(Studi Kasus Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II)
SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh)
Suatu Tugas Akhir
Untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat-syarat Yang Dipe rlukan untuk Memperoleh
Ijazah Sarjana Teknik
Disusun Oleh : ASMAWARNI
NIM : 08C10203003
Bidang : Manaje men Rekayasa Konstruksi Jurusan : Teknik Sipil
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TEUKU UMAR
ALUE PEUNYARENG – MEULABOH
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proyek pada umumnya memiliki batas waktu, artinya proyek harus diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan dalam kontrak dan sesuai dengan biaya yang telah direncanakan. Proyek terdiri dari berbagai macam aktivitas yang saling berkaitan dengan yang lain. Durasi berkaitan erat dengan biaya proyek. Durasi proyek yang dipercepat mengakibatkan kenaikan biaya proyek, besarnya kenaikan biaya proyek ini tergantung pada jenis aktivitas yang dipercepat, karena setiap aktivitas mempunyai karateristik berbeda. (Hartawan, n.d, 2010).
Percepatan durasi proyek dapat dilakukan pada tahap perencanaan maupun tahap pelaksanaan. Pada tahap perencanaan, percepatan durasi dilakukan untuk mendapatkan durasi dan biaya optimal proyek mencapai nilai minimum. Biaya total proyek meliputi biaya langsung dan biaya tak langsung.
Proyek Pembangunan RK B (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh merupakan pembangunan sekolah yang ada di Meulaboh. Sekolah ini akan dibangun sebanyak dua lantai, dengan total anggaran biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 1.271.622.200,00. Dengan jangka waktu penyelesaiannya adalah 120 hari, sejak tanggal 14 Juni 2012 sampai dengan tanggal 11 Oktober 2012.
Penyelesaian proyek pembangunan sekolah ini memerlukan ketelitian dalam proses pengerjaanya serta ketepatan waktu sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan, tanpa adanya keterlambatan. Pada kenyataannya dalam jangka waktu 120 hari pembangunan sekolah ini baru selesai
±
75 %. Keterlambatan waktu pelaksanaan proyek ini dikarenakan adanya pekerjaan-pekerjaan yang mengalami kemunduran jadwal dan faktor cuaca yang tidak mendukung (hujan).2
Alternatif yang biasa dipilih untuk mempercepat waktu proyek adalah dengan menambah jam kerja (lembur). Dengan adanya penambahan jam kerja, maka akan terjadi juga penambahan biaya langsung proyek.
Pada awalnya Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) ini ditujukan untuk SMA Negeri I Meulaboh, namun dikarenakan tidak adanya lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan maka Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri I Meulaboh dialihkan ke lokasi SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh.
1.2 Pokok Bahasan dan Batasan Masalah
Pokok bahasan yang dapat diangkat dalam penulisan tugas akhir ini adalah:
1. Item- item pekerjaan apa saja yang bisa dipercepat.
2. Berapa biaya tambahan yang dibutuhkan akibat adanya percepatan waktu.
3. Berapa total biaya dan waktu optimum dengan adanya percepatan pada proyek.
Berdasarkan data yang ada, estimasi biaya yang digunakan pada Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh ini adalalah analisa SNI. Dalam penulisan ini penulis akan membuat percepatan
schedule proyek yang nantinya akan berpengaruh terhadap perencanaan biaya.
Agar pembahasan penulisan ini lebih terperinci dan sistematis, maka penulisan ini dibatasi sebagai berikut:
1. Dari Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh ini yang dibahas adalah waktu optimum dan biaya optimum pelaksanaan pekerjaan proyek.
2. Perencanaan percepatan waktu proyek hanya dalam hubungannya dengan biaya pekerjaan tidak dengan pengalokasian tenaga kerja dan peralatan.
3
3. Perhitungan biaya lembur dilakukan hanya pada item pekerjaan yang mengalami percepatan waktu pelaksanaan.
4. Kemampuan penyediaan sumber daya di lapangan diasumsikan tidak terbatas.
5. Produktifitas tenaga kerja diasumsikan tidak berkurang pada saat lembur.
1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
Maksud dari penulisan ini adalah memberikan gambaran sejauh mana proyek tersebut dapat dipercepat dengan menambah waktu kerja (lembur) pekerjaan untuk mempercepat waktu pelaksanaan dan optimalisasi biaya pada proyek pembangunan sekolah. Sedangkan menjadi tujuan penulisan ini adalah:
1. Untuk mengetahui item- item pekerjaan yang dipercepat.
2. Untuk mengetahui biaya tambahan akibat adanya percepatan waktu pelaksanaan proyek.
3. Mengetahui total biaya dan waktu optimum proyek adanya percepatan pada proyek.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang bisa didapatkan dengan adanya penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan manfaat teoritis, yaitu meningkatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang manajemen konstruksi, khususnya dalam teknik dan metode pengendalian suatu pembangunan.
2. Menyelesaikan proyek tepat waktu sehingga penggunaan anggaran menjadi efisien dan tidak terjadi pemborosan.
3. Mengetahui kegiatan mana yang harus bekerja keras diselesaikan agar jadwal dapat terpenuhi.
4 2.1 Definisi Proyek
Proyek adalah suatu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas, dengan alokasi sumber daya terbatas dan dimaksudkan untuk melaksanakan tugas yang sasarannya telah ditetapkan dengan jelas. Tomy (2003), pertukaran waktu dan biaya, dikutip dalam buku Soeharto, (1995).
2.2 Percepatan (Crash Program)
Menurut Yurry (2008), proses percepatan waktu proyek sering juga disebut “Crashing”. Istilah crashing mengacu pada pengurangan durasi diaktivitas tertentu yang berdampak pengurangan durasi proyek secara keseluruhan. Proses
crashing adalah suatu proses yang dilakukan secara sengaja, sistematis analitis
yang memperhatikan semua aktivitas yang ada dalam proyek dan memfokuskan pada aktivitas yang ada dijalur kritis. Proses crashing menggunakan suatu penilaian variable biaya yang minimum untuk mempersingkat durasi proyek secara keseluruhan.
Untuk dapat mempercepat durasi proyek menggunakan crashing dibutuhkan beberapa variable antara lain waktu dan biaya pelaksanaan proyek, dan juga ada beberapa istilah yang harus dipahami terleb ih dahulu antara lain waktu normal, waktu dipercepat, biaya normal, biaya dipercepat, cost slope. 1. Waktu normal didefinisikan sebagai kurun waktu yang diperlukan untuk
melaksanakan kegiatan pekerjaan hingga selesai, dengan cara normal, tanpa kerja lembur, penggunaan peralatan-peralatan khusus dan usaha-usaha khusus lainnya.
2. Waktu dipercepat adalah waktu yang paling singkat digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan usaha-usaha khusus.
Biaya dipercepat Biaya Biaya norma l Waktu dipercepat Waktu norma l Waktu
3. Biaya normal adalah biaya yang dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan waktu normal.
4. Biaya dipercepat adalah biaya yang digunakan untuk menyelesaikan kegiatan dengan waktu dipercepat.
Hubungan antara waktu dan biaya digambarkan dengan sebuah grafik dalam bentuk kurva kurun waktu biaya.
Ga mbar 2.1 Hubungan waktu-biaya normal dan wa ktu-biaya dipercepat untuk satu kegiatan Sumber : Putri Linna (2005), dikutip dari Yu rry (2008), ana lisa percepatan waktu
Pada usulan tugas akhir ini, dalam menganalisa percepatan waktu pelaksanaan proyek, dengan metode CPM dengan penambahan jam kerja .
2.2.1 Kerja Lembur
Menurut Frederika (2010), Kerja adalah kegiatan yang dilaksanakan tenaga kerja setelah meletwati waktu kerja untuk kepentingan perusahaan berdasarka perintah dari atasannya. Adapun rencana kerja yang akan dilakukan dalam mempercepat durasi sebuah pekerjaan dengan metode jam kerja lembur adalah:
Waktu kerja normal adalah 8 jam (08.00 – 17.00), sedangkan lembur dilakukan setelah waktu kerja normal.
Harga upah pekerja untuk kerja lembur menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP. 102/ MEN/VI/ 2004 pasal 11 diperhitungkan sebagai berikut :
• Untuk jam kerja lembur pertama,
harus dibayar upah lembur sebesar 1,5 (satu setengah) kali upah satu jam. • Untuk setiap jam kerja lembur berikutnya harus dibayar upah lembur
sebesar 2 (dua) kali upah satu jam.
