• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Chirurgie Cafe and Books Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Chirurgie Cafe and Books Medan"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

KERANGKA TEORI 2.1 Perilaku Konsumen

2.1.1 Pengertian Perilaku Konsumen

Schiffman dan Kanuk (dalam Nitisusastro, 2013: 31), dalam bukunya

yang berjudul Consumer Behaviour, menyatakan batasan perilaku konsumen adalah, ‘The term consumer behavior refers to the behavior that consumer display

in searching for, purchasing, using, evaluating, and disposing of products and services that they expect will satisfy their needs’. Artinya ‘Istilah perilaku konsumen merujuk kepada perilaku yang diperlihatkan oleh konsumen dalam

mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk

barang dan produk jasa yang mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan

mereka’.

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013: 9), perilaku konsumen adalah

disiplin ilmu yang mempelajari perilaku individu, kelompok, atau organisasi dan

proses-proses yang digunakan konsumen untuk menyeleksi, menggunakan

produk, pelayanan, pengalaman (ide) untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan

konsumen, dan dampak dari proses-proses tersebut pada konsumen dan

masyarakat; Tindakan yang dilakukan oleh konsumen guna mencapai dan

memenuhi kebutuhannya baik dalam penggunaan, pengosumsian, maupun

penghabisan barang dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan

yang menyusul; Tindakan atau perilaku yang dilakukan konsumen yang dimulai

dengan merasakan adanya kebutuhan dan keinginan, kemudian berusaha

(2)

berakhir dengan tidakan-tindakan pasca pembelian, yaitu perasaan puas atau tidak

puas.

Sementara menurut Supranto dan Limakrisna (2007: 4), “Perilaku

konsumen merupakan tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan,

menggunakan (memakai, mengkonsumsi) dan menghabiskan produk (barang dan

jasa) termasuk proses yang mendahului dan mengikuti tindakan ini”.

2.1.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi Perilaku Konsumen

Tujuan kegiatan pemasaran adalah memengaruhi konsumen supaya

mengambil keputusan pembelian barang dan jasa perusahaan pada saat mereka

membutuhkan oleh karena itu setiap perusahaan seharusnya memahami

faktor-faktor yang dapat memengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian.

Faktor-faktor tersebut adalah pengaruh faktor kebudayaan, sosial, pribadi, dan

psikologi (Simamora, 2003: 4).

a. Faktor Kebudayaan

a) Kultur

Kultur adalah faktor penentu paling pokok dari keinginan dan perilaku

seseorang. Hewan dituntun oleh naluri sedangkan manusia belajar dari

lingkungan sekitarnya.

b) Subkultur

Tiap kultur mempunyai subkultur yang lebih kecil, atau kelompok orang

dengan sistem nilai yang sama berdasarkan pengalaman dan situasi hidup

(3)

c) Kelas Sosial

Kelas sosial adalah susunan yang relatif permanen dan teratur dalam suatu

masyarakat yang anggotanya mempunyai nilai, minat dan perilaku yang

sama. Kelas sosial tidak ditentukan oleh faktor tunggal seperti pendapatan,

tetapi diukur sebagai kombinasi pekerjaan, pendapatan, pendidikan,

kekayaan, dan variabel lainnya.

b. Faktor Sosial

a) Kelompok referensi

Kelompok rujukan adalah kelompok yang merupakan titik perbandingan

secara langsung atau tidak langsung dalam pembentukan sikap seseorang.

b) Keluarga

Keluarga adalah dua atu lebih orang yang dipersatukan oleh hubungan

darah, pernikahan atau adopsi, yang hidup bersama. Anggota keluarga

pembeli dapat memberikan pengaruh yang kuat dalam perilaku pembeli.

Berdasarkan perannya, keluarga dapat dibedakan menjadi keluarga

orientasi dan keluarga prokreasi. Keluarga orientasi adalah keluarga yang

terdiri dari orangtua dan anak-anak kandung (siblings), dimana orangtua

memberikan anak orientasi pada agama, politik dan ekonomi, ambisi,

harga diri, dan cinta. Pada keluarga prokreasi, yaitu keluarga yang terdiri

atas suami-isteri dan anak, pengaruh keluraga terhadap pembelian itu lebih

terasa. Pada keluarga prokreasi ini, keluarga adalah unit pengambil

(4)

c. Faktor Pribadi

a) Umur dan tahapan dalam siklus hidup

Orang akan mengubah barang dan jasa yang mereka beli sepanjang hidup

mereka. Kebutuhan dan selera seseorang akan berubah sesuai dengan usia.

