• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Pengaruh Tegangan Tidak Seimbang Terhadap Temperatur Motor Induksi Lima Phasa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisa Pengaruh Tegangan Tidak Seimbang Terhadap Temperatur Motor Induksi Lima Phasa"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Motor Induksi

Motor induksi merupakan motor arus bolak-balik (AC) yang paling

luas digunakan dan dapat dijumpai dalam setiap aplikasi industri maupun

rumah tangga. Penamaannya berasal dari kenyataan bahwa arus rotor

motor ini bukan diperoleh dari sumber tertentu, tetapi merupakan arus

yang terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran

rotor dengan medan putar (rotating magnetic field) yang dihasilkan arus

stator [7].

Motor ini memiliki konstruksi yang kuat, sederhana, handal, serta

berbiaya murah. Di samping itu motor ini juga memiliki effisiensi yang

tinggi saat berbeban penuh dan tidak membutuhkan perawatan yang

banyak. Akan tetapi jika dibandingkan dengan motor DC, motor induksi

masih memiliki kelemahan dalam hal pengaturan kecepatan. Dimana pada

motor induksi pengaturan kecepatan sangat sukar untuk dilakukan,

sementara pada motor DC hal yang sama tidak dijumpai.

2.2 Konstruksi Motor Induksi

Motor induksi pada dasarnya memiliki konstruksi stator yang sama

dengan motor sinkron, dan hanya terdapat perbedaan pada konstuksi

rotor. Stator dibentuk dari laminasi - laminasi tipis yang terbuat dari

(2)

untuk membentuk inti stator dengan slot seperti yang ditunjukkan gambar

dua satu. Kumparan ( coil) dari konduktor - konduktor yang terisolasi ini

kemudian disisipkan ke dalam slot – slot tersebut.

Motor induksi pada dasarnya mempunyai 3 bagian penting seperti yang

diperlihatkan pada gambar 2.1 sebagai berikut:

1. Stator : Merupakan bagian yang diam dan mempunyai kumparan yang

dapat menginduksikan medan elektromagnetik kepada kumparan

rotornya

2. Celah : Merupakan celah udara: Tempat berpindahnya energi dari

startor ke rotor

3. Rotor : Merupakan bagian yang bergerak akibat adanya induksi

magnet dari kumparan stator yang diinduksikan kepada kumparan

rotor.

(a) (b)

(3)

Konstruksi stator motor induksi pada dasarnya terdiri dari bagian-bagian

sebagai berikut:

• Rumah stator (rangka stator) dari besi tuang.

• Inti stator dari besi lunak atau baja silikon.

• Alur, bahannya sama dengan inti, dimana alur ini merupakan tempat

meletakkan belitan (kumparan stator).

• Belitan (kumparan) stator dari tembaga.

Rangka stator motor induksi ini didesain dengan baik dengan empat tujuan

yaitu:

1. Menutupi inti dan kumparannya

2. Melindungi bagian-bagian mesin yang bergerak dari kontak langsung

dengan manusia dan dari goresan yang disebabkan oleh gangguan

objek atau gangguan udara terbuka (cuaca luar)

3. Menyalurkan torsi ke bagian peralatan pendukung mesin dan oleh

karena itu stator didesain untuk tahan terhadap gaya putar dan

goncangan

4. Berguna sebagai sarana rumahan ventilasi udara sehingga pendinginan

lebih efektif

Berdasarkan bentuk konstruksi rotornya, maka motor induksi dapat dibagi

menjadi dua jenis seperti yang diperlihatkan pada gambar 2.1, yaitu:

1. Motor induksi dengan rotor sangkar (squirrel cage)

(4)

Konstruksi rotor motor induksi terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut:

(a) Inti rotor, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti

stator

(b) Alur, bahannya dari besi lunak atau baja silikon sama dengan inti. Alur

merupakan tempat meletakkan belitan (kumparan) rotor

(c) Belitan rotor, bahannya dari tembaga

(d) Poros atau as

Gambar 2.2 Gambaran Sederhana Bentuk Alur/ Slot Motor Induksi

Diantara stator dan rotor terdapat celah udara yang merupakan

ruangan antara stator dan rotor. Pada celah udara ini lewat fluks induksi

stator yang memotong kumparan rotor sehingga meyebabkan rotor

berputar. Celah udara yang terdapat antara stator dan rotor diatur

sedemikian rupa sehingga didapatkan hasil kerja motor yang optimum.

