• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pelayanan Publik Pada Perusahaan Daerah Angkutan Kota Binjai (PD. Angkutan Kota Binjai) Ditinjau dari Hukum Administrasi Negara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosedur Pelayanan Publik Pada Perusahaan Daerah Angkutan Kota Binjai (PD. Angkutan Kota Binjai) Ditinjau dari Hukum Administrasi Negara"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN UMUM PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA

A. Landasan Hukum Pelayanan Publik Di Indonesia

Pelayanan Publik terdiri dari 2 (dua) suku kata yaitu pelayanan dan publik. Kata pelayanan berasal dari kata dasar “layani” yang berarti menolong,

menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain untuk perbuatan

melayani. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan bahkan secara

ekstern dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan

kehidupan manusia. Sementara itu, istilah publik berasal dari Bahasa Inggris “public” yang berarti umum, masyarakat, negara.

Hakikat pelayanan publik adalah memberikan pelayanan yang efektif dan

efisien serta semaksimal mungkin kepada masyarakat sebagai implementasi

kewajiaban pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik. Membangun

kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara

pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan

harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan

pelayanan publik. Sebagai upaya untuk mempertegas hak dan kewajiban setiap

warga negara dan penduduk serta terwujudnya tanggung jawab negara dan

korporasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik, diperlukan norma hukum

yang memberi pengaturan secara jelas. Untuk meningkatkan kualitas dan

menjamin penyediaan pelayanan publik sesuai dengan asas-asas umum

pemerintahan dan korporasi yang baik serta untuk memberi perlindungan bagi

(2)

27 penyelenggaran pelayanan publik, perlu dibentuk peraturan tentang pelayanan

publik.

Pelayanan publik di Indonesia dan seluruh daerah provinsi serta

kabupaten/kota telah memperoleh landasan konstitusional, yaitu diatur dalam

pasal 18A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.10

Menurut Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik Sudrajat perubahan pasal 18

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang merupakan

hasil perubahan (amandemen) kedua yang disahkan pada tanggal 18 Agustus

tahun 2000 dimaksudkan untuk memperjelas pembagian daerah NKRI yang

meliputi daerah provinsi, dan dalam daerah provinsi terdapat daerah kabupaten

dan kota. Selanjutnya makna substansial dari perubahan ketentuan pasal tersebut

juga dimaksudkan agar terciptanya kepastian hukum dalam penyelenggaraan

pelayanan publik, baik dari pemerintah selaku penyelenggara maupun terhadap

masyarakat sebagai steak holder pelayanan publik.11

Bahwa rumusan ketentuan pasal 18A, khususnya pada ayat (2)

menunjukkan bahwa secara konstitusional pelayanan umum merupakan hak setiap

orang sebagai anggota masyarakat, dan karenanya pengaturannya di dalam

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka hak tersebut

merupakan hak yang dapat digolongkan kedalam jenis hak asasi. Dalam

hubungannya dengan pelayanan publik, sebagai realisasi keinginan ketentuan

10Pasal 18A UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 : (1) Hubungan wewenang antara

pemerintah pusat dan pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota atau antara provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah. (2) Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.

11 Juniarso Ridwan & Achmad Sodik Sudrajat, Hukum Administrasi Negara Dan Kebijakan

(3)

pasal 18A ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

tersebut, maka pada tahun 2009 telah dibentuk Undang-undang Nomor 25 Tahun

2009 tentang Pelayanan Publik yang telah ditulis dalam lembaran negara republik

Indonesia nomor 112 tahun 2009. Pemerintah menetapkan Undang-undang

pelayanan publik tersebut untuk memberikan kepastian hukum dalam hubungan

antara masyarakat dan penyelenggara pelayanan publik serta mempertegas

pemenuhan pelayanan publik bgi warga negara. Pengaturan pelayanan publik

yang diselenggarakan berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik, secara normatif didasarkan pada amanat dan sekaligus

merealisasikan jiwa pasal 18A Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia

Tahun 1945. Adanya pengaturan hukum pelayanan publik menghendaki bahwa

apapun peraturan yang berkenaan dengan pelayanan publik seharusnya bertujuan

untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat sebagai subjek penerima layanan.

