• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA LULUSAN SMK DENGAN SISTEM IJON

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA LULUSAN SMK DENGAN SISTEM IJON"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PARTISIPASI MASYARAKAT INDUSTRI DALAM REKRUTMEN TENAGA KERJA LULUSAN SMK DENGAN “SISTEM IJON”

Oleh: Yoto1) Djoko Kustono 2)

Muladi3) Wardana4)

1,2) Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang

Email: yoto.1718@yahoo.com; kustono_djoko@yahoo.com

3)Dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang

Email:muladi@um.ac.id

4)Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang

Email: wardana@brawijaya.ac.id

Abstrak: Sekolah menengah kejuruan memegang peran penting dalam mengisi pembangunan

dibidang industri. Untuk itu maka pendidikan kejuruan harus melakukan langkah-langkah konkrit dalam penyiapan tenaga kerja yang mampu berkompetisi dalam mendapatkan pekerjaan di dunia usaha/industri. Kerja sama antara sekolah dengan industri merupakan langkah yang strategis yang harus dilakukan untuk secara bersama-sama mendidik dan melatih serta membentuk karakter siswa untuk kepentingan bersama. “Sistem ijon” adalah merupakan terobosan dan langkah baru dalam penyaluran tamatan sekolah menengah kejuruan secara efektif dan efisien. Dengan “sistem ijon” siswa akan dipesan oleh industri sebelum mereka tamat, sehingga setelah tamat mereka langsung ditempatkan kerja di industri.

Abstract: Vocational High School fill an important rolein the field of industrial development.

For those reasons, vocational education must perform concrete steps in the preparation of the work force that is able to compete for jobs in the business/industry. Cooperation between school and industry is a strategic step that must be done together to educate and to train and form the character of students for the mutual benefit. “Ijon system” is abreak through and a new step in the delivery of vocational high school graduates effectively and efficiently. With "ijon system" students will be booked by the industry before they graduate, so that after graduation they immediately job placed in the industry.

Kata Kunci: partisipasi masyarakat industri, rekrutmen tenaga kerja, sistem ijon

Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah suatu proses pembelajaran dan bimbingan di sekolah dan proses pelatihan kerja di dunia kerja yang sesungguhnya. Proses pembelajaran di sekolah bertujuan untuk mengembangkan

potensi akademis dan kepribadian pesertadidik menjadi sumber daya manusia Indonesia yang memiliki kepribadian sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan

(2)

tuntutan perkembangan globalisasi (Sidi, 1999:9).

Pendidikan kejuruan merupakan program strategis untuk menyediakan

tenaga kerja tingkat menengah

(Djojonegoro, 1997). Namun kenyataan menun-jukkan bahwa program ini kurang menarik perhatian kebanyakan orangtua dan anak-anaknya, terutama dari golongan ekonomi menengah ke atas. Demikian juga peserta didik yang prestasi akademiknya tinggi cenderung tidak memilih pendidikan kejuruan, melainkan pendidikan umum yang lebih leluasa untuk memasuki jenjang pendidikan tinggi. Usaha untuk menarik minat masyarakat termasuk remaja lulusan pendidikan dasar, untuk memasuki sekolah kejuruan memang perlu dilaku-kan dengan sungguh-sungguh. Usaha tersebut tidak cukup hanya dengan melakukan promosi misalnya mencetak dan menyebarkan informasi, tetapi harus terlebih dahulu ditunjukkan hasil yang bermutu dan berdayaguna.

Sejak reformasi pendidikan kejuruan digulirkan pada tahun 1994, telah banyak dilakukan perubahan-perubahan yang menyangkut sistemnya, kulturnya, dan figurnya (Depdikbud, 1999). Reformasi tersebut telah menun-jukkan gejala-gejala yang positif, namun masih dihadapkan pada sejumlah komponen yang perlu dipersiapkan se-cara bersungguh-sungguh; gagal mem-persiapkan salah satu komponen saja, tujuan reformasi pendidikan kejuruan tidak akan tercapai. Oleh karena itu maka diperlukan pengelolaan Sekolah Mene-ngah Kejuruan yang sungguh-sungguh, berpengalaman dan profesional. Keber-hasilan pengelolaan Sekolah Menengah

Kejuruan sangat dipengaruhi oleh bebe-rapa faktor, diantaranya adalah: (1) faktor peserta didik, (2) guru, (3) sarana-prasarana belajar, (4) lingkungan, (5) manajemen sekolah, dan (6) partisipasi masyarakat industri (Depdikbud, 1999).

Sekolah Menengah Kejuruan se-bagai bagian dari sistem pendidikan nasional telah mengadakan perubahan paradigma (Depdikbud, 1999; Priowir-janto, 2001), yaitu: (1) dari supply driven ke demanddriven, (2) dari academic

oriented ke job (occupation) oriented,

dan (3) dari school based program ke

dual based program. Paradigma ini

sejalan dengan misi dan visi pengem-bangan pendidikan menengah kejuruan di Indonesia.Pendidikan kejuruan termasuk kerangka pendidikan secara menyeluruh, namun kurikulum kejuruan memiliki beberapa karakteristik tertentu yang membedakan dengan lingkungan pendi-dikan yang lain (Finch dan Crunkilton, 1989). Karakteristik yang dimaksud adalah: (1) standar keberhasilan siswa di sekolah berdasarkan pada performance yang diharapkan dalam dunia kerja, (2) penentuan keberhasilan siswa tidak terbatas pada apa yang berlangsung di lingkungan sekolah, tetapi juga pada keberhasilan tamatan di dunia kerja, (3) kurikulum kejuruan harus renponsif terhadap perubahan yang terus-menerus dalam dunia kerja agar para tamatan dapat bersaing dalam mendapatkan pekerjaan, (4) Kurikulum kejuruan sering

membutuhkan biaya yang besar,

peralatan harus diperbarui secara berkala dan biaya untuk praktik membutuhkan

budget yang terus-menerus.

Sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan, kepala sekolah

(3)

bertanggung jawab dalam menentukan kebijakan pendidikan di sekolah sesuai dengan arah kebijakan pendidikan yang telah ditentukan oleh pemerintah (Uno, 2008). Sebagai penyelenggara dan pelaksana kebijakan pendidikan nasional, sekolah bertugas menjabarkan kebijakan pendidikan nasional menjadi program-program operasional penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolah. Mutu pendidikan merupakan masalah yang dijadikan agenda utama untuk diatasi dalam kebijakan pembangunan pendidikan, karena hanya dengan pendidikan yang bermutu akan diperoleh lulusan bermutu yang mampu mem-bangun diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Zazin, 2011). Standar Nasional Pendidikan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 telah menggariskan ketentuan minimum bagi satuan pendi-dikan formal agar dapat memenuhi mutu pendidikan. Oleh karena itu maka ketentuan ini hendaknya digunakan sebagai acuan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan bagi satuan pendidikan.

Priowirjanto (2001:18-19) mencanangkan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi (competency based

training/CBT) pada SMK, yaitu

pendidik-an dpendidik-an pelatihpendidik-an (Diklat) ypendidik-ang menitik beratkan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan spesifik dan sikap sesuai dengan yang harus dilakukan dan diterapkan di dunia kerja. Untuk men-dukung program tersebut maka sarana pendidikan menjadi bagian yang penting untuk disiapkan oleh sekolah, serta adanya kerja sama yang baik antara

sekolah dan dunia usaha kerja untuk pelaksanan pelatihan kerja bagi siswa di industri.

Snedden (dalam Hyslop & Marginson, 2004) membuat suatu model pendidikan kejuruan yang berlangsung terfokus pada satu kebutuhan tenaga kerja yang diinginkan oleh industri. Dalam skema yang dibuatnya, seorang pelajar dibentuk menjadi tenaga kerja dengan keahlian tertentu disesuaikan dengan kecakapannya dan tuntutan industri. Sejalan dengan pemikiran Snedden, pendekatan sekolah berbasis perusahaan (SBP) di digagas oleh Reksoatmodjo (2010:252-253) yaitu suatu pendekatan yang lebih realistik untuk menyiapkan para peserta didik memahami kegiatan operasional suatu perusahaan. misalnya: siswa progran keahlian otomotif dilibatkan dalam pemeliharaan atau perakitan sepeda motor atau mobil pada bengkel atau industri otomotif, siswa program keahlian pemesinan dilibatkan pada pembuatan komponen suatu produk pada industri logam dan manufaktur dan lain sebagainya.

Pendapat Snedden (2004),

Reksoatmodjo (2010) dan Priowirjanto (2001) diatas memberikan gambaran bahwa SMK berperan dalam menciptakan calon tenaga kerja terampil tingkat menengah yang mampu dan mau bekerja serta bersaing dalam mengisi lapangan kerja sesuai dengan program keahlian yang dipilih, serta mau dan mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, kreatif dan inovatif dalam menghadapi pekerjaan.Keberhasilan sebuah sekolah kejuruan tidak cukup mendidik dan melatih serta membentuk sikap para peserta didiknya tetapi juga harus mampu

(4)

menyalurkan tamatannya bekerja pada perusahaan/industri yang relevan sesuai dengan program keahliannya. Oleh karena itu maka kerja sama antara sekolah dengan industri harus dilakukan dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh untuk mencetak tamatan yang kompeten dibidangnya. Kerja sama tersebut harus didasari dengan kesadaran dan saling membutuhkan sehingga dalam pelak-sanaannya akan berjalan dengan lancar dan saling menguntungkan.

Kerja sama antara SMK dan industri dapat dilakukan mulai dari perencanaan kurikulum, pelaksanaan, evaluasi sampai pada rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK. Sebenarnya ujung dari pendidikan kejuruan adalah penyaluran dan penempatan tamatan. Kerana keberhasilan dari pendidikan keju-ruan salah satu tolok ukurnya adalah keberhasilan tamatan dalam memperoleh lapangan pekerjaan (Miller, 1985).

Penelitian ini bertujuan untuk

mendapatkan gambaran mendalam

tentang rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK dengan “Sistem Ijon”.Penelitian ini dapat menemukan sekaligus mendeskrip-sikan data secara mendalam tentang partisipasi masyarakat industri dalam rekrutmen tenaga kerja tamatan SMK sekaligus membangun kerangka teori dan abstraksi-abstraksi data yang dikumpul-kan pada partisipasi masyarakat industri dalam rekrutmen tenaga kerja berdasarkan temuan dalam penelitian.

Fokus dalam pembahasan berikut adalah tentangpartisipasi masyarakat industri dalam pelaksanaan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK dengan “Sistem Ijon”(Studi kasus pada SMK Negeri 1 Singosari Malang, SMK Negeri 3

Tulungagung, dan SMK Negeri 1 Sidoarjo). Dipilih ketiga SMK tersebut karena beberapa alasan: (1) merupakan SMK Negeri perintis, yaitu SMK tertua di masing-masing Kabupaten tersebut, (2) merupakan SMK yang memiliki sertifikat sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001:2008, (3) SMK tersebut sama-sama memiliki Program Keahlian Teknik Mesin, (4) merupakan SMK yang melaksanakan perekrutan tenaga kerja melaluli bursa kerja khusus (BKK) di sekolah, (5) merupakan SMK yang memiliki jaringan kerja sama dengan industri yang sesuai dengan bidang keahlian yang ada di sekolah, (6) merupakan SMK yang melaksanakan model pendidikan sistem ganda dan diaplikasikan dengan peningkatan mutu pendidikan melalui praktik kerja industri bagi siswa pada industri yang relevan dengan program keahlian, (7) SMK yang sebagian besar (sekitar 70%) dapat terserap pada dunia kerja/industri , berwirausaha (sekitar 20%) dan sisanya sekitar 10% melanjutkan ke pendidikan tinggi (Sumber: diolah dari BKK SMK Negeri 1 Singosari Malang, SMK Negeri 3 Tulungagung dan SMK Negeri 1 Sidoarjo, 2013).