Bila celah udara antara stator dan rotor terlalu besar akan mengakibatkan

efisiensi motor induksi rendah, sebaliknya bila jarak antara celah terlalu

kecil/sempit akan menimbulkan kesukaran mekanis pada mesin. Bentuk

(5)

pada gambar 2.2 dan gambaran sederhana penempatan stator dan rotor

pada motor induksi diperlihatkan pada gambar 2.3.

Gambar 2.3 Gambaran Sederhana Motor Induksi dengan 1 Kumparan

Stator dan 1 Kumparan Rotor

Tanda silang (x) pada kumparan stator atau rotor pada gambar 2.3

menunjukkan arah arus yang melewati kumparan masuk ke dalam

kertas (tulisan ini) sedangkan tanda titik (.) menunjukkan bahwa arah

arus keluar dari kertas

Pada motor jenis rotor sangkar, konstruksi pada motor tiga phasa

dan lima phasa adalah hampir sama terutama pada rotornya. Hal paling

utama yang membedakan kedua motor ini adalah belitan konduktor

pada statornya, dimana belitan stator pada motor induksi lima phasa

(6)

2.3 Prinsip Kerja Motor Induksi

Ketika medan magnetik memotong konduktor rotor, di dalam

konduktor tersebut akan diinduksikan ggl yang sama seperti ggl yang

diinduksikan dalam lilitan sekunder transformator oleh fluksi primer.

Rangkaian rotor merupakan rangkaian tertutup, baik melalui cincin ujung

maupun tahanan luar. Ggl induksi menyebabkan arus mengalir di dalam

konduktor rotor. Sehingga dengan adanya aliran arus pada konduktor rotor

di dalam medan magnet yang dihasilkan stator, maka akan dibangkitkan

gaya ( F ) yang bekerja pada motor.

Untuk memperjelas prinsip kerja motor induksi lima phasa, maka

dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berikut:

1. Pada keadaan beban nol kelima phasa stator yang terhubung dengan

sumber tegangan lima phasa yang setimbang akan menghasilkan arus

pada tiap belitan phasa. arus pada tiap phasa menghasilkan fluksi

bolak – balik yang berubah -ubah.

2. Amplitudo fluksi yang dihasilkan berubah secara sinusoidal dan

arahnya tegak lurus terhadap belitan phasa.

3. Akibat fluksi yang berputar timbul ggl pada stator motor yang

besarnya :

a. � = −���

�� (2.1)

4. Resultan dari kelima fluksi bolak – balik tersebut menghasilkan medan

putar yang bergerak dengan kecepatan sinkron ns yang besarnya

ditentukan oleh jumlah kutub p dan frekuensi stator f yang

(7)

=120�

5. Fluksi yang berputar tersebut akan memotong batang konduktor pada

rotor. Akibatnya pada kumparan rotor timbul tegangan induksi sebesar

E2.

6. Karena kumparan rotor merupakan rangkaian tertutup, maka ggl

tersebut akan menghasilkan arus I2.

7. Adanya arus I2 di dalam medan magnet akan menimbulkan gaya

Lorentz (F) pada rotor. Gaya Lorentz yaitu bila suatu konduktor yang

dialiri arus berada dalam suatu kawasan medan magnet, maka

konduktor tersebut akan mendapat gaya elektromagnetik (gaya

lorentz) sebesar:

� =��� sin� (2.3)

Dimana:

F = gaya yang bekerja pada konduktor (Newton) B = kerapatan fluks magnetik (Wb/m2)

i = besar arus pada konduktor (A) l = panjang konduktor (m)

(8)

8. Bila kopel mula yang dihasilkan oleh gaya F cukup besar untuk

memikul kopel beban, rotor akan berputar searah dengan medan putar

stator.

9. Perputaran rotor akan semakin meningkat hingga mendekati kecepatan

sinkron. Perbedaan kecepatan medan putar stator (ns) dengan

kecepatanrotor (nr) disebut slip (s) dan dinyatakan dengan:

� =��−��

� � 100% (2.4)

10.Pada saat rotor dalam keadaan berputar, besarnya tegangan yang

terinduksi pada kumparan rotor akan bervariasi tergantung besarnya

slip.

11.Bila ns = nr, tegangan tidak akan terinduksi dan arus tidak akan

mengalir pada kumparan rotor, sehingga tidak akan dihasilkan kopel.

