Tabel 1 Indikator dan Tolok Ukur Variabel

Teks penuh

(1)

Tabel 1

Indikator dan Tolok Ukur Variabel

Variabel Teoritis Variabel Operasional Variabel Bebas

X1 = Komunikasi • Frekuensi Pimpinan berkomunikasi dengan karyawan

• Penyampaian Informasi • Komunikasi diluar jam kerja

• Hubungan komunikasi antara pimpinan dan karyawan

• Intruksi tugas dari pimpinan dan karyawan

• Kesediaan pimpinan menerima saran/keluhan karyawan

X2 = Motivasi • Pemberian penghargaan : - Kenaikan Gaji - Bonus

- Pujian

• Menciptakan lingkungan kerja yang harmonis • Keamanan lingkungan kerja yang baik

Variabel Terikat

Y= Kinerja Staf • Mutu pekerjaan sesuai yang ditetapkan • Tingkat kehadiran

• Sikap penilaian terhadap beban pekerjaan • Tingkat kerja sama antar karyawan

• Tingkat kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan

(2)

1.9 Model Teoritis

Berdasarkan keseluruhan variabel yang telah disusun dan dikelompokkan dalam kerangka konsep, maka dibentuk ke dalam suatu model teoritis, yaitu :

1.10 Hipotesa

Hipotesa dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terdapat pemecahan masalah melalui data yang terkumpul (Nawawi, 1991:45)

Adapun hipotesa dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

Ho : Tidak terdapat hubungan antara pengaruh komunikasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staff marketing PT Telkomsel Pematang Siantar.

Ha : Terdapat hubungan antara pengaruh komunikasi dan motivasi pimpinan perusahaan terhadap kinerja staff marketing PT. Telkomsel Pematang Siantar

1.11 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode korelasional, yaitu metode yang bertujuan untuk melihat hubungan antara dua variabel pada suatu faktor berkait dengan variabel lain (Rakhmat, 1984:40)

Komunikasi dari

Pimpinan ke

Bawahan

Motivasi

Kinerja Staff

(3)

1.12 Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di kantor PT Telkomsel Pematang Siantar, Komp Megaland A/53 Jl. Sang Nawaluh Pematang Siantar.

1.13 Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi adalah kelompok unsur-unsur komprehensif dan telah ditentukan (peringkat universal) yang berhubungan dengan pertanyaan atau hipotesis penelitian (Bulaeng, 2004: 136).

Menurut Arikunto (2002) populasi adalah keseluruhan obyek yang diteliti. Objek tersebut dapat berupa manusia atau yang lain termasuk gejala yang ada di masyarakat (Notoatmodjo, 2002).

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah Staf Marketing PT. Telkomsel Pematang Siantar yang berjumlah 48 orang. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel:

Tabel 1

Populasi Staf Marketing PT.Telkomsel Pematang Siantar

Departemen Jumlah

Regional Account Management 3 orang

Sales 40 orang

Community 5 orang

Total Populasi 48 orang

b. Sampel

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sample yang diambil dari populasi itu.

(4)

Sampel adalah sebagian wakil populasi yang akan diteliti (Arikunto, 2002). Sampel penelitian ini menggunakan total sampling dimana semua populasi digunakan sebagai sampel yaitu berjumlah 48 orang.

1.14 Teknik Pengumpulan Data

Dalam menyusun proposal penelitian, peneliti menggunakan dua sumber data, yaitu :

1. Penelitian kepustakaan melalui literatur serta sumber bacaan yang relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini dilakukan dengan melalui buku-buku, internet, dan sebagainya.

2. Penelitian Lapangan, yaitu pengumpulan data melalui kegiatan survei di lokasi penelitian, mengumpulkan data dari responden dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah alat pengumpul data dalam bentuk pertanyaan tertulis yang dijawab oleh responden (Nawawi, 1997: 117).

1.15 Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipresentasikan (Singarimbun, 1991: 23). Data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dianalisis ke dalam dua tahap yaitu:

1. Analisis Tabel Tunggal

Merupakan suatu analisis yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisis data yang terdiri dari kolom, sejumlah frekuensi dan presentase untuk kategori (Singarimbun, 1991: 266)

2. Analisa Tabel Silang

Merupakan suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui variabel yang satu memiliki hubungan dengan variabel lainnya. Dalam hal ini variabel X1 yakni Komunikasi, Variabel X2 yakni Motivasi , terhadap variabel Y yakni Kinerja staf.

