• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Evaluasi Pengajaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA Evaluasi Pengajaran"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Evaluasi Pengajaran

Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif- alternatif keputusan. Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran yang telah dicapai oleh siswa. Fungsi evaluasi di dalam pengajaran tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Tujuan evaluasi pengajaran ialah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan materi pelajaran yang terdapat di dalam kurikulum. Data pembuktian dalam evaluasi pengajaran didapat dari penilaian sumatif. Penilaian sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai dimana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan ajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tertentu. Menurut Purwanto (1984) fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah :

1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil evaluasi yang diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa.

2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen dimaksud antara lain adalah tujuan materi atau bahan pengajaran, metode dan kegiatan belajar-mengajar, alat dan sumber pelajaran dan alat evaluasi.

Penilaian sumatif biasanya dilaksanakan pada akhir caturwulan atau setiap akhir semester, setiap akhir tahun ajaran berupa tes atau ujian. Beberapa jenis ujian sumatif lainnya misalnya : Praujian Nasional (Pra-UN), Evaluasi Belajar Tahap Akhir (EBTA) yang sekarang berganti nama Ujian Nasional (UN) dan ujian masuk Perguruan Tinggi. Pelaksanaan Praujian Nasional biasanya dilakukan dalam waktu yang berdekatan atau tidak jauh dari pelaksanaan EBTA atau UN dan ujian masuk Perguruan Tinggi.

(2)

Uji McNemar Sampel Tak Bebas dalam Tabel 2x2

Uji khi kuadrat (χ2) digunakan untuk menguji apakah dua peubah saling bebas atau tidak dan frekuensi amatan biasanya disajikan dalam bentuk tabel kontingensi atau tabel kemungkinan. Besarnya nilai χ2dirumuskan :

2 χ =

i i i i e e o )2 ( (1) dimana : o = frekuensi observasi ke-i i

e = frekuensi harapan ke-i i

dengan hipotesis H0 : tidak ada hubungan (asosiasi) antara peubah baris dan peubah

kolom. Kriteria keputusannya adalah bila χ2> 2

α

χ dengan derajat bebas v = (b-1)(l -1) dimana badalah banyaknya baris dan l adalah banyaknya kolom , maka hipotesis nol ditolak (Walpole & Myers, 1989).

Adakalanya digunakan sampel yang sama untuk dua perlakuan namun dalam waktu yang berbeda. Di sini dikatakan kedua sampelnya tidak bebas (Steel & Torrie, 1980). Misalnya dua perlakuan tersebut berkategori sukses atau gagal dan ditabelkan sebagai berikut :

Tabel 3 Tabulasi silang 2x2 untuk sampel tidak bebas Perlakuan pertama Perlakuan kedua Total Sukses (S2) Gagal (G2) Sukses (S1) n11 n12 n1. Gagal (G1) n21 n22 n2. Total n.1 n.2 n..

(3)

Hipotesisnya adalah : H0 : P (S1) = P (S2) H1 : P (S1) ≠ P (S2)

− = e e o 2 2 ( ) χ = 2 ) 2 ( 21 12 2 21 12 12 n n n n n + + − + 2 ) 2 ( 21 12 2 21 12 21 n n n n n + + − = 21 12 2 21 12 ) ( n n n n + − (2)

dengan derajat bebas sama dengan 1

Dalam Agresti & Finlay (1986) persamaan 2 dikenal dengan nama uji McNemar (McNemar’s test ). Menurut McNemar (1969) bila nilai n12 + n21 <20, maka perlu dilakukan koreksi dengan persamaan :

21 12 2 21 12 2 (| | 1) n n n n + − − = χ (3) Kriteria keputusannya adalah bila χ2> 2

α

χ maka hipotesis nol ditolak. Korelasi dan Regresi Linier Sederhana

Koefisien korelasi adalah koefisien yang menggambarkan tingkat keeratan hubungan linier antara dua peubah atau lebih. Besaran dari koefisien korelasi tidak

Kategori

frekuensi

Kenyataan Harapan ( bila Ho benar)

( o ) (e) 1 SG2 n12 2 21 12 n n + 1 GS2 n21 2 21 12 n n + Jumlah n12+ n21 n12+ n21

(4)

menggambarkan hubungan sebab akibat antara dua peubah atau lebih tetapi semata-mata menggambarkan keterkaitan linier antarpeubah. Koefisien korelasi sering dinotasikan dengan r dan nilainya berkisar antara –1 dan 1 (-1 ≤ r ≤ 1 ), nilai r yang mendekati 1 atau –1 menunjukkan semakin erat hubungan linier antara kedua peubah tersebut. Sedangkan nilai r yang mendekati nol menggambarkan hubungan kedua peubah tersebut tidak erat atau tidak linier. Tanda dari nilai r dapat dilihat dari diagram pencar pengamatan dari kedua peubah. Bila titik-titik pengamatan menggerombol mengikuti garis lurus dengan kemiringan positif, maka korelasi antara kedua peubah tersebut positif. Sebaliknya bila titik-titik pengamatan tersebut menggerombol mengikuti garis lurus dengan kemiringan negatif, maka korelasi antara kedua peubah tersebut bertanda negatif. Koefisien korelasi antara peubah X dan peubah Y dapat dirumuskan sebagai berikut :

= ( 2 2)−1/2 y x xy S S S r (4) dimana Sxy = 1 ) )( ( 1 − − −

= n y y x x n i i i 2 x S = 1 ) ( 1 2 − −

= n x x n i i 2 y S = 1 ) ( 1 2 − −

= n y y n i i

untuk regresi linier sederhana maka kuadrat dari koefisien korelasi akan sama dengan koefisien determinasi tetapi ini tidak berlaku untuk regresi linier berganda. (Mattjik & Sumertajaya, 2000).