(9)

2.4 Motor Induksi Lima Phasa

Pada umumnya sumber tegangan yang digunakan untuk menyuplai

motor listrik baik di Indonesia maupun negara lain merupakan sumber

tegangan tiga phasa. Namun, motor induksi lima phasa membutuhkan

suplai yang berbeda, yakni sumber tegangan lima phasa. Akan tetapi,

sumber tegangan lima phasa belum banyak dijumpai hingga saat ini.

Motor induksi lima phasa memiliki desain dengan rumus formula.

Motor di suplai dari transformator yang mengubah suplai tiga phasa

menjadi lima phasa, seperti yang di tunjukkan pada gambar 2.4

Gambar 2.4 One line diagram suplai motor induksi lima phasa

Trafo terdiri dari 3 besi dalam menghubungkan belitan - belitan

primer ( 3 phasa) dengan belitan – belitan sekunder ( 5 phasa ). Setiap inti

menghubungkan 1 belitan primer dengan 3 belitan sekunder, kecuali 1 inti

(10)

Gambar 2.5 Susunan belitan wye – wye transformasi 5 phasa

Motor induksi lima phasa memiliki 30 slot, 4 pole dengan belitan

yang asimetris agar dapat bekerja dengan stabil, dapat dilihat belitan motor

(11)
(12)

Berikut ini adalah gambar dari fasor diagram tegangan phasa ke

phasa sistem lima phasa:

Gambar 2.7 Fasor diagram tegangan phasa ke phasa sistem lima phasa

Tegangan netral (VN) adalah pengukuran tegangan dari titik netral

menuju titik ujung tiap phasa, sedangkan tegangan phasa ke phasa (VLINE)

adalah pengukuran tegangan dari titik ujung phasa ke titik ujung phasa

yang lain. Untuk mencari VLINE , kita dapat menghitungnya dengan

menyederhanakan gambar 2.7 ke gambar dibawah ini :

(13)

Dari gambar 2.8 dapat diketahui besar nilai tegangan phasa ke

phasa dengan menggunakan rumus phytagoras (c2 = a2 + b2), sehingga

dapat kita cari:

VLINE = (Vnetral x cosθ)

VLINE = Vnetral x cos54o

Karena memiliki dua bangun segitiga siku-siku maka:

VLINE = (Vnetral x cos54o) x 2

VLINE = Vnetral x 0,587 x 2

VLINE = 1,175.Vnetral

Bila tegangan Vnetral sebesar 220 Volt, maka diperoleh

VLINE = 258,62 Volt

Maka dapat disimpulkan bahwa:

�−� =√1,38��−� (2.5)

atau

�−� = 1,175 ��−� (2.6)

2.5 Aliran Daya Pada Motor Induksi Lima Phasa

Daya listrik disuplai ke stator motor induksi diubah menjadi daya

mekanik pada poros motor. Berbagai rugi-rugi yang timbul selama proses

(14)

1. Rugi-rugi tetap (fixed losses), terdiri dari:

a. Rugi-rugi inti stator

b. Rugi-rugi gesek dan angin

2. Rugi-rugi variabel, terdiri dari:

a. Rugi-rugi tembaga stator (PSCL)

PSCL= 5I12R1 (2.7)

b. Rugi-rugi tembaga rotor (PRCL)

Apabila rugi–rugi tembaga dan rugi–rugi inti dikurangi dengan

daya input motor, maka akan diperoleh besarnya nilai daya celah udara

(PAG). Daya celah udara ini dapat juga disebut sebagai daya output stator

(POS) atau daya input rotor.

Daya pada celah udara (PAG) dapat dirumuskan dengan :

PAG= Pin - PSCL - PC (2.8)

Sementara itu, daya mekanik yang dibangkitkan pada motor

induksi merupakan selisih dari daya pada celah udara dikurangi dengan

rugi inti stator dan rugi gesek dan angin.

Rumus daya input pada motor induksi lima phasa tersebut antara lain:

P = 5 VPh IPh cosØ (2.9)

(15)

Motor Induksi Tiga Phasa Motor Induksi Lima phasa

Tabel 2.1 Perbandingan motor induksi lima phasa dengan tiga phasa

menurut besar daya

Hal ini menunjukkan bahwa daya yang mampu dihasilkan dari sistem

kelistrikan lima phasa lebih besar dari sistem kelistrikan tiga phasa. Maka

perbandingan Motor induksi lima phasa dibanding tiga phasa menurut

besar daya nya adalah : 4,255

1,73 = 2,46

Daya yang dihasilkan motor induksi lima phasa lebih besar 2,46 kali dari

(16)

2.6 Penentuan Parameter Motor Induksi

Data yang diperlukan untuk menghitung performansi dari suatu

motor induksi dapat diperoleh dari hasil pengujian tanpa beban, pengujian

rotor tertahan, dan pengukuran tahanan dc lilitan stator.

