J RNA
MH M
• Timothy L. H. McCormack
ITE
Sixty Years from Nuremberg: What Progress for International Criminal Law?
• Michael Cottier
War Crimes in International Law: An Introduction
• Natsri Anshari
Tanggung-jawab Komando menurut Hukum International dan Hukum Nasional Indonesia
• Harkristuti Harkrisnowo
Kejahatan Berat dan Hukum Humaniter
• Rina Rusman
Kejahatan Perang dan Beberapa Rumusannya dalam Hukum Pidana Nasional
• Heru Cahyono
Kejahatan Perang yang Diatur dalam Hukum International dan Hukum Nasional
• Konvensi Den Haag 1907
• Pasal-pasal tentang Kejahatan Perang
(
War Crimes)
Ditert>itkan oleh:
PUSAT STUDI HUKUM MUMANITER DAN HAM OerllJ FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS TRISAKTI
Diterbitkan atas kerja sama dengan:
Komite lnternasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross)
ICRC
JURNAL HUKUM HUMANITER
Diterbitkan oleh Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terls) Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta
Pen a n g g u ng -jawab : Rektor Universitas Trisakti
Prof Dr. Thoby Mutis Dewan Redaksi Kehormata n :
Prof KGPH. Haryomataram, S.H.
Prof Timothy L. H. McCormack Prof Dr. F. Sugeng /stanto, S.H.
Prof Or. Andi Hamzah, S.H.
Michael Cottier, LL. M.
Brigjen. TN/ (Pum) PL T. Sihombing, S.H., LL.M.
Kol. Chk. Natsri Anshari, S.H., LL.M. Rudi M. Rizki, S.H., LL.M.
Pemimpin Reda ksi
Arlina Permanasari, S.H., M.H. A n g g ota Reda ksi : Andrey Sujatmoko, S.H., M.H. Aji Wibowo, S.H., M.H. Kushartoyo Budisantosa, S.H., M.H. Amalia Zuhra, S.H., LL.M. Jun Justinar, S.H., M.H. Sekretariat: Ade A/fay Alfinur, S. Sos.
Supriyadi, S. E.
Andi Setiawan, A. Md.
Alamat Reda ksi :
Pusat Studi Hukum Humaniter dan HAM (terls) FH-USAKTI JI. Kyai Tapa No. 1 Gedung H Lt. 5
Kampus A Grogol Jakarta 11440 Tlp./Faks.: (021) 563-7747 E-mail: [email protected]
EDITORIAL ii
EDITORIAL Para pem baca yang kami hormati ,
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu Wata'ala karena berkat rahmatNya jualah maka J U RNAL H U KUM H UMANITER ini dapat hadir di tangan para pembaca semua. Jurnal ini merupakan jurnal yang pertama kali terbit di tanah air, secara khusus mengulas berbagai masalah hukum humaniter, dan akan terbit setiap enam bulan sekali.
Penerbitan j u rnal ini d imaksudkan sebagai wahana bagi semua lapisan masyarakat, baik dari kalangan militer, aparat penegak h ukum, birokrat, LSM, akademisi, mahasiswa , maupun kalangan lainnya yang ingin mengetahui secara lebih mendalam mengenai seluk-beluk hukum humaniter. Di samping itu, konflik-konflik yang terjadi di berbagai wilayah Republik Indonesia dalam dekade terakhir juga menjadi pertimbangan lain bagi diterbitkannya jurnal ini.
Pada ed isi perdana ini, topik utama J U RNAL H U KUM H UMAN ITER adalah
tentang "kejahatan perang" (war crimes). Kejahatan perang merupakan
salah satu tindak pidana yang belum sepenuhnya diakomodasikan ke dalam aturan h ukum nasional I ndonesia. Oleh karena itu, sejara h dan praktik prakti k negara serta beberapa substansi dasar dari peraturan-peraturan mengenai tindak pidana kejahatan perang akan dikemukakan dalam artikel artikel utama dan pend ukung . Tidak hanya itu, pemaparan h ukum nasional serta upaya-u paya yang telah dilakukan khususnya dalam Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana Nasional juga akan ditampilkan guna melengkapi edisi kali ini.
Di samping materi pokok tersebut, d isertakan pula " Kolom" yang pada edisi ka li ini berisikan tentang Konvensi Den Haag IV ( 1 907) yang mengatur mengenai hukum dan kebiasaan berperang di darat. Pemilihan materi ini sengaja dila kukan mengingat urgensi Konvensi ini yang sudah menjadi hukum kebiasaan internasional dan berlaku bagi semua negara serta merupakan aturan penting dalam hal pengaturan alat dan cara berperang yang masih relevan dan berlaku pada saat ini.