Dari uraian di atas dapat dirumuskan sebagai berikut :
Biaya lembur per hari = (jam kerja lembur pertama x 1,5 x upah satu jam normal) + (jam kerja lembur berikutnya x 2 upah satu jam normal) ………...(1)
2.3 Optimasi Biaya Dalam Proyek
Dalam mencapai sasaran dan tujuan dari proyek yang telah ditentukan terdapat batasan-batasan dalam suatu proyek yaitu Triple Constraint atau tiga kendala yang terdiri dari: Biaya (cost), waktu (time), dan mutu. Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Untuk itu diperlukan suatu pengaturan yang baik, sehingga perpaduan antara ketiganya sesuai dengan yang diinginkan. Frederika (2010), perkiraan durasi tiap aktivitas. Dikutip dalam buku Soeharto, (1997).
Optimasi biaya proyek dilakukan pada tahap perencanaan jadwal proyek, tujuannya adalah untuk menentukan durasi proyek yang mempunyai biaya total minimum (biaya optimal).
2.3.1 Biaya langs ung (direct cost)
Menurut Frederika (2010), biaya langsung adalah biaya yang berkaitan dengan biaya bertambah besar, bila durasi proyek dipercepat. Kenaikan biaya langsung disebabkan, misalnya penambahan tenaga kerja, penggunaan alat yang biaya pengoperasiannya lebih mahal dan penambahan jam kerja. Hubungan biaya langsung proyek terhadap durasi ditentukan disini adalah besarnya biay untuk mempercepat durasi aktifitas.
Titik-titik koordinat yang membentuk kurva tersebut merupakan alternatif-alternatif yang dapat dilakukan untuk mempercepat aktifitas kritis. Aktifitas kritis
adalah aktifitas yang tidak punyak waktu tunda (float). Aktifitas kritis ini dapat dilihat jelas bila perencanaan durasi dilakukan de ngan menggunakan metode CPM (Critical Path Method).
Kurva hubungan biaya langsung dengan durasi secara teoritis dan berbentuk cekung. Kurva cekung ini semakin ke kiri semakin naik ke atas, sampai akhirnya asimtosis. Semakin banyak alternatif dalam mempercepat aktifitas kritis maka kurva yang terbentuk semakin cekung. Namun pada aktifitas kenyataan yang sesungguhnya hanya ada beberapa cara mempercepat durasi aktifitas kritis sehingga kurva akan berbentuk cekung yang terdiri dari beberapa garis lurus.
2.3.2 Biaya tidak langsung (indirect cost)
Menurut Frederika (2010), biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi, tetapi harus ada dan tidak dapat dilepaskan dari proyek tersebut. Biaya tidak langsung secara umum menunjukkan biaya-biaya overhead seperti pengawasan, administrasi, konsultan, persiapan tender, penjadwalan dan biaya lain- lain yang tak terduga. Hubungan biaya tak langsung dengan durasi merupakan hubungan linear yang dinyatakan dalam besarnya biaya yang dikeluarkan setiap satuan waktu (misalnya Rp/hari atau Rp/bulan). Biaya tak langsung akan naik seiring dengan pertambahan durasi proyek.
2.3.3 Biaya optimal proyek
Biaya optimal adalah biaya total minimum proyek. Biaya total adalah jumlah biaya langsung dan biaya tak langsung. Hasil penjumlahan anatara kurva biaya tak langsung akan menghasilkan kurva biaya total (gambar 2.2) dari proyek. Titik optimal pada kurva adalah titik yang mempunyai ordinat terendah. Biaya optimal ini secara teoritis digunakan untuk merencanakan durasi proyek.
Kurun wa ktu Biaya tak langsung
Biaya langsung Titik terendah
Biaya proyek optima l
Biaya optimal
Total biaya proyek Biaya
Ga mbar : 2.2 Hubungan biaya dan waktu untuk keseluruhan proyek
Sumber : Ca lahan (1992), d ikutip dari Yurry (2008), analisa percepatan waktu
2.4 Network Planning (Jaringan Kerja)
Menurut Ryan (2011), network planning merupakan gambaran grafis yang menggambarkan urutan pelaksanaan kegiatan (aktifitas) ketergantungan antara kegiatan-kegiatan dari awal sampai akhir proyek.
Cara penggambarannya ada dua macam, yaitu:
1. Arrow diagram (diagram anak panah), yaitu kegiatannya digambarkan dengan anak panah.
2. Node diagram, yaitu kegiatannya digamabarkan dengan node
Perbedaan kedua cara diatas adalah pada arrow diagram, kegiatan digambarkan sebagai anak panah yang dimulai dan diakhiri dengan simbol lingkaran node, sedangkan pada node diagram, kegiatan penggambaran network
planning dengan cara node diagaram preseden (preseden diagram). Dalam
penulisan ini akan dibahas detail diagram panah, dimana istilah dan simbol yang digunakan adalah sebagai berikut:
Kegiatan Durasi
1. Event: dengan simbol lingkaran node atau elips, yaitu suatu keadaan atau situasi pada suatu saat (satu kejadian, peristiwa)
Event digunakan sebagai tanda kapan suatu kegiatan dapat mulai
dilaksanakan (start event) dan juga dipergunakan sebagai kegiatan dinyatakan selesai dikerjakan (finish event).
2. Kegiatan (aktifitas): Dengan simbol anak panah yang menghubungkan dua
event, yaitu kegiatan apa yang harus dikerjakan antara dua event. Event
pertama disebut event yang mendahului sedang event yang kedua disebut
event yang mengikuti.
Arah anak panah menunjukkan event apa yang akan dicapai. Akan tetapi panjang panjangnya anak panah tidak menunjukkan suatu skala. Jadi tidak menyatakan lamanya kegiatan itu ( durasi aktifitas). Uraian kegiatan dapat dituliskan secara lengkap (ditulis di atas anak panah) atau diberi kode tulisan misalnya A,B,C dan seterusnya. Sedangkan lamanya kegiatan itu berjalan (durasi) dituliskan dibawah anak panah.
3. Kegitan Dummy: Dengan simbol anak panah yang putus-putus. Yaitu: suatu kegiatan (aktifitas) yang tidak memerlukan sumber daya (resource) dan tidak memerlukan waktu. Kegiatan dummy dipergunakan untuk memperlihatkan ketergantungan dari suatu event dari event yang lain, akan tetapi tidak memerlukan sumber daya maupun waktu.
Ga mbar : 2.3 Simbol event
Sumber : Hardi Da rma wan (2001), dikutip Ryan (2011), Jurnal wahana
Ga mbar : 2.4 Kegiatan
Dummy
Durasi 0
Tahap aplikasi network planning (jaringan kerja) pada penyelenggaraan proyek, adalah sebagai berikut:
1. Pembuatan
Tujuan akhir dari tahap pembuatan ini adalah terciptanya sebuah network
planning (jaringan kerja) yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam
pelaksanaan proyek, baik dalam pelaksanaan maupun sumber daya 2. Pemakaian
Setelah selesai dibuat network planning tersebut dipakai dalam proses pelaksanaan proyek, sebagai pedoman dalam hal pelaksanaan. Akibat perbaikan ini kemungkinan akan terjadi pe rubahan waktu maupun sumber daya yang akhirnya bisa merubah letak jalur kritis dalam posisi awalnya.
2.4.1 Metode Lintasan Kritis (Critical Path Method (CPM))
Menurut Tri Wahyu (2011), tujuan pemakaian network planning dalam penyelenggaraan proyek antara lain adalah agar proyek selesai pada saat yang telah direncanakan. Untuk itu diusahakan melaksanakan kegiatan-kegiatan sesuai dengan rencana yang tertera dalam network diagram. Ada beberapa kegiatan mempunyai batas toleransi keterlambatan pelaksanaan, namun ada kegiatan yang tidak mempunyai toleransi tersebut, sehingga bila terlambat satu hari maka proyek akan selesai dengan keterlambatan satu hari, walaupun kegiatan-kegiatan lain tidak terlambat. Kegiatan yang tidak memiliki toleransi keterlambatan ini disebut kegiatan kritis. Dasar penelitian dengan metode jalur kritis atau CPM adalah memisahkan perjanjian satu per satu dan diklasifikasikan ke dalam pekerjaan kritis dan non kritis.
