A.
Judul
Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015
B.
Latar belakangDalam negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia, mengalami perubahan drastis di segala bidang kehidupan, baik langsung maupun tidak langsung, perubahan tersebut banyak disebabkan oleh teknologi yang berkembang cepat, sehingga realitas semacam ini ikut pula mewarnai kehidupan.
Proses perubahan yang bersifat kompleks, Universal dan kait mengkait itu akan membawa dampak yang positif dan negatif bagi kehidupan bangsa Indonesia. Dampak positif yang ditumbuhkan antara lain adanya perubahan dalam kehidupan masyarakat yang memang merupakan dambaan pembangunan, sedang akibat negatif yang dirasakan berkait erat dengan kondisi bangsa Indonesia yang belum siap sepenuhnya beradaptasi dengan modernisasi, sehingga muncullah berbagai problem kehidupan yang menuntut pemecahan yang serius.
terampil, cakap dan kreatif. Bahkan pendidikan aktifitas fundamental dalam kehidupan manusia yang memiliki keleluasan dan orentasi menyeluruh.
Guru adalah satu komponen manusia dalam proses mengajar yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumberdaya manusia yang potensial dibidang pembangunan oleh karena itu guru merupakan salah satu unsur di bidang pendidikan harus berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga potensial, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang. Dalam arti kusus dapat diartikan bahwa disetiap guru terletak tanggung jawab untuk para siswa pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu dalam rangka ini guru tidak semata-mata sebagai pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai pendidik dan pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntut siswa dalam mengajar.1
Peranan guru dalam proses belajar mengajar dirasakan sangatlah besar pengaruhnya terhadap perubahan tingkah laku anak didik. Untuk dapat mengubah tingkah laku anak didik sesuai dengan yang diharapkan maka diperlukan seorang guru yang profesional. Yaitu guru yang mampu menggunakan seluruh kemampuan pendidikan sehingga proses belajar mengajar tersebut berjalan dengan baik.
Dalam al-quran surat Al-An’am ayat 135 disebutkan pentingnya profesionalisme guru yang berbunyi:
Artinya: Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini.
Ayat ini menjelaskan bahwa profesionalisme guru sangatlah penting dalam proses belajar mengajar dan pencapaian tujuan pendidikan. Dalam
profesionalisme ini sangatlah penting dalam melaksanakan proses belajar mengajar seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perlu disadari bahwa tidak semua guru mampu melaksanakan tugas buat yang diembannya, dan tidak selamanya dapat memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat yang sedang berkembang. Bekal kemampuan profesional tidak lagi relevan dengan berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga tenaga guru harus berusaha secara kontinu untuk meningkatkan kemampuan dan pemahamannya sesuai dengan tugas yang diembannya.
Maka dengan adanya hal tersebut setiap tenaga guru harus peka terhadap ,kondisi sosial yang dinamis dengan motivasi internal yang tinggi untuk mendeteksi kelemahan ataupun kekurangan sekaligus meningkatkannya. Disamping itu mereka juga memerlukan bantuan atau dukungan dari kepala sekolah untuk menciptakan situasi dan kondisi yang baik sehingga guru dapat membawa siswa dalam mencapai prestasi yang lebih tinggi.
kesanggupan mereka secara maksimal dan menciptakan suasana hidup yang sehat, yang mendorong guru-guru, pegawai-pegawai, tata usaha, murid-murid dan orang tua murid untuk menyatukan kehendak, pikiran dan tindakan dalam kegiatan-kegiatan kerja sama yang efektif bagi tercapainya tujuan – tujuan sekolah.2
Berkaitan dengan kepala sekolah mempunyai peranan penting dalam memncetak seorang guru yang profesional. Guru juga sangat menentukan kemana arah dan sekaligus tujuan peserta didik. Adapun tugas kepala sekolah sebagai pemimpin dan sekaligus sebagai supervisor adalah berkewajiban membantu para guru di sekolah untuk mengembangkan profesinya dan sekaligus menolong guru agar mampu melihat persoalan yang dihadapinya baik dalam kelas maupun luar kelas. Dalam meningkatkan profesionalisme guru Kepala Sekolah harus memiliki berbagai macam bentuk strategi sehingga dapat tercapai arah dan tujuan sekolah sekaligus untuk meningkatkan mutu sekolah.
Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk mengangkat sebuah skripsi yang berjudul : “Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten
Blitar Tahun Ajaran 2014/2015 “. Dengan harapan penulis dapat mengetahui strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dan sekaligus kendala-kendala yang dihadapi Kepala Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015.
C.
Fokus PenelitianYang menjadi pokok permasalahan dalam perumusan ini adalah:
1. Bagaimana konsep Kepala Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015?
2. Bagaimana implementasi Kepala Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015? 3. Bagaimana evaluasi Kepala Sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015?
D.
Tujuan PenelitianAdapun tujuan penulis mengadakan penelitian di atas adalah:
1.
Untuk mengetahui konsep Kepala Sekolah dalam meningkatkanprofesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015
2.
untuk mengtahui implementasi Kepala Sekolah dalammeningkatkan profesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015.
3.
Untuk mengetahui evaluasi Kepala Sekolah dalam meningkatkanprofesionalisme guru dalam bidang akademik di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2014/2015.
Dalam melakukan penelitian kualitatif ini peneliti hanya akan membahas tentang Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran
2014/2015.
F.
Kegunaan PenelitianAdapun manfaat dari hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi : 1. Penulis untuk menambah pengalaman dan wawasan baru sebagai
wadah dan wahana untuk mengembangkan dan cakrawala berpikir kususnya dalam bidang pendidikan, sehingga dapat diharapkan apabila sudah terjun dilapangan.
2. Bagi Kepala Sekolah penelitian itu dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk menetapkan suatu kebajikan dalam rangka
meningkatkan profesionalisme guru yang sekaligus untuk mencapai hasil-hasil yang optimal dalam pelaksanaan program pendidikan dan
pengajaran.
3. Bagi guru dan sekolah yang bersangkutan dapat dijadikan umpan balik untuk menilai profesional yang di miliki guru dalam kegiatan belajar mengajar dan melaksanakan tugas penelitian. Di samping itu dapat
dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan profesional yang telah dimiliki guru-guru.
G.
Penegasan istilahSerangkaian kata-kata yang terdapat dalam judul skripsi ini secara umum sudah jelas, namun untuk menghindari dari kesalah fahaman dan penafsiran penulis menguraikan secara terperinci dari kata yang terdapat dalam judul yakni “Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar Tahun Ajaran
2014/2015”. Maka diperlukan definisi operasional dalam judul, sehingga mudah difahami dan dimengerti serta dapat diketahui maksud sebenarnya. 1. Penegasan konseptual
a. Setrategi Kepala Sekolah adalah siasat atau cara kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalime guru sehingga dengan meningkatkan profesi guru maka tujuan pendidikan akan tercapai.3
b. Profesional adalah kemampuan guru dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya dalam lapangan pendidikan yang diperoleh melalui
oendidikan dan pelatihan lembaga. 2. Penegasan operasional
Strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru. suatu usaha (untuk mencapai tujuan) yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah dalam meningkatkan potensi setiap guru untuk dapat melakukan suatu pekerjaan yang dilakukan secara efisien dan efektif dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam mencapai tujuan pendidikan
H.
Kajian pustaka 1. Kepala sekolahKepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi ,tujuan dan sasaran sekolahnya
melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan
bertahap. Oleh karena itu kepala Sekolah dituntut mempunyai kemampuan manejemen dan kepemimpinan yang memadai agar mampu mengambil inisiatif dan prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah.4
2. Profesionalisme guru
Kata “Profesional” berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian, seperti guru, dokter, hakim dan sebagainya. Dalam pengertian lain
Profesional adalah Pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.5 Pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain.6
3. guru
Guru adalah jabatan profesional yang memerlukan berbagai
keahlian khusus. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih bearti, mengembangkan
4 Dr.E.Mulyasa, M.Pd. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. 2005 hal. 32 5 Undang –undang Guru dan Dosen, Jakarta, Sinar Grafika, 2010, hal. 03
6 Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan
keterampilan-keterampilan pada siswa. Frofesionalisme guru terdapat dua istilah yang masing-masing mempunyai pengertian “ frofesional “ dan istilah Guru.7 Dengan demikian guru profesional adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap profesinal, yang mampu dan setia mengembangkan profesionalnya.8 menjadi guru profesional memegang teguh kode etik profesinya, ikut serta didalam
mengkomonikasikan usaha pengembangan profesi dan bekerja sama dengan profesi yang lain.
Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya.9
4. strategi Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru. Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, maka peran kepala sekolah harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu, kepala sekolah dapat dipandang sebagai manajer, sebagai pemimpin dan juga sebagai pendidik. Tetapi sebelum masing-masing peran tersebut diuraikan, ada 2 (dua) kata kunci yang dapat dipakai sebagai landasan untuk memahami lebih jauh peran kepala
sekolah. Kedua kata tersebut adalah “Kepala” dan “sekolah”. Kata “Kepala” dapat diartikan sebagai ketua atau pemimpin dalam suatu
7 Ibid. hal. 32
organisasi atau sebuah lembaga. Sedangkan “sekolah” adalah sebuah lembaga dimana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran.10
Dengan demikian secara sederhana, kepala madrasah dapat didefinisikan sebagai “ seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu madrasah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar”. Kata “memimpin” dari rumusan tersebut mengandung makna luas, yaitu : “ kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu sekolah sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan “. Dalam praktek organisasi, kata pemimpin mengandung konotasi: menggerakkan, mengarahkan,
membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan dan sebagainya.11
Sebagai pemimpin dalam menjalankan tugasnya perlu mengingat dan berpedoman kepada strategi-strategi pemimpin. Karena dengan memperhatikan strategi-strategi tersebut pemimpin dapat melakukan langkah yang tepat dalam rangka mengarahkan anak didiknya.
Bagaimanapun pendekatan yang tepat sangat diperlukan oleh seorang pemimpin agar apa yang disampaikan kepada anak didik dapat tersosialisasi kedalam setiap pribadi anak didik tersebut. Dengan tersosialisasikannya perintah, teguran, nasihat dan lain-lain, maka anak didik mempunyai keyakinan yang lebih baik. Adapun beberapa strategi pemimpin adalah meliputi :
a. Strategi memberi perintah
10 Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauaan Teoritis dan Permasalahannya,
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003, hal.42-47
b. Strategi menegur c. Strategi menghargai d. Strategi menerima saran e. Stratgi memelihara identitas
f. Strategi mengenalkan anggota baru dan g. Strategi menciptakan disiplin kelompok12
Semua strategi pemimpin diatas perlu memiliki sebagai sebuah skill pemimpin, agar seorang pemimpin mampu melakukan fungsi- fungsi kepemimpinan dengan baik. Pencapaian suatu kepemimpinan sangat tergantung penguasaan seorang pemimpin terhadap strategi ini. Untuk memperjelas tentang strategi-strategi kepemimpinan maka dapat dijelaskan sebagai berikut :13
1. Strategi memberi perintah
Fungsi pemimpin adalah memberikan pengarahan dan memberikan motivasi. Untuk memberikan pengarahan kepada pegawai, seorang pemimpin harus menguasai strategi-strategi memberikan perintah yang tepat. Dengan strategi memberi perintah tersebut, seorang pemimpin diharapkan dapat lebih efektif di dalam mempengaruhi dan mengarahkan pegawainya. Memberikan perintah merupakan salah satu fungsi seorang pemimpin yang harus dijalankan dalam mengendalikan perilaku bawahan terkait dengan tugas-tugasnya.
