• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bisnis dan Politik Bisnis dan Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Bisnis dan Politik Bisnis dan Politik "

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

BISNIS DAN POLITIK DALAM SISTEM POLITIK INDONESIA

(Ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Sistem Politik Indonesia)

Dosen: Ruhenda S. Ag., MM

Disusun oleh:

 Diyas

 Elga Siti Mardiyani

 Elgan Briliaji

 Elis Mardiana

 Elva Salimah

 Fachrirrizal M R

 Fitrianty Rohimatunisa

Kelas II/C

Jurusan Administrasi Negara

Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2015

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Politik dan bisnis mempunyai pola hubungan yang saling terkait.

Layaknya hubungan timbal balik antar individu, aktifitas politik seharusnya dapat menunjang kegiatan bisnis dalam sebuah lingkup Negara. Hal yang sama terjadi dengan bisnis yang dapat mendukung kegiatan politik untuk mempertahankan kedaulatan Negara.

Tidak heran, jika kita lihat para pelaku bisnis sangat dekat dengan dunia politik. Bahkan, beberapa di antaranya juga merupakan figur politik yang sangat dikenal oleh masyarakat. Keterlibatan mereka dapat kita rasakan saat pemilihan kepala daerah maupun pemilihan anggota legislative baik di tingkat nasional maupun tingkat daerah. Mereka menyadari bahwa para elit politik ini memegang peranan penting dalam membuat kebijakan yang nantinya akan menentukan iklim perekonomian di daerah tersebut.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari bisnis dan politik?

2. Bagaimana teori hubungan Bisnis dan Politik?

3. Bagaimana perkembangan Bisnis dan Politik pada masa pemerintahan Indonesia?

(3)

A. PENGERTIAN BISNIS

Terdapat dua pengertian pokok mengenai bisnis, pertama, bisnis

merupakan kegiatan-kegiatan, dan kedua, bisnis merupakan sebuah perusahaan. Para ahli pun mendefinisikan bisnis dengan cara berbeda. Definisi E. Glos dalam bukunya ”Business: Its Nature and Environment: An Introduction”, dianggap memiliki cakupan yang paling luas, yakni:

“Bisnis merupakan seluruh kegiatan yang diorganisasikan oleh orang-orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industri yang menyediakan barang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standar serta kualitas hidup mereka."

Dalam suatu perekonomian yang kompleks saat ini, orang harus

menghadapi tantangan dan risiko untuk mengkombinasikan tenaga kerja, material, modal, dan manajemen secara baik sebelum memasarkan suatu produk. Orang-orang demikian itu dikenal sebagai pengusaha. Motivasi utama kegiatan bisnis adalah laba yang didefinisikan sebagai perbedaan antara penghasilan dan biaya-biaya yang dikeluarkan. Dalam bisnis, para pengusaha harus dapat melayani pelanggan dengan cara yang menguntungkan untuk kelangsungan hidup perusahaan dalam jangka panjang, selain harus selalu mengetahui kesempatan-kesempatan baru untuk memuaskan keinginan pembeli.[1]

B. PENGERTIAN POLITIK

Kata “politik” Secara etimologis berasal dari bahasa Yunani Politeia, yang akar katanya adalah polis, berarti kesatuan masyarakat yang berdiri

sendiri, yaitu negara dan teia, berarti urusan. Dalam bahasa Indonesia, politik dalam arti politics mempunyai makna kepentingan umum warga negara suatu bangssa. Politik merupakan suatu rangkaian asas, prinsip, keadaan, jalan, cara dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu yang kita kehendaki.[2]

1[ ] Husen Umar, 2003, Business An Introduction, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Hal. 3.

(4)

Menurut Aristoteles politik adalah sebagai suatu asosiasi warga negara yang berfungsi membicarakan dan menyelenggarakan hal ihwal yang menyangkut kebaikan bersama seluruh anggota masyarakat.3

Menurut Mirchell dalam Political Analiysis and Public Policy: “Politics is collective decision making or the making of public policies for an entire society” (politik adalah pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijaksanaan atau pembuatan kebijaksanaan umum untuk masyarakat seluruhnya”).4

C. TEORI HUBUNGAN BISNIS DAN POLITIK

Hubungan bisnis dengan politikmerupakan hubungan yang sangat erat kaitannya dan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Politik akan memberikan pengaruh yang sangat besar untuk perjalanan bisnis anda. Situasi politik yang tidak stabil akan mengakibatkan perekonomian yang merosot sehingga memiliki dampak besar terhadap bisnis yang sedang anda jalani.

Maka dari itu jika anda akan melakukan sebuah bisnis maka anda seharusnya memiliki kepekaan dan pengetahuan terhadap politik yang sedang terjadi sehingga anda mampu untuk membaca dan memprediksi perkembangan bisnis yang akan terjadi dimasa yang akan datang sehingga anda harus

mempersiapkan strategi bisnis yang terbaik untuk mengatasinya. Apalagi bisnis yang anda jalani merupakan bisnis lintas negara yang sedang mengalami konflik politik, anda harus bersiap siap jika sesuatu hal pecah yang mengakibtkan sebuah konflik yang sangat besar yang akan berdampak negatif pada bisnis anda seperti konflik perang, konflik pemboikotan atas sebuah produk tertentu, atau perubahan kebijakan pemerintah dan konflik konflik politik lainnya yang mungkin akan mengakibatkan dampak negatif dan kerugian terhadap bisnis anda. Karena politik yang berlaku disuatu negara akan mempengaruhi lingkung perekonomian atau kinerja bisnis yang mungkin akan memanas.