Selanjutnya apabila aturan-aturan tersebut benar-benar diaplikasikan secara baik

dan benar diyakini akan menjadikan suatu penyelenggaraan pemerintahan daerah

(otonomi) lebih efisien dan efektif dalam memberikan pelayanan kepada publik,

meskipun pada saat yang sama harus didukung oleh kemampuan pemerintah

(daerah).

Dalam penjelasan umum Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik disebutkan bahwa :

Kondisi dan perubahan cepat yang diikuti pergeseran nilai tersebut perlu

disikapi secara bijak melalui langkah kegiatan yang terus-menerus dan

berkesinambungan dalam berbagai aspek pembangunan untuk membangun

(4)

29 persepsi, dan acuan perilaku yang mampu mewujudkan hak asasi manusia

sebagaimana diamanatkan Undang-undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945 yang dapat diterapkan sehingga masyarakat

memperoleh pelayanan sesuai dengan harapan dan cita-cita tujuan

nasional.12

Pelayanan publik yang dilakukan oleh pemerintahan atau koporasi yang

efektif dapat memperkuat demokrasi dan hak asasi manusia, mempromosikan

kemakmuran ekonomi, kohesi sosial, mengurangi kemiskinan, meningkatkan

perlindungan lingkungan, bijak dalam pemanfaatan sumber daya alam,

memperdalam kepercayaan pada pemerintahan dan administrasi publik.

Sebelum dibentuknya Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik, sebenarnya telah dikeluarkan peraturan mengenai pelayanan

publik yaitu melalui Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Lahirnya Keputusan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman

Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik ini dilatarbelakangi oleh Ketetapan

MPR-RI Nomor XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan

bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang mengamanatkan agar

aparatur negara mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara professional,

produktif, transparan, dan bebas dari KKN. Keputusan Menteri Pendayagunaan

Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman

Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik menjadi acuan bagi penyelenggara

pelayanan publik dalam pengaturan dan pelaksanaan kegiatan pelayanan publik

(5)

untuk mendorong terwujudnya penyelenggara pelayanan publik yang prima dalam

arti memenuhi harapan dan kebutuhan baik bagi pemberi layanan maupun

penerima layanan. Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2003 tentang Pedoman Umum

Penyelenggaraan Pelayanan Publik tersebut dinyatakan bahwa hakikat pelayanan

adalah pemberian pelayanan prima kepada masyarakat yang merupakan

perwujudan kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi masyarakat. Keputusan

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor 63 Tahun

2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik juga turut

mengatur tentang asas-asas pelayanan publik, kelompok pelayanan publik, prinsip

pelayanan publik, standar pelayanan publik, dan pola penyelenggaraan pelayanan

publik.

B. Asas dan Tujuan Pelayanan Publik Di Indonesia

Asas (prinsip) merupakan suatu pernyataan fundamental atau kebenaran

umum yang dapat dijadikan pedoman pemikiran dan tindakan. Asas dalam hukum

menurut Bellefroid merupakan norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif

dan yang oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih

umum.

Peraturan perundang-undangan Indonesia telah memberikan landasan

untuk penyelenggaraan pelayanan publik yang berdasarkan atas asas-asas umum

pemerintahan yang baik. Asas-asas umum pemerintahan yang baik dapat

dipahami sebagai asas-asas umum yang dijadikan dasar dan tata cara dalam

(6)

31 penyelenggaraan pemerintahan menjadi baik, sopan, adil, dan terhormat, bebas

dari kezaliman, pelanggaran peraturan tindakan penyalahgunaan wewenang dan

tindakan sewenang-wenang.13 Didalam Undang-undang nomor 28 tahun 1999

tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi dan

nepotisme (KKN), pasal 1 angka 6 menyebutkan bahwa asas umum pemerintahan

negara yang baik adalah asas yang menjunjung tinggi norma kesusilaan,

kepatutan, dan norma hukum untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang

bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selanjutnya dalam

undang-undang yang sama pasal 3 menyebutkan bahwa asas-asas umum penyelenggaraan

negara meliputi :

1. Asas kepastian hukum, yaitu asas dalam negara hukum yang

mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan,

dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara;

2. Asas tertib penyelenggaraan negara, yaitu asas yang menjadi landasan

keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian

penyelenggara negara.