Ga mbar : 2.5 Simbol dummy
Lintasan kritis dalam sebuah network diagram adalah lintasan yang terdiri dari kegiatan-kegiatan kritis, dan peristiwa-peristiwa kritis dan dummy, yang dimulai dari peristiwa awal dan berakhir pada peristiwa akhir dari network
diagram. Lintasan kritis ini melintasi aktifitas-aktifitas dengan jumlah durasi yang
paling panjang dengan demikian jumlah waktu yang diperlikan oleh pekerjaan-pekerjaan yang dilalui jalur kritis adalah lamanya waktu proyek keseluruhan. Perhitungan EST, EFT, LST dan LFT
a. Prosedur Perhitungan
Hitungan Maju
Dalam mengidentifikasikan jalur kritis dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju. Perhitungan maju digunakan untuk menghitung EST (Earliest Start Time). EST adalah waktu paling awal untuk mulai suatu kegiatan. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis, d ikutip dalam buku Soeharto (1995).
EFT = EST + D Dimana :
EST = waktu paling awal untuk mulai suatu kegiatan EFT = Waktu paling cepat untuk selesainya suatu kegiatan
D = Kurun waktu suatu kegiatan . Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan dan lain- lain.
Tahap menentukan hitungan maju:
• Tentukan nomor dari peristiwa dari kiri ke kanan, mulai dariperistiwa nomor 1 berturut-turut sampai nomor maksimal.
• Tentukan nilai EST untuk peristiwa nomor 1 (paling kiri) sama dengan nol.
Ga mbar : 2.6 Kegiatan
Sumber : Hardi Da rma wan (2001), dikutip Djoko (2007), jurnal Metode Jalur Kritis EST NO LST Kegiatan D EFT LFT NO
• Dapat dihitung nilai EFT peristiwa berikutnya dengan rumus di atas. Apabila terdapat beberapa kegiatan (termasuk dummy) menuju atau dibatasi oleh peristiwa yang sama, maka diambil nilai EFT yang maksimum.
Hitungan Mundur
Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu atau tanggal paling akhir dapat memulai dan mengakhiri masing- masing
kegiatan, tanpa menunda kurun waktu penyelesaian proyek secara
keseluruhan, yang telah dihasilkan dari hitungan maju. Hitungan mundur dimulai dari ujung kanan (hari terakhir penyelesaian proyek) suatu jaringan kerja. Perhitungan mundur ini digunakan untuk menghitung LST (Latest Start Time). LFT adalah peristiwa paling akhir atau waktu paling lambat dari event. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
LST = LFT – D Dimana :
LST = Waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek secaa keseluruhan
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat penyelesaian proyek
D = Kurun waktu suatu kegiatan . Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan dan lain- lain.
Tahap menentukan hitungan mundur:
• Tentukan nilai LFT peristiwa terakhir (paling kanan) sesuai dengan nilai EFT kegiatan terakhir.
• Dapat dihitung nilai LST dari kanan ke kiri dengan rumus di atas.
• Bila terdapat lebih dari satu kegiatan (termasuk dummy) maka dipilih LST yang minimum.
b. Lintasan Kritis dan Float
Lintasan kritis adalah lintasan sepanjang diagram jaring yang mempunyai waktu terpanjang (durasi proyek). Lintasan kritis merupakan lintasan yang melalui kegiatan-kegiatan yang tidak mempunyai float (waktu jeda). Untuk menentukan lintasan kritis dari jaringan kerja dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
• Lintasan kritis adalah lintasan yang melalui kegiatan-kegiatan yang mempunyai jumlah durasi terbesar.
• Dengan menghitung kegiatan-kegiatan yang mempunyai nilai Total Float = 0
Total Float (TF)
Total float adalah jumlah waktu yang diperkenankan suatu kegiatan boleh
ditunda, tanpa mempengaruhi jadwal penyelesaian proyek secara keseluruhan. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
Nilai Total Float adalah : TF = LFT – LST – D
Free Float (FF)
Free float adalah sama dengan sejumlah waktu dimana penyelesaian
kegiatan tersebut dapat ditunda tanpa mempengaruhi waktu mulai paling awal dari kegiatan berikutnya ataupun semua peristiwa yang lain pada jaringan kerja. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
Nilai Free Float adalah : FF = EFT – EST – D Metode Percepatan melalui CPM
Dn baru = Dn lama +
DZ DnlamaURENUPER
Dn (baru) = Duration time baru keg. N Dn (lama) = Duration time lama keg. N
DZ = Jumlah duration time pada lintasan yang harus dipercepat UREN = Umur rencana proyek (waktu yang dikehendaki)
UPER = Umur perkiraan proyek (waktu sesuai jadwal semula)
2.5 Analisa Time Cost Trade Off
Dalam penyusunan sebuah schedule proyek konstruksi diharapkan menghasilkan schedule yang realistis berdasarkan estimasi yang wajar. Salah satu cara mempercepat durasi proyek adalah dengan analisa time cost trade off. Dengan mereduksi suatu pekerjaan yang akan berpengaruh terhadap waktu penyelesaian proyek. Time cost trade off adalah suatu proses yang disengaja, sistematis dan analitik dengan cara melakukan pengujian dari semua kegiatan dalam suatu proyek yang dipusatkan pada kegiatan yang berada pada jalur kritis. Selanjutnya melakukan kompresi dimulai pada lintasan kritis yang mempunyai nilai cost slope terendah. Kompresi terus dilakukan sampai lintasan kritis mempunyai aktivitas yang telah jenuh seluruhnya. Rumus yang digunakan untuk proses perhitungan dalam tahap kompresi untuk penambahan jam kerja sebagai berikut:
Total cost = Biaya langsung + Biaya tak langsung
Normal cost pekerja per jam = ( gaji staf proyek + gaji pelaksana sipil)/8
Cost normal pekerja = 8 jam x normal cost pekerja per jam
Crash cost pekerja = normal cost pekerja/hari + biaya lembur/hari
Cost slope = perbandingan antara pertambahan biaya dengan percepatan waktu
penyelesaian proyek
Tomy (2003), pertukaran waktu dan biaya. Dikutip dala m buku Ervianto (2004).
2.6 Durasi
Menurut Maharany dan Fajarwati (2006), d urasi proyek adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan proyek. Faktor yang berpengaruh menentukan durasi adalah volume pekerjaan, metode kerja,
keadaan lapangan, serta keterampilan tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan proyek.Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan dan lain- lain.
Durasi = Alat gaKerja JumlahTena Alat gaKerja fisienTena VolumexKoe / / atau ) 5 . 2 ...( ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... NxPk V W Ket:
W = Waktu untuk menyelesaikan pekerjaan V = Volume setiap jenis pekerjaan
N = Jumlah tenaga kerja yang diperlukan Pk = Kapasitas produksi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Uraian Um um
Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode.
Penelitian merupakan suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan uraian penjelasan yang terperinci.
3.2 Tahapan Metode Penelitian
Ada beberapa tahapan metode penelitian yang ditempuh dalam pembuatan program ini. Secara detail, beberapa tahapan yang dimaksud meliputi.
Tahap persiapan merupakan kegiatan awal, yaitu dengan penentuan latar belakang masalah kemudian dilakukan perumusan masalah untuk selanjutnya dilakukan penetuan tujuan dan manfaat dari pelaksanaan tugas akhir serta dilakukan pembatasan masalah yang akan difokuskan dalam penyusunan sistem informasi percepatan proyek.
Tahap kajian teori ini akan dilakukan kajian teori terhadap masalah yang ada. Kajian dilakukan pada teori percepatan dengan menggunakan critical path
method.
Tahap pengumpulan data ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data-data pendukung yang dibutuhkan dalam analisis percepatan waktu. Adapun data-data pendukung yang dibutuhkan adalah berupa data proyek seperti: network planning,
time schedule, daftar analisis harga satuan, rencana anggaran biaya, biaya
Tahap analisa data ini akan dilakukan analisa data-data pendukung yang telah diperoleh pada tahap sebelumnya. Ana lisa yang dilakukan berupa analisa
critical path method, seperti EST, EFT, LST, LFT, TF, dan FF.
Tahap pelaksanaan ini akan dilakukan perencanaan sistem serta penyusunan program sistem informasi. Perencanaan serta penyusunan program tersebut tentunya didasarkan pada hasil analisa data yang dilakukan sebelumnya.