2.6.1 Pengujian Tanpa Beban ( No Load Test )

Pengujian tanpa beban pada motor induksi akan memberikan

keterangan berupa besarnya arus magnetisasi dan rugi - rugi tanpa beban.

Biasanya pengujian tersebut dilakukan pada frekuensi yang diizinkan dan

dengan tegangan lima phasa dalam keadaan setimbang yang diberikan

pada terminal stator. Pembacaan diambil pada tegangan yang diizinkan

setelah motor bekerja cukup lama, agar bagian - bagian yang bergerak

mengalami pelumasan sebagaimanamestinya. Rugi - rugi rotasional

keseluruhan pada frekuensi dan tegangan yang diizinkan pada waktu

dibebani biasanya dianggap konstan dan sama dengan rugi - rugi tanpa

beban.

Pada keadaan tanpa beban, besarnya arus rotor sangat kecil dan

hanya diperlukan untuk menghasilkan torsi yang cukup untuk mengatasi

gesekan. Karenanya rugi -rugi I2R tanpa beban cukup kecil dan dapat

diabaikan. Pada transformator rugi - rugi I2R primernya tanpa beban

dapat diabaikan, akan tetapi rugi - rugi stator tanpa beban motor induksi

besarnya cukup berarti karena arus magnetisasinya lebih besar. Besarnya

rugi - rugi rotasional PR pada keadaan kerja normal adalah :

(17)

Dimana :

Pnl = daya input lima phasa

Inl = arus tanpa beban tiap phasa ( A )

R1 = tahanan stator tiap phasa ( ohm )

Karena slip pada keadaaan tanpa beban sangat kecil, maka akan

mengakibatkan tahanan rotor R2/s sangat besar. Sehingga cabang paralel

rotor dan cabang magnetisasi menjadi jXM di shunt dengan suatu tahanan

yang sangat besar,dan besarnya reaktansi cabang paralel karenanya sangat

mendekati XM. Sehingga besar reaktansi yang tampak Xnl yang diukur

pada terminal stator pada keadaantanpa beban sangat mendekati X1 + XM,

yang merupakan reaktansi sendiri dari stator, sehingga :

Xnl = X1+ XM (2.12)

Maka besarnya reaktansi diri stator, dapat ditentukan dari

pambacaan alat ukur pada keadaan tanpa beban. Untuk mesin lima phasa

yang terhubung Y besarnya impedansi tanpa beban Znl/ phasa :

Znl = Vnl 4.25Inl

(2.13)

Di mana Vnl merupakan tegangan line, pada pengujian tanpa beban.

Besarnya tahanan pada pengujian tanpa beban Rnl adalah :

Rnl = Pnl

(18)

Pnl merupakan suplai daya lima phasa pada keadaan tanpa beban,

maka besar reaktansi tanpa beban

Xnl =�Z nl2 −R2 nl (2.15)

sewaktu pengujian beban nol.

2.6.2 Pengujian Tahanan Stator ( DC Test )

Untuk menentukan besarnya tahanan stator R1 dilakukan dengan

test DC. Pada dasarnya tegangan DC diberikan pada belitan stator motor

induksi.Karena arus yang disuplai adalah arus DC, maka tidak terdapat

tegangan yang diinduksikan pada rangkaian rotor sehingga tidak ada arus

yang mengalir pada rotor. Dalam keadaan demikian, reaktansi dari motor

juga bernilai nol, oleh karena itu, yang membatasi arus pada motor hanya

tahanan stator.

Untuk melakukan pengujian ini, arus pada belitan stator diatur

pada nilai rated, yang mana hal ini bertujuan untuk memanaskan belitan

stator pada temperatur yang sama selama operasi normal. Apabila tahanan

stator dihubung Y, maka besar tahanan stator/ phasa adalah :

= ���

2��� (2.16)

Bila stator dihubung delta, maka besar tahanan stator:

= 3���

2��� (2.17)

Dengan diketahuinya nilai dari Rs, rugi - rugi tembaga stator pada

(19)

sebagai selisih dari daya input pada beban nol dan rugi - rugi tembaga

stator. Gambar 2.9 menunjukkan salah satu bentuk pengujian DC pada

stator motor induksi yang terhubung Y.