3. Asas kepentingan umum, yaitu asas yang mendahulukan kesejahteraan

umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

4. Asas keterbukaan, yaitu asas yang membuka diri terhadap hak

masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur, dan tidak

diskriminatif tentang penyelenggaraan negara dengan tetap

memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan

rahasia negara.

(7)

5. Asas proporsionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keseimbangan

antara hak dan kewajiban penyelenggara negara.

6. Asas profesionalitas, yaitu asas yang mengutamakan keahlian yang

berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan

yang berlaku.

7. Asas akuntabilitas, yaitu asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan

dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai

pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selanjutnya dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 58 dinyatakan : “Penyelenggara Pemerintahan

Daerah, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57, dalam menyelenggarakan

Pemerintahan Daerah berpedoman pada asas penyelenggaraan pemerintahan

negara yang terdiri atas :

1. Asas kepastian hukum;

2. Asas tertib penyelenggara negara;

3. Asas kepentingan umum;

4. Asas keterbukaan;

5. Asas proporsionalitas;

6. Asas profesionalitas;

7. Asas akuntabilitas;

8. Asas efisiensi;

(8)

33

10.Asas Keadilan

Dengan memperhatikan asas-asas yang tersebut diatas maka pemerintah

sebagai penyelenggara pelayanan publik dapat mengetahui hal-hal apa saja yang

harus diperhatikan dan dilaksanakan demi terciptanya kualitas pelayanan publik

yang baik agar terwujudnya kesejahteraan dalam kehidupan masyarakat.

Selain memperhatikan asas-asas umum pemerintahan yang baik dalam

pemberian pelayanan, dalam pelayanan publik sendiri juga terdapat asas-asas

yang harus dijalankan dan dijadikan acuan dalam memberikan suatu pelayanan.

Sesuai dengan pasal 4 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

Publik, asas-asas dalam penyelenggaraan pelayanan publik disebutkan sebagai

berikut :

a. Asas Kepentingan Umum

Maksudnya adalah bahwa pemberian pelayanan yang dilakukan haruslah

mengenyampingkan kepentingan pribadi dan/atau golongan dan

mengutamakan kepentingan masyarakat secara umum.

b. Asas Kepastian Hukum

Maksudnya adalah bahwa pemberian pelayanan tersebut harus menjamin

terwujudnya hak dan kewajiban dalam penyelenggaraan pelayanan.

c. Asas Kesamaan Hak

Maksudnya adalah setiap orang memiliki kesamaan hak sebagai warga

masyarakat, sehingga dalam pemberian pelayanan penyelenggara

pelayanan publik tidak boleh membedakan suku, ras, agama, golongan,

(9)

d. Asas Keseimbangan Hak dan Kewajiban

Maksudnya adalah pemenuhan hak seorang sebagai warga masyarakat

harus sebanding dengan kewajiban yang harus dilaksanakan baik oleh

pemberi layanan maupun penerima layanan.

e. Asas Keprofesionalan

Maksudnya adalah bahwa pelaksana pelayanan harus memiliki kompetensi

yang sesuai dengan bidang tugas yang diembannya.

f. Asas Partisipatif

Maksudnya adalah peningkatan peran serta masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan,

dan harapan masyarakat.

g. Asas Persamaan Perlakuan/Tidak Diskriminatif

Maksudnya adalah setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan

yang adil.

h. Asas Keterbukaan

Maksudnya adalah setiap penerima pelayanan dapat dengan mudah

mengakses dan memperoleh informasi mengenai pelayanan yang

diinginkan.

i. Asas Akuntabilitas

Maksudnya adalah proses penyelenggaraan pelayanan harus dapat

dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan peraturan

(10)

35

j. Asas Fasilitas dan Perlakuan Khusus Bagi Kelompok Rentan

Maksudnya adalah pelayanan publik itu harus memberikan kemudahan

terhadap kelompok rentan sehingga tercipta keadilan dalam pelayanan.