Tahap evaluasi ini akan dilakukan evaluasi pada hasil perancangan sistem informasi. Terutama berkaitan pada masalah percepatan waktu proyek dengan menggunakan analisa nilai hasil.
Tahap pembahasan ini akan dibahas tentang hasil analisa pada bab sebelumnya beserta hasilnya pada sistem informasi.
Tahap akhir perancangan sisitem informasi akan dibahas tentang simpulan, keterbatan serta saran yang diperlukan untuk pengembangan program selanjutnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada flow chart diagram alir penelitian pada lampiran A Halaman 46.
3.3 Pengumpulan Data
Adapun data-data yang diperlukan dalam penyusunan tugas akhir ini antara lain :
1. Jadwal pelaksanaan (time schedule) proyek yang berupa kurva S untuk menentukan durasi normal sesuai dengan pelaksanaan proyek.
2. Rincian Anggaran Biaya (RAB) proyek untuk menentukan biaya normal yang dibuat sebagai acuan menghitung biaya percepatan.
3. Analisa harga satuan Proyek yang kami peroleh dari pihak konsultan yaitu CV. Mitra Perdana Konsultan adalah Analisa SNI. Disini penulis hanya membahas analisa biaya kontruksi proyek sesuai dengan data yang penulis peroleh dari pihak konsultan.
4. Alokasi sumber daya/tenaga kerja tiap-tiap aktivitas dan analisa harga satuan Proyek.
5. Data-data biaya tak langsung (Gaji personel di lapangan, biaya overhead) dan biaya-biaya lain yang secara tidak langsung berkaitan dengan proyek.
3.4 Analisa Data
Pengolahan data-data yang terkumpul dalam bab ini adalah menyusun RAB (Rencana Anggaran Biaya) pada Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh. Setelah itu, dilakukan analisis jaringan kerja Metode Jalur Kritis (Critical Path Method-CPM). Dengan menyusun jaringan kerja CPM dapat diketahui kurun waktu yang diperlukan untuk melakukan kegiatan proyek sampai selesai serta biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan proyek selama kurun waktu tersebut.
a. Prosedur Perhitungan
Hitungan Maju
Dalam mengidentifikasikan jalur kritis dipakai suatu cara yang disebut hitungan maju. Perhitungan maju digunakan untuk menghitung EST (Earliest Start Time). EST adalah waktu paling awal untuk mulai suatu kegiatan. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis, dikutip dalam buku Soeharto (1995).
EFT = EST + D Dimana :
EST = waktu paling awal untuk mulai suatu kegiatan EFT = Waktu paling cepat untuk selesainya suatu kegiatan
D = K urun waktu suatu kegiatan . Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan dan lain- lain.
Tahap menentukan hitungan maju:
• Tentukan nomor dari peristiwa dari kiri ke kanan, mulai dariperistiwa nomor 1 berturut-turut sampai nomor maksimal.
• Tentukan nilai EST untuk peristiwa nomor 1 (paling kiri) sama dengan nol.
• Dapat dihitung nilai EFT peristiwa berikutnya dengan rumus di atas. Apabila terdapat beberapa kegiatan (termasuk dummy) menuju atau dibatasi oleh peristiwa yang sama, maka diambil nilai EFT yang maksimum.
Hitungan Mundur
Perhitungan mundur dimaksudkan untuk mengetahui waktu atau tanggal paling akhir dapat memulai dan mengakhiri masing- masing
kegiatan, tanpa menunda kurun waktu penyelesaian proyek secara
keseluruhan, yang telah dihasilkan dari hitungan maju. Hitungan mundur dimulai dari ujung kanan (hari terakhir penyelesaian proyek) suatu jaringan kerja. Perhitungan mundur ini digunakan untuk menghitung LST (Latest Start Time). LFT adalah peristiwa paling akhir atau waktu paling lambat dari event. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
LST = LFT – D Dimana :
LST = Waktu paling akhir kegiatan boleh dimulai tanpa memperlambat proyek secaa keseluruhan
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat penyelesaian proyek
D = K urun waktu suatu kegiatan . Umumnya dengan satuan waktu hari, minggu, bulan dan lain- lain.
Tahap menentukan hitungan mundur:
• Tentukan nilai LFT peristiwa terakhir (paling kanan) sesuai dengan nilai EFT kegiatan terakhir.
• Dapat dihitung nilai LST dari kanan ke kiri dengan rumus di atas.
• Bila terdapat lebih dari satu kegiatan (termasuk dummy) maka dipilih LST yang minimum.
b. Lintasan Kritis dan Float
Lintasan kritis adalah lintasan sepanjang diagram jaring yang mempunyai waktu terpanjang (durasi proyek). Lintasan kritis merupakan lintasan yang
melalui kegiatan-kegiatan yang tidak mempunyai float (waktu jeda). Untuk menentukan lintasan kritis dari jaringan kerja dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
• Lintasan kritis adalah lintasan yang melalui kegiatan-kegiatan yang mempunyai jumlah durasi terbesar.
• Dengan menghitung kegiatan-kegiatan yang mempunyai nilai Total Float = 0
Total Float (TF)
Total float adalah jumlah waktu yang diperkenankan suatu kegiatan boleh
ditunda, tanpa mempengaruhi jadwal penyelesaian proyek secara keseluruhan. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
Nilai Total Float adalah : TF = LFT – LST – D
Free Float (FF)
Free float adalah sama dengan sejumlah waktu dimana penyelesaian
kegiatan tersebut dapat ditunda tanpa mempengaruhi waktu mulai paling awal dari kegiatan berikutnya ataupun semua peristiwa yang lain pada jaringan kerja. Djoko (2007), Jurnal Metode Jalur Kritis. Dikutip dalam buku Soeharto (1995).
Nilai Free Float adalah : FF = EFT – EST – D Metode Percepatan melalui CPM
Dn baru = Dn lama +
DZ DnlamaURENUPER
Dn (baru) = Duration time baru keg. N Dn (lama) = Duration time lama keg. N
DZ = Jumlah duration time pada lintasan yang harus dipercepat UREN = Umur rencana proyek (waktu yang dikehendaki)
3.4.1 Penyusunan jaringan kerja
Jaringan Kerja (network) didefinisikan sebagai suatu jaringan yang terdiri dari serangkaian kegiatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu proyek yang disusun berdasarkan uraian kegiatan tertentu.
Langkah – langkah utama dalam menyusun Jaringan Kerja antara lain :
Menentukan metode pelaksanaan dari proyek yang akan dilaksanakan
Membuat perkiraan daftar rincian kegiatan beserta durasi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan tersebut
Menyusun urutan yang logis antara kegiatan yang satu dengan lainnya pertimbangan kegiatan – kegiatan mana yang dilaksanakan lebih dahulu, kegiatan mana yang mengikutinya atau kegiatan apa yang harus dilangsungkan secara bersamaan.
Membuat diagram jaringan kerja untuk enggambarkan hubungan ketergantungan antar kegiatan di atas
Mulai perhitungan teknis jaringan kegiatan
3.5 Data Umum Proyek
Proyek Pembangunan RK B (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh merupakan pembangunan sekolah yang ada di Meulaboh. Sekolah ini akan dibangun sebanyak dua lantai, dengan total anggaran biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 1.271.622.200,00.
3.5.1 Data umum
Adapun data umum proyek ini adalah :
1. Nama proyek : Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh
2. Biaya proyek : Rp 1.271.622.200,00 (Satu Milyar Dua Ratus Tujuh Puluh )
3. Lokasi Proyek : Jln. Keuramat Kec. Ranto Panyang Timur Kab. Aceh Barat
4. Konsultan Perencana : CV. Mitra Perdana Konsultan 5. Konsultan Pengawas : CV. Brina Rya Design 6. Kontraktor Pelaksana : CV. Seumot Raya
3.5.2 Ruang lingkup pekerjaan
Pada Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh ini ruang lingkup pekerjaan meliputi :
A. Pekerjaan persiapan B. Pekerjaan lantai 1
1. Pekerjaan tanah 2. Pekerjaan pondasi
3. Pekerjaan beton bertulang
4. Pekerjaan pasangan dan plesteran 5. Pekerjaan lantai
6. Pekerjaan kusen, pintu, jendela dan ventilasi 7. Pekerjaan plafond
8. Pekerjaan Mekanikal elektrikal 9. Pekerjaan pengecetan
C. Pekerjaan lantai 2
1. Pekerjaan beton bertulang
2. Pekerjaan pasangan dan plesteran 3. Pekerjaan lantai
4. Pekerjaan kusen, pintu dan jendela 5. Pekerjaan atap
6. Pekerjaan plafond
7. Pekerjaan mekanikal elektrikal 8. Pekerjaan pengecetan
BAB IV
ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uraian Umum
Proyek merupakan suatu rangkaian kegiatan yang mempunyai saat awal, akan dilaksanakan serta diselesaikan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan biaya untuk mencapai hasil yang optimum. Untuk menyusun suat u perencanaan yang efektif, dapat digunakan salah satu teknik analisa jaringan kerja, yaitu dengan menggunakan Critical Path Method (Noenk, 2011).
Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh dengan total anggaran biaya yang dibutuhkan sebesar Rp. 1.271.622.200,00. Dengan jangka waktu penyelesaiannya adalah 120 hari. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran A.4.1 Gambar Denah Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh dan A.4.2 Gambar Tampak Pembangunan RK B (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh Halaman 47-48. Start mulai pelaksanaan proyek ini terlambat sehingga dibutuhkan suatu keputusan untuk mempercepat waktu pekerjaan dengan menetukan jalur kritis terlebih dahulu dengan metode Critical Path Method.
4.2 Analisa Data
Untuk membuat network planning seperti pada gambar 4.1 maka yang perlu diketahui adalah durasi tahap normal dan durasi ini dapat dilihat pada Lampiran A.4.5 Network Planning Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh pada Halaman 51. Dan yang perlu diketahui selanjutnya adalah Earlies Start Time (EST), Earlies Finish Time (EFT),
Latest Start Time (LST), Last Finish Time (LFT), Total Float (TF), dan Free Float (FF).
Contoh perhitungan untuk tahap normal Durasi (D) = gaKerja JumlahTena x enagaKerja KoefisienT Volume Hitungan Maju
EST = Waktu paling awal untuk tahapan suatu kegiatan EST = 0 EFT = EST + D = 0 + 6 = 6 Hitungan Mundur LST = LFT – D = 6 – 6 = 0
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat Penyelesaian proyek
LFT = 6
Float (Waktu tenggang)
FF = EFT – EST – D FF = 6 – 0 – 6 = 0 TF = LFT – LST – D = 6 – 0 – 6 = 0 0 6 0 6 1 2 A 6 EST EFT LST LFT NO NO Kegiatan D Ga mbar : 4.1 Kegiatan
Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.1 Analisa CPM Tahap Normal Tabel 4.1 Analisa CPM Tahap Normal
Simbol Uraian Kegiatan Durasi
(Hari) EST EFT LST LFT FF TF
A. Pek. Persiapan 6 0 6 0 6 0 0
B. Pek. Tanah lt1 7 0 6 0 6 -1 -1
C Pek. Pondasi lt 1 21 6 27 6 27 0 0
D Pek. Beton Bertulang lt 1 20 27 47 27 47 0 0
E Pek. Pas Plstran lt 1 10 62 72 62 72 0 0
F Pek. Lantai lt 1 15 47 62 47 62 0 0
G Pek. Kusen, Pintu, Jendela &
Ventilasi Lt 1 9 62 72 62 72 1 1
H Pek. Plafond lt 1 4 88 92 88 92 0 0
I Pek. M ekanikal Elektrikal lt 1 10 92 102 92 102 0 0
J Pek. Pengecetan lt 1 5 110 115 110 115 0 0
K Pek. Beton Bertulang lt 2 15 47 62 47 62 0 0
L Pek. Pas & Plteran lt 2 9 72 81 72 81 0 0
M Pek. Lantai lt 2 5 110 115 110 115 0 0
N Pek. Kusen, Pintu & Jendela
lt 2 9 72 81 72 81 0 0
O Pek. Penutup Atap lt 2 7 81 88 81 88 0 0
P Pek. Plafond lt 2 8 102 110 102 110 0 0
Q Pek. M ekanikal Elektrikal lt 2 8 102 110 102 110 0 0
R Pek. Pengecetan lt 2 3 115 118 115 115 0 -3
S Pek. Finising 2 118 120 118 120 0 0
Untuk membuat network planning berdasarkan Umur Rencana (UREN) dan Umur Perkiraan (UPPER) seperti pada gambar 4.2 maka yang perlu diketahui adalah durasi tahap normal dan durasi ini dapat dilihat pada Lampiran A.4.6
Network Planning Berdasarkan Umur Rencana dan Umur Perkiraan pada
Halaman 52. Dan yang perlu diketahui selanjutnya adalah Earlies Start Time
(EST), Earlies Finish Time (EFT), Latest Start Time (LST), Last Finish Time (LFT), Total Float (TF), dan Free Float (FF).
Contoh perhitungan berdasarkan UREN dan UPPER Durasi (D) = gaKerja JumlahTena x enagaKerja KoefisienT Volume Hitungan Maju
EST = Waktu paling awal untuk tahapan suatu kegiatan EST = 6 EFT = EST + D = 6 + 21 = 27 Hitungan Mundur LST = LFT – D = 7 – 21 = -14
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat Penyelesaian proyek
LFT = 7
Float (Waktu tenggang)
FF = EFT – EST – D FF = 27 – 6 – 21 = 0 TF = LST – LFT – D = (-14) – 7 – 21 = - 42 6 27 -14 7 2 3 C 21 EST EFT LST LFT NO NO Kegiatan D Ga mbar : 4.2 Kegiatan
Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.2 Hasil Analisa CPM Berdasarkan UREN dan UPPER
Tabel 4.2 Hasil Analisa CPM Berdasarkan UREN dan UPPER
Simbol Uraian Kegiatan
Durasi
(Hari) EST EFT LST LFT FF TF
A Pek. Persiapan 6 0 6 -20 -14 0 -12
B Pek. Tanah lt1 7 0 6 -20 -14 -1 -13
C Pek. Pondasi lt 1 21 6 27 -14 7 0 -42
D Pek. Beton Bertulang lt 1 20 27 47 7 27 0 -40
E Pek. Pasangan & Plasteran lt 1 10 62 72 42 52 0 -20
F Pek. Lantai lt 1 15 47 62 27 42 0 -30
G
Pek. Kusen, Pintu, Jendela &
Ventilasi lt 1 9 62 72 42 52 1 -19
H Pek. Plafond lt 1 4 88 92 68 72 0 -8
I Pek. M ekanikal Elektrikal lt 1 10 92 102 72 82 0 -20
J Pek. Pengecetan lt 1 5 110 115 90 95 0 -10
K Pek. Beton Bertulang lt 2 15 47 62 27 42 0 -30
L Pek. Pasangan & Plasteran lt 2 9 72 81 52 61 0 -18
M Pek. Lantai lt 2 5 110 115 90 95 0 -10
N Pek. Kusen, Pintu & Jendela lt 2 9 72 81 52 61 0 -18
O Pek. Penutup Atap lt 2 7 81 88 61 68 0 -14
P Pek. Plafond lt 2 8 102 110 82 90 0 -16
Q Pek. M ekanikal Elektrikal lt 2 8 102 110 82 90 0 -16
R Pek. Pengecetan lt 2 3 115 118 95 98 0 -6
S Pek. Finising 2 118 120 98 100 0 -4
Dari perhitungan TF diperoleh nilai TF yang kebanyakan minus, supaya tidak terlalu banyak perhitungan dan perubahan diambil nilai negatif terbesar. Tabel 4.3 Hasil Percepatan Tahap I Berdasarkan UREN dan UPPER
Kegiatan
Durasi Kegiatan Lama (Dn)
Durasi Kegiatan Baru (Dn baru) = Dn (lama) + Dn (lama)/Dz * (UREN – UPER) C 21 17 D 20 16 F 15 12 K 15 12 E 10 8 I 10 8
Untuk membuat network planning berdasarkan hasil percepatan UREN dan UPPER tahap I seperti pada gambar 4.3 dapat dilihat pada Lampiran A.4.7
Network Planning Berdasarkan percepatan UREN dan UPPER tahap I pada
Halaman 53. Dan yang perlu diketahui selanjutnya adalah EST, EFT, LST, LFT, TF, dan FF.
