BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anak Sekolah Dasar (SD)

Menurut Hutagalung, M (2009), anak sekolah dasar merupakan individu yang sedang berkembang, barang kali tidak perlu lagi diragukan keberaniannya. Setiap anak sekolah dasar sedang berada dalam perubahan fisik maupun mental mengarah yang lebih baik. Tingkah laku mereka dalam menghadapi lingkungan sosial maupun non sosial meningkat. Anak kelas tiga, memiliki kemampuan tenggang rasa dan kerja sama yang lebih tinggi, bahkan ada di antara mereka yang menampakan tingkah laku mendekati tingkah laku anak remaja permulaan.

Seperti dikatakan Darmodjo (1992) yang dikutip Hutagalung, M (2009), anak usia sekolah dasar adalah anak yang sedang mengalami perrtumbuhan baik pertumbuhan intelektual, emosional maupun pertumbuhan fisik, di mana kecepatan pertumbuhan anak pada masing-masing aspek tersebut tidak sama, sehingga terjadi berbagai variasi tingkat pertumbuhan dari ketiga aspek tersebut. Ini suatu faktor yang menimbulkan adanya perbedaan individual pada anak-anak sekolah dasar walaupun mereka dalam usia yang sama.

Mereka mengembangkan rasa percaya dirinya terhadap kemampuan dan pencapaian yang baik dan relevan. Meskipun anak-anak membutuhkan keseimbangan antara perasaan dan kemampuan dengan kenyataan yang dapat mereka raih, namun perasaan akan kegagalan atau ketidakcakapan dapat memaksa mereka berperasaan

(2)

negatif terhadap dirinya sendiri, sehingga menghambat mereka dalam belajar. Piaget (1992), yang dikutip Hutagalung M (2009), mengidentifikasikan tahapan perkembangan intelektual yang dilalui anak yaitu : tahap sensorik motor usia 0-2 tahun, tahap operasional usia 2-6 tahun, tahap operasional kongkrit usia 7-11 atau 12 tahun, tahap operasional formal usia 11 atau 12 tahun ke atas.

Pada usia ini mereka masuk sekolah umum, proses belajar mereka tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, karena mereka sudah diperkenalkan dalam kehidupan yang nyata di dalam lingkungan masyarakat. Nasution (1992) mengatakan bahwa masa kelas tinggi sekolah dasar mempunyai beberapa sifat khas sebagai berikut : (1) adanya minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang kongkrit, (2) amat realistik, ingin tahu dan ingin belajar, (3) menjelang akhir masa ini telah ada minat terhadap hal-hal dan mata pelajaran khusus, oleh ahli yang mengikuti teori faktor ditaksirkan sebagai mulai menonjolnya faktor-faktor, (4) pada umumnya anak menghadap tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha menyelesaikan sendiri, (5) pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi sekolah, (6) anak pada masa ini gemar membentuk kelompok sebaya, biasanya untuk bermain bersama-sama (Hutagalung, M, 2009).

2.1.1. Karakteristik Anak Usia SD

Karakteristik anak usia sekolah dasar (SD) adalah sebagai berikut : 1. Pertumbuhan Fisik atau Jasmani

a. Perkembangan fisik atau jasmani anak sangat berbeda satu sama lain, sekalipun anak-anak tersebut usianya relatif sama, bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif sama pula. Sedangkan pertumbuhan anak-anak berbeda ras juga

(3)

menunjukkan perbedaan yang menyolok. Hal ini antara lain disebabkan perbedaan gizi, lingkungan, perlakuan orang tua terhadap anak, kebiasaan hidup dan lain-lain.

b. Nutrisi dan kesehatan amat mempengaruhi perkembangan fisik anak. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lamban, kurang berdaya dan tidak aktif. Sebaliknya anak yang memperoleh makanan yang bergizi, lingkungan yang menunjang, perlakuan orang tua serta kebiasaan hidup yang baik akan menunjang pertumbuhan dan perkembangan anak.