3[ ] Sahid gentara, 2009, Ilmu Politik Memahami Dan Menerapkan, Bandung: CV Pustaka Setia, Hal. 44..

(5)

Permasalahan politik yang ada juga akan berpengaruh terhadap bisnis bisnis yang kecil hingga menengah. Bisnis bisnis dengan level menengah ke bawah akan merasakan dampak dari politik yang ada, makanya anda harus mengetahui perubahan apa yang akan terjadi dari sebuah politik pemerintahan atau sebuah kebijakan pemerintahan, apakah mendukung atau bahkan merugikan. Anda harus menyadarinya dan harus selalui mencari informasi politik terutama yang akan mempengaruhi untuk bisnis anda sehingga anda tidak terkena resiko yang akan ditimbulkan dari dampak politik yang tidak bersahabat dengan bisnis yang anda jalani. Karena hubungan bisnis dengan politikmerupakan sesuatu yang bisa berjalan dengan saling berdampingan untuk mencapai sebuah tujuan sesuai dengan rencana bisnis dan rencana politik untuk menghasilkan sebuah

perekonomian yang lebih baik, tapi hubungan bisnis dengan politik juga akan berjalan dengan saling berlawanan yang mengakibatkan terjadi ketidak

sepahaman sehingga menimbulkan dampak negatif dari salah satu bidang, baik itu dampak negatif bagi bidang politik atau dampak negatif bagi perjalanan bisnis.

Ada beberapa aspek lingkungan politik yang harus anda ketahui dan harus anda pertimbangkan ketika anda melakukan bisnis yaitu :

1. Stabilitas Pemerintahan. Stabilitas pemerintahan akan sangat penting untuk sebuah bisnis, karena masa depan bisnis akan bergantung pada politik yang sedang berlangsung. Ketidak stabilan politik akan membuat anda kesulitan untuk menjalankan sebuah bisnis, sebuah perubahan politik yang mendadak akan mengakibatkan anda kehilangan modal dan kerugian yang besar dan risiko kehilangan bisnis yang besar.

2. Hubungan Internasional. Hubungan suatu pemerintahan antara negara yang satu dengan yang lainya tidak selalu stabil, bisa saja terjadi keburukan situasi politik yang akan mengakibatkan dampak terutama bagi anda yang

melakukan bisnis online. Biasanya dampak politik yang tidak baik terhadap bisnis online berada pada proses pembayaran yang tidak berjalan dengan sempurna karena kebanyakan proses pembayaran di bisnis online

(6)

berkurangnya penjualan bagi negara negara tertentu yang sedang mengalami konflik politik karena proses pembayaran yang mengalami hambatan.

3. Birokrasi Pemerintahan. Lingkungan politik seperti ini akan menghambat sebuah bisnis yang dibangun secara lintas negara. Investor dan pengusaha asing akan mengalami kesulitan untuk membuka bisnis karena pemerintahan setempat akan mencegah untuk tumbuhnya perusahaan asing yang potensial untuk tumbuh disuatu negara.

D. BISNIS DAN POLITIK PADA MASA PEMERINTAHAN INDONESIA a. Bisnis Dan Politik Pada Masa Soekarno

1. Ekonomi dan Bisnis pada masa pemerintahan Soekarno.

Keadaan ekonomi keuangan pada masa awal kemerdekaan amat buruk, antara lain disebabkan oleh :

a. Inflasi yang sangat tinggi, disebabkan karena beredarnya lebih dari satu mata uang secara tidak terkendali. Pada waktu itu, untuk sementara waktu

pemerintah RI menyatakan tiga mata uang yang berlaku di wilayah RI, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat harga.

b. Adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negeri RI.

c. Kas negara kosong.

d. Eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan.

(7)

Soekarno adalah peletak dasar perekonomian Indonesia. Beberapa kebijakan yang diambil dibawah pemerintahan Soekarno diantaranya :

1. Nasionalisasi Bank Java menjadi Bank Indonesia

2. Mengamankan usaha-usaha yang menyangkut harkat hidup orang banyak 3. Berusaha memutuskan kontrol Belanda dalam bidang perdagangan

ekspor-impor

4. Serta beberapa kebijakan lainya yang ditujukan untuk memajukan perekonomian indonesia.

Sistem ekonomi Indonesia awalnya didukung dengan diluncurkannya

Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) yang menjadi mata uang pertama Republik

Indonesia, yang selanjutnya berganti menjadi Rupiah. Setelah kemerdekaan hingga tahun 1965, perekonomoian Indonesia memasuki era yang sangat sulit, karena bangsa Indonesia menghadapi gejolak sosial, politik dan keamanan yang sangat dahsyat, sehingga pertumbuhan ekonomi kurang diperhatikan. Kegiatan ekonomi masyarakat sangat minim, perusahaan-perusahaan besar saat itu merupakan perusahaan peninggalan penjajah yang mayoritas milik orang asing, dimana produk berorientasi pada ekspor. Kondisi stabilitas sosial-politik dan keamanan yang kurang stabil membuat perusahaan-perusahaan tersebut stagnan.

