• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendidikan nasional sangat berperan bagi pembangunan manusia karena

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pendidikan nasional sangat berperan bagi pembangunan manusia karena"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ii

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

iii

Kata Sambutan

P

endidikan nasional sangat berperan bagi pembangunan manusia karena dapat menginvestasikan perwujudan manusia Indonesia yang berakhlak mulia, berkarakter produktif, dan berdaya saing sehingga dapat meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Pendidikan sebagai hak azasi manusia tercantum pada pasal 28B ayat (2) UUD 1945 yang tertulis: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Pada Pasal 28C ayat (1) tertulis, “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia”.

Pengintegrasian gender dalam bidang pendidikan juga dilakukan secara sinergi dan koordinatif dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya terutama dalam hal perencanaan dan penganggaran pendidikan responsif gender, audit gender, pengembangan pedoman, dan acuan teknis kegiatan yang disusun bersama-sama dengan pakar, para mitra, pokja kabupaten, kota dan provinsi. Sinergi dan koordinasi ini diharapkan akan menghasilkan peningkatan kapasitas pengarusutamaan gender bidang pendidikan secara lebih memadai. Sampai pada tahun 2012, capaian kinerja layanan kabupaten/kota telah menerapkan pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan sebesar 57,34% lebih tinggi dari target Renstra Pembangunan Pendidikan Nasional 2010-2014 sebesar 54% dan angka disparitas gender penduduk tuna aksara sebesar 2,4% dari jumlah tuna aksara sebanyak 6.040.522 orang.

Penyusunan dan penerbitan sepuluh judul Buku PUG Bidang Pendidikan tahun 2012 merupakan komitmen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam merealisasikan amanat Inpres No. 9 Tahun 2000 dan Permendiknas Nomor 84 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan sebagai wujud peningkatan kapasitas PUG bidang Pendidikan. Sebagai realisasi amanat Inpres tersebut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah memenuhi target Renstra Kemdikbud tahun 2012 yaitu tercapainya 54% Kabupaten/Kota melaksanakan PUG bidang Pendidikan. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan kepada berbagai pihak atas kontribusi dan perannya dalam penyusunan buku-buku tersebut. Akhirnya semoga Norma Standar Prosedur dan Kriteria yang disusun dengan kesungguhan, komitmen, dan keikhlasan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, dengan harapan semoga Allah SWT berkenan memberikan rakhmat dan hidayahNya kepada kita semua. Amin.

Jakarta, November 2014 Direktur Jenderal

Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal,

(4)

Kata Pengantar

B

uku “Data dan Indikator Pendidikan Berwawasan Gender Tahun

2012/2013” ini merupakan terbitan dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarkat bekerjasama dengan Pusat Data dan Statistik Pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Publikasi ini disusun untuk memberikan gambaran tentang keadaan pendidikan yang berwawasan gender pada kurun waktu 2012/2013. Penyusunan buku ini dilakukan dengan mengacu pada konsep Gender-Sensitive Education Statistics and Indicators yang disiapkan oleh UNESCO.

Data dan informasi yang disajikan dalam buku ini memuat beberapa isu utama tentang perbedaan gender dan indeks paritas gender dilihat dari jalur pendidikan sekolah yaitu Statistik TK sampai PT di tingkat nasional. Di samping itu, disajikan pula perbedaan gender dan indeks paritas gender berdasarkan indikator pemerataan, indikator mutu dan indikator efi siensi internal pendidikan. Perbedaan gender dan indeks paritas gender juga diketengahkan dalam setiap bahasan baik dalam statistik berwawasan gender, indikator pendidikan berwawasan gender maupun perkembangan statistik dan indikator pendidikan berwawasan gender.

Data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan buku ini bersumber pada hasil pengolahan data pendidikan sekolah dari TK sampai PT yang dilaksanakan oleh Pusat Data dan Statistik Pendidikan, sedangkan data penunjang seperti penduduk usia sekolah mengacu pada data dari Badan Pusat Statistik.

Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam penyusunan buku ini diucapkan terima kasih. Saran dan masukan sangat diharapkan dalam rangka penyempurnaan publikasi yang akan datang.

Jakarta, November 2014

Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat,

Dr. Wartanto NIP 19631009189031001

(5)

vi

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

vii

Daftar Isi

Halaman KATA SAMBUTAN ... ii KATA PENGANTAR ... iv BAGIAN PERTAMA ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Dasar ... 2

C. Tujuan ... 3

D. Sasaran ... 3

E. Hasil yang Diharapkan ... 4

BAB II PENGERTIAN DAN TATA CARA PEMBENTUKAN POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN ... 5

A. Pengertian Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 5

B. Tata Cara Pembentukan Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 5

BAB III ORGANISASI, KEDUDUKAN, DAN FUNGSI POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN ... 7

A. Organisasi Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 7

B. Kedudukan Dan Fungsi Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 13

BAB IV TUGAS DAN HASIL POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN ... 15

A. Tugas Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 15

B. Hasil Pokja PUG Bidang Pendidikan ... 17

BAB V PENGELOLAAN KEGIATAN POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN .... 19

A. Kerangka Kerja PUG Pendidikan ... 19

B. Diskripsi Kegiatan ... 21

BAB VI POKOK-POKOK PROGRAM PUG PENDIDIKAN ... 24

A. Komitmen Internasional ... 25

B. Rencana Aksi PUG Pendidikan ... 26

C. Rencana Kerja Pembangunan Pendidikan Responsif Gender ... 29

vi

vi

PPPPPaPPPPaP nduauauauauauauauauauauaannn nnnnKKeKeKKeKKKKlololomppppppppppokokokokokokokkkKerKKKKKKKKKerjaja(((((((PO((((((((((((POPOKJPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOPOKJKJAKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJA)A)A)A)A)A)A)A)A)AA)A)A)A)A)A)A)PenPPPPPPPPPPPPPPPPenene gagagarururusutamaan Gender Bidang Pendidikan

BAGIAN PERTAMA

KELOMPOK KERJA (POKJA)

PENGARUSUTAMAAN GENDER

(6)

BAGIAN PERTAMA

KELOMPOK KERJA (POKJA)

PENGARUSUTAMAAN GENDER

BIDANG PENDIDIKAN

BAB 1

Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG

Integrasi dimensi gender dalam kebiijakan/ program/ kegiatan pembangunan telah menjadi keharusan bagi setiap K/L yang melakukan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kebijakan/ program/ kegiatan pembangunan seusai tugas pokok dan fungsi masing-masing K/L. Hal ini dinyatakan secara eksplisit dalam Inpres Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional dimana setiap Menteri, Lembaga Pemerintah Non Kemeterian, Sekretaris Lembaga Tinggi dan Tertinggi Negara, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Gubernur dan Bupati/ Walikota melaksanakan pengarusutamaan gender sesuai dengan bidang tugas , fungsi, dan kewenangan masing-masing.

Di Tingkat daerah, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Permendagri Nomor 67 Tahun 2011 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengaruutamaan Gender Di Daerah. Pada pasal 4 dinyatakan secara eksplisit bahwa Pemerintah daerah berkewajiban menyusun kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan responsif gender yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah atau RPJMD, Rencana Strategis SKPD, dan Rencana Kerja SKPD. Sedangkan di tingkat Kementerian Pendidikan telah diberlakukan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Pada pasal 1 Peraturan Menteri Pendidikan tersebut berbunyi “Setiap satuan unit kerja bidang pendidikan yang melakukan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, dan program pembangunan bidang pendidikan agar mengintegrasikan gender di dalamnya.” Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tersebut dibuat dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan.

(7)

2

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

3

Meski kewajiban untuk mengintegrasikan gender dalam seluruh dimensi

perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program dan kegiatan pembangunan bidang pendidikan telah dinyatakan secara eksplisit dalam peraturan menteri pendidikan tersebut, namun implementasinya di lapangan mengalami berbagai hambatan, baik implementasi di tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Pendidikan maupun di tingkat satuan pendidikan formal, non formal maupun informal.

Salah satu penyebab tidak berhasilnya integrasi gender adalah belum terbentuk dan atau belum berfungsinya kelompok kerja (Pokja) gender bidang pendidikan maupun gender vocal point (tim penggerak gender) bidang pendidikan. Untuk itu, panduan tentang pokja PUG bidang pendidikan dan peningkatan kapasitas kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan perlu disusun agar bisa digunakan sebagai acuan dalam membentuk dan atau mengembangkan pokja PUG bidang pendidikan. Terbentuknya Pokja PUG pendidikan diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mewujudkan perencanaan, pelaksanaan, monitoring maupun evaluasi kebijakan/program/ kegiatan pendidikan responsif gender serta mendorong terintegrasikannya gender dalam perencanaan dan penganggaran pendidikan. Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Bersama empat Menteri sebagai lembaga driver PUG di tingkat nasional yaitu Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender melalui Perencanaan dan Penganggaran Yang Responsif Gender.

