• Tidak ada hasil yang ditemukan

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

II-1 Laporan Akhir

2.1. Wilayah Administrasi

Gambaran administratif wilayah memberikan gambaran umum mengenai wilayah administratif kabupaten/kota, sebagai dasar pengembangan kawasan dan infrastruktur Bidang Cipta Karya.

 Koordinat Wilayah Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar berada di sebelah Selatan Khatulistiwa, terletak pada

111°40¹-112°10¹ Bujur Timur dan 7°58¹-8°9¹51¹¹ Lintang Selatan. Kabupaten Blitar merupakan bagian dari wilayah Propinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak di sebelah Utara Jawa Timur.Kabupaten Blitar mempunyai luasan 1.588,79 Km2.

 Gambaran Administrasi wilayah, Batas wilayah dan Jumlah Kecamatan dan Kelurahan Kabupaten Blitar memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang Sebelah Selatan : Samudera Indonesia

Sebelah Barat : Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri Sebelah Timur : Kabupaten Malang

Secara administrasi wilayah Kabupaten Blitar terdiri dari 22 Kecamatan, 28 kelurahan 220 desa dan 666 dusun. Adapun kecamatan yang ada di wilayah Kabupaten Blitar tersebut meliputi Kecamatan Bakung, Kecamatan Wonotirto, Kecamatan Panggungrejo, Kecamatan Wates, Kecamatan Binangun, Kecamatan Sutojayan, Kecamatan Kademangan, Kecamatan Kanigoro,

(2)

II-2 Laporan Akhir

Kecamatan Talun, Kecamatan Selopuro, Kecamatan Kesamben, Kecamatan Selorejo, Kecamatan Doko, Kecamatan Wlingi, Kecamatan Gandusari, Kecamatan Garum, Kecamatan Nglegok, Kecamatan Sanankulon, Kecamatan Ponggok, Kecamatan Srengat, Kecamatan Wonodadi dan Kecamatan Udanawu. Untuk luas wilayah masing-masing kecamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1

..Luas Kecamatan di Kabupaten Blitar Tahun 2012 No Kecamatan Luas (Km2) 1 Bakung 111.24 2 Wonotirto 162.54 3 Panggungrejo 119.04 4 Wates 68.76 5 Binangun 76.79 6 Sutojayan 42.2 7 Kademangan 105.28 8 Kanigoro 55.55 9 Talun 49.78 10 Selopuro 39.29 11 Kesamben 56.96 12 Selorejo 52.23 13 Doko 70.95 14 Wlingi 66.36 15 Gandusari 88.23

(3)

II-3 Laporan Akhir 16 Garum 52.56 17 Nglegok 92.56 18 Sanankulon 33.33 19 Ponggok 103.83 20 Srengat 53.98 21 Wonodadi 40.35 22 Udanawu 40.98 Jumlah 1588.79

Sumber : Kabupaten Blitar Dalam Angka, 2012

 Peta Wilayah Administratif

(4)

II-4 Laporan Akhir

2.2. Potensi Wilayah kabupaten/Kota

Kondisi perekonomian yang ada di Kabupaten Blitar bergerak dalam berbagai sektor diantaranya adalah pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, pertambangan, perindustrian dan pariwisata.

Pertanian

A. Tanaman Pangan

Kabupaten Blitar merupakan daerah yang beriklim tropis, karena itu wilayah ini memiliki potensi pengembangan tanaman pangan/tanaman semusim. Jenis pertanian tanaman pangan di Kabupaten Blitar berupa padi sawah, padi ladang, jagung ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah dan kedelai. Adapun jumlah produksi pertanian tanaman pangan yang paling besar berdasarkan data pada tahun 2009 adalah padi sawah, sebesar 2.735.195,88 Kw sedangkan jumlah produsi yang paling kecil kedelai yaitu sebesar 105.029,19 Kw. Pengembangan tanaman pada musim kemarau untuk padi mengambil air dengan sistem tadah hujan dan masyarakat menggunakan tumpang sari sebagai tanaman sampingan.

a. Padi Sawah

Jumlah produksi pertanian tanaman pangan padi sawah pada tahun 2009 adalah sebesar 2.735.195,88 Kw dengan produksi paling besar adalah di Kecamatan Kesamben yaitu sebesar 223.667,04 Kw dengan luas areal sebesar 3.408 Ha. Sedangkan kecamatan yang memiliki hasil produksi padi sawah terkecil adalah Kecamatan Bakung, sebesar 6.563 Kw dengan luas areal 100 Ha.

Selama kurun waktu lima tahun yaitu mulai tahun 2003 - 2009 produksi padi sawah secara keseluruhan di Kabupaten Blitar mengalami naik turun. Selain itu dilihat dari luas areal padi sawah juga mengalami naik turun. Hal ini disebabkan oleh perubahan jenis tanaman yang ditanam di lahan tersebut.

b. Padi Ladang

Pada tahun 2009, padi ladang hanya dihasilkan pada beberapa kecamatan, yaitu Kecamatan Bakung, Wonotirto, Panggungrejo, Wates, Sutojayan, Kademangan, Kesamben dan Selorejo dengan jumlah produksi keseluruhan adalah 138.563,10 Kw. Produksi padi ladang paling besar dihasilkan di Kecamatan Bakung yaitu sebesar 35.234,10 Kw dengan luas areal 735 Ha. Untuk

(5)

II-5 Laporan Akhir

hasil produksi paling kecil terdapat di Kecamatan Selorejo, sebesar 624,78 Kw dengan luas areal 13 Ha.

c. Jagung

Pertanian tanaman jagung hampir terdapat di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar, kecuali di Kecamatan Wlingi dengan total jumlah produksi jagung pada tahun 2009 adalah 2.366.062,66 Kw. Produksi terbesar terdapat di Kecamatan Panggungrejo, yaitu sebesar 239.065,84 Kw dengan lahan seluas 4.024 Ha. Sedangkan produksi paling sedikit terdapat di Kecamatan Kesamben, yaitu sebesar 8.139,17 Kw dengan lahan seluas 568 Ha.

d. Ketela Pohon

Jenis tanaman ketela pohon tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Total produksi yang dihasilkan pada tahun 2009 adalah 418.308,06 Kw dan luas areal panennya adalah 3.347 Ha. hasil produksi ketela pohon terbesar terdapat di Kecamatan Panggungrejo sebesar 104.483,28 Kw dan hasil terkecil di Kecamatan Talun, sebesar 540 Kw.

e. Ketela Rambat

Perkembangan produksi ketela rambat di Kabupaten Blitar secara global, menurut data selama lima tahun cenderung mengalami penurunan. Sampai dengan tahun 2009, jumlah produksi ketela rambat adalah 24.951,96 Kw. Persebaran produksi ketela rambat ini tidak merata di seluruh kecamatan yang ada, hanya terdapat di beberapa kecamatan saja yang produksi ketela rambat , yaitu Kecamatan Kanigoro, Talun, Selopuro, Selorejo, Gandusari, Garum, Nglegok, Sanankulon dan Ponggok. Jumlah produksi paling besar dihasilkan di Kecamatan Ponggok, yaitu sebesar 10.08160 Kw dengan lahan seluas 40 Ha. Sedangkan jumlah produksi paling kecil terdapat di Kecamatan Kanigoro yaitu sebesar 252 Kw dengan luas lahan masing-masing adalah 1 Ha. f. Kacang Tanah

Tanaman pangan jenis kacang tanah ini tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar kecuali pada Kecamatan Binangun dan Kecamatan Wlingi. Jumlah produksi kacang tanah di Kabupaten Blitar tahun 2009 sebesar 50.749,11 Kw dengan rata-rata produksi sebesar 9,91 Kw/Ha.

