MENINGKATKAN SIKAP POSITIF SISWA TERHADAP MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING (CTL) Oleh: Widayat Umar
A. Pendahuluan
Berbicara mengenai proses pendidikan khususnya proses pembelajaran dan pengajaran di sekolah seringkali membuat kita kecewa, apalagi bila dikaitkan dengan pemahaman siswa terhadap materi ajar. Walaupun seringkali kita mengetahui bahwa banyak siswa yang mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami atau mengerti secara mendalam pengetahuan yang telah mereka miliki tersebut. Mursell dan Nasution (2006: 2) menyatakan bahwa biasanya hasil mengajar yang berupa kata-kata yang dihafal segera hilang. Hasil belajar serupa itu tidak meresap ke dalam pribadi anak, tidak membentuk perkembangan mental anak. Guru yang memberi hasil-hasil yang demikian tidak mengajar dengan sukses.
Hal demikian juga terjadi pada proses pembelajaran matematika di sekolah. Selama mengajar sering dijumpai beberapa ungkapan siswa menyatakan bahwa matematika sulit dan tidak bermakna dalam kehidupannya. Mereka belajar matematika hanya belajar rumus, simbol-simbol yang tidak bermakna dan menjemukan. Seolah pembelajaran matematika di sekolah tidak ada manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai pernyataan Marshall (2003: 1) bahwa matematika itu sulit dikarenakan merupakan konsep-konsep tingkat tinggi, notasi-notasi abstrak yang sulit dipahami, serta penggunaan berbagai simbol. Dalam keadaan seperti itu dapat menyebabkan siswa tidak memiliki sikap positif terhadap matematika dan yang tumbuh justru sikap negatif seperti menjemukan, menakutkan, dan sebagainya sehingga menyebabkan hasil belajar matematika mereka rendah. Namun apabila dalam mengikuti kegiatan belajar, siswa dapat memperoleh makna dari materi yang dipelajari maka dimungkinkan akan mendorong siswa untuk memiliki semangat belajar.
Johnson (2002: 43) menyatakan bahwa: ”When young people can connect the content of academic subject such as mathematics, science, or history with their own experience, they discover meaning, and meaning gives them a reason for learning”. Maksudnya ketika murid dapat mengaitkan isi dari mata pelajaran akademik seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, atau sejarah dengan pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi alasan mereka untuk belajar.
Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya agar proses pembelajaran matematika di sekolah dapat bermakna bagi siswa. Ratna Wilis Dahar (1996: 112) menyatakan sesuai teori belajar dari Ausubel, belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang siswa. Pembelajaran akan bermakna apabila siswa “mengalami” apa yang dipelajarinya. Peserta didik butuh belajar konsep-konsep matematika apabila mereka merasa bahwa apa yang mereka pelajari akan bermanfaat di tempat mereka bekerja di lingkungan di mana mereka hidup. Dalam hal ini guru harus menyadari bahwa program pembelajaran bukanlah sekedar rentetan topik atau pokok bahasan, tetapi sesuatu yang harus dipahami oleh peserta didik dan dapat dipergunakan untuk kehidupannya.
siswa, sehingga siswa dapat menggunakan dan mengingat konsep tersebut lebih lama. Dengan mengingat konsep lebih lama akan memberikan kontribusi yang besar terhadap prestasi hasil belajar siswa. Bagaimana seorang guru matematika dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari sesuatu, arti dari sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari. Bagaimana guru matematika dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep matematika dan cara mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Dengan cara itu akan menunbuhkan bahwa sikap positif siswa terhadap matematika karena bermakna dalam kehidupannya. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh guru matematika setiap harinya. Untuk mengatasi tantangan tersebut diperlukan berbagai usaha dari para guru matematika untuk dapat mengaitkan setiap konsep matematika dengan konteks kehidupan siswa sehari-hari.