Gambar 2.9 Rangkaian pengukuran untuk DC test

2.6.3 Pengujian Rotor Tertahan ( Block Rotor Test )

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan parameter - parameter

motor induksi, dan biasa juga disebut dengan locked rotor test. Pada

pengujian ini rotor dikunci/ ditahan sehingga tidak berputar.

Untuk melakukan pengujian ini, tegangan AC disuplai ke stator

dan arus yang mengalir diatur mendekati beban penuh. Ketika arus telah

menunjukkan nilai beban penuhnya, maka tegangan, arus, dan daya yang

mengalir ke motor diukur.

Saat pengujian ini berlangsung s = 1 dan tahanan rotor R2/s = R2.

Karena nilai R2 dan X2 begitu kecil, maka arus input akan seluruhnya

mengalir melalui tahanan dan reaktansi tersebut. Oleh karena itu, kondisi

sirkit pada saat ini terlihat seperti kombinasi seri X1, R1, X2, dan R2.

Sesudah tegangan dan frekuensi diatur, arus yang mengalir pada motor

diatur dengan cepat, sehingga tidak timbul kenaikan temperatur pada rotor

dengan cepat. Daya input yang diberikan kepada motor adalah :

(20)

Dimana :

VT = tegangan line pada saat pengujian berlangsung

IL = arus line pada saat pengujian berlangsung

��� = 4.25��

� (2.19)

Dimana :

ZBR = impedansi hubung singkat

��� =���+���� =���cos�+����sin� (2.20)

Tahanan block rotor :

�� = �1+�2 (2.21)

Sedangkan reaktansi block rotor X’BR = X1’ + X2’

X1’ + X2’ adalah reaktansi stator dan rotor pada frekuensi pengujian

�� = �2+�1 (2.22)

Nilai dari R1 ditentukan dari test DC. Karena reaktansi berbanding

langsung dengan frekuensi, maka reaktansi ekivalen total ( XBR ) pada saat

frekuensi operasi normal

Dalam sistem lima phasa yang seimbang, tegangan line to netral

memiliki magnitud yang sama dan tiap - tiap sudut phasanya berbeda 72

derajat satu sama lain. Apabila terdapat tegangan lima phasa yang

(21)

sehingga tidak berbeda 72 derajat satu sama lain, maka dikatakan sistem

tersebut memiliki tegangan tidak seimbang.

Penyebab tegangan tidak seimbang termasuk impedansi saluran

transmisi dan saluran distribusi yang tidak sama, distribusi beban - beban

satu phasa yang tidak merata dalam jumlah besar, dan lain - lain.

Menurut NEMA standard MG1. 1993 [6] dan IEEE defenisi

ketidakseimbangan itu adalah :

�������������������������������=���− ���

��� � 100 % (2.24)

Dimana :

VLL = tegangan line-line yang tertinggi

Vll = tegangan rata-rata dari tegangan line

Sesuai dengan rumusan yang telah diberikan, dapat dilihat bahwa

definisi tegangan tidak seimbang yang diberikan NEMA menghindari

pemakaian aljabar kompleks, sehingga kedua rumusan tersebut akan

memberikan hasil yang berbeda.

Tegangan tidak setimbang dalam persentase yang kecil akan

menghasilkan arus tidak seimbang dalam jumlah besar, yang mana hal ini

akan menimbulkan kenaikan temperatur pada motor. Jika tegangan yang

tidak setimbang menyuplai motor induksi, maka daya kuda nominal dari

motor harus dikalikan dengan suatu faktor seperti yang ditunjukkan

(22)

Gambar 2.10 Kurva penurunan rating motor induksi (NEMA)

Menurut kurva ini, motor induksi dirancang sedemikian rupa

sehingga mampu menangani ketidak setimbangan tegangan 1%, dan

selanjutnya akan menurun tergantung pada tingkat ketidaksetimbangan.

Operasi pada motor pada harga ketidaksetimbangan tegangan di atas 5%

tidak diizinkan.