Produksi kacang tanah terbesar berada di Kecamatan Wonotirto dengan jumlah produksi sebesar 26.449,79 Kw dan luas lahannya adalah 2.669 Ha. Sedangkan produksi kacang tanah terkecil berada di Kecamatan Gandusari, yaitu sebesar 109,01Kw, dengan luas lahan 11 Ha.

(6)

II-6 Laporan Akhir

g. Kedelai

Tingkat perkembangan produksi kedelai di Kabupaten Blitar selama kurun waktu lima tahun cenderung mengalami peningkatan meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2003 dan pada tahun 2007. Sampai dengan tahun 2007 ini, jumlah produksi kedelai di Kabupaten Blitar adalah sebesar 105.029,19 Kw dengan total lahan seluas 11.529 Ha.

Persebaran kedelai ini hanya terdapat di beberapa kecamatan, meliputi Kecamatan Bakung, Wonotirto, Panggungrejo, Wates, Binangun, Sutojayan, Kademangan, Selopuro dan Selorejo. Kecamatan yang memiliki produksi kedelai terbesar adalah Kecamatan Panggungrejo dengan jumlah produksi sebesar 32.877,99 Kw dan luas lahan sebesar 3.609 Ha. Sedangkan yang memiliki produksi kedelai terkecil adalah Kecamatan Selopuro dengan jumlah produksi sebesar 9,11 Kw dan luas lahan sebesar 1 Ha.

Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah produksi pertanian tanaman pangan Kabupaten Blitar Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.23 di bawah ini.

B. Holtikultura

Tanaman hortikultura yang berkembang di Kabupaten Blitar terdiri dari dua jenis yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan.

a. Sayur-sayuran

Komoditi sayur-sayuran yang terdapat di Kabupaten Blitar adalah berupa Kobis, Sawi, Kacang Panjang, Cabe Besar, Cabe Kecil, Tomat Terung, Ketimun, Buncis, Bayam, melon, Semangka, Kentang, dan Kembang ko.. Dari sekian banyak komoditi yang ada pada tahun 2007, cabe merupakan komoditi yang memiliki produksi terbesar, yaitu sebesar 142.437 Kw. Kecamatan yang memiliki produksi cabe terbesar adalah Kecamatan Panggungrejo, sebesar 28.817 dengan luas lahan 378 Ha. Sedangkan kecamatan yang memiliki lahan untuk tanaman cabe namun pada tahun 2002 tidak berproduksi adalah Kecamatan Bakung dengan lahan seluas 10 Ha.

Selain cabe, komoditi kacang panjang menempati urutan kedua dengan total nilai produksi sebesar 48.893,97 Kw. Penghasil produksi kacang panjang terbesar adalah Kecamatan Nglegok dengan produksi sebesar 6.356,22 Kw dan yang memiliki lahan tanaman kacang panjang namun tidak berproduksi pada tahun 2002 adalah Kecamatan Bakung dengan luas lahan 10 Ha.

Komoditi lainnya yang memiliki nilai produksi lumayan besar adalah tomat, yang terdapat hampir di seluruh kecamatan yang ada, kecuali Kecamatan Bakung, Kecamatan Panggungrejo, Wates,

(7)

II-7 Laporan Akhir

Binangun, Kademangan, dan Doko. Kecamatan penghasil tomat terbesar adalah Kecamatan Wonodadi dengan produksi sebesar 19.325 Kw dan lahan seluas 137 Ha. Sedangkan kecamatan penghasil tomat terkecil adalah Kecamatan Wonotirto, yaitu sebesar 3,25 Kw dengan luas lahan sebesar 5 Ha.

Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah produksi pertanian tanaman Sayuran di Kabupaten Blitar Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.24 di bawah ini.

b. Buah-buahan

Jumlah produksi komoditi buah-buahan yang ada di Kabupaten Blitar adalah Apokat, Mangga, Salak, Belimbing, Duku, Jambu Air, Durian, Rambutan, Jeruk Siam, Jeruk Besar, Nanas, Pepaya, Mlinjo, Blimbing, Jambu Biji, Manggis, Nangka, Pisang, Sawo, Sirsak, Sukun, Semangka, dan Melon.

 Apokat

Produksi apokat pada tahun 2009 adalah sebesar 19.905,37 Kw dengan lokasi tersebar hampir di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar, kecuali Kecamatan Garum. Kecamatan penghasil buah apokat terbesar adalah Kecamatan Gandusari dengan hasil produksi sebesar 3.480,16 Kw. Sedangkan penghasil terkecil adalah Kecamatan Kademangan, sebesar 5,16 Kw.  Mangga

Hampir di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar memproduksi mangga, kecuali di Kecamatan Bakung, Kanigoro, Wlingi dan Garum. Pada tahun 2007 produksi terbesar sebesar 16.027,64 Kw di Kecamatan Panggungrejo dan produksi terkecil sebesar 367,44 Kw di Kecamatan Binangun.

 Salak

Berdasarkan data tahun 2009 ada 2 (dua) kecamatan di Kabupaten Blitar yang tidak memiliki produksi salak, yaitu Kecamatan Bakung dan Wates. Produksi terbesar salak di Kecamatan Talun, sebanyak 2.905,17 Kw dan terkecil di Kecamatan Kademangan sebesar 1,99 Kw.  Duku

Ada 8 (delapan) kecamatan yang tidak menghasilkan tanaman duku yaitu di kecamatan Bakung, Wonotirto, Panggungrejo, Wates, Binangun, Garum dan Ponggok. Produksi duku terbesar pada tahun 2009 terdapat di Kecamatan Gandusari sebesar 1.049,94 Kw dan produksi terkecil sebesar 0,83 Kw di Kecamatan Kademangan.

(8)

II-8 Laporan Akhir

Jambu air hanya terdapat pada sebagian kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Pada tahun 2009, rata-rata roduksi jambu air di Kabupaten Blitar adalah 19,80 Kg/pohon dengan jumlah produksi sebesar 1.269 Kw. Hasil produksi jambu air terbesar berada di Kecamatan Sutojayan, yaitu sebesar 550,84 Kw. Sedangkan hasil terkecil berada di Kecamatan Selopuro yaitu sebesar 1,19 Kw.

 Durian

Berdasarkan data pada tahun 2009 Kabupaten Blitar rata-rata produksi untuk tanaman durian adalah 50,62 Kg/pohon sedangkan untuk jumlah produksinya sebanyak 14.636 Kw dengan luas panen sebanyak 28.889 pohon. Hasil produksi terbanyak terdapat di Kecamatan Gandusari sebanyak 3.016,95 Kw dan yang paling sedikit di Kecamatan Kademangan sebesar 1,01 Kw.  Rambutan

Hampir di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar memproduksi Rambutan, kecuali di Kecamatan Bakung, Wonotirto, Wates, Sutojayan, Talun, Wlingi, Garum, dan Wonodadi. Pada tahun 2009 produksi rambutan mencapai 33.206 Kw dengan rata-rata produksi sebesar 31,82 Kg/pohon dan luas areal panen sebesar 104.357 pohon. Hasil terbesar produksi tanaman rambutan di Kecamatan Kanigoro sebesar 5.823,06 Kw dan produksi terkecil di Kecamatan Panggungrejo, sebesar 77,32 Kw.

