1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Ekonomi merupakan hal yang penting untuk dikaji karena kondisi ekonomi suatu daerah akan mempengaruhi perkembangan daerah tersebut sekaligus menunjukkan juga kesejahteraan masyarakat yang tinggal di daerah tersebut. Ekonomi sendiri sebenarnya merupakan salah satu dari empat masalah utama Kota Bogor. Masalah ini timbul karena Kota Bogor tidak memiliki sumberdaya alam yang sebenarnya berperan dalam pengembangan wilayah. Sumberdaya alam dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dan dapat menjadi bahan baku dalam produksi barang di suatu daerah yang sehingga meningkatkan ekonomi daerah (Muta’ali, 2011). Karena Kota Bogor todak memiliki sumberdaya alam, maka yang dapat diandalkan dalam pembangunan wilayahnya hanya sumberdaya manusia.
Keberadaan undang-undang tentang otonomi daerah kemudian menyebabkan dominasi peran pemerintah daerah sehingga kebijakan setiap daerah pun akan berbeda pula. Perbedaan kebijakan ini akan menyebabkan perkembangan setiap daerah berbeda pula. Jika perkembangan setiap daerah berbeda-beda, maka kondisi ekonomi daerah tersebut pun akan berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini pun terjadi pada sebagian wilayah Kota Bogor, yaitu Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan. Kota Bogor sendiri disebut sebagai kota satelit karena letaknya yang berada di tengah Kabupaten Bogor. Pusat dari kota satelit ini adalah Kecamatan Bogor Tengah, sedangkan Kecamatan Bogor Selatan merupakan Kota Satelit I. Fungsi utama Kecamatan Bogor Tengah sebagai pusat kota satelit adalah menjadi pusat kegiatan perkantoran/pemerintahan yang ditunjuang oleh kegiatan perdagangan dan jasa, permukiman, serta wisata, sementara fungsi Kecamatan Bogor Selatan sebagai Kota Satelit I adalah menjadi kegiatan permukiman dengan KDB rendah yang ditunjang oleh kegiatan
2
perdagangan dan jasa (Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 1 Tahun 2000 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah).
Perbedaan fungsi kedua kecamatan ini kemudia menyebabkan perbedaan perkembangan keduanya. Hal ini dapat dilihat melalui Tabel 1.1 yang menunjukkan kelengkapan fasilitas kota pada kedua kecamatan tersebut. Berdasarkan Tabel 1.1, dapat diketahui bahwa fasilitas kota pada Kecamatan Bogor Tengah lebih lengkap dari pada Kecamatan Bogor Selata.
Tabel 1.1 Fasilitas Kota di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan FASILITAS KOTA JUMLAH FASILITAS
BOGOR TENGAH BOGOR SELATAN
Fasilitas Kesehatan 5 3 Fasilitas/Pusat Perdagangan 349 1 Perkantoran 66 16 DAMRI 1 0 Terminal 1 0 Hutan Kota 1 0
Sentra Usaha Ekonomi dan Industri 3 102
Pasilitas Pendidikan 79 154
Pariwisata 0 5
TOTAL 505 281
Sumber: Data Penggunaan Lahan BAPPEDA Kota Bogor, 2012
Fungsi Kecamatan Bogor Tengah yang sebagai tempat kegiatan perkantoran pun menyebabkan kecamatan terersebut memiliki lebih banyak bangunan perkantoran daripada Kecamatan Bogor Selatan. Selain perkantoran, lahan terbangun lainnya di Bogor Tengah berfungsi sebagai permukiman, industri, atau perdagangan dan jasa sehingga hampir seluruh wilayah Bogor Tengah berupa lahan terbangun. Pada Tabel 1.2, dapat diketahui bahwa 26,09% wilayah Kecamatan Bogor Tengah berupa lahan non terbangun dan 73,91%-nya berupamlahan terbangun, sedangkan pada Kecamatan Bogor Selatan hanya terdapat 24,62% dari luas wilayahnya yang berupa lahan terbangun, sedangkan 75,38% berupa lahan non-terbangun. Adapun data mengenai luas dan persentase penggunaan lahan lainnya di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan terdapat pada tabel 1.2 berikut ini:
3
Tabel 1.2. Luas dan Persentase Penggunaan Lahan Bogor Tengah dan Bogor Selatan
PENGGUNAAN LAHAN
LUAS (Km2) PERSENTASE (%) Bogor Selatan Bogor Tengah Bogor Selatan Bogor Tengah Lahan Non-Terbangun 23,22 2,19 75,38 26,09 Lahan Terbangun Non-Hunian 1,44 2,24 4,68 26,72 Permukiman 5,77 2,31 18,72 27,45 Perumahan 1,51 0,91 4,89 10,81
Sumber: Data Penggunaan Lahan BAPPEDA Kota Bogor, 2012
Posisi Kecamatan Bogor Tengah yang berada di pusat Kota Bogor juga menyebabkan Kecamatan Bogor Tengah memiliki lebih banyak jaringan jalan yang menghubungkan Bogor Tengah dengan wilayah-wilayah lainnya. Dengan demikian, hal ini menunjukkan juga penduduk yang tinggal di Kecamatan Bogor Tengah akan lebih mudah mengakses daerah lainnya, dari pada penduduk yang tinggal di Kecamatan Bogor Selatan. Hal tersebut ditunjukkan pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3. Jaringan Jalan Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan
KECAMATAN BOGOR TENGAH KECAMATAN BOGOR SELATAN KELAS JALAN PANJANG
JALAN (Km) KELAS JALAN
PANJANG JALAN (Km) Jalan Arteri/Utama 9,08 Jalan Arteri/Utama 2,85
Jalan Kolektor 6,79 Jalan Kolektor 0
Jalan Tol Nasional 1,17 Jalan Tol Nasional 0
TOTAL 17,04 TOTAL 2,85
Sumber: Pengolahan Data Jaringan Jalan BAPPEDA Kota Bogor Tahun 2012
Perkembangan daerah selanjutnya akan menunjukkan kondisi ekonomi daerah tersebut. Data ekonomi yang ada di setiap daerah dibuat untuk membantu dalam perencanaan suatu daerah. Namun, data ekonomi yang ada saat ini hanya disajikan melalui tabel, grafik, atau deskripsi sehingga perencanaan akan lebih sulit untuk dilakukan. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dibuat data kondisi ekonomi Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan secara spasial dengan menggunakan peta. Kecamatan yang dipilih adalah Bogor Tengah dan Bogor Selatan. Kedua daerah tersebut dipilih atas dasar pertimbangan perbedaan
4
perkembangan wilayah, di mana Bogor Tengah berfungsi sebagai pusat kota satelit, sementara Bogor Selatan berfungsi sebagai kota satelit I.