(5)

1.16 Uji Hipotesa

Uji Hipotesis adalah pengujian data statistik untuk mengetahui data hipotesis yang diajukan dapat diterima atau ditolak. Rumus yang digunakan untuk mengetahui hubungan di antara kedua variabel yang dikorelasikan adalah Koefisien Tata Jenjang

(Rank Order Correlation Coefficient) oleh Spearman (Arikunto, 2006: 247)

) 1 ( 6 1 2 2 − ∑ − = n N d Rho (Kriyantono, 2006: 176) Keterangan : rs = koefisien korelasi 1 = bilangan konstan ∑ = sigma/jumlah

d = beda antar jenjang tiap sampel n = jumlah sampel

(6)

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1 Pengertian Komunikasi dan Komunikasi Transaksional 2.1.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi adalah hubungan kontak antar dan antara manusia baik individu maupun kelompok. Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bahagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Dengan kata lain komunikasi merupakan faktor yang fundamental dalam hidup manusia. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia memerlukan komunikasi. Dengan berkomunikasi individu dapat menyampaikan perasaan, pikiran, pendapat, sikap, ataupun informasi kepada sesame. Komunikasi juga membentuk ikatan-ikatan diantara kita, dan

komunikasi kita gunakan untuk memecahkan banyak masalah yang kita hadapi dalam kehidupan kita.

Istilah komunikasi sesungguhnya berpangkal pada perkataan latin communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Komunikasi juga memiliki akar kata berbahasa latin communico yang artinya membagi (Effendy, 2004:9). Upaya membangun kesamaan untuk membuat kebersamaan antara dua orang atau lebih dalam proses informasi antara satu dengan lain bermaksud atau dimaksudkan untuk merubah tingkah laku. Dalam arti yang sederhana, komunikasi dapat berarti proses pertukaran pengertian.

Komunikasi antar manusia (Human Communication), menurut kelompok sarjana komunikasi yang fokus pada studi komunikasi antar manusia adalah : Suatu pertukaran, proses simbolik yang menghendaki orang-orang agar mengatur

lingkungannya; 1. Dengan membangun hubungan antar sesame manusia; 2. Melalui pertukaran informasi; 3. Untuk menguatkan sikap dan tingkah laku orang lain; 4. Serta berusaha mengubah sikap dan tingkah laku itu.

Everest M.Rogers (Kurniawaty, 2007:2), seorang pakar sosiologi pedesaan Amerika, membuat defenisi, “Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi terhadap satu sama lain, yang pada gilirannya akan tiba kepada saling pengertian diantara keduannya”.

(7)

Dari berbagai uraian sebagai batasan pengertian komunikasi, yakni komunikasi antar manusia (human communication) dengan pertukaran pesan menggunakan bahasa (komunikasi verbal), dapat dipandang dari berbagai sudut pandang. Jika dipandang sebagai proses, komunikasi merupakan kegiatan pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung dinamis, pengirim pesan disebut

komunikator dan penerima pesan disebut komunikan, pengalihan suatu ide sebagai pesan dari sumber kepada penerima bisa individual atau bahkan juga kelompok, seperti khalayak penonton atau audience.

2.1.2 Ruang Lingkup Komunikasi

Adapun Ruang Lingkup Komunikasi dapat dilihat dibawah ini. 1. Komponen Komunikasi a. Komunikator (communicator) b. Pesan (message) c. Media (media) d. Komunikan (communicant) e. Efek (effect) 2. Proses Komunikasi

a. Proses secara primer b. Proses secara sekunder 3. Bentuk Komunikasi

a. Komunikasi Personal (personal communication)

1. Komunikasi Intrapersonal (intrapersonal communication) 2. Komunikasi Antarpersonal (interpersonal communication) b. Komunikasi Kelompok

1. Komunikasi Kelompok Kecil (small group communication)  Ceramah (lecture)

 Diskusi Panel (panel discussion)  Simposium (symposium)

 Forum  Seminar

 Curah saran (brainstorming)

2. Komunikasi Kelompok Besar ( large group communication/Public Speaking)

(8)

 Komunikasi Massa (Mass Communication)  Pers

 Radio  Televisi  Film

 Komunikasi Media (Media Communication)  Surat  Telepon  Pampflet  Poster  Spanduk 4. Sifat Komunikasi

a. Tatap Muka (face to face) b. Bermedia (mediated) c. Verbal (verbal)

 Lisan (oral)

 Tulisan/cetsk (written/printed) d. Non-verbal (non-verbal)