Atas diterbitka nnya jurnal ini, kami mengucapkan terima kasih kepada
International Committee of the Red Cross (ICRC) yang memiliki komitmen tinggi dalam upaya mengembangkan hukum humaniter di I ndonesia dengan mendukung penerbitan jurnal ini.
Akhir kata , ka mi berharap semoga penerbitan jurrnal ini dapat memenuhi kebutuhan dan keingintahuan yang mendalam terhadap h ukum humaniter. U ntuk itu, kami dengan segala kerendahan hati akan menerima segala kritik maupun saran-saran yang konstruktif bagi penyempurnaan j u rnal ini di masa datang.
Redaksi
DAFTAR ISi
him.
Artikel
1 . Timothy L. H . McCormack
Sixty Years from Nuremberg: What Progress for
Internatio-nal CrimiInternatio-nal Law? . . . 1
2. Michael Cottier
War Crimes in International Law: An Introduction . . . . . . . . . .. 2 1 3. Natsri Anshari
Tanggung-jawab Komando menurut H ukum lnternasional
dan Hukum Nasional Indonesia . . . 45
4. Harkristuti Harkrisnowo
Kejahatan Berat dan Hukum Hu ma niter . . . . 90 5. Rina Rusman
Kejahatan Perang dan Beberapa Rumusannya dalam
Hu-kum Pidana Nasional . . . 1 00
6. Heru Cahyono
Kejahatan Perang yang Diatur dalam H ukum l nternasional
dan Hukum Nasional . . . 1 21 Kolom
1 . Kejahatan Perang (War Crimes) dalam Berbagai l nstrumen
H ukum l nternasional . .. . .. . . .. .. . . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 57
2. Konvensi Den Haag 1 907 tentang Alat dan Cara Berperang 1 70 3. Terjemahan Konvensi Den Haag IV 1 907 tentang H ukum
dan Kebiasaan Perang di Darat . . . 1 84 4. Teks Konvensi Den Haag IV 1 907 dan Lampira nnya (dalam
bahasa lnggris) .. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 98 iii
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 70
l:l KONVENSI DEN HAAG 1 907 MENGENAI ALAT DAN CARA BERPERANG
A. Konferensi Perdamaian dan Konvensi Den Haag 1 907
Salah satu ketentuan hukum yang sangat penting dalam hukum humaniter adalah hukum yang mengatur tentang alat (means) dan cara (methods) berperang sebagaimana yang diatur di dalam Konvensi Den Haag tahun 1 899 dan 1 907. Konvensi terse but merupakan hasil dari Konferensi Perdamaian I (First Peace Conference) yang diselenggarakan selama d ua bulan (dibuka tanggal 20 Mei 1 899) dan Konferensi Perdamaian II (Second Peace Conference) yang diselenggarakan pada tanggal 1 5 Juni-1 8 Oktober Juni-1 907. Kedua konferensi tersebut diadakan di Den Haag, Beland a.
Berkaitan dengan Konferensi Perdamaian I, pada tahun 1 898, Menlu •
Rusia, Count Mouravieff, mengedarkan surat kepada semua kepala perwakilan negara yang diakreditir di St. Petersburg , berisikan ajakan Maharaja Rusia untuk berusaha mempertahankan perdamaian dunia dan mengurangi persenjataan. Dengan demikian, maka tujuan konferensi tersebut adalah dalam bidang perlucutan senjata (disarmament) dalam rangka menegakan perdamaian dunia. Konferensi diakhiri dengan disetujuinya suatu Final Act. 1
Gagasan pertama untuk mengadakan Konferensi Perdamaian I I tersebut di atas datang dari Menlu Amerika Serikat, Hon. John Hay, yang pada 21 Oktober 1 904 membuat surat edaran yang ditujukan kepada wakil wakil Amerika Serikat yang diakreditir di negara-negara yang telah meratifikasi Final Act tahun 1 899. 2 Pada waktu itu Rusia sedang berperang 1 GPH. Haryomataram ( 1 ) , Sekelumit tentang Hukum Humaniter, Surakarta: Sebelas Maret
University Press, 1 994, him. 1 6- 1 7 .
2 Menurut Pearce Higgins, yang dimaksud dengan Final Act adalah: "The result of the
labours of these two months were embodied in a Final Act which is not in itself a Convention, but rather a resume of the work done by the Conference and as such was signed by all the Powers present, who thus affirmed the authenticity of the record, without binding themselves to sign each of the Conventions or adhere to each of the Declarations or Wishes contained in the Act." Lihat Pearce Higgins, The Hague Peace Conferences and Other International Conferences concerning the Laws and Usages of War, Texts of
Conventions with Commentaries, London: Cambridge U niversity Press, 1 909, him. 4 1 .
