• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN IV TAHUN 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INDEKS TENDENSI KONSUMEN TRIWULAN IV TAHUN 2016"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

A. Penjelasan Umum

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator perkembangan ekonomi konsumen terkini yang

dihasilkan Badan Pusat Statistik melalui Survei Tendensi Konsumen (STK). ITK merupakan indeks yang

menggambarkan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan berjalan dan perkiraan triwulan

mendatang.

Jumlah sampel STK di Provinsi DKI Jakarta pada triwulan IV-2016 ada sebanyak 880 rumah tangga

yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. Sebanyak 822 rumah tangga dapat menjadi responden yang

aktif, sementara sisanya yaitu 58 rumah tangga tidak berhasil diwawancarai. Responden STK dipilih

pada strata blok sensus kategori sedang dan tinggi berdasarkan wealth index dan mereka adalah

sub-sampel dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas). Pemilihan sub-sampel dilakukan secara Panel antar

triwulan untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perubahan persepsi konsumen

antar waktu. Pada saat yang sama juga dilakukan penyempurnaan kuesioner dan cara penghitungan

indeksnya.

B. Kondisi Ekonomi Konsumen Triwulan IV-2016

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di DKI Jakarta pada Triwulan IV-2016 sebesar 104,28 yang artinya

kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2016 secara umum dikatakan meningkat

dibandingkan triwulan sebelumnya. Tingkat optimisme triwulan terakhir 2016 lebih rendah

dibandingkan dengan Triwulan III-2016 (ITK = 108,79).

Meningkatnya kondisi ekonomi yang dirasakan oleh konsumen pada triwulan tersebut didorong

oleh persepsi mereka akan adanya (1) peningkatan pendapatan rumahtangga, (2) inflasi yang tidak

terlalu mempengaruhi total pengeluaran, serta (3) peningkatan volume konsumsi barang dan jasa.

C. Perkiraan Ekonomi Konsumen Triwulan I-2017

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di DKI Jakarta pada Triwulan I-2017 diperkirakan sebesar 110,31.

Hal ini dapat diartikan bahwa sebagian besar konsumen merasa bahwa kondisi ekonomi serta

optimisme di triwulan mendatang akan jauh lebih baik dibandingkan dengan periode pada saat

pencacahan. Tingkat optimisme konsumen pada periode triwulan pertama 2017 tersebut lebih

tinggi dibanding triwulan terakhir 2016.

Perbaikan kondisi ekonomi konsumen pada triwulan pertama 2017 utamanya dipicu oleh

ekspektasi terhadap perkiraan akan meningkatnya pendapatan rumahtangga serta adanya rencana

pembelian barang-barang tahan lama pada tiga bulan pertama di tahun 2017.

No. 10/02/31/Th. XIX, 6 Februari 2017

INDEKS TENDENSI KONSUMEN

(2)

1.

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV Tahun 2016

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di DKI Jakarta pada Triwulan IV-2016 adalah sebesar 104,28 yang artinya kondisi ekonomi konsumen pada triwulan tersebut secara umum dikatakan meningkat dibandingkan triwulan ketiga tahun 2016. Sementara, bila besaran ITK Triwulan IV-2016 dibandingkan dengan ITK periode sebelumnya, maka tingkat optimisme konsumen pada triwulan keempat lebih rendah.

Tabel 1. Indeks Tendensi Konsumen Menurut Variabel Pembentuknya

Variabel Pembentuk Triwulan III

2016

Triwulan IV 2016

(1) (3) (3)

 Pendapatan rumah tangga 111,65 105.54

 Pengaruh inflasi terhadap total pengeluaran rumahtangga 101,32 102.97  Tingkat konsumsi bahan makanan/minuman, makanan/minuman jadi,

rokok, tembakau, makan di restoran/rumah makan, dan bukan makanan (pakaian, pulsa HP, rekreasi/hiburan, akomodasi, transportasi, perawatan kesehatan dan kecantikan)

111,46 102.95

Indeks Tendensi Konsumen (ITK) 108,79 104,28

Berdasarkan variabel pembentuk ITK, membaiknya ekonomi konsumen (nilai indeks di atas 100) yang terjadi di triwulan terakhir 2016 ini didorong oleh seluruh komponen pembentuk indeks. Urutan optimisme menurut komponen yang nilai indeksnya tertinggi adalah peningkatan pendapatan kini rumahtangga, kemudian diikuti komponen inflasi dimana kenaikan harga secara rata-rata tidak berpengaruh pada total pengeluaran, serta peningkatan volume konsumsi barang dan jasa. Nilai indeks ketiganya masing masing adalah sebesar 105,54; 102,97 dan 102,95.