2.8 Metode Pengukuran Temperatur

National Electrical Manufacturing Association (NEMA)

mendefinisikan temperature rise adalah kenaikan temperatur diatas

temperature ambient. Temperature ambient yaitu temperatur udara di sekeliling motor atau dapat dikatakan sebagai suhu ruangan. Penjumlahan

dari temperature rise dan temperature ambient adalah panas keseluruhan

panas pada motor. Kelas isolasi temperature pada motor induksi dijelaskan

(23)

Tabel 2.2 Kenaikan suhu untuk motor besar dengan factor servis 1.0

Faktor penyebab rusaknya isolasi winding adalah panas yang

berlebih pada motor. Panas berlebih yang berlangsung lama pada lilitan

akan menyebabkan stress pada lilitan dan isolasi kawat menjadi rapuh.

Jika dibiarkan terlalu lama akan menyebabkan isolasi pada lilitan akan

retak. Jika gejala ini disertai dengan munculnya partial discharge maka

proses penuaan isolasi akan semakin cepat. Berdasarkan penelitian NEMA

usia dari isolasi winding akan berkurang setengahnya setiap kenaikan

100C dari kondisi normal kerja motor. Akan tetapi jika motor harus

beroperasi 400C di atas temperature normal maka umur isolasinya

menjadi 1/16 dari umur normal yang diperkirakan. Oleh sebab itu motor-

motor listrik yang digunakan pada dunia industri menggunakan alat

proteksi untuk mengatasi panas lebih pada motor seperti thermal overload

relay. Sehingga apabila terjadi overheating pada motor relai akan segera bekerja sehinngga dapat meminimalkan kerusakan pada isolasi motor.

Berikut ini adalah metode dalam menentukan temperatur motor

(24)

a. Menggunakan thermometer infrared

Metode ini adalah penentuan suhu dengan sensor suhu, atau

dengan thermometer infrared, dengan metode ini instrumen diterapkan

pada bagian terpanas dari mesin yang dapat diakses .

b. Mengunakan Embedded Detector

Metode ini adalah penentuan suhu dengan thermometer

infrared atau resistensi detektor suhu yang diletakkan ke dalam mesin sesuai dengan ANSI C50.10-1977 atau NEMA MG1-1978.

c. Mengukur Tahanan Lilitan motor

Penentuan temperatur dengan metode ini yaitu dengan

membandingkan tahanan lilitan motor pada temperatur yang ingin

ditentukan dengan tahanan yang sudah diketahui temperaturnya.

Temperatur tahanan yang ingin ditentukan dapat dihitung dengan

persamaaan :

�� =�����− ��

� �(�� + �) (2.25)

Dimana : Tt : Temperatur total lilitan (oC)

Tb : Temperatur pada saat motor dingin (oC)

Rt : Tahanan pada saat motor panas (ohm)

Rb : Tahanan pada saat motor dingin (ohm)

K : 234.5 ( konstanta untuk bahan tembaga ) (oC)

Gambar

Gambar 2.2 Gambaran Sederhana Bentuk Alur/ Slot Motor Induksi
Gambar 2.3 Gambaran Sederhana Motor Induksi dengan 1 Kumparan
Gambar 2.4 One line diagram suplai motor induksi lima phasa
Gambar 2.5 Susunan belitan wye – wye transformasi 5 phasa
+7

Referensi

Dokumen terkait

Gambar 4.1 Grafik suhu vs menit untuk motor induksi tiga phasa suplai tegangan seimbang pengukuran suhu menggunakan thermometer infrared 39. Gambar 4.2 Grafik suhu vs menit

Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian baik berupa analisis maupun penelitian di labratorium untuk melihat bagaimana ketidakseimbangan tegangan mempengaruhi kenaikan

Penyebab dari ketidakseimbangan tegangan lima phasa ini dapat disebabkan oleh gangguan-gangguan pada sistem tenaga, distribusi beban satu phasa yang tidak merata pada sistem

Bagaimana keadaan torsi motor induksi lima phasa pada saat keadaan.. tegangan

Saat generator sinkron bekerja pada beban nol tidak ada arus yang mengalir melalui kumparan jangkar (stator), sehingga yang ada pada celah udara hanya fluksi arus medan

Ketika rotor motor induksi tiga phase terkunci, arus yang mengalir dalam motor dapat melebihi limakali arus beban penuh, sehingga panas yang dibuang tidak

Ketika rotor motor induksi tiga phase terkunci, arus yang mengalir dalam motor dapat melebihi limakali arus beban penuh, sehingga panas yang dibuang tidak

Permasalahan yang terjadi akibat gangguan-gangguan pada motor induksi tiga fasa ketika tegangan antar fasa tidak seimbang unbalance voltage pada motor induksi akan timbul panas dan