Pada periode tahun 1950-an Indonesia menerapkan model guidance development dalam pengelolaan ekonomi, dengan pola dasar Growth with Distribution of Wealth di mana peran pemerintah pusat sangat dominan dalam mengatur pertumbuhan ekonomi (pembangunan semesta berencana). Model ini tidak berhasil, karena begitu kompleknya permasalahan ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang dihadapi pemerintah dan ingin diselesaikan secara bersama-sama dan simultan. Puncak kegagalan pembangunan ekonomi orde lama adalah terjadi hiper inflasi yang mencapai lebih 500% pada akhir tahun 1965. Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem

(8)

tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.

2. Politik pada masa pemerintahan Soekarno (Orde Lama).

Di bawah kepemimpinan Soekarno, politik luar negeri RI pasca awal kemerdekaan lebih difokuskan ke arah upaya memperoleh pengakuan dari dunia internasional. Sejak diberlakukannya Dekrit Presiden tahun 1959, sistem

pemerintahan negeri ini pun beralih ke Demokrasi Terpimpin. Dikeluarkannya dekrit ini dipengaruhi oleh berbagai situasi politik domestik saat itu, antara lain karena kabinet yang ada seringkali tidak berjalan lama, adanya disintegrasi – terjadi karena adanya ketidakpuasan daerah terhadap pengelolaan sumber daya alam yang mayoritas hasilnya dinikmati penduduk ibukota, sehingga

memunculkan gerakan pemberontakan lokal−, dan perdebatan di konstituante – penyerahan mandat oleh Ali Sastroamijoyo kepada Presiden Soekarno yang mengusung ide Demokrasi Terpimpin, yang selanjutnya disusul dengan

pengunduran Hatta sebagai wakil presiden−. Di tahun 1960an, politik luar negeri RI dalam masa Demokrasi Terpimpin juga menjadi lebih militan, dikarenakan saat itu Indonesia menentang keras adanya nekolim –imperialisme, kolonialisme, dan neokolonialisme− (Bunnell, 1966:37). Di sini konfrontasi merupakan jalan utama yang diambil Indonesia terkait kebijakan politik luar negerinya. Politik luar negeri masa Demokrasi Terpimpin marupakan aktualisasi dari doktrin-doktrin Soekarno yang dicetuskan lewat pidato-pidato politiknya.

Penolakan terhadap nekolim ini bisa dilihat dari upaya pemerintah dalam pembebasan Irian Barat yang saat itu berada di bawah naungan Belanda.

Indonesia juga begitu bersemangat dalam mencari dukungan internasional demi mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Dalam masa

(9)

paham neo-Marxis Leninis yang menentang hegemoni negara kapitalis Barat (Bunnell, 1966:38). Sedangkan dalam segi psikologi, trauma akibat kolonialisme yang begitu lama membuat Soekarno perlu untuk mencantumkan politik

konfrontasi sebagai arah kebijakan politik luar negerinya. Soekarno pun cenderung condong kepada komunis, hal ini termanifestasikan dalam ide

pembentukan NEFOS (New Establishment Forces) yang terdiri dari negara-negara progresif sebagai tandingan OLDEFOS (Old Establishment Forces) yang terdiri dari negara-negara kekuatan lama (negara kapitalis). Kemunculan poros serupa seperti Poros Jakarta-Peking juga semakin menegaskan bahwa Indonesia condong ke komunis.

Indonesia memperjuangkan pembebasan Irian Barat diantaranya melalui perjanjian. Puncaknya adalah ketika dihelatnya KMB pada tahun 1949 di Den Haag, Belanda. Dalam perundingan tersebut, terjadi kebuntuan antarsesama anggota, sehingga akhirnya diputuskan bahwa pembahasan selanjutnya akan diadakan setahun mendatang. Perjanjian tersebut membawa dampak yang merugikan terhadap Indonesia, karena banyak poin dalam perjanjian yang dilanggar oleh Belanda. Soekarno akhirnya menggunakan jalan “keras” dalam membebaskan Irian Barat, diantaranya dengan strategi kekuatan bersenjata, misalnya aksi massa, pengerahan sukarelawan dan penerjunan darurat di Irian Barat dengan bantuan senjata dari Uni Soviet, karena pada saat itu Amerika Serikat menolak untuk memberi bantuan senjata kepada Indonesia. Aksi yang dilakukan Indonesia ini menarik perhatian Amerika Serikat, sehingga Amerika Serikat pun mendesak Belanda untuk segera berunding dengan Indonesia dengan menitikberatkan pada syarat-syarat perundingan yang menguntungkan Indonesia. Amerika Serikat melakukan ini karena ia khawatir terhadap kemungkinan

terjadinya konflik bersenjata. Setelah perjuangan yang begitu lama, akhirnya Irian Barat resmi kembali ke pangkuan Indonesia tanggal 5 September 1963 setelah pengesahan Persetujuan New York tanggal 15 Agustus 1962.