 Jeruk Siam

Berdasarkan data tahun 2009 untuk produksi jeruk siam di Kabupaten Blitar rata-rata produksi 42,61 Kg/pohon dengan jumlah produksi sebesar 80.636 Kw. Tanaman buah jeruk siam hampir ada di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar kecuali di Kecamatan Nglegok. Hasil produksi jeruk siam pada tahun 2007 jumlah terbesar ada di Kecamatan Panggungrejo sebesar 17.193,14 Kw dan jumlah terkecil ada di Kecamatan Kanigoro sebesar 236,91 Kw.

 Jeruk Besar

Tanaman buah jeruk hanya terdapat pada beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Hasil produksi jeruk pada tahun 2009 adalah 28.889 Kw, dengan jumlah terbesar ada di Kecamatan Gandusari sebesar 5.960 Kw dan jumlah terkecil ada di Kecamatan Binangun sebesar 77 Kw.

 Nanas

Tanaman nanas hanya terdapat di Kecamatan Talun, Selorejo, Nglegok, Ponggok, Wonodadi dan Udanawu. Hasil produksi nanas di Kabupaten Blitar pada tahun 2009 adalah sebesar

(9)

II-9 Laporan Akhir

221.524 Kw dengan rata-rata produksi sebesar 0,67 Kg/pohon. Produksi nanas terbesar berada di Kecamatan Ponggok dengan hasil produksi sebesar 1.430 Kw, sedangkan hasil terkecil berada di Kecamatan Udanawu yaitu sebesar 5,03 Kw.

 Pepaya

Produksi pertanian tanaman buah-buahan untuk pepaya ada di seluruh kecamatan di Kabupaten Blitar dengan jumlah produksi sebesar 30.203 Kw dan rata-rata produksi sebesar 16,45 Kg/Pohon. Hasil produksi terbesar pada tahun 2009 berada di Kecamatan Srengat sebesar 7.196,88 Kw dan hasil terkecil di Kecamatan Bakung sebesar 24,68 Kw.

 Belimbing

Berdasarkan data tahun 2009 jumlah produksi tanaman blimbing di Kabupaten Blitar sebesar 12.719 Kw dan rata-rata produksi 13,31 Kg/Pohon. Pada tahun 2002, di Kabupaten Blitar terdapat 4 (empat) kecamatan yang tidak memiliki produksi buah belimbing, yaitu Kecamatan Wonotirto, Binangun, Wlingi dan Nglegok. Kecamatan penghasil buah belimbing terbesar adalah Kecamatan Kanigoro dengan hasil produksi sebesar 38.000 Kw. Sedangkan penghasil terkecil adalah Kecamatan Selorejo, sebesar 270 Kw.

 Jambu Biji

Berdasarkan data pada tahun 2009 Kabupaten Blitar rata-rata produksi untuk tanaman jambu biji adalah 5,35 Kg/pohon sedangkan untuk jumlah produksinya sebanyak 1.064 Kw dengan luas panen sebanyak 19.896 pohon. Produksi terbesar jambu biji di Kecamatan Sutojayan sebesar 7.324 Kw dan produksi jambu biji terkecil di Kecamatan Selopuro sebesar 40 Kw.  Manggis

Berdasarkan data tahun 2009 jumlah produksi tanaman buah manggis di Kabupaten Blitar sebesar 12.669 Kw, sedangkan rata-rata produksinya sebesar 139,82 Kg/pohon dan luas panen 9.776 pohon. Dari sebagian kecamatan di Kabupaten Blitar yang merupakan penghasil manggis, produksi terbesar pada tahun 2007 terdapat di Kecamatan Sanankulon dengan jumlah produksi sebesar 4.000 Kw. Sedangkan jumlah produksi terkecil pada Kecamatan Kademangan sebesar 2 Kw.

 Nangka

Ada 3 (tiga) kecamatan di Kabupaten Blitar yang tidak memiliki produksi buah nangka pada tahun 2009, yaitu Kecamatan Bakung, Selopuro dan Kesamben. Jumlah produksi nangka di

(10)

II-10 Laporan Akhir

Kabupaten Blitar sebesar 22.874 Kw dan rata-rata produksinya sebesar 43,19 Kg/pohon sedangkan untuk luas panen nangka seluas 52.957 pohon. Produksi terbesar nangka di Kecamatan Udanawu, sebanyak 15.181 Kw dan terkecil di Kecamatan Doko sebesar 128 Kw.  Sawo

Tanaman buah-buahan jenis sawo hanya terdapat pada sebagian kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Pada tahun 2009, hasil produksi sawo terbesar berada di Kecamatan Sanankulon yaitu sebesar 2.453 Kw. Sedangkan hasil terkecil berada di Kecamatan Wonotirto, yaitu sebesar 20 Kw.

 Pisang

Produksi tanaman pisang tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Hasil produksi pisang secara keseluruhan pada tahun 2009 adalah 61.825 Tandan dan rata-rata produksi sebesar 5,92 Kg/Pohon. Untuk produksi terbesar adalah di Kecamatan Srengat, sebesar 355.630 Tandan dan produksi terkecil di Kecamatan Ponggok, sebesar 3.000 Tandan.  Sirsak

Berdasarkan data tahun 2009 jumlah produksi sirsak di Kabupaten Blitar sebesar 4.845 Kw dengan rata-rata produksi sebesar 21,82 Kg/pohon. Tanaman buah sirsak hanya terdapat pada beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Hasil produksi sirsak pada tahun 2009 terbesar ada di Kecamatan Udanawu sebesar 7.662 Kw dan jumlah terkecil ada di Kecamatan Kademangan sebesar 3 Kw.

 Sukun

Tanaman buah sukun hanya terdapat pada beberapa kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Berdasarkan data tahun 2009 hasil produksi sukun di Kabupaten Blitar adalah 4.678 Kw dan rata-rata produksi sebesar 21,82 Kg/Pohon. Jumlah terbesar produksi sukun ada di Kecamatan Udanawu sebesar 4.179 Kw dan jumlah terkecil ada di Kecamatan Kademangan sebesar 9 Kw.  Petai

Berdasarkan data pada tahun 2009 Kabupaten Blitar rata-rata produksi untuk tanaman petai adalah 36,19 Kg/pohon sedangkan untuk jumlah produksinya sebanyak 9.995 Kw dengan luas panen sebanyak 27.615 pohon. Produksi terbesar petai di Kecamatan Panggungrejo sebesar 7.787 Kw dan produksi terkecil di Kecamatan Wonodadi sebesar 111 Kw.

(11)

II-11 Laporan Akhir

 Semangka

Berdasarkan data pada tahun 2009 Kabupaten Blitar jumlah produksi untuk tanaman semangka 15.365 Kw, sedangkan rata-rata produksi semangka sebesar 163,46 Kw/Ha dengan luas panen sebanyak 94 Ha. Produksi terbesar semangka di Kecamatan Wates sebesar 4.086,50 Kw dan produksi semangka terkecil di Kecamatan Kanigoro sebesar 163,46 Kw.