Adapun yang menjadi fokus penelitian tentang partisipasi masyarakat industri dalam pelaksanaan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMKdengan “sistem ijon” dirinci sebagai berikut: (1) bagaimana pelaksanaan praktik kerja industri sebagai sarana meningkatkan kualitas lulusan siswa SMK untuk persiapan kerja?, (2) bagaimana Pelak-sanaan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK melalui “Sistem Ijon”oleh industri?,

(5)

(3) apa manfaat “Sistem Ijon” dalam rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK?

METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus multi situs. Subjek penelitian dipilih dengan metode purposif sampling, yaitu: SMK Negeri 1 Singosari Malang, SMK Negeri 3 Tulungagung dan SMK Negeri 1 Sidoarjo beserta industri yang menjadi mitra SMK tersebut. Teknik pengambilan data dengan: wawancara, dokumentasi dan observasi. Sedangkan alat pengumpul data adalah dengan menggunakan per-lengkapan berupa audio, video, camera, angket, dan buku catatan harian. Data yang diperoleh adalah berupa dokumen, laporan kegiatan yang terkait dengan partisipasi masyarakat industri dalam pelaksanaan rekrutmen tamatan SMK, foto-foto kegiatan, transkrip hasil wawan-cara, dan catatan hasil observasi di lapangan.

Analisis data menggunakan analisis data kasus individu (individual

case)meliputi: (1) observasi yang

dilaku-kan secara terus menerus (persistent

observation); (2) triangulasi (triangular-tion) sumber data, metode, dan dokumen;

(3) diskusi teman sejawat (peer

reviewing); dan (4) pengecekan

menge-nai kecukupan referensi (referential

adequancy checks). Analisis data

dilakukan selama peneliti berada di lapangan dan setelah pencarian data di lapangan dengan mengacu teori dari Miles & Huberman (1992), Bogdan & Biklen (1982), dan Lincoln dan Guba (1985).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian

dengan menggunakan pendekatan

kualitatif dan pengambilan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi

berikut akan dipaparkan hasil

penelitianmengenai: (1) praktik kerja industri sebagai sarana meningkatkan kualitas lulusan siswa SMK untuk persiapan kerja, (2) rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK melalui “Sistem Ijon” oleh industri, dan (3) manfaat “Sistem Ijon” dalam rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK.

Praktik Kerja Industri Sebagai Sarana Meningkatkan Kualitas Lulusan Siswa SMK Untuk Persiapan Kerja

Dalam Keputusan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No: 0490/U/1992 pasal 2 dijelaskan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan bertujuan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk dapat mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tek-nologi dan kesenian; serta menyiap-kan peserta didik untuk memasuki lapangan

kerja dan mengembangkan sikap

profesional. Menurut Billett (2011) Pendidikan kejuruan mempunyai tujuan yang terfokus pada: (1) persiapan untuk masuk kerja, (2) pemilihan karir, (3) mengem-bangkan kompetensi, dan (4) perbekalan dari pengalaman yang mendukung untuk transisi jabatan pekerjaan dari satu posisi ke posisi yang lain.

Selanjutnya Rivai & Murni (2010:91) menjelaskan pendidikan menengah kejuruan adalah pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang

(6)

mengutamakan pengembangan kemam-puan peserta didik untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. Pada umumnya orientasi kurikulum pendidikan kejuruan selalu berorientasi pada hasil atau lulusannya.Finch dan Crunkilton (1989) menjelaskan walaupun tujuan utama dari pendidikan kejuruan adalah menyediakan dan membekali siswa untuk dapat men-capai tujuan pendidikan seperti yang diharapkan oleh kurikulum, sebenarnya tujuan akhir pendidikan kejuruan sangat jauh dari apa yang dapat dicapai selama proses pendidikan berlangsung (di se-kolah). Jadi keberhasilan kurikulum pendidikan kejuruan tidak hanya diukur dari keberhasilan siswa di sekolah tetapi diukur dari hasil yang dinyatakan dalam bentuk penampilan (performance) atau kecakapan lulusan dalam dunia kerja.

Kurikulum pendidikan kejuruan berorientasi pada proses dan hasil. Proses adalah seluruh aktifitas dan pengalaman belajar selama di sekolah sedangkan hasil adalah akibat dari aktifitas dan penga-taman belajar seorang lulusan selama belajar di sekolah.Walaupun penting sekali bagi siswa untuk mempunyai pengetahuan tentang berbagai macam aspek dari pekerjaan yang akan mereka kerjakan nantinya di industri, penilaian yang tepat untuk menentukan keber-hasilan siswa di sekolah harus berupa aplikasi kemampuan yang dapat dikerja-kan di sekolah. Kriteria keberhasilan yang dipergunakan untuk menilai kemampuan atau hasil belajar siswa harus sesuai dengan kriteria yang dipakai di dunia industri (Finch dan Crunkilton, 1989; Depdikbud, 1999; Billett, 2011).

Menurut Miller (1985:51)

pendidikan kejuruan dirancang sebagai

hubungan antara sekolah dengan pekerjaan, asumsi yang ada bahwa orang-orang yang disiapkan melalui pendidikan kejuruan akan menemukan pekerjaan dan bahwa ini bisa terjadi karena persyaratan bahwa bagian dari pendidikan tersebut berlangsung dalam suasana produktif dan praktis. Pendapat miller ini dapat terwujud jika ada kerjasama antara sekolah dengan industri dalam pelak-sanaan kegiatan belajar mengajar di industri.