Data kondisi ekonomi ini perlu disajikan secara spasial menggunakan peta karena peta kondisi ekonomi dapat digunakan sebagai:
- Dasar perencanaan dan pengambilan keputusan terkait ekonomi - Menunjukkan lokasi suatu wilayah dengan kondisi ekonomi tertentu.
Dengan adanya peta kondisi ekonomi dari suatu daerah, maka dapat dilakukan analisis yang dapat menjawab pertanyaan what (apa), where (di mana), when (kapan), why (mengapa), who (siapa), dan how (bagaimana) terkait dengan ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan. Dengan demikian, peta ini dapat digunakan sebagai masukan dalam perencanaan wilayah Bogor Tengah dan Bogor Selatan, khususnya pada aspek ekonomi. Selain itu, melalui peta kondisi ekonomi yang akan dibuat pada penelitian ini, maka dapat diketahui distribusi spasial setiap kelas kondisi ekonomi (tinggi, sedang, rendah) sehingga dapat diketahui juga faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Data ekonomi Kota Bogor yang disajikan menggunakan tabel dan grafik selain mesajikan data ekonomi, juga digunakan sebagai perencanaan wilayah Kota Bogor, termasuk yang terkait dengan ekonominya. Namun, karena data-data tersebut tidak ada yang disajikan secara spasial menggunakan peta, maka proses perencanaan wilayah yang dilakukan tidak efektif karena tidak melihat keadaan Kota Bogor secara menyeluruh terlebih dahulu.
Data ekonomi masyarakat Kota Bogor tidak hanya cukup disajikan dalam bentuk diagram dan tabel, tapi sebaiknya juga disajikan secara spasial dalam bentuk peta. Hal ini terjadi karena peta tidak hanya memuat informasi mengenai kondisi ekonomi, tapi juga terdapat informasi mengenai posisi, baik posisi absolut maupun relatif. Adapun jenis peta yang disajikan tidak hanya dibatasi oleh batas administrasi, tapi diperinci lagi berdasarkan batas blok-blok
5
permukiman dan blok Komersial (pertokoan, rumah makan, bengkel, dan sebagainya).
Perbedaan perkembangan Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan tentu akan menunjukkan perbedaan kondisi ekonomi di kedua daerah tersebut juga. Melalui peta koondisi ekonomi ini, kemudia akan diketahui perbedaan di antara kedua kecamatan tersebut. Peta kondisi ekonomi yang akan dibuat pada penelitian ini akan menunjukkan lokasi setiap kelas kondisi ekonomi sehingga dapat dianalisis juga distribusi spasial setiap kelas kondisi ekonomi, apakah mengelompok (clustered), tersebar tidak teratur (random), atau tersebar teratur (dispersed). Analisis distribusi tersebut akan dilakukan pada Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan untuk mengetahui perbandingan persebaran setiap kelas ekonomi pada kedua daerah tersebut mengingat kedua kecamatan tersebut memiliki fungsi yang berbeda pada Kota Satelit (Kota Bogor).
Setiap distribusi spasial yang dihasilkan tentu diakibatkan oleh faktor-faktor tertentu. Maka dari itu, setelah diketahui distribusi spasial setiap kelas kondisi ekonomi melalui peta, selanjutnya akan diketahui juga faktor yang mempengaruhi persebaran kondisi tersebut secara spasial.
Berdasarkan perumusan permasalah di atas, maka akan didapatkan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah cara menyajikan data kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan secara spasial? 2. Bagaimanakah distribusi kondisi ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan
Bogor Selatan?
3. Apa sajakah faktor yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
6
1. Menyajikan data kondisi ekonomi pada blok permukiman dan komersial secara spasial sesuai dengan kaidah kartografi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
2. Mengetahui distribusi spasial kondisi ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
3. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi pada blok permukiman dan komersial di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
1.4 SASARAN PENELITIAN
1. Peta Klasifikasi Kondisi Pekerjaan Blok Permukiman Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
2. Peta Klasifikasi Kondisi Pendidikan Blok Permukiman Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
3. Peta Klasifikasi Kondisi Pendapatan Blok Permukiman Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
4. Peta Klasifikasi Kondisi Pemilikan Blok Permukiman Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
5. Peta Klasifikasi Kondisi Tempat Tinggal Blok Permukiman Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
6. Peta Klasifikasi Kondisi Jenis Usaha Blok Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
7. Peta Klasifikasi Kondisi Pendidikan Blok Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
8. Peta Klasifikasi Kondisi Pendapatan Blok Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
9. Peta Klasifikasi Kondisi Pemilikan Blok Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
10. Peta Klasifikasi Kondisi Tempat Usaha Blok Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
7
11. Peta Klasifikasi Kondisi Ekonomi Blok Permukiman dan Komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan Tahun 2015
1.5 KEGUNAAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Setelah selesai melakukan penelitian “Pemetaan Kondisi ekonomi Blok Permukiman dan Blok Komersial di Kota Bogor” ini, diharapkan dapat berguna untuk pengembangan ilmu Geografi, khususnya Kartografi. Selain itu juga diharapkan dapat bermanfaat bagi Kota Bogor sendiri, yaitu:
1. Dapat membantu dalam pemecahan masalah ketidakmerataan ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
2. Dapat menjadi masukan dalam perencanaan wilayah di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
1.6 TELAAH PUSTAKA DAN PENELITIAN SEBELUMNYA
Penelitian mengenai kartografi atau pemetaan sudah banyak dilakukan dengan berbagai macam fenomena geografis yang dipetakan, baik fenomena fisik maupun sosial. Adapun jenis-jenis penelitian mengenai pemetaan yang telah dilakukan tercantum dalam Tabel 1.4.
