• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 9, No. 2, Maret 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 9, No. 2, Maret 2021"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Maret 2021 eISSN 2657- 0998

125

Peningkatan Hasil Belajar Mengenal Fungsi Anggota Tubuh Melalui

Penerapan Model Pembelajaran Picture And Picture Pada Siswa Kelas I

Tuna Daksa SDLB Negeri Banda Aceh

Aipiyastri

Guru SDLB Negeri Banda Aceh Email : [email protected]

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Peningkatan hasil belajar siswa kelas I Tunadaksa SDLB Negeri Banda Aceh dengan menggunakan model pembelajaran picture and picture. Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I Tunadaksa di SDLB Negeri Banda Aceh sebanyak 5 siswa. Teknik pengumpulan data yang menggunakan observasi, dokumentasi dan tes. Validasi data menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada kondisi awal, presentase jumlah siswa aktif sebesar 1 siswa atau 20% menjadi 3 siswa atau 60% pada siklus 1, dan 5 siswa atau 100% pada siklus 2. Peningkatan hasil belajar siswa pada kondisi awal 20% atau 1siswa mencapai ketuntasan , pada siklus 1 sebesar 40% atau 2 siswamencapaai ketuntasan dan pada siklus kedua sebesar 100% atau 5 sisw mencapai ketuntasana. Nilai rata-rata pada kondisi awal sebesar 56,00, pada akhir siklus 1 adalah 66,00 dan pada akhir siklus kedua sebesar 74,00. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penerapan model pembelajaran picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar pada materi mengenal fungsi anggota tubuh siswa kelas I tunadaksa di SDLB Negeri Banda Aceh Tahun Pelajaran 2018/2019.

Kata kunci: hasil belajar, picture and picture, tunadaksa. PENDAHULUAN

Pada era globalisasi menuntut pengembangan SDM yang unggul dan berkualitas (Pratiwi Nurabdiah, 2020). Untuk merealisasikan SDM yang unggul dan berkualitas, tentu diperlukan berbagai factor penunjang yang tepat, salah satunya adalah pendidikan dan kurikulum (Mantiri, 2019). Pendidikan merupakan hak asasi yang paling mendasar bagi manusia, tidak terkecuali bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) (Afifah & Hadi, 2018). Dalam Undang-Undang RI no 20 tahun 2003 tentang pendidikan nasional bahwa Negara memberikan jaminan sepenuhnya kepada ABK atau anak luar biasa berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya dalam pendidikan. Namun dalam implementasikan kebijakan pendidikan di Indonesia sampai sekarang belum mampu menjangkau semua anak usia sekolah untuk mendapat akses pendidikan secara memadai terutama untuk ABK yang belum terpenuhi haknya untuk memperoleh haknua sebagaimana layaknya anak-anak lainnya (Pendidikan, 1982).

Pendidikan di Indonesia ini menerapkan sistem kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ini memiliki pengertian sebuah kurikulum yang terpadu sebagai suatu konsep dapat

(2)

126

dikatakan sebagai sebuah sistem atau pendekatan pembelajaran yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk memberi pengalaman yang bermakna dan luas kepada peserta didik . Pada kurikulum 2013 ini berbasis karakter dan kempetensi yang mewajibkan anak untuk aktif dalam pembelajaran agar menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter (Novitasari et al., 2019). Diantara kunci sukses yang menentukan keberhasilan kurikulum 2013 adalah fasilitas dan sumber belajar (Arif et al., 2017).

Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus membutuhkan metode pembelajaran yang mudah diingat dan diterima oleh anak (Hasanah, 2019).Salah satu contoh metode- metode yang digunakan media pembelajaran dengan menggunakan game edukasi yang dapat dimengerti, menarik, dan meningkatkan minat belajar (Irsyadi & Nugroho, 2015). Pengenalan anggota tubuh ilmu dasar dalam pelajaran ini karena akan lebih mudah diajarkan pada anak usia dini. Kebanyakan anak berkebutuhan khusus susah dalam belajar dengan metode manual yang kurang menarik dan cenderung sangat membosankan. Mereka membutuhkan media pendukung yang menarik minat belajar anak-anak tuna grahita sehinnga proses belajar bias diterapkan dengan baik dan bias meningkatkan minat dan ketertarikan anak lebih semangat belajar (Mais, 2016). Media pembelajaran yang menarik aan mempengaruhi efektifitas proses belajar mengajar.