b) Pekerjaan

Pekerjaan seseorang akan memengaruhi barang dan jasa yang akan

dibelinya. Dengan demikian pemasar dapat mengidentifikasi kelompok

yang berhubungan dengan jabatan di atas rata-rata terhadap produk

mereka.

c) Keadaan Ekonomi

Keadaan ekonomi akan sangat memengaruhi pilihan produk. Pemasar

yang produknya peka terhadap pendapatan dapat dengan seksama

memperhatikan kecendrungan dalam pendapatan pribadi, tabungan, dan

tingkat bunga.

d) Gaya Hidup

Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan orang yang

bersangkutan yang tercermin dalam kegiatan, minat, dan pendapatnya.

e) Kepribadian dan Konsep Diri

Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologis yang unik yang

menimbulkan respons reaktif konstan terhadap lingkungannya sendiri

kepribadian sangat bermanfaat untuk menganilisis perilaku konsumen bagi

(5)

2.2 Keputusan Pembelian Konsumen

2.2.1 Pengertian Keputusan Pembelian Konsumen

Setiadi (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 121), mendefinisikan bahwa

inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang

mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau

lebih dan memilih salah satu diantaranya. Hasil dari proses pengintegrasian ini

adalah suatu pilihan yang disajikan secara kognitif sebagai keinginan berprilaku.

Schiffman dan Kanuk (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 120),

mendefinisikan keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua pilihan

alternatif atau lebih. Semua perilaku sengaja dilandaskan pada keinginan yang

dihasilkan ketika konsumen secara sadar memilih salah satu di antara tindakan

alternatif yang ada.

Peter-Olson (dalam Nitisusastro, 2013: 195) dalam The American Marketing Association menegaskan bahwa pengambilan keputusan konsumen merupakan proses interaksi antara sikap afektif, sikap kognitif, sikap behavioral

dengan faktor lingkungan dengan mana manusia melakukan pertukaran dalam

semua aspek kehidupannya. Sikap kognitif merefleksikan sikap pemahaman,

sikap afektif merefleksikan sikap keyakinan dan sikap behavioral merefleksikan

tindakan nyata. Keputusan membeli atau tidak membeli merupakan bagian dari

unsur yang melekat pada diri individu konsumen yang disebut behaviour dimana

ia merujuk kepada tindakan fisik yang nyata yang dapat dilihat dan dapat diukur

(6)

2.2.2 Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Konsumen

Menurut Kotler & Armstrong (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 36),

proses keputusan pembelian konsumen terdiri dari lima tahap yang meliputi :

1. Pengenalan Masalah

Pengenalan masalah merupakan tahap pertama dari proses pengambilan

keputusan pembeli dimana konsumen mengenali suatu masalah atau kebutuhan.

Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dengan keadaan yang

diinginkan. Pada tahap ini pemasar harus meneliti konsumen untuk menemukan

jenis kebutuhan atau masalah apa yang akan muncul, apa yang memunculkan

mereka, dan bagaimana, dengan adanya masalah tersebut, konsumen akan

termotivasi untuk memilih produk tertentu.

2. Pencarian Informasi

Pencarian informasi (information search) merupakan tahap di mana

konsumen telah tertarik untuk mencari lebih banyak informasi. Dalam hal ini,

konsumen mungkin hanya akan meningkatkan perhatian atau aktif mencari

informasi. Konsumen dapat memperoleh informasi dari sumber mana pun,

misalnya:

a. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, kenalan;

b. Sumber komersial: iklan, wiraniaga, dealer, kemasan, pajangan;

c. Sumber publik: media massa, organisasi penilai pelanggan;

d. Sumber pengalaman: menangani, memeriksa, dan menggunakan produk.

3. Evaluasi Alternatif

Evaluasi berbagai alternatif (alternative evaluation) merupakan tahap di

(7)

alternatif dalam susunan pilihan. Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif

pembelian tergantung pada konsumen individu dan situasi pembelian tertentu.

4. Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian merupakan tahap dalam proses pengambilan

keputusan pembelian sampai konsumen benar-benar membeli produk.

5. Perilaku Pascapembelian

Perilaku pascapembelian merupakan tahap dalam proses pengambilan

keputusan pembelian di mana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah

membeli berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan yang mereka rasakan.

Proses keputusan pembelian dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 2.1 Skema Pengambilan Keputusan Konsumen

Sumber : Kotler & Armstrong (Sangadji dan Sopiah, 2013: 36)

2.2.3 Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Pembelian Konsumen Keputusan pembelian konsumen dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu (1)

faktor internal, (2) faktor eksternal, dan (3) faktor situasional. Menurut Sangadji

dan Sopiah (2013: 41), faktor internal meliputi: persepsi, keluarga, motivasi dan

keterlibatan, pengetahuan, sikap, pembelajaran, kelompok usia, dan gaya hidup,

sedangkan faktor eksternal meliputi: budaya, kelas sosial, dan keanggotaan dalam

suatu kelompok.