Berdasarkan survei STK yang dilaksanakan pada akhir November 2016, secara rata-rata responden mengatakan bahwa ada peningkatan pendapatan yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat DKI Jakarta di triwulan terakhir 2016. Peningkatan pendapatan tersebut menjadi pemicu utama meningkatnya optimisme konsumen di DKI Jakarta. Dengan meningkatnya pendapatan, masyarakat memiliki kemampuan dalam mengkonsumsi barang dan jasa meskipun ada kenaikan harga ketika di penghujung tahun.

Komponen tertinggi kedua adalah rendahnya pengaruh inflasi pada pengeluran. Hal ini dapat diartikan bahwa meskipun ada inflasi yang biasanya cukup tinggi pada setiap akhir tahun, namun hal ini tidak sampai mempengaruhi total pengeluaran rumahtangga (ditunjukkan dengan indeks diatas 100). Berdasarkan hasil survei terhadap 822 rumahtangga terpilih, sebagian besar masyarakat ibukota menyatakan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok yang biasanya terjadi di setiap akhir tahun, ternyata tidak mempengaruhi pengeluaran mereka. Seperti diketahui bahwa di akhir triwulan empat, ada dua perayaan besar yaitu Natal dan malam pergantian tahun. Akan tetapi, kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang umumnya terjadi menjelang kedua kegiatan tersebut tidak mengurangi optimisme masyarakat untuk berbelanja. Hal tersebut juga sejalan dengan tetap tingginya indeks tingkat konsumsi makanan pada triwulan keempat 2016 seperti yang terlihat pada tabel 2 (nilai indeks 120,48).

Kondisi harga barang dan jasa selama Triwulan IV-2016 menurut Indeks Harga Konsumen (IHK), secara umum menunjukkan inflasi komulatif yang relatif stabil yaitu sebesar 0,76 persen1. Angka inflasi tiga bulanan ini

ternyata lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 0,83 persen. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi karena pada awal periode triwulan ketiga tahun 2016 terdapat perayaan besar bagi umat muslim yaitu Idul

(3)

Fitri dimana jatuh pada awal bulan Juli 2016. Berdasarkan survei, jumlah barang yang dikonsumsi masyarakat secara, rata-rata, pada triwulan keempat tahun 2016 ternyata tidak terlalu berpengaruh oleh kenaikan harga secara rata-rata atau inflasi. Tingkat optimisme triwulan keempat yang lebih tinggi dibanding triwulan ketiga dapat ditunjukkan di table 1 dimana nilai indeksnya dari 101,32 menjadi 102,97.

Komponen ITK berikutnya adalah komponen tingkat konsumsi barang dan jasa baik dari sisi volume maupun frekuensi. Angka indeks pada komponen pada Triwulan IV-2016 menunjukkan nilai yang jauh lebih rendah dibanding Triwulan III-2016 yaitu dari 111,46 menjadi 102,95. Penurunan tersebut juga ditengarai karena telah berlalunya hari raya Idul Fitri dimana pada saat itu adalah momen puncak tertinggi konsumsi masyarakat di DKI Jakarta dimana sekitar 85 persen penduduk DKI Jakarta beragama muslim2. Akan tetapi nilai 102,95 tersebut dapat

dikatakan cukup optimis meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya.

Tabel 2. Indeks Konsumsi Komoditi-Komoditi

Pada tabel 2 di atas, angka indeks kelompok makanan triwulan IV-2016 yang sebesar 120,48 mengindikasikan bahwa masyarakat di DKI Jakarta sebagian besar sangat optimis dalam membelanjakan uangnya untuk membeli makanan khususnya bahan makanan yang indeksnya lebih tinggi. Namun nilainya indeks tersebut ternyata masih lebih rendah bila dibandingkan indeks yang sama pada triwulan sebelumnya yang mencapai 131,98. Konsumsi bahan makanan masih menjadi pendorong tingginya optimisme konsumen di DKI Jakarta. Sebaliknya, indeks komponen makanan jadi (di restoran atau rumah makan) justru menunjukkan penurunan optimisme dibandingkan periode sebelumnya.