Pada studi pendahuluan pembelajaran materi mengenal fungsi anggota tubuh menunjukkan daya serap siswa masih rendah dalam memahami materi. Dari siswa kelas I tunadaksa di SDLB negeri Banda Aceh yang berjumlah 5 anak, hanya 1 anak (20%) yang mencapai kategori tuntas. Artinya sebagian besar siswa belum mencapai tingkat penguasaan materi 70% ke atas atau mendapat nilai 70, dengan tingkat minat belajar sebesar 20% atau 1 orang siswa dari 5 siswa, serta perolehan nilai rata-rata prestasi belajar sebesar 56,00 dengan standar nilai KKM sebesar 70.

Dari permasalahan di atas diperlukan suatu model pembelajaran picture and

picture yang menggunakan media gambar sehingga mampu menarik perhatian dan

mempermudah pelajaran.

Adapun tujuan pengunaan model pembelajaran picture and picture atau Tujuan instruksional adalah siswa mencari dan menemukan sendiri, mampu menyimpulkan fakta-fakta, melatih peserta didik menggunakan logika berfikir untuk menarik kesimpulan (Sri Wulandari dan Marlina, 2018). Metode mengajar picture and picture adalah bentuk pembelajaran yang kooperatif. Kooperatif artinya siswa berkerja secara aktif dalam kelompok. Picture and picture adalah suatu pembelajaran yang aktif dengan bahan utama dalam pembelajaran adalah media gambar. Sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan juga dapat merangsang otak siswa untuk dapat mempermudah dalam memahami konsep dalam suatu pembelajaran.

Bertolak dari latar belakang masalah di atas, maka tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah : Untuk mengetahui peningkatan prestasi hasil belajar materi mengenal fungsi anggota tubuh siswa kelas I tunadaksa di SDLB Negeri Banda Aceh Tahun Pelajaran 2018/2019 melalui penerapan model pembelajaran picture and picture.

(3)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Maret 2021 eISSN 2657- 0998

127

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, permasalahan yang dapat diungkapkan melalui penelitian ini, dapat diidentifikasi sebagai berikut:

1. Model pembelajaran yang bersifat sentralistik yang masih banyak menggunakan metode ceramah, sehingga pembelajaran masih bersifat satu arah, karena siswa masih menganggap pusat pembelajaran pada guru.

2. Minat dan hasil belajar yang rendah. Ini terlihat dari masih ada beberapa siswa yang belum mencapai KKM.

3. Penggunaan metode pembelajaran yang variatif masih minim. Hal ini juga berpengaruh terhadap sikap siswa dalam menyerap dan memahami pelajaran.

METODE PENELITIAN Tempat dan waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelas I Tunadaksa SDLB Negeri Labui Banda Aceh yang berlokasi di jalab sekolah no.6 Labui Kelurahan Ateuk Pahlawan Kecamatan Baiturrahman kota Banda Aceh. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan September 2018 sampai dengan November 2018

Metode Penelitian

Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari model Suharsimi Arikunto (2012: 17) yaitu: .

1. Perencanaan

Perencanaan adalah langkah yang dilakukan oleh guru ketika akan memulai tindakannya. Adapun uraian yang perlu dan harus dikemukakan adalah menyusun sebuah rancangan kegiatan, siswanya akan diapakan. Supaya perencanaan ini lengkap dan dipahami oleh semua siswa, guru membuat semacam panduan yang menggambarkan (a) apa yang harus dilakukan oleh siswa, (b) kapan dan berapa lama dilakukan, (c) dimana dilakukan, (d) jika diperlukan peralatan atau sarana, ujudnya apa, (e) jika sudah selesai, apa tindak lanjutnya (Arikunto, 2010: 17).

2. Pelaksanaan

Pelaksanaan adalah implementasi dari perencanaan yang sudah dibuat, dalam hal ini guru melaksanakan tindakan sesuai dengan RPP yang telah disusun oleh peneliti. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu: (a) apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan, (b) apakah proses tindakan yang dilakukan siswa cukup lancar, (c) bagaimanakah situasi proses tindakan, (d) apakah siswa-siswi melaksanakan dengan penuh semangat, (e) bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu (Arikunto, 2010: 17).