c. Olahraga juga merupakan faktor penting pada pertumbuhan fisik anak. Anak yang kurang berolahraga atau tidak aktif sering kali menderita kegemukan atau kelebihan berat badan yang dapat mengganggu gerak dan kesehatan anak. d. Orang tua harus selalu memperhatikan berbagai macam penyakit yang sering

kali diderita anak, misalnya bertalian dengan kesehatan penglihatan (mata), gigi, panas, dan lain-lain. Oleh karena itu orang tua selalu memperhatikan kebutuhan utama anak, antara lain kebutuhan gizi, kesehatan dan kebugaran jasmani yang dapat dilakukan setiap hari sekalipun sederhana.

2. Perkembangan Intelektual dan Emosional

a. Perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada berbagai faktor utama, antara lain kesehatan gizi, kebugaran jasmani, pergaulan dan pembinaan orang tua. Akibat terganggunya perkembangan intelektual tersebut anak kurang dapat berpikir operasional, tidak memiliki kemampuan mental dan kurang aktif dalam pergaulan maupun dalam berkomunikasi dengan teman-temannya.

(4)

b. Perkembangan emosional berbeda satu sama lain karena adanya perbedaan jenis kelamin, usia, lingkungan, pergaulan dan pembinaan orang tua maupun guru di sekolah. Perbedaan perkembangan emosional tersebut juga dapat dilihat berdasarkan ras, budaya, etnik dan bangsa.

c. Perkembangan emosional juga dapat dipengaruhi oleh adanya gangguan kecemasan, rasa takut dan faktor-faktor eksternal yang sering kali tidak dikenal sebelumnya oleh anak yang sedang tumbuh. Namun sering kali juga adanya tindakan orang tua yang sering kali tidak dapat mempengaruhi perkembangan emosional anak. Misalnya sangat dimanjakan, terlalu banyak larangan karena terlalu mencintai anaknya. Akan tetapi sikap orang tua yang sangat keras, suka menekan dan selalu menghukum anak sekalipun anak membuat kesalahan sepele juga dapat mempengaruhi keseimbangan emosional anak.

d. Perlakuan saudara serumah (kakak-adik), orang lain yang sering kali bertemu dan bergaul juga memegang peranan penting pada perkembangan emosional anak.

e. Dalam mengatasi berbagai masalah yang sering kali dihadapi oleh orang tua dan anak, biasanya orang tua berkonsultasi dengan para ahli, misalnya dokter anak, psikiatri, psikolog dan sebagainya. Dengan berkonsultasi tersebut orang tua akan dapat melakukan pembinaan anak dengan sebaik mungkin dan dapat menghindarkan segala sesuatu yang dapat merugikan bahkan memperlambat perkembangan mental dan emosional anak.

(5)

f. Stres juga dapat disebabkan oleh penyakit, frustasi dan ketidakhadiran orang tua, keadaan ekonomi orang tua, keamanan dan kekacauan yang sering kali timbul. Sedangkan dari pihak orang tua yang menyebabkan stres pada anak biasanya kurang perhatian orang tua, sering kali mendapat marah bahkan sampai menderita siksaan jasmani, anak disuruh melakukan sesuatu di luar kesanggupannya menyesuaikan diri dengan lingkungan, penerimaan lingkungan serta berbagai pengalaman yang bersifat positif selama anak melakukan berbagai aktivitas dalam masyarakat (Sofa, 2008).

2.1.2. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Sekolah Dasar

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran fisik (anatomi) dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya karena adanya multiplikasi (bertambah banyak), sel-sel organ tubuh dan juga karena bertambah besarnya sel. Jadi pertumbuhan lebih ditekankan pada pertumbuhan ukuran fisik seseorang, yaitu menjadi lebih besar atau lebih matang bentuknya serta pertambahan ukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala (Nursalam, 2005)

Sebuah organ yang tumbuh berarti organ itu akan menjadi besar, karena sel-sel dan jaringan diantara sel-sel bertambah banyak. Selama pembiakan sel-sel berkembang menjadi sebuah alat (organ) dengan fungsi tertentu. Pada permulaannya, organ ini masih sederhana dan fungsinya belum sempurna. Lambat laun organ tersebut dengan fungsinya akan tumbuh dan berkembang menjadi organ yang matang seperti yang diperlukan orang dewasa. Dengan demikian pertumbuhan, perkembangan dan kematangan tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain (Masudah, 2008).