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 71
melawan Jepang. Namun, Csar Rusia menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan konferensi tersebut. Setelah mendengar berita itu, Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt, mempersilakan Csar untuk bertindak sebagai penyelenggara. 3
Mengenai hasil yang dicapai, Konferensi Perdamaian I menghasilkan tiga konvensi dan tiga deklarasi, yaitu sebagai berikut:
1 . Konvensi I untuk Penyelesaian secara Damai atas Sengketa-sengketa lnternasional (Convention for the Settlement of International Disputes); 2. Konvensi I I mengenai H ukum dan Kebiasaan Perang di Darat
( Convention respecting the Laws and Customs of War on Land);
3. Konvensi I l l mengenai Adaptasi Prinsip-prinsip Konvensi J enewa 22 Agustus 1 864 untuk Perang di Laut (Conventions for the Adaptations to the Maritime Warfare of the Principles of the Geneva Convention of the 22"d August 1 864)
Adapun tiga deklarasi yang dihasilkan mengatur hal-hal sebagai berikut:
1 . Melarang peluncuran proyektil-proyektil dan bahan-bahan peledak dari balon atau dengan metode baru lainnya yang sama ( To prohibit the discharge of projectiles and explosives from balloons or by other similar new methods);
2. Melarang penggunaan proyektil-proyektil yang menyebabkan gas cekik dan gas beracun ( To prohibit the use of projectiles, the object to which is the diffusion of asphyxiating or deleterious gases);
3. Melarang penggunaan peluru-peluru dum-dum, yaitu peluru-peluru yang bungkusnya tidak sempurna menutupi bagian dalam sehingga dapat dengan mudah pecah dan membesar dalam tubuh manusia ( To prohibit the use of bullets which expand or flatten easily in the human body, such as bullets with a hard envelope, of which the envelope does not entirely cover the core, or is pierced with incisions).
Menurut Final Act, dari Konferensi Perdamaian I I ini telah dihasilkan 1 3 konvensi dan satu deklarasi, yaitu sebagai berikut:
3 GPH. Haryomataram ( 1 ). op. cit. , him. 1 8- 1 9 .
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 72
1 . Konvensi I untuk Penyelesaian secara Damai atas Sengketa-sengketa lnternasional (Convention for the Settlement of International Disputes); 2. Konvensi I I mengenai Pembatasan Penggunaan Kekerasan untuk
Pengembalian Hutang-piutang yang Timbul dari Kontrak (Convention respecting the Limitation of the Employment of Force for the Recovery of
Contract Debts);
3. Konvensi I l l mengenai Memulai Permusuhan (Convention relative to the Opening of Hostilities) ;
4. Konvensi IV mengenai Hukum dan Kebiasaan Perang di Darat (Convention respecting the Laws and Customs of War on Land);
5. Konvensi V mengenai Hak dan Kewajiban Negara dan Orang Netral dalam Perang di Darat (Convention respecting the Rights and Duties of Neutral Powers and Persons in Case of War on Land) ;
6. Konvensi VI mengenai Status Kapal Dagang Musuh pada Saat Terjadinya Permusuhan (Convention relative to the Status of Enemy Merchant-Ships at the Outbreak of Hostilities);
7. Konvensi VI I mengenai Perubahan Kapal Dagang menjadi Kapal Perang (Convention relative to the Conversion of Merchant-Ships into Warships); 8. Konvensi VI I I mengenai Penempatan Ranjau Sentuh Kapal Selam
Otomatis (Convention relative to the Lying of Automatic Submarine Contact Mines);
9. Konvensi IX mengenai Pengeboman oleh Angkatan Laut di Waktu Perang (Convention respecting Bombardment by Naval Forces in Time of Wa0;
1 0. Konvensi X mengenai Pengadapatasian Prinsip-prinsip Konvensi Jenewa untuk Perang di Laut (Conventions for the Adaptations of the Principles of the Geneva Convention to Maritime War);
1 1 . Konvensi XI mengenai Pembatasan Tertentu tentang Pelaksanaan dari Hak Orang yang Tertangkap dalam Perang di Laut (Convention relative to Certain Restriction on the Exercise of the Right of capture in Maritime Wa0;
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 73
1 2. Konvensi XII mengenai Pembentukan Pengadilan Barang Rampasan lnternasional (Convention relative to the Establishment of an International Prize Court);
1 3. Konvensi XIII mengenai Hak dan Kewajiban Negara Netral dalam Perang di Laut ( Convention respecting the Rights and Duties of Neutral Powers in Maritime Wary;
1 4. Deklarasi Pelarangan Penggunaan Proyektil, dll. , dari Balon (Declaration Prohibiting Discharge of Projectiles, etc., from Baloons) .