 Melon

Kecamatan yang merupakan penghasil melon di Kabupaten Blitar adalah Kecamatan Wates, Kanigoro, Talun, Selopuro dan Selorejo. Berdasarkan data tahun 2009, jumlah produksi melon di Kabupaten Blitar sebesar 1.816 Kw dengan hasil terbesar di Kecamatan Selopuro, yaitu 825,45 Kw dan hasil terkecil di Kecamatan Wates, Kanigoro dan Talun masing-masing sebesar 165,09 Kw.

Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah produksi pertanian tanaman Buah-buahan di Kabupaten Blitar Tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.25 di bawah ini.

C. Perkebunan

Produksi tanaman perkebunan dibedakan menjadi dua, yaitu perkebunan tanaman semusim yang terdiri dari tanaman tebu, tembakau lokal dan tembakau virginia serta perkebunan tanaman tahunan terdiri dari kenanga, cengkeh, kopi, kakao, kapuk randu, kelapa dan lada.

a) Perkebunan Tanaman Semusim  Tebu

Perkebunan tanaman tebu hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Blitar ada hanya di Kecamatan Bakung dan kecamatan Wlingi yang tidak ada produksi tanaman tebu. Berdasarkan data tahun 2009 untuk produksi perkebunan untuk tebu di Kabupaten Blitar jumlah produksinya sebesar 8.797.087,47 Ton dengan jumlah terbesar ada di Kecamatan Kademangan sebesar 2.832.394,37 Ton dan jumlah produksi tebu terkecil ada di Kecamatan Sutojayan sebesar 1.424,22 Ton.

 Tembakau Lokal

Perkebunan tanaman tembakau lokal hanya terdapat di Kecamatan Kademangan, Kanigoro, Talun, Selopuro, Selorejo, Doko, Wlingi, Gandusari, Garum, Nglegok, Sanankulon dan Srengat. Berdasarkan data tahun 2009 untuk jumlah produksi tanaman tembakau lokal di Kabupaten Blitar sebesar 162,53 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan

(12)

II-12 Laporan Akhir

Selopuro sebesar 51,83 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Kademangan sebesar 2,47 Ton.

 Tembakau Virginia

Perkebunan tanaman tembakau virginia hanya terdapat di Kecamatan Talun, Selopuro, Selorejo, Wlingi, Gandusari, Garum, Nglegok, Sanankulon, Ponggok dan Srengat. Berdasarkan data tahun 2007 untuk jumlah produksi tanaman tembakau virginia di Kabupaten Blitar sebesar 284,62 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Gandusari sebesar 108,34 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Garum sebesar 6,32 Ton.

b) Perkebunan Tanaman Tahunan  Kenanga

Perkebunan kenanga hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Blitar merupakan penghasil kenanga ada beberapa kecamatan yang tidak menghasilkan tanaman ini antara lain : Kecamatan Talun, Selopuro, Kesamben, Selorejo, Doko dan Gandusari. Berdasarkan data tahun 2009 untuk jumlah produksi tanaman kenanga di Kabupaten Blitar sebesar 3.657,02 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Ponggok sebesar 1.148,18 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Kanigoro sebesar 43,88 Ton.

 Cengkeh

Berdasarkan data pada tahun 2009 Kabupaten Blitar jumlah produksi untuk perkebunan tanaman cengkeh sebesar 1.802 Ton. Produksi terbesar cengkeh di Kecamatan Doko sebesar 765 Ton dan produksi cengkeh terkecil di Kecamatan Talun dan Wonotirto masing-masing sebesar 5,1 Ton.

 Kopi

Produksi perkebunan tanaman kopi tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar kecuali pada Kecamatan Bakung. Hasil produksi kopi secara keseluruhan pada tahun 2009 adalah 33.469,00 Ton. Untuk produksi terbesar adalah di Kecamatan Gandusari sebesar 11.880 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Wonotirto, Sutojayan, Kademangan, masing-masing sebesar 24 Ton.

 Kakao

Perkebunan tanaman kakao tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Berdasarkan data tahun 2009 untuk jumlah produksi tanaman kakao di Kabupaten Blitar sebesar 452,90 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Wates sebesar

(13)

II-13 Laporan Akhir

150 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Talun dan Wonotirto masing-masing sebesar 2,50 Ton.

 Kapuk Randu

Berdasarkan data tahun 2009 ada 4 (empat) kecamatan di Kabupaten Blitar yang tidak memiliki produksi tanaman kapuk randu yaitu Kecamatan Bakung, Wates, Binangun dan Sutojayan. Untuk jumlah produksi tanaman kapuk randu di Kabupaten Blitar sebesar 61,88 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Kademangan sebesar 15,39 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Gandusari sebesar 0,59 Ton.

 Kelapa

Perkebunan tanaman kelapa tersebar merata di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar. Berdasarkan data tahun 2009 untuk jumlah produksi tanaman kelapa di Kabupaten Blitar sebesar 11.155,21 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Gandusari sebesar 1.192,72 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Doko sebesar 235,20 Ton.  Lada

Perkebunan tanaman lada hanya terdapat di Kecamatan Selorejo, Wlingi, Gandusari, Garum, dan Nglegok. Berdasarkan data tahun 2009 untuk jumlah produksi tanaman lada di Kabupaten Blitar sebesar 7,52 Ton dengan jumlah produksi terbesar di Kecamatan Nglegok sebesar 16 Ton dan produksi terkecil di Kecamatan Wlingi sebesar 0,52 Ton.

Peternakan

Jenis peternakan yang berkembang di Kabupaten Blitar meliputi ternak kecil, ternak unggas dan aneka ternak serta ternak besar. Ternak besar terdiri dari sapi potong, sapi pekerja, sapi perah dan kambing. Sedangkan ternak kecil lebih didominasi oleh ayam potong/pedaging, ayam petelur, ayam kampung dan itik. Dari peternakan ini, Kabupaten Blitar menghasilkan berbagai komoditi, yaitu daging, telur dan susu. Selain itu juga masyarakat Kabupaten Blitar banyak yang telah mampu mengembangkan usaha secara mandiri di bidang peternakan seperti peternakan ayam ras petelur ada di hampir seluruh wilayah Kabupaten Blitar utamanya di Kecamatan Kesamben, Kecamatan Kademangan, Kecamatan Srengat serta Kecamatan Garum. Peternakan ayam ras petelur ini sebagai produk unggulan menempatkan Kabupaten Blitar sebagai penghasil telur ayam ras sebesar 54,65% dari produksi telur ayam ras Jawa Timur atau 16, 09 % dari produksi telur ayam ras di tingkat nasional.

(14)

II-14 Laporan Akhir

Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan produksi peternakan pada masing-masing kecamatan di Kabupaten Blitar dapat dilihat pada Tabel 1.27.

Perikanan

Sektor perikanan di Kabupaten Blitar meliputi jenis-jenis perikanan laut, perikanan budidaya yang terdiri dari perikanan kolam, sawah dan jaring apung serta perikanan penangkapan yang terdiri dari sungai dan waduk. Namun yang paling berpotensi adalah jenis perikanan sungai dan kolam karena hampir pada setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Blitar menghasilkan produksi perikanan tersebut. Untuk jumlah produksi perikanan baik perikanan darat maupun perikanan laut selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada Tabel 2.28 dan Tabel 2.29 di bawah ini.