Fenomena yang berbeda terjadi pada kelompok non-makanan di triwulan terakhir 2016. Pada periode tersebut angka indeksnya justru berada di bawah nilai 100. Hal ini dapat dikatakan bahwa masyarakat DKI Jakarta secara rata-rata tidak terlalu bergairah dalam berbelanja barang dan jasa Non-Makanan dibandingkan periode triwulan ketiga 2016. Pada periode tersebut, secara rata-rata masyarakat mengurangi konsumsi barang non-makanan yang ditunjukkan dengan besaran nilai indeks kurang dari 100. Bahkan penurunan tersebut terjadi pada seluruh komponen pembentuk indeks non-makanan. Hanya ada tiga indeks yang masih menunjukkan optimisme. Hal ini lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai empat komponen yang tetap optimis. Nilai indeks yang mangalami penurunan paling besar terjadi pada komponen Pakaian dimana turun 23,76 poin bahkan

2Berdasarkan data hasil Sensus Penduduk 2010

Kelompok Barang dan Jasa Triwulan III – 2016 Triwulan IV – 2016

(1) (3) (3)

A. Indeks Makanan 131,98 120,48

1. Bahan makanan 137,86 129,97

2. Makanan jadi di restoran/rumah makan 126,10 110,99

B. Indeks Non Makanan 105,60 97,95

3. Pakaian 119,15 95,39

4. Komunikasi (Pembelian Pulsa HP) 126,08 123,34

5. Pendidikan 119,21 108,88

6. Rekreasi/Hiburan 86,69 82,41

7. Akomodasi (Hotel/Penginapan) 76,44 74,03

8. Transportasi 120,79 117,22

9. Perawatan Kesehatan dan Kecantikan 90,82 84,40

(4)

turun dari posisi optimis menjadi kurang optimis yaitu turun dari 119,15 menjadi 95,39. Sementara komponen lainnya mengalami penurunan akan tetapi tidak setajam komponen Pakaian.

2.

Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I Tahun 2017

Kondisi ekonomi masyarakat di DKI Jakarta pada Triwulan I-2017 diperkirakan lebih baik dibandingkan triwulan IV-2016. Hal tersebut ditunjukkan pada indeks perkiraan Triwulan I-2017 yang mencapai 110,31. Rencana pembelian barang-barang tahan lama menjadi komponen utama yang mendorong tingginya optimisme konsumen di ibukota khususnya karena menjelang akhir tahun 2016. Optimisme tersebut dirdorong dengan adanya rencana kenaikan gaji dan tunjangan lainnya bagi PNS serta adanya peningkatan UMP DKI Jakarta yang mempengaruhi pendapatan bagi buruh dan karyawan swasta di ibukita. Hal ini membuat sebagian warga DKI Jakarta menganggap pada periode tiga bulan pertama 2017 membawa optimisme akan perbaikan pendapatan mereka.

Dengan meningkatnya pendapatan, maka akan sejalan juga dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan sekunder rumahtangga yaitu ditunjukkan pada komponen rencana pembeliaan barang-barang tahan lama dan juga jasa seperti rekreasi dan kegiatan sosial.

Tabel 3. Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2017 Menurut Variabel Pembentuknya

Variabel Pembentuk Nilai Indeks

(1) (2)

- Perkiraan pendapatan rumahtangga mendatang 110,46 - Rencana pembelian barang-barang tahan lama, (elektronik,

perhiasan, perangkat komunikasi, meubelair, peralatan rumahtangga, kendaraan bermotor, tanah, rumah), rekreasi, dan pesta/hajatan

110,05

Indeks Tendensi Konsumen Mendatang 110.31

Tingkat optimisme mendatang merupakan indikator yang sangat penting bagi pelaku bisnis yang memiliki market warga DKI Jakarta. Indikator ini menjadi sangat penting dalam hal mengantisipasi produksi serta ekspansi kegiatan. Ekspetasi serta optimisme konsumen di DKI Jakarta selama beberapa periode terakhir ini selalu berada di atas 100. Hal tersebut membuktikan bahwa masyarakat sebagai konsumen di Ibukota melihat dengan penuh optimisme terhadap perekonomian di DKI Jakarta maupun terhadap perekonomian nasional. Oleh sebab itu masyarakat selalu memiliki keinginan untuk melakukan konsumsi dari waktu ke waktu. Pelaku bisnis dapat memaknai situsi tersebut dengan merencanakan produksi dan strategi pemasaran yang tepat pada setiap segmen pasar di DKI Jakarta. Pada triwulan pertama 2017 malah ada fenomena yang menarik, dimana tingkat optimisme mendatangnya lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini berbeda dibanding biasanya yang selalu lebig rendah (lihat grafik 1).