 Kial/isyarat badaniah (gestural)  Bergambar (pictorial)

5. Metode Komunikasi

a. Jurnalistik (journalism)

 Jurnalistik cetak (printed journalism)

 Jurnalistik elektronik (electronic journalism) - Jurnalistik radio (radio journalism)

- Jurnalistik televise (television journalism)

b. Hubungan Masyarakat (public relation) c. Periklanan (advertising)

d. Pameran (exhibition) e. Publisitas

f. Propaganda

g. Perang urat saraf (psychological warfare) h. Penerangan

(9)

6. Teknik Komunikasi

a. Komunikasi informative (informative communication) b. Komunikasi persuasive (persuasive communication)

c. Komunikasi instruktif/koersif (instructivelcoersive communication) d. Hubungan manusiawi (human relation)

7. Tujuan Komunikasi

a. Perubahan sikap (attitude change) b. Perubahan pendapat (opinion change) c. Perubahan Perilaku (behavior change) d. Perubahan sosial (social change) 8. Fungsi Komunikasi

a. Menyampaikan informasi (to inform) b. Mendidik (to educate)

c. Menghibur (to entertaint) d. Mempengaruhi (to influence) 9. Model Komunikasi

a. Model satu tahap (one stop flow communication) b. Komunikasi dua tahap (two step flow communication) c. Komunikasi multi tahap (multi step flow communication) 10. Bidang Komunikasi

a. Komunikasi sosial (social communication)

b. Komunikasi manajemen/organisasi (management/organizational communication)

c. Komunikasi perusahaan (business communication) d. Komunikasi politik (political communication)

e. Komunikasi international (international communication) f. Komunikasi antar budaya (intercultural communication) g. Komunikasi pembangunan (development communication) h. Komunikasi lingkungan (enviromental communication) i. Komunikasi tradisional (traditional communication)

Demikian ikhtisar mengenai lingkup komunikasi dipandang dari berbagai segi (Effendy, 1993).

(10)

2.1.3 Fungsi Komunikasi

Proses dan elemen komunikasi dilaksanakan untuk mencapai fungsi komunikasi meliputi :

1. Menyampaikan informasi (to inform) 2. Mendidik ( to educate)

3. Menghibur (to entertain)

4. Mempengaruhi (to influence) (dalam Pohan, 2002 :7)

Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting dalam proses komunikasi, dalam rangka membangun kesamaan dan berbagi informasi antar pihak-pihak, baik secara individu atau kelompok. Tujuannya agar satu sama lain mengetahui tujuan yang hendak mereka capai. Fungsi pendidikan lebih pada arah perubahan yang

terjadidalam keberlangsungan proses komunikasi, hingga mampu bertahan atau malah merubah keseluruhan ide atau kepercayaan diri sebelum proses tersebut berlangsung termasuk didalamnya proses mempengaruhi. Fungsi menghibur yakni bagaimana komunikasi melalui proses pertukaran informasi, dan pendidikan yang ada mampu merperkuat keyakinan dan menyenangkan perasaan.

Fungsi komunikasi antar manusia (human communication) melalui jenis komunikasi yang ditujukan kepada massa, tidak terlepas dari fungsi informasi, pendidikan, hiburan, dan juga mampu menjadi faktor perubah, diterjemahkan oleh Alexis S. Tan (Dalam Nurdin, 2007 :65), sebagai berikut :

• Tujuan Komunikator 1. Memberi informasi 2. Mendidik

3. Mempersuasi, dan

4. Mengenangkan, memuaskan kebutuhan komunikan. • Tujuan Komunikan

1. Mempelajari ancaman dan peluang, memahami lingkungan, menguji kenyataan, meraih keputusan.

2. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang berguna memfungsikan dirinya secara efektif dalam masyarakatnya, mempelajari nilai, tingkah laku yang cocok agar diterima dalam masyarakat.

3. Memberi keputusan, mengadopsi nilai, tingkah laku, dan aturan yang cocok agar diterima dalam masyarakatnya.

(11)

4. Menggembirakan, mengendorkan urat syaraf, menghibur, dan mengalihkan perhatian dari masalah yang dihadapi.

2.1.4 Komunikasi Transaksional

Dalam struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian tugas yang merupakan tata hubungan yang erat satu dengan yang lainnya untuk menghasilkan suatu kerjasama. Pembagian tugas untuk setiap pegawai berbeda-beda, sesuai dengan jabatannya. Seorang pemimpin bertugas menyelanggarakan, memberi petunjuk, mendidik, dan membimbing agar para bawahan mengikuti jejak pimpinan untuk mencapai tujuan organisasi. Semua itu dapat dilakukan secara baik bila seorang pemimpin dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana nestinya seorang pemimpin. Disinilah suatu komunikasi merupakan salah satu sarana penting di dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Salah satu komunikasi yang digunakan para pimpinan dalam berinteraksi dengan bawahannya adalah Komunikasi Transaksional.