Perlu diketahui pula bahwa Konvensi Den Haag 1 907 mulai terbuka untuk ditandatangani oleh negara-negara sejak tanggal 1 8 Oktober 1 907, mulai berlaku tanggal 26 Januari 1 91 0, dengan negara penyimpan (depository state) Konvensi yaitu Belanda dan teks asli Konvensi menggunakan bahasa Prancis (authentic language).4
Konvensi Den Haag IV 1 907 dimaksudkan untuk menggantikan Konvensi Den Haag I I 1 899. Namun, dari 40 negara yang telah menjadi peserta perjanjian dari Konvensi Den Haag 1 899, 1 8 negara menyatakan tidak menjadi peserta perjanjian Konvensi Den Haag 1 907 (Argentina, Bulgaria, Chile, Colombia, Ekuador, Yunani, Honduras, Italia, Korea, Montenegro, Paraguay, Persia, Peru, Serbia, Spanyol, Turki, Uruguay, Venezuela). 5
Di samping ketentuan-ketentuan di atas, Konvensi IV mengenai Hukum dan Kebiasaan Perang di Darat 1 907 memiliki bagian Lampiran (Annex) yang merupakan penjabaran dari konvensi tersebut. Lampiran tersebut selengkapnya bernama Peraturan-peraturan mengenai Hukum dan Kebiasaan Perang di Darat (Regulations respecting the Laws and Customs of War on Land) atau secara singkat disebut dengan Peraturan-peraturan Den Haag (Hague Regulations/HR). HR terdiri dari 56 pasal yang mengatur mengenai pihak yang berperang (belligerent), tawanan perang (prisoners of wary, orang yang sakit dan Iuka, mata-mata (spies), cara berhentinya permusuhan, dan wilayah pendudukan.
4 Adam Roberts dan Richard Guelff, Documents on the Laws of War, Third Edition, New
York: Oxford U niversity Press, 2000, him. 68.
5 Ibid.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai Alai dan Cara Berperang 1 74
Konvensi IV Den Haag 1 907 ini beserta Lampirannya merupakan salah satu bagian terpenting dari ketentuan hukum yang mengatur tentang alat dan cara berperang .
Dewasa ini Konvensi Den Haag 1 907, khususnya Konvensi IV beserta Lampirannya, telah memiliki status sebagai hukum kebiasaan internasional (customary international law) sehingga mengikat secara hukum bagi semua negara. Hal itu , antara lain, dinyatakan dalam putusan yang dibuat oleh Mahkamah M iliter l nternasional di Nuremberg (1 946) dan dalam laporan yang dibuat oleh Sekretaris Jenderal PBS mengenai pembentukan Mahkamah Pidana l nternasional untuk Bekas Yugosalvia ( 1 993). Hal tersebut dinyatakan oleh Adam Roberts dan Richard Guelff sebagai-berikut:6 "Two points should be noted about the applicability of 1 907 Hague Convention IV .. . (2) The application of each convention was made more complex by the inclusion of a 'general participation' clause (Article 2). However, to the extent that aspects of the Convention are considered customary international law, those aspects are binding on all states. The I nternational Military Tribunal at Nuremberg in 1 946, and a report of the UN Secretary-General to the Security Council in May 1 993 concerning the establishment of the I nternational Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia, expressly recognized 1 907 Hague Convention IV as declaratory of Customary I nternational Law . . . "
Kedua pakar di atas juga meyatakan bahwa, Konvensi Den Haag IV 1 907 yang mengatur perang di darat bukan merupakan suatu kententuan hukum yang bersifat lengkap. Apabila dalam perang ternyata terdapat hal hal yang belum diatur oleh Konvensi, maka akan tetap diatur berdasarkan hukum kebiasaan internasional. Hal tersebut dikenal dengan istilah Klausula Martens (Martens Clause) seperti yang termuat di bagian Mukadimah Konvensi IV. Hal itu diuraikan sebagai berikut: 7
6 Ibid. 7 Ibid.
"While representing a relatively comprehensive agreement on the law of land warfare, 1 907 Hague Convention IV (like 1 899 Hague Convention I I ) was not regarded as a complete code of the applicable law. What has come to be known as the Martens Clause, appearing in the Convention's Preamble, declares that cases not i ncluded in the
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 75
Regulations annexed to the Convention remain governed by customary international law relating to the conduct of warfare."