Proses pelatihan kerja di dunia kerja yang sesungguhnya, dilakukan agar peserta menguasai kompetensi terstandar pada bidangnya, mengembangkan dan menginternalisasi sikap-nilai profesiona-lisme sebagai tenaga kerja yang berkualitas unggul (Arikunto, 1993; Sidi, 1999). Pelatihan didunia kerja pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kompetensi operasional atau kompetensi khusus, yaitu penguasaan kecakapan yang berkenaan dengan penerapan dari konsep, prinsip, dan pengetahuan dalam kenyataan, kehidupan atau pekerjaan (Sukmadinata, Jami’at dan Ahman, 2008). Atas dasar itulah, maka kegiatan pendidikan dan pelatihan di SMK harus dilaksanakan di dua tempat yaitu di sekolah dan di dunia kerja yang sesuai.

Hubungan antara sekolah keju-ruan dan industri harus merupakan hubungan yang sangat erat dan kuat karena pendidikan kejuruan harus selalu sesuai dengan kebutuhan yang nyata ada di dunia industri (Finch dan Crunkilton, 1989). Dunia industri harus juga menya-takan kebutuhannya kepada sekolah dan memberikan petunjuk tentang bagaimana cara mencukupi kebutuhan tersebut. Petunjuk ini dapat berupa nasihat dari

(7)

pihak industri kepada sekolah (panitia perancang kurikulum), bantuan berupa alat-alat untuk latihan (bengkel praktek/ laboratorium) atau berupa kesempatan latihan kerja di industri. Erat atau tidaknya hubungan inilah yang biasanya menandai kualitas dan keberhasilan pendidikan kejuruan (Miller, 1985; Clarke and Winch, 2007).

Atas dasar pemikiran-pemikiran diatas maka pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di SMK dilaksanakan di dua tempat, yaitu: disekolah dan di industri yang dikenal dengan dual sistem education(DSE)atau pendidikan sistem

ganda (PSG). Pendidikan dan pelatihan dengan PSG menurut Sidi (1999) dan Djoyonegoro (1987) bertujuan: (1) pe-laksanaan pendidikan dan latihan di sekolah bertujuan untuk membekali peserta Diklat mengembangkan kepri-badian, potensi akademik, dan dasar-dasar keahlian yang kuat dan benar melalui pembelajaran program normatif, adaptif dan produktif, (2) pendidikan dan pelatihan di dunia kerja bertujuan untuk memberikan pengalaman kerja yang sesungguhnya agar peserta menguasai kompetensi keahlian produktif terstandar, menginternalisasi sikap-nilai dan budaya industri yang berorientasi kepada standar mutu, nilai-nilai ekonomi, dan jiwa kewirausahaan, sertra membentuk etos kerja yang kritis, produktif, dan kompetitif.

Praktik kerja industri adalah bagian dari pendidikan sistem ganda, dimana kegiatan proses belajar mengajar dilaksanakan siswa di industri dengan bimbingan dari pihak industri dan guru pembimbing dari sekolah (Depdikbud, 1994). Tujuan dari praktik kerja industri

adalah agar siswa: memiliki pengalaman langsung bekerja di industri, memiliki pemahaman dan penghargaan terhadap pekerjaan, memilki kedisiplinan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, menghargai waktu dan memiliki penga-laman dan wawasan kewirausahaan. Praktik kerja industri bagi siswa SMK pada umumnya dilaksanakan selama (3-4) bulan tergantung situasi dan kondisi dari perusahaan/industri serta kesepakat-an kesepakat-antara SMK dkesepakat-an industri.

Pada Gambar 1 ditunjukkan proses pelaksanaan praktik kerja industri bagi peserta didik SMK yang diolah dari hasil wawancara dengan wakil kepala sekolah bidang hubungan masyarakat dan bursa kerja khusus (BKK).

Praktik kerja industri bagi siswa dapat dilaksanakan apabila ada kesediaan dan kemauan industri/perusahaan untuk menjadi pasangan SMK dalam melaksa-nakan bersama program pendidikan dengan sistem ganda, karena itu dituntut kemauan dan kemampuan SMK untuk berinisiatif mendekati serta mendapatkan industri/perusahaan untuk menjadi insti-tusi pasangan. Dalam menjalin hubungan kerjasama ini diharapkan harus saling menguntungkan, sehingga program-pro-gramnya dapat dilaksanakan dengan baik dan atas kesepakatan kedua belah pihak (Depdikbud, 1994). Kerjasama antara SMK dan dunia usaha/industri, dilaksana-kan dengan prinsip saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk keuntungan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan pendidikan dengan sistem ganda yang ditunjang dengan pelaksanaan praktik kerja industri akan memberi nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerjasama.

(8)

Gambar 1. Proses Pelaksanaan Prakerin bagi Siswa SMK

Tabel 1: Keterserapan Tamatan SMK Pada Dunia Usaha/Industri Program Keahlian Pemesinan.

No SMK Terserap Du/Di

Sebelum Lulus

Terserap Du/Di Masa Tunggu (1--6) Bulan

Melanjutkan ke Perguruan Tinggi

1 SMK Negeri 1 Singosari Malang 60,87% 26,09% 13,04%

2 SMK Negeri 3 Tulungagung 72,00% 18% 10%

3 SMK Negeri 1 Sidoarjo 60,94% 26,56% 12,50%

Rata-rata 64,60% 23,55% 11,85%

Sumber: BKK SMK Negeri 1 Singosari Malang, SMK Negeri 3 Tulungagung dan SMK Negeri 1 Sidoarjo (2013)

Gambar 2. Rekrutmen Tenaga Kerja Lulusan SMK dengan “Sistem Ijon”

(9)

Melalui “Sistem Ijon”

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat (UU RI No. 13 Tahun 2003 pasal 31 ayat 2). Selanjutnya (pasal 32) disebutkan bahwa penempatan tenaga kerja diarahkan untuk menem-patkan tenaga kerja pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, keterampilan, bakat, minat, dan kemampuan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak asasi dan perlindungan hukum; penempatan tenaga kerja dilaksanakan dengan memperhatikan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan program nasional dan daerah.