Penelitian pertama adalah milik Nurwinda Latifah H. (tahun 2013) yang berjudul “Pemetaan Data Penyakit Menular di Kota Semarang”. Objek yang dipetakan pada penelitian Nurwinda ini memang berbeda dengan objek yang akan dipetakan pada penelitian ini. Objek yang dipetakan pada penelitian Nurwinda adalah data penyakit menular, sementara objek yang dipetakan pada penelitian ini adalah data ekonomi (kondisi ekonomi). Selain itu, tempat dan metode yang digunakan ppun berbeda. Data penyakit yang digunakan pada penelitian Nurwinda adalah data sekunder, sedangkan data yang dipetakan pada penelitian ini berupa data primer yang didapatkan melalui sensus. Persamaan antara penelitian ini dengan penelitian Nurwinda adalah output peta yang dihasilkan, yaitu sama-sama berupa peta tematik sintetik serta proses analisis distribusi spasialnya juga menggunakan metode high/low clustering dan spatial
8
autocorrelation Morran I karena objek yang akan dianalisis distribusinya berupa area.
Penelitian kedua yang berjudul “Pemanfaatan Citra World View 2 dan Sistem Informasi Geografi untuk Pemetaan dan Evalusai Vektor Penyakit Demam Berdarah Tahun 2013: Studi Kasus Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi: milik Reiska Nabila Eka Putri (tahun 2013) ini juga memetakan objek yang berbeda dengan penelitian ini. Namun, sama halnya dengan penelitian Nurwinda, output yang dihasilkan adalah sama-sama peta tematik sintetik yang didapatkan dari scoring beberapa variabel penentu.
Penelitian ketiga milik Betania Putri Angga Sari Septiyaningtyas (tahun 2014) berjudul “Pemanfaatan Citra World View 2 dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Zona Nilai Tanah Kecamatan Klaten Selatan Tahun 2013” juga memetakan objek yang berbeda dengan objek pada penelitian ini. Namun, sebenarnya yang dipetakan berhubungan dengan aspek ekonomi, yaitu nilai tanah. Selain itu, output peta yang dihasilkan juga merupakan peta tematik dengan simbol berupa area dengan varriabel visual nilai. Hal tersebut sama halnya dengan output peta pada penelitian ini, yaitu peta kelas kondisi ekonomi masyarakat yang digambarkan dengan simbol area dan variabel visual nilai untuk menunjukkan kelas/tingkatan setiap kondisi ekonomi.
Penelitian yang berjudul “Studi Kualitas Permukiman dan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Minomartani” milik Muhammad Khusban Nurmansyah (tahun 2015) merumapakn penelitian yang bertujuan untuk mencari keterhubungan antara kualitas permukiman dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Kualitas permukiman pada penelitian ini mempertimbangkan aspek-aspek fisik seperti kemiringan lereng, drainase, curah hujan, dan jenis tanah, sedangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat mempertimbangkan kondisi pekerjaan, pendapatan, pendidikan, dan kedudukan di masyarakat. Persamaan penelitian antara penelitian penulis dengan penelitian milik Muhammad Khusban Nurmansyah adalah sama-sama menggunakan faktor pekerjaa, pendapatan, dan pendidikan untuk mengukur kondisi ekonomi. Sementara itu, perbedaannya
9
terletak pada kondisi sosial yang dikaji oleh Muhammad Khusban Nurmansyah, sementara penelitian penulis hanya mengkaji kondisi ekonomi untuk dipetakan.
Penelitian “Hubungan Status Ekonomi dengan Kejadian Infeksi Cacing Enterobius vermicularis pada Siswa SDN Panggung Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang, Jawa Tengah” milik Laras Widayani adalah penelitian yang menghubungkan kondisi ekonomi orang tua dengan infeksi cacing pada siswa SDN Panggung. Namun, penelitian ini merupakan penelitian dari Fakultas kedokteran sehingga tidak ada hasil yang disajikan secara spasial menggunakan peta. Persamaan penelitian penulis dengan penelitian milik Laras ini adalah sama-sama menggunakan ketentuan Bistok Saing untuk menentukan kondisi ekonomi. Namun, penelitian penulis mesajikan kondisi ekonomi secara spasial menggunakan peta, sementara pada penelitian Laras hanya dihubungkan dengan kejasian infeksi cacing.
Penelitian Deny Apriliya Handayani (2012) yang berjudul “Perubahan Status Sosial Ekonomi Rumah Tangga Pengungsi Desa Kapuharjo di Shelter Wukursari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY” merupakan salah satu penelitian sosial yang sama-sama memiliki fokus utama berupa kondisi ekonomi, sama seperti penelitian Penulis. Namun, kondisi ekonomi pada penelitian ini hanya mempertimbangkan variabel pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, kekayaan rumah tangga, dan pola konsumsi. Kelima variabel tersebut dipilih karena kelima variabel tersebut juga ada kemungkina berubah akibat bencana, sementara variabel pendidikan yang menjadi salah satu variabel yang Penulis gunakan tidak akan berubah karena adanya bencana.