(10)

Malaysia” sebagai wujud penolakan dan perlawanan terhadap neokolonialisme yang terjadi di Malaysia. Saat itu, Inggris berupaya memasuki negara tersebut untuk melakukan ekspansi. Soekarno merasa bahwa Federasi Malaysia merupakan ancaman baru kolonialisme dan imperialisme di kawasan Asia

Tenggara, karena nilai-nilai yang ada dalam Federasi Malaysia bertolak belakang dengan asas politik luar negeri bebas-aktif yang dianut Indonesia. Federasi Malaysia, menurut pandangan Soekarno, merupakan negara boneka buatan Inggris. Konflik kian memanas, ditandai dengan penolakan Indonesia untuk mengakui Malaysia yang dibentuk September 1963. Indonesia akhirnya

memutuskan untuk mundur dari keanggotaan PBB pada 7 Januari 1965 setelah PBB menetapkan Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanannya. Soekarno menganggap PBB tidak adil dan mengutamakan kepentingan negara besar, yang umumnya adalah Blok Barat. Keputusan ini membuat pembangunan dan modernisasi di Indonesia sedikit terhambat, karena menjauhkan Indonesia dari pergaulan internasional.

Pasca keluar dari PBB, Soekarno mengusung ide untuk membentuk NEFOS (New Establishment Forces) untuk menandingi OLDEFOS (Old Establishment Forces). NEFOS merupakan kumpulan negara-negara progresif yang di satu sisi berusaha mempertahankan kolonialisme, namun di sisi lain juga memberlakukan neokolonialisme (negara boneka). Sedangkan OLDEFOS

merupakan kumpulan dari negara-negara kokoh kapitalis, bersifat dominan tetapi tidak progresif. Ide Soekarno ini semakin menguatkan pendapat bahwa ia

(11)

Indonesia pun harus mencari kawan negara besar yang mau mendukungnya dan bukan sekutu Inggris, salah satunya adalah China. Kedua, posisi Indonesia sebagai negara muda membuatnya banyak membutuhkan dana asing untuk membiayai pembangunannya, namun jika bergantung pada negara-negara kuat seperti AS maupun Inggris, maka akan lebih sulit bagi Indonesia karena bunga dan persyaratan yang diajukan memberatkan Indonesia. Oleh sebab itu, Indonesia perlu untuk mencari negara yang mau membantunya dengan persyaratan yang mudah, yakni negara China dan Uni Soviet. Ketiga, kerjasama Indonesia dengan China dan Uni Soviet yang notabene anggota Dewan Keamanan PBB, dirasa sangat menguntungkan bagi posisinya di PBB, karena akan membuat aspirasinya lebih didengar.

Dari pemaparan di atas, kita tahu bahwa Soekarno sangat anti terhadap kolonialisme dan imperialisme, terbukti dengan politik konfrontasi yang dijalankannya. Politik konfrontasi ini berhasil mengembalikan Irian Barat ke pangkuan ibu pertiwi. Namun, kita bisa melihat bahwa Soekarno tidak konsisten dalam menjalankan politik luar negerinya, yang dahulu bersifat bebas aktif. Secara tidak langsung politik konfrontasi ini juga membuat Indonesia sedikit jauh dari pergaulan internasional karena keputusannya untuk mundur dari PBB.

b. Bisnis Dan Politik pada Masa Soeharto 1. Bisnis Pada Masa Pemerintahan Soeharto

Pemerintahaan Orde Baru segera menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadualan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing. Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata yang tinggi sebesar 7% antara tahun 1968 sampai 1981. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan

(12)

1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu, yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

2. Politik Pada Masa Pemerintahan Soeharto a. Sistem Otoritarianisme Orde Baru

Di dalam system orde baru model negara Indonesia merupakan model negara kapitalis, model ini mensyaratkan adanya negara yang kuat yang mampu menjamin stabilitas politik dan keamanan yang berkelanjutan. Stabilitas politik yang kuat ini diorientasikan untuk memberi rasa aman bagi investasi dan

implementasi kebijakan pembangunan yang diprakarsai oleh negara. Oleh karena itu, negara Orde baru secara intensif memelihara stabilitas politik melalui dua srategi yaitu strategi diskursif pembangunan institusional. Strategi diskursif yang telah dilaksanalkan meiputi pemikiran mengenai diskontiniutas historis dan konstituisionalisme yang berfungsi tidak hanya sebagai landasan ideologis dimana pengembangan hagemoni kekuasaan dibangun, melainkan sebagai justifikasi untuk menghalalkan “penindasan fisik, pelarangan, dan penggusuran orang-orang yang tidak sepaham”. Pada level institusioal pemikiran mengenai negara yang kuat diimplementasikan melalui rancangan koporatis terhadap organisasi-organisasi sosial-politik dan kelompok-kelompok di masyrakat yang memiliki pengaruh besar dalam penggalangan politik seperti organisasi buruh,kelompok industri,kelompok keagamaan,serta organisasi kepemudaan.

(13)

menggunakan ikatan ideoogisnya untuk mengikat konstituennya. Akibatnya, birokrasi benar-benar menjadi institusi yang dominan dalam system politik Indonesia. Hal ini mendorong individu-individu di dalamnya berprilaku korup, nepotism, dan kolusif. Kuatnya dominasi Negara dan birokrasi dalam mengontrol kehidupan masyarakat membuat pembangunan politik pada Orde Baru tidak berjalan dengan baik.Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tehadap masa depan Indonesia pasca-Soeharto. Begitu kuatnya kekuasaan politik Soeharto yang di topang oleh birokrasi dan militer membuat struktur politik tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, ini telah memandulkan fungsi-fungsi sruktur politik ”demokrasi “ hingga menjadi hanya sebagai pelayan atas keinginan-keinginan Soeharto.