Contoh perhitungan percepatan berdasarkan UREN dan UPPER tahap I Durasi (D) = gaKerja JumlahTena x enagaKerja KoefisienT Volume Hitungan Maju
EST = Waktu paling awal untuk tahapan suatu kegiatan EST = 23 EFT = EST + D = 23 + 16 = 39 Hitungan Mundur LST = LFT – D = 34 – 16 = 18
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat Penyelesaian proyek
LFT = 34
Float (Waktu tenggang)
FF = EFT – EST – D FF = 39 – 23 – 16 = 0 TF = LST – LFT – D = 18 – 34 – 16 = -32 23 39 18 34 3 4 D 16 EST EFT LST LFT NO NO Kegiatan D Ga mbar : 4.3 Kegiatan
Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.4 Hasil Analisa CPM Percepatan Tahap I Berdasarkan UREN dan UPPER
Tabel 4.4 Hasil Analisa CPM Percepatan Tahap I Berdasarkan UREN dan UPPER
Simbol Uraian Kegiatan
Durasi
(Hari) EST EFT LST LFT FF TF
A. Pek. Persiapan 6 0 6 -5 1 0 -12
B. Pek. Tanah lt1 7 0 6 -5 1 -1 -13
C Pek. Pondasi lt 1 17 6 23 1 18 0 -34
D Pek. Beton Bertulang lt 1 16 23 39 18 34 0 -32
E Pek. Pasangan & Plasteran lt 1 8 51 59 46 54 0 -16
F Pek. Lantai lt 1 12 39 51 34 46 0 -24
G
Pek. Kusen, Pintu, Jendela &
Ventilasi lt 1 9 51 59 46 54 1 -17
H Pek. Plafond lt 1 4 75 79 70 74 0 -8
I Pek. M ekanikal Elektrikal lt 1 8 79 87 74 82 0 -16
J Pek. Pengecetan lt 1 5 95 100 90 95 0 -10
K Pek. Beton Bertulang lt 2 12 39 52 34 46 0 -24
L Pek. Pasangan & Plasteran lt 2 9 59 68 54 63 0 -18
M Pek. Lantai lt 2 5 95 100 90 95 0 -10
N Pek. Kusen, Pintu & Jendela lt 2 9 59 68 54 63 0 -18
O Pek. Penutup Atap lt 2 7 68 75 63 70 0 -14
P Pek. Plafond lt 2 8 87 95 82 90 0 -16
Q Pek. M ekanikal Elektrikal lt 2 8 87 95 82 90 0 -16
R Pek. Pengecetan lt 2 3 100 103 95 98 0 -6
S Pek. Finising 2 103 105 98 100 0 -4
Selanjutnya akan diadakan percepatan pada nilai TF yang paling tinngi nilai minusnya.
Tabel 4.5 Hasil Percepatan Tahap II mencapai UREN
Kegiatan
Durasi Kegiatan Lama (Dn)
Durasi Kegiatan Baru (Dn baru) = Dn (lama) + Dn (lama)/Dz * (UREN - UPER)
C 17 15
D 16 14
F 12 11
K 12 11
Untuk membuat network planning hasil percepatan tahap II sudah mencapai Umur Rencana (UREN) seperti pada gambar 4.4 dapat dilihat pada Lampiran A.4.8 Network Planning Percepatan tahap II pada Halaman 54. Dan yang perlu diketahui selanjutnya adalah EST, EFT, LST, LFT, TF, dan FF.
Contoh perhitungan percepatan tahap II sudah mencapai UREN Durasi (D) = gaKerja JumlahTena x enagaKerja KoefisienT Volume Hitungan Maju
EST = Waktu paling awal untuk tahapan suatu kegiatan EST = 46 EFT = EST + D = 46 + 8 = 54 Hitungan Mundur LST = LFT – D = 54 – 8 = 46
LFT = Waktu paling akhir kegiatan boleh selesai tanpa memperlambat Penyelesaian proyek
LFT = 54
Float (Waktu tenggang)
FF = EFT – EST – D FF = 54 – 46 – 8 = 0 TF = LST – LFT – D = 46 – 54 – 8 = -16 46 54 46 54 5 7 E 8 EST EFT LST LFT NO NO Kegiatan D Ga mbar : 4.4 Kegiatan
Untuk selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.6 Hasil Analisa CPM Percepatan Tahap I I sudah Mencapai UREN
Tabel 4.6 Hasil Analisa CPM Percepatan Tahap I I sudah Mencapai UREN
Simbo l Ura ian Keg iatan
Durasi
(Hari) EST EFT LST LFT FF TF
A. Pek. Persiapan 6 0 6 0 6 0 -12
B. Pek. Tanah lt1 7 0 6 0 6 -1 -13
C Pek. Pondasi lt 1 15 6 21 6 21 0 -30
D Pek. Beton Bertulang lt 1 14 21 35 21 35 0 -28
E Pek. Pasangan & Plasteran lt 1 8 46 54 46 54 0 -16
F Pek. Lantai lt 1 11 35 46 35 46 0 -22
G
Pek. Kusen, Pintu, Jendela &
Ventilasi lt 1 9 46 54 46 54 1 -17
H Pek. Plafond lt 1 4 70 74 70 74 0 -8
I Pek. Mekanika l Ele ktrika l lt 1 8 74 82 74 82 0 -16
J Pek. Pengecetan lt 1 5 90 95 90 95 0 -10
K Pek. Beton Bertulang lt 2 11 35 46 35 46 0 -22
L Pek. Pasangan & Plasteran lt 2 9 54 63 54 63 0 -18
M Pek. Lantai lt 2 5 90 95 90 95 0 -10
N Pek. Kusen, Pintu & Jendela lt2 9 54 63 54 63 0 -18
O Pek. Penutup Atap lt 2 7 63 70 63 70 0 -14
P Pek. Plafond lt 2 8 82 90 82 90 0 -16
Q Pek. Mekanika l Ele ktrika l lt 2 8 82 90 82 90 0 -16
R Pek. Pengecetan lt 2 3 95 98 95 98 0 -6
S Pek. Finising 2 98 100 98 100 0 -4
Dari nilai TF yang tinggi nilai minusnya maka, diadakan percepatan pada 2 kegiatan dijalur kritis pada durasi normal proyek.
Tabel 4.7 Hasil Percepatan Tahap III sudah mencapai UREN
Kegiatan
Durasi Kegiatan Lama (Dn)
Durasi Kegiatan Baru (Dn baru) = Dn (lama) + Dn (lama)/Dz * (UREN - UPER)
C 21 15
D 20 14
F 15 11
K 15 11
Tabel 4.7 merupakan hasil analisa dari percepatan proyek tahap II yang sudah mencapai Umur Rencana (UREN) dipercepat menjadi 100 hari dari waktu proyek yang direncanakan berlangsung dengan durasi 120 hari.
Biaya langsung adalah biaya yang langsung berhubungan dengan pekerjaan konstruksi di lapangan. Biaya langsung dapat diperoleh dengan mengalikan volume suatu pekerjaan dengan harga satuan pekerjaan tersebut. Adapun rincian biaya langsung dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam Lampiran B tabel 4.1 Rekapitulasi Halaman 55.
Tabel 4.8 Biaya Langsung Proyek untuk Durasi Normal 120 Hari
No Uraian Pekerjaan Biaya (Rp)
1 Building Rp. 1.271.622.200,00,-
2 Jumlah Rp. 1.271.622.200,00,-
Sumber : RAB Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh
4.2.2 Biaya tidak langsung
Biaya tidak langsung adalah biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi, tetapi harus ada dan tidak dapat dilepaskan dari proyek tersebut. Biaya tidak langsung secara umum menunjukkan biaya-biaya
overhead seperti pengawasan, administrasi, konsultan, persiapan tender,
penjadwalan dan biaya lain- lain yang tak terduga.