10 Tabel 1.4 Perbandingan Penelitian Terdahulu
NO. PENULIS JUDUL TUJUAN METODE HASIL
1 Nurwinda Latifah H. (2013)
Pemetaan Data Penyakit Menular di Kota Semarang
1. Menyajikan data penyakit menular yang terjadi di Kota Semarang tahun 2006-2010 dalam bentuk peta
2. Mengetahui pola distribusi penyakit menular di Kota Semarang tahun 2006-2010 3. Mengkaji keterhubungan
kejadian penyakit menular dengan faktor yang diduga berpengaruh terhadap kejadian penyakit menular di Kota Semarang
4. Mengetahui tingkat
kerentanan penyakit menular di Kota Semarang
- Sumber data berupa data statistik yang diambil dariinstansi terkait
- Peta yang dihasilkan adalah peta tematik analiss dan sintesis - Melakukan analisis pola distribusi kejadian penyakit, analisis keterhubungan antara kejadian penyakit dengan faktor pengaruh penyakit, dan analisis tingkat kerentanan yang didapatkan dapi peta tematik sintesis.
1. Peta Tingkat Persebaran Penyakit DBD di Kota Semarang tahun 2006-2010 2. Peta Tingkat Persebaran Penyakit TB Paru di Kota Semarang tahun 2006-2010 3. Peta Tingkat Persebaran Penyakit Diare di Kota Semarang tahun 2006-2010 4. Peta Tingkat Persebaran Penyakit Pneumonia di Kota Semarang tahun 2006-2010 5. Peta Tingkat Kejadian Penyakit Menular di Kota Semarang. 6. Peta Tingkat Kondisi Lingkungan di
11 Kota Semarang. 7. Peta Tingkat Kerentanan Penyakit Menular di Kota Semarang. 8. Analisis Pola Distribusi Penyakit menular. 9. Analisis Kuantitaf Keterhubungan Penyakit Menular dengan Faktor yang Diduga Berpengaruh Terhadap Penyakit Menular. 2 Reiska Nabila Eka Putri (2013)
Pemanfaatan Citra World View 2 dan Sistem Informasi Geografi untuk Pemetaan dan Evaluasi Vektor Penyakit Demam Berdasarah Tahun 2013: Studi Kasus Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi
1. Mengkaji kemampuan citra World View 2 untuk mengekstraksi parameter kondisifisik untuk penyakit demam berdarah.
2. Memetakan tingkat kerawanan pada setiap daerah terhadap persebaran penyakit demam berdarah di Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
3. Mengevaluasi parameter lingkungan terhadap persebaran vektor penyakit demam
berdarah di Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi.
- Intepretasi citra World View 2 - Penentuan sampel dilakukan dengan metode stratified random sampling - Uji ketelitian menggunakan confusion matrix calculation - Evaluasi parameter menggunakan analisis statistik regresi. 1. Peta Klasifikasi Kerawanan terhadap Penyakit Demam Berdarah 2. Evaluasi parameter penyebab penyakit demam berdarah
12 3 Betania Putri
Angga Sari Septiyaningtyas (2014)
Pemanfaatan Citra World View 2 dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Zona Nilai Tanah Kecamatan Klaten Selatan Tahun 2013
1. Menyajikan data nilai tanah di Kecamatan Klaten Selatan secara spasial
2. Mengetahui faktor pengaruh nilai tanah di Kecamatan Klaten Selatan - Interpretasi visual berdasarkan citra World View 2 - Sistem informasi geografi digunakan untuk mengolah data spasial
- Survey lapangan untuk mengetahui nilai tanah di setiap sampel.
Peta Nilai Tanah di Kecamatan Klaten Selatan Tahun 2013 4 Muhammad Khusban Nurmansyah (2015)
Studi Kualitas Permukiman dan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa
Minomartani
1. Mengetahui kualitas permukiman di Desa Minomartani
2. Mengetahui hubungan kualitas permukiman dengan kondisi sosial ekonomi
- Kualitas permukiman didapatkan melalui overlay dan skoring variabel fisik lahan (kemiringan lereng, drainase, curah hujan, dan jenis tanah) - Kondisi sosial ekonomi didapatkan melalui quesioner dengan mempertimbangkan pekerjaan, pendapatan, pendidikan, pemilikan, dan tempat tinggal.
1. PetaKualitas Permukiman Desa Munimartani 2. Kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Minomartani 3. Keterhubungan kualitas permukiman dan kondisi sosial ekonomi Desa Minomartani 5 Laras Widayanti (2008)
Hubungan Status Ekonomi dengan Kejadian Infeksi Cacing Enterobius vermicularis pada Siswa SDN Panggung Kelurahan
Mengetahui hubungan antara status ekonomi dengan infeksi cacing E. vermicularis pada SDN Panggung
- Pengumpulan data status ekonomi menggunakan quesioner yang diisi oleh orang tua siswa
1. Kondisi sosial ekonomi orang tua siswa SDN Panggung 2. Keterinfeksian
13 Mangunharjo, Kecamatan
Tugu, Semarang, Jawa Tengah
dan dinilai menurut sistem skoring Bistok Saing.
- Infeksi E. vermicularis dinilai berdasarkan pemeriksaan hapus anus pada siswa dengan metode Scotch adhesive tape. - Analisis menggunakan metode perhitungan rasio prevalens. siswa SDN Panggung 3. Keterhubungan antara infeksi E. vermicularis siswa dengan kondisi sosial ekonomi orang tua siswa.