Kemandulan struktur politik dalam melaksanakan fungsi-fungsi yang di embannya juga dapat dilihat dari ketidakmampuan lembaga legislatif dalam melakukan checks and balance terhadap lembaga eksekutif.Proses screening yang dilakukan pada masa pemilihan umum guna memilih lembaga ini mandul secara politik.Pada tataran tertentu mereka hanya menjadi “tukang stempel” atas

kebijakan dan produk yang diajukan oleh kalangan eksekutif.Ini juga yang terjadi pada lembaga tertiggi Negara yaitu MPR.Selama enam kali pemilihan umum sejak tahun 1971 hingga tahun 1997 lembaga ini hanya mampu bertindak sebagai pengabsah Soeharto sebagai presiden.Kegagalan partai-partai politik dalam melakukan pendidikan dan recruitment politik sebagai akibat pemandulan yang sistematis telah membuat Soeharto menjadi tokoh sentral yang tidak mempunyai pesaing dalam arena perebuta kursi presiden.Tokoh-tokoh alternatif dihancurkan dalam arena persaingan kekuasaan,bahkan ketika di kalangan masyarakat mulai muncul desakan yang kuat untuk menolak Soeharto sebagai presiden untuk keenam kalinya,lembaga tertinggi Negara masih tetap memilihnya sebagai presiden.

(14)

pornografi dibanding dengan bertindak sebagai pengawas dalam sistem politik Indonesia.Dalam situasi ini nyaris komunikasi politik yang seharusnya mengalir secara timbale balik antara masyarakat dengan Negara tidak berjalan dengan baik.

b. Penopang Kekuasaan Orde Baru

Betapa kuatnya kekuasaan Orde Baru itu sehingga menarik untuk dianalisis faktor-faktor apa saja yang menjadi penopangnya. Secara umum sedikitnya ada empat sumber utama yang menjadi penopang kekuasaan Orde Baru.

Pertama, represi politik. Sejak Orde Baru melakukan konsolidasi politik pada awal 1970an,tindakan kekerasan dan represif merupakan instrument utama yang dipakai oleh pemerintah untuk mencapai stabilitas politik.Organisasi militer yang ditempatkan hingga ke desa-desa dalam bentuk Bantara Pembina Desa (Babinsa),sementara dalam waktu bersamaan pemerintahan Orde Baru telah mendirikan banyak instrument guna melakukan represi terhadap warga negaranya.

Kedua, klientelisme ekonomi. Ini dilakukan seiring dengan melmpahnya sumber ekonomi yang berasal dari hasil ekspor minyak dan hasil alam

lainnya.Dengan sumber inilah Soeharto berhasil secara efektif membeli dukungan elit dan masyarakat luas.

Ketiga, wacana partikularistik.Dalam kaitan ini Orde Baru telah mengembangkan banyak wacana partikularistik yang diorientasikan untuk memapankan Orde Baru seperti wacana tentang demokrasi Pancasila , tanggung jawab sosial warga negara,Hak Asasi Manusia(HAM) dan lain sebagainya.Dengan demikian jika politik represi dan klientelsme ekonomi adalah meknisme control terhadap perilaku politik maka politik wacana merupakan mekanisme kotrol terhadap persepsi dan pola pikir partisipan politik

Keempat, korporatisme negara. Korporatisme Negara dilakukan terhadap organisasi masyarakat yang diarahkan sebagai sumber mobilisasi

(15)

oganisasi korporatis di antaranya Persatuan Wartawan Indonesia(PWI),Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI),Kamar Dagang dan Industri(KADIN),dan sebagainya.

c. Peran dan Posisi Militer

Pada masa Orde Baru tidak dapat disangkal lagi bahwa militer mempunyai peran yang cukup signifkan dalam menopang kekuasaan otoriter Orde Baru. Oleh karenanya pembahasan system otoriter Orde Baru tidak dapat dilepaskan dari peran militer dalam menopang kekuasaan melalui paradigm dwifugsi

ABRI.Dwifungsi merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut dua peran yang dikejakan oleh militer yakni fungsi tempur dan fungsi pembinaan wilayah atau masyarakat.

Namun sayangnya konsep dwifungsi semacam ini telah membuka peluang bagi penyalahgunaan tentara sebagai alat Negara menjadi sekedar alat kekuasaan yang digunakan untuk menopang kekuasaan Soeharto. Oleh karena itu tentara lebih diorientasikan untuk menjaga kelanggenga kekuasaan soeharto melalui kekerasan terhadap warga negaranya dibandingkan dengan di orientasikan untuk mengamankan wilayah Indonesia dari ancaman kekuatan eksternal.Dalam situasi separti ini para tentara lebih gemar memerangi rakyatnya sendiri yang tidak sepaham dengan penguasa dibandingkan menjadi tentara professional yang menjaga intregritas kdeaulatan rakyat.Dalam kaitannya dengan dwifungsi ABRI setidaknya ada tiga peran yang mereka mainkan dalam usaha untuk menopang kekuasaan Soeharto.