(6)

2.2. Status Gizi Anak Sekolah Dasar

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi yang dibedakan antara status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih. Status gizi merupakan tanda-tanda atau penampilan seseorang akibat keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi. Dari penilaian status gizi tersebut dapat memantau kecepatan pertumbuhan anak, pemantauan pertumbuhan anak yang dilakukan dari waktu ke waktu, sehingga diperoleh pencapaian pertumbuhan pada saat tertentu melalui penilaian status gizi tersebut.

Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi yang digunakan secara efisien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat-zat gizi esensial. Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam jumlah berlebihan, sehingga menimbulkan efek toksis atau membahayakan. Gangguan gizi terjadi baik pada status gizi kurang, maupun status gizi lebih (Almatsier, 2004).

(7)

Hubungan antara status gizi dan pertumbuhan dapat dijabarkan dalam skema seperti pada gambar 1.

Gambar 1 : Hubungan antara status gizi dengan pertumbuhan

Status pertumbuhan yang terjadi merupakan pertumbuhan dari waktu ke waktu, untuk memantau pertumbuhan tersebut dilakukan dengan melihat status gizi yang diperoleh melalui keseimbangan asupan antara pemasukan dan pengeluaran zat gizi yang berasal dari pangan yang dikonsumsi setiap hari. Status gizi merupakan gambaran tingkat pencapaian pertumbuhan pada saat tertentu.

Untuk menilai kecepatan pertumbuhan atau pencapaian pertumbuhan seorang anak didasarkan pada ukuran fisik tubuh (Antropometri), sehingga ukuran-ukuran atau indeks antropometri dapat digunakan untuk menilai status gizi anak. Untuk menentukan status gizi dalam suatu survei gizi tidak sesederhana menentukan status

Status Gizi

(Status Keseimbangan Asupan dan Kebutuhan Zat Gizi)

Status Pertumbuhan Pertumbuhan dari waktu ke waktu Pencapaian pertumbuhan pada saat tertentu

(8)

gizi perorangan. Status gizi kelompok orang ditentukan melalui suatu perhitungan statistik dengan menghitung nilai hasil penimbangan dibandingkan dengan angka rata-rata atau median dan standar deviasi (SD) dari suatu angka acuan standar WHO. Dengan rumusan tertentu dapat dihitung nilai Z skor dari nilai BB/U. Z skor yang bernilai plus-minus 1 sampai 3 SD menentukan jenis status gizi (Supariasa, 2002).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu :

a. Faktor Genetik

b. Faktor lingkungan (pranatal dan pascanatal) a. Faktor Heredekonstitusionil (Genetik)

Gen yang terdapat di dalam nukleus dari telur yang dibuahi pada masa embrio mempunyai sifat tersendiri pada tiap individu. Manifestasi hasil perbedaan antara gen ini dikenal sebagai hereditas. Faktor hereditas atau genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.

Faktor yang juga termasuk heredekonstitusionil yaitu sebagai berikut (Masudah, 2008) :

1. Jenis kelamin. Pada umur tertentu pria dan wanita sangat berbeda dalam ukuran besar, kecepatan tumbuh, proporsi jasmani dan lain-lainnya sehingga memerlukan ukuran-ukuran normal tersendiri.

2. Ras atau bangsa. Oleh beberapa ahli antropologi disebutkan bahwa ras kuning mempunyai hereditas lebih pendek dibandingkan dengan ras kulit putih.