Tabel 2. 2 Jumlah Produksi Ikan Darat Menurut Jenis Ikan Tahun 2005 - 2009

No Jenis Ikan Darat 2005 2006 2007 2008 2009

1 Tombro 98.248 98.507 132.249 119.000 108.441 2 Tawes 221.155 203.410 137.309 111.295 112.943 3 Mujair 295.564 281.783 220.620 98.587 217.538 4 Gurami 713.116 630.714 720.475 657.293 639.936 5 Gabus/Kutu - - - - - 6 Lele 331.357 341.902 467.753 582.575 425.228 7 Nila 179.595 182.631 592.944 204.791 304.736 8 Udang 14.466 13.149 12.024 8.157 51.827 9 Katak 4.363 5.060 3.474 9.086 22.844 10 Lain-lain 424.844 354.664 208.755 124.184 28.236 Sumber : Kabupaten Blitar Dalam AngkaTahun 2010

(15)

II-15 Laporan Akhir

Tabel 2. 3 Jumlah Populasi Peternakan (Ekor) Di Kabupaten Blitar

Tahun 2009

No Kecamatan

Jumlah Populasi Unggas

( Ekor) Jumlah Populasi Ternak Besar (Ekor) Ayam Ras Enthok Sapi Perah Kuda Domba Kelinci

1 Bakung 165.892,00 1.045,00 0,00 0,00 45,00 2.636,00 2 Wonotirto 90.805,00 156,00 0,00 0,00 1.149,00 186,00 3 Panggungrejo 33.989,00 80,00 0,00 0,00 2.085,00 133,00 4 Wates 3.204,00 105,00 0,00 0,00 1.788,00 85,00 5 Binangun 40.947,00 601,00 33,00 0,00 2.007,00 157,00 6 Sutojayan 115.834,00 368,00 115,00 5,00 1.126,00 130,00 7 Kademangan 1.982.695,00 315,00 683,00 7,00 1.152,00 273,00 8 Kanigoro 1.672.136,00 1.307,00 1.366,00 21,00 2.339,00 359,00 9 Talun 1.246.143,00 2.899,00 397,00 3,00 2.334,00 854,00 10 Selopuro 280.675,00 994,00 54,00 5,00 2.134,00 227,00 11 Kesamben 83.797,00 652,00 94,00 0,00 1.558,00 599,00 12 Selorejo 109.327,00 1.100,00 101,00 13,00 1.307,00 833,00 13 Doko 98.814,00 454,00 244,00 0,00 2.192,00 965,00 14 Wlingi 72.984,00 504,00 340,00 11,00 2.347,00 267,00 15 Gandusari 414.780,00 1.551,00 6.668,00 11,00 4.354,00 1.242,00 16 Garum 776.098,00 705,00 287,00 10,00 2.238,00 438,00 17 Nglegok 363.621,00 14.514,00 679,00 16,00 3.742,00 1.986,00 18 Sanankulon 481.758,00 1.308,00 5.054,00 62,00 1.481,00 125,00 19 Ponggok 2.170.012,00 302,00 1.095,00 0,00 2.302,00 132,00 20 Srengat 2.139.677,00 1.983,00 1.540,00 4,00 2.018,00 75,00 21 Wonodadi 1.118.695,00 147,00 55,00 16,00 1.924,00 241,00 22 Udanawu 925.571,00 397,00 223,00 0,00 1.818,00 109,00 Jumlah 14.387.454,00 31.487,00 19.028,00 184,00 43.440,00 12.052,00 Sumber : Kabupaten Dalam Angka Tahun 2010

Tabel 2. 4 Jumlah Produksi Ikan Laut Menurut Jenis Ikan Tahun 2005 - 2009

No Jenis Ikan Darat 2005 2006 2007 2008 2009

1 Merah/Bambangan 506 20.580 - 3.588 291.356

2 Tongkol 44.680 322.557 730.624 86.591 24.120

3 Cucut 2.100 3.160 10.225 8.380 4.241

(16)

II-16 Laporan Akhir

No Jenis Ikan Darat 2005 2006 2007 2008 2009

5 Kakap Merah - - - - - 6 Hiu - - - - 20.543 7 Peri/Pe 732 140 2.160 3.210 - 8 Selar 3.540 - - - - 9 Julung-julung - - - - 13.476 10 Lemuru 4.209 5.580 2.575 4.550 - 11 Udang 45.400 105.000 - - 4.390 12 Kerabu 5.808 46.000 119.000 - - 13 Kakap - - 88.000 - - 14 Kembung - - 11.700 - - 15 Banyar - - - 600 - 16 Tetangkek 1.400 - - - - 17 Tembang - - - - - 18 Layang 110.390 3.520 22.790 8.940 163.128 19 Selangsang - - - - - 20 Cumi-cumi - - 3.600 - - 21 Lainnya 4.783 - 19.350 450 -

22 Ludang Barong Lobster - - - 8.493 9.210

Sumber : Kabupaten Blitar Dalam Angka Tahun 2010 Industri

Sektor industri yang berkembang di Kabupaten Blitar pada umumnya adalah industri kecil dan industri rumah tangga (home industri) yang jumlah keseluruhan pada tahun 2009 adalah 11.166 unit. Jenis-jenis industri kecil dan rumah tangga yang berkembang di Kabupaten Blitar ini diantaranya adalah industri rokok, industri kerupuk, industri kue kering dan basah, industri kecap, industri tahu, industri tempe, industri es lilin, industri gula kelapa, industri kayu bubut, industri kap lampu, industri pande besi, industri mebel kayu,industri emping mlinjo, industri anyam-anyaman, industri tegel/beton/beton/sanatiar, industri tape, industri gerabah/keramik, industri genteng, industri gula tebu, industri jamu, industri batik, industri tali kapuk dan masih banyak lagi jenisnya. Dari beberapa industri kecil dan rumah tangga di atas, jenis industri yang paling banyak berkembang di Kabupaten Blitar adalah industri gula kelapa, yaitu sebesar 5.366 unit. Kawasan industri gula kelapa paling dominan berada di Kecamatan Nglegok dan Ponggok. Sedangkan kawasan industri anyam-anyaman paling banyak berada di Kecamatan Udanawu dan Srengat.

(17)

II-17 Laporan Akhir

Namun perkembangan sektor home industri perlu ditingkatkan guna mengangkat produk unggulan terutama kerajinan rakyat yang tersebar dipelosok desa-desa yang belum terdapat uluran tangan dari penanam modal berikut pemasaran produksi.

Tabel 2. 5 Industri Kecil Non Formal Menurut Kecamatan Kabupaten Blitar

Tahun 2009

No Kecamatan Industri Kecil Formal

Industri Kecil Non Formal

Unit Tenaga Kerja Unit Tenaga Kerja

1 Bakung 2 11 67 239 2 Wonotirto 3 35 105 333 3 Panggungrejo 5 23 75 302 4 Wates 2 6 81 263 5 Binangun 9 142 133 431 6 Sutojayan 37 331 182 583 7 Kademangan 56 618 378 1.790 8 Kanigoro 64 719 412 822 9 Talun 53 452 326 1.197 10 Selopuro 32 274 205 901 11 Kesamben 27 342 239 1.113 12 Selorejo 7 104 238 716 13 Doko 5 29 76 239 14 Wlingi 29 160 250 802 15 Gandusari 13 170 491 1.403 16 Garum 34 317 518 1.207 17 Nglegok 32 253 3.462 6.943 18 Sanankulon 41 599 644 1.716 19 Ponggok 51 336 1.541 2.978 20 Srengat 55 817 865 898 21 Wonodadi 26 237 52 286 22 Udanawu 10 74 249 625

Sumber : Kabupaten Blitar Dalam Angka Tahun 2010 Pertambangan

Jenis bahan tambang dan galian yang dominan di Kabupaten Blitar adalah type galian golongan C, yang tersebar di beberapa wilayah. Jenis bahan tambang yang ada seperti pasir, kerikil, batu apung, gamping dan tanah liat/lempung. Selain itu juga terdapat bahan tambang dan galian lain yang berupa feldspar dan kaolin sebagai bahan pembuat keramik.