Problem Recognition Information Search

Alternative Evaluation Product Choice

(8)

1. Faktor Internal

Faktor internal atau faktor pribadi memainkan peranan penting dalam

pengambilan keputusan konsumen, khususnya bila ada keterlibatan yang tinggi

dan risiko yang dirasakan atas produk atau jasa yang memiliki fasilitas publik.

a. Persepsi

Persepsi adalah proses individu untuk mendapatkan, mengorganisasi,

mengolah, dan menginterpretasikan informasi. Informasi yang sama

bisa dipersepsikan berbeda oleh individu yang berbeda (Sangadji dan

Sopiah, 2013: 42).

b. Keluarga

Menurut Schiffman dan Kanuk (dalam Simamora, 2003: 7) keluarga

adalah dua atau lebih orang yang dipersatukan oleh hubungan darah,

pernikahan atau adopsi, yang hidup bersama.

c. Motivasi dan Keterlibatan

Menurut Sumarwan (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 42) motivasi

muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen.

Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan

ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan

dan yang sesungguhnya dirasakan.

d. Pengetahuan

Menurut Engel (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 43) pengetahuan

dapat didefinisikan sebagai informasi yang disimpan di dalam ingatan.

Himpunan bagian dari informasi total yang relevan dengan fungsi

(9)

e. Sikap

Sikap merupakan kecendrungan faktor motivasional yang belum

menjadi tindakan. Sikap merupakan hasil belajar. Sikap merupakan

nilai yang bervariasi (suka-tidak suka). Sikap ditujukan kepada suatu

objek, bisa personal atau nonpersonal (Sangadji dan Sopiah, 2013: 44).

f. Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses yang dilakukan secara sadar yang

berdampak terhadap adanya perubahan kognitif, afektif, dan

psikomotor secara konsisten dan relatif permanen. Pembelajaran

terjadi ketika konsumen berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan

(Sangadji dan Sopiah, 2013: 45).

g. Kelompok Usia

Usia memengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan.

Anak-anak mengambil keputusan dengan cepat, cenderung tidak terlalu

banyak pertimbangan. Ketika membuat keputusan, remaja sudah

mempertimbangkan berbagai hal (Sangadji dan Sopiah, 2013: 46).

h. Gaya Hidup

Gaya hidup didefinisikan sebagai “bagaimana seseorang hidup”, gaya

hidup juga berlaku bagi: individu (perorangan), sekelompok kecil

orang yang berinteraksi dan kelompok orang yang lebih besar, seperti

segmen pasar (Limakrisna dan Supranto, 2007: 145).

2. Faktor Eksternal

Faktor Eksternal terdiri atas budaya, kelas sosial, dan keanggotaan dalam

(10)

a. Budaya

Budaya merupakan variabel yang memengaruhi perilaku konsumen

yang tercermin dari hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan

akan bermacam-macam barang dan jasa yang ditawarkan (Sangadji

dan Sopiah, 2013: 47).

b. Kelas Sosial

Kelas sosial didefinisikan sebagai pembagian anggota-anggota

masyarakat ke dalam suatu hirarki kelas-kelas status yang berbeda,

sehingga anggota dari setiap yang relatif sama mempunyai kesamaan

(Suryani, 2008: 263).

c. Keanggotaan dalam suatu kelompok (group membership)

Setiap orang akan bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu.

Alasan bergabungnya individu dengan suatu kelompok bisa

bermacam-macam, misalnya karena ada kesamaan hobi, profesi,

pendidikan, suku, etnis, budaya, agama, bangsa, dan lain-lain. Suatu

kelompok akan memengaruhi perilaku anggotanya, termasuk dalam

proses pengambilan keputusan pembelian produk (Sangadji dan

Sopiah, 2013: 49).

3. Faktor Situasional

Menurut Engel (dalam Sangadji dan Sopiah, 2013: 49), Situasi dapat

dipandang sebagai pengaruh yang timbul dari faktor yang khusus untuk waktu

dan tempat yang spesifik yang lepas dari karakteristik konsumen dan karakteristik

(11)

2.3 Store Atmosphere

2.3.1 Pengertian Store Atmosphere

Menurut Mowen dan Minor (2002: 139), Atmospherics adalah istilah yang

lebih umum digunakan daripada tata ruang toko; atmospherics berhubungan dengan bagaimana para manajer dapat memanipulasi desain bangunan, ruang

interior, tata ruang lorong-lorong, tekstur karpet dan dinding, bau, warna, bentuk,

dan suara yang dialami para pelanggan (semuanya untuk mencapai pengaruh

tertentu). Unsur-unsur ini disatukan dalam definisi yang dikembangkan oleh

Philip Kotler, yang menggambarkan atmospherics sebagai usaha merancang lingkungan membeli untuk menghasilkan pengaruh emosional khusus kepada

pembeli yang kemungkinan meningkatkan pembeliannya.