6 Deny Apriliya Handayani (2012)
Perubahan Status Sosial Ekonomi Rumah Tangga Pengungsi Desa Kapuharjo di Shelter Wukursari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY
1. Mengetahui dampak bencana erupsi Merapi terhadap perubahan status sosial ekonomi rumah tangga
2. Mengetahui perbedaan kondisi sosial ekonomi rumah tangga korban sebelum dan setelah bencana - Kondisi ekonomi didapatkan dari skoring pekerjaan, pendapatan, pengeluaran, kekayaan rumah tangga, dan pola konsumsi. Kondisi ekonomi tersebut dihitung saat sebelum dan setelah bencana. - Analisis perubahan kondisi ekonomi rumah tangga menggunakan metode deskriptif dengan bantuan tabel dan grafik sehingga perubahan kondisi 1. Dampak dari bencana erupsi Gunungapi merapi tahun 2010 2. Perbedaan status sosial ekonomi rumah tangga korbansetelah dan sebelum bencana
14
ekonomi terlihat jelas. - Perubahan kondisi
ekonomi ini juga dianalisis menggunakan uji T (Paired Sample T-Test). - Analisis Chi_Square digunakan untuk mengetahui variabel sama atau berbeda sebelum dan setelah bencana dengan menggunakan skala data nominal dan ordinal.
7 Puspa
Kusumawardani (2015)
Pemetaan Kondisi Ekonomi Tahun 2015 (Studi Kasus Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan)
1. Menyajikan data kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial secara spasial sesuai dengan kaidah kartografi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
2. Mengetahui distribusi spasial setiap kondisi ekonomi di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
3. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial di Kecamatan
- Sensus variabel-variabel penentu kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial (pendidikan, pendapatan,
pemilikan, pekerjaan, dan kondisi tempat tinggal/usaha) melalui quesioner.
- Variabel kondisi ekonomi diskoring berdasarkan ketentuan Bistok Saing sehingga
1. Peta Kelas Kondisi Ekonomi blok permukiman dan komersial Kecatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan 2. Analisis Distribusi Kelas Kondisi Ekonomi 3. Analisis Faktor Penyebab Distribusi Kelas Kondisi Ekonomi blok permukiman dan komersial
15
Bogor Tengah dan Bogor Selatan.
didapatkan klasifikasi kelas tinggi, rendah, dan sedang.
- Analisis distribusi setiap kelas kondisi ekonomi menggunakan high/low clustering dan spatial autocorrelation moran I.
- Analisis faktor yang mempengaruhi distribusi kelas kondisi ekonomi blok permukiman dan komersial. Sumber: Studi Pustaka, 2015
16 1.7 TINJAUAN PUSTAKA
1.7.1 Ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu bagian dari ilmu sosial yang khusus mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa. Ekonomi berasal dari kata oikos (rumah tangga) dan nomos (ilmu). Jadi, ekonomi bisa juga disebut sebagai ilmu yang mengatur rumah tangga atau cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditas dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat (Samuelson, 1997).
Menurut Friedman (2004), faktor yang mempengaruhi kondisi ekonomi masyarakat adalah:
Pekerjaan
Pekerjaan akan menentukan kondisi sosial ekonomi karena dengan bekerja, maka segala kebutuhan dapat terpenuhi. Pekerjaan seseorang akan mempengaruhi kemampuan ekonominya, untuk itu bekerja merupakan suatu keharusan bagi setiap individu sebab dalam bekerja mengandung dua segi, kepuasan jasmani dan terpenuhinya kebutuhan hidup. Pekerjaan adalah kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa bagi diri sendiri atau orang lain, baik orang melakukan dengan dibayar atau tidak (Sukanto, 2003). Dengan bekerja, maka orang akan memperoleh pendapatan (Sumardi, 2004). Kemudian menurut pedoman ISCO (International Standart Clasification of Oecupation) pekerjaan diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Pekerjaan yang berstatus tinggi, yaitu tenaga ahli teknik dan ahli jenis, pemimpin ketatalaksanaan dalam suatu instansi baik pemerintah maupun swasta, tenaga administrasi tata usaha. b. Pekerjaan yang berstatus sedang, yaitu pekerjaan di bidang
17
c. Pekerjaan yang berstatus rendah, yaitu petani dan operator alat angkut/bengkel.
Pendidikan
Pendidikan sangatlah penting peranannya dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan memiliki pendidikan yang cukup maka seseorang akan mengetahui mana yang baik dan mana yang dapat menjadikan seseorang menjadi berguna baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain yang membutuhkannya. Pendidikan merupakan suatu alat yang akan membina dan mendorong seseorang untuk berfikir secara rasional maupun logis, dapat meningkatkan kesadaran untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya (seefektif dan seefisien mungkin) dengan menyerap banyak pengalaman mengenai keahlian dan keterampilan sehingga menjadi cepat tanggap terhadap gejala-gejala sosial yang terjadi (Soekanto, 2003). Menurut Kartono dalam Sardiman (2002), pendidikan adalah segala perbuatan yang etis, kreatif, sistematis dan intensional dibantu oleh metode dan teknik ilmiah diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tertentu.
Pendapatan
Pendapatan akan menunjukaan tingkat ekonomi seseorang. Christopher dalam Sumardi (2004) mendefinisikan pendapatan berdasarkan kamus ekonomi adalah uang yang diterima oleh seseorang dalam bentuk gaji, upah sewa, bunga, laba, dan lain sebagainya.
Pemilikan
Pemilikan barang-barang yang berharga pun dapat digunakan untuk ukuran tingakat ekonomi. Semakin banyak seseorang itu memiliki sesuatu yang berharga seperti rumah dan tanah, maka dapat dikatakan bahwa orang itu mempunyai kemampuan ekonomi yang tinggi. Dalam penelitian ini, barang berharga yang dipertimbangkan dalam parameter pemilikan adalah TV, telepon/HP, lemari es, dan mobil/motor.