Adapun bagian Mukadimah Konvensi IV sebagaimana yang disebut di atas mengatur persoalan tersebut sebagai berikut: 8
"Until a more complete code of the laws of war has been issued, the high contracting Parties deem it expedient to declare to declare that, in cases not included in the Regulations adopted by them, the inhabitants and the belligerents remain under the protection and the rule of the principles of the law of nations, as they result from the usages and dictates of the public conscience."
Definisi kejahatan perang (war crimes) yang terdapat dalam Statuta Mahakamah Pidana l nternasional ad hoc untuk Bekas Yugoslavia dan Rwanda maupun Statuta Mahkamah Pidana lnternasional (lntemational Criminal Court/ICC) juga semakin menggemakan ketentuan-ketentuan Konvensi Den Haag IV dan Hague Regulations. 9
Dalam putusan dari International Military Tribunal di Nuremberg ( 1 946) dikatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang termuat dalam Konvensi IV telah diakui oleh seluruh bangsa dan dianggap sebagai hukum dan kebiasaan perang, dan kemudian dimasukkan ke dalam Pasal 6(b) Piagam Nuremberg . Hal itu dinyatakan sebagai berikut: 1 0
" . . . The rules of land warfare expressed in the convention undoubtedly represented as advance over existing international law at that time of their adoption. But the convention expressly stated that it was an attempt 'to revise the general laws and customs of war,' which it thus recognized to be then existing, but by 1 939 these rules laid down in the convention were recognized by all civilized ntioins, and were regarded as being declaratory of the laws and customs of war are reffered in Article 6(b) of the Charter."
Dalam tulisan ini selanjutnya akan d ijelaskan beberapa hal dari ketentuan-ketentuan dalam Konvensi Den Haag 1 907, termasuk berbagai hal yang diatur dalam Peraturan-peraturan Den Haag yang dianggap penting.
8 Lihat Mukadimah Konvensi Den Haag IV 1 907.
9 Adam Roberts dan Richard Guelff, op. cit. , him. 68. 10
Ibid. , him. 1 78.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai Alai dan Cara Berperang J 76
8. Beberapa Ketentuan Penting dalam Konvensi Den Haag IV 1 907 Ketentuan utama tentang alat dan cara berperang terdapat dalam Konvensi Den Haag IV 1 907, terutama Lapiran (Annex)-nya yang berjudul Regulations respecting the Laws and Customs of War on Land, atau sering disebut dengan Hague Regulations (Peraturan-peraturan Den Haag). Hague Regulations ini mengatur mengenai hukum dan kebiasaan perang di darat, termasuk ketentuan-ketentuan mengenai alat dan cara berperang. 1 1
Di dalam Hague Regulations (HR), antara lain, diatur tentang pihak yang berperang (belligerent). Pasal 1 HR mengatur syarat-syarat (qualifications) yang harus dipenuhi agar seseorang dapat tunduk pada hukum perang, yaitu: 1 . dipimpin oleh orang yang bertanggung-jawab atas bawahannya; 2. memakai tanda/emblem yang tetap dan dapat terlihat dari kejauhan; 3. membawa senjata secara terang-terangan ; 4. melaksanakan operasi sesuai dengan hukum dan kebiasaan perang.
Di negara-negara di mana milisi (militia) atau korps sukarela dianggap sebagai tentara (army} , atau sebagai bagian dari tentara , kelompok tersebut (milisi/korps sukarela) adalah termasuk dalam kategori tentara (Pasal 1 ayat (2) H R).
Seiri ng dengan makin banyaknya konflik bersenjata yang bersifat non-internasional yang melibatkan kelompok-kelompok bersenjata yang tidak lagi memenuhi semua kriteria di atas, maka kriteria terpenting untuk membedakan antara kombatan dengan orang sipil adalah membawa senjata secara terbuka. Sehingga jika terdapat keraguraguan apakah seseorang termasuk ke dalam golongan kombatan ataukah sebagi orang sipil, dengan terpenuhinya kriteria membawa senjata secara terbuka maka yang bersangkutan termasuk sebagai kombatan.
Golongan militer (meliputi angkatan darat, laut dan udara) dan milisi (militia) , serta korps sukarela (corps of volunteers) yang memenuhi keempat
1 1 Lihat Arlina Permanasari, et. al. , Pengantar Hukum Humaniter, Jakarta: I C RC, 1 999, hal.