Kamus Besar Bahasa Indonesia merumuskan pengertian rentan sebagai :

(1) mudah terkena penyakit dan (2) peka, mudah merasa. Kelompok rentan

juga diartikan sebagai kelompok yang mudah dipengaruhi. Kelompok

rentan yang dimaksud antara lain sebagai berikut :

1. Anak-anak;

Maksudnya adalah penyelesaian setiap jenis pelayanan haruslah dilakukan

tepat waktu sesuai dengan standar pelayanan.

l. Asas Kecepatan, Kemudahan, dan Keterjangkauan

Maksudnya adalah setiap jenis pelayanan harus dilakukan secara cepat,

mudah dan terjangkau.

Dalam proses kegiatan pelayanan diatur juga mengenai prinsip pelayanan

sebagai dasar pegangan dalam mendukung jalannya kegiatan. Adapun prinsip

pelayanan publik tersebut menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur

Negara Nomor 63 Tahun 2003 adalah sebagai berikut :

(11)

a. Kesederhanaan

Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan

mudah dilaksanakan.

b. Kejelasan

Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik, unit kerja atau

pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab dalam memberikan

pelayanan dan penyelesaian keluhan atau persoalan dan sengketa

dalam pelaksanaan pelayanan publik; rincian biaya pelayanan publik

dan tata cara pembayaran.

c. Kepastian Waktu

Pelaksanaan pelayanan publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu

yang telah ditentukan.

d. Akurasi

Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat, dan sah.

e. Keamanan

Proses dan produk pelayanan publik memberikan rasa aman dan

kepastian hukum.

f. Tanggung Jawab

Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuj

bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian

(12)

37

g. Kelengkapan Sarana dan Prasarana

Tersedianya sarana dan prasarana kerja dan pendukung lainnya yang

memadai termasuk penyediaan sarana teknologi, telekomunikasi dan

informatika.

h. Kemudahan Akses

Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah

dijangkau oleh masyarakat, dan dapat memanfaatkan teknologi,

telekomunikasi dan informatika.

i. Kedisiplinan, Kesopanan, dan Keramahan.

Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah,

sert memberikan pelayanan dengan ikhlas.

j. Kenyamanan

Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu

yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta

dilengkapi dengan fasilitas pendukung pelayanan seperti parker, toilet,

tempat ibadah, dan lain-lain.

Setiap kegiatan dan kehendak yang dilakukan pastilah memiliki suatu

tujuan tertentu. Secara teoritis, tujuan dari pelayanan publik pada dasarnya adalah

memuaskan masyarakat. Untuk mencapai kepuasan itu dituntut kualitas pelayanan

publik yang profesional. Menurut Juniarso Ridwan dan Achmad Sodik, tujuan

dari pelayanan publik adalah menyediakan barang dan jasa yang terbaik bagi

masyarakat. Barang dan jasa yang terbaik adalah yang memenuhi apa yang

(13)

pelayanan publik yang terbaik adalah yang memberikan kepuasan terhadap

publik, kalau perlu melebihi harapan publik.15

Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

sebenarnya dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum bagi pihak

penyelenggara pelayanan publik maupun masyarakat, aparatur penyelenggara

merasa memiliki kewajiban hukum untuk memberikan pelayanan kepada

masyarakat, sedangkan masyarakat merasa apa yang harus dilakukan oleh

aparatur negara tersebut merupakan hak dari masyarakat.16

Mengenai keinginan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik, Selanjutnya tercermin dalam Pasal 3 Undang-undang Nomor

25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang menyatakan bahwa pelayanan

publik bertujuan untuk :

1. Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung

jawab, kewajiban, dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan

penyelenggaraan pelayanan publik.

2. Terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak

sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan dan korporasi yang baik.

3. Terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan

peraturan perundang-undangan, dan.

4. Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam

penyelenggaraan pelayanan publik.

15Ibid, Hlm. 18-19.

(14)

39 Berdasarkan ketentuan pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan

publik merupakan kewajiban pemerintah untuk dilaksanakan sebaik-baiknya, baik

dalam hal pelayanan administrasi, maupun pelyanan atas barang dan jasa. Oleh

karena itu sesungguhnya tidak cukup alasan untuk tidak memberikan pelayanan

yang baik kepada masyarakat, sebab hal tersebut telah memperoleh landasan

hukum yang kuat bagi masyarakat untuk mendapatkan haknya dan kewajiban bagi

aparat penyelenggara negara untuk memberikan pelayanan terbaik.