Penempatan dan penyaluran tenaga kerja lulusan SMK yang di tangani oleh SMK merupakan bagian dari tanggung jawab lembaga pendidikan. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Miller (1985) bahwa: (1) penempatan kerja yang sesuai harus menjadi bagian integral dari program pendidikan kejuruan bagi siswa yang berencana untuk memasuki angkatan kerja saat mereka lulus, (2) penempatan dalam pekerjaan yang di latih pada sekolah kejuruan merupakan ukuran nyata dari keberhasilan proses pendidikan kejuruan.

Keterserapan tamatan SMK

dikelompokkan sebagai berikut: (1) terserap pada dunia usaha/industri sebelum lulus EBTA melalui tes yang dilaksanakan oleh BKK bersama industri di sekolah, (2) terserap pada dunia usaha/industri sebelum EBTA melalui tes yang dilaksanakan oleh industri di industri yang membutuhkan, (3) terserap di industri melalui tes di industri

(1-6) bulan, (4) menciptakan lapangan kerja sendiri atau berwirausaha, (5) terserap pada dunia usaha/industri dengan sistem seleksi pada saat Prakerin (“Sistem Ijon”), dan (6) melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Data yang ada pada

bursa kerja khusus (BKK) SMK

menunjukkan bahwa keterserapan tamatan dapat dilihat pada Tabel 1.

Rekrutmen pada hakekatnya meru-pakan proses menentukan dan menarik pelamar yang mampu untuk bekerja dalam suatu perusahaan, hasilnya adalah

meru-pakan sekumpulan pelamar calon

karyawan baru untuk diseleksi dan dipilih; dengan istilah lain rekrutmen merupakan suatu proses untuk mendapatkan sejumlah karyawan yang berkualitas untuk menduduki suatu jabatan atau pekerjaan dalam suatu perusahaan (Rivai dan Sagala, 2010: 148). Rekrutmen adalah merupakan proses mencari, menemukan dan menarik para pelamar kerja untuk dipekerjakan dalam suatu organisasi (Singodimedjo, 1999; Siagian, 2004).Selanjutnya Yoto (2003) menjelaskan rekrutmen merupakan proses pencarian tenaga kerja oleh perusahaan/industri dengan menggunakan metode-metode tertentu untuk mendapat-kan karyawan yang memiliki kemampuan sesuai dengan bidang yang akan ditem-patinya sehingga diharapkan karyawan yang bekerja di perusahaan/industri benar-benar dapat bekerja secara profesional di bidangnya yang akan membantu pencapai-an efektifitas dpencapai-an efisiensi perusahapencapai-an.

Sumber-sumber yang biasa diguna-kan dalam rekrutmen tenaga kerja adalah pengiklanan, agen penempatan tenaga kerja, lembaga pendidikan dan pelatihan (SMK, politeknik, Universitas/Institut,

(10)

organisasi karyawan, asosiasi profesi, dan melalui open house(Handoko, 1987; Singodimedjo, 1999 dan Yoto, 2003). Agar tenaga kerja memiliki kompetensi sesuai yang dibutuhkan industri, maka sebelum bersaing dalam rekrutmen harus mengikuti pelatihan-pelatihan. Pelatihan dapat dilakukan pada pendidikan formal (SMK) maupun di balai latihan kerja (BLK) atau di industri dengan sistem magang.

Pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diseleng-garakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di industri di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu (UU RI No. 13 Tahun 2003 pasal 1 ayat 12). Istilah Pemagangan pada SMK adalah dilakukan saat peserta didik melakukan praktik kerja industri (Prakerin), jadi prakerin pada dasarnya adalah magang di industri sebagai upaya menguasai keterampilan dan pengalaman sesuai dengan program keahlian yang dipilih.

Pada saat kegiatan praktik kerja industri berlangsung siswa dibimbing guru pembimbing dari sekolah dan pembimbing dari industri. Kegiatan sehari-hari selama di industri banyak dilakukan bimbingan, pembinaan, pendampingan dan evaluasi dari pihak industri. Sedangkan bimbingan dari pihak sekolah dilakukan secara berkala dalam kurun waktu tertentu. Prakerin biasanya dilakukan dalam waktu 4 bulan. Selama empat bulan ini biasanya guru pembimbing datang ke industri sekitar 4 kali, yaitu pada saat mengantar,

mengambil/ kepulangan. Pembimbing industri karena setiap hari bertemu, lebih banyak mengetahui pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki siswa selama kegiatan praktik kerja di industri.

Berdasarkan hasil penelitian (melalui metode: observasi, wawancara dan dokumentasi), pelaksanaan praktik kerja industri yang digunakan untuk rekrutmen dengan “Sistem Ijon” di industri dijelaskan:

1. Peserta yang mengikuti pelatihan di institusi pasangan (industri) adalah mereka yang memenuhi persyaratan minimal yang telah ditetapkan, baik pada saat penerimaan peserta didik baru maupun ketika mengikuti

program Diklatdi SMK yang

ditunjukkan dengan nilai raport. 2. Industri dapat melakukan pemilihan

peserta dan memberikan pembekalan kemampuan tambahan, agar benar-benar siap dan memenuhi standar minimal sesuai dengan persyaratan kerja yang ada.