Pertama, militer menepati jabatan-jabatan politis seperti menteri, gubernur, bupati, anggota Golkar dan duduk di anggota DPR. Misalnya pada tahun 1966 anggota militer yang menjadi menteri sebanyak 12 orang dan 27 anggota kabinet, di DPR 75 anggota militer menduduki kursi DPR. Di tingkat daerah pada tahun 1968 sebanyak 68% gubernur dijabat oleh anggota militer dan meningkat menjadi 92% pada tahun 1970.

(16)

Letjend Syarwan Hamid yang mengumpulkan para guru besar dari seluruh Indonesia di Bogor pada tahun 1997 yang bertujuan untuk “memberi informasi” mengenai bahaya Partai Rakyat Demokratik dan bangkitanya komunisme baru.

Ketiga, militer melakukan tindakan-tindakan represif terhadap rakyat. Beberapa kasus yang terjadi pada masa ini diantaranya adalah Orde Baru

melakukan pembunuhan pada ratusan ribu anggota PKI dan pendukung Soekarno serta memenjarakan ribuan lainnya tanpa proses pengadilan (1966-1971);

pembunuhan missal terhadap anggota kelompok Islam di Tanjung Priok (1984) dan masih banyak lainnya.

Selain peran di atas implikasi kuatnya peran militer pada masa Orde Baru adalah membudayanya bisnis militer. Dalaam hal ini, George Junus Aditjandra mengungkapkan ada tiga bisnis militer yakni pertama, bisnis institusional ABRI yang berbentuk perusahaan-perusahaan di bawah payung yayasan militer dan polisi. Kedua,adalah bisnis nonistitusional ABRI yakni bisnis milik punawirawan ABRI dan kelurga mereka yang sudah berkembang menjadi konglomerat yang kuat.Hubungan bisnis institusional dan noninstitusional ini sudah sangat

jelas.Kerabat dan koroni Soeharto sudah lama memiliki kebiasaan merekrut bekas komandan TNI dan Polri ke dalam perusahaan mereka dalam posisi sebagai komosaris Sebaliknya banyak para perwira dan mantan perwira yang dikaryakan ke badan-badan usaha milik Negara(BUMN),yang ternyata sangat lihai menguras perusahaan tersebut untuk kepentingan pribadi.Ketiga,criminal economy atau disebut “bisnis kelabu” militer. Menurut Aditjandra kaki ketiga bisnis militer ini cukup luas cakupannya mulai dari pemungutan biaya proteksi dan perusahaan-perusahaan raksasa yang ingin dilidungi, dan jarahan kelompok-kelompok perusuh bersenjata api maupun bersenjata tajam, dan punya massa yang cukup banyak untuk melakukan intimidasi sampai dengan penjualan senjata secara iliegal,petdagangan narkoba, perdagangan PSK, sampai dengan perdagangan flora dan fauna langka.

(17)

Kejatuhan Soeharto tidak dapat dilepaskan dari krisis moneter yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997. Krisis ini telah membuat tekanan masyarakat berkembang semakin kuat. Dalam kaitan ini, organisasi serta tokoh-tokoh politik kemudian dapat mengubah berbagai tuntutan dan kepentingan masyarakat menjadi tekanan unttuk perubahan yang bersifat terpusat. Dengan kata lain,krisis menjadi katalisator penting bagi tuntutan perubahan di Indonesia.

Kegagalan pemerintah dalam merespon dan mengatasi€€€ krisis tersebut membuat legimitasi pemerintahan Soeharto hancur berantakan.Bahkan lebih parahnya lagi, rezim ini tidak lagi dipercaya oleh rakyat untuk dapat mengatasi persoalan-persoalan ekonomi, dan akibatnya krisis ekonomi berkembang menjadi krisis politik. Krisis ekonomi telah mendorong kehancuran kredibilitas

pemerintah, kehancuran kredibilitas pemerintah di mata masyarakat luas dan dunia internasional tersebut telah mengakibatkan hilangnya kepercayaan(thrust) yang dapat dilihat dari pernyataan pejabat represntatif Bank Dunia untuk

Indonesia, Dennis de Tray ketika pemerintah meminta pertolongan IMF. Menurutnya Indonesia tidak mengalami krisis ekonomi melainka mengalami krisis kepercayaan. Krisis keperayaan masyarakat terhadap pemerintahan dapat dilihat dari respon masyarakat yang sering kali brlawanan dengan tujuan dan arah berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

(18)

ditimbulkannya adalah jutaan kaum pekerja telah kehilangan lahan kehidupanya sehingga menambah jumlah orang yang masuk dalam bariasan pengagguran.

Ringkasnya tidak dapat disangkal lagi bahwa krisis moneter yang berujung pada krisis multidimensi telah membuat kondisi kemiskinan semakin memburuk. Penyakit pembangunan yang muncul sebagai akibat dari pembangunan yang berorientasi pertumbuhan yang dilaksanakan sejak tahun 1960 telah merajarela dan bertambah parah seiring ketersediaan laapangan pekerjaan,pendidikan untuk kaum miskin, akses layanan kesehatan gizi balita, dan jaminan lingkungan yang semakin buruk ataupun korupsi, kolusi, dan nepotisme yang bertambah luas serta amburadulnya penegakan hukum

E. Bisnis Dan Politik Pada Paska Pemerintahan Soeharto (Orde Baru

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada medio 1997- 1998

menimbulkan implikasi multidimensi. Pengunduran diri presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, tidak hanya dimaknai sebagai momentum tabula rasa, melainkan momentum perubahan bagi banyak aspek di Indonesia. Bisnis dan politik pasca Orde Baru memperlihatkan perbedaan pola dibandingkan era Soeharto berkuasa. Bagaimanakah pergeseran pola hubungan bisnis dan politik pasca Orde Baru? Untuk menjawabnya menurut hemat saya dapat dilihat dengan melihat era orde Baru dan era Reformasi.

