• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODOLOGI PENELITIAN"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

42

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Paradigma merupakan suatu dasar penelitian yang menjadi kunci agar penelitian tersebut lebih terstruktur dengan baik. Mengutip dari Neuman dalam (Kriyantono, 2020) paradigma merupakan keseluruhan dari cara berpikir peneliti. Menurut Baker dalam (Moleong, 2017) paradigma berperan seperti sebuah aturan, yang mempunyai dua jenis peran berbeda. Yaitu peran pertama, menciptakan Batasan-batasan untuk peneliti. Peran kedua, menjadi pedoman atau petunjuk pada saat melakukan penelitian dalam batasan tersebut, yang

diharapkan dapat diselesaikan dengan baik. Sedangkan menurut

(Wahyuwibowo, 2013) paradigma merupakan cara bagaimana seseorang mempunyai prinsip dasar mengenai pandangan dunia terhadap sekelilingnya dan bagaimana seseorang memandang dunia.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma konstruktivis, yang menurut Little John dalam (Wahyuwibowo, 2013) paradigma konstruktivis melihat realitas bukan sesuatu hal yang objektif, akan tetapi dikonstruksi melewati proses interaksi sosial meliputi masyarakat, kelompok, dan budaya.

Dijelaskan dalam (Kriyantono, 2020) bahwa paradigma mempunyai dua sifat yakni pertama, untuk membatasi pandangan dan yang kedua membuatnya menjadi selektif. Hal tersebut membuat paradigma akan mempengaruhi dan menentukan bagaimana seseorang melihat realitas, karena sesungguhnya realitas yang dilihat tidak sepenuhnya melainkan sudah terfilter sesuai dengan kepentingan seseorang itu sendiri, yang pada akhirnya akan membatasi kegiatan

(2)

43

yang ingin dilakukannya sesuai dengan paradigma yang seseorang itu anut

(Kriyantono, 2020).

Berdasarkan penjelasan diatas, pemilihan paradigma konstruktivis dianggap paling tepat oleh peneliti, hal ini dikarenakan penelitian ini mempunyai tujuan untuk memahami kontruksi citra MRT Jakarta yang direpresentasikan dalam video corporate storytelling berjudul #MRTTetapAman 1 yang diunggah di Youtube channel MRTv.

3.2 Jenis dan Sifat Penelitian

Dalam mengerjakan penelitian ini, peneliti menggunakan penelitian kualitatif. Menurut (Moleong, 2017) penelitian kualitatif yaitu penelitian yang dapat menciptakan prosedur analisis tanpa menggunakan analisis statistik maupun cara-cara kuantifikasi lainnya. Sedangkan menurut Denzin dan Lincoln dalam (Moleong, 2017) penelitian kualitatif merupakan penelitian dengan latar belakang alamiah yang bertujuan untuk menjabarkan berbagai fenomena-fenomena yang terjadi dan juga penelitian kualitatif bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam metode seperti observasi, studi dokumen, dan wawancara.

Pendekatan dalam penelitian ini dimaksudkan agar dapat menghasilkan uraian mendalam mengenai ucapan, tulisan, serta tingkah laku yang dapat diamati dari seseorang, masyarakat, kelompok, maupun organisasi, dalam konteks tertentu, yang mana diteliti berdasarkan sudut pandang yang utuh dan juga komprehensif. Penelitian kualitatif ini juga didasari pada upaya mengkonstruksi pandangan yang diteliti secara detail, diciptakan dengan kata-kata dan gambaran holistik.

(3)

44

mengumpulkan data secara mendalam. Oleh karena itu posisi teori bukan hanya

menjadi dasar dari penelitian ini, akan tetapi menjadikan teori sebagai asumsi awal dari permasalahan yang akan diteliti. Sehingga terdapat perkembangan teori dan konsep seiring dengan data-data yang telah dikumpulkan oleh peneliti (Kriyantono, 2020).

3.3 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian semiotika. Semiotika sendiri adalah suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda. Lebih dalamnya, tidak hanya tanda-tanda akan tetapi termasuk apapun yang mempunyai hubungan dengan tanda tersebut, cara kerja tanda tersebut, dan hubungannya dengan tanda-tanda lain (Kriyantono, 2020). Tak hanya itu, ilmu semiotika juga mempelajari tentang siapa penerima dan pengirim tanda tersebut. Menurut Preminger dalam (Kriyantono, 2020) mengatakan bahwa tanda-tanda juga ada pada fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan.

Dalam penelitian ini, metode penelitian semiotika yang digunakan adalah model yang dikemukakan oleh Roland Barthes, hal ini karena analisis semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes membahas sistem mengenai tanda-tanda yang mana didalamnya terdapat simbol-simbol yang sengaja dipilih, sehingga pemilihan simbol tersebut disertai dengan penyampaiannya memunculkan makna tertentu (Kriyantono, 2020). Menurut Roland Barthes dalam (Kriyantono, 2020) yang menurunkan pemikiran dari Ferdinand De Saussure, di mana ia menitik beratkan kepada pengalaman pribadi dan culture penggunanya, dengan interaksi antar teks yang dipakainya.