(9)

Perbedaan antar bangsa tampak juga bila kita bandingkan orang Skandinavia yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang Itali.

b. Faktor Lingkungan (pranatal dan pascanatal)

1. Faktor Pranatal

a). Gizi (defisiensi vitamin, iodium dan lain-lain)

Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi barat badan lahir rendah (BBLR) atau lahir mati dan jarang menyebabkan cacat bawaan.

b). Mekanis

Trauma dan cairan ketuban yang kurang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkan. Faktor mekanis seperti posisi fetus yang abnormal dan oligohidramnion dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti clubfoot,

mikrognatia dan kaki bengkok. Kelainan ini tidak terlalu berat karena mungkin

terjadi pada masa kehidupan intrauterin akhir. Implantasi ovum yang salah, yang juga dianggap faktor mekanis dapat mengganggu gizi embrio dan berakibat gangguan pertumbuhan.

c). Toksin/ zat kimia (propiltiourasil, aminopterin, obat kontrasepsi dan lain-lain). Telah lama diketahui bahwa obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kelainan seperti misalnya palatoskizis, hidrosefalus, disostosis kranial.

d). Bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes melitus sering menunjukkan kelainan berupa makrosomia, kardiomegali dan hiperplasia adrenal. Hiperplasia pulau Langerhans akan mengakibatkan hipoglikemia.

(10)

e). Radiasi (sinar Rontgen, radium dan lain-lain).

Pemakaian radium dan sinar Rontgen yang tidak mengikuti aturan dapat mengakibatkan kelainan pada fetus. Contoh kelainan yang pernah dilaporkan ialah mikrosefali, spina bifida, retardasi mental dan deformitas anggota gerak. Kelainan yang ditemukan akibat radiasi bom atom di Hiroshima pada fetus ialah mikrosefali, retardasi mental, kelainan kongenital mata dan jantung.

f). Infeksi (trimester I: rubela dan mungkin penyakit lain, trimester II dan berikutnya: toksoplasmosis, histoplasmosis, sifilis dan lain-lain). Rubela (German measles) dan mungkin pula infeksi virus atau bakteri lainnya yang diderita oleh ibu pada waktu hamil muda dapat mengakibatkan kelainan pada fetus seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan kongenital jantung. Lues kongenital merupakan contoh infeksi yang dapat menyerang fetus intrauterin sehingga terjadi gangguan pertumbuhan fisis dan mental. Toksoplasmosis pranatal dapat mengakibatkan makrosefali kongenital atau mikrosefali dan renitinitis.

g). Imunitas (eritroblastosis fetalis, kernicterus).

Keadaan ini timbul atas dasar adanya perbedaan golongan darah antara fetus dan ibu, sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah bayi yang kemudian melalui plasenta masuk ke dalam peredaran darah bayi yang akan mengakibatkan hemolisis. Akibat penghancuran sel darah merah bayi akan timbul anemia dan hiperbilirubinemia. Jaringan otak sangat peka terhadap hiperbilirubinemia ini dan dapat terjadi kerusakan.

(11)

h). Anoksia embrio (gangguan fungsi plasenta) Keadaan anoksia pada embrio dapat mengakibatkan pertumbuhannya terganggu.

i). Stres

Stres yang dialami ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain (Soetjiningsih, 1995).

2. Faktor Pascanatal.

a). Gizi (masukan makanan kualitatif dan kuantitatif) Termasuk dalam hal ini bahan pembangun tubuh yaitu protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin.

b). Penyakit (penyakit kronis dan kelainan kongenital) Beberapa penyakit kronis seperti glomerulonefritis kronik, tuberkulosis paru dan penyakit seliak dapat mengakibatkan retardasi pertumbuhan jasmani.

c). Keadaan sosial-ekonomi. Hal ini memegang peranan penting dalam pertumbuhan anak. Jelas dapat terlihat pada ukuran bayi yang lahir dari golongan orang tua dengan keadaan sosial-ekonomi yang kurang, yang lebih rendah dibandingkan dengan bayi dari keluarga dengan sosial-ekonomi yang cukup.

d). Musim. Di negeri yang mempunyai 4 musim terdapat perbedaan kecepatan tumbuh berat badan dan tinggi. Pertambahan tinggi terbesar pada musim semi dan paling rendah pada musim gugur. Sebaliknya penambahan berat badan terbesar terjadi pada musim gugur dan terkecil pada musim semi.

e). Lain-lain. Banyak faktor lain yang ikut berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, antara lain pengawasan medis, perbaikan sanitasi, pendidikan, faktor psikologi dan lain-lain.