“Komunikasi adalah proses transaksional. Komunikasi adalah transaksi. Dengan transaksi dimaksudkan bahwa komunikasi merupakan suatu proses, bahwa komponen-komponennya saling terkait, dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan”(Joseph, 1997:47).

Komunikasi Transaksional adalah meminta atau memberi jasa/barang, fakta, dan pendapat yang terkait dengan kehidupan peserta didik sehari-hari serta mata pelajaran lain, secara lisan dan tulisan.

Komunikasi Transaksional adalah salah satu teknik komunikasi yang dapat menunjang hubungan interpersonal yang baik dalam rangka mengatasi

kekurangan harmonisan hubungan interpersonal dengan orang lain karena kekurang mampuan.

(Sumber:http://inherent.Brawijaya.ac.id.iv/m/mod/resource/view.php?id)

2.2 Komunikasi Dalam Organisasi

Komunikasi manusia meliputi berbagai bidang komunikasi diantaranya ialah komunikasi organisasi. Komunikasi merupakan suatu bagian yang penting dalam hubungan-hubungan organisasi, karena menyangkut hubungan antar manusia yang ada didalamnya. Tanpa adanya komunikasi sebuah perusahaan tidak akan dapat mencapai tujuan akhirnya.

(12)

Komunikasi organisasi sangat penting dan layak untuk dipelajari karena sekarang ini banyak orang yang tertarik dan memberi perhatian kepadanya guna mengetahui prinsip dan keahlian komunikasi yang dapat dimanfaatkan untuk tujuan organisasi, baik organisasi komersial seperti lembaga bisnis dan industri maupun organisasi-organisasi sosial seperti lembaga rumah sakit maupu n institusi pendidikan.

Komunikasi merupakan alat untuk menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan organisasi, perintah, pesan, saran, dan lain-lain. Adanya komunikasi yang baik akan membantu menciptakan arah pertumbuhan yang positif bagi organisasi. Conrad, 1985 (Dalam Steward, 2005:170), mengidentifikasi tiga fungsi komunikasi dalam organisasi.

Fungsi-fungsi tersebut adalah : 1. Fungsi perintah.

Komunikasi memperbolehkan anggota organisasi “membicarakan, menerima, menafsirkan, dan bertindak atas suatu perintah”. Dua jenis komunikasi yang mendukung pelaksanaan fungsi ini adalah pengarahan dan umpan balik, dan tujuannya adalah berhasil mempengaruhi orang lain dalam organisasi. Hasil dan fungsi perintah adalah koordinasi diantara sejumlah anggota yang saling bergantung dalam organisasi tersebut. 2. Fungsi rasional.

Komunikasi memperbolehkan anggota organisasi “menciptakan dan mempertahankan bisnis produktif dan hubungan personal dengan anggota organisasi lain”. Hubungan dalam pekerjaan mempengaruhi kinerja pekerjaan (job performance) dalam berbagai acara.

3. Fungsi manajemen ambigu.

Komunikasi adalah alat untuk mengatasi dan mengurangi ketidakjelasan (ambiguity) yang melekat dalam organisasi.

Tujuan komunikasi harus disebarluaskan kepada seluruh karyawan sehingga mereka dapat mengetahui secara jelas tentang mksud-maksud yang ingin dicapai oleh perusahaan. Komunikasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang kebijakan-kebijakan perusahaan, perintah, pesan-pesan, saran-saran, dan lain-lain.