Atas dasar pemikiran tersebut, maka pembelajaran dengan pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang perlu dilaksanakan oleh guru. Berns & Erickson (2001: 2) mendefinisikan bahwa CTL adalah sebuah konsep belajar dan mengajar yang membantu para guru menghubungkan isi dari materi pelajaran dengan situasi dunia nyata, dan memotivasi para siswa untuk dapat mengaitkan antara pengetahuannya dengan situasi dunia nyata mereka. Dengan CTL diharapkan guru mampu mengaitkan setiap materi pelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari siswa termasuk dalam pembelajaran matematika.
Johnson (2002: 3) menyatakan bahwa semakin banyak keterkaitan yang ditemukan siswa dalam suatu konteks yang luas, semakin bermaknalah isinya bagi mereka. Semakin mampu para siswa mengaitkan materi pelajaran mereka dengan konteks yang ada, semakin banyak makna yang akan mereka dapatkan dari pelajaran tersebut. Semakin mampu mengerti makna dari pengetahuan dan ketrampilan pada mata pelajaran yang sedang dipelajari akan semakin menuntun pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan tersebut.
Dengan cara itu diharapkan dapat menumbuhkan sikap positif siswa dalam menghargai matematika yang akhirnya kompetensi dan prestasi belajar matematika siswa dapat meningkat. Dengan tumbuhnya sikap positif terhadap matematika tersebut, dalam diri siswa akan memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam menyelesaikan masalah.
B. Hakikat Pembelajaran Matematika
Sedangkan pembelajaran mengandung arti interaksi belajar dan mengajar. Pembelajaran berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhi antara guru dan siswa, di antara keduanya terdapat hubungan komunikasi atau interaksi. Oemar Hamalik (2003: 54) menyatakan bahwa guru mengajar di satu pihak dan siswa belajar, keduanya menunjukkan aktivitas yang seimbang hanya berbeda perannya. Suherman, dkk (2003: 7) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Fortana menyatakan, dengan pembelajaran akan menimbulkan perubahan tingkah laku pada individu siswa yang relatif tetap sebagai hasil dari pengalamannya dalam belajar (Suherman, 2003: 7).
Perubahan sebagai hasil belajar ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap, tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan aspek lainnya yang ada pada individu tersebut. Dengan kata lain, bahwa dalam melaksanakan pembelajaran, seorang guru harus memiliki tujuan-tujuan pembelajaran yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri siswa baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dalam hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Reys, dkk (1998:1) bahwa dalam setiap melaksanakan proses pembelajaran, diharapkan setiap guru matematika hendaknya memiliki tujuan sebagai berikut: 1) agar setiap siswa dapat menguasai isi dari matematika yang sedang dipelajari baik yang berupa fakta, konsep, dan keterampialan; 2) diharapkan siswa dapat menerapkan ide-ide matematika untuk menyelesaian masalah; dan 3) siswa memiliki sikap positif terhadap matematika. Countryman (1992: 2) juga menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran matematika dapat ditumbuhkan sikap aktif, kreatif, dan responsip terhadap keadaan dan perkembangan dunia. Untuk mencapai hal tersebut, maka dalam pembelajaran matematika, guru harus dapat menciptakan situasi dimana siswa tidak hanya menghafal konsep dan rumus, namun mampu mengkonstruksi pengetahuannya secara mandiri. Hal ini sesuai pendapat Cobb (Suherman dkk, 2003: 76) bahwa belajar matematika merupakan sutau proses dimana siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas dapat dimengerti bahwa dalam proses pembelajaran matematika siswa harus dapat melakukan interpretasi, yaitu melihat hubungan di antara konsep-konsep yang sedang dipelajari, melihat makna dari hubungan tersebut dan menghubungkannya dengan situasi atau konteks yang lebih luas. Dengan cara itu, maka akan dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika, karena mereka merasa bahwa ternyata matematika sangat bermakna dan bermanfaat dalam kehidupannya.
Berkaitan dengan hal tersebut, diharapkan dalam setiap pembelajaran guru dapat mengawalinya dengan menyajikan berbagai masalah atau kejadian di dunia nyata. Dengan adanya masalah yang dihadirkan ke ruang kelas diharapkan siswa dapat mengoptimalkan panca inderanya baik penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sebagainya untuk dapat memahami materi yang sedang dipelajari. Dengan cara ini siswa diharapkan dapat memaknai setiap isi, konsep, fakta, dan ketrampilan yang dipelajari sehingga dapat membantu mereka dalam menyelesaian masalah sehari-hari yang mereka hadapi. Konsep pembelajaran yang sejalan dengan kebutuhan ini adalah pendekatan kontekstual.