18 Jenis Tempat Tinggal
Rumah dapat mewujudkan suatu tingkat sosial ekonomi bagi keluarga yang menempati apabila rumah tersebut berbeda dalam hal ukuran dan kualitas. Menurut Kaare Svalastoga dalam Sumardi (2004) untuk mengukur tingkat sosial ekonomi seseorang dari rumahnya, dapat dilihat dari :
a. Kondisi rumah yang ditempati, bisa rumah sendiri, rumah dinas, menyewa, menumpang pada saudara atau ikut orang lain.
b. Kondisi fisik bangunan, dapat berupa rumah permanen, kayu dan bambu. Keluarga yang keadaan sosial ekonominya tinggi, pada umumnya menempati rumah permanent, sedangkan keluarga yang keadaan sosial ekonominya menengah kebawah menggunakan semi permanen atau tidak permanen.
c. Besarnya rumah yang ditempati, semakin luas rumah yang ditempati pada umumnya semakin tinggi tingkat sosial ekonominya.
Kelima parameter di atas (pekerjaan, pendapatan, pendidikan, pemilikan, dan kondisi tempat tinggal) merupakan lima parameter yang akan digunakan dalam menentukan tingkat ekonomi dalam penelitian ini.
1.7.2 Kartografi
Kartografi berasal dari bahasa Yunani “Karto” atau “Carto” yang berarti permukaan dan “Gaft” yang berarti gambaran atau bentuk sehingga kartografi adalah gambaran permukaan atau gambaran permukaan bumi. Dalam pengertian lain, kartografi berarti ilmu tentang membuat peta.
Kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi tentang pembuatan peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dari hasil karya seni (ICA,1973). Menurut Taylor, (1991) dalam Kraak dan Ormeling, (2007) mendefinisikan kartografi sebagai organisasi, presentasi, komunikasi dan penggunaan geo-informasi dalam bentuk
19
grafis, digital atau format nyata. Pendapat lain menyatakan, arti istilah kartografi menurut Kraak dan Ormeling, (2007) telah berubah secara fundamental sejak tahun 1960. Sebelumnya kartografi didefinisikan sebagai ”pembuatan peta”. Perubahan definisi disebabkan oleh:
- Kenyataan bahwa kartografi telah dikelompokkan dalam bidang ilmu pengetahuan komunikasi
- Hadirnya teknologi komputer
Penyebab dari perubahan tersebut karena kartografi telah dikelompokkan dalam ilmu pengetahuan komunikasi dan hadirnya teknologi komputer yang selalu berkembang dari waktu ke waktu. Mengacu dari definisi kartografi sebelumnya, kartografi sekarang juga meliputi penyampaian dan analisis informasi geospasial dalam bentuk peta. Hal ini menghasilkan pandangan, tidak hanya sebagai pembuatan peta semata, tetapi penggunaan peta juga termasuk pada bidang kartografi.
Tujuan kartografi adalah menumpulkan dan menganalisis data dari hasil ukuran dari berbagai pola/unsur permukaan bumi dan menyatakan secara grafis dengan skala yang sedemikian rupa sehingga unsur-unsur tersebut dapat terlihat dengan jelas, mudah dimengerti dan dipahami. Tujuan dari kartografi adalah mengumpulkan dan menganalisa data dari lapangan yang berupa unsur-unsur permukaan bumi dan menyajikan unsur-unsur tersebut secara grafis dengan skala tertentu sehingga unsur-unsur tersebut dapat terlihat jelas, mudah dimengerti, dan dipahami.Subjek kartografi adalah studi tentang manifesta grafis fenomena keruangan (spasial) atau fenomena geografis. Objek kartografi adalah pembuatan peta sebagai refleksi dari dunia nyata. Subjek kartografi telah mengalami perkembangan akbat pesatnya kemajuan teknologi komputer, penginderaan jauh, sistem penentuan posisi melalui satelit (GPS), dan internet. Perubahan kartografi yang terjadi tersebut tidak terlepas dari dua hal, yaitu kebutuhan masyarakat akan data keruangan yang besar untuk mengatasi dan mengelola masalah lingkungan, serta kemajuan elektronik
20
menjanjikan suau cara mengelola data keruangan yang sangat besar dalam kurun waktu terbatas.
1.7.3 Peta
Peta merupakan representasi grafis tentang lingkungan geografikal (Robinson, Morrison, Muehrcke, Kimerling, dan Guptil: 1995). Lingkungan geografikal tersebut termasuk semua aspek lingkungan cultural dan fisikal (Dent, Torguson, dan Hodler: 2009). Sementara peta menurut ICA adalah gambaran permukaan bumi yang digambar pada permukaan datar, dan diperkecil dengan skala tertentu dan juga dilengkapi simbol sebagai penjelas.
Peta digunakan sebagai salah satu media untuk representasi data karena peta memiliki fungsi dan tujuan sebagai berikut:
Fungsi Peta:
- Sebagai petunjuk arah atau posisi
- Sebagai alat untuk menentukan letak suatu lokasi, kawasan, atau daerah
- Sebagai alat untuk mengetahui keadaan fisik suatu daerah seperti bentuk permukaan, iklim, jenis tanah, curah hujan, ketinggian, dll - Sebagai alat untuk mengetahui luas suatu wilayah dan keadaan
sosiografisnya seperti penyebaran penduduk, kepadatan penduduk, tata guna lahan, dan lain-lain.
- Sebagai alat untuk menerangkan sasaran suatu wilayah baik untuk keperluan sipil, militer ataupun bidang ilmiah lainnya.