(18)

II-18 Laporan Akhir

Dalam pengusahaannya berbagai jenis bahan galian tersebut masih dilakukan secara individual oleh masyarakat untuk kemudian dijual sendiri kepada pengepul, misalnya untuk jenis bahan tambang pasir atau kerikil, penambang/masyarakat mengumpulkannya, setelah cukup banyak biasanya pihak pengepul atau masyarakat yang membutuhkannya akan datang mengambil sendiri, demikian dengan bahan tambang lainnya seperti batu apung, tanah liat/lempung dan juga feldspar. Bahan tambang yang ada di Kabupaten Blitar yang diusahakan oleh masyarakat masih bersifat bahan baku/mentah yang sampai saat ini belum dilakukan pengolahan lebih lanjut. Untuk pemasaran bahan-bahan tambang tersebut sampai saat ini masih dalam lingkup Kabupaten Blitar dan sekitarnya.

Lebih jelasnya mengenai sistem pengelolaan dan arah pemasaran dari bahan tambang galian C di Kabupaten Blitar dapat dilihat pada Tabel 3.29. Satu hal yang perlu mendapatkan perhatian dalam hal pengelolaan bahan tambang galian C ini adalah adanya pengawasan dan pemantauan karena sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan, terutama dalam hal penambangan yang dilakukan oleh masyarakat, karena masih mengabaikan aspek-aspek ekologis.

Tabel 2. 6 Jenis Bahan Tambang dan Arah Pemasarannya Di Kabupaten Blitar

Tahun 2009

No Jenis Tambang Bahan Sistem Pengelolaan Arah Pemasaran 1 Tanah Liat Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 2 Pasir Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 3 Gamping Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 4 Kerikil Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 5 Batu Apung Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 6 Feldspar Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya 7 Kaolin Individu/Lokal Kab. Blitar & Sekitarnya Sumber : Dinas PUCK dan TR dan Hasil Survey

Kehutanan (Hutan Produksi)

Wilayah Kabupaten Blitar memiliki kawasan hutan yang tersebar di bagian utara dan selatan. Kawasan hutan yang terletak di bagian utara Kabupaten Blitar berada di sekitar lereng Gunung Kelud. Sedangkan kawasan hutan yang terletak di bagian selatan Kabupaten Blitar berada di sepanjang laut selatan (Samudera Indonesia) dan pada beberapa wilayah lain diantaranya adalah di Kecamatan Kademangan, Wonotirto, Panggungrejo, Sutojayan, Binangun dan Ponggok. Diantara kawasan hutan ini

(19)

II-19 Laporan Akhir

ada yang dipergunakan sebagai hutan produksi. Beberapa kawasan hutan yang lain tidak dapat dipergunakan sebagai hutan produksi karena terletak pada kawasan lindung.

Hutan produksi yang ada di Kabupaten Blitar menghasilkan kayu-kayu antara lain : jati, mahoni, sono, akasia, sengon dan mindi.

Tabel 2. 7 Produksi Utama Hutan Di Kabupaten Blitar Tahun 2005 - 2009

No Jenis Kayu Satuan Jumlah Produksi (M2005 2006 32007 ) 2008 2009 Luas 1 Jati Ha 210 114 171 65 24 2 Rimba Ha 356 88 11 92 157 Produksi 1 Kayu (Pertukangan) Jati m3 4.261 4.639 7.923 2.593 4.205 Rimba m3 30.658 16.004 1.639 6.131 796 2 Kayu Bakar Jati m3 40 29 18 4 39 Rimba m3 19 43 2 127 - 3 Gondorukem Ton - 217 20 131 39 4 Arang Ton - - - - - 5 Bambu Batang - - - - - 6 Lainnya Ulat Sutera Kg 7.510 5.575 - - - Kopi Kg 505 519 527 797 854 Kelapa Butir 17.145 24.031 13.350 47.952 74.923

Rumput Gajah Ton - - - - -

Sumber : Kabupaten Blitar Dalam Angka Tahun 2010 Pariwisata

a). Obyek Wisata Alam Obyek Wisata Pantai

 Pantai Tambak Rejo (wisata alam pantai selatan dan budaya upacara larung sesaji tanggal 1 suro) di Desa Tambak Rejo Kecamatan Wonotirto.

 Pantai Pasur (wisata alam pantai selatan dan budaya upacara nglarung sesaji tanggal 1 suro) di Desa Bululawang Kecamatan Bakung.

 Pantai Serang, merupakan sebuah teluk yang agak luas dengan panjang pantai  300 m berada di Desa Serang Kecamatan Panggungrejo. Jarak dari Kota Blitar sekitar 40 Km ke arah selatan.

 Pantai Pangi, merupakan pantai yang memiliki panjang tidak lebih dari 1500 meter dan terletak di Desa Tumpak Kepuh Kecamatan Bakung.

(20)

II-20 Laporan Akhir

 Pantai Peh Pulau, lokasinya berada di Desa Sumbersih Kecamatan Panggungrejo. Pantai Peh Pulau sampai saat ini masih belum dikembangkan.

 Pantai Gayasan, terletak di Desa Kali Grenjeng dengan Desa Tumpak Kepuh, Kecamatan Bakung.

 Pantai Gurah, terletak bersebelahan dengan Pantai Jolosutro dan dipisahkan oleh sebuah tanjung sempit yang berupa pinggir bukit yang cukup terjal. Lokasi pantai ini tepatnya adalah di Desa Tegalrejo Kecamatan Wates.

 Pantai Jolosutro, lokasinya berada di Kecamatan Wates dengan jarak dari Kota Kecamatan Wates sekitar 10 Km.

Obyek Wisata Goa Alam

 Goa Umbul Tuk (wisata goa dan hutan lindung) di Desa Tumpakkepuh Kecamatan Bakung.  Goa Jambangan, terletak di dusun Dawuan, Desa Krajan Dawuan Kecamatan Kademangan.

Dari Kota Blitar berjarak sekitar 9 Km, sedangkan dari kecamatan berjarak sekitar 4 Km ke arah utara.

Goa Ngetup, terletak di Dusun Sumber Jambe, Desa Kedung Banteng, Kecamatan Bakung. Obyek Wisata Alam Pegunungan

Jenis obyek wisata yang ada yaitu obyek wisata Lembah Gunung Kelud yang terletak di Kecamatan Gandusari dan kawasan ini masih belum dikembangkan. Lembah Gunung Kelud terletak di lokasi milik perhutani. Disini terdapat air terjun yang tak pernah kering, disamping panorama alam pegunungan yang sejuk dan dapat melihat kaldera Gunung Kelud. Kawasan ini letaknya cukup jauh yaitu sekitar 10 Km dari Kota Kecamatan atau sekitar 35 Km dari Kota Blitar.  Obyek Wisata Alam Sungai

Wisata Alam Sungai berupa arung jeram di Desa Tegalasri Kecamatan Wlingi

b). Obyek Wisata Budaya Dan Ilmu Pengetahuan

Di Kabupaten Blitar obyek wisata budaya yang ada sangat banyak dan ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan pariwisata, selain obyek ini dapat berupa artifak atau bangunan peninggalan sejarah/benda purbakala dan atraksi tari atau kerajinan juga sebagai pengembangan ilmu pengetahuan. Obyek tersebut adalah sebagai berikut :

 Candi Penataran (peninggalan purbakala) di Desa Penataran Kecamatan Nglegok.