12 http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2178436-strategi-kepemimpinan-kepala-sekolah/
Memberikan perintah harus menggunakan strategi-strategi yang baik, agar perintah yang disampaikan dapat mencapai sasaran secara efektif. Strategi memberi perintah memberikan beberapa persyaratan antara lain, perintah tersebut harus: 1) reasonable, 2) clear, dan 3) complete. Artinya perintah-perintah yang disampaikan kepada bawahan haruslah sebuah perintah yang mempunyai alasan yang kuat, latar belakang yang kuat. Perintah yang disampaikan mempunyai argumentasi yang kuat, dan memiliki dasar logika yang baik, sehingga dengan demikian dapat mempengaruhi keyakinan pegawai atas arti pentingnya suatu perintah.14
Cara penyampaian perintah juga harus mempergunakan bahasa yang jelas, yang mudah dimengerti oleh bawahan dan tidak menimbulkan
interpretasi ganda. Bahasa yang jelas yang dimaksudkan di sini adalah bahasa yang dapat dipahami oleh bawahan, sehingga bawahan dapat menginterpretasikan perintah secara tepat seperti yang diinginkan pemimpin. Harapan pemimpin dalam menyampaikan perintah adalah agar bawahan bertindak sesuai denga apa yang diinginkan pemimpin secara efektif. Jika perintah tersebut memenuhi persyaratan maka akan dapat efektif juga respon yang diberikan oleh bawahan atas perintah tersebut.
2. Strategi menegur
Strategi memberikan teguran kepada pegawai juga harus memperhatikan pada beberapa prinsip menegur. Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah bahwa sebaiknya teguran bersifat langsung,
dilakukan secara tertutup dan teguran yang diberikan tersebut harus bersifat proporsional.
Teguran yang bersifat langsung maksudnya adalah teguran tersebut langsung pada orangnya, tidak melalui orang lain. Jika teguran tersebut disampaikan secara langsung, hal ini akan lebih mengenai sasaran dan lebih efektif, di samping itu tidak mengembangkan berita yang kurang baik kepada orang lain disekitarnya, sehingga orang lain menjadi tahu bahwa ada pegawai yang mendapat teguran pemimpin.15
3. Strategi menghargai
Strategi menghargai pegawai juga harus diperhatikan seorang pemimpin, mengingat bahwa dalam rangka memotivasi pegawai kadangkala seorang pemimpin harus memberikan penghargaan kepada pegawai tersebut. Orang akan senang jika dihargai, oleh karena itu untuk menumbuhkan semangat kerja pegawai pemimpin perlu memberikan penghargaan kepada pegawai. Penghargaan tersebut dapat bersifat materi dan non materi. Pemberian penghargaan berbeda strateginya dengan penyampaian teguran. Jika penyampaian teguran dilakukan secara tretutup, maka sebaliknya pemberian penghargaan dilakukan secara terbuka, di depan umum.16
Hal ini akan menimbulkan dua dampak positif, pertama adalah penerima penghargaan sendiri akan menimbulkan rasa bangga sehinnga dengan menerima penghargaan akan lebih termotivasi lagi meningkatkan prestasinya. Sedangkan bagi teman-teman dalam organisasi tersebut dengan melihat bahwa prestasi seseorang itu cukup
dihargai oleh pemimpin, maka juga ikut termotivasi untuk melakukan tugas sebaikbaiknya.