Untuk mewujudkan segala tujuan dari pelayanan publik sesuai dengan

yang dimaksud dalam pasal 3 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik tersebut maka perlu memperhatikan hal-hal seperti asas-asas

penting dalam penyelenggaraan pelayanan publik, prinsip-prinsip pelayanan, serta

standar penyelenggaraan pelayanan.

Demi terciptanya suatu pelayanan publik yang baik, maka

penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan

dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.

Standar pelayanan adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman

penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai

kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan

yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.17 Standar pelayanan

merupakan ukuran yang harus dimiliki dalam penyelenggaraan pelayanan publik

yang wajib ditaati oleh pemberi dan penerima layanan. Standar pelayanan publik

tersebut sekurang-kurangnya meliputi :

a. Prosedur Pelayanan

(15)

Prosedur pelayanan merupakan salah satu dari standar pelayanan

publik. Prosedur pelayanan harus dibakukan bagi pemberi dan

penerima pelayanan publik, termasuk pengaduan sehingga tidak terjadi

permasalahan dikemudian hari. Prosedur pelayanan harus ditetapkan

melalui standar pelayanan minimal, sehingga pihak penerima layanan

dapat memahami mekanismenya.

b. Waktu Penyelesaian

Waktu penyelesaian merupakan salah satu dari standar pelayanan

publik. Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan

permohonan sampai dengan penyelesaian pelayanan termasuk

pengaduan. Semakin cepat waktu pelayanan, maka akan semakin

meningkatkan kepercayaan masyarakat akan pelayanan yang

diberikan.

c. Produk Pelayanan

Hasil pelayanan akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah

ditetapkan. Produk pelayanan harus dipahami secara baik, sehingga

memang membutuhkan sosialisasi kepada masyarakat.

d. Biaya Pelayanan

Biaya pelayanan termasuk rinciannya harus ditentukan secara

konsisten dan tidak boleh ada diskriminasi, sebab akan menimbulkan

rasa ketidakpercayan penerima layanan kepada pemberi pelayanan.

Biaya pelayanan ini harus jelas pada setiap jasa pelayanan yang akan

(16)

41 kecemasan, khususnya kepada pihak atau masyarakat yang kurang

mampu.

e. Sarana dan Prasarana

Penyediaan sarana dan prasarana pelayanan publik yang memadai oleh

penyelenggara pelayanan publik sangat menentukan dan menunjang

keberhasilan pelayanan.

f. Kompetensi Petugas Pemberi Layanan

Kompetensi petugas pemberi layanan harus ditetapkan dengan tepat

berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku

yang dibutuhkan agar pelayanan yang diberikan bermutu.

Asas, prinsip, dan standar pelayanan tersebut diatas merupakan pedoman

dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh instansi pemerintah dan juga

berfungsi sebagai indikator dalam penilaian serta evaluasi kinerja bagi

penyelenggara pelayanan publik demi terciptanya tujuan pelayanan publik yang

diamanatkan pasal 3 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan

Publik.. Dengan adanya standar pelayanan dalam kegaiatan pelayanan publik ini

diharapkan masyarakat bisa mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan

kebutuhan masyarakat dan prosesnya memuaskan dan tidak menyulitkan

masyarakat.

Dalam melakukan suatu perbuatan, maka hakikatnya setiap tindakan atau

perbuatan yang dilakukan tersebut akan melahirkan hak dan kewajiban.

(17)

Hak adalah segala sesuatu yang harus didapatkan oleh setiap orang yang

telah ada sejak dalam kandungan hinga meninggal dunia. Dalam hukum

pelayanan publik diatur mengenai hak-hak yang dimiliki oleh penyelenggara

pelayanan, pelaksana pelayanan, dan penerima pelayanan publik.

Penyelenggara pelayanan publik memiliki hak-hak seperti yang diatur

dalam pasal 14 undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,

yaitu :

a. Memberikan pelayanan tanpa dihambat pihak lain yang bukan

tugasnya;

b. Melakukan kerja sama;

c. Mempunyai anggaran pembiayaan penyelenggaraan pelayanan

publik;

d. Melakukan pembelaan terhadap pengaduan dan tuntutan yang tiak

sesuai dengan kenyataan dalam penyelenggaraan pelayanan publik;

dan

e. Menolak permintaan pelayanan yang bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan.

