahun 8 80,0 2 20,0 10 35,7

31-40 tahun 14 82,4 3 17,6 17 60,7

Diatas 40 tahun 1 100 0 0,00 1 3,60

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

caring Kurang caring

N % N % N %

Jenis Kelamin 0,437

Pria 9 90,0 1 10,0 10 35,7

(8)

Tabel 12

Hubungan antara Pendidikan dengan perilaku caring perawat di IGD RSUD Ulin Banjarmasin 24 November 2015-18 Desember 2015

d. Variabel Independent yang paling dominan yang berhubungan dengan perilaku caring dalam menangani

pasien di Instalasi gawat darurat RSUD Ulin Banjarmasin

Tabel 5.14

Hasil Analisis Multivariat Compassion fatigue dan Masa Kerja dengan perilaku caring perawat dalam menangani pasien di IGD RSUD Ulin Banjarmasin

24 November 2015-18 Desember 2015 (N=28)

Variabel B Wald p-Value OR (CI 95%)

Compassion fatigue/secondary traumatic stress -20.090 0,000 0,997 0,00 (0,006-0,721) Tinggi Sedang Rendah Compassion satisfaction 3.347 4.966 0,026 28.414 (1.497-539.38) Tinggi Sedang Rendah Burnout -38.274 0,000 0,997 0,00 (0,00-0,00) Tinggi Sedang Rendah Pendidikan -1.921 3.094 0,079 0,146 (0,017-1.246) D3 Keperawatan D4 Keperawatan Ners PEMBAHASAN

Compassion satisfaction merupakan fenomena positif hasil dari membantu pasien, hal ini ditandai dengan perasaan kesenangan dari mampu melakukan

pekerjaannya dengan baik. Dan dapat disebut sebagai kebalikan dari compassion fatigue. Compassion fatigue dan compassion satisfaction diukur dalam waktu yang bersamaan agar dapat melihat

Variabel Independent Perilaku Caring Total P Value

Caring Kurang caring N % N % N % Pendidikan Terakhir 0,026 D3 Keperawatan 19 90,5 2 9,5 21 75,0 D4 Keperawatan 2 100 0 0,00 2 7,1 Ners 2 40,0 3 60,0 5 17,9

(9)

perbedaan hasilnya. Compassion satisfaction muncul ketika perawat memiliki rasa terhubung dengan pasien-pasiennya dan merasa senang dan menerima pekerjaannya sebagai seorang perawat (stamm et al.,2010). Dalam analisa multivariate juga menunjukkan bahwa variabel independent yang paling berhubungan dengan perilaku caring yaitu compassion satisfaction.

Hasil penelitian diatas konsisten dengan penelitian sebelumnya yang membahas tentang lingkungan positif kerja dan pengalaman kerja yang lebih dapat meningkatkan kepuasan kerja perawat (Friedrich, Prasun, Henderson, & Taft, 2011;Hoar,2011;Li, Early,Mahrer, Klaristenfeld, & Gold,2014; Hunsaker, &Heaston,2014). Compassion satisfaction dapat timbul didukung dengan situasi kerja yang sehat, menyenangkan, tim kerja yang solid dan saling mendukung, kepala ruangan atau manager yang mensupport. Compassion satisfaction muncul dari kesenangan dan rasa syukur yang berkembang dari merawat pasien, serta melalui kegiatan yang membantu menghidupkan semangat meraka untuk merawat pasien (Perry,2008).

Dalam hal ini kembali perawat untuk melihat tujuan awal mereka atau niat, menyediakan energy yang nantinya dapat membantu mencegah timbulnya kemarahan, caring yang kurang dalam menangani pasien serta dapat lebih meningkatkan compassion satisfaction. Perilaku caring merupakan sesuatu yang essensial bagi manusia, sedangkan perawat sebagai salah satu profesi yang sangat memperhatikan caring dalam setiap pelayanan kesehatan yang di berikan kepada pasien. (Rafli, F.2007).