4. Strategi menerima saran
Strategi menerima saran juga harus diperhatikan. Adapun dalam menerima saran ini seorang pemimpin dapat melakukan secara langsung atau tidak langsung, seperti melalui kotak saran. Namun sebaiknya seorang pemimpin dalam menerima saran, tidak memberikan reaksi spontan. Saran biasanya bersifat sangat beragam,dan masing-masing dilatarbelakangi oleh maksud-maksud yang belum tentu dipahami seluruhnya oleh pemimpin tersebut. Saran yang bersifat sangat beragam tersebut sebaiknya diidentifikasikan terlebih dahulu, kemudian baru diolah dan disimpulkan. Pemimpin sendiri harus dapat memilah mana saran yang membengun lembaganya supaya saran-saran itu dapat bermanfaat untuk pemimpin dan lembaganya. 17
5. Strategi memelihara identitas
Strategi memelihara identitas merupakan sarana yang penting guna tetap menjaga solidaritas anggota kelompok. Sebelum memelihara identitas, seorang pemimpin perlu menciptakan identitas. Identitas yang dibuat sebaiknya merupakan identitas yang menjadikan kebanggaan bagi anggota. Dengan demikian komitmen anggota terhadap lembaga menjadi kuat. Identitas yang dimaksudkan adalah hal yang mencirikan suatu kelompok dan membedakan dengan kelompok lain, seperti atribut, nama, lambang, kostim, bendera, logo serta semboyan. Identitas ini fungsinya sebagai pemersatu kelompok. Orang yang berada di bawah naungan lembaga tertentu merasa punya
kebanggan atas lembaganya, dan akan menjunjung tinggi identitasnya.18
6. Strategi mengenalkan anggota baru
Strategi mengenalkan anggota baru merupakan cara bagaimana seorang pemimpin menyambut kehadiran anggota baru dengan upaya agar anggota baru tersebut mudah melakukan adaptasi, dan sekaligus segera mengenali kelompok yang baru dimasukinya. Pengenalan dilakukan dengan mempergunakan media sebagai berikut:
1. Rapat anggota.
2. Pertemuan non formal yang ada dalam organisasi. 3. Pertemuan rutin.
4. Upacara.19
7. Strategi menciptakan disiplin kelompok
Strategi menciptakan disiplin kelompok juga merupakan bagian penting. Dengan adanya system tertentu, peraturan dan sanksi maka bawahan akan dapat lebih diatur dan didisiplikan. Pemimpin dalam hal ini dituntut untuk dapt menciptakan peraturan, menerapkan peraturan secara baik, memberikan teladan kepada pegawai dalam mentaati peraturan serta menciptakan sanksi untuk menekan terjadinya penyimpanganpenyimpangan.20
I.
Metode Penelitian1. Pendekatan dan jenis penelitian
Dalam melakukan penelitian kita dapat menggunakan berbagai metode dan rancangan penelitian. Sehubungan dengan hal tersebut, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Taylor mendefinisikan metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghadirkan data deskriptif beberapa kata-kata tertulis atau lisan dari
orang atau pelaku yang diamati.21 Sedangkan untuk jenis penelitiannya menggunakan jenis penelitian deskriptif. Dimana jenis penelitian deskriptif ini bertujuan untuk mendeskripsikan atau menjelaskan kejadian yang terjadi pada saat sekarang. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan mengenai unit tertentu yang meliputi individu, kelompok, dan masyarakat.22
Sedangkan menurut Whitney dalam Moh.Nazir bahwa metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan, serta proses-proses yang sedang berlansung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.23
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Peran peneliti dalam penelitian ini peneliti sebagai pengamat partisipan atau pengamat penuh. Kehadiran peneliti juga diketahui oleh informan atau lembaga yang diteliti.24
Maka dari itu, dalam pelaksanaan penelitian kualitatif ini peneliti terlibat secara langsung di lapangan untuk mencari data, selain itu peneliti juga bertindak sebagai instrument dalam pengumpulan data. Oleh karena itu kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif sangat diperlukan.
21 Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2011,
hal.9-10.
22Ibid, hal.64
23Lexy J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991), hal.132.
Selain itu, pada waktu mengumpulkan data di lapangan, peneliti berperan serta pada situs penelitian dan mengikuti secara aktif, sehingga dibutuhkan peran peneliti dan kemampuan peneliti dalam menggali data-data dan informasi agar mudah dideskripsikan dan dipahami oleh para pembaca. Jadi, dalam hal ini peranan atau kehadiran peneliti di lapangan sangat penting dalam proses penelitian, karena untuk mengetahui secara mendalam terkait dengan objek penelitian yang sedang diteliti.
Peneliti terjun ke lapangan mempelajari suatu proses atau penemuan yang terjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan data tentang strategi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru di MTs Negeri Kunir Kecamatan Wonodadi Kabupaten Blitar, kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan berdasarkan dari proses tersebut . Melalui penelitian kualitatif diharapkan peneliti menggali data secara transparan dan menganalisis dengan apa adanya, baik yang menunjukkan peneguhan maupun pengingkaran sifat-sifat yang ada.