(13)

Manusia merupakan unsur terpenting dari unsur-unsur produksi lainnya, karena mempunyai rasio dan perasaan. Sedangkan unsur-unsur lainnya seperti, tujuan, fungsi organisasi dan peralatan hanya merupakan benda mati tanpa adanya manusia. Hubungan yang harmonis dalam perusahaan dapat dicapai dengan adanya

komunikasi. Komunikasi merupakan sebagian besar kegiatan hidup. Demikian pula dalam suatu organisasi. Interaksi yang harmonis diantara para karyawan dalam suatu organisasi, baik dalam hubungannya secara timbale balik antara atasan dan bawahan dikarenakan adanya komunikasi. Komuniksi merupakan alat yang dapat dipergunakan untuk menjelaskan tentang kebijaksanaan-kebijkasanaan perusahaan, perintah, pesan-pesan, saran-saran, dan lain-lain. Masalah itu menjadi sumber utama untuk

mengadakan interaksi diantara para karyawan, dilakukan melalui saluran formal (misalnya: berbincang-bincang sehabis makan siang antara atasan dengan bawahan maupun sesame karyawan). Adanya komunikasi yang baik akan membantu

menciptakan arah pertumbuhan yang positif dari suatu organisasi.

Interaksi yang terjadi didalam suatu organisasi baik sesame karyawan maupun antara atasan dengan karyawan hanya dapat lancar dengan komunikasi.

Betapa pentingnya komunikasi dalam organisasi oleh Munhammad

disimpulkan bahwa komunikasi dalam organisasi merupakan proses untuk mencipta dan saling tukar menukar pesan dalam rangkaian hubungan yang saling bergantung antara satu dengan yang lain untuk menyelesaikan suatu masalah yang berlaku dilingkungan yang tidak menentu (Muhammad, 1995:66).

Organisasi dapat diartikan sebagai suatu sistem yang terdiri dari pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang oleh sekelompok orang untuk mencapai tujuan (Gitosudarmo & Sudila, 2000:57).

“Sehein mengatakan bahwa organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai beberapa tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi melalui hirarki otoritas dan tanggung jawab. Ia juga mengatakan bahwa organisasi mempunyai karakteristik tertentu yaitu mempunyai struktur, tujuan, saling berhubungan satu bagian dengan bagian lain dan tegantung kepada komunikasi manusia untuk menkoordinasikan aktivitas dalam organisasi tersebut. Sifat tergantung antara satu bagian dengan bagian lain menandakan bahwa organisasi yang

dimaksudkan Sehein ini adalah merupakan suatu sistem”. (Muhammad,1995:68).

(14)

1. Prinsip bahwa organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas

Organisasi dibentuk atau disusun atas dasar adanya tujuan. Jelasnya tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan.

2. Prinsip skala Hirarki

Adanya garis kewenang yang jelas dari pimpinan tingkat atas sampai pada setiap pimpinan tingkat bawahan, berarti garis pelimpahan wewenang dan garis pertanggung jawaban nya akan lebih efektif. Demikian pula proses pengambilan keputusan, sistem komunikasi dan koordinasinya suatu organisasi.

3. Prinsip Kesatuan perintah/komando

Bahwa seseorang hanya menerima perintah dan bertanggung jawab terhadap seorang atasannya saja.

4. Prinsip Pelimpahan wewenang

Disebabkan seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas, dalam melaksanakan segala pekerjaannya, maka kewenangan itu harus

dilimpahkan kepada pejabat-pejabat pimpinan sampai yang terendah sekalipun. Pelimpahan wewenang itu harus dapat menjamin hail yang diharapkan. Yang dimaksud dengan pelimpahan wewenang ialah wewenang para pejabat pimpinan itu untuk mengambil keputusan,

melakukan hubungan dengan orang lain, dan mengadakan tindakan tanpa minta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya lagi.

5. Prinsip pertanggung jawaban.

Dalam menjalankan tugas bawahannya harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasannya. Sekalipun demikan atasan tidak dapat menghindarkan pertanggung jawabannya atas segala kegiatan/perbuatan yang dilakukan oleh bawahannya.

6. Prinsip Pembagian Pekerjaan.

Pembagian pekerjaan timbul disebabkan bahwa seseorang mempunyai kemampuan terbatas untuk melakukan segala macam pekerjaan. Oleh karena itu pembagian pekerjaan berarti bahwa kegiatan-kegiatan dalam melakukan pekerjaan harus dikhususkan secara sempurna (spesialisasi). Kegiatan-kegiatan itu harus jelas ditentukan dan dikelompokkan agar lebih effektif dalam mencapai tujuan organisasi.

(15)

Jenjang/rentang pengendalian artinya bahwa jumlah bawahan yang harus dikendalikan oleh seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Oleh karena itu tingkat-tingkat kewenangan harus dibatasi seminim munkin, agar biaya overhead dapat ditekan serendah mungkin. Sesuai dengan bentuk dan tipe organisasi, maka rentang/jenjang pengendalian (span of control), terdiri atas :

a. Rentang pengendalian yang sempit, yaitu apabila jumlah bawahan yang harus dikendalikan itu relatif kecil (4-8 orang).

b. Rentang pengendalian yang luas yaitu apabila jumlah bawahan yang dikendalikan oleh seorang atasan relatif besar (8-15 orang). 8. Prinsip Fungsional

Bahwa seorang dalam organisasi secara fungsional harus jelas tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja serta tanggung jawabnya dalam melaksanakan tercapainya tujuan organisasi.