Menurut Sunyoto (2015: 211), “Store Atmosphere adalah konsep serta ide-ide kreatif pengelolaan yang mengintegrasikan desain interior, pilihan barang,

konsep toko dan strategi penjualan barang yang menghadirkan suasana belanja

yang nyaman dan menyenangkan”. Suasana toko sengaja diciptakan oleh pelaku

usaha untuk memberikan kenyamanan berbelanja kepada pengunjung. Simamora

(2003: 169) mengemukakan bahwa “Atmosfer toko adalah keseluruhan efek

emosional yang diciptakan oleh atribut fisik toko. Pada umumnya, setiap orang

akan lebih tertarik pada toko yang dapat menawarkan lingkungan berbelanja yang

aman dan nyaman”.

Store Atmosphere sebagai salah satu bagian dari bauran ritel merupakan hal yang perlu diperhatikan oleh setiap pelaku usaha. Dengan memperhatikan

(12)

Pengertian store atmosphere menurut Berman dan Evan (2007: 454) adalah “Atmosphere refers to the store’s physical characteristics that project an image

and draw customer” (Suasana mengacu karakteristik fisik toko yang memproyeksikan gambar dan menarik pelanggan).

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa store atmosphere (suasana toko) adalah atribut fisik toko seperti desain bangunan, ruang interior, tata ruang lorong-lorong, tekstur karpet dan dinding, bau, warna,

bentuk, dan suara baik di dalam ruangan toko (indoor) maupun yang ada di luar

ruangan toko (outdoor) yang sengaja diciptakan. Dengan adanya penciptaan store

atmosphere yang baik maka dapat menarik hasrat pengunjung untuk melakukan pembelian dan menghabiskan waktu berlama-lama karena memberikan suasana

berbelanja yang nyaman dan menyenangkan.

2.3.2 Tujuan Store Atmosphere

Menurut Lamb & McDaniel (2001: 105) tujuan dari store atmosphere (suasana toko) adalah sebagai berikut:

a. Penampilan eceran toko membantu menentukan citra toko, dan

memposisikan eceran toko, dan jati diri toko yang nantinya dapat

menciptakan ketertarikan dari konsumen dan tertanam dalam benak

konsumen.

b. Tata letak toko yang efektif tidak hanya akan menjamin kenyamanan dan

kemudahan, melainkan juga mempunyai pengaruh yang besar pada pola

(13)

2.3.3 Cakupan Store Atmosphere

Cakupan strategi Store atmosphere dikelompokkan menjadi Instore dan Outstore. “Store atmosphere bisa dipahami sebagai penataan ruang dalam (Instore) dan ruang luar (Outstore) yang dapat menciptakan kenyamanan bagi

pelanggan” (Berman dan Evan, 2007: 456).

1. Instore Atmosphere

Instore Atmosphere adalah pengaturan-pengaturan di dalam ruangan yang menyangkut:

a. Internal Layout merupakan pengaturan dari berbagai fasilitas dalam ruangan yang terdiri dari tata letak meja kursi pengunjung, tata letak meja

kasir, dan tata letak lampu, pendinginan ruangan, dan sound.

b. Suara merupakan keseluruhan alunan suara yang dihadirkan dalam

ruangan untuk menciptakan kesan rileks yang terdiri dari live music yang

disajikan restoran dan alunan suara musik dari sound system.

c. Bau merupakan aroma-aroma yang dihadirkan dalam ruangan untuk

menciptakan selera makan yang timbul dari aroma makanan dan

minuman, aroma yang ditimbulkan oleh pewangi ruangan.

d. Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan untuk

meja dan kursi dalam ruangan dan dinding ruangan.

e. Desain interior bangunan adalah penataan ruang-ruang dalam restoran,

kesesuaian meliputi kesesuaian luas ruang pengunjung dengan ruas jalan

(14)

2. Outstore Atmosphere

Outstore Atmosphere adalah pengaturan-pengaturan di luar ruangan yang menyangkut:

a. External Layout yaitu pengaturan tata letak berbagai fasilitas restoran diluar ruangan yang meliputi tata letak parkir pengunjung, tata letak papan

nama, dan lokasi.

b. Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan

bangunan maupun fasilitas di luar ruangan yang meliputi tekstur dinding

bangunan luar ruangan dan tekstur papan nama luar ruangan.

c. Desain eksterior bangunan merupakan penataan ruangan-ruangan luar

restoran meliputi desain papan nama luar ruangan, penampilan pintu

masuk, bentuk bangunan dilihat dari luar, dan sistem pencahanyaan luar

ruangan.