Tabel 4.9 Biaya Tidak Langsung Proyek
No Jenis Biaya Jumlah (Rp) Jumlah Gaji Perhari (Rp)
I Biaya Over head
1. Gaji staf proyek 1 65.000,00
a. Site manager proyek 1 65.000,00
b. Pelaksana sipil 1 65.000,00 c. Logistik 1 50.000,00 d. Administrasi 1 50.000,00 Total perhari 295.000,00 II Fasilitas perhari 100.000,00 Profit 5% 63.581.110,00
Total gaji perhari untuk pelaksana dan logistik adalah = 8 000 . 50 000 . 65 = 14.375
Total gaji perhari menurut keputusan menteri Tenaga Kerja Nomor KEP 102/MEN/VI/2004 pasal 11 Lembur 1 jam = (Rp. 14.375,00 x 1,5) = Rp. 21.562,00 Lembur 2 jam = (Rp. 14.375,00 x 1,5) + (1 x (Rp. 14.375,00 x 2)) = Rp. 50.312,00 Lembur 3 jam = (Rp. 14.375,00 x 1,5) + (2 x (Rp. 14.375,00 x 2)) = Rp. 79.062,50 Lembur 4 jam = (Rp. 14.375,00 x 1,5) + (3 x (Rp. 14.375,00 x 2)) = Rp. 107.812,50
4.2.3 Analisis Time Cost Trade Off (TCTO)
Dalam mempercepat penyelesaian suatu proyek dengan me lakukan kompresi durasi, diupayakan agar penambahan dari segi biaya seminimal mungkin. Pengendalian biaya dilakukan adalah biaya langsung, karena biaya inilah yang akan bertambah apabila dilakukan pengurangan durasi.
Dalam proses mempercepat waktu penyelesaian proyek dengan melakukan penekanan (kompresi) waktu aktivitas, diusahakan agar pertambahan biaya yang ditimbulkan seminimum mungkin. Penekanan (kompresi) durasi proyek dilakukan untuk semua aktivitas yang berada pada lintasan kritis dan dimulai dari ak tivitas yang mempunyai cost slope terendah. Dari tahap-tahap kompresi tersebut akan dicari waktu dan biaya yang optimal. Berikut adalah proses perhitungan dalam tahap kompresi untuk penambahan 2 jam kerja adalah sebagai berikut:
Tahap Normal
Durasi normal 120 hari
Biaya langsung = Rp. 1.271.622.200 Biaya overhead = Rp. 395.000
Profit 5% = (Biaya langsung x 5) / 100
Profit 5% = 5 63.581.110 100 200 . 622 . 271 . 1
Biaya tidak langsung = durasi normal x biaya overhead + profit% = 120 hari x 395.000 + 63.581.110
= Rp. 110.981.110
Biaya total = Biaya langsung + Biaya tidak lansung = Rp. 1.271.622.200 + Rp. 110.981.110 = Rp. 1.382.603.310
Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Halaman 81-82
Perhitungan lembur 2 jam 120 - 105
Kegiatan yang merupakan Lintasan kritis akan diadakan lembur 2 jam. Contoh Perhitungan Kegiatan C
Cost slope = Rp. 115.000 Durasi normal = 21
Durasi percepatan = 17
Total crash = 21 – 17 = 4
Total durasi proyek = 120 hari – 4 hari = 116 hari Tambahan biaya = Cost slope x komulatif total crash
= Rp. 115.000 x 4 = Rp. 460.000
Biaya langsung = Biaya langsung normal + komulatif tambahan biaya = Rp. 1.271.622.200 + Rp. 460.000
= Rp.1.272.082.200
Tambahan biaya lembur 2 jam = Rp. 50.312 x 17 = Rp. 855.304
Biaya tak langsung = (total durasi proyek x biaya overhead) + komulatif biaya lembur + profit 5%
= (116 x Rp. 395.000) + Rp. 855.304+ Rp. 63.581.110 = Rp. 110.256.414
Biaya total = Biaya langsung + biaya tidak langsung = Rp. 1.272.082.200 + Rp. 110.256.414 = Rp. 1.382.338.614
Demikian seterusnya dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut ini: Tabel 4.10 Perhitungan Kompresi 120 - 105
Kegiatan Durasi Normal Durasi Percepatan Crash cost duration Cost Slope
C 21 17 575.000 115.000 D 20 16 575.000 115.000 F 15 12 431.250 105.417 K 15 12 431.250 105.417 E 10 8 287.500 86.250 I 10 8 287.500 86.250
Untuk perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran C Halaman 83-87
Demikian seterusnya dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 4.10 Perhitungan Lintasan Kritis C-D-F-K-E-I Dengan Penambahan Waktu Lembur 2 Jam. Sedangkan untuk mendapatkan biaya dan waktu optimum dilakukan perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel 4.11. Tabel ini menunjukkan bahwa Pengkompresian menyebabkan pengurangan biaya total proyek, hal ini disebabkan karena slope pengurangan biaya tidak langsung lebih besar dari pada
slope penambahan biaya langsung. Biaya total optimum didapat apabila hasil
penjumlahan biaya langsung dan biaya tidak langsungnya mencapai nilai terendah. Biaya dan waktu optimum dari masing- masing waktu lembur dapat dilihat pada Tabel 4.11 Rekapitulasi biaya dan waktu optimum untuk masing-masing waktu lembur
Tabel 4.11 Perhitungan Lintasan Kritis Dengan Penambahan Waktu Lembur Kegiatan komulatif tambahan Biaya langsung Biaya langsung Komulatif
tambahan Biaya tidak Biaya total
biaya Normal biaya lembur langsung cost slope x total
crash Biaya langsung normal + komulatif tambahan biaya (total durasi proyek x biaya over head) + komulatif biaya lembur Biaya langsung + biaya tidak langsung + profit 5% C 460.000 1.271.622.200 1.272.082.200 855.304 110.256.414 1.382.338.614 D 460.000 1.271.622.200 1.272.082.200 804.992 110.206.102 1.382.288.302 F 316.251 1.271.622.200 1.271.938.451 603.744 110.399.854 1.382.338.305 K 316.251 1.271.622.200 1.271.938.451 603.744 110.399.854 1.382.338.305 E 172.500 1.271.622.200 1.271.794.700 . 402.496 110.593.606 1.382.388.306 I 172.500 1.271.622.200 1.271.794.700 . 402.497 110.593.606 1.382.388.306 Untuk perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada lampiran C Halaman 88-89
Tahap Kompresi Untuk 120 - 100 Contoh Perhitungan lembur 4 jam
Kegiatan yang merupakan Lintasan kritis akan diadakan lembur 4 jam. Contoh Perhitungan Kegiatan C
Cost slope = Rp. 153.333 Durasi normal = 21
Durasi percepatan = 15
Total crash = 21 – 15 = 6
Total durasi proyek = 120 hari – 6 hari = 114 hari
Normal cost pekerja perjam = (Gaji staf proyek + Pelaksana sipil)/8 jam = (65.000 + 50.000)/8
= Rp. 14.375
Cost normal pekerja = 8 jam x normal cost pekerja perjam = 8 x Rp.14.375
= Rp. 115.000
Crash cost pekerja = cost normal pekerja perhari + biaya lembur pehari = Rp. 115.000 + Rp. 57.500
Jadi, crash cost duration = crash cost pekerja x total crash = Rp. 172.500 x 6 hari
= Rp. 1.035.000
Slope cost = (crash cost duratian – normal cost)/(durasi normal – percepatan
durasi) = 15 21 000 . 115 000 . 035 . 1 = Rp. 153.333
Tambahan biaya = Cost slope x komulatif total crash = Rp. 153.333 x 6
= Rp. 919.998
Biaya langsung = Biaya langsung normal + komulatif tambahan biaya = Rp. 1.271.622.200 + Rp. 919.998
= Rp. 1.272.542.198
Tambahan biaya lembur 4 jam = Rp. 107.812,50 x 15 = Rp. 1.617.187
Biaya tak langsung = (total durasi proyek x biaya overhead) + komulatif biaya lembur + profit 5%
= (114 x Rp. 395.000) + Rp. 1.617.187 + Rp. 63.581.110 = Rp. 110.228.297
Biaya total = Biaya langsung + biaya tidak langsung = Rp. 1.272.499.070 + Rp. 110.228.297 = Rp. 1.382.727.367
Tabel 4.12 Perhitungan Kompresi 120 – 100
Kegiatan Durasi Normal Durasi Percepatan Crash cost duration Cost Slope
C 21 15 1.035.000 153.333
D 20 14 1.035.000 153.333
F 15 11 632.500 129.375
K 15 11 632.500 129.375
Untuk perhitungan lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran C Halaman 93-95 Demikian seterusnya dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 4.11 Perhitungan Lintasan Kritis C-D-F-K Dengan Penambahan Waktu Lembur 3 dan 4 Jam. Sedangkan untuk mendapatkan biaya dan waktu optimum dilakukan perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel 4.12. Tabel ini menunjukkan bahwa Pengkompresian menyebabkan pengurangan biaya total proyek, hal ini disebabkan karena slope pengurangan biaya tidak langsung lebih besar dari pada