(12)

2.3. Antropometri

Cara pengukuran status gizi yang paling sering digunakan adalah antropometri gizi.

2.3.1. Pengertian Antropometri

Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros. Anthropos artinya tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometeri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalan tubuh (Supariasa. 2002).

2.3.2. Keunggulan dan Kelemahan Penggunaan Antropometri

Sebelum menguraikan tentang keunggulan antropometri sebaiknya mengenal apa yang mendasari penggunaan antropometri. Beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri yaitu :

1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa dan alat pengukur yang bisa dibuat sendiri di rumah.

2. Pengukuran dapat dilakukan secara berulang-ulang dengan mudah dan objektif. 3. Pengukuran bukan hanya dilakukan oleh tenaga profesional, juga oleh tenaga lain

setelah dilatih untuk itu

4. Biaya relatif murah, karena alat ini mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lain

(13)

5. Hasilnya mudah disimpulkan, karena mempunyai ambang batas dan buku rujukan yang sudah pasti

6. Diakui kebenarannya secara ilmiah

Keunggulan antropometri menurut Supariasa (2002), yaitu sebagai berikut : 1. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang

besar

2. Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih

3. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama dapat dipesan dan dibuat didaerah setempat.

4. Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan

5. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau

6. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang dan gizi buruk karena sudah diambang batas yang jelas

7. Metode antropometeri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu atau dari satu generasi ke generasi berikutnya

8. Metode antropometeri gizi dapat digunakan untuk penapisan kelompok rawan terhadap gizi.

Ukuran (parameter) yang biasa digunakan dalam antropometri gizi adalah : berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas (LLA), Lingkar Kepala (LK), Lingkar Dada (LD), Lapisan lemak di bawah kulit (LLBK) dan umur.

(14)

Disamping keunggulan tersebut diatas terdapat juga beberapa kelemahan yaitu sebagai berikut :

1. Tidak sensitif, metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zink dan Fe

2. Faktor diluar gizi (penyakit, genetik dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri

3. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi dan validitas pengukuran antropometri gizi

4. Kesalahan ini terjadi karena : a. Pengukuran

b. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan c. Analisis dan asumsi yang keliru

5. Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan a. Latihan petugas yang tidak cukup

b. Kesalahan alat atau alat tidak ditera c. Kesulitan pengukuran

2.4. Indeks Antropometri

Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi. Kombinsi dari beberapa parameter disebut indeks antropometri. Disamping mudah penggunaannya, biaya operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan cara lain yang menggunakan pemeriksaan laboratorium dan klinis. Ada beberapa indeks

(15)

antropometri yang umum dikenal yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) digunakan baku Harvard yang disesuaikan untuk Indonesia (100% baku Indonesia = 50 persentile baku Harvard) dan untuk lingkar lengan atas (LLA) digunakan baku Wolanski. Tiga dari indeks antropometri tersebut diatas yang paling sering digunakan karena pengukurannya lebih baik yaitu (Hastoety, 2002) :

2.4.1. Berat Badan Menurut Umur (BB/U)

Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan/penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh, antara lain tulang otot, lemak, cairan tubuh dan lain-lainnya (Soetjiningsih, 2001).

Berat badan yaitu satu parameter yang memberikan gambaran masa tubuh. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur.