Watson mengungkapakan seorang perawat harus bersikap empati, caring terhadap pasien.itu merupakan inti dari keparawatan (Watson, 2010). Empati dan tanggung

jawab, sabar, mendengarkan pasien dapat mengendalikan perasaan ketika bersikap kasar kepada pasien dan mampu serta berempati dalam melakukan penanganan dengan cepat dan melakukan triage dengan tepat merupakan perilaku caring yang dimiliki perawat (Watson, 2010). Berdasarkan teori Lawrence Green (1980) perilaku manusia dipengaruhi oleh dua factor pokok, yaitu factor perilaku (behavior causes) dan factor luar perilaku (non behavior causes). Perilaku terbentuk dari tiga factor dimana salah satu factornya adalah factor predisposisi (predisposing factors) yang mencakup pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, kebiasaan, norma social, budaya dan sebagainya. Sedangkan nilai burnout tidak berhubungan dominan dalam analisa multivariate dengan nilai p value 0,997, hal ini didukung dengan Dari penelitian menurut Maslach (dalam Ema, 2004, h. 37) mengungkapkan burnout berdampak bagi individu, orang lain, dan organisasi. Dampak pada individu terlihat adanya gangguan fisik seperti sulit tidur, rentan terhadap penyakit, munculnya gangguan psikosomatik, maupun gangguan psikologis yang meliputi penilaian yang buruk terhadap diri sendiri yang dapat mengarah pada terjadinya depresi.

Dampak burnout yang dialami individu terhadap orang lain dirasakan oleh penerima pelayanan dan keluarga. Selanjutnya dampak burnout bagi organisasi adalah meningkatnya frekuensi tidak masuk kerja, berhenti dari pekerjaan atau job turnover, sehingga kemudian berpengaruh pada efektivitas dan efisiensi kerja dalam organisasi (Cherniss, dalam Ema, 2004, h. 38).

Baron dan Greenberg (1995, h.260) menjelaskan bahwa burnout yang dialami seorang pekerja selain dipengaruhi oleh faktor internal juga dipengaruhi oleh faktor eksternal. Faktor internal meliputi jenis kelamin, usia, dan harga diri, sedangkan faktor eksternal meliputi salah satunya

(10)

lingkungan kerja. Lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada disekitar pekerja sewaktu menjalankan tugas yang dibebankan. Lingkungan kerja adalah keadaan di sekitar tempat kerja pada waktu karyawan melakukan pekerjaannya. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi kesejahteraan karyawan sehingga karyawan akan berusaha untuk menghasilkan sesuatu. Lingkungan kerja yang baik akan membawa pengaruh yang baik kepada para karyawan, pimpinan, dan hasil pekerjaannya (Anorogo & Widiyanti, 1990). Seberapa jauh akibat yang akan ditimbulkan oleh kondisi kerja tergantung pada bagaimana cara individu mempersepsikannya.

Setiap individu mempunyai persepsi yang berbeda terhadap suatu hal walaupun berada didalam situasi yang sama. Apabila karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap lingkungan kerja, maka karyawan akan menerima hal tersebut sebagai hal yang menyenangkan. Sebaliknya, bila karyawan memiliki persepsi yang negatif terhadap lingkungan kerja, maka karyawan akan menerima hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan (Andriani, 2004).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku caring seseorang belum tentu di tentukan oleh satu jenis penyebab, tapi apabila burnout ini dapat dikurangi bahkan dihilangkan dengan situasi kerja, rekan kerja dan lingkungan kerja yang menyenangkan dan mendukung. Selain itu perilaku caring yang dikembangkan oleh Watson J, 2007 menyatakan bahwa kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang perawat adalah kemampuan perilaku caring, yang juga merupakan sifat essensial seorang perawat. Pasien di IGD yang baru datang dengan penuh kecemasan akan menjadi lebih tenang apabila seorang perawat menangani pasien dengan caring yang baik.