3. Kegiatan pelatihan di industri dipro-gramkan sesuai dengan program bersama yang telah disepakati.

4. Kegiatan peserta di industri meru-pakan kegiatan bekerja langsung pada pekerjaan yang sesungguhnya untuk menguasai kompetensi keahlian yang benar dan terstandar, sekaligus men-ginternalisasi sikap dan etos kerja yang positif sesuai dengan persyaratan tenaga kerja profesional pada bidang-nya.

5. Program pelatihan di industri berisi antara lain: standar keahlian yang harus dikuasai peserta; jenis-jenis pekerjaan yang dilaksanakan oleh

(11)

pembimbingan; penilaian proses dan hasil pekerjaan peserta.

6. Lamanya peserta berada di suatu industri, ditentukan atas dasar jumlah waktu latihan yang dipersyaratkan untuk menguasai kompetensi yang akan dipelajarinya. Secara keseluruhan praktik kerja industri dilaksanakan minimal selama sesuai dengan jumlah waktu yang dialokasikan pada susunan

program kurikulum SMK yang

umumnya sekitar 4 bulan di industri. 7. Pelaksanaan pembelajaran di industri

dilengkapi dengan perangkat antara lain: jurnal kegiatan peserta; perangkat monitoring; kontrak kerja atau perjanjian peserta (jika diperlukan); asuransi kecelakaan kerja bagi peserta; lain-lain yang dianggap perlu.

8. Segala sesuatu yang menyangkut peraturan dan tata tertib disiplin pekerja di industri, dapat diberlakukan terhadap peserta sejauh berkaitan dengan misi program.

9. Sedapat mungkin, keberadaan peserta di industri dimasukkan ke dalam struktur ketenagaan yang berlaku. 10. Peserta hanya boleh dikembalikan ke

SMK, jika berdasarkan standar program yang disepakati telah dinyatakan tuntas. Kecuali dalam kasus-kasus tertentu yang mengaki-batkan batalnya perjanjian kerjasama.

Berdasarkan buku pedoman

praktik industri SMK (2013) penilaian yang diberikan terhadap siswa selama praktik industri adalah meliputi aspek teknis dan non teknis. Aspek teknis yaitu kemampuan mengerjakan pekerjaan di industri (kemampuan produktif) dengan

teknis meliputi kedisiplinan, tanggung jawab, kerjasama, inisiatif, kerapihan, dan kebersihan dengan penilaian kualitatif (yaitu: sangat baik, baik cukup baik kurang baik dan tidak baik).

Menurut Miller (1985:53) sekolah yang melayani penyaluran dan penempatan kerja seperti “Sistem Ijon” akan mencapai tujuan: (1) memenuhi tanggung jawab untuk kebutuhan semua siswa dan alumni, (2) sebagai jembatan antara sekolah dan dunia kerja, (3) menyediakan data evaluasi awal tentang ketepatan program kebutuhan dunia usaha/industri.

Pada saat praktik industri berlangsung industri melaksanakan eva-luasi secara ketat untuk mendapatkan calon tenaga kerja terbaik. Dalam “Sistem Ijon” sebelum pemberangkatan Prakerin, industri minta kepada sekolah bahwa siswa yang dikirim untuk praktik kerja industri dipilihkan siswa yang memiliki prestasi baik, sehingga mudah untuk dibimbing selama di industri. Dengan demikian jika siswa SMK dibimbing secara sungguh-sungguh selama praktik kerja industri akan menghasilkan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan kerja yang tinggi dan mampu menghadapi setiap pekerjaan serta siap kerja. Siswa yang demikian setelah lulus langsung direkrut oleh industri yang bersangkutan. Industri-industri yang menggunakan rekrutmen dengan “sistem Ijon” diantaranya adalah: PT. Rekplast Sidoarjo, PT. Toyota Astra Jakarta, PT Kayaan Putra Unggul Coal Samarinda, PT. Prima Sakti Malang, PT. General Motor Indonesia Chevrolet Jakarta, PT. Altrak Jakarta, PT. Freeport Tembagapura, PT. Boma Bisma Indra Pasuruan, dan lain-lain (sumber: Hasil

(12)

Negeri 1 Singosari Malang, 2013; SMK Negeri 3 Tulungagung, 2013 dan SMK Negeri 1 Sidoarjo, 2013).

Manfaat “Sistem Ijon” Dalam

Rekrutmen Tenaga Kerja Lulusan SMK Praktik kerja industri bagi siswa dapat dilaksanakan, apabila ada kesediaan dan kemauan industri/perusahaan untuk menjadi pasangan SMK dalam melaksana-kan bersama program pendidimelaksana-kan dengan sistem ganda, karena itu dituntut kemauan dan kemampuan SMK untuk berinisiatif mendekati serta mendapatkan industri/ perusahaan untuk menjadi institusi pasangan. Dalam menjalin hubungan kerjasama ini diharapkan harus saling menguntungkan, sehingga program-programnya dapat dilaksanakan dengan baik dan atas kesepakatan kedua belah pihak (Depdikbud, 1994).

Kerjasama antara SMK dan dunia usaha/industri, dilaksanakan dengan prinsip saling membantu, saling mengisi dan saling melengkapi untuk keuntungan bersama. Berdasarkan prinsip ini, pelaksanaan pendidikan dengan sistem ganda yang ditunjang dengan pelaksanaan praktik kerja industri akan memberi nilai tambah bagi pihak-pihak yang bekerja-sama.

Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara dari pihak industri yang menjadi mitra SMK (SMK Negeri 1 Singosari Malang; SMK Negeri 3 Tulungagung; dan SMK Negeri 1 Sidoarjo, 2013) penyelenggaraan praktik kerja industri memberi keuntungan nyata bagi dunia usaha/industri, terutama dalam rekrutmen tenaga kerja antara lain adalah:

Pertama, dunia usaha/industri mengenal

dan bekerja di perusahaannya. Kalau perusahaan menilai orang tersebut dapat menjadi asset, dapat direkrut menjadi tenaga kerja di perusahaan tersebut.Kalau tidakbisa dilepas, karena tidak ada keharusan bagi perusahaan untuk memper-kerjakan mereka apabila telah tamat.

Kedua, pada umumnya peserta didik telah

ikut dalam proses produksi secara aktif, sehingga pada batas-batas tertentu selama masa pendidikan, peserta didik adalah tenaga kerja yang dapat memberi keun-tungan. Ketiga, selama proses pendidikan melalui kerja di industri, peserta didik lebih mudah diatur dalam disiplin, seperti kepatuhan terhadap aturan perusahaan. Karena itu sikap peserta didik dapat dibentuk sesuai dengan ciri khas perusa-haan. Keempat, perusahaan/industri dapat mengembangkan usaha/industrinya dengan memberikan tugas kepada peserta dalam perkembangan teknologi yang diperoleh selama belajar di sekolah, kemudian dapat dikembangkan diperusahaan. Kelima,

mem-berikan kebanggaan tersendiri kepada dunia usaha/industri dalam ikut serta mencerdaskan bangsa untuk menen-tukan masa depan peserta didik.

Bagi peserta didik, banyak sekali keuntungan yang dapat diperoleh karena mengikuti dual system education (DSE)yang ditunjang dengan pelaksanaan

praktik kerja industri ini, terutama yang terkait dengan rekrutmen tenaga kerja lulusan SMK antara lain: (1) hasil belajar peserta didik akan lebih bermakna, karena setelah tamat dari sekolah akan memiliki keahlian profesional sebagai bekal untuk meningkatkan taraf hidup, (2) Lead-Time untuk mencapai keahlian profesional menjadi lebih singkat. Setelah tamat, tidak

(13)

untuk mencapai tingkat keahlian siap pakai, (3) keahlian yang diperoleh selama pelaksanaan praktik kerja industridapat mengangkat rasa percaya diri setelah tamat, yang dapat mendorong untuk meningkatkan keahlian profesional pada tingkat yang lebih tinggi.

Keuntungan rekrutmen dengan menggunakan “Sistem Ijon” ini bagi industri adalah: (1) industri mendapatkan tenaga kerja terampil siap kerja, (2) tidak mengeluarkan biaya rekrutmen, (3) mengurangi biaya training, (4) mengurangi biaya perawatan mesin dan kecelakaan kerja akibat tenaga kerja yang terampil, (5) meningkatkan produktifitas perusahaan/ industri, meningkatkan gairah dan semangat kerja akibat komunikasi yang lancar (Sumber: BKK dan Wakasek Humas & Industri SMK Negeri 1 Singosari Malang, 2013).

Berdasarkan penjelasan dari Wakasek bidang hubungan masyarakat &industri dan Wakasek bidang Litbang SMK Negeri 1 Singosari Malang (2013) menunjukkan bahwa rekrutmen tenaga kerja di sekolah yang diselenggarakan oleh industri dengan “Sistem Ijon” memberi-kan keuntungan bagi siswa sebagai berikut: (1) siswa sudah mendapatkan pekerjaan sebelum tamat belajar, (2)

Lead-Timeuntuk mendapatkan pekerjaan tidak

terlalu lama walaupun mungkin belum berhasil rekrutmen lewat sekolah, karena adanya kepercayaan industri terhadap lulusan SMK, (3) memberikan kebanggaan kepada siswa terhadap almamaternya.

Bagi sekolah rekrutmen tenaga kerja dengan “Sistem Ijon” ini membe-rikan manfaat diantaranya adalah: (1) memberikan rasa bangga pada almamater

secara langsung oleh industri akibat kompetensi yang dimilikinya pada saat pelaksanaan praktik kerja industri, (2) meningkatkan harkat dan martabat serta popularitas almamater sehingga slogan “

SMK BISA” dapat terwujud, (3)

meningkatkan kepercayaan kepada masya-rakat khususnya orangtua/wali murid untuk senang memasukkan putra-putrinya sekolah di SMK, (4) meningkatkan kepercayaan kepada dunia usaha dan industri bahwa lulusan SMK benar-benar

memiliki kompetensi yang dapat

diandalkan untuk memasuki dunia kerja.

PENUTUP Kesimpulan

Kerjasama antara sekolah dan industri menjadi berperan sangat penting untuk meningkatkan mutu lulusan SMK. Untuk memperlancar pelaksanaan praktik kerja industri kerja sama antara sekolah dan dunia usaha/industri harus selalu dibina dan dikembangkan dengan baik. Rekrutmen dengan “Sistem Ijon” merupakan cara yang paling efektif dan efisien dalam rekrutmen tenaga kerja terampil siap kerja di industri.Rekrutmen tenaga kerja dengan “Sistem Ijon” sangat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, yaitu: sekolah, siswa dan industri.

Saran

Rekrurtmen tenaga kerja lulusan SMK dengan “Sistem Ijon” dapat terselenggara dengan baik jika sekolah mampu dan mau mengambil langkah-langkah sebagai berikut: (1) adanya kerja sama yang baik antara SMK dengan industri mitra, (2) adanya sinkronisasi

(14)

perusahaan/industri dan apa yang harus diajarkan di sekolah harus sesuai, (3) pelaksanaan prakerin harus dirancang

mulai dari: penempatan, pelaksanaan, pembimbingan dan penilaian.

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi. 1993. Organisasi

dan Administrasi Pendidikan

Tekno-logi dan Kejuruan. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Billett, Stephen. 2011. Vocational Education (Purposes, Trsditions and Prospects). Griffith

Univer-sity, QLD, Australia: Springer Bogdan, R.C & Biklen, S.C. 1982.