9. Prinsip Pemisahan.

Bahwa beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan tanggung jawabnya kepada orang lain.

10. Prinsip Keseimbangan.

Keseimbangan antara struktur organisasi yang effektif dengan tujuan organisasi. Keseimbangan antara beban tugas pekerjaan dengan funsi-fungsi manajer. Dalam prakteknya keseimbangan itu mungkin terjadi pada bidang-bidang tertentu, misalnya : pada struktur organisasi, yaitu apabila jenjang/rentang pengendalian (span of control) tidak effisien, karena komunikasi yang luas tidak juga effisien dan sebagainya.

11. Prinsip Fleksibelitas.

Sesuatu pertumbuhan dan perkembangan organisasi harus disesuaikan dengan perubahan dan dinamika organisasi itu, sebab kalau tidak dapat menyesuaikan maka organisasi itu tidak dapat memenuhi tujuannya. Oleh karena itu diperlukan reorganisasi, karena mungkin perubahan

pimpinannya, perubahan metode dan prosedurnya, mungkin juga tidak sesuai lagi dengan tugasnya, sehingga harus disesuaikan dengan tugasnya yang baru.

(16)

Sekalipun susunan organisasi tekah ditetapkan, wewenang telah dilimpahkan kepada para manajer untuk melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, tetapi lebih daripada itu diperlukan adanya kemampuan kepemimpinan . pengorganisasian adalah tehnik peningkatan daripada kepemimpinan, karena dapat menciptakan situasi, dimana manajer dapat memimpin kearah yang lebih effektif (Handayaningrat, 1986).

Atau dengan meminjam defenisi dari GoldHaber (Muhammad, 1995:67) yang menyatakan bahwa komunikasi organisasi adalah proses menciptakan dan saling tukar menukar pesan dalam suatu jaringan hubungan yang saling tergantung satu sama lain untuk mengatasi lingkungan yang tidak pasti atau yang selalu berubah-ubah.

Redding dan Sanborn (Muhammad, 1995:65) memberikan pengertian bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang kompleks. Kemudian Katz dan Kahn (Muhammad, 1995:65) menyatakan bahwa komunikasi organisasi merupakan arus informasi, pertukaran informasi, dan

pemindahan arti di dalam suatu organisasi. Sedangkan Greenbaunm mengatakan bahwa bidang komunikasi organisasi termasuk arus komunikasi formal dan informal dalam organisasi (Muhammad, 2006:65).

Meskipun bermacam-macam persepsi para ahli mengenai komunikasi

organisasi ini tapi dari semuanya itu ada beberapa hal yang umumdapat disimpulkan, yaitu :

A. Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu sistem yang terbuka, yang kompleks, dan yang dipengaruhi oleh lingkungannya sendiri baik internal maupun eksternal.

B. Komunikasi organisasi meliputi pesan dan arusnya, tujuan, arah dan media. C. Komunikasi organisasi meliputi orang dan sikapnya, perasaannya,

hubungannya dan keterampilannya atau skillnya.

2.3 Motivasi Kerja

Motivasi merupakan masalah kompleks dalam organisasi, karena kebutuhan dan keinginan setiap anggota suatu organisasi berbeda satu dengan yang lainnya.

(17)

Model Maslow ini sering disebut dengan model hierarki kebutuhan. Karena menyangkut kebutuhan manusia, maka teori ini digunakan untuk menunjukkan kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi agar individu tersebut termotivasi untuk kerja.

Gambar : Maslow;s Need Hierarchy

Menurut Maslow, pada umumnya terdapat hierarki kebutuhan manusia antara lain : 1. Kebutuhan fisiologik (physiological needs), misalnya makanan, minuman,

istirahat/tidur, seks. Kebutuhan inilah yang merupakan kebutuhan pertama dan utama yang wajib dipenuhi oleh tiap individu.