3. Pengamatan

Pengamatan adalah kegiatan pengambilan data dalam penelitian dimana peneliti melihat situasi penelitian (Kusumah dan Dwitagama, 2010: 66). Pengamatan yang dilakukan dalam penelitian ini digunakan untuk melihat proses kegiatan pembelajaran dan menilai kemajuan belajar siswa dengan menggunakan format pengamatan. Format

(4)

128

pengamatan merupakan hal yang sangat penting dan mutlak harus ada. Pengamat dalam PTK ada dua kemungkinan, yaitu (a) pengamat dilakukan oleh orang lain yang diminta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, yaitu mengamati apa yang dilakukan oleh guru, siswa, maupun peristiwanya, (b) pengamatan dilakukan oleh guru yang melaksanakan PTK.

4. Refleksi

Refleksi merupakan sarana untuk melakukan pengkajian kembali tindakan yang telah dilakukan terhadap subjek penelitian dan telah dicatat di dalam observasi. Refleksi berguna untuk melihat kekurangan, hambatan, dan tercapai atau tidaknya target yang diinginkan. Refleksi juga digunakan sebagai acuan untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran. Biasanya direalisasikan melalui diskusi sesama partisipan atau teman sejawat (Kusumah dan Dwitagama, 2010: 92).

Subjek Penelitian

Subjek pelaksanaan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas I Tnadaksa SDLB Negeri Banda Aceh tahun pelajaran 2018/2019 dengan jumlah siswa sebanyak 5 siswa terdiri dari laki-laki sebanyak 3 siswa dan perempuan sebanyak 2 siswa.

Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini memiliki dua variabel yaitu minat dan prestasi belajar siswa. Teknik pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.

1. Observasi

Observasi merupakan suatu proses yang alami, bahkan kita sering melakukannya baik secara sadar maupun tidak sadar di dalam kehidupan sehari hari. Arifin (2009: 153) menyatakan observasi adalah suatu proses pengamatan dan pencatatan secara logis, sistematis, objektif, dan rasional mengenai berbagai fenomena, baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan dari observasi adalah untuk melihat dan mengamati secara langsung keadaan lapangan agar peneliti memperoleh gambaran yang lebih luas tentang permasalahan yang diteliti. Pada penelitian ini, pengamatan dilakukan pada saat proses pembelajaran berlangsung. Observasi digunakan sebagai data pendukung untuk mengetahui peningkatan minat belajar siswa yang digunakan peneliti dalam pembahasan.

2. Dokumentasi

Dokumentasi adalah catatan suatu peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2009: 240). Dokumentasi dapat berupa tulisan, gambar, atau karya. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen surat pribadi, nilai siswa, tugas siswa, dan foto-foto. Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dalam penelitian. Hasil penelitian akan semakin kredibel apabila didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada (Sugiyono, 2010: 240). Dokumentasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data nilai hasil tes formatif pra siklus, siklus I dan siklus II pada materi mengenal fungsi anggota tubuh siswa kelas I

(5)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Maret 2021 eISSN 2657- 0998

129 SLBN Bener Meriah Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020 melalui penerapan model pembelajaran kooperatif picture and picture.

3. Tes

Tes adalah sejumlah pertanyaan yang disampaikan pada seseorang atau sejumlah orang untuk mengungkap keadaan atau tingkat perkembangan beberapa aspek psikologis. Aspek psikologis dapat berupa prestasi atau hasil belajar, minat, bakat, sikap, kecerdasan, reaksi motorik, dan berbagai aspek kepribadian lainnya.

Validasi Data

Suatu instrumen dinyatakan telah memiliki validitas (kesahihan atau ketepatan) yang baik “jika instrumen tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya hendak diukur” (Nunnally, 1978:86). Tujuan penggunaan tes merupakan faktor utama penentu validitas, perbedaan tujuan tes memerlukan validitas yang berbeda pula. Dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Triangulasi data yaitu mengecek keabsahan (validasi) data dengan mengkonfirmasikan data yang sama dari sumber yang berbeda untuk memastikan keabsahan (derajat kepercayaan).