Grafik 1. Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan 3 - 2011 s.d Triwulan 1 - 2017

110.68 110.88 113.55 109.53 107.37 110.31 100 105 110 115 120

II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I

2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 Ti ng kat O pt im ism e Kon su m en

(5)

3.

Perbandingan ITK Regional

Kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2016 di seluruh kawasan Jawa-Bali menunjukkan tingkat optimisme yang cukup tinggi. Bahkan tingkat optimisme konsumen di kawasan tersebut berada di atas rata-rata tingkat optimisme konsumen di Indonesia. Diantara 7 provinsi di kawasan tersebut, Banten merupakan provinsi dengan tingkat optimisme konsumen tertinggi dengan nilai 104,65. Sementara Konsumen di DKI Jakarta menduduki urutan berikutnya serta masih di atas ITK Provinsi Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Konsumen di Jawa Tengah menunjukkan nilai ITK di bawah 100, namun masih dapat dikatakan relatif stagnan dalam melihat perekonomiannya.

Grafik 2. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV-2016 Nasional dan 7 Provinsi di Jawa dan Bali

Kondisi ekonomi konsumen pada triwulan pertama 2017 diperkirakan akan mengalami peningkatan di wilayah Jawa dan Bali. Optimisme masyarakat di Provinsi DKI Jakarta memiliki prespektif yang tertinggi untuk triwulan mendatang. Setelah DKI diikuti oleh Provinsi Bali dan Jawa Timur dengan nilai indeks masing-masing 110,19 dan 110,03. Sementara tingkat optimisme triwulan mendatang yang terendah terjadi di Provinsi Jawa Barat dengan nilai indeks 104,62 (Lihat Grafik 3). Menurut survei, konsumen di Provinsi DI Yogya dan Jawa Barat pada Triwulan I-2017 yang akan datang, tingkat optimismenya akan lebih rendah dibandingkan tingkat optimisme rata-rata nasional.

Grafik 3. Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan I-2017 Nasional dan 7 Provinsi di Jawa dan Bali

104.65

104.28

103.34

103.15

101.59

100.57

99.93

102.46

Banten

DKI Jakarta Jawa Timur

DI Yogya

Jawa Barat

Bali

Jawa Tengah

110.31

110.19

110.03

107.78

107.31

106.17

104.62

106.30

(6)

BPS PROVINSI DKI JAKARTA

Informasi lebih lanjut hubungi:

Syarifuddin Nawie, S.Si., ME.

Bidang Neraca Wilayah & Analisis Statistik

Telepon

:

021-31928493, ext. 600

Fax

:

021-3152004

e-mail

:

[email protected]

Homepage

:

http:// jakarta.bps.go.id

Gambar

Tabel 1. Indeks Tendensi Konsumen Menurut Variabel Pembentuknya
Tabel 2. Indeks Konsumsi Komoditi-Komoditi
Tabel 3. Perkiraan Indeks Tendensi Konsumen Triwulan I-2017 Menurut Variabel Pembentuknya
Grafik 2. Indeks Tendensi Konsumen (ITK) Triwulan IV-2016   Nasional dan 7 Provinsi di Jawa dan Bali

Referensi

Dokumen terkait

Pada tabel 4.5 dari keempat variabel yang digunakan dalam penelitian ini, variabel yang signifikan adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD), Penanaman Modal Asing (PMA) dan Ang katan

Kebiasaan dalam pengelolaan pembuatan kue rumahan di Desa Lampanah memiliki kebiasaan kurang baik, hal ini di sebabkan karena pengelolaan kue rumahan oleh

Luas Panen, Rata-rata Produksi dan Total Produksi Padi Sawah Menurut Kecamatan Tahun 2011 Harvest Area, Average Production, and Total Production of Wetland Paddy per Districts

Hasil analisa dengan Amos 6.0 menunjukkan bahwa variabel pengeluaran pemerintah memiliki nilai estimasi yang positif tidak signifikan terhadap kesejahteraan

Parfum Laundry Mataram Beli di Surga Pewangi Laundry Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik.. BERIKUT INI JENIS

Pelaksanaan perjanjian safe deposit box antara bank dengan nasabah, dapat dikatakan bahwa nasabah melakukan dua kegiatan yaitu di satu sisi nasabah melakukan perjanjian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran generatif

Zainuddin dan Isa (2011) juga melakukan penelitian terkait dengan persepsi keadilan yang menguji pengaruh keadilan organisasional dan motivasi dalam hubungan antara