62.
· Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang I 77
persyaratan tersebut di atas dinamakan dengan kombatan (combatant), yaitu orang yang turut serta secara aktif dalam permusuhan (hostilities). 12
Termasuk juga dalam golongan kombatan adalah penduduk dari suatu wilayah yang belum diduduki oleh musuh, yang secara spontan menangkat senjata pada waktu musuh mendekat, tidak mempunyai waktu untuk mengorganisasikan diri , membawa senjata secara terang-terangan dan menghormati hukum dan kebiasaan perang . Kelompok tersebut disebut dengan levee en masse (Pasal 2 HR).
Berkaitan dengan pasal di atas, secara historis Konvensi Den Haag IV 1 907 disusun dengan menggunakan pengalaman yang diperoleh dalam Perang Jerman-Prancis tahun 1 870. Dalam perang tersebut, tentara Jerman, yang menduduki (sebagian) wilayah Prancis, diganggu oleh penduduk yang mengangkat senjata, yang kemudian dikenal dengan nama franc tireurs. Mereka apabila tertangkap oleh tentara Jerman, tidak diperlakukan sebagai kombatan dan biasanya langsung dihukum mati. Juga dalam perang-perang lainnya terdapat pasukan bersenjata yang tidak teratur yang menggangu tentara pendudukan. Dalam Peace Conference tahun 1 907 terjadi perdebatan sengit antara negara-negara yang pernah diganggu oleh pasukan tidak teratur tersebut, dengan negara-negara yang pernah diduduki dan pernah menggunakan pasukan semacam itu. Perdebatan itu berakhir dengan dicapainya suatu kompromi yang kemudian dituangkan ke dalam Pasal 2 H R . Ketentuan inilah yang berlaku selama Perang Dunia I dan I I . Sampai adanya Konvensi Jenewa 1 949, pasal tersebut merupakan satu-satunya ketentuan yang mengatur apa yang sering disebut dengan lawful irregular combatant. Apa yang dikenal denga levee en masse ini kemudian semakin berkembang menjadi apa yang sekarang kita sebut dengan pasukan gerliya, dan kemudian menimbulkan istilah baru yaitu perang gerilya (guerilla warfare) . 13
Dalam Pasal 3 HR diatur apa yang dinamakan dengan kombatan (combatant) dan non-kombatan (non-combatant). Sebagaimana diketahui
1 2 GPH. Haryomataram ( 1 ), op. cit., him. 23.
13 GPH. Haryomataram (2), Hukum Humaniter, Jakarta: Rajawali, 1 984, him. 77-78.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 78
angkatan bersenjata sebagai pihak yang berperang terdiri dari kombatan dan non-kombatan yang apabila tertangkap oleh pihak musuh keduanya harus diperlakukan sebagai tawanan perang.
Agar dapat dibedakan dengan pendud uk sipil, pengertian non kombatan di sini adalah bagian/anggota dari angkatan bersenjata yang tidak ikut bertempur, misalnya anggota angkatan bersenjata yang merupakan personil medis (medical personnef) , rohaniawan (chaplain), dsb.
Mengenai tawanan perang (prisoners of war), Pasal 4 HR mengatur bahwa tawanan perang pada hakikatnya berada di bawah kekuasaan dari pemerintah pihak musuh (in the power of the hostile Government) , bukan di bawah kekuasaan individu atau kesatuan yang menang kapnya . Mereka harus diperlakukan secara manusiawi dan harta bendanya harus dilindungi. Barang-barang milik pribadi (kecuali, senjata, kuda, dan surat-surat dinas (military papers)) tetap menjadi milik tawanan perang.
Para tawanan perang tersebut dapat diinternir (interned) di suatu kota, benteng, kamp (camp), atau suatu tempat tertentu lainnya , dan mereka terikat untuk tidak berada di luar batas-batas yang telah ditentukan. Namun demikian mereka hanya dapat dibatasi sebagai suatu langkah yang sangat diperlukan bagi keselamatan, dan hanya pada saat keadaan memang mengharuskan tindakan tersebut tetap dilakukan (Pasal 5 H R) .
Berdasarkan Pasal 22 H R , ditegaskan bahwa penggunaan alat atau sarana (means) berperang oleh para pihak di dalam pertikaian bersenjata adalah tidak tak terbatas (not unlimited) . Pengaturan terhadap penggunaan senjata yang digunakan dalam berperanp ni, pada pri nsipnya dimaksudkan untuk mengurangi penderitaan yang tidak perlu (unnecessary suffering) .