2.3.4 Elemen Store Atmosphere

Menurut Berman dan Evans (2007: 604), “Atmosphere can be divided into several elements: exterior, general interior, store layout, and displays.” Elemen Store Atmosphere ini meliputi: bagian luar toko, bagian dalam toko, tata letak ruangan, dan panjangan (interior point of interest display), akan dijelaskan

lebih lanjut dibawah ini:

1. Exterior (bagian luar toko)

Exterior adalah desain bagian paling luar. Exterior ini biasanya memberikan kesan pertama terhadap toko, karena bagian ini adalah yang pertama

(15)

Karakteristik exterior mempunyai pangaruh yang kuat pada citra toko tersebut, sehingga harus direncanakan dengan sebaik mungkin. Kombinasi dari

exterior ini dapat membuat bagian luar toko menjadi terlihat unik, menarik, menonjol, dan mengundang orang untuk masuk kedalam toko. Elemen-elemen

exterior ini terdiri dari sub elemen-sub elemen sebagai berikut: a. Storefront (Bagian Muka Toko)

Bagian muka atau depan toko meliputi kombinasi papan nama, pintu

masuk, dan kostruksi bangunan. Store front harus mencerminkan keunikan, kemantapan, kekokohan atau hal-hal lain yang sesuai dengan

citra toko tersebut. Khususnya konsumen yang baru sering menilai toko

dari penampilan luarnya terlebih dahulu sehingga exterior merupakan faktor penting untuk mempengaruhi konsumen untuk mengunjungi toko.

b. Marquee (Simbol)

Marquee adalah suatu tanda digunakan untuk memegang nama atau logo suatu toko. Marquee dapat dibuat dengan teknik pewarnaan, penulisan huruf, atau penggunaan lampu neon. Marquee dapat terdiri nama atau logo

saja, atau dikombinasikan dengan slogan dan informasi lainnya. Supaya

efektif, marquee harus diletakkan diluar, terlihat berbeda, dan lebih menarik atau lebih mencolok dari pada toko lain disekitarnya.

c. Entrance (Pintu Masuk)

Pintu masuk harus direncanakan sebaik mungkin, sehingga dapat

mengundang konsumen untuk masuk ke dalam toko dan juga mengurangi

(16)

d. Display Window (Tampilan Jendela)

Tujuan dari display window adalah untuk mengidentifikasikan toko dengan memajang barang-barang yang mencerminkan keunikan toko

tersebut sehingga dapat menarik konsumen masuk. Dalam membuat

jendela pajangan yang baik harus dipertimbangkan ukuran jendela, jumlah

barang yang dipajang, warna, bentuk, dan frekuensi penggantiannya.

e. Height and Size Building (Tinggi dan Ukuran Gedung)

Dapat memengaruhi kesan tertentu terhadap toko tersebut. Misalnya,

tinggi langit-langit toko dapat membuat ruangan seolah-olah lebih luas.

f. Uniqueness (Keunikan)

Keunikan suatu toko bisa dihasilkan dari desain bangunan toko yang lain

daripada yang lain.

g. Surrounding Area (Lingkungan Sekitar)

Keadaan lingkungan masyarakat dimana suatu toko berada, dapat

mempengaruhi suatu toko. Jika toko lain yang berdekatan memiliki citra

tersebut.

h. Parking (Tempat Parkir)

Tempat parkir merupakan hal yang penting bagi konsumen. Jika tempat

parkir luas, aman, dan mempunyai jarak yang dekat dengan toko akan

menciptakan atmosphere yang positif bagi toko tersebut.