1. Orde Baru

Orde Baru mewarisi kondisi ekonomi yang buruk dari Orde Lama, hal ini dapat dilihat pada sejumlah data sebagai berikut cadangan devisa menciut sampai nol (pada 1965), inflasi meningkat sampai 650% (pada 1966); daerah pedesaan Jawa tergolong sangat miskin, menyebabkan Nathan Keyfitz menggambarkannya sebagai “sesak napas karena kekurangan tanah”. Fokus di awal pemerintahan ialah menyelamatkan perekonomian nasional. Masa Orde Baru untuk kemudian

menyusun blue print pembangunan melaui pembangunan lima tahun dan

(19)

Widjojo Nitisastro memberikan landasan ilmiah dan merancang bangun perekonomian nasional.

Orde Baru menggunakan konsep stabilisasi politik dan pembangunan ekonomi. Konsep tersebut berimbas langsung pada bisnis dan politik.

Pembangunan ekonomi yang dikembangkan mengandalkan pada pertumbuhan ekonomi, sedangkan stabilisasi politik berupa penguatan Negara dari segala bentuk oposisi. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada Orde Baru menurut Perkins tidak bisa dilepaskan dari bias delusi yang dilakukan pihak barat untuk menopang keuntungan sejumlah korporat. Pertumbuhan ekonomi yang

mengandalkan pada konglomerasi secara kritis dimaknai sebagai ersatz kapitalisme oleh Yoshihara Kunio.

Yoshihara Kunio menuturkan pola hubungan bisnis dan politik di

Indonesia ialah ersatz capitalism. Secara asal kata ersatz (bahasa Jerman) berarti subtitusi atau pengganti, kata ini digunakan dalan bahasa Inggris berarti pengganti yang lebih inferior. Secara etimologis kapitalisme ersatz berarti bukan

kapitalisme yang tulen. Ada dua hal yang menyebabkan kapitalisme menjadi

ersatz; pertama campur tangan pemerintah terlalu banyak sehingga mengganggu prinsip persaingan bebas dan membuat kapitalisme menjadi tidak dinamis, kedua kapitalisme di Asia Tenggara tidak didasarkan perkembangan teknologi yang memadai.

(20)

Kapitalisme yang tumbuh berupa konglomerat yang dimanjakan dan dibesarkan oleh Negara. Negara dan pemerintah di era tersebut teramat

menentukan dalam bidang ekonomi dan politik. Liddle bahkan menyebutkannya dengan Soeharto deterministik. Suatu istilah yang tidak berlebihan mengingat kalangan konglomerat yang tumbuh berkembang memperoleh rente dari kedekatannya dengan penghuni Cendana ini. Dalam buku Kunio dijelaskan di bagian lampiran mengenai profil singkat konglomerat yang tumbuh dari rahim penguasa seperti Sukamdani Sahid, Probosutedjo, Sudwikatmono, putera- puteri presiden, Ciputra, Bob Hasan, Sudono Salim, dan sebagainya.

Berkaitan dengan campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dapat dilihat pada kasus mobil nasional pada tahun 1996. Campur tangan berlebihan dapat dilihat pada pembebasan bea berupa pajak barang mewah 35 %, PT Timor Putra Nasional (pemiliknya Tommy Soeharto) menjadi satu satunya perusahaan yang mendapat keistimewaan mobil nasional. Penyikapan seperti inilah yang menjadi potret dari pola hubungan bisnis- politik di era Orde Baru. Peraturan disesuaikan agar menguntungkan bagi kongsi yang sealiran dengan pemerintahan. Harapan melihat munculnya kelas menengah dan kalangan kapitalis tulen

tereduksi secara serius. Kalangan kapitalis justru menjadi penikmat status quo dikarenakan pemburuan rente yang dilakukan, sehingga menjelaskan stabilisasi politik yang terjadi dengan merangkul kekuatan modal ke dalam pilar penyangga kekuasaan.

Berkaitan dengan perkembangan teknologi yang memadai. Arah kebijakan teknologi Indonesia yang mengarah pada tingkat tinggi berupa pembuatan

pesawat terbang, helikopter, namun abai terhadap teknologi pertanian, tekstil- menimbulkan ambivalensi ekonomi. Di satu sisi Indonesia terlihat maju dengan membangun industri dalam skala high cost, yang memerlukan keahlian tinggi dan modal besar; namun di sisi lain teknologi fundamental dan merakyat serta

menyangga perekonomian bangsa tidak berkembang dengan optimal.