KESIMPULAN

Karakteristik responden, ditinjau dari usia kelompok umur yang paling banyak 31-40 tahun, ditinjau dari jenis kelamin diketahui responden palingnyak berjenis kelamin perempuan (64,3%), ditinjau dari pendidikan didapat Diploma 3 keperawatan lebih banyak (75%) dari pada S1 Keperawatan Ners (17,9%), Sedangkan masa kerja responden paling banyak antara 3-10 tahun (64,3%)

Hasil penelitian didapatkan responden paling banyak mengalami compassion fatigue tingkat sedang 15 responden (53,6%), Burnout tingkat sedang sebanyak 20 responden (71,4%), sedangkan compassion satisfaction tingkat sedang sebanyak 14 responden (50,0%)

Responden memiliki perilaku caring dalam menangani pasien di IGD RSUD Ulin Banjarmasin sebanyak 23 responden (82,1%)

Hasil Analisa bivariate menunjukkan bahwa ada hubungan antara compassion fatigue dengan perilaku caring , dimana semakin tinggi compassion Fatigue maka akan menurunkan perilaku caring perawat. Hasil analisa bivariate juga menunjukkan bahwa nilai compassion satisfaction akan memingkatkan pula perilaku caring perawat dalam menagani pasien di IGD RSUD Ulin Banjarmasin. Analisa bivariate juga menunjukkan nilai bahwa burnout yang tinggi akan menurunkan perilaku caring perawat, sednagkan masa kerja tidak memiliki hubungan dengan perilaku caring perawat.

Secara bersama-sama pada analisis multivariate variabel independent yang paling dominan berhubungan dengan perilaku caring perawat pelaksana di IGD RSUD Ulin Banjarmasin adalam compassion satisfaction.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Baron & Greenberg.2003. Behavior in organization understanding & managing the human side of work. 5th. Editon.USA: Prenhee hall

Chrisnawati. 2011. A Relantional Analysis On The Caring Efficacy and the caring Behsviors of Nurses in Suaka Insan Banjarmasin Hospital In Indonesia.Tesis.Tidak dipublikasikan

Christensen, P.J. Dan Janet W. Kenney. 2009. Proses Keperawatan Aplikasi

Model Konseptual Edisi

IV.Jakarta:EGC

Coetzee, S.K.,& Kloppen.H.C.2010. compassion fatigue within nursing practice: A Concept analysis nursing & Health Sciences. 12:235-243

Kotula, KR. 2015. Compassion Fatigue in Critical care Nursing and Development of An Educational Modul. Journal of critical nursing. Diakses dari www.pubmed.com

Referensi

Dokumen terkait

Wirosaban di bagian Instalasi Unit Gawat Darurat /yang tetap akan buka pada hari natal// Bahkan saat pemkot melakukan cuti bersama hingga tanggal 27 Desember 2009 /RSUD wirosaban

Hasil wawancara terhadap 5 (lima) orang perawat di RSUD Kota Langsa, rumah sakit ini memiliki beberapa permasalahan pada Instalasi Gawat Darurat (IGD), yaitu; (1)

Studi Fenomenologi Pengalaman Perawat Instalasi Gawat Darurat (IGD) Dalam Merawat Pasien Terlantar Pada Fase End Of Life Di Rsud Dr.. Saiful Anwar

Rendahnya nilai hasil audit terkait penerapan Standar Asuhan Keperawatan (SAK) yang dilaksanakan perawat di beberapa ruangan di instalasi rawat inap RSUD Ulin Banjarmasin

penanganan pasien cedera kepala di Instalasi Gawat Darurat RSUD Karanganyar bahwa responden mempunyai persepsi yang baik, yaitu sebanyak 10 responden (52,6%) Hasil

LAPORAN HARIAN KEPALA RUANGAN Nama Karu : Nurul Hidayah Jumlah Perawat : 6 Orang Ruangan : Instalasi Gawat Darurat RSUD Cipayung Tanggal : 24 – 08 – 2022 Waktu KEGIATAN KETERANGAN

Analisis Tingkat Pengetahuan Perawat Terhadap Penggunaan Triase Emergency Severity Index ESI Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Temanggung 23–32 Ariyani, H & Rosidawati, I 2020..

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotional labor dengan burnout pada ibu yang bekerja sebagai perawat Instalasi Gawat Darurat IGD di Rumah Sakit Mitra Siaga