Masyarakat sebagai penerima pelayanan publik dari pemerintah menurut

pasal 18 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik berhak

untuk :

a. Mengetahui kebenaran isi standar pelayanan;

b. Mengawasi pelaksanaan standar pelayanan;

(18)

43

d. Mendapat advokasi, perlinungan, dan/atau pemenuhan layanan;

e. Memberitahukan kepada pimpinan penyelenggara untuk

memperbaiki pelayanan apabila pelayanan yang diberikan tidak

sesuai dengan standar pelayanan;

f. Memberitahukan kepada pelaksana untuk memperbaiki pelayanan

apabila pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan standar

pelayanan;

g. Mengadukan pelaksana yang melakukan penyimpangan standar

pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada

penyelenggara pelayanan dan ombudsman;

h. Mengadukan penyelenggara yang melakukan penyimpangan standar

pelayanan dan/atau tidak memperbaiki pelayanan kepada pembina

pelayanan dan ombudsman; dan

i. Mendapat pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas dan tujuan

dari pemberian pelayanan.

2. Kewajiban

Kewajiban adalah sesuatu yang harus dilakukan dengan penuh rasa

tanggung jawab.

Dalam Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

diatur mengenai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh penyelenggara

pelayanan, yaitu terdapat dalam pasal 15. Penyelenggara berkewajiban untuk :

a. Menyusun dan menetapkan standar pelayanan;

(19)

c. Menempatkan pelaksana yang kompeten;

d. Menyediakan sarana, prasarana, dan/atau fasilitas pelayanan publik

yang mendukung terciptanya iklim pelayanan yang memadai;

e. Memberikan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan asas

penyelenggaraan pelayanan publik;

f. Melaksanakan pelayanan sesuai dengan standar pelayanan;

g. Berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan perundang-undangan

yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik;

h. Memberikan pertanggungjawaban terhadap pelayanan yang

diselenggarakan;

i. Membantu masyarakat dalam memahami hak dan tanggung

jawabnya;

j. Bertanggung jawab dalam pengelolasan organisasi penyelenggara

pelayanan publik;

k. Memberikan pertanggungjawaban sesuai dengan hukum yang

berlaku apabila mengundurkan diri atau melepaskan tanggung jawab

atas posisi atau jabatan; dan

l. Memenuhi panggilan atau mewakili organisasi untuk hadir dan

melaksanakan perintah suatu tindakan hukum atas permintaan

pejabat yang berwenang dari lembaga negara atau atau instansi

pemerintah yang berhak, berwenang, dan sah sesuai dengan

(20)

45 Selanjutnya pelaksana pelayanan berkewajiban untuk :

a. Melakukan kegiatan pelayanan sesuai dengan penugasan yang

diberikan oleh penyelenggara;

b. Memberikan pertanggunjawaban atas pelaksanaan pelayanan

sesuai dengan peratura perundang-undangan;

c. Memenuhi panggilan untuk hadir atau melaksanakan perintah

suatu tindakan hukum atas permintaan pejabat yang berwenang

dari lembaga negara atau atau instansi pemerintah yang berhak,

berwenang, dan sah sesuai dengan peraturan

perundang-undangan.

d. Memberikan pertanggungjawaban apabila mengundurkan diri

atau melepaskan tanggung jawab sesuai dengan peraturan

perundang-undangan; dan

e. Melakukan evaluasi dan membuat laporan keuangan dan kinerja

kepada penyelenggara secara berkala.

Dalam pasal 19 Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang

Pelayanan Publik, diatur mengenai kewajiban masyarakat sebagai penerima

pelayanan publik. Kewajiban masyarakat tersebut adalah :

a. Mematuhi dan memenuhi ketentuan sebagaimana dipersyaratkan

dalam standar pelayanan;

b. Ikut menjaga terpeliharanya sarana, prasarana, dan/atau fasilitas

(21)

c. Berpartisipasi aktif dan mematuhi peraturan yang terkait dengan

penyelenggaraan pelayanan publik.