Teknik Analisa Data

Analisis data terhadap hasil penelitian yang peneliti gunakan dalam pelaksanaan penelitian tindkan kelas ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Data Observasi Minat Siswa

Komponen-komponen yang diamati atau dinilai dari minat siswa adalah sebanyak 4 indikator yaitu perasaan senang dan suka terhadap pembelajaran, perhatian dalam pembelajaran, usaha untuk mengembangkan diri, keterlibatan dalam pembelajaran

2. Hasil Belajar

Analisis data hasil penelitian yang tergolong data kuantitatif berupa hasil belajar (pre test dan post test) dengan cara persentase yaitu dengan menghitung peningkatan ketuntasan belajar siswa secara individual jika siswa tersebut mampu mencapai niai 70 dan ketuntasan klasikal jika siswa yang memperoleh nilai 70 ini jumahnya sekitar 85% dari jumlah seluruh siswa dan masing-masing dihitung dengan menggunakan rumus. Analisis tersebut dilakukan dengan menghitung ketuntasan individual dan ketuntasan klasikal dengan rumus persentase. Ketuntasan indiviual : Jika siswa mencapai ketuntasan > 70 dan Ketuntasan klasikal : Jika > 85% dari seluruh siswa mencapai ketuntasan > 85

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian dilaksanakan dengan menerapkan metode diskusi ini terdiri dari 2 siklus dimana pada masing-masing siklus dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan. Adapun langkah-langkah yang diambil dalam tiap siklusnya adalah: perencanaan (planning), tindakan (acting) dan refleksi (reflecting), pengamatan (observing).

(6)

130

Kriteria Keberhasilan

Tolak ukur keberhasilan dari metode picture and picture pada pelajaran yaitu siswa dapat memahami dan mengerti dengan mudah materi yang dipelajari. Indikator ini merupakan tempat dari rencana yang telah dibuat dan implikasinya dalam rangka peningkatan hasil belajar siswa pada pelajaran . Indikator keberhasilan bagi siswa dalam penelitian tindakan kelas ini adalah jika minimal 85% siswa yang diajar dengan menggunakan metode picture and picture dapat memperoleh nilai ≥ 70 (Kriteria Ketuntasan Minimum, dan 85% dari jumlah siswa dinyatakan mengalami peningkatan minat belajarnya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

a. Minat belajar Siswa

Dari hasil analisis peningkatan minat belajar siswa pada setiap siklus perbaikan pembelajaran, secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1 Rekapitulasi Peningkatan Minat belajar Siswa pada Pembelajaran pada Studi Awal, Siklus I dan Siklus II

No Uraian

Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas

Frekuensi % Frekuensi %

1 Awal 1 20,00 4 80,00

2 Siklus I 3 60,00 2 40,00

3 Siklus II 5 100,00 0 0,00

Secara jelas peningkatan minat belajar siswa selama proses perbaikan pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini :

Gambar 1: Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Minat belajar Siswa Pada Siklus I dan II

1 3 5 20 60 100 4 2 0 80 40 0 0 20 40 60 80 100 120

Awa l Siklus I Siklus I I

(7)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Maret 2021 eISSN 2657- 0998

131 b. Hasil belajar

Setelah melakukan analisa terhadap data yang peroleh dari dua siklus yang dilaksanakan dapat dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran tipe picture

and picture pada pembelajaran mengenal fungsi anggota tubuh menunjukkan peningkatan

yang signifikan terhadap hasil pembelajaran. Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 2 Rekapitulasi Prestasi belajar Siswa pada Studi Awal, Siklus I dan Siklus II

No Uraian Nilai

Rata-2

Siswa Tuntas Siswa Belum

Tuntas

Frekuensi % Frekuensi %

1 Awal 56,00 1 20,00 4 80,00

2 Siklus I 66,00 2 40,00 3 60,00

3 Siklus II 74,00 5 100,00 0 0,00

Sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dalam perbaikan pembelajaran bahwa siswa yang dinyatakan tuntas belajar jika siswa mendapat nilai tes formatif sebesar 70 ke atas (KKM=70) dan jika 85% dari siswa telah tuntas belajar. perolehan hasil belajar pada kondisi awal sebesar 56,00 meningkat menjadi 66,00 pada siklus I dan pada akhir siklus II meningkat menjadi 74,00. Untuk memperjelas dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini :

Gambar 2 Grafik Peningkatan dan Penurunan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan II

Dari hasil observasi mengenai hasil dan ketuntasan belajar siswa tersebut berdasarkan kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil karena peningkatan hasil dan ketuntasan belajar siswa mencapai angka 100,00% dari 85% batasan minimal yang telah ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran. Atas dasar pertimbangan

56 1 20 4 80 66 2 40 3 60 74 5 100 0 0 0 20 40 60 80 100 120

Nilai Tuntas % Be lum Tunta s %

(8)

132

sebagaimana diuraikan di atas, maka peneliti dan observer sepakat memutuskan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran diakhiri pada siklus II.