2. Keamanan antara lain keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional.

3. Sosial mencakup kasih saying, rasa dimiliki, diterima dengan baik, dan persahabatan.

Kebutuhan Aktualisasi Diri

Penghargaan

Kebutuhan Sosial

Kebutuhan Keamanan

(18)

4. Pengahargaan; mencakup faktor rasa hormat internal seperti harga diri, otonomi, prestasi dan faktor hormat eksternal seperti misalnya status, pengakuan, dan perhatian.

5. Aktualisasi diri; dorongan untuk menjadi apa yang mampu menjadi;

mencakup pertumbuhan, mencapai potensialnya, dan pemenuhan (Liliweri, 1991:51-52).

2.3.1 Manfaat Motivasi Kerja

Manfaat motivasi yang utama adalah menciptakan gairah kerja, sehingga ; produktifitas kerja meningkat. Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang sudah ditentukan, serta orang senang melakukan pekerjaannya. Sesuatu yang dikerjakan karena ada motivasi yang mendorongnya akan membuat orang senang mengerjakannya. Orang pun akan merasa dihargai/diakui, hal ini terjadi karena pekerjaannya itu betul-betul berharga bagi orang yang termotivasi.

2.3.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja

Menurut Frederick Herzberg mengembangkan teori hierarki kebutuhan Maslow menjadi teori dua faktor tentang motivasi. Dua faktor itu dinamakan faktor pemuas (motivation factor) yang disebut dengan satisfer atau intrinsic motivationdan factor pemeliharaan (maintenance factor) yang disebut dengan disatisfier atau

extrinsic motivation (Masithoh, 1998:20)

Faktor pemuas yang disebut juga motivator yang merupakan faktor pendorong seseorang untuk berprestasi yang bersumber dari dalam diri seseorang tersebut

(kondisi intrinsik) antara lain :

1. Prestasi yang diraih (achievement) 2. Pengakuan orang lain (recognition) 3. Tanggung jawab (responsibility) 4. Peluang untuk maju (advancement)

5. Kepuasan kerja itu sendiri (the work it self)

(19)

Sedangkan faktor pemelihara (maintenance factor) disebut juga hygiene factor merupakan faktor yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan untuk memelihara keberadaan karyawan sebagai manusia, pemeliharaan ketentraman dan kesehatan.

Faktor ini juga disebut dissatisfies (sumber ketidakpuasaan) yang merupakan tempat pemenuhan kebutuhan tingkat rendah yang dikualifikasikan ke dalam faktor ekstrinsik, meliputi :

1. Kompensasi

2. Keamanan dan Keselamatan Kerja 3. Kondisi Kerja

4. Status

5. Prosedur Perusahaan

6. Hubungan interpersonal diantara teman sejawat, dengan atasan, dan dengan bawahan.

2.4 Kepemimpin dan Fungsinya 2.4.1 Arti Kepemimpinan

Istilah “Kepemimpinan” sebagai terjemahan dari “leadership” seringkali kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, kita dengar percakapan, dalam pertemuan, dari pidato radio, dari ceramah, atau kit abaca dalam surat kabar, majalah, buku, dan sebagainya.

Secara akademik, kepemimpinan dipahami sebagai seni dan proses mempengaruhi orang atau kelompok orang, sehingga mereka berusaha dengan sukarela, antusias, dengan keyakinan dan keberanian serta kerja keras dalam

kooperasi dan koordinasi kearah tercapainya sasaran dan tujuan individu, kelompok, dan organisasi secara Proporsional (Pohan, 2005:101-102). Meskipun kepemimpinan di defenisikan secara berbeda-beda, namum hakekat praktek kepemimpinan adalah sama, yaitu proses untuk mempengaruhi aktivitas-aktivitas seseorang atau kelompok dalam upaya untuk mencapai tujuan bersama, pada situasi dan kondisi tertentu.

Dalam pengertian umum, kepemimpinan menunjukkan protes kegiatan seseorang dalam memimpin, membimbing, mempengaruhi atau mengontrol pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain. Kegiatan tersebut dapat dilakukan melalui suatu karya, seperti buku, tulisan, dan sebagainya, atau melalui kontak pribadi antara seseorang dengan orang lain secara (tatap muka). Kepemimpinan melalui karangan

(20)

atau ciptaan yang dituangkan dalam bentuk atau lukisan dapat dikatakan kepemimpinan yang tidak langsung, karena sang pemimpin dalam usaha mempengaruhinya tidak seketika pada saat ia melakukan kegiatan.

Pemimpin-pemimpin jenis ini adalah para ilmuwan, seniman, atau sastrawan yang hasil karyanya atau ide-ide dapat mempengaruhi orang lain.