Qualitatif Research for Education an Introduction to Theory and Methods. Boston London Sydney

Toronto: Allyn and Bacon, Inc. Clarke, Linda and Winch, Christopher.

2007. Vocational Education

(Inter-national approaches,

developments and systems). New

York: Routledge

Finch, Curtis R. & John R. Crunkilton. 1989. Curriculum Development

for Vocational and Technical Educa-tion. Boston: Allyn and

Bacon.

Depdikbud. 1999. Memahami Kurikulum

Sekolah Menengah Kejuruan.

Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Dirjen Dikdas-men

Djojonegoro, W. 1997.Keterampilan

Menjelang 2020 untuk Era

Global. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud.1994. Konsep Sistem ganda

pada SMK di Indonesia. Jakarta:

Depdikbud Direktorat Dikmen-jur Dwinastiti, Diyah. 2013. Profil Bursa

Kerja Khusus SMK Negeri 1

Singosari Malang. Malang:

SMKN 3 Singosari.

Finch, C.R. dan Crunkilton, J.R. 1989.Curriculum Development in

Vocational and Technical

Educa-tion (3rd) ed.). Needman Heights, Massachusetts: Allyn and Bacon, Inc.

Handoko, T. H. 1987. Manajemen

Personalia dan Sumber Daya Manusia. Yogjakarta: BPFE

Hyslop, E.J & Marginson. An Assesment of The Historical Arguments in Vocational Education Reform.

Jurnal of Career and Technical Education. Published Fall/Spring.

Vol 21, Number 1. Fall 2004.

Kepmendikbud. No.0490/U/1992.

Sekolah Menengah Kejuruan.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Lincoln, Y.S., & Guba, H.G.L. 1985.

Naturalistic Inguiry. Beverly Hill,

CA: Sage publications, Inc.

Keputusan Direktur Jenderal Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Nomor: Kep-49/DPPTKDN/2003.

tentang: Petunjuk Teknis Bursa Kerja Khusus.

Mursanyoto, Heru. 2013. Petunjuk Teknis

Prakerin SMK Negeri 1 Sidoarjo.

Sidoarjo: SMKN 1 Sidoarjo. Miller, Melvin D. 1985. Principles and a

Philosophy for Vocational Educa-tion. Coloumbus: The Ohio State

University.

Miles, M.B., & Hubermen, A.M. 1992.

Qualitatif Data Analisis.London:

Sage Publication.

Pedoman Praktik Kerja Industri. 2013.

SMK Negeri 1 Singosari Malang.

Pedoman Praktik Kerja Industri. 2013.

SMK Negeri 3 Tulungagung.

Pedoman Praktik Kerja Industri. 2013.

SMK Negeri 1 Sidoarjo.

Priyowirjanto, G.H. 2001. Reposisi Pendi-dikan Kejuruan Menjelang

(15)

Dikdasmen Direktorat Dikmenjur. Rivai, Veithzal dan Sagala, Jauvani E. 2010. Manajemen Sumber Daya

Manusia untuk Perusahaan.

Jakarta: Rajagrafindo Persada Siagian, Sondang P. 2004. Manajemen

Sumber Daya Manusia. Jakarta:

Bumi Aksara.

Sidi, Indra J. 1999. Pedoman

Pelaksanaan Kurikulum Sekolah

Menengah Kejuraun.Jakarta:

Depdikbud.

Sukmadinata, N.S; Jami’at, A.N; dan Ahman. 2008. Pengendalian

Mutu Pendidikan Sekolah

Menengah. Bandung: Refika

Aditama.

Olim, Ayi. 2004. Kondisi Tenaga Kerja

dan Permasalahannya Di Indone-sia. Jakarta: Depdiknas Dirjen

Dikdasmen Direktorat Dikmenjur

Kependidikan (Problem, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia). Jakarta: PT Bumi

Aksara.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003, Tentang

Ketenagakerjaan.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 20 Tahun 2003 Tentang

Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984,

tentang: Perindustrian

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005, Tentang:

Standar Nasional Pendidikan

Yoto. 2003. Manajemen Perusahaan. Malang: UM Press.

Gambar

Tabel 1: Keterserapan Tamatan SMK Pada Dunia Usaha/Industri Program Keahlian Pemesinan

Referensi

Dokumen terkait

untuk menentukan apakah tindakan seseorang yang mengumumkan di jejaring media sosial dalam hal menyanyikan ulang lagu atau mengcover lagu dapat dikatakan

aegypti pada konsentrasi 0,02 ppm lebih kecil dari LC 95 maka dinyatakan sebagai rentan, namun apabila kematian lebih besar dariLC 95 maka dinyatakan resisten

Bertolak dari temuan hasil penelitian, memberi gambaran bahwa melalui penerapan model pembelajaran ITM pada mata pelajaran IPS di kelas IV SD, ternyata

Pengaruh dari ekstrak rosela dan ciplukan dilihat dengan menambahkan sampel sebanyak 1 ml ke dalam sel turbidimeter yang berisis larutan natrium klorida, kemudian

211 Perbedaan Onset Menopause antara Akseptor Pil Oral Kombinasi dengan Akseptor Non Hormonal Di Kecamatan Jebres Surakarta.. Differences of Onset Menopause between Combined

The result of this research shows that: (1) there are some conditions which should be met in order to implement WMG effectively in improving students’ vocabulary mastery

Lingkungan kerja dan kepuasan kerja karyawan sangat berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas, selain itu juga berpengaruh dalam hal penyelesaian pekerjaan yang menjadi

Pada soal nomor empat mengenai mengaitkan berbagai konsep matematika, terdapat miskonsepsi notasi yang telah peneliti duga sebelumnya, diantaranya mengabaikan tanda