 Candi Gambar Wetan yang terletak di Desa Sumbrsari Kecamatan Nglegok dengan luas areal sekitar 1.666 m2, dengan lokasinya berada di kawasan dataran tinggi Kelud.

(21)

II-21 Laporan Akhir

 Candi Wringin Branjang yang terletak di Kecamatan Gandusari (di sekitar lereng Gunung Kelud) jarak ke Kota Kecamatan sekitar 17 Km, dengan luas area sekitar 3 Ha dengan jenis obyek wisata petilasan candi tempat pemujaan.

 Petilasan Rambut Monte yang terletak di desa Krisik Kecamatan Gandusari dengan luas areal sekitar 1 Ha.

 Candi Simping terletak di Desa Sumber Jati Kecamatan Kademangan.

 Candi Mleri yang terletak di Desa Bagelan Kecamatan Srengat dengan luas areal sekitar 240 m2.

 Candi Sumber Nanas yang terletak di Desa Candi Rejo Kecamatan Ponggok dengan luas areal sekitar 160 m2.

 Candi Kali Cilik yang terletak di Desa Candi Rejo Kecamatan Ponggok dengan luas areal sekitar 150 m2.

 Candi Sawentar yang terletak di Desa Sawentar Kecamatan Kanigoro dengan luas areal sekitar 1.600 m2.

 Candi Plumbangan yang terletak di Desa Plumbangan Kecamatan Doko dengan luas areal sekitar 425m2.

 Candi Sirah Kencong yang terletak di perkebunan sirahkencong Kecamatan Wlingi dengan luas areal sekitar 225 m2.

 Candi Tepas berada di Kecamatan Kesamben dengan luas areal sekitar 400 m2.

 Candi Watutumpuk lokasinya berada di Desa Pagerwojo Kecamatan Kesamben yang tepatnya berada di kawasan puncak bukit lebih kurang 2 Km dari permukiman penduduk, dengan luas areal sekitar 16 m2.

c). Obyek Wisata Buatan

 Wisata Bendungan Wlingi Raya di Kecamatan Sutojayan;  Wisata Bendungan Lodoyo di Kecamatan Kanigoro;

 Wisata Kolam renang di dalam kawasan wisata Candi Penataran;dan

 Wisata Agro berupa perkebunan teh di Kecamatan Gandusari, perkebunan sengon dan Pijiombo di Kecamatan Tegalasri, perkebunan kopi dan kakao di Karanganyar Kecamatan Nglegok.

(22)

II-22 Laporan Akhir

d). Obyek Wisata Lainnya

Yaitu berupa obyek wisata penangkaran Satwa Rusa Maliran, lokasinya di Dusun Maliran Desa Sumber Wringin, Kecamatan Ponggok, dengan luas areal pengembangan sekitar 4000 m2. Potensi

unggulan yang terdapat di lokasi wisata tersebut adalah berupa pertanian/perkebunan pisang dan pepaya yang merupakan hasil pengelolaan bersama antara KPH dan masyarakat.

2.3. Demografi dan Urbanisasi

Gambaran demografi wilayah kabupaten/kota diperlukan sebagai dasar proyeksi demand infrastruktur Bidang Cipta Karya dan proyeksi kebutuhan pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya pada masa yang akan datang.

 Jumlah Penduduk Keseluruhan

Hasil registrasi penduduk menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Blitar mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Dari 22 kecamatan di wilayah Kabupaten Blitar, Kecamatan

Ponggok menempati urutan teratas yang mempunyai jumlah penduduk yang paling besar, yaitu sekitar 92.446 jiwa (tahun 2009). Sementara kecamatan lain yang juga berpenduduk cukup besar (di atas 60.000 jiwa) adalah Kecamatan Kanigoro (68.452 jiwa), Kecamatan Gandusari (68.682 jiwa), Kecamatan Nglegok (65.708 jiwa), Kecamatan Kademangan (62.676 jiwa), Kecamatan Talun (65.915 jiwa), Kecamatan Srengat (66.314 jiwa). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Tabel 2.8.

Jumlah Penduduk Akhir Tahun Menurut Kecamatan, Jenis Kelamin dan Sex Ratio Kabupaten Blitar Tahun 2010

Kecamatan Laki-laki Perempuan Total Sex Ratio

1. Bakung 13.197 13.951 27.148 95 2. Wonotirto 17.805 18.188 35.994 98 3. Panggungrejo 21.249 21.179 42.429 100 2. Wates 12.479 12.544 29.023 100 5. Binangun 22.334 22.141 42.476 101 6. Sutojayan 23.070 23.691 46.761 97 7. Kademangan 31.018 31.659 62.676 98

(23)

II-23 Laporan Akhir

Kecamatan Laki-laki Perempuan Total Sex Ratio

8. Kanigoro 32.714 33.738 68.452 103 9. Talus 29.433 29.145 58.578 101 10. Selopuro 20.269 19.612 39.881 103 11. Kesamben 22.787 25.610 50.398 97 12. Selorejo 17.934 17.965 35.899 100 13. Doko 19.643 19.343 38.986 102 12. Wlingi 25.756 25.582 51.339 101 15. Gandusari 32.625 32.057 68.682 102 16. Garum 29.645 29.472 59.117 101 17. Nglegok 32.884 32.824 65.708 100 18. Sanankulon 22.887 25.165 50.052 99 19. Ponggok 46.386 46.059 92.446 101 20. Srengat 29.386 29.651 59.037 99 21. Wonodadi 22.715 22.804 45.519 100 22. Udanawu 18.984 19.180 38.165 99 Kabupaten Blitar 2010 555.202 555.562 1.110.764 100

 Jumlah Penduduk Miskin

Untuk mengetahui jumlah rumah tangga miskin di Kabupaten Blitar, maka berikut ini terdapat data jumlah rumah tangga miskin menurut kecamatan pada tahun 2009 dan jumlah rumah tangga miskin yang terbagi atas Pra S dan KS I.

Tabel 2.9.