2. General Interior (bagian dalam toko)

(17)

suatu toko harus dirancang untuk memaksimalkan visual merchandising. Display

yang baik yaitu yang mendapat menarik perhatian pengunjung dan membantu

mereka agar mudah mengamati, memeriksa, dan memilih barang dan akhirnya

malakukan pembelian. Ada banyak hal yang akan mempengaruhi persepsi

konsumen pada toko tersebut. Elemen-elemen general interior terdiri dari:

a. Flooring (Lantai)

Penentuan jenis lantai, ukuran, desain dan warna lantai sangat penting,

karena konsumen dapat mengembangkan persepsi mereka berdasarkan apa

yang mereka lihat.

b. Color and Lightening (Warna dan Pencahayaan)

Setiap toko harus mempunyai pencahayaan yang cukup untuk

mengarahkan atau menarik perhatian konsumen ke daerah tertentu dari

toko. Konsumen yang berkunjung akan tertarik pada sesuatu yang paling

terang yang berada dalam pandangan mereka. Tata cahaya yang baik

mempunyai kualitas dan warna yang dapat membuat suasana yang

ditawarkan terlihat lebih menarik, terlihat berbeda bila dibandingkan

dengan keadaan yang sebenarnya.

c. Scent and Sound ( Aroma dan Musik)

Tidak semua toko memberikan pelayanan ini, tetapi jika layanan ini

dilakukan akan memberikan suasana yang lebih santai pada konsumen,

khususnya konsumen yang ingin menikmati suasana yang santai dengan

menghilangkan kejenuhan, kebosanan, maupun stress sambil menikmati

(18)

d. Fixture (Penempatan)

Memilih peralatan pengunjung dan cara penempatan meja harus dilakukan

dengan baik agar didapat hasil yang sesuai dengan keinginan. Karena

penempatan meja yang sesuai dan nyaman dapat menciptakan image yang

berbeda pula.

e. Wall Texture (Tekstur Tembok)

Tekstur dinding yang menimbulkan kesan tertentu pada konsumen dan

dapat membuat dinding terlihat lebih menarik.

f. Temperature (Suhu Udara)

Pengelola toko harus mengatur suhu udara, agar udara dalam ruangan

jangan terlalu panas atau dingin.

g. Width of Aisles (Lebar Gang)

Jarak antara meja dan kursi harus diatur sedemikian rupa agar konsumen

merasa nyaman dan betah berada di toko.

h. Dead Area

Dead Area merupakan ruang di dalam toko dimana display yang normal tidak bisa diterapkan karena akan terasa janggal. Misal: Pintu masuk,

toilet, dan sudut ruangan.

i. Personel (Pramusaji)

Pramusaji yang sopan, ramah, berpenampilan menarik, cepat dan tanggap

akan menciptakan citra perusahaan dan loyalitas konsumen.

j. Service Level

(19)

k. Price (Harga)

Pemberian harga bisa dicantumkan pada daftar menu yang diberikan agar

konsumen dapat mengetahui harga dari makanan tersebut.

l. Cash Refisier (Kasir)

Pengelola toko harus memutuskan penempatan lokasi kasir yang mudah

dijangkau oleh konsumen.

m. Technology Modernization (Teknologi)

Pengelola toko harus dapat melayani konsumen secanggih mungkin.

Misalnya dalam proses pembayaran harus dibuat secanggih mungkin dan

cepat, baik pembayaran secara tunai atau menggunakan pembayaran cara

lain, seperti kartu kredit atau debet.

n. Cleanliness (Kebersihan)

Kebersihan dapat menjadi pertimbangan utama bagi konsumen untuk

makan di tempat tersebut.

3. Layout Ruangan (Tata Letak Toko)

Store Layout adalah pengelolaan dalam hal penentuan lokasi dan fasilitas restoran. Pengelola toko harus mempunyai rencana dalam penentuan lokasi dan

fasilitas toko.Pengelola toko juga harus memanfaatkan ruangan toko yang

ada seefektif mungkin. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang layout adalah sebagai berikut:

a. Allocation of floor space for selling, personnel, and customers. Dalam suatu toko, ruangan yang ada harus dialokasikan untuk:

(20)

Ruangan untuk menempatkan dan tempat berinteraksi antara konsumen

dan pramusaji.

b) Personnel Space (Ruangan Pegawai)

Ruangan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan pramusaji seperti

tempat beristirahat atau makan .

c) Customers Space (Ruangan Pelanggan)

Ruangan yang disediakan untuk meningkatkan kenyamanan konsumen

seperti toilet, ruang tunggu.

b. Traffic Flow (Arus Lalu Lintas)

Macam-macam penentuan arus lalu lintas toko, yaitu:

a) Grind Layout (Pola Lurus)

Penempatan Fixture dalam satu lorong utama yang panjang.

b) Loop/Racetrack Layout (Pola Memutar)

Terdiri dari gang yang utama yang dimulai dari pintu masuk, mengelilingi

seluruh ruangan, dan biasanya berbentuk lingkaran atau persegi,

kemudiankembalike pintu masuk.

c) Spine Layout (Pola Berlawanan Arah)

Pada spine la yout gang utama terbentang dari depan sampai belakang toko, membawa pengunjung dalam dua arah.