B. DASAR

1. Undang – Undang Dasar 1945

2. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifi kasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan

3. Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional 4. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan

Gender Dalam Pembangunan Nasional

5. Kebijakan Pendidikan untuk Semua (Education for All) Tahun 2000

6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Menjadi acuan bagi para pemegang kebijakan dan pelaksana pendidikan dalam pembentukan dan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi kelompok kerja (pokja) PUG bidang pendidikan sehingga dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendorong terujudnya pendidikan yang adil dan setara gender.

2. Tujuan Khusus

Meningkatkan pemahaman seluruh anggota Pokja PUG bidang pendidikan serta seluruh stakeholders pendidikan tentang:

a. Pengertian dan tata cara pembentukan Pokja PUG bidang pendidikan b. Organisasi, kedudukan dan fungsi Pokja PUG bidang pendidikan c. Tugas dan tanggungjawab Pokja PUG bidang pendidikan

d. Pengelolaan kegiatan Pokja PUG bidang pendidikan D. SASARAN

1. Pimpinan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) dan Pimpinan Daerah (Gubernur, Bupati/Walikota)

2. Pimpinan Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/ Kota

3. Pimpinan satuan pendidikan formal, non formal dan informal sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan

4. Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender Pendidikan Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota dan satuan pendidikan

(8)

E. HASIL YANG DIHARAPKAN

1. Terbentuknya pokja PUG pendidikan sesuai dengan regulasi yang ada 2. Berkembangkan peran pokja PUG bidang pendidikan dan Gender Focal

Point bidang pendidikan dalam:

a. menyusun strategi pengintegrasian gender yang dilakukan melalui perencanaan, pelaksanaan, penganggaran, pemantauan, dan evaluasi atas kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan bidang pendidikan b. mewujudkan perencanaan responsive gender melalui pengintegrasian

pengalaman, aspirasi, kebutuhan, potensi, dan penyelesaian permasalahan laki-laki dan perempuan

c. mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender pada satuan pendidikan dan masyarakat

d. mewujudkan pengelolaan anggaran pendidikan yang responsif gender e. meningkatkan kesetaraan dan keadilan dalam kedudukan, peranan,

dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai insan dan sumber daya pembangunan ( Permendikbud 84 Tahun 2008)

A. PENGERTIAN POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN

Yang dimaksud dengan Kelompok Kerja Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan yang selanjutnya disebut Pokja PUG Pendidikan adalah wadah konsultasi bagi pelaksana dan penggerak pengarusutamaan gender dari berbagai instansi/lembaga pendidikan (Permendiknas 84 Tahun 2008). Pokja PUG Pendidikan terdiri dari :

1. Pokja PUG Pendidikan Pusat (Kemdikbud) 2. Pokja PUG Pendidikan Provinisi

3. Pokja PUG Pendidikan Kabupaten/ Kota 4. Pokja PUG Satuan Pendidikan

B. TATA CARA PEMBENTUKAN POKJA PUG PENDIDIKAN

Pembentukan Pokja PUG Pendidikan Pusat (Kemdikbud) dikoordinasikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat yang dalam tingkatan lebih teknis diutamakan peran-peran seluruh unit utama Kemdikbud (Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Sekretaris Inspektorat Jenderal, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud), serta instansi/ lembaga lain yang dipandang strategis dalam pembangunan pendidikan responsif gender, antara lain: Bappenas, Meneg PP dan PA, BPS, LIPI, PSW/ Perguruan Tinggi.

BAB 2

PENGERTIAN DAN TATA CARA

PEMBENTUKAN POKJA PUG

BIDANG PENDIDIKAN

(9)

6

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

7

BAB 3

ORGANISASI, KEDUDUKAN,

DAN FUNGSI POKJA PUG

BIDANG PENDIDIKAN

A. ORGANISASI POKJA PUG BIDANG PENDIDIKAN

Struktur organisasi Pokja PUG Pendidikan disusun berdasarkan kebutuhan pada masing-masing tingkat pemerintahan. Pokja PUG Pendidikan Kemdikbud ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pokja PUG Pendidikan Provinsi ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi. Pokja PUG Pendidikan Kabupaten/ Kota ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati/ Walikota atau Kepala Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Kabupaten/ Kota. Pokja PUG pada satuan pendidikan ditetapkan melalui surat keputusan Kepala Satuan Pendidikan.

Gambaran tentang susunan organisasi Pokja PUG Pendidikan di Kemdikbud, Provinsi Kabupaten/ Kota dan satuan pendidikan digambarkan dalam tabel 3.1.

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

PaPandPaPaPaPaPaPaPandndndndndndndndndndndndnddduddddduuuuauuuuuuuuauauauu nn nnn n nn nnnn nnn n nnnnn KKeKKKKKKKelolooompoooooooooompok KKKKKerjaerererererererererererrrjajjajajajajajajajajajajaja((P((((((((((((PPPPPPPPPPOPOP KJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKJKA)A)A)A)A)A)A)A)A)A)A)A)A Pengagagarurururrrrr sussssss tamammmmmmamammmmamaaaaaaaaaaanaaaaaaa Gender Bidang Pendididididididikakakakannnn

Pembentukan Pokja PUG Pendidikan Provinsi dikoordinasikan oleh Dinas yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan di masing-masing Provinsi. Pokja ini diharapkan dapat melibatkan unsur: instansi Perencana, BPS, Badan Pemberdayaan Perempuan, PSW/ Perguruan Tinggi, Kanwil Depag, LSM, semua sub dinas/ bidang di lingkungan Dinas yang menangani pendidikan, dan organisasi sosial masyarakat lain yang memiliki komitmen untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender bidang pendidikan. Pembentukan Pokja PUG Pendidikan Kabupaten/Kota dikoordinasikan oleh Dinas yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan di masing-masing Kabupaten/Kota. Pokja ini diharapkan dapat melibatkan unsur: Badan Perencana, BPS, Biro/ Bagian Pemberdayaan Perempuan, PSW/ Perguruan Tinggi, Kandepag Kabupaten/Kota, LSM, semua Kepala Bidang di lingkungan Dinas yang menangani pendidikan, dan organisasi sosial masyarakat lain yang memiliki komitmen untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender bidang pendidikan.

Pembentukan Pokja PUG Pendidikan pada Satuan Pendidikan dikoordinasikan oleh kepala satuan pendidikan. Kepala satuan pendidikan menetapkan pokja PUG Bidang Pendidikan di unit kerjanya. Anggota Pokja PUG Satuan Pendidikan adalah seluruh stakeholders terkait di unit kerja yang bersangkutan.

(10)

Tabel 3.1.

Susunan Organisasi Pokja PUG Pendidikan menurut Tingkat Penerintahan

Tingkatan Nama Surat Keputusan Susunan

Organisasi

1 2 3 4

Kemdikbud Pokja PUG Pendidikan Kemdikbud

Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

1. Penasehat, 2. Penangjungjawab, 3. Tim Pakar, 4. Tim Teknis, dan 5. Sekretariat. Provinsi Pokja PUG Pendidikan

Provinsi

Surat Keputusan Gubernur atau Kepala Dinas yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan di provinsi 1. Penasehat, 2. Penangjungjawab, 3. Tim Pakar, 4. Tim Teknis, dan 5. Sekretariat.

Kabupaten/ Kota Pokja PUG Pendidikan Kabupaten/ Kota

Surat Keputusan Bupati/ Walikota atau Kepala Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di kabupaten/ kota 1. Penasehat, 2. Penangjungjawab, 3. Tim Pakar, 4. Tim Teknis, dan 5. Sekretariat.

Satuan Pendidikan Pokja PUG Satuan Pendidikan

Surat Keputusan Kepala Satuan Pendidikan

1. Penasehat, 2. Penangjungjawab, 3. Tim Pakar, 4. Tim Teknis, dan 5. Sekretariat.

1. Pokja PUG Pendidikan di Tingkat Kemdikbud

Di tingkat Pusat, Pokja PUG Pendidikan di Kemdikbud terdiri dari: Penasehat, Penanggungjawab, Tim Pakar, Tim Teknis, dan Sekretariat. Penasehat terdiri dari semua pejabat eselon I di lingkungan Kemdikbud dan Penanggungjawab adalah Dirjen PAUDNI. Tim Pakar terdiri dari para ahli gender bidang pendidikan, baik dari lingkungan birokrasi pemerintahan, perguruan tinggi, maupun LSM, yang dikoordinasikan oleh seorang pakar gender yang ada di Kemdikbud. Tim Teknis adalah

semua eselon II yang terkait langsung dengan teknis perencanaan dan penyelenggaraan pendidikan di semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Tim teknis ini berada dalam koordinasi Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat. Sekretariat merupakan tim pendukung operasional kegiatan, terdiri dari pejabat eselon III dan IV yang terkait langsung dengan program pengarusutamaan gender yang didukung oleh Tim Konsultan.