Pengaturan dalam sejumlah perjanjian-perjanjian (i nternasional) tentang senjata, secara historis dikembangan dengan mengingat prinsip prinsip dasar etika berperang, yaitu :
"Treaties on weapons have developed in the light of the basic ethical principles of warfare. Thus, the St Petersburg Dcalaration of 1 868, which forbade certain types of ammunition , was primarily design to avoid u nnecessary suffering. It was followed by other instruments recognizing similar principles, such as Declaration 1 87 4. This Declaration states that 'the laws of war do not recog nize to
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 79
belligerents an unlimited power i n the adopting of means of injuring the enemy'." 14
Ketentuan yang menyangkut pembatasan terhadap penggunaan alat berperang di atas selanjutnya dirinci dalam Pasal 23 HR. Menurut pasal tersebut, para pihak yang bersengketa dilarang untuk: menggunakan senjata racun/beracun ; membunuh/melukai secara keji; membunuh/melukai musuh yang telah menyerah/meletakkan senjata; menggunakan senjata/ peluru yang menimbulkan penderitaan yang berlebihan (superfluous injury); penggunaan/perlakuan yang tidak layak terhadap bendera putih, bendera negara , tanda-tanda/seragam tentara, maupun tanda (emblem) pembeda yang diatur Konvensi Jenewa; menghancurkan/merampas harta benda musuh; menyatakan dihapuskan, ditunda, atau tidak dapat d iklaim di hadapan pengadilan hak-hak dan hak untuk bertindak dari warga negara musuh.
Penggunaan tipu muslihat (ruses of war) dan penggunaan metode yang diperlukan untuk memperoleh informasi tentang musuh dan negara (musuh) dalam peperangan adalah sah (lawfuf), jadi diperbolehkan (Pasal 24 H R). Tipu muslihat yang dimaksud misalnya, menutupi meriam/tank dengan dedaunan agar tidak terlihat musuh, wajah pasukan yang dicoreng moreng agar tidak mudah diketahui musuh, dsb.
Pasal 25 HR melarang dengan sarana apapun, penyerangan atau pemboman terhadap kota, desa, pemukiman, atau bangunan yang tidak dipertahankan (not defended). Komandan dari suatu pasukan yang melakukan serangan, sebelum memulai pemboman, kecuali dalam hal melakukan suatu penyergapan (an assault), harus mengambil tindakan sedapat mungkin untuk memberikan peringatan kepada penguasa/otoritas dari tempat yang akan dibom (Pasal 26 HR).
Mengenai istilah 'kota yang tidak dipertahankan' ( 'undefended towns) atau 'kota yang terbuka' ( 'open towns) belum didefinisikan dalam perjanjian internasional, tetapi banyak pedoman (guidance) di dalam doktrin yang
14 Ingrid Detter De Lupis, The Law of War, Cambridge: Cambridge University Press, 1 987,
him. 1 77.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 80
menentukan persyaratan untuk sebuah kota yang tidak dipertahankan. Ketentuan-ketentuan tentang kota yang terbuka diletakkan dalam Deklarasi Brussels tahun 1 874 dan digunakan kembali (re-adopted) dalam Peraturan peraturan Den Haag ( Pasal 25). Ketentuan yang sama juga dimasukkan ke dalam Konvensi Den Haag IX 1 907 tentang Pengeboman di Laut (Naval Bombardment). 15
Dalam hal terjadi pengepungan dan pemboman, Pasal 27 HR mengatur bahwa, apabila terjadi pengepungan dan pemboman, langkah langkah yang diperlukan harus diambil untuk memisahkan (to spare) tempat tempat berikut ini dari tindakan tersebut, seperti bangungan-bangunan yang ditujukan untuk keagamaan, seni, ilmu pengetahuan dan amal, monumen sejarah, rumah sakit dan tempat orang sakit dan Iuka dikumpulkan. Hal itu berlaku sepanjang tidak digunakan untuk kepentingan militer pada saat terjadi penyerangan dan pemboman.
Kemudian, pihak yang dikepung (besieged) harus memberikan tanda pada bangunan-bangunan atau tempat-tempat dengan tanda khusus yang dapat terlihat. Hal tersebut harus diberitahukan sebelumnya oleh pihak yang melakukan serangan.