Tujuan Pembuatan Peta:
- Membantu suatu pekerjaan
- Analisis data spasial, misalnya volume - Menyimpan informasi
- Membantu dalam pembuatan suatu desain - Komunikasi informasi ruang
21
Peta digunakan untuk visualisasi data keruangan (geospasial), yaitu data yang berkenaan dengan lokasi atau atribut dari suati objek atau fenomena di permukaan bumi. Peta membantu penggunanya untuk memahami hubungan geospasial secara lebih baik. Dari peta, informasi tentang jarak, arah dan luasan dapat diperoleh, diketahui pola dan hubungannya serta dapat diketahui ukurannya. Perkembangan data geospasial digital telah meningkat dengan pesat. Akibatnya lingkungan dimana peta tersebut digunakan telah berubah drastis untuk sebagian besar penggunanya. Peta dapat ditampilkan di layar komputer (on screen map). Melalui peta jenis tersebut, basisdata yang tersusun dari peta dapat diolah dan beberapa fungsi analisis dapat diakses melalui menu atau legendanya.
Perangkat lunak yang memungkinkan bagi pencarian dan analisis data geospasial dinamakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografi (SIG) diartikan sebagai sistem informasiyang digunakan untuk memasukkan menyimpan, memanggil kembali, mengolah, menganalisis, dan menghasilkan data bereferesi geografis atau data geospasial untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan, sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya (Murai S, 2000). SIG mengenalkan integrasi data geospasial dari beberapa sumber data yang berbeda. Fungsi ini menyebabkan SIG mampu memanipulasi, menganalisis dan memvisualisasi gabungan data. Peta tidak lagi sebagai hasil akhir seperti yang selama ini dipahami. Peta kertas hasil cetakan berfungsi sebagai media untuk menyimpan dan menampilkan data geospasial. Pengenalan pada layar komputer dan hubungan basisdatanya telah membedakan fungsi diantara kedua peta tersebut. Bagi ahli kartografi on screen map telah membawa ketersediaan basisdata dan teknik komputer grafis untuk menghasilkan tampilan yang baru, misalnya bentuk tiga dimensi dan peta animasi. Dalam lingkungan SIG, analisis geospasial selalu diawali dengan peta, dan peta mendukung proses pengambilan keputusan.
22
Beberapa alasan bahwa kartografi dianggap sebagai pendukung penting untuk seluruh aspek dalam menangani SIG, antara lain :
Peta merupakan tampilan SIG secara langsung dan interaktif, yang menggambarkan dimensi geospasial.
Peta dapat digunakan sebagai indeks visual fenomena suatu objek yang terkandung dalam suatu sistem informasi.
Peta sebagai bentuk visualisasi, dapat membantu eksplorasi data secara visual dan komunikasi visual hasil dari suatu SIG.
Sebagai output, perangkat lunak desain interaktif dari desktop kartografi mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai output dari SIG yang mutakhir.
Berdasarkan isi datanya, peta dibagi menjadi dua jenis, yaitu peta umum dan peta tematik. Adapun penjelasan mengenai kedua peta tersebut adalah sebagai berikut:
- Peta Umum adalah peta yang menggambarkan keadaan geografis di permukaan bumi secara umum. Adapun peta umum dibagi lagi menjadi 3, yaitu peta topografi, peta chorografi, dan peta dunia.
- Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan informasi dengan tema tertentu/khusus, misalnya: peta Geologi, peta pegunungan lahan, peta persebaran objek wisata, peta kepadatan penduduk, dan sebagainya.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, peta tematik yaitu peta yang menggambarkan keadaan khusus daerah yang dipetakan. Pada prinsipnya unsur-unsur peta tematik sama dengan peta pada umumnya. Peta tematik hanya menyajikan tema atau unsur-unsur tertentu saja. Komponen-komponen peta pada umumnya tidak berlaku mutlak untuk peta tematik, karena peta tematik memerlukan simbol-simbol khusus sesuai dengan tema peta.
Peta tematik kemudian diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu peta analisis dan sintesis. Adapun yang dimaksud dengan peta tematik analisis adalah peta tematik yang hanya memiliki satu tema, misalnya peta
23
kepadatan penduduk. Sementara peta tematik sintesis adalah peta tematik yang terdiri dari dua tema atau lebih yang digabungkan menjadi satu untuk mendapatkan tema lainnya.
Penggambaran peta tematik dalam prosesnya membutuhkan data. Adapun data dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan ukurannya, yaitu:
- Data Nominal, yaitu data yang tidak memiliki nilai dan tingkatan. - Data Ordinal, yaitu data yang hanya memiliki tingkatan tapi tidak
memiliki nilai.
- Data Rasio, yaitu data yang memiliki nilai, tapi tidak memiliki nilai 0 (nol) mutlak.
- Data Interval, yaitu data yang berasal dari hasil mengukur suatu variabel sehingga memiliki nilai 0 (nol) mutlak.
Selain ukuran data, variabel visual pun perlu diperhatikan dalam desain simbol peta tematik sehingga menghasilkan persepsi visual yang sesuai dengan tujuan pembuatan peta. Adapun hubungan antara simbol, variabel, dan persepsi visual digambarkan dalam tabel di bawah ini
Tabel 1.5 Hubungan Simbol, Variabel, dan Persepsi Visual
SIMBOL PERSEPSI VISUAL
Titik Garis Area Asosiatif Aselektif Bertingkat Kuantitatif
Size Value Tekstur Warna Arah Bentuk
Sumber: Bertin’s Semiology of Graphics, 1983
Adapun peta hasil dari penelitian ini (peta kelas kondisi ekonomi masyarakat) adalah peta tematik sintetik karena peta ini digambarkan berdasarkan variabel pekerjaan, pendapatan, pendidikan, pemilikan, dan kondisi tempat tinggal, sementara cara menggambarkannya adalah dengan peta dasymetric. Peta jenis ini hampir sama dengan peta choropleth yang menggambarkan fenomena di permukaan bumi dengan menggunakan
24
warna/shading, tapi batas pada peta dasymetric lebih spesifik dari pada peta choropleth. Adapun cara penggambaran peta ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian metode.