Faktor penting dalam kepemimpinan, yakni dalam mempengaruhi atau mengontrol pikiran, perasaan, atau tingkah laku orang lain itu, ialah tujuan. Tujuan ini adalah tujuan pihak si pemimpin. Kepemimpinan adalah kegiatan si pemimpin untuk mengarahkan tingkah laku orang lain ke suatu tujuan tertentu (Effendy, Onong Uchyana, 1986:1-2).

Peran yang menonjol dari seseorang pemimpin bila diamati dalam organisasi perusahaan adalah pemimpin akan memiliki sifat-sifat tertentu yang menonjol dibanding orang disekitarnya. Pengamatan dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik harus memiliki sifat-sifat antara lain:

a. Mempunyai kemampuan yang lebih dibanding orang lain

Pemimpin tentu tidak mau jadi orang kedua, juga mempunyai keinginan mengatasi dan mengungguli orang di sekitarnya. Pemimpin harus mempunyai inisiatif dan sanggup bekerja keras serta ulet agar dapat mencapai tujuannya. b. Mempunyai rasa tanggung jawab yang besar.

Pemimpin yang baik tidak akan pernah merasa takut untuk memikul tanggung jawab terhadap orang lain, atau pekerjaan yang sangat sulit sekalipun akan tetap dihadapinya.

c. Mau bekerja dengan keras dan ulet.

Pimpinan akan selalu sanggup untuk melakukan kerja keras dan tidak lelah, mempunyai daya tahan yang kuat guna bekerja dalam jangka waktu yang lama. Ini akan dapat memberi contoh dan motivasi pada bawahannya.

d. Pandai bergaul

Pemimpin yang baik selalu pandai bergaul dengan teman sejawat, ia akan berusaha mengenal baik temannya serta memahami segala persoalan dan perilakunya.

e. Memberi contoh pada bawahan.

Pemimpin akan menjadi pelopor dan selalu memberikan contoh bagaimana cara untuk bekerja keras dan bersemangat, sehingga bawahan dengan sendirinya akan ikut bersemangat untuk ikut bekerja dengan semangat.

(21)

f. Memiliki rasa integritas.

Pemimpin mempunyai rasa bersatu dengan kelompok yang ada dalam organisasinya, sehingga dapat membentuk kesatuan untuk melaksanakan pekerjaan guna mencapai tujuan (Nasution, 1996:178).

Agar pemimpin dan karyawan dapat bekerja sama secara harmonis, dapat menempatkan diri secara tepat menurut peranan dan tanggung jawabnya masing, maka kesadaran dan tingkat pemahaman yang benar akan peran masing-masing dengan terus meningkatkan kualitas penghayatan hingga titik tertinggi adalah sangat penting.

Pemimpin yang efektif, menjalin hubungan sosial dan emosional dalam kerja sama karyawan ditandai dengan mengembangkan sikap saling mempercayai, keikatan dan kesetiaan tinggi yang diberikan kedua pihak. Pemimpin yang menonjolkan sumber kekuasaan referent power sebagai acuan yang dijadikan sumber memperoleh kepatuhan, rasa hormat, dan komitmen karyawannya. Hubungan dua-an (dyalic, interpersonal) pemimpin dengan karyawan dilandasi pertukaran sosial yang bertumpu simbiosis mutualisma. Pemimpin menaruh kepercayaan dan memberikan sejumlah keuntungan materi dan non materi tertentu, pemimpin menjauhkan segala bentuk tindakan yang mendorong karyawan keluar dari kelompok, organisasi atau pekerjaannya (Pohan, 2005:105).

2.4.2 Fungsi Kepemimpinan

Fungsi seorang pemimpin beserta teknik kepemimpinannya berbeda menurut situasi dimana sang pemimpin melakukan kegiatannya. Kelompok-kelompok yang satu sama lain berbeda macamnya, berbeda besarnya, berbeda sifat pemilihannya, serta berbeda fungsi dan tujuannya, menghendaki cara kepemimpinan yang berbeda pula.

Dalam kepemimpinan tidak ada azas-azas yang universal yang tampak ialah bahwa proses-proses kepemimpinan dalam pola-pola hubungan antara pimpinan dan yang dipimpin mempunyai ciri-ciri khas dalam setiap jenis kelompoknya (Effendy, Onong Uchjana, 1986:3-4).

Figur

Gambar : Maslow;s Need Hierarchy

Gambar :

Maslow;s Need Hierarchy p.17

Referensi

Memperbarui...