C. Transportasi Publik Sebagai Bentuk Pelayanan Publik

Pelayanan publik merupakan bentuk tanggung jawab negara kepada

masyarakat yang diwujudkan dalam suatu pelayanan bersifat barang ataupun jasa.

Sebagai penyelenggara negara wajib menjalankannya dengan menerapkan prinsip

berkeadilan agar seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. Pelayanan

publik diselenggarakan atas adanya kebutuhan oleh masyarakat yang harus

dipenuhi oleh negara. Kebutuhan tersebut berupa barang ataupun jasa yang

mempengaruhi aktivitas sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya di dalam

masyarakat. Barang atau jasa yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak

dapat diasosiasikan sebagai public goods. Keikutsertaan seseorang dalam

menggunakan barang publik (public goods) dan untuk mendapatkan manfaatnya,

tidak akan mengurangi nilai kemanfaatannya bagi orang lain.

Transportasi umum merupakan satu contoh dari barang publik dalam yang

berbentuk jasa. Transportasi adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain

dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga

manusia, hewan, maupun mesin. Konsep transportasi didasarkan pada adanya

perjalanan antara asal dan tujuan.

Di dalam transportasi terdapat unsur-unsur yang terkait erat dalam

berjalannya konsep transporasi itu sendiri. Unsur-unsur tersebut adalah sebagai

(22)

47

1. Manusia ynag membutuhkan;

2. Barang yang dibutuhkan;

3. Kendaraan sebagai alat/sarana;

4. Jalan dan terminal sebagai prasarana transportasi; dan

5. Organisasi sebagai pengelola transportasi.

Transportasi memilik fungsi dan manfaat yang terklasifikasi menjadi

beberapa bagian penting. Transportasi memiliki fungsi yang terbagi menjadi 2

(dua) yaitu melancarkan arus barang dan manusia dan menunjang perkembangan

pembangunan. Sedangkan manfaat transportasi diklasifikasikan menjadi 3 (tiga)

bagian, yaitu :

1. Manfaat Ekonomi

Kegiatan ekonomi bertujuan memenuhi kebutuhan manusia dengan

menciptakan manfaat. Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan

yang menyangkut peningkatan kebutuhan manusia dengan mengubah

letak geografis barang dan orang sehingga akan menimbulkan adanya

transaksi.

2. Manfaat Sosial

Transportasi menyediakan berbagai kemudahan, diantaranya :

a. Pelayanan untuk perorangan atau kelompok;

b. Pertukaran atau penyampaian informasi;

c. Perjalanan untuk bersantai;

d. Memendekkan jarak;

(23)

3. Manfaat Politis

Transportasi menciptakan persatuan, pelayanan lebih luas, keamanan

negara, mengatasi bencana, dll.

4. Manfaat Kewilayahan

Transportasi dapat memenuhi kebutuhan penduduk di kota, desa,

ataupun pedalaman.

Selanjutnya transportasi publik atau transportasi umum adalah seluruh alat

transportasi dimana penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraannya

sendiri. Transportasi publik umumnya termasuk bus dan kereta api, namun juga

termasuk pelayanan maskapai penerbangan, feri, taxi, dan lain-lain.

Konsep transportasi publik sendiri tidak dapat dilepaskan dari konsep

kendaraan umum. Pengertian kendaraan umum berdasarkan Keputusan Menteri

Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang di

Jalan dengan kendaraan umum yaitu kendaraan umum adalah setiap kendaraan

bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut

bayaran baik langsung maupun tidak langsung.

Pelayanan trasnportasi umum adalah salah satu pelayanan publik yang

dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Pada awalnya, tujuan dari pembangunan

pelayanan transportasi di Indonesia adalah untuk mendukung pertumbuhan

ekonomi, pengembangan wilayah, dan pemersatu Negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI). Pembangunan trasnportasi di Indonesia berpedoman pada

(24)

49 perwujudan Indonesia menjadi lebih sejahtera dan mewujudakan Indonesia yang

aman, adil, dan demokratis.

Transportasi Publik memberikan layanan mobilitas dasar bagi semua orang

yang tidak memiliki akses Kendaraan. Manfaat terbesar transportasi publik bagi

pengendara dan penumpang adalah membantu mengurangi kemacetan jalan,

polusi udara, serta konsumsi minyak dan energi. Peran transportasi adalah untuk

memaksimalkan kegiatan pertukaran. Dimana kota merupakan sebuah ciptaan

yang bertujuan untuk memaksimalkan pertukaran (barang-barang, jasa, hubungan

persahabatan, pengetahuan dan gagasan), serta meminimalisasi perjalanan.