d) Free-flow Layout (Pola Arus Bebas)

Pola yang paling sederhana dimana barang-barang diletakkan dengan

(21)

4. Display (Dekorasi Pemikat Dalam Toko)

Display adalah suatu dekorasi yang dapat menjadi ciri khas dan dapat memikat konsumen. Display mempunyai dua tujuan, yaitu memberikan informasi

kepada konsumen dan menambah store atmosphere, hal ini dapat meningkatkan penjualan dan laba toko. Interior point of interest display terdiri dari:

1. Theme Setting Display (Dekorasi Sesuai Tema)

Dalam suatu musim tertentu retailer dapat mendisain dekorasi toko atau meminta pramusaji berpakaian sesuai tema tertentu.

2. Wall Decoration (Dekorasi Ruangan)

Dekorasi ruangan pada tembok bisa merupakan kombinasi dari gambar

atau poster yang ditempel, warna tembok, dan sebagainya yang dapat

meningkatkan suasana toko.

2.4 Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian

Keputusan pembelian secara sadar dilakukan oleh konsumen. Ini sesuai

dengan teori yang sudah dipaparkan sebelumya. Konsumen yang mengetahui

kebutuhan dan keinginannya mulai mencari berbagai informasi terkait hal tersebut

baik melalui internet, keluarga, dan sebagainya. Konsumen mengevaluasi

beberapa pilihan alternatif dan melakukan keputusan pembelian yang tentunya

dapat memenuhi kebutuhan dan keinginannya.

Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan bagi setiap konsumen dalam

mengambil keputusan pembelian, mulai dari harga, lokasi yang mudah dijangkau,

dan yang tidak kalah menjadi perhatian yaitu suasana yang membuatnya nyaman

dalam melakukan pembelian tersebut. Hal serupa juga disampaikan oleh Levy &

(22)

is also influenced by the store atmosphere “ yang artinya perilaku pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh suasana toko.

Store Atmosphere merupakan karakteristik atau atribut toko baik yang ada di dalam ruangan maupun di luar ruangan. Cakupannya cukup luas yaitu tata letak

fasilitas, musik, pencahayaan, bau, dan lain sebagainya. Karakteristik ini

berkaitan dengan kelima panca indera manusia karena memang semuanya

ditujukan untuk menghasilkan pengaruh emosional khusus kepada pembeli yang

kemungkinan meningkatkan pembeliannya. Indra penglihatan adalah indra yang

memberikan informasi lebih banyak dari indra-indra lainnya, melihat bentuk

tempat berbelanja yang unik dan berbeda akan memberikan pesan bagi konsumen.

Begitupun dengan indra pendengaran, alunan musik dapat menarik perhatian

konsumen dan memberikan suasana yang menyenangkan, sedangkan indra

penciuman dengan memberikan aroma yang pas akan memberikan kenyamanan

bagi konsumen. Indra peraba dan perasa dimana konsumen dapat melakukan

inspeksi terhadap produk yang ada.

Penciptaan store atmosphere yang baik dapat menarik perhatian orang-orang yang melihatnya, dan mendorong tindakan pembelian atau membangkitkan

niat untuk membeli di benak konsumen. Suasana yang nyaman dan

menyenangkan merangsang konsumen untuk berlama-lama di dalam toko dan

meningkatkan pembelian.

2.5 Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian terdahulu yang mendukung dan menjadi referensi

(23)

1. Achmad Indra Widyanto (Universitas Brawijaya, 2014) melakukan

penelitian dengan judul penelitian “Pengaruh Store Atmosphere Frans

Kristanto (Universitas Sumatera Utara, 2014) telah melakukan

penelitian dengan topik yang berkaitan yaitu skripsi dengan judul

penelitian “Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Pada Next Salon For Men Medan”. Adapun hasil regresi linear

sederhana dari penelitian ini adalah bahwa apabila store atmosphere dinaikkan satu kali atau 100% maka akan diikuti oleh keputusan

pembelian konsumen yang meningkat sebesar 0.605. Berdasarkan

perhitungan dengan koefisien determinan, didapatkan suatu kesimpulan

bahwa besarnya pengaruh store atmosphere terhadap keputusan pembelian pada Next Salon For Men Medan adalah sebesar 70.6%

sedangkan sisanya 29.4% dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari

penelitian ini.