Peneliti menerapkan pembelajaran kooperatif tipe picture and picture untuk meningkatkan minat belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Peneliti melakukan pengamatan minat belajar siswa melalui lembar pengamatan yang mencakup 4 indikator yaitu perasaan senang dan suka terhadap pembelajaran, perhatian dalam pembelajaran, usaha untuk mengembangkan diri, keterlibatan dalam pembelajaran. Peneliti dibantu oleh satu orang observer dalam melakukan pengamatan. Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan ini juga dilakukan selama dua kali pertemuan dengan menggunakan lembar pengamatan yang harus diisi oleh observer. Tingkat keberhasilan prestasi belajar siswa dilihat dengan menggunakan nilai hasil soal evaluasi sejumlah 10 soal pilihan ganda pada siklus 1 dan 2. Tingkat prestasi belajar siswa yang dilihat dalam penelitian ini adalah jumlah siswa yang mampu mencapai KKM. tabel pencapaian penelitian berupa minat belajar dan prestasi belajar siswa mulai dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2 menunjukkan bahwa ada peningkatan minat belajar dan prestasi belajar siswa dari kondisi awal, siklus 1, dan siklus 2. Jumlah siswa yang yang berminat mengikuti kegiatan pembelajaran dari kondisi awal yaitu 1 siswa atau 20% menjadi 3 siswa atau 60% pada siklus 1, dan 5 siswa atau 100% pada siklus 2.

Hasil minat belajar siswa ini dapat berpengaruh pada hasil prestasi belajar siswa seperti yang diungkapkan oleh Zaini (2010) yang mengatakan bahwa siswa yang pasif, prestasi belajarnya tidak maksimal. Siswa yang mengalami penurunan nilai dimungkinkan karena beberapa faktor yaitu pelajaran diadakan setelah istirahat, sehingga siswa sudah merasa lelah dan tidak dapat mengerjakan soal dengan maksimal. Hal ini sependapat dengan pendapat Slameto (2003) tentang faktor faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa salah satunya faktor

eksternal dan faktor internal.

Kesimpulan yang dapat diperoleh yaitu hasil belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus 1 belum mencapai target pencapaian (60%). Hal ini dapat dilihat pada kondisi awal hasil belajar siswa hanya 20% atau hanya 1 siswa yang dikategorikan aktif dari 5 siswa. Setelah diadakan tindakan siklus 1 presentase hasil belajar siswa meningkat menjadi 60% atau 3 siswa yang dikategorikan aktif dari 5 siswa.

Pencapaian hasil belajar siswa hanya 20% atau 1 dilihat dari jumlah siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal, pada siklus 1 sebesar 40% atau 2 siswa dan pada siklus kedua sebesar 100% atau 5 siswa. Nilai rata-rata kondisi awal sebesar 56,00, pada akhir siklus 1 adalah 66,00 dan pada siklus kedua sebesar 74,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata kelas sudah mencapai target yang ditentukan (70).

Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti melalui model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture mampu meningkatkan hasil belajar mengenal fungsi anggota tubuh siswa kelas I tunadaksa di SDLB negeri Banda Aceh. Hal ini dapat terjadi karena dengan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dapat melatih siswa untuk lebih aktif dan berpendapat, serta siswa dapat lebih cepat menguasai materi dalam waktu yang singkat. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture juga dapat meningkatkan prestasi belajar dan meningkatkan daya

(9)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Maret 2021 eISSN 2657- 0998

133 ingat siswa. Selain itu penerapan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture juga dapat mempermudah pekerjaan guru dalam mengajar, karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada teman temannya. Dengan demikian minat belajar siswa mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.

Simpulan

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dalam penelitian ini hasilnya adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan metode pembelajaran picture and picture mengupayakan siswa belajar secara aktif, berangkat dari pengalaman siswa, mengajak siswa berpikir kritis. Secara umum dapat dilakukan bahwa pembelajaran menggunakan metode picture

and picture yang dilakukan pada siswa kelas I tunadaksa SDLB Negeri Banda Aceh

dari siklus 1 ke siklus 2 ada peningkatan yang baik, ini berarti bahwa pembelajaran materi mengenal fungsi anggota tubuh dengan menerapkan metode picture and

picture dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa.

2. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe tipe picture and picture dapat meningkatkan minat belajar siswa. Pada kondisi awal, presentase jumlah siswa aktif sebesar 1 siswa atau 20% menjadi 3 siswa atau 60% pada siklus 1, dan 5 siswa atau 100% pada siklus 2 sehingga memenuhi target pencapaian siklus

3. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Pada kondisi awal 20% atau 1 dilihat dari jumlah siswa yang mencapai KKM pada kondisi awal, pada siklus 1 sebesar 40% atau 2 siswa dan pada siklus kedua sebesar 100% atau 5 siswa. Nilai rata-rata kondisi awal sebesar 56,00, pada akhir siklus 1 adalah 66,00 dan pada siklus kedua sebesar 74,00 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata kelas sudah mencapai target yang ditentukan (70) sehingga memenuhi target pencapaian siklus

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, W., & Hadi, S. (2018). HAK PENDIDIKAN PENYANDANG DISABILITAS DI JAWA TIMUR. DiH: Jurnal Ilmu Hukum. https://doi.org/10.30996/dih.v0i0.1793 Arif, Sukuryadi, & Fatimaturrahmi. (2017). Pengaruh Ketersediaan Sumber Belajar Di

Perpustakaan Sekolah Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ips Terpadu Smp Negeri 1 Praya Barat. Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan.

Hasanah, Y. M. (2019). Metode Pembelajaran Shalat Pada Anak Berkebutuhan Khusus.

Jurnal Kajian Agama Hukum Dan Pendidikan Islam (KAHPI).

https://doi.org/10.32493/kahpi.v1i1.p67-81.2909

Irsyadi, F. Y. Al, & Nugroho, Y. S. (2015). Game Edukasi Pengenalan Anggota Tubuh Dan Pengenalan Angka Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tunagrahita Berbasis Kinect. Prosiding SNATIF.

Mais, A. (2016). Media Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. In Media

(10)

134

Mantiri, J. (2019). PERAN PENDIDIKAN DALAM MENCIPTAKAN SUMBER DAYA MANUSIA BERKUALITAS di PROVINSI SULAWESI UTARA. Jurnal Civic

Education: Media Kajian Pancasila Dan Kewarganegaraan.

https://doi.org/10.36412/ce.v3i1.904

Novitasari, R. D., Wijayanti, A., & Artharina, F. P. (2019). Analisis Penerapan Penguatan Pendidikan Karakter Sebagai Implementasi Kurikulum 2013. Indonesian Values and

Character Education Journal. https://doi.org/10.23887/ivcej.v2i2.19495

Pendidikan, U. N. S. (1982). UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. In Acta Pædiatrica.

Pratiwi Nurabdiah, S. (2020). Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidikan di Era 4.0.

Jurnal EduTech.

Sri Wulandari dan Marlina. (2018). Meningkatkan Kemampuan Menulis Kalimat Dengan Model Pembelajaran Picture and Picture Bagi Anak Tunarungu. Jurnal Penelitian

Gambar

Tabel  1   Rekapitulasi  Peningkatan  Minat  belajar  Siswa  pada  Pembelajaran  pada  Studi Awal, Siklus I dan Siklus II
Tabel 2 Rekapitulasi Prestasi belajar Siswa pada Studi Awal, Siklus I dan Siklus II

Referensi

Dokumen terkait

Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas

Harga H hitung tersebut ternyata lebih kecil dari H table (3,854 < 11,07), karena harga H hitung lebih kecil dari H tabel maka, maka Ha ditolak dan Ho diterima, yang berarti

Pengamatan pada organ ginjal dilakukan dengan menghitung jumlah sel epitel tubulus proksimal (Gambar 4 dan 5) yang normal, sel yang mengalami degenerasi

Juara lll Kegiatan Pemilihan Duta Kampus Dalam Rangka peningkatan dan Pengembangan Minat, Bakat, Bidang Kreatifitas Bagi Civitas Akademika di Universitas Negeri Malang

[r]

Hasil penelitian ini, didapat kesimpulan bahwa iklan yang ada pada aplikasi UberSocial tidak efektif, karena jika tujuan beriklan yang ditetapkan adalah untuk penjualan, maka

Meskipun kuantitas sampah B3 rumahtangga (SB3-RT) di Kabupaten Sleman hanya 2,44 g/orang/hari atau sekitar 0,488% dari sampah domestik, tetapi karena memiliki karakteristik

Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata (mean) antara kelompok kontrol dan kelompok eksperirnen yang signifikan setelah dilakukan