(21)

(seperti Kontrak Karya Pembangunan Freeport), dikarenakan besarnya modal dan diharapkan dapat terjadi alih teknologi di kemudian hari. Korporat asing di Orde baru pun menikmati pola bisnis- politik yang diterapkan. Model kolusi

memungkinkan bagi pengabaian aspek lingkungan, corporate social responsibility, dan rendahnya upah buruh sebagai keunggulan komparatif

Indonesia. Pola ini yang membawa implikasi pada kronisnya krisis ekonomi yang menghantam Indonesia dan membawa implikasi sosial politik yang rumit. Pada bagian reformasi dapat dilihat bagaimana pola ini mengalami pergeseran.

2. Masa Reformasi

Masa reformasi menggenggam harapan bagi perbaikan Indonesia ke depannya dibanding era pendahulunya. Namun harapan terkadang bersebrangan dengan kenyataan. Melihat masa reformasi konsep korporatokrasi yang digagas John Perkins layak untuk diutarakan sebagai analisa. Korporatokrasi

menunjukkan bahwa dalam rangka membangun imperium global, maka berbagai korporasi besar, bank, dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia mengikuti kehendak mereka. Istilah korporatokrasi dapat digunakan untuk menunjukkan betapa korporasi atau perusahaan besar dalam kenyataannya dapat mendikte, bahkan kadang- kadang membeli pemerintahan untuk meloloskan keinginan mereka.

Meredupnya peran Negara dikarenakan sorotan publik yang begitu besar dan arus tuntutan reformasi yang menghendaki pembagian kekuasaan. Pemerintah yang berkuasa sepanjang era Reformasi merupakan aliansi koalisi sehingga dalam menjalankan kekuasaannya tidak bisa serta merta apa yang diinginkan itu yang dilakukan.Masa Habibie(era transisi-dengan dukungan dari Golkar & militer) Masa Abdurahman Wahid (poros tengah- kalangan partai Islam), Masa Megawati (PDIP ) Masa Susilo Bambang Yudhoyono (koalisi besar ;Demokrat-7,45% suara nasional, Golkar, PKS, PBB), memperlihatkan bagaimana pemerintah harus melakukan kompromi dalam menjalankan roda kekuasaannya.

(22)

tumbuh sendiri, ataupun korporat besar asing mampu mempengaruhi pemerintah yang memerlukan pilar ekonomi untuk menunjang kepemimpinannya. Contoh dari korporatokrasi dapat dilihat pada Peraturan Presiden No 77/ 2007 tentang kepemilikan modal, pihak asing diperbolehkan memiliki 95 % kepemilikan di bidang pembangkit tenaga listrik, jasa pengeboran minyak dan gas bumi,

pengusahaan air minum. Peraturan ini memberi aturan legal bagi perusahaan asing untuk menguasai sendi- sendi vital bangsa.

Korporatokrasi ini jika ditilik dari bisnis dan politik merupakan konsep destruktif bagi keduanya. Dari sisi bisnis, korporat raksasa dengan bantuan

economic hit man akan membuat ekuilibrium bisnis semakin timpang. Korporat- korporat besar akan semakin mengglobal dan menghegemonik dalam penguasaan modal, di samping itu ciri kapitalisme sejati berupa persaingan bebas tidak terjadi lagi. Dari sisi politik , kedaulatan pemerintah akan dipertanyakan, ataukah sekedar komprador korporat besar.

Menilik pola hubungan bisnis dan politik pada era Orde Baru dan masa Reformasi maka kita belum melihat tertujunya pola menuju kesejahteraan bersama. Kemakmuran hanya dinikmati segelintir saja dan gagal terdistribusi ke masyarakat secara keseluruhan. Masa reformasi terlebih menjelang pemilihan presiden memiliki momentum politik untuk melakukan sejumlah perbaikan dalam melihat pola bisnis- politik. Alternatif ekonomi kerakyatan, jalan ketiga Giddens, ekonomi syariah, merupakan sekian opsi yang tersedia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

[ ] Husen Umar, 2003, Business An Introduction, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Hal. 3.

[ ] S. Sumarsono, [et. All], 2006, Pendidikan Kewarganegaraan, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, Hal. 137.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

 Peserta didik dalam kelompok mengamati benda-benda yang ada di kelompok masing-masing dan memilih benda yang akan dibeli sesuai dengan uang yang tersedia.  Peserta

So that students who live in industries that are like this must be able to have high competitiveness, because many rivals are very strong especially since the

Regulasi penyiaran di Indonesia diatur dalam Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 dan UU tersebut membuat suatu badan regulator yang disebut Komisi Penyiaran Indonesia

Secara umum aktivitas yang terdapat dalam proses transaksi jual beli yang dilakukan oleh pedagang sayur etnis Madura di Pasar Puring Siantan terdiri dari: cara memperoleh

Diketahui bahwa Streptomyces merupakan genus dari aktinomisetes yang paling banyak memproduksi antibiotik dan molekul bioaktif di bandingkan dengan genus lain dari

1) Tingkat partisipasi masyarakat dalam tertib administrasi kependudukan di Kelurahan Padangsambian dan Kelurahan Sesetan Kota Denpasar masuk dalam kriteria sangat tinggi

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi syarat memperoleh Gelar Sarjana Sains pada Departemen Studi Ilmu Keolahragaan. Fakultas Pendidikan Olahraga

Berdasarkan hasil analisis terhadap data hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek keterampilan abad 21 yang muncul dan berkembang pada diri anak dalam kegiatan