Masnur Muslich (2007: 41) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan konsep itu diharapkan siswa mampu mengkonstruk pengetahuan dan ketrampilannya sendiri sesuai materi yang sedang dipelajarinya. Dengan demikian hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berfikir kritis dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya.
Adapun dalam melaksanakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, guru harus memahami komponen utama yang harus ada dalam pembelajaran kontekstual. Menurut Depdiknas (2002: 10) komponen utama pembelajaran kontekstual ada tujuh yaitu: 1) konstruktivism, 2) inquiry, 3) questioning, 4) learning community, 5) modeling, 6) reflection, dan 7) authentic assessment.
Konstruktivisme (Constructivism) merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah hanya seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Siswa perlu dibiasakan untuk melakukan pemecahan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
Menemukan (inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Untuk itu dalam melaksanakan pembelajaran, menurut Conny Semiawan, dkk (1985: 12) para guru tidak perlu menjejalkan seluruh informasi ke dalam benak anak, karena pada hakekatnya pada diri anak sudah terdapat potensi untuk menemukan informasi tersebut, guru cukup memberikan kesempatan. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan siswa adalah jerih payahnya mencari bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya.
diajukan kepada siswa hendaknya dimulai dari pertanyaan yang umum dengan membuat daftar pertanyaan, selanjutkan secara bertahap pertanyaan tersebut dirinci lebih spesifik sampai mendatangkan respon dari pemikiran siswa.
Sementara Uzer Usman ((2002: 74) menyatakan kegiatan bertanya mempunyai peranan penting dalam proses belajar mengajar dan akan memberikan dampak positif sebagai berikut.
1. Meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
2. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan.
3. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berfikir itu sendiri, sesungguhnya bertanya.
4. Menuntun proses berfikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik. 5. Memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. Dalam konsep masyarakat belajar (learning community), hasil pembelajaran siswa diperoleh melalui hasil kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dan yang belum tahu. Dalam kelas CTL, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa yang pandai mengajari yang lemah dan yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Masyarakat belajar dapat tercipta apabila ada proses komunikasi dua arah. Kunci dapat terwujudnya masyarakat belajar menurut Ostrow (1995: 5) adalah saling menghormati di antara siswa tersebut. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran dapat saling belajar. Siswa yang terlibat dalam masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya. Hal ini akan terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu, dan semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Dalam keadaan seperti ini diharapkan setiap orang mau belajar dari orang lain, karena merasa orang lain itu juga merupakan sumber belajar.
Pemodelan (modelling) dalam pendekatan kontekstual maksudnya, dalam sebuah pembelajaran hendaknya ada model yang ditiru. Model yang dimaksud dapat berupa pemberian contoh tentang, misalnya, cara mengoperasikan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertontonkan suatu peanmpilan. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan.
Refleksi (reflection) adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang tentang apa yang telah dilakukan di masa lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian atau aktivitas atau pengetahuan yang baru diterima. Guru atau orang dewasa membantu siswa membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu, siswa merasa memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.
Masnur menyatakan (2007: 46) refleksi merupakan perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masuka atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya menrupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran seperti ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.