2. Pokja PUG Pendidikan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota

Di tingkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota, Pokja PUG disarankan terdiri dari: Penasehat, Penanggung Jawab, Tim Pakar, Tim Tkenis, dan Sekretariat. Untuk Penasehat, melibatkan: Pimpinan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Pimpinan Badan PP. Penanggungjawab adalah Kepala Dinas yang bertangungjawab di bidang pembangunan pendidikan. Tim Pakar terdiri dari personal dari birokrat, akademisi PSW/ Perguruan Tinggi dan LSM yang sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan PUG Pendidikan. Tim Teknis melibatkan semua bidang di lingkungan Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan, unsur BPS, instansi Perencana, unsur Biro/ Bagian Pemberdayaan Perempuan. Tim Teknis harus dipimpin oleh unsur yang memungkinkan koordinasi lebih cepat dan berjalan sesuai kebutuhan, yaitu pejabat di dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota. Sekretariat disusun sesuai dengan kebutuhan operasional kegiatan Pokja PUG Pendidikan di masing-masing daerah. 3. Pokja PUG Pendidikan di Tingkat Satuan Pendidikan

Di tingkat Satuan pendidikan, Pokja PUG disarankan terdiri dari: Penasehat, Penanggung Jawab, Tim Pakar, Tim Teknis, dan Sekretariat. Untuk Penasehat, melibatkan: Kepala Bidang/ seksi sesuai dengan tingkatan satuan pensisikan. Penanggungjawab adalah Kepala Satuan Pendidikan. Tim Pakar terdiri dari personal dari birokrat, akademisi PSW/ Perguruan Tinggi dan LSM yang sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan PUG Pendidikan. Tim Teknis melibatkan semua guru yang paham gender dan tergabung dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) dan atau KKG (kelompok kerja guru) yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan. Tim Teknis harus dipimpin oleh unsur yang memungkinkan koordinasi lebih cepat dan berjalan sesuai kebutuhan, yaitu pejabat di satuan pendidikan. Sekretariat disusun sesuai dengan kebutuhan operasional kegiatan Pokja PUG Pendidikan di masing-masing satuan pendidikan.

(11)

10

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

11

Hubungan antar unsur dalam organisasi Pokja PUG Pendidikan adalah

sebagaimana pada diagram berikut.

PENANGGUNGJAWAB PENASEHAT

TIM PAKAR TIM TEKNIS

SEKRETARIAT POKJA UNIT UTAMA

POKJA PUG PENDIDIKAN PROVINSI *)

POKJA PUG PENDIDIKAN KABUPATEN/KOTA *)

POKJA PUG SATUAN PENDIDIKAN

Gambar-3.1: Struktur Organisasi Pokja PUG Pendidikan *) Struktur minimal seperti Pokja Pusat

1. Tugas dan Tanggungjawab Anggota Pokja

Adapun rincian tugas dari masing-masing anggota pokja adalah sebagai berikut:

a. Tim Penasehat dan Penanggungjawab

1). Mengkoordinasikan unit kerja terkait baik di lingkungan Kemdikbud /Dinas/ Satuan pendidikan yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi, Kabupaten/ Kota, satuan pendidikan serta organisasi kemasyarakatan dalam pelaksanaan kegiatan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan

2). Menyiapkan rumusan bahan kebijakan Kemdikbud/ Dinas/ Satuan Pendidikan yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi, Kabupaten/ Kota, maupun satuan pendidikan.

3). Menyiapkan rumusan rencana aksi nasional/ daerah/ satuan pendidikan yang diperlukan pada berbagai unit kerja terkait sebagai persiapan untuk pelaksanaan gerakan pengarusutamaan gender bidang pendidikan, baik pada tingkat nasional, daerah. Maupun satuan pendidikan.

b. Tim Pakar

Membantu Pimpinan Kemdikbud/Dinas/ Satuan pendidikan yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi, Kabupaten/ Kota maupun satuan pendidikan dalam memikirkan dan menyusun bahan kebijakan, program, atau kegiatan yang berkaitan dengan kesetaraan dan keadilan gender di bidang pendidikan, dalam rangka menetapkan kebijakan dan rencana aksi nasional/daerah/ satuan pendidikan yang ressponsif gender.

c. Tim Teknis

1). Memberikan arahan bagi pelaksanaan gerakan nasional/daerah/ satuan pendidikan tentang pembangunan pendidikan responsif gender baik pusat, daerah maupun satuan pendidikan.

2). Merumuskan rencana kebijakan operasioal pada tingkat direktorat/ sub-dinas/ bidang terkait di lingkungan Kemdikbud/ Dinas/ satuan pendidikan yang bertanggungjawab terhadap

(12)

pembangunan pendidikan di Provinsi, Kabupaten/ Kota maupun satuan pendidikan.

3). Merumuskan berbagai rencana aksi nasional/daerah/satuan pendidikan yang mengarah pada terwujudnya keseimbangan kesempatan pendidikan menurut jenis kelamin

4). Menyusun rencana pembangunan pendidikan responsif gender tahunan tingkat nasional/daerah/ satuan pendidikan di bidang pendidikan yang akan menjadi patokan bagi pelaksanaan pembangunan pendidikan tahun anggaran yang bersangkutan. 5). Selaku pengambil kebijakan di lingkungan Kemdikbud/

Dinas/ satuan pendidikan yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi, Kabupaten/ Kota, atau satuan pendidikan bertanggungjawab atas komitmennya dalam mengupayakan pengarusutamaan gender di lingkungan pejabat pendidikan di tingkat Pusat, Provinsi, Kabupaten/ Kota maupun satuan pendidikan.

d. Sekretariat

Mengkoordinasikan berbagai kegiatan pengarusutamaan gender bidang pendidikan di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/ Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi maupun Kabupaten/ Kota atau di satuan pendidikan.

Sekretariat Pokja PUG Bidang Pendidikan berada di kantor yang menangani langsung PUG Bidang Pendidikan yang dibuktikan dengan: 1). Nama Pokja

Nama Pokja PUG Bidang Pendidikan baik yang tercantum sebagai identitas kelembagaan maupun untuk pengurusan legalitas dan urusan administrasi keuangan (rekening bank) dan pajak harus sama dan sesuai, seperti:

Nama : Pokja PUG Bidang Pendidikan Provinsi ……….. atau Pokja PUG Bidang Pendidikan Kabupaten/Kota … atau Pokja PUG Bidang Pendidikan Satuan Pendidikan…..

Nama sekretariat Pokja PUG Bidang Pendidikan perlu dipasang di depan gedung kantor. Ukuran papan nama sekretraiat pokja PUG Pendidikan minimal 100 cm x 60 cm, dengan contoh sebagai berikut:

SEKRETARIAT

Kelompok Kerja (Pokja) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan Provinsi/kabupeten/ satuan pendidikan: ……… Jalan ………..

Telp/Faks: ………..

2). Struktur dan Program Kerja

Pokja PUG Bidang Pendidikan perlu memiliki struktur dan program kerja yang terpasang di sekretariat Pokja PUG Bidang Pendidikan. Struktur dan program kerja di update setiap 1 tahun sekali.

B. KEDUDUKAN DAN FUNGSI POKJA PUG PENDIDIKAN

Pokja PUG Pendidikan merupakan organ non struktural pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) atau pada Dinas Pendidikan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/ Kota atau pada satuan pendidikan.

Pokja PUG Pendidikan memiliki fungsi inisiasi, dinamisa si, dan penjaminan mutu bagi penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan responsif gender serta berbagai program pengarusutamaan gender di pusat, daerah dan satuan pendidikan. Oleh karena itu, Pokja PUG Pendidikan secara khusus bekerja untuk memperkuat kebijakan dan program yang responsif gender di lingkungan Kemdikbud/ Dinas yang bertanggungjawab terhadap pendidikan di Provinsi dan Kabupaten/ Kota, atau di satuan pendidikan serta senantiasa berkoordinasi dengan Pokja PUG yang ada di Kementrian/ Biro/ Bagian yang menangani pemberdayaan perempuan.

Pada fungsi inisiasi, Pokja PUG Pendidikan menyusun dan mengajukan gagasan-gagasan, rencana kegiatan/ program yang berkaitan dengan

(13)

14

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

15

14

14

14

Panduan nnn KeKelolololoooooooooommmmmpmm okkkkkkKKKKKKKKKKKKKKeeeeeeeeeeeeeerja (POKJA) PPenPPPPPPPPPPPengeneeneeneneeneeeneene gaggg rususususususuutauuuuuuuuuuuutattttatatattatatatatattatatamaan Gender Bidadadadadadadadadadadadadaannnnngngnnngngngngnn PPenennnndddiddddikan

BAB 4

TUGAS DAN HASIL POKJA

PUG BIDANG PENDIDIKAN

pengkajian kebijakan dan implementasi program pembangunan pendidikan

responsif gender. Pada fungsi dinamisasi, Pokja PUG Pendidikan melakukan diskusi, audiensi, analisis data dan pembahasan kebijakan dan program bersama pihak-pihak yang terkait dengan pengambilan keputusan dan pengelola program pembangunan pendidikan (Kemendikbud, Gubernur, Bupati/ Walikota, DPRD, Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di daerah ataupun satuan pendidikan. Pada fungsi penjaminan mutu, Pokja PUG Pendidikan melakukan monitoring, supervisi, pengawasan, dan evaluasi terhadap berbagai kegiatan pengarusutamaan gender bidang pendidikan. Fungsi-fungsi tersebut bisa diperluas sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

A. TUGAS POKJA PUG PENDIDIKAN

Tugas Pokja PUG Pendidikan Berdasarkan Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008 digambarkan pada tabel 3.1.