(4)

45

Roland Barthes dibandingkan dengan milik Charles Sanders Peirce yaitu karena

terdapat perbedaan mendasar yaitu seperti, semiotika Roland Barthes meneliti tentang makna denotasi, konotasi, dan mitos dari objek, sedangkan semiotika Charles Sanders Peirce fokus kepada simbol-simbol, makna simbol. Sedangkan dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui mitos yang terdapat dalam video corporate storytelling lebih mudah ditemukan dengan menggunakan lima jenis kode pembacaan milik Roland Barthes, yang detailnya mitos dapat ditemukan pada kode cultural.

Tujuan dari analisis semiotika menurut (Kriyantono, 2020) yaitu untuk menemukan makna dari sebuah tanda, termasuk juga makna tersembunyi yang ada dibalik tanda itu sendiri, hal ini dikarenakan tanda mempunyai sifat yang kontekstual, maka dari itu setiap penerima tanda belum tentu menggambarkan makna yang sama dengan penerima tanda lain.

Dengan memakai signifikasi tanda yaitu penanda dan petanda serta pemaknaan pertama milik Saussure yaitu makna denotatif, dan juga sistem pemaknaan lima jenis kode milik Roland Barthes. Diharapkan peneliti dapat menjabarkan makna konotatif yang ditemukan dengan lima jenis kajian kode milik Roland Barthes, dengan menggunakan metode ini, tujuan dari penelitian adalah peneliti ingin mengetahui bagaimana representasi citra PT MRT Jakarta khususnya pada masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

3.4 Unit Analisis

Pada penelitian ini peneliti mengambil unit analisis berupa video corporate storytelling yang diunggah oleh MRT Jakarta melalui kanal Youtube resmi MRTv berjudul #MRTTetapAman 1 yang diunggah pada 4 Juli 2020. Dalam

(5)

46

unit analisis tersebut yang berupa video corporate storytelling peneliti

menganalisis berdasarkan tanda visual berupa video, gambar, dan tanda-tanda non-visual yang berupa audio, narasi, dan juga latar musik yang ada didalam scene-scene unit analisis yang sudah di seleksi terlebih dahulu, kemudian video corporate storytelling dari MRT Jakarta dianalisis menggunakan teori semiotika versi Roland Barthes.

Peneliti memilih unit analisis tersebut, dikarenakan unit analisis ini merupakan unit yang paling relevan dengan topik yang akan dibahas oleh peneliti dalam penelitian ini.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa studi dokumentasi untuk mendapatkan data analisis di penelitian ini. Lebih dalamnya dengan mengumpulkan data lewat scene-scene yang terdapat di video corporate storytelling MRT Jakarta yang dijadikan unit analisis oleh peneliti. Tujuan dari studi dokumentasi adalah agar analisis dan interpretasi data yang dilakukan oleh peneliti mendapat pembelaan dari informasi yang didapat sewaktu unit analisis tersebut digunakan (Kriyantono, 2020). Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menggunakan dua macam pengumpulan data, yaitu:

1. Data primer, data primer yang digunakan oleh peneliti berupa video corporate storytelling PT MRT Jakarta yang diunggah melalui media sosial yaitu Youtube channel resmi milik MRT Jakarta. Dan menginterpretasikan scene-scene yang terdapat didalamnya.

2. Data sekunder, data sekunder yang digunakan peneliti dalam melakukan penelitian ini adalah bahan-bahan referensi dari buku, artikel, jurnal,

(6)

47

media sosial, dan juga berselancar di internet yang berhubungan dengan

penelitian tersebut.

3.6 Keabsahan Data

Keabsahan data dalam penelitian kualitatif menjadi sangat penting, hal ini dikarenakan saat peneliti melakukan keabsahan data, maka harus dapat membuktikan bahwasannya penelitian kualitatif yang dilakukan oleh peneliti

merupakan penelitian ilmiah dan tentu saja hasilnya dapat

dipertanggungjawabkan (Moleong, 2017). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan keabsahan ketekunan pengamatan guna menemukan berbagai unsur yang saling berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang sedang diteliti (Moleong, 2017).

Pada saat melakukan keabsahan data dengan menggunakan metode ketekunan pengamatan maka diharapkan kedalaman hasil penelitian dan temuannya tercipta sangat baik (Moleong, 2017). Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dengan rinci dan mendalaman haru dikemukakan secara terstruktur dan rinci sehingga hasilnya dapat dimaksimalkan. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan triangulasi teori yaitu memadukan dua atau lebih teori yang digunakan pada penelitian ini (Kriyantono, 2020).

3.7 Teknik Analisis Data

Gagasan dari beberapa tokoh mengenai analisis data dan hasilnya adalah analisis data sendiri merupakan cara untuk mendapatkan tema melalui proses-proses mengurutkan lalu penyatuan data masuk ke sebuah pola, kategori dan

(7)

48

juga satuan uraian dasar yang tujuannya agar hipotesis kerja dapat dirumuskan

sesuai saran dari data itu sendiri (Moleong, 2017).

Penelitian ini juga menggunakan lima jenis kode yang dikemukakan oleh Roland Barthes yang berfungsi sebagai acuan dalam menganalisis unit