Penilaian Otentik (Authentic Assesment) adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Authentic Assesment merupakan prosesdur penilaian pada pembelajaran kontekstual. Assesment yang dilakukan dalam proses pembelajaran (Webb & Coxford, 1993: 3-4) hendaknya memenuhi lima ciri sebagai berikut: 1) menumbuhkan situasi aktif siswa seperti diskusi kelas; 2) menumbuhkan respons siswa yang berupa proses berfikir menggunakan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya; 3)menumbuhkan interpretasi baik dari guru maupun dari siswa sendiri yang berupa penilaian diri; 4) menumbuhkan makna setelah melakukan interpretasi; dan 5) memberikan kesimpulan terhadap hal-hal yang baru saja dipelajari.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat dipahami bahwa dalam pembelajaran kontekstual peran guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Adapun salah satu tujuan dari pelaksanaan pembelajaran kontektual adalah membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan atau ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan yang lain, dari suatu konteks ke konteks yang lain. Untuk mencapai tujuan itu dalam pembelajaran kontekstual, guru harus banyak berurusan dengan berbagai strategi dari pada memberi informasi, tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas atau siswa. Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa yang dikatakan guru.
D. Sikap Siswa terhadap Matematika
internal yang mempengaruhi tindakan secara personal. Selanjutnya untuk mengetahui sikap seseorang terhadap suatu objek menurut Mueller (1986: 13) dapat diukur melalui tiga aspek/komponen, yaitu: 1) kognitif (kepercayaan/keyakinan; 2) afektif (perasaan); dan 3) konatif (kecenderungan). Komponen kognisi berhubungan dengan keyakinan, ide, dan konsep. Komponen afeksi menyangkut kehidupan emosional seseorang. Komponen konasi merupakan kecenderungan bertingkah laku. Berkaitan dengan pembelajaran matematika, salah satu tujuannya adalah diharapkan siswa memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (BSNP, 2006: 346). Sedangkan untuk mengukur sikap siswa terhadap matematika menurut Kulm (1980: 356) dapat dilihat dari berbagai aspek atau kategori yaitu materi matematika, karakteristik matematika, pembelajaran dan aktivitas belajar matematika, guru matematika.
Berdasarkan uraian di atas, maka sikap terhadap matematika dapat dijelaskan sebagai berikut. Sikap siswa berupa komponen kognisi, yaitu bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan pengetahuannya atau pemahamannya terhadap aspek-aspek matematika, misalnya matematika penting untuk dipelajari. Secara umum dapat dikatakan bahwa komponen kognisi menjawab pertanyaan-pertanyaan apa yang diyakini, dipikirkan siswa terhadap matematika. Dengan kata lain bahwa unsur kognisi mempunyai arti, bahwa sikap terhadap suatu objek itu didahului oleh pengetahuan dan informasi mengenai objek yang dituju oleh sikap itu. Dalam hal ini sikap siswa terhadap matematika didahului oleh pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh siswa terhadap matematika tersebut
Sikap siswa berupa komponen afeksi, yaitu bagian sikap siswa yang timbul berdasarkan apa yang dirasakan siswa terhadap matematika. Komponen ini menjawab pertanyaan: “apa yang dirasakan siswa terhadap matematika?”. Misalnya seorang siswa merasa senang atau tidak senang terhadap matematika, baik terhadap materinya maupun terhadap manfaatnya. Demikian juga perasaan-perasaan seperti sukar atau tidak sukar yang berkenaan dengan matematika. Jadi komponen afeksi menimbulkan evaluasi emosional terhadap objek.
Sikap siswa berupa komponen konasi, yaitu bagian sikap siswa yang timbul karena perasaan kecenderungan melakukan sesuatu, meninggalkan sesuatu. Kaitannya terhadap sikap siswa terhadap matematika, maka akan terkait dengan kecenderungan siswa terhadap materi pelajaran matematika, gurunya, proses pembelajarannya, bukunya, serta evaluasinya. Dengan kata lain bahwa komponen konasi merupakan kelanjutan dari komponen kognisi dan afeksi yang diwujudkan dalam bentuk keinginan dan hasrat untuk melakukan suatu kegiatan.