Jumlah Rumah Tangga Miskin Menurut Kecamatan Tahun 2010

No. Kecamatan Jumlah Rumah Tangga Jumlah Rumah Tangga Miskin

1 Bakung 15.289 6.446 2 Sutojayan 13.225 6.056 3 Panggungrejo 20.997 3.692 4 Wates 23.789 10.415 5 Binangun 9.741 7.129 6 Kesamben 31.117 11.010 7 Doko 18.773 7.474 8 Wlingi 13.235 6.927 9 Talun 22.735 9.771 10 Kanigoro 25.081 7.711 11 Kademangan 21.704 12.504 12 Sanankulon 16.525 6.136 13 Srengat 12.999 6.061 14 Udanawu 20.504 6.459 15 Ponggok 23.785 6.311 16 Nglegok 15.181 6.034 17 Garum 18.189 8.957 18 Gandusari 12.146 2.467 19 Wonodadi 17.583 2.109 20 Wonotirto 12.913 6.270 21 Selorejo 10.700 3.884 22 Selopuro 12.162 7.056

(24)

II-24 Laporan Akhir

 Laju Pertumbuhan Penduduk

Berdasarkan data jumlah penduduk Kabupaten Blitar dari tahun ke tahun maka dapat dihitung laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Blitar dari tahun 2007 hingga 2010. Berikut adalah data prosentase pertumbuhan penduduk Kabupaten Blitar

abel 2. 10

Persentase Pertumbuhan PendudukKabupaten Blitar

Kecamatan % Pertumbuhan Penduduk

2007 2008 2009 2010 Rata-rata Bakung 0,21 3,04 0,21 0,01 0,87 Wonotirto 0,19 3,26 0,08 0,16 0,92 Panggungrejo 1,02 0,96 1,00 0,24 0,81 Wates 0,17 2,55 0,70 0,26 0,92 Binangun 0,10 0,92 0,37 0,17 0,39 Sutojayan 0,20 3,91 0,40 0,25 1,19 Kademangan 0,05 6,56 0,03 0,39 1,76 Kanigoro 0,15 4,45 0,30 0,04 1,24 Talun 0,12 0,61 0,16 0,11 0,25 Selopuro 0,15 2,94 0,16 0,07 0,83 Kesamben 0,22 1,67 0,23 0,54 0,67 Selorejo 0,22 0,49 0,06 0,04 0,20 Doko 0,13 5,39 0,37 0,26 1,54 Wlingi 0,18 2,10 1,06 1,14 1,12 Gandusari 0,11 4,59 0,08 0,14 1,23 Garum 0,15 17,85 0,20 0,23 4,61 Nglegok 0,02 2,16 0,06 0,11 0,59 Sanankulon 0,15 3,65 0,19 0,36 1,09 Ponggok 0,17 0,02 0,11 0,21 0,13 Srengat 0,12 4,57 0,07 0,20 1,24 Wonodadi 0,17 3,32 0,26 0,25 1,00 Udanawu 0,14 1,89 0,23 0,29 0,64

(25)

II-25 Laporan Akhir

 Persebaran Penduduk

Tabel 2.11.

Kepadatan Penduduk Akhir Tahun Menurut Kecamatan Tahun 2010

No Kecamatan

Luas Σ Penduduk Kepadatan

(Km2) (Jiwa) (Jiwa/Km2) 1 Bakung 111.24 29,130 262 2 Wonotirto 162.54 42,395 258 3 Panggungrejo 119.04 45,960 386 4 Wates 68.76 34,540 502 5 Binangun 76.79 48,280 629 6 Sutojayan 42.2 54,169 1,226 7 Kademangan 105.28 77,021 732 8 Kanigoro 55.55 74,054 1,333 9 Talun 49.78 65,514 1,316 10 Selopuro 39.29 47,045 1,197 11 Kesamben 56.96 59,489 1,044 12 Selorejo 52.23 43,042 824 13 Doko 70.95 47,690 672 14 Wlingi 66.36 59,902 903 15 Gandusari 88.23 79,189 898 16 Garum 52.56 82,571 1,513 17 Nglegok 92.56 77,934 842 18 Sanankulon 33.33 59,231 1,777

(26)

II-26 Laporan Akhir 19 Ponggok 103.83 103,600 998 20 Srengat 53.98 69,490 1,287 21 Wonodadi 40.35 52,749 1,307 22 Udanawu 40.98 44,340 1,082 Kab. Blitar 2010 1588.79 1,297,335 817 Kab. Blitar 2009 1588.79 1,295,601 815 Kab. Blitar 2008 1588.79 1,111,957 700

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali diketahui bahwa laju penduduk di Kabupaten Blitar mengalami peningkatan pada setiap dekadenya. Bila pada Tahun 1980, Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Blitar sebesar 1,02%, pada Tahun 2010 menurun menjadi 0,9 %. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk Jawa Timur pada Tahun 2010 sebesar 0,75%.

2.4. Isu Strategis Sosial Ekonomi dan Lingkungan Berdasarkan RPJMD dan RTRW Kabupaten/Kota

Issue – issue strategis yang muncul pada Kabupaten Blitar disebabkan karena pengaruh perkembangan dari dalam dan luar lingkungan Kabupaten blitar yang meliputi:

1. Perencanaan dan pembangunan Lapangan Terbang (Airstrip) DI Kecamatan Ponggok 2. Sub Terminal Agribisnis di Kecamatan Ponggok

3. Isu Kawasan Wisata Candi Penataran di Kecamatan Garum

4. Kawasan Rawan Bencana & Kerusakan Lingkungan di bagian utara Kabupaten Blitar 5. Pengembangan Kawasan Agropolitan dan sebagai ibukota Kabupaten Blitar di Kecamatan

Kanigoro

6. Peningkatan daya dukung dan lebar perkerasan jalan dan jembatan pada semua jalur pengumpul/pengumpan (Feeder line) ruas jalan JLS di Kabupaten Blitar

(27)

II-27 Laporan Akhir

8. Revitalisasi kapasitas operasional terminal tipe A Kesamben (brongkos)

Gambar

Tabel 2. 2 Jumlah Produksi Ikan Darat Menurut Jenis Ikan  Tahun 2005 - 2009
Tabel 2. 3 Jumlah Populasi Peternakan (Ekor)  Di Kabupaten Blitar
Tabel 2. 5 Industri Kecil Non Formal Menurut Kecamatan  Kabupaten Blitar
Tabel 2. 7 Produksi Utama Hutan  Di Kabupaten Blitar Tahun 2005 - 2009  No  Jenis Kayu  Satuan  Jumlah Produksi (M 3 )

Referensi

Dokumen terkait

merupakan pendekatan pembelajaran yang membangun kegiatan interasi antara matematika dan siswa sehingga mengundang siswa untuk menjawab permasalahan dengan cara

Dengan demikian peneliti berasumsi anggapan masyarakat terhadap kualitas pelayanan pada dinas kependudukan dan pencatatan sipil di Kota Subulussalam dalam

Menurut Greenberg dan Baron (1996) – Komunikasi adalah satu proses di mana individu, kumpulan dan organisasi yang bertindak sebagai penyampai menghantar sesuatu

pada tanaman sengon, hama kutu loncat Heteropsylla cubana pada tanaman lamtoro, hama ulat grayak (Spodoptera sp.), hama gall pada tanaman masohi, sedangga hama yang

Hasil respon siswa yang diperoleh melalui angket siswa pada saat uji coba menunjukkan bahwa kelima aspek komponen modul yang dikembangkan mendapatkan kriteria

Pela adalah suatu sistem hubungan sosial yang dikenal dalam masyarakat Maluku, berupa suatu perjanjian hubungan antara satu negri (sebutan untuk kampung atau desa) dengan

pakan untuk mendukung pertumbuhan benih ikan patin pasupati dengan frekuensi pemberian 5 kali sehari menghasilkan nilai tertinggi pada laju pertumbuhan spesifik yaitu (7,03 ±

Sebaliknya penggunaan strain U318 sebagai kultur tunggal dalam produksi urutan memperlihatkan pertumbuhan BAL yang lebih baik dengan kondisi BAL yang lebih stabil dibandingkan