Tabel 4.1. Tugas Pokja PUG Pendidikan Pokja PUG Pendidikan

Provinsi

Pokja PUG Pendidikan Kabupaten/ Kota

Pokja PUG Pendidikan Satuan Pendidikan

(1) (2) (3)

mempromosikan dan memfasilitasi PUG Bidang Pendidikan kepada unit kerja terkait

mempromosikan dan memfasilitasi PUG Bidang Pendidikan kepada unit kerja terkait

mempromosikan dan menfasilitasi PUG Bidang Pendidikan kepada seluruh pihak terkait di unit kerjanya melaksanakan sosialisasi

dan advokasi PUG Bidang Pendidikan kepada pemerintah kabupaten/ kota

melaksanakan sosialisasi dan advokasi PUG kepada kantor dinas, kecamatan, kepala desa, lurah

melaksanakan sosialisasi dan advokasi PUG Bidang Pendidikan

menyusun program kerja setiap tahun

menyusun program kerja setiap tahun

menyusun program kerja setiap tahun

mendorong terwujudnya anggaran yang berperspektif gender

mendorong terwujudnya anggaran yang berperspektif gender

mendorong terwujudnya anggaran satuan pendidikan yang berperspektif gender menyusun rencana kerja Pokja

PUG Bidang Pendidikan setiap tahun;

menyusun rencana kerja Pokja PUG Bidang Pendidikan setiap tahun;

menyusun rencana kerja POKJA PUG Bidang Pendidikan setiap tahun bertanggung jawab kepada

Gubernur melalui Kepala Dinas Pendidikan;

bertanggung jawab kepada Bupati/ Walikota

bertanggung jawab kepada Dinas Pendidikan di kabupaten/kota; Merumuskan rekomendasi

kebijakan kepada Bupati/ Walikota

merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Bupati/ Walikota

merumuskan rekomendasi kebijakan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota

(14)

menfasilitasi unit kerja yang membidangi pendataan untuk menyusun Profi l Gender Bidang Pendidikan di provinsi

memfasilitasi unit kerja yang membi-dangi pendataan Pendidikan untuk menyusun Profi l Gender Bidang Pendidikan kabupaten atau kota;

melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di unit kerjanya

melakukan pemantauan pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan di instansi terkait

melakukan pemantauan pelaksanaan PUG di unit terkait

mendorong dilaksanakannya pemilihan dan penetapan Penggerak Kegiatan PUG di masing-masing unit kerja menetapkan tim teknis untuk

melakukan analisis terhadap anggaran pendidikan daerah

menetapkan tim teknis untuk melakukan analisis terhadap anggaran pendidikan daerah menyusun Rencana Aksi

Daerah (RAD) PUG Pendidikan di provinsi yang mencakup: • PUG dalam peraturan perundang-undangan bidang pendidikan; • PUG dalam siklus

pembangunan bidang pendidikan;

• penguatan kelembagaan PUG Bidang Pendidikan • penguatan peran serta

masyarakat untuk pendidikan • mendorong

dilaksanakannya pemilihan dan penetapan penggerak kegiatan PUG di masing-masing unit kerja

menyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) PUG Pendidikan di kabupaten/ kota yang mencakup: • PUG dalam peraturan

perundang-undangan bidang pendidikan;

• PUG dalam siklus pembangunan bidang pendidikan;

• penguatan kelembagaan PUG Bidang Pendidikan

• penguatan peran serta masyarakat untuk pendidikan

mendorong dilaksanakannya pemilihan dan penetapan penggerak kegiatan PUG di masing-masing unit kerja

Sumber: Permendiknas Nomor 84 Tahun 2008

B. HASIL POKJA PUG PENDIDIKAN

Hasil yang diharapkan melalui pelaksanaan program pengarusutamaan gender bidang Pendidikan adalah sbb:

1. Para pemegang kebijakan, perencana pendidikan (kebijakan maupun teknis) memiliki sensitivitas gender, sehingga mampu merumuskan kebijakan, perencanaan, dan penganggaran yang responsif gender. 2. Tersusun Position Paper Pengarusutamaan Gender Pendidikan di tingkat

Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/ Kota sebagai bahan untuk menyusun kebijakan pembangunan pendidikan reponsif gender.

3. Tersusun Rencana Aksi Nasional (RAN) dan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengarusutamaan Gender Pendidikan.

4. Tersusun dan terlaksananya program/ kegiatan pembangunan pendidikan responsif gender di setiap unit kerja Kemdikbud, di lingkungan Dinas yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan di Provinsi maupun Kabupaten/ Kota serta di lingkungan satuan pendidikan.

5. Adanya peningkatan mutu dan dampak dari pengelolaan program/ kegiatan PUG Pendidikan terhadap program-program yang responsif gender, baik yang dibiayai dengan dana APBN, dana APBD maupun dana dari funding lainnya.

6. Tersedianya sistem pendataan dan informasi pendidikan yang responsif gender (terpilah laki-laki dan perempuan).

7. Tersusunnya Media Komunikasi, Informasi dan Edukasi PUG Bidang Pendidikan.

8. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah (Kemdikbud, Dinas yang bertangungjawab terhadap pembangunan pendidikan di daerah ataupun satuan pendidikan) dengan Perguruan Tinggi (khususnya PSW) dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dalam rangka pengarusutamaan gender di bidang pendidikan.

9. Adanya kepastian bahwa semua anak perempuan dan laki-laki sudah mendapat kesempatan mengikuti pendidikan dasar Sembilan tahun yang bermutu.

Untuk mencapai hasil tersebut, pokja PUG pendidikan perlu melakukan kegiatan rutin maupun kegiatan insidential.

(15)

18

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

19

Kegiatan Rutin Pokja PUG Pendidikan mencakup:

1. Melakukan pertemuan rutin untuk memetakan masalah dan menyusun program PUG Bidang Pendidikan

2. Melakukan sosialisasi dan advokasi terhadap para pengambil kebijakan 3. Melakukan penguatan terhadap para perencana pendidikan melalui pelatihan

penyusunan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender. 4. Melakukan evaluasi internal pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan. Kegiatan insidental dalam menguatkan PUG Bidang Pendidikan mencakup: 1. Melakukan analisis terhadap kebijakan pendidikan yang masih bias atau

netral gender dan merumuskannya kembali menjadi kebijakan yang responsif gender.

2. Menyusun position paper yang dapat dijadikan bahan dalam menyusun kebijakan pendidikan yang responsif gender.

3. Membantu pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan pendidikan yang responsif gender

4. Melakukan penguatan kepada para pengambil kebijakan dan perencana pendidikan untuk menyusunan perencanaan dan penganggaran yang responsif gender.

5. Melakukan penguatan kepada satuan pendidikan (formal dan nonformal) dalam mengarusutamakan gender pada satuan pendidikan.

6. Membangun dan mengembangkan jejaring/kemitraan dengan stakeholders pendidikan untuk memperkuat pelaksanaan PUG Bidang Pendidikan. 7. Menyusun dan menyosialisasikan media KIE kepada masyarakat.

Upaya mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender di bidang pendidikan perlu dilakukan oleh semua pihak, baik pemerintahan (Kemdikbud dan Dinas yang bertanggungjawab terhadap pembangunan pendidikan) di Provinsi maupun Kabupaten/ Kota), pelaku/ pelaksana pendidikan di satuan-satuan pendidikan pada jalur informal, formal maupun non formal. Atas dasar asumsi tersebut, pengarusutamaan gender pendidikan dilakukan dalam kerangka kerja sebagaimana uraian berikut.

A. KERANGKA UMUM PUG PENDIDIKAN

Dalam bidang pendidikan, kesenjangan gender dapat dilihat dari beberapa persoalan pokok, antara lain: (1) pemerataan memperoleh pendidikan yang bermutu pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (2) pengelolaan pendidikan dan SDM para pengelola pendidikan, (3) kurikulum, buku ajar, dan proses pembelajaran, (4) program studi dan penjurusan. Persoalan-persoalan yang terjadi pada aspek tersebut sangat terkait dengan kebijakan-kebijakan yang berlaku serta kehidupan sosial budaya masyarakat dan stakeholders pendidikan. Menyadari akan hal tersebut, kerangka kerja kegiatan PUG Pendidikan diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas kebijakan, program, kegiatan serta sikap dan perilaku para pengambil kebijakan, perencana pendidikan, pelaksana pendidikan pada satuan pendidikan serta keluarga/ masyarakat agar menjadi lebih responsif gender. Dengan terpenuhinya prasyarat itu diharapkan keadilan dan kesetaraan gender bidang pendidikan dapat terwujud.

Atas dasar pemikiran di atas, prioritas program PUG Pendidikan diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:

BAB 5

PENGELOLAAN KEGIATAN

POKJA PUG PENDIDIKAN

(16)

1. Peningkatan mutu pengambil kebijakan pendidikan agar mampu menghasilkan kebijakan/ program pendidikan yang responsif gender. 2. Peningkatan mutu perencana pendidikan agar mampu melakukan

perencanaan pendidikan yang responsif gender.

3. Peningkatan wawasan, kesadaran, dan partisipasi para skateholders pendidikan dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan setara gender. 4. Kemitraan dengan PT/ PSW untuk melakukan studi kebijakan pendidikan

responsif gender.

5. Kemitraan dengan Organisasi Perempuan/ LSM peduli pendidikan dan gender, untuk melakukan penyelenggaraan dan pengembangan model pendidikan adil gender dan pendidikan keluarga responsif gender.

6. Pengembangan data-base pendidikan yang terpilah berdasarkan jenis kelamin, yang dapat mendukung perencanaan dan aksi untuk mewujudkan pendidikan yang adil dan setara gender.

7. Peningkatan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) Gender bidang Pendidikan, baik melalui media cetak maupun elektronik

Secara skematik, kerangka kerja tersebut dapat dilihat pada gambar berikut. KERANGKA KERJA

PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN

Pemegang Kebijakan Pusat/ Prop/ Kab-Kota Kebijakan Responsif gender KEADILAN DAN KESETARAAN GENDER BIDANG PENDIDIKAN Penerbit/ Penulis/ Satuan Pend/ Stakeholders. PSBG, Panduan BA, Pengelolaan Satua Pend.

Responsif Gender Perencana & Pengelola Program Rencana & Program responsif gender WORKSHOP, RTD, FGD STUDI, WORKSHOP PENG.MODEL CAPACITY BUILDING STUDI KEBIJAKAN/ KEMITRAAN PSW PENGUATAN STAKEHOLDERS DATA & WEBSITE KEMITRAAN LSM MEDIA KIE LSM/ Org. Perempuan PKBG/ Life Skills Perempuan Masyarakat Berwawasan Gender PT/ PSW Analisis situasi/ Profil Gender Pendidikan Database/ Website Uploading Position Paper/ RAN - RAD SISTEM PENDATAAN SOSIALISASI B. DESKRIPSI KEGIATAN

1. Peningkatan Kapasitas (Capacity Building)

Capacity Building pengarusutamaan gender bidang pendidikan dilakukan melalui berbagai jenis kegiatan, yaitu: Audiensi dengan Pengambil Kebijakan, Round Table Disscussion (RTD), Focus Group Disscussion (FGD), Workshop, dan Pelatihan. Jenis kegiatan ini sengaja dirancang bervariasi karena sasaran/peserta kegiatan memiliki keragaman kesibukan/ waktu luang, kepentingan, dan relevansinya dengan tindak lanjut kegiatan PUG Pendidikan di masing-masing level pemerintahan (Pusat, Provinsi, Kabupaten/ Kota).

Dengan mengusung tema pokok isu dan kesenjangan gender bidang pendidikan serta pentingnya kebijakan pendidikan responsif gender, melalui berbagai jenis kegiatan capacity building ini diharapkan muncul komitmen para pengambil kebijakan yang dilandasi oleh pemahaman dan kesadaran gender. Komitmen ini diharapan terwujud dalam bentuk Position Paper, Pembentukan Pokja PUG, Rencana Aksi Pembangunan Pendidikan Berwawasan Gender di masing-masing wilayah tanggungjawabnya (Pusat, Provinsi, Kabupaten/ Kota), Sumber Daya Manusia (focal point) yang handal di setiap unit kerja, dan dukungan pendanaan (APBN/APBN).

2. Studi Kebijakan dan Kemitraan dengan Pusat Studi Wanita/Gender Kemitraan dengan Pusat Studi Wanita/Gender Perguruan Tinggi dilandasi satu pemikiran bahwa lembaga ini memiliki kompetensi dan kapasitas (peneliti, hasil penelitian, dan pengalaman analisis gender lainnya). Potensi ini dalam jangka panjang diharapkan menjadi bagian pemicu kinerja Pokja PUG Pendidikan, baik di tingkat Pusat maupun Provinsi dan Kabupaten/ Kota. Sejalan dengan itu, studi kebijakan pendidikan berwawasan gender merupakan kegiatan utama dalam kemitraan dengan PSW/G. Kemitraan dengan PSW/G juga dapat dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan yang lebih implementatif seperti pelatihan, workshop, dan kegiatan lainnya terutama dalam mengembangkan satuan pendidikan yang responsif gender.

3. Kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat

(17)

22

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

23

ini ada kecenderungan bahwa program pembangunan yang dirancang

pemerintah selalu dianggap tidak sesuai dengan pikiran-pikiran orang-orang LSM. Namun demikian, landasan pemikiran perlunya kemitraan dengan LSM semata-mata dilandasi oleh kenyatan bahwa LSM punya pengalaman praktis di lapangan dan jejaringnya, khususnya LSM peduli perempuan dan LSM peduli pendidikan. Oleh karena itu, kemitraan dengan LSM difokuskan pada kegiatan Pendidikan Adil Gender, Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender, dan Program Life Skill Perempuan. Laporan hasil pengalaman praktis LSM diformulasi dalam bentuk Model Penyelenggaraan, yang terdiri dari Panduan Pelaksanaan dan modul-modulnya.

4. Penguatan Stakeholders Pendidikan

Keberhasilan pendidikan bukan hanya tergantung pada pemerintah, tetapi juga pada dukungan berbagai pihak yang berkepentingan dengan pendidikan. Pengarusutamaan gender bidang pendidikan menyadari hal demikian. Oleh karena itu, penguatan pemahaman dan sensitivitas gender bagi stakeholders dipandang penting. Stakeholders pendidikan yang dianggap cukup berpengaruh terhadap kemungkinan bias gender dalam pendidikan adalah para penulis dan penerbit buku bahan ajar, Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, serta pimpinan satuan pendidikan. Kegiatan ini dilakukan melalui: 1) Sosialisasi Panduan Sekolah yang Responsif Gender, 2) Workshop Penyusunan Panduan Penulisan Bahan Ajar Responsif Gender, 3) Sosialisasi Penulisan Bahan Ajar Responsif Gender, 4) Pelatihan Gender bagi Stakeholders Pendidikan.

5. Penguatan Data-base Pendidikan

Ketersediaan data yang terpilah menurut jenis kelamin merupakan keperluan mutlak dalam rangka melakukan analisis gender. Data indikator pendidikan baik makro maupun mikro, di Pusat dan daerah (Provinsi maupun Kabupaten/Kota) pada banyak hal seringkali mengabaikan keterpilahan ini. Melalui pengumpulan, penyusunan, serta penyebarluasan data dan informasi pendidikan yang terpilah diharapkan tersusun database yang bisa diakses banyak pihak sekaligus dijadikan landasan dalam rangka mendorong lahirnya kebijakan, program, kegiatan/ program yang responsif gender. Walaupun pendataan bukan merupakan hal baru dalam berbagai aspek pengelolaan pendidikan, akan

tetapi ketersediaan data terpilah menurut jenis kelamin sampai saat ini masih belum dianggap penting. Oleh karena itu, berbagai sumber data baik primer maupun sekunder perlu dimanfaatkan sehingga tersusun Profi l Gender Pendidikan dan Website PUG Pendidikan.

Selain melakukan pengumpulan, penyusunan dan penyebarluasan data, juga dilakukan kajian terhadap model pendataan pendidikan pada era desentralisasi dan otonomi. Dari pengalaman nampak bahwa kesadaran terhadap tersedianya data terpilah di kalangan birokrasi pendidikan masih relatif rendah. Hal ini terlihat dari model rekapitulasi data di tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Nasional yang kadang masih mengabaikan adanya data-data terpilah yang dilaporkan pihak satuan pendidikan. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah ekses kebijakan desentraliasasi dan otonomi daerah terhadap mekanisme pelaporan pembangunan pendidikan dari Kabupaten/Kota ke Provinsi dan Pusat banyak yang tidak berjalan karena dianggap tidak perlu atau bukan sebuah kewajiban. 6. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi

Keadilan dan kesetaraan gender di bidang pendidikan yang dicita-citakan tidak akan terwujud hanya dengan dukungan birokrasi, pelaku dan stakeholders pendidikan yang terbatas. Dukungan masyarakat luas sangat diperlukan, oleh karena gender merupakan sebuah konstruksi sosial yang berbeda antar kelompok masyarakat maupun antar generasi pada suatu kelompok masyarakat. Menyadari akan hal tersebut, pengarusutamaan gender bidang pendidikan dilakukan juga melalui berbagai media massa sebagai upaya pendidikan publik. Untuk mendukung hal ini, dibuat sejumlah media dan sarana penunjang komunikasi, informasi, dan edukasi yang dilakukan melalui multi-media cetak maupun elektronik. Semua produk itu dikemas dalam bentuk Gender Kit Pendidikan dan Website Gender Pendidikan.

(18)

Pengarusutamaan gender di bidang pendidikan merupakan strategi mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui integrasi isu gender dalam seluruh tahapan perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan pendidikan. Strategi integrasi dapat dilakukan melalui tindakan affi rmative action (pemihakan khusus kepada salah satu jenis kelamin yang tertinggal) maupun melalui integrasi pada program-program pembangunan pendidikan yang relevan.

Gambaran tentang pengarusutamaan gender dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Integrasi Gender dalam seluruh kebijakan/ program/ kegiatan Tujuan Keadilan dan Kesetaraan Gender Strategi o u t c o m e s Pemberdayaan Perempuan Kegiatan Khusus

(Affi rmatif Action) untuk Pemberdayaan

Perempuan Gambar 6.1 Strategi Pelaksanaan PUG Pendidikan

Keadilan dan Kesetaraan Gender

Pengarusutamaan gender pendidikan menjadi kebutuhan oleh karena adanya sejumlah masalah kesenjangan dan isu ketidakadilan gender di bidang pendidikan. Secara nasional maupun internasional semua stakehorlders pendidikan bersepakat untuk menjamin agar anak perempuan dan laki-laki sama-sama mendapat pendidikan yang bermutu, khususnya dalam rangka wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun dan atau pendidikan menengah dua belas tahun..

Sejalan dengan itu, sejumlah tantangan PUG Pendidikan ke depan perlu menjadi perhatian semua pihak, khususnya perhatian Pokja PUG Pendidikan, baik di Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/ Kota. Beberapa tantangan tersebut dapat digambarkan dalam kesepakatan, kebijakan, dan program berikut.

A. Komitmen Internasional 1. Deklarasi Dakkar

a. Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan yang sulit dan mereka yang termasuk etnik minoritas, mempunyai akses pada dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas yang baik. b. Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa

menjelang tahun 2015, terutama bagi kaum perempuan, dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa.

c. Penghapusan kesenjangan gender pada pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 dengan fokus pada kepastian sepenuhnya bagi anak perempuan terhadap akses dalam memperoleh pendidikan dasar yang bermutu.

2. Millenium Development Goal

a. Goal 2: yaitu mencapai pendidikan dasar bagi semua dengan tujuan bahwa pada tahun 2015 semua anak baik laki-laki maupun perempuan dapat mengenyam pendidikan dasar.

b. Goal 3: yaitu mempromosikan kesetaraan dan pemberdayaan perempuan dengan tujuan untuk menghapuskan segala bentuk disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah paling lambat pada tahun 2015.

BAB 6

POKOK-POKOK PROGRAM

PUG PENDIDIKAN

(19)

26

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

27

B. Rencana Aksi PUG Pendidikan

1. Kebijakan:

a. Terwujudnya persamaan akses pendidikan yang bermutu dan berkesetaraan gender bagi semua anak laki-laki dan perempuan b. Menurunnya tingkat keniraksaraan penduduk dewasa terutama

penduduk perempuan melalui peningkatan kinerja pendidikan pada setiap jenjang, jenis, dan jalur pendidikan

2. Strategi

a. Penyediaan akses pendidikan yang bermutu terutama pendidikan dasar secara merata bagi anak laki-laki dan perempuan baik melalui pendidikan persekolahan maupun Pendidikan Nonformal dan Informal

b. Penyediaan akses pendidikan kesetaraan bagi penduduk usia dewasa yang tidak dapat mengikuti pendidikan persekolah

c. Peningkatan penyediaan pelayanan pendidikan keaksaraan bagi penduduk dewasa terutama perempuan

d. Peningkatan koordinasi, informasi dan edukasi dalam rangka mengarusutamakan pendidikan responsif gender:

1). Peningkatan koordinasi dan penyebaran informasi dan edukasi 2). Pengembangan kelembagaan (capacity building) pendidikan

berwawasan gender

e. Pengembangan kelembagaan institusi pendidikan baik di tingkat pusat maupun daerah agar responsive gender

3. Sasaran

a. Meningkatnya partisipasi pendidikan penduduk usia sekolah yang diikuti dengan semakin seimbangnya rasio siswa laki-laki dan perempuan

b. Meningkatnya partisipasi penduduk miskin laki-laki dan perempuan c. Meningkatnya partisipasi pendidikan penduduk yang berusia diatas

usia sekolah 4. Target Prioritas

a. Pada jenjang SD-MI, intervensi lebih mempertimbangkan keberagaman antar wilayah atau provinsi dan kelompok pendapatan

b. Pada jenjang SLTP-MTs, intervensi lebih diarahkan untuk meningkatkan partisipasi penduduk laki-laki kelompok 40% termiskin c. Pada jenjang SLTA-MA, intervensi lebih diarahkan pada peningkatan partisipasi penduduk pada setiap kelompok masyarakat dan wilayah dengan penekanan pada penduduk dengan status ekonomi rendah d. Program PUG pada pendidikan tinggi terutama diarahkan dalam

menyiapkan landasan dasar gender itu sendiri, dengan meletakkan GAD sebagai body of knowledge.

e. Untuk pendidikan keaksaraan, intervensi lebih diprioritaskan pada peningkatan kemampuan keaksaraan penduduk perempuan yang miskin, yang tinggal di perdesaan, dan berusia lebih dari 25 tahun f. Meningkatkan kemampuan kelembagaan pendidikan sehingga memiliki

kemampuan dalam merencanakan pendidikan yang responsif gender 5. Kegiatan Pokok

a. Capacity Building.

Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kesadaran para pengambil kebijakan di Pusat maupun Daerah dalam melaksanakan PUG pendidikan. Sasaran dari kegiatan ini adalah para pengambil kebijakan (eksekutif dan legislatif) dan perencana pendidikan di pusat maupun di daerah. Capacity building dilakukan melalui:

• Mensosialisasikan gender manstreaming kepada para pelaku dan pengambil kebijakan di tingkat pusat dan daerah

• Membangun komitmen para pengambil kebijakan di bidang pendidikan dalam mewujudkan kesetaraan gender dan mengoptimalkan pelaksanaan program-program responsif gender b. Pelatihan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG). Untuk mendukung lahirnya kebijakan yang responsif gender, maka para perencana pendidikan di Pusat dan Daerah diberikan pemahaman tentang alur kerja analisis gender dan penyusunan program pembangunan yang responsif gender serta perencanaan dan penganggaran yang responsif gender.

c. Studi kebijakan/ Pengembangan Model Pendidikan Responsif Gender. Studi kebijakan dan pengembangan model pendidikan

(20)

responsive gender dilakukan melalui kerja sama dengan Pusat Studi Wanita/Gender di Perguruan Tinggi. Studi kebijakan dimaksudkan untuk melakukan kajian terhadap kebijakan-kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintah pusat maupun daerah (provinsi/ kabupaten/kota). Hasil studi dijadikan sebagai salah salah satu dokumen dalam merumuskan dan merancang position paper untuk bahan permusan kebijakan pembangunan pendidikan di pusat dan daerah yang responsive gender. Sedangkan pengembangan model yang dapat dilakukan diantaranya;

• Pendidikan Sekolah Responsif Gender • Pendidikan Keluarga Responsif Gender • Pendidikan Adil Gender

d. Kemitraan dengan Stakeholders Pendidikan. Salah satu upaya untuk mempercepat terwujudnya keadailan dan kesetaraan gender bidang pendidikan perlu dilakukan kemitraan dengan penerbit dan penulis buku/bahan ajar untuk menyusun bahan ajar yang responsif gender. Di samping itu, kemitraan dilakukan pula dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, komite sekolah, dewan pendidikan, dan organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.

e. Pengembangan Data dan Media KIE Pendidikan Responsif Gender. Pengembangan pendataan dan media KIE dilakukan antara lain melalui: • Pembuatan website PUG pendidikan di Kementerian Pendidikan

dan Kebudayaan, di setiap dinas pendidikan (provinsi dan kabupaten/kota) dan satuan pendidikan.

• Melakukan analisis data berdasarkan jenis kelamin terutama untuk mengetahui kinerja pendidikan responsif gender di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/ kota dan satuan pendidikan.

• Mengembangkan strategi kampanye pendidikan kepada masyarakat tentang berbagai bidang teknologi, lingkungan & informasi yang mungkin dapat diikuti kaum perempuan

• Melaksanakan program advokasi dan KIE tentang pentingnya keadilan dan kesetaraan gender dalam keluarga sedini mungkin.

C. Rencana Kerja Pembangunan Pendidikan Responsif Gender

1. Program Pendidikan Anak Usia Dini. Program ini bertujuan agar semua anak usia dini baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan tahap- tahap perkembangan atau tingkat usia mereka dan merupakan persiapan untuk mengikuti pendidikan jenjang sekolah dasar;

2. Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur formal maupun non-formal yang mencakup Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat, sehingga seluruh anak usia 7–15 tahun baik laki-laki maupun perempuan dapat memperoleh pendidikan, setidak-tidaknya sampai jenjang sekolah menengah pertama atau yang sederajat

3. Program Pendidikan Menengah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan menengah yang bermutu dan terjangkau baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan melalui jalur formal maupun non-formal yang mencakup Sekolah Menengah Atas (SMA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) atau bentuk lain yang sederajat

4. Program Pendidikan Tinggi. Program ini ditujukan untuk meningkatkan akses dan pemerataan pelayanan pendidikan tinggi baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas yang bermutu tinggi dan relevan terhadap kebutuhan pasar kerja, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sehingga dapat berkontribusi secara optimal pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan daya saing bangsa.

5. Program Pendidikan Non Formal. Program ini bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan baik untuk laki-laki maupun perempuan sebagai pengganti, penambah dan/atau pelengkap pendidikan formal

(21)

31

30

Panduan Kelompok Kerja (POKJA) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan ketrampilan fungsional dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

6. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kecukupan jumlah, kualitas, kompetensi dan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan baik laki-laki maupun perempuan pada satuan pendidikan formal dan non formal, negeri maupun swasta, untuk dapat menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis dan mempunyai komitmen secara profesional dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

7. Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan. Program ini ditujukan untuk mengembangkan budaya baca, bahasa, sastra Indonesia dan daerah dalam masyarakat termasuk peserta didik dan masyarakat umum guna membangun masyarakat berpengetahuan, berbudaya, maju dan mandiri.

8. Program Penelitian dan Pengembangan Pendidikan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan intensitas dan kualitas penelitian dan pengembangan pendidikan guna mendukung perumusan kebijakan dalam memecahkan permasalahan kendala pembangunan pendidikan. 9. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan. Program ini bertujuan

untuk meningkatkan kapasitas lembaga-lembaga di pusat dan daerah, mengembangkan tata pemerintahan yang baik (good governance), meningkatkan koordinasi antar tingkat pemerintahan, mengembangkan kebijakan, melakukan advokasi dan sosialisasi kebijakan pembangunan pendidikan, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan responsif gender.

BAGIAN KEDUA

PENINGKATAN KAPASITAS

KELEMBAGAAN

PENGARUSUTAMAAN GENDER (PUG)

BIDANG PENDIDIKAN

(22)

Daftar Isi

Halaman BAGIAN KEDUA ... 31 BAB I PENDAHULUAN ... 33 A. Latar Belakang ... 33 B. Dasar ... 35 C. Tujuan ... 35

D. Pengertian dan Lingkup Kegiatan ... 36

E. Hasil yang Diharapkan ... 37

BAB II PELAKSANAAN ... 38

A. Waktu dan Tempat ... 38

B. Materi ... 38 C. Metode Kegiatan ... 41 D. Waktu ... 41 E. Peserta ... 41 F. Pengarah/ Narasumber ... 42 G. Panitia Penyelenggara ... 42 H. Biaya ... 42

BAB III PENUTUP ... 43

LAMPIRAN ... 44

Lamp 1. Kisi-kisi Materi Kegiatan Koordinasi Antar Dinas Terkait Daerah dengan Pusat ... 44

Lamp 2. Kisi-kisi Materi Kegiatan Advokasi, Audiensi dan Diskusi (Round Table Discussion) ... 46

Lamp 3. Kisi-kisi Materi Sosialisasi Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan ... 48

Lamp 4. Kisi-kisi Materi Pelatihan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan Untuk Stakeholders ... 51

Lamp 5. Kisi-kisi Materi Pelatihan Penyusunan Kebijakan Pendidikan Responsif Gender dengan Menggunakan GAP dan GBS ... 54

Lamp 6. Kisi-kisi Materi Diskusi (Round Table Discussion) Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan ... 58

BAB 1

Pendahuluan

A. LATAR BELAKANG

Pengarusustamaan Gender di Indonesia telah dilaksanakan secara intensif dan berkesinambungan sejak dikeluarkannya Inpres Nomor 9 Tahun 2000 Tentang Pengarusutaaan gender Dalam pembangunan Nasional. Hasil yang telah dicapai oleh Indonesia Tahun 2013 terkait dengan kesetaraan dan keadilan gender dapat dilihat dari Human Development Index (HDI), Gender-related Development Index (GDI) dan Gender Inequality Index (GII).

Tabel 1.1. : HDI, GDI dan GII di Negara-Negara ASEAN Tahun 2013

No Negara HDI GDI GII

(1) (2) (3) (4) (5) 1 Singapura 0.901 0.967 0.090 2 Malaysia 0.773 0.935 0.210 3 Sri Lanka 0.750 0.961 0.383 4 Thailand 0.722 0.990 0.364 5 Indonesia 0.684 0.923 0.500 6 Philipina 0.660 0.989 0.406 7 Vietnam 0.638 - 0.322 8 Timor Leste 0.620 0.875 -9 Kamboja 0.584 0.909 0.505 10 Bangladesh 0.558 0.908 0.529 11 Myanmar 0.524 - 0.430

(23)

34

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

35

Data pada tabel 1.1. menunjukkan bahwa hasil pembangunan responsif

gender di Indonesia masih berada pada peringkat yang rendah dibandingkan negara-negara lain di ASEAN.

Di b i d a n g pendidikan, masih dijumpai adanya kesenjangan gender, baik dilihat dari aspek akses dan pemerataan pendidikan, mutu dan relevansi serta managemen pendidikan. Pada aspek akses dan pemerataan pendidikan terjadi kesenjangan gender pada Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angka Partisipasi Murni (APM), Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Melek Huruf. Pada aspek mutu dan relevansi terjadi bias gender dalam materi bahan ajar, dan pada aspek managemen sekolah, terjadi kesenjangan gender dalam representasi perempuan maupun laki-laki sebagai pengambilan kebijakan. Bentuk kesenjangan gender itu sendiri bervariasi antar wilayah di Indonesia, antar desa kota maupun antara status sosial ekonomi. Di satu wilayah, laki-laki berada dalam kondisi yang tertinggal dibandingkan perempuan, dan di wilayah lain perempuan lebih tertinggal dibandingkan laki-laki. Keduanya menunjukkan adanya indikasi kesenjangan gender.

Ada beberapa komponen kunci bagi keberhasilan Pengarusutamaan Gender, diantaranya adalah: (1) adanya komitmen politik untuk melaksanakan Pengarusutamaan Gender, (2) adanya Kebijakan dan Program yang mendukung kesetaraan dan keadilan gender; (3) Ada dan berfungsinya kelembagaan PUG, baik dalam bentuk Pokja PUG maupun Tim Penggerak PUG (Gender Focal Point); (4) ketersediaan sumberdaya; (5) tersedianya data dan informasi terpilah menurut jenis kelamin, (6) tersedianya media KIE PUG; dan (7) adanya dukungan jejaring antar stakeholders responsif gender.

Meskipun pengarusutamaan gender telah secara tegas dicanangkan sejak tahun 2000, dan di bidang pendidikan dilakukan secara terencana dan berkesinambungan sejak tahun 2003, namun hingga kini belum semua pengelola pembangunan pendidikan memahami tentang pengarusutamaan gender. Untuk itu maka peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan, mencakup pengembangan kebijakan dan program pembangunan pendidikan berwawasan gender, pengembangan aturan, kelembagaan dan mekanisme serta pengembangan kualitas sumberdaya manusia mutlak diperlukan.

B. DASAR

1. Undang – Undang Dasar 1945

2. Undang – Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifi kasi Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan

3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasiona 4. Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan

Gender Dalam Pembangunan Nasional

5. Kebijakan Pendidikan untuk Semua (Education for All) Tahun 2000. 6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 tentang

Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 67 Tahun 2011 tentang Perubahan

Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah 8. SE bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas),

Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor: 270/M. PPN/11/2012, SE-33/MK.02/2012, 050/4379A/SJ, SE 46/MPP-PA/11/2012 Tentang Strategi Nasional Percepatan Pengarusutamaan Gender Melalui Perencanaan Dan Penganggaran Yang Responsif Gender (PPRG)

C. TUJUAN

Kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan ditujukan untuk:

1. Menata ulang kelembagaan, aturan dan mekanisme serta kebijakan agar kondusif terhadap pembangunan pendidikan responsif gender. 2. Mendorong dikeluarkannya kebijakan dan program pembangunan

pendidikan responsif gender di masing-masing provinsi, kabupaten/ kota dan satuan pendidikan.

3. Meningkatkan komitmen dan kualitas sumberdaya manusia (para pemegang keputusan, para perencana, para pengelola, pelaksana, maupun stakeholders lainnya) sehingga memiliki pemahaman, sensitivitas dan responsivitas gender u n t u k merencanakan dan m e l a k s a n a k a n pembangunan pendidikan yang responsif gender.

(24)

D. PENGERTIAN DAN LINGKUP KEGIATAN

Yang dimaksud dengan peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kapasitas kelompok kerja PUG pendidikan dan tim penggerak PUG Pendidikan (Gender Focal Point) dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai wadah konsultasi bagi perencanaan, pelaksanaan dan monitoring serta evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pendidikan responsif gender.

Lingkup kegiatan peningkatan kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) bidang pendidikan mencakup:

1. Pengembangan kebijakan dan program p e n d i d i k a n responsif gender. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan kebijakan dan program pembangunan pendidikan responsif gender yang dilakukan oleh tim pusat dan atau tim daerah kepada dinas pendidikan d a n a t a u s a t u a n p e n d i d i k a n melalui:

a. advokasi, b. audiency,

c. diskusi (Round Table Discussion)

2. Pengembangan aturan, kelembagaan, dan mekanisme. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan aturan, kelembagaan d a n mekanisme yang mendukung pelaksanaan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan melalui pengembangan koordinasi antar dinas terkait yaitu Dinas Pendidikan, Lembaga yang menangani Pemberdayaan Perempuan, BPS, Bapeda, DPRD, Perguruan Tinggi ( Pusat Studi Wanita/Pusat Studi Gender), dan LSM.

3. Peningkatan kualitas SDM (para pemegang keputusan, perencana, para pengelola, pelaksana, dan stakeholders pendidikan lainnya) agar memahami dan melaksanakan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan melalui kegiatan:

a. Sosialisasi Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan b. Pelatihan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan untuk

Stakeholders

c. Pelatihan Penyusunan Kebijakan Pendidikan Responsif Gender (Perencanaan dan Penganggaran responsive Gender) antara lain dengan

menggunakan metode Gender Analysis Pathway (GAP) dan perumusan Gender Budget Statement (Pernyataan Anggaran Responsif Gender).

d. Diskusi (Round Table Discussion) Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan

E. HASIL YANG DIHARAPKAN

1. Tersusunnya kebijakan dan program pembangunan pendidikan responsif gender di tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan Provinsi dan kabupaten/kota serta satuan pendidikan. 2. Tersedianya aturan, kelembagaan dan mekanisme yang mendukung

pelaksanaan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan.

3. Tersusunnya position paper dan rencana aksi daerah pembangunan pendidikan yang responsif gender.

(25)

38

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan

39

BAB 3

PELAKSANAAN

A. WAKTU DAN TEMPAT

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan dilaksanakan di masing-masing daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Waktu dan tempat pelaksanaan ditetapkan oleh masing-masing daerah sesuai dengan kemampuan dan lingkungan budaya masing-masing. Tahapan kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan mencakup:

1. Pengembangan koordinasi antar dinas terkait di daerah dengan tim pusat untuk mendorong tersusunnya kebijakan dan program pembangunan pendidikan responsif gender.

2. Advokasi, audiensi dan diskusi (round table discussion) agar tersedia aturan, kelembagaan dan mekanisme yang mendukung pelaksanaan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan.

3. Pembentukan Pokja Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan di propinsi, kabupaten/ kota dan satuan pendidikan.

4. Pengembangan tool kits (bahan ajar) Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan dengan memperhitungkan hasil analisis gender tentang situasi pendidikan di provinsi, kabupaten/kota maupun satuan pendidikan.

5. Penentuan kriteria dan identifikasi sasaran kegiatan, baik lembaga, aturan, kebijakan maupun SDM.

6. Penjadwalan kegiatan sesuai dengan tata urutan prioritas kegiatan, mulai dari pengembangan koordinasi antar dinas terkait, advokasi, audiensi, dan diskusi (round table discussion) antara

tim pusat dengan daerah, Sosialisasi Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan, Pelatihan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan untuk Stakeholders, Pelatihan Penyusunan Kebijakan Pendidikan Responsif Gender antara lain dengan menggunakan metode Gender Analysis Pathway (GAP) dan Gender Budget

Statement, Diskusi ( Round Table Discussion )

Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan. 7. Pelaksanaan kegiatan.

8. Evaluasi kegiatan. B. MATERI

Materi yang disampaikan pada kegiatan Peningkatan Kapasitas

Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) Bidang Pendidikan

sekurang-kurangnya mencakup hal-hal sebagai berikut:

No Materi

Kegiatan

A B C D E F

(1) (2) (1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Kebijakan dan strategi pembangunan pendidikan responsif gender

2 Isu gender bidang pendidikan

3 Analisis situasi pendidikan berdasarkan Alur GAP dan GBS

4 Rencana aksi PUG bidang pendidikan

5 Diskusi untuk membangun komitmen untuk merumuskan kebijakan responsif gender

6 Diskusi untuk mengembangkan aturan, Kelembagaan dan mekanisme

(26)

6 Peranan stakeholders dalam mendukung PUG bidang pendidikan

7 Strategi pelibatan Stakeholders dalam PUG Pendidikan

8

Sumber dan analisis data bidang pendidikan menurut jenis kelamin, wilayah dan status sosial ekonomi

9 Simulasi analisis situasi pendidikan Berdasarkan alur GAP dan GBS

10 Kebijakan dan mekanisme perencanaan responsif gender

11 Penyusunan rencana aksi daerah pengarusutamaan gender bidang pendidikan

12 Simulasi penyusunan kebijakan pendidikan responsif gender

Keterangan kegiatan:

A. Koordinasi dinas terkait daerah dengan pusat B. Advokasi, Audiensi, dan diskusi (round table discussion) C. Sosialisasi Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan

D. Pelatihan Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan untuk Stakeholders E. Pelatihan Penyusunan Kebijakan Pendidikan ResponsiF Gender dengan

meng-gunakan metode GAP dan POP.

F. Round Table Discussion Pengarusutamaan Gender bidang pendidikan = ya

Dalam pelaksanaan kegiatan, tingkat kedalaman materi pelatihan dan lama waktu yang digunakan disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan peserta kegiatan (kisi-kisi materi kegiatan diuraikan selengkapnya pada lampiran 1 sd. 6)

C. METODE KEGIATAN

Metode kegiatan mencakup: 1. Ceramah dan tanya jawab 2. Simulasi

3. Diskusi kelompok 4. Curah pendapat

5. lain-lain (sesuai kebutuhan daerah). D. WAKTU

Kegiatan koordinasi, audiensi, advokasi dan diskusi antar daerah dengan pusat dilaksanakan minimal 1 hari selama minimal 2 kali dalam 1 tahun. Sosialisasi, Pelatihan Stakeholders Pendidikan, Pelatihan Penyusunan Kebijakan Pendidikan Responsif Gender dengan menggunakan metode GAP dan GBS, serta Round Table Discussion (RTD) masing- masing dilaksanakan sekurang-kurangnya 2 hari dalam satu tahun. Lama waktu kegiatan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di masing-masing wilayah kegiatan.

E. PESERTA

KEGIATAN PESERTA

(3) (4)

a. Koordinasi dinas terkait daerah dengan pusat

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian PP dan PA, Pokja PUG Pendidikan

b. Advokasi, audiensi, dan diskusi (round table discussion)

Kepala Dinas Pendidikan, Kepala BPS, Ketua Bappeda, Kepala Biro yang menangani PP, Kepala PSW/PSG, Pimpinan LSM, Pokja PUG Pendidikan dan tim pusat.

c. Sosialisasi pengarusutamaan gender bidang pendidikan

Minimal melibatkan: Semua bidang tugas Dinas Pendidikan dan pimpinan satuan pendidikan

Gambar

Tabel 4.1. Tugas Pokja PUG Pendidikan   Pokja PUG Pendidikan

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel promosi, pengetahuan nasabah dan motivasi memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada PT Al-Ijarah Indonesia

Kegiatan pemantauan pembuangan limbah B3 dievaluasi oleh petugas Kesling dan dilaporkan kepada panitia MFK setiap bulan.. Evaluasi pelaporan insiden/kontaminasi B3

Sebagian besar bangunan rumah dan toko yang terdapat di Kota Sei Rampah terdiri dari bangunan dengan konstruksi batu, terutama yang terdapat pada pusat kota yaitu jalan utama

Hal ini disebabkan pada siklus ketiga kemampuan sudah meningkat sesuai dengan yang diharapkan, anak sudah fokus dalam kegiatan bermain dengan menggunakan kotak angka, sudah

Dalam memberikan interpretasi data yang diperoleh peneliti menggunakan metode studi kasus kualitatif untuk mengetahui “ Strategi Dakwah Santri Dalam Menghadapi

Sehingga dapat dikatakan untuk parameter kualitas air kekeruhan, maka air sungai Kahayan hasil penyaringan dengan filter lempung mangan layak digunakan sebagai

Layer Distribusi disebut juga layer workgroup yang menerapkan titik kumunikasi antara layer akses dan layer inti. Fungsi utama layer distribusi adalah menyediakan routing,

Pada hujan efektif berintensitas seragam pada suatu daerah aliran tertentu, intensitas hujan yang berbeda tetapi memiliki durasi sama, akan menghasilkan hidrograf limpasan,