Sebuah negara berperan penting dalam transportasi publik. Dalam

beberapa tahun belakangan ini terlihat dahsyatnya perubahan politik ekonomi

menuju titik minimal peranan negara, dan pada saat yang bersamaan mencapai

titik maksimal. Ketika badan publik yang menjadi sandaran pengelolaan

kepentingan publik, maka pelayanan kepada publik mau tidak mau harus

didasarkan pada kemampuan membayar, bukan didasarkan pada penghormatan

atas hak-hak warga negara.

Perusahaan memberikan pelayanan kepada publik hanya jika dirinya bisa

memperoleh keuntungan, dan perusahaan tidak bisa dituntut bertanggung jawab

terhadap nasib warga negara yang tidak mendapatkan pelayanan publik.

Kemandirian negara sebagai tuntutan dan kebutuhan industrialisasi serta

pembangunan ekonomi, membutuhkan aliansi - aliansi baru antara negara dan

kekuatan-kekuatan sosial politik, sosial ekonomi baik dalam tataran nasional

(25)

Kerumitan dalam transportasi publik bukan hanya menjadi masalah

pemerintah, melainkan juga masyarakat. Fenomena yang muncul akhir -akhir ini

mengedepankan wajah transportasi publik yang kurang memberikan kenyamanan,

keamanan dan keterjangkauan dan masih mengesankan biaya sosial dan ekonomi

yang tinggi. Hal-hal yang membuat transportasi publik menjadi buruk adalah

sebagai berikut :

1. Tingkat pelayanan rendah, yang meliputi waktu tunggu tinggi, lamanya

waktu perjalanan, ketidaknyamanan dan keamanan didalam angkutan

umum;

2. Tingkat aksesibilitas rendah, bisa dilihat dari masih banyaknya bagian dari

kawasan perkotaan yang belum dilayani oleh angkutan umum, dan rasio

antara panjang jalan di perkotaan rata-rata masih dibawah 70%, bahkan

dibawah 15% terutama di kota metropolitan, kota sedang, menengah.

3. Biaya tinggi, biaya tinggi ini akibat rendahnya aksesibilitas dan kurang

baiknya jaringan pelayanan angkutan umum yang mengakibatkan

masyarakat harus melakukan beberapa kali pindah angkutan dari titik asal

sampai tujuan, belum adanya keterpaduan sistem tiket, dan kurangnya

keterpautan moda.

Saat ini fenomena yang terjadi di Indonesia adalah transportasi publik

lebih diutamakan sebagai saranan kepentingan bisnis daripada kepentingan umum.

Transportasi publik saat ini tidak lagi memperhatikan aspek kepentingan umum

seperti aspek keselamatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka

(26)

51 transportasi publik menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Tingginya angka

kecelakaan di sektor transportasi publik disebabkan banyaknya

pelanggaran-pelanggaran lalu lintas yang dilakukan para pengemudi transportasi publik seperti

mengemudi ugal-ugalan, menyerobot lampu merah, surat-surat yang tidak

Referensi

Dokumen terkait

Peraturaturan Daerah Kota Binjai Nomor 10 Tahun 2007 Tentang Perusahaan. Daerah Angkutan

Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat

kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan

bahwa seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik, penyelenggaraan pelayanan publik diharuskan

Berdasarkan beberapa uraian diatas bahwa adanya tuntutan peningkatan dalam hal kualitas pelayanan publik dari masyarakat harus diiringi dengan upaya perbaikan sistem pelayanan

kepercayaan masyarakat atas pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara pelayanan publik merupakan kegiatan yang harus dilakukan seiring dengan harapan dan tuntutan

bahwa seiring dengan harapan dan tuntutan seluruh warga negara dan penduduk tentang peningkatan pelayanan publik, penyelenggaraan pelayanan publik diharuskan

Makalah tentang Hukum Administrasi Negara dan Pelayanan Publik untuk mata kuliah Universitas Sumatera Utara tahun