1.8 KERANGKA PEMIKIRAN
Penelitian ini berawal dari masalah kependudukan, di mana tingginya angka kelahiran dan fenomena urbanisasi (perpindahan penduduk dari desa ke kota) yang dapat menyebabkan peningkatan jumlah penduduk yang akhirnya juga meningkatkan kebutuhan penduduk akan tempat tinggal (rumah). Harga lahan yang bermacam-macam di Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan, kondisi geografis, dan letak rumah menyebabkan perbedaan karakteristik blok permukiman dari aspek kepadatan, pola, ukuran, dan jarak terhadap jalan utama. Harga lahan ini menjadi penyebab perbedaan karakteristik blok permukiman karena kemampuan membeli setiap penduduk tidak sama. Penduduk dengan kemampuan membeli yang rendah cenderung akan memilih untuk bertempat tinggal di wilayah dengan harga lahan rendah, sedangkan penduduk dengan kemampuan membeli yang tinggi cenderung akan memilih untuk bertempat tinggal di wilayah dengan harga lahan tinggi pula. Blok-blok permukiman dengan karakteristik sama diasumsikan memiliki kondisi ekonomi yang sama pula sehingga dengan adanya perbedaan karakteristik blok permukiman, maka akan terjadi juga perbedaan kondisi ekonomi pada blok permukiman.
Keberadaan jaringan jalan akan menyebabkan terbangunnya blok-blok komersial karena jaringan jalan akan menjadi penghubung antara konsumen dengan tempat-tempat usaha di dalam blok komersial. Semakin dekat dengan jalan utama, maka harga lahan akan semakin tinggi karena kemungkinan besar konsumen akan melewati jalan utama tersebut. Harga lahan, kondisi geografis, dan letak kemudian menyebabkan perbedaan karakteristik blok komersial dari aspek kepadatan, pola, ukuran, dan jarak terhadap jalan utama. Perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan kondisi ekonomi pada blok komersial karena blok komersial dengan karakteristik sama diasumsikan memiliki kondisi ekonomi sama pula.
25
Kota Bogor, khususnya Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan, pada saat ini belum memiliki data ekonomi yang disajikan secara spasial, yang ada hanya berupa tabel, grafik, dan deskripsi.Hal ini akan menyebabkan proses perencanaan wilayah dan ekonomi menjadi kurang efektif karena perencanaan harus melihat wilayah yang akan direncanakan secara komprehensif (menyeluruh) terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk mesajikan data kondisi ekonomi masyarakat Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan secara spasial dengan menggunakan Peta Kondisi Ekonomi blok permukiman dan komersial Kecamatan Bogor Tengah dan Bogor Selatan. Adapun data yang akan dipetakan berasal dari proses sensus kondisi ekonomi masyarakat yang akan dijelaskan pada bagian metode dengan bantuan Sistem Informasi Geografi. Setelah selesai dipetakan, selanjutnya dapat diketahui sebaran/distribusi setiap kondisi ekonomi secara spasial.
26
Gambar 1.1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Tingginya Angka Kelahiran
Urbanisasi
Peningkatan Jumlah Penduduk
Belum ada Data Ekonomi yang
Dispasialkan
Dispasialkan
Input: Data Hasil Sensus Proses: Bantuan SIG
Peta Kondisi Ekonomi pada Blok Permukiman dan Komersial
Analisis Distribusi Spasial
Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Ekonomi
Perencanaan Wilayah Lebih Sulit dan Tidak
Efektif Peningkatan
Kebutuhan Rumah
Perbedaan Karakteristik Blok Permukiman (Kepadatan, Pola, Ukuran, dan Jarak
terhadap Jalan Utama)
Perbedaan Kondisi Pekerjaan, Pendapatan, Pendidikan, Pemilikan, dan Tempat Tinggal
Perbedaan Kondisi Ekonomi pada Blok Permukiman
Harga Lahan, Kondisi Geografis, dan Letak
Jaringan Jalan
Blok Komersial
Perbedaan Karakteristik Blok Komersial (Kepadatan, Pola, Ukuran, dan Jarak
terhadap Jalan Utama)
Perbedaan Kondisi Jenis Usaha, Pendapatan, Pendidikan, Pemilikan, dan Tempat Usaha
Perbedaan Kondisi Ekonomi pada Blok Komersial
27 1.9 BATASAN ISTILAH
1. Ekonomi adalah ilmu yang mengatur rumah tangga atau cara-cara yang dilakukan oleh manusia dan kelompoknya untuk memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk memperoleh berbagai komoditas dan mendistribusikannya untuk dikonsumsi oleh masyarakat (Samuelson, 1997).
2. Kondisi Ekonomi adalah keadaan ekonomi yang diukur melalui jumlah rupiah pendapatan atau penghasilan rata-rata per bulan berdasarkan upah minimal rata-rata.
3. Kartografi adalah seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi tentang pembuatan peta, sekaligus mencakup studinya sebagai dokumen-dokumen ilmiah dari hasil karya seni (ICA,1973).
4. Peta adalah gambaran atau representasi unsure-unsur kenampakan abstrak yang dipilih dari permukaan bumi yang ada kaitannya dengan permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan (ICA, 1973).
5. Peta Tematik adalah peta yang menggambarkan informasi dengan tema tertentu/khusus.
6. Klasifikasi adalah suatu proses penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang telah ditetapkan (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
7. Generalisasi adalah proses mereduksi jumlah detail peta degan cara yang masih penuh arti (meaningfull way).
8. Simbol adalah tanda atau gambar yang mewakili kenampakan di permukaan bumi yang terdapat pada peta.
9. Layout adalah menyusun penempatan-penempatan dari pada informasi yang tertera dalam sebuah peta, baik peta tematik maupun peta RBI. 10. Analisis Peta adalah kegiatan menganalisis kenampakan yang ada pada
peta kemudian menguraikan, mengulas kenampakan tersebut dan mengevaluasi serta mencari hubungan antara kenampakan yang satu dengan yang lain (Philip M, 1978).