E. Menumbuhkan Sikap Positif Siswa Terhadap Matematika Melalui Pembelajaran Kontekstual
Agar siswa memiliki sikap positif terhadap matematika, maka guru perlu melakukan usaha-usaha yang menumbuhkan sikap siswa melalui tiga komponen yaitu dengan memberikan berbagai pengertian dan pengetahuan tentang matematika yang dapat bermanfaat bagi kehidupan yang akan datang (kognisi), mendorong siswa untuk memiliki rasa senang dan tertarik (afeksi) untuk belajar matematika dengan berbagai strategi dan model pembelajaran, serta mendorong siswa agar selalu melakukan (konasi) kegiatan-kegiatan yang terkait dengan peningkatan sikap positif terhadap matematika.
construktivisme dan questening (bertanya) yang diciptakan guru, dapat menumbuhkan sikap kritis dan sikap ingin tahu siswa terhadap matematika, mereka ingin mengetahui (kognisi), mereka tertarik (afeksi), dan mereka mau melakukan (konasi) berbagai kegiatan untuk mengkaji lebih dalam terhadap apa yang sedang dipelajari. Melalui modelling (pemodelan) dan learning community (masyarakat belajar) siswa dapat terlibat langsung bersama model yang dihadirkan guru. Hal ini memungkinkan siswa untuk memiliki rasa senang atau tertarik (afeksi) terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Sedangkan proses reflection (refleksi) memungkinkan siswa untuk melakukan elabolasi terhadap pengetahuan yang telah dan baru mereka miliki yang berimplikasi pada sikap bahwa pengetahuan yang baru mereka peroleh sangat bermanfaat (kognisi) dalam kehidupannya. Sedangkan kegiatan authentic assessment (penilaian diri) memungkinkan siswa untuk terus melakukan kegiatan perbaikan peningkatan diri atas hasil penilaian yang dilakukan secara nyata selama proses pembelajaran.
F. Penutup
Sikap positif siswa terhadap matematika sangat penting untuk ditumbuhkan oleh setiap guru matematika. Dengan memilki sikap positif tersebut, siswa akan memilki motivasi dan minat yang besar untuk terus belajar matematika. Berbagai upaya dapat dilakukan guru untuk menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual.
DAFTAR PUSTAKA
Abd. Rachman Abror. (1993). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Standar isi. Jakarta: BNSP.
Berns, Robert G. & Erickson, Patricia M. (2001). Contextual teaching and learning the highlight zone: Research @ Work No.5. Diambil pada tanggal 15 Juni
2007 dari
http://www.nccte.org/publications/infosynthesis/highlightzone/highlight05/ind ex.html.
Cony Semiawan, dkk.(1985). Pendekatan ketrampilan proses: Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar?. Jakarta: Gramedia.
Countryman, Joan.(1992). Writing to learn mathematics. Portsmouth: Helnemann Educational Books, Inc.
Cronbach, Lee J.(1954). Educational Psichology. New York: Harcourt, Brace Company, Inc.
H.Erman Suherman.(2003). Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Johnson, Elaine B.(2002). Contextual teaching and learning. Tousand Oaks,California: Corwin Press,Inc.
Kulm, Gerald.(1980). Researh on mathematics attitude. Virginia: The National Council of Teachers of Mathematics,Inc.
Marshall, Carol. (2003). Mathematics in context. Diambil pada tanggal 5 Desember
2008 dari http://
www.partnership.mmu.ac.uk/cme/student.writing/masters/Carol/Carol Marshall.html.
Masnur Muslich. (2007). KTSP: Pembelajaran berbasis kompetensi dan kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara.
Moh Uzer Usman.(2002). Menjadi guru profesional. Bandung: Rosda.
Muller, Daniel J. (1986). Mengukur sikap social: Pegangan untuk peneliti dan praktisi (Terjemahan Eddy Soewardi Kartawidjaja). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mursell, J. & Nasution, S. (2006). Mengajar dengan sukses (Successful teaching). Jakarta: PT Bumi Aksara.
Nana Syaodih Sukmadinata. (2004). Landasan psikologi proses pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurhadi,dkk.(2004). Pembelajaran kontekstual (Contextual teaching and learning/CTL) dan penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.
Oemar Hamalik. (2008). Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ostrow, J. (1995). A room with a different view: First through third graders build community and create curriculum. York: Stenhouse Publishers.
Polya, G. (1973). How to solve it: A new aspect of mathematical method. Princeton, NJ: Princeton University Press.
Reys, Robert E. at al. (1998). Helping children learn mathematics. Boston: Allyn and Bacon.
Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.