2. Terhadap Keputusan Pembelian (Survei pada Konsumen Distro Planet

Surf Mall Olympic Garden kota Malang)”. Penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui pengaruh variabel exterior, general interior, store layout, dan interior display yang merupakan elemen store atmosphere terhadap keputusan pembelian secara bersama-sama maupun secara

parsial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang

signifikan antara exterior, general interior, store layout, dan interior display secara bersama-sama terhadap keputusan pembelian dengan nilai F hitung = 23,2 15 dan nilai signifikan = 0,000. Variabel yang

(24)

3. Hadi Rubiayanti Dewi (Universitas Widyatama, 2004) melakukan

penelitian yang berjudul “Pengaruh store atmosphere terhadap keputusan pembelian pada China Emporium Factory Outlet Bandung”.

Berdasarkan perhitungan dengan koefisien determinan, didapatkan

suatu kesimpulan bahwa besarnya pengaruh store atmosphere terhadap

keputusan pembelian pada China Emporium Factory Outlet Bandung

Medan adalah sebesar 28% sedangkan sisanya 78% dipengaruhi oleh

faktor lain diluar dari penelitian ini. Sedangkan besar dari pada ttabel

sebesar 1,663. Maka angka ini berada di daerah penolakan H0. Dengan

demikian hipotesis yang diajukan penulis, yaitu : “store atmosphere

yang menyenangkan berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian

konsumen”, dapat diterima.

4. Immanuel Adimas Gilang Santosa (Universitas Diponegoro, 2014)

telah melakukakan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Store

Atmosphere Dan Kualitas Layanan Toko Terhadap Minat Beli Konsumen (Studi Kasus Pada Toko Buku Toga Mas Bangkong

Semarang)”. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode survei

melalui kuesioner yang diisi oleh konsumen. Analisis data

menggunakan alat analisis uji regresi berganda yang didahului

dengan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, uji

multikolinearitas, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian hipotesa

dilakukan dengan menggunakan uji F dan uji t. Hasil analisis data atau

(25)

koefisien determinasi (adjusted R square) adalah sebesar 0,493. Hal

ini berarti bahwa 49,3% variabel dependen yaitu minat beli konsumen

dapat dijelaskan oleh dua variabel independen yaitu variabel store

atmosphere dan kualitas layanan toko, sedangkan sisanya 50,7 %

minat beli dijelaskan oleh variabel atau sebab -sebab lainnya di luar

model.

5. Suci Annisaa Fitrieyanti Harahap (Universitas Sumatera Utara, 2015)

melakukan penelitian dengan judul penelitian “Pengaruh Store

Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Pada Outlet Tivona International Fragrance Cabang Pasar Merah Medan” dimana Suci

Annisaa Fitrieyanti Harahap membagi store atmosphere menjadi dua bagian yaitu: instore atmosphere dan outstore atmosphere, dari hasil pembagian tersebut didapat kesimpulan bawa instore atmosphere lebih

memengaruhi keputusan pembelian konsumen dibandingkan outstore atmosphere di Outlet Tivona International Fragrance Cabang Pasar Merah Medan.

2.6 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual bertujuan untuk mengemukakan objek penelitian

secara umum dalam bentuk kerangka variabel yang akan diteliti. Pada penelitian

ini terdapat dua variabel yang menjadi variabel penelitian yaitu: variabel store atmosphere sebagai variabel independen/variabel bebas (X) dan variabel keputusan pembelian sebagai variabel dependen/variabel terikat (Y). konsep

(26)

Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan diatas, maka kerangka

konseptual penelitian ini secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.2 Kerangka Konseptual

Sumber : Konsep yang dikembangkan dalam penelitian ini, 2016 Store Atmosphere

(X)

Gambar

Gambar 2.1 Skema Pengambilan Keputusan Konsumen
Gambar 2.2  Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian membuktikan bahwa keempat variabel store atmosphere yang terdiri dari general exterior, general interior, store layout, dan interior display

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “ Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Chirurgie

Hasil penelitian ini terdapat pengaruh store atmosphere terhadap keputusan pembelian dan pada aspek interior point of interest display memiliki pengaruh paling

Pengaruh Store Atmosphere Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Chirurgie Cafe and Books Medan.. Nama : Melin

Dari hasil perhitungan regresi linear sederhana di atas, diperoleh bahwa apabila store atmosphere konstan, maka ada keputusan pembelian sebesar 6.158 dan apabila

Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Store atmosphere yang terdiri dari exterior, general interior, store layout, dan display berpengaruh

Pengaruh variabel store atmosphere yang teridiri dari: exterior, general interior, store layout, dan interior display secara simultan berpengaruh terhadap kepuasan konsumen

Indikator Keputusan Pembelian N o Indikator 1 Exterior Bagian Luar 2 General Interior Bagian dalam 3 Store Layout Tata letak 4 Interior Display Tampilan dalam ruangan 2 Harga X2