Bila hasil plot menunjukkan kecenderungan hubungan X dan Y membentuk persamaan linier maka sudah tepat penggambaran hubungan X dan Y dalam persamaan regresi linier. Persamaan regresi yang terdiri atas satu peubah bebas dan satu peubah terikat disebut regresi sederhana, sedangkan persamaan regresi yang terdiri atas satu peubah terikat dan beberapa peubah bebas disebut regresi berganda. Regresi linier sederhana dapat dituliskan dalam bentuk persamaan :

(5)

i i i X Y =α +β +ε (5) dimana : α = intersep β = gradien (kemiringan) ε = galat i = 1, 2, 3, …, n

Keterandalan dari model yang diperoleh dapat dilihat dari kemampuan model menerangkan keragaman nilai peubah Y. Ukuran ini sering disebut koefisien determinasi. Semakin besar nilai koefisien determinasi berarti model semakin mampu menerangkan keragaman nilai peubah Y. Dalam Draper & Smith (1981) selang kepercayaan (1−α)100% bagi nilai individual Y untuk suatu nilai 0 X tertentu dirumuskan : 0

s X X X X n db t Y i 2 / 1 2 2 0 ^ 0 ) ( ) ( 1 1 ) 2 , ( ⎟ ⎠ ⎞ ⎜ ⎜ ⎝ ⎛ − − + + ±

α (6)

Keterandalan Instrumen Penelitian

Keterandalan (Reliability) menunjuk pada pengertian apakah sebuah instrumen dapat mengukur sesuatu yang diukur secara konsisten dari waktu ke waktu. Menurut Ary et al. (2005) untuk mengestimasi koefisien keterandalan dengan menggunakan satu bentuk tes yang hanya sekali diujikan pada sekelompok subjek digunakan pendekatan konsistensi internal (Internal Consistency ). Pendekatan ini bertujuan untuk melihat konsistensi antarbutir pertanyaan atau antarbagian dalam tes itu sendiri.

Dalam Kaplan & Saccuzzo (2005) metode untuk menduga koefisien kekonsistenan internal adalah metode Kuder-Richardson. Metode ini digunakan karena butir-butir pertanyaan berskor dikotomi, yaitu skor 1 atau 0 (jawaban benar atau salah). Metode Kuder-Richardson dirumuskan : KR_20 = −

−1(1 σ2) pq k k (7)

(6)

k = banyaknya butir pertanyaan

p = proporsi jawaban benar per butir pertanyaan q = proporsi jawaban salah per butir pertanyaan

σ2 = ragam / varian skor total

Persamaan 7 dikenal dengan rumus Kuder Richardson 20 (KR_20). Sedangkan rumus Kuder Richardson 21 (KR _21) : KR_21 = (1 ( )) 1 σ2 k x k x k k − − − (8)

dimana : KR_21 = koefisien keterandalan menurut Kuder-Richardson 21 k = banyaknya butir pertanyaan

x = rata-rata hitung skor ujian σ2 = ragam skor total

Dilihat dari segi efisiensi perhitungan, KR_21 jauh lebih efisien dibandingkan dengan KR-20. Hal ini dikarenakan perhitungan proporsi jawaban benar dan jawaban salah rumus KR_20 memerlukan kerja analisis butir soal per siswa per butir. Sebaliknya persamaan KR _21 hanya dibutuhkan rata-rata hitung dan ragam skor total.

Instrumen penelitian dikatakan andal bila mempunyai nilai KR_21 lebih besar atau sama dengan 0.70 (Kinan, 1990). Menurut Fraenkel & Wallen (1990) untuk keperluan penelitian nilai koefisien keterandalan seharusnya lebih besar atau sama dengan 0.70 .

Referensi

Dokumen terkait

EVALUASI KEGIATAN LABORATORIUM PENGAJARAN FISIKA SEKOLAH MENENGAH ATAS (STUDI SITUS SMA NEGERI 4 SURAKARTA), Tesis, Manajemen Pendidikan, Program Pasca Sarjana,

Sedangkan Ahmad mengatakan bahwa “evaluasi diartikan sebagai proses untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang,

Perbedaan pokok antara evaluasi teoritis keputusan, evaluasi semu dan evaluasi formal:..  evaluasi keputusan teoritis berusaha untuk memunculkan dan membuat

(1). Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan. Evaluasi bukan sekedar

Evaluasi ialah proses yang menentukan sampai sejauh mana tujuan pendidikan dapat dicapai (Farida, 2000:3). Dengan demikian akan dapat diketahui apakah program

Pada tahap framing memiliki 4 kegiatan yang diantaranya adalah menentukan pengguna yang akan menjadi partisipan, menentukan tujuan penelitian dan membuat tugas untuk

Perencanaan Pembangunan Daerah Perencanaan pembangunan daerah adalah suatu proses sistematis untuk menentukan tujuan, strategi, kebijakan, rencana, program, dan kegiatan yang akan

Untuk membuat keputusan harus benar- benar mempertimbangkan pilihan- pilihan yang sesuai dengan kemampuan untuk dapat menentukan jurusan sehingga proses ini membutuhkan sebuah sistem