Pasal 28 H R melarang penjarahan (pillage) terhadap suatu kota atau tempat, sekalipun dilakukan dengan suatu serangan. Masalah mata-mata (spies) telah diatur dalam Pasal 29 dan 30 HR. Pasal 29 ayat ( 1 ) HR menentukan kriteria agar seorang individu dapat dianggap sebagai mata mata, yaitu jika ia: bertindak secara sembunyi-sembunyi (clandestinely) , berpura-pura (false pretence), bertujuan ' mtuk medapatkan atau mencari informasi dalam wilayah operasi salah satu pihak yang bertikai, dengan maksud untuk menyampaikan informasi tersebut kepada pihak m usuh.
Menurut GPH. Haryomataram, mengenai mata-mata dalam hukum internasional dianut dua prinsip, yaitu: 1 . belligerents dibenarkan memakai mata-mata untuk memperoleh keterangan tentang lawan; 2. lawan yang menangkap mata-mata berhak pula menghukum mereka. 16
15 Ibid.
16
GPH. Haryomataram (2), op. cit., him. 32.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 8 1
Tentara yang tidak dengan cara menyamar (disguise), lalu masuk ke dalam daerah operasi tentara musuh untuk mendapatkan i nformasi tidak dianggap sebagai mata-mata. Mereka yang disebut berikut ini juga tidak dianggap sebagai mata-mata: tentara atau orang sipil yang mejalankan misinya secara terbuka, yang ditugasi sebagai kurir untuk kepentingan angkatan bersenjatanya sendiri maupun pihak musuh. Kurir yang dikirim melalui balon dan secara umum untuk menjaga komunikasi antara berbagai bagian dari suatu angkatan bersenjata atau wilayah (Pasal 29 ayat (2) H R). Seorang mata-mata yang tertangkap tidak dapat dihukum tanpa melalui proses peradilan (Pasal 30 H R). Seorang mata-mata, setelah bergabung kembali dengan kesatuannya di angkatan bersenjata, kemudian tertangkap oleh musuh, harus diperlakukan sebagai tawanan perang (prisoner of war) dan ia tidak bertanggung-jawab atas tindakan spionase yang pernah dilakukan sebelumnya (Pasal 31 HR).
Berkaitan dengan hukum pendudukan (occupation law) antara lain diatur dalam Pasal 42 HR. Pasal ini mengatur kapan suatu wilayah dianggap sebagai wilayah pendudukan , yaitu apabila wilayah tersebut secara nyata ditempatkan di bawah kekuasaan tentara musuh. Pendudukan hanya berlaku di wilayah otoritas (pendudukan) didirikan dan dilaksanakan.
Sekalipun sudah diusahakan untuk memberikan definisi dari wilayah pendudukan, namun dalam situasi yang sebenarnya masih sulit untuk menentukan dengan pasti daerah mana yang sudah dapat disebut wilayah pendudukan. Selain perlu ditentukan batas wilayah pendudukan, juga harus diketahui kapan wilayah itu mulai diduduki . Hal ini penting untuk menentukan kapan hukum pendudukan harus diberlakukan di wilayah tersebut. 1 7
Dalam hal otoritas dari penguasa yang sah telah menyerahkan kekuasaannya kepada pihak yang menduduki (occupant), pihak yang menduduki harus mengambil langkah-langkah untuk membangun kembali dan menjamin, sedapat mungkin, ketertiban umum dan keamanan, menegakan hukum yang berlaku di negara yang diduduki apabila hukum 1 7 Ibid. , him. 25.
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 82
tersebut dihormati , kecuali jika hukum tersebut sama sekali tidak diindahkan. Hal itu diatur dalam Pasal 43 HR.
Pemaksaan terhadap penduduk di wilayah pendudukan untuk ikut serta dalam operasi militer untuk melawan negaranya sendiri (Pasal 44 H R) dan untuk bersumpah setia kepada pihak musuh (penguasa pendudukan) (Pasal 44 H R) adalah dilarang. Melakukan penjarahan (pillage) juga dilarang (Pasal 47 H R).
(Andrey Sujatmoko)
Konvensi Den Haag 1907 mengenai A/at dan Cara Berperang 1 83
DAFTAR PUSTAKA
GPH. Haryomataram, Sekelumit tentang Hukum Humaniter, Surakarta: Sebelas Maret University Press, 1 994.
GPH. Haryomataram, Hukum Humaniter, Jakarta: Rajawali, 1 984.
De Lupis, I ngrid Detter, The Law of War, Cambridge: Cambridge U niversity Press, 1 987.
Higgins, Pearce, The Hague Peace Conferences and Other International Conferences concerning the Laws and Usages of War, Texts of Conventions with Commentaries, London: Cambridge University Press, 1 909.
Roberts, Adam dan Guelff, Richard , Documents on the Laws of War, Third Edition, New York: Oxford University Press, 2000.