3. Lokasi Penelitian
MTs Negeri kunir bertempat di jalan ponpes al. Kamal Kunir, Wonodadi, Blitar disebelah barat kota Blitar (± 20 km dari pusat kota). sebuah lembaga pendidikan Islamberdiri Sejak 1969 merupakan Lembaga Pendidikan Tingkat MTs yang tertua dan terbesar dilingkungan Departemen Agama Kabupaten Blitar. Letaknya strategis, nyaman, berada dilingkungan pondok pesantren AL-KAMAL, dengan Nomor Pokok Sekoah Nasional (NPSN): 20581091 .
Jenis data yang di kumpulkan dari penelitian ini berupa dokumen tentang keadaan kepala sekolah dan beberapa guru di MTs Negeri Kunir, sarana dan prasarana madrasah dan program kerja madrasah.
Yang menjadi subyek penelitian ini adalah kepala sekolah dan beberapa guru di MTs Negeri Kunir, dan semua data dan informasi yang diperoleh dari para informan yang dianggap paling mengetahui secara rinci dan jelas
mengenai fokus penelitian. Adapun yang menjadi sasaran (informan) untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah:
1. Kepala Sekolah MTs Negeri Kunir. 2. Guru-guru MTs Negeri Kunir. 5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan metode-metode yang sesuai dengan data yang akan dicari. metode-metode tersebut adalah:
observasi, dokumenter, dan interview. Ketiga metode diatas satu sama dengan yang lain saling melengkapi. Adapun pengguna dari masing-masing metode tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tehnik Observasi
“ Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.”25
Menurut Denzin dalam Rochiati wawancara adalah pemberian pertanyaan yang diajukan secara verbal yang diajukan kepada orang yang dianggap mampu memberi informasi atau penjelasan, hal lain yang dipandang perlu.26
25 Ibid. hal. 165
26Prof. Rochiati Wiridiaatmaja, Metode penelitian Tindakan Kelas, (Bandung : PT Remaja Rosda
Teknik ini penulis gunakan untuk meneliti secara langsung maupun tidak langsung kenyataan-kenyataan yang terjadi pada obyek penelitian untuk memperoleh data tentang keadaan MTs Negeri Kunir baik jumlah murid ataupun keadaan yang lainnya.
b. Metode Interview
“Adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan juga.”27
Kalau menurut Suharsimi Arikunto, wawancara adalah: “ sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara ( interviewer ) untuk memperoleh informasi dari pewawancara.”28
Metode interview ini penulis gunakan untuk mencari informasi atau data yang berhubungan dengan Kepala Sekolah dan guru yang berkecimpung di MTs Negeri Kunir, sebab beliau-beliaulah yang ikut bertanggung jawab atas keberhasilan mutu pendidikan di MTs Negeri Kunir
c. Metode Dokumenter
“Adalah mencari data mengenai hal-hal yang valit atau fariabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, Notulen Rapat, legger, agenda dan sebagainya.”29
Dalam uraian tentang studi pendahuluan, telah disinggung pula bahwa sebagai objek yang diperhatikan (ditatap) dalam memperoleh
27 Ibid. hal. 165
informasi, kita memperhatikan 3 macam sumber yaitu: tulisan, (paper), tempat (place), dan orang (people). Dalam mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan inilah kita telah menggunakan metode dokumentasi.
Dokumentasi, dari asal katanya, yang artinya barang-barang tertulis.30 Didalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, rapor peserta didik, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan lain sebagainya. Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan, atau keberhasilan belajar peserta didik juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen tersebut. Sebagai informasi mengenai kegiatan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran bukan tidak mungkin saat-saat tertentu diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar.31
Dilingkungan sekolah, biasanya juga dijumpai dokumen-dokumen yang tersusun secara rapi dan teratur. Hal ini akan sangat membantu peneliti untuk berkomunitas dengan sekolah dalam rangka meningkatkan kelas dan sekolah. Data mengenai identitas peserta didik dan latar belakang sosial komunitas sekolah (pimpinan, guru, karayawa, peserta didik, dll.)