slope penambahan biaya langsung. Biaya total optimum didapat apabila hasil
penjumlahan biaya langsung dan biaya tidak langsungnya mencapai nilai terendah. Biaya dan waktu optimum dari masing- masing waktu lembur dapat dilihat pada Tabel 4.12 Rekapitulasi biaya dan waktu optimum untuk masing-masing waktu lembur
Tabel 4.13 Perhitungan Lintasan Kritis Dengan Penambahan Waktu Lembur
Kegiatan komulatif tambahan Biaya langsung Biaya langsung Komulatif
tambahan Biaya tidak Biaya total
biaya Normal Biaya lembur langsung cost slope x total crash Biaya langsung normal + komulatif tambahan biaya (total durasi proyek x biaya over head) + komulatif biaya lembur Biaya langsung + biaya tidak langsung + profit 5% C 919.998 1.271.622.200 1.272.542.198 1.617.187 110.228.297 1.382.727.367 D 936.426 1.271.622.200 1.272.558.626 1.509.375 110.120.485 1.382.679.111 F 517.500 1.271.622.200 1.272.139.700 869.682 110.270.792 1.382.410.492 K 517.500 1.271.622.200 1.272.139.700 869.682 110.270.792 1.382.410.492
Tabel 4.14 Rekapitulasi biaya dan waktu optimum untuk waktu lembur . Durasi percepatan Biaya setelah kompresi optimum Perubahan biaya dari biaya
normal Jumlah pekerjaan yang dilemburkan
120 1.382.603.310
105 1.376.678.310 5.925.000
C (2 Jam), D(2 Jam), F(2 Jam), K(2 Jam), E(2 Jam), I (2 Jam)
100 1.374.703.310 7.900.000 C(4 Jam), D(4 Jam), F(3 Jam), K(3 Jam)
Grafik 4.1 merupakan hubungan waktu lembur terhadap biaya dan waktu optimum, yang direncanakan berlangsung antara 3-4 jam terhadap biaya dan waktu optimum. Di antara ke empat penambahan jam kerja yang dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan Grafik 4.1, biaya yang paling optimum didapat pada pekerjaan C, D, F, K dengan penambahan 3-4 jam kerja dengan pengurangan biaya sebesar Rp 7.900.000 dari biaya total normal sebesar Rp.1.382.603.310 menjadi sebesar Rp 1.374.703.310 dengan pengurangan waktu selama 20 hari dari waktu normal 120 hari menjadi 100 hari.
1.374.703.310 1.376.678.310 1.382.603.310 1.370.000.000 1.372.000.000 1.374.000.000 1.376.000.000 1.378.000.000 1.380.000.000 1.382.000.000 1.384.000.000 100 105 120 Waktu (Hari) B ia y a ( R p)
Grafik 4.1 Hubungan Waktu Lembur Terhadap Biaya dan Waktu Optimum
4.3 Pembahasan
1. Berdasarkan hasil analisis percepatan waktu proyek dengan critical path method (CPM), item- item kegiatan yang mengalami percepatan sehingga mempengaruhi durasi penyelesaian proyek adalah: Pekerjaan pondasi lantai
1, pekerjaan beton bertulang lantai 1, pekerjaan lantai 1, pekerjaan beton bertulang lantai 2.
2. Dari segi waktu didapatkan penyelesaian selama 100 hari dari waktu pelaksanaan normal 120 hari atau terjadi pengurangan durasi selama 20 hari. 3. Berdasarkan hasil analisis penambahan jam kerja yang dilakukan pada
proyek Pembangunan RK B (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh dengan Time Cost Trade Off Analysis dapat disimpulkan sebagai berikut :
● Biaya dan waktu optimum, yang direncanakan berlangsung antara 3-4 jam terhadap biaya dan waktu optimum. Di antara ke empat penambahan jam kerja yang dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan Grafik 4.1, biaya yang paling optimum didapat pada pekerjaan C, D, F, K dengan penambahan 3-4 jam kerja dengan pengurangan biaya sebesar Rp 7.900.000 dari biaya total normal sebesar Rp.1.382.603.310 menjadi sebesar Rp 1.374.703.310 dengan pengurangan waktu selama 20 hari dari waktu normal 120 hari menjadi 100 hari.
BAB V PEN UTUP
5.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil analisis percepatan waktu proyek dengan critical path
method (CPM), item- item kegiatan yang mengalami percepatan sehingga
mempengaruhi durasi penyelesaian proyek adalah: Pekerjaan pondasi lantai 1, pekerjaan beton bertulang lantai 1, pekerjaan lantai 1, pekerjaan beton bertulang lantai 2.
2. Dari segi waktu didapatkan penyelesaian selama 100 hari dari waktu pelaksanaan normal 120 hari atau terjadi pengurangan durasi selama 20 hari. 3. Berdasarkan hasil analisis penambahan jam kerja yang dilakukan pada
proyek Pembangunan RK B (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh dengan Time Cost Trade Off Analysis dapat disimpulkan sebagai berikut :
● Biaya dan waktu optimum, yang direncanakan berlangsung antara 3-4 jam terhadap biaya dan waktu optimum. Di antara ke empat penambahan jam kerja yang dapat dilihat pada Tabel 4.12 dan Grafik 4.1, biaya yang paling optimum didapat pada pekerjaan C, D, F, K dengan penambahan 3-4 jam kerja dengan pengurangan biaya sebesar Rp 7.900.000 dari biaya total normal sebesar Rp.1.382.603.310 menjadi sebesar Rp 1.374.703.310 dengan pengurangan waktu selama 20 hari dari waktu normal 120 hari menjadi 100 hari.
5.2 Saran
Saran-saran yang diberikan sesuai dengan kesimpulan yang ada dan beberapa saran yang diusulkan untuk pelaksanaan Proyek Pembangunan RKB (Bertingkat Lantai II) SMA Negeri 4 Wira Bangsa Meulaboh, supaya dapat
menyelesaikan pelaksanaan proyek sesuai dengan waktu yang direncanakan dalam kontrak agar tidak mengalami keterlambatan.
1. Berdasarkan hasil analisis pembahasan maka dapat disarankan bagi pihak kontraktor, apabila keterlambatan pelaksanaan proyek yang dialami dengan mengejar sasaran jadwal yang telah ditentukan atas perjanjian kontrak tertentu, sebaiknya percepatan dilakukan dengan penambahan jam kerja. 2. Kepada pihak kontraktor atau calon peneliti yang menghadapi permasalahan
yang sama, dapat mencoba alternatif lain selain dengan penambahan jam kerja, misalkan dengan penambahan jumlah tenaga keja, menggunakan peralatan alat bantu yang produktif dan metode kerja yang lebih baru dan modren sehingga dapat menghasilkan pengurangan durasi yang lebih maksimum dengan biaya proyek yang lebih minimum.
43
Availiable from internet http://Undergradute. Pdf. Adobe Reader
Ariefasa, R. 2011, jurnal wahaha, viewed 20 Mei 2013, Availiable from internet http://Document. Pdf. Adobe Acrobat.
Frederika, A. 2010, Analisi Percepatan Pelaksanaan dengan Menambah Jam
Kerja Optimum Pada Proyek Konstruksi, viewed 04 Mei 2013, Availiable
from internet http//Jurnal Percepatan. Pdf. Adobe Reader Husen, A. 2008, Manajemen Proyek, Andi, Yogyakarta.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP. 102/ MEN/VI/ 2004 pasal 11. Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.
Maharany & Fajarwati. 2006, Optimalisai Pelaksanaan Proyek, viewed 03 Juli 2013, Availiable from internet http://Undergradute. Pdf. Adobe Reader
Setiyarto, D. 2007, Jurnal Metode Jalur Kritis, viewed 20 Mei 2013, Availiable from internet http://Document. Pdf. Adobe Acrobat.
Widyatmoko, Y. 2008, Analisa Percepatan Waktu, Viewed 04 Mei 2013, Avaliable from internet http:// Analisa Percepatan-Literatur. Pdf (Secured). Adobe Reader.
Wijayanto Nur Wahyu, T. 2011, Analisa Perhitungan Pertukaran Waktu dan
biaya pada Proyek Pembangunan Hotel Mitdtown Surabaya, viewed 13 Mei