1. Kelebihan Indeks BB/U

Indeks berat badan nyai beberapa kelebihan antara lain :

a. Lebih mudah dan lebih cepat dimengerti oleh masyarakat umum b. Baik untuk mengukur status gizi akut atau kronis

c. Berat badan dapat berfluktuasi

d. Sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan kecil e. Dapat mendeteksi kegemukan (over weight)

(16)

2. Kelemahan Indeks BB/U

Disamping mempunyai kelebihan, indeks BB/U juga mempunyai beberapa kekurangan antara lain :

a. Dapat mengakibatkan interpretasi status Gizi yang keliru bila terdapat edema maupun asites

b. Di daerah pedesaan yang masih terpencil dan tradisional, umur sering sulit ditafsir secara tepat

c. Memerlukan data umur yang akurat

d. Sering terjadi kesalahan dalam pengukuran, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak pada saat penimbangan

e. Secara operasional sering mengalami hambatan karena masalah sosial budaya setempat.

Berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U) terhadap baku rujukan WHO-NCHS (2007), maka indikator pertumbuhan menurut Z-skor yaitu :

1. BB Normal : Z skor ≥ - 2 s/d ≤ 2 2. BB Kurang : Z skor≥ - 3 s/d < - 2 3. BB Sangat kurang : Z skor < - 3

2.4.2. Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)

Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertumbuhan umur. Berikut kelemahan dan keuntungan dari indeks menurut TB/U yaitu :

(17)

a. Baik untuk menilai status gizi masa lampau

b. Ukuran panjang dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa 2. Kelemahan Indeks TB/U

a. Tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun

b. Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga diperlukan dua orang untuk melakukannya

c. Ketepatan umur sulit didapat

Berdasarkan indeks panjang badan menurut umur (TB/U) terhadap baku rujukan WHO-NCHS (2007), maka indikator pertumbuhan menurut Z-skor yaitu : 1. TB Normal :Z-skor ≥ - 2 s/d ≤ 3

2. TB Pendek : Z- skor ≥ - 3 s/d - 2 3. TB Sangat pendek : Z skor < - 3

4. TB Lebih dari normal : Z skor > 3 2.4.3. Indeks Massa Tubuh Menurut Umur

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menetapkan pelaksanaan perbaikan gizi adalah dengan menentukan atau melihat. Ukuran fisik seseorang sangat erat hubungannya dengan status gizi. Atas dasar itu, ukuran-ukuran yang baik dan dapat diandalkan bagi penentuan status gizi dengan melakukan pengukuran antropometri. Hal ini karena lebih mudah dilakukan dibandingkan cara penilaian status gizi lain, terutama untuk daerah pedesaan (Supariasa, dkk, 2001).

Pengukuran status gizi pada anak sekolah dapat dilakukan dengan cara antropometri. Saat ini pengukuran antropometri (ukuran-ukuran tubuh) digunakan

(18)

secara luas dalam penilaian status gizi, terutama jika terjadi ketidakseimbangan kronik antara intake energi dan protein. Pengukuran antropometri terdiri atas dua dimensi, yaitu pengukuran pertumbuhan dan komposisi tubuh. Kom,posisi tubuh mencakup komponen lamak tubuh (fat mass) dan bukan lemak tubuh (non-fat mass) (Riyadi, 2004).

Pengukuran status gizi anak sekolah dapat dilakukan dengan indeks antropometri dan menggunakan Indeks Massa Tubuh Menurut Umur (IMT/U) anak sekolah.

Rumus IMT

Berat badan (kg) IMT =

Tinggi bBadan (m) x Tinggi Badan (m)

Berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U) terhadap baku rujukan WHO-NCHS (2007), indikator pertumbuhan menurut Z-skor yaitu :

1. Sangat gemuk : Z skor > 3

2. Gemuk : Z skor > 2 s/d ≤ 3 3. Normal : Z skor ≥ - 2 s/d ≤ 2 4. Kurus : Z skor ≥ - 3 s/d < 2 5. Sangat kurus : Z skor < - 3

Dari berbagai jenis indeks tersebut diatas, untuk menginterpretasikannya dibutuhkan ambang batas. Penentuan ambang batas diperlukan kesepatakatan para Ahli Gizi. Ambang batas dapat disajikan ke dalam tiga cara yaitu : persen terhadap median, persentil dan standar deviasi unit.