Penulis berusaha mencari data atau dokumen-dokumen yang ada kaitannya yang dengan data jumlah murid, data tentang guru, dan data lain yang relevan di MTs Negeri Kunir .
6. Analisa Data
Setelah penulis memperoleh data yang diperlukan, maka tahap berikutnya adalah analisa data. Analisa data ini tidak dilakukan secara serentak (bersama-sama) melainkan disesuaikan dengan perolehan data berdasarkan kenyataan
30 Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian..., hal. 201
31 Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008), hal.
obyektif, yaitu setiap data yang diperoleh langsung dianalisa. Tekhnik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekhnik diskriptif dengan membuat gambaran yang sistematis dengan faktual serta analisisnya dilakukan dengan tiga cara yaitu: (1) reduksi data atau penyederhanaan (data reduction); (2) paparan atau sajian data (data display); (3) penarikan kesimpulan.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk memperoleh hasil penelitian dan interpretasi yang diabsah maka diperlukan triangulasi yaitu memeriksakan kebenaran data yang telah diperoleh kepada pihak-pihak lain yang dapat dipercaya, memperpanjang kehadiran penelitian, menggunakan alat bantu seperti HP recorder, kamera dan lainya.
8. Tahap-tahap Penelitian
Dalam penelitian, penelitian melalui tahapan-tahapan yaitu:
a) Penelitian pendahuluan dengan menetapkan konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian.
b) Menentukan desain penelitian meliputi rancangan penelitian, pemilihan lokasi penelitian, menentukan sumber data, prosedur pengumpulan data, analisa data, pengecakan keabsahan data.
c) Melaksanakan penelitian. d) Membuat laporan penelitan
Yang dimaksud sistematika ini adalah uraian singkat mengenai permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini secara keseluruhan . Adapun sitematika pembahasan dalam skripsi ini adalah :
Bab.I : Merupakan pengantar dalam bentuk pendahuluan yang memuat kontek penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, definisi operasional, kajian pustaka, metode penelitian serta diakiri dengan sistematika penulisan.
Bab II : Kajian Pustaka pada bab ini menjelaskan tentang Kepala Sekolah, profesionalisme guru dan strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru dalam bidang akademik. Bahasan tentang Kepala Sekolah sub pokok bahasannya adalah Kepala Sekolah sebagai pemimpin pendidikan, tugas-tugas kepala sekolah, syarat-syarat menjadi Kepala Sekolah. Pada bahasan tentang profesionalisme guru sub pokok bahasannya adalah definisi profesionalisme guru, tugas dan kewenangan guru. Pada bab terakir menjelaskan tentang strategi Kepala Sekolah dalam meningkatkan
profesionalisme guru.
Bab III : Metodologi penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, dan metode pembahasan.
membantu pembaca laporan mengetahui sejauh mana hasil-hasil tersebut dapat diterpkan dalam praktek.
Bab V : Merupakan bagian penutup dari keseluruhan pembahasan-pembahasan yang terdiri dari kesimpulan dan saran-saran fungsinya adalah sebagai sumbangan informasi yang teruji kebenaran penelitian yang
dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian, Jakarta, Rineka Cipta 1997 E.Mulyasa. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. 2005
Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Rajawali Press, 2009
Moleong Lexy J, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosda Karya, 1991
Moleong,Lexy J Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosdakarya,2011
Nawawi Hadari, Administrasi Sekolah. Jakarta: Ghalia Indonesia.. 1990 NK Roestiyah, Masalah-masalah Ilmu Keguruan. PT Bina Aksara 1989 Purwanto Ngalim. Administrasi pendidikan. Jakarta: PT. Mutiara.. 1984 pantato Pius A. Dkk.Kamus Ilmiah populer. Surabaya: Penerbit Arkola, 1991 Sudijono Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008
Tanzeh Ahmad, Metodologi Penelitian Praktis, Yogyakarta: Teras, 2011
Undang –undang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2010
Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauaan Teoritis dan Permasalahannya, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003
http://id.shvoong