(19)

a. Persen terhadap Median

Median adalah nilai tengah dari suatu populasi, dalam antropometri gizi median sama dengan persentil 50. Nilai median dinyatakan sama dengan 100% (untuk standar). Setelah itu dihitung persentase terhadap nilai median untuk mendapatkan ambang batas.

b. Persentil

Cara lain untuk menentukan ambang batas selain persen terhadap median adalah persentil. Persentil 50 sama dengan median atau nilai tengah dari jumlah populasi berada diatsny dan setengahnya berada dibawahnya. National Center of

Health Statistics (NCHS) merekomendasikan persentil ke 5 sebagai batas gizi baik

dan kurang, serta persentil 95 sebagai batas gizi lebih dan gizi baik. Contoh 100 anak yang diukur tingginya, kemudian diurutkan dari yang terkecil sampai yang terbesar. Seorang anak (Ali) berada pada urutan ke 15 berarti persentil 15, hal ini berarti 14 anak berada dibawahnya dan 85 anak berada diatasnya (Supariasa, 2002).

c. Standar Deviasi Unit (SD)

Standar deviasi unit disebut juga Z-skor. WHO (2007), menyarankan untuk menggunakan cara ini untuk meneliti dan untuk memantau pertumbuhan.

2.5. Cara Pengukuran Tinggi Badan Anak SD

Pengukuran tinggi badan secara periodik bermanfaat untuk mengevaluasi kecenderungan pertumbuhan fisik anak usia sekolah. Disamping itu, informasi ini juga sangat berguna untuk para penentu kebijakan dalam rangka perencanaan dan

(20)

intervensi upaya peningkatan status gizi pada umumnya serta sebagai indikator pembangunan. (Depkes RI, 1999).

a. Posisi Anak, dengan syarat-syarat sebagai berikut :

1. Sewaktu diukur anak tidak boleh memakai alas kaki (sandal, sepatu) dan penutup kepala (topi atau kerudung)

2. Anak berdiri membelakangi dinding dengan pita meteran berada ditengah bagian kepala

3. Posisi anak tegak bebas, tidak sikap tegak seperti tentara 4. Tangan dibiarkan tergantung bebas menempel ke badan 5. Tumit rapat, tetapi ibu jari kaki tidak rapat

6. Kepala, tulang belikat, pinggul dan tumit menempel ke dinding 7. Anak menghadap dengan pandangan lurus ke depan

b. Cara Penggunaan Alat Bantu

Untuk menentukan angka tinggi badan anak pada pita meteran, digunakan alat bantu berupa segitiga siku-siku. Segitiga siku-siku diletakkan di atas kepala :

a) Satu sisi menempel di bagian tengah kepala anak dan satu sisi lainnya menempel ke pita meteran di dinding

b) Hasil pengukuran dibaca sebelum segitiga siku-siku yang menempel di kepala anak digerakkan.

Sedangkan untuk cara membaca angka tinggi badan dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu sebagai berikut :

1. Pembacaan dilakukan setelah anak selesai diukur pada skala yang ditunjuk oleh sudut segitiga siku-siku.

(21)

2. Lihat skala panjang di bawah sudut siku.

a) Baca angka dibawah sisi segitiga siku-siku tersebut, yang menunjukkan angka dalam cm.

b) Jumlah skala kecil diatas skala panjang menunjukkan milimeter (persepuluh cm)

c) Sudut segitiga siku-siku tepat di skala panjang, contoh baca : 109, 3 cm.

BAB III

Figur

Gambar 1 : Hubungan antara status gizi dengan  pertumbuhan

Gambar 1 :

Hubungan antara status gizi dengan pertumbuhan p.7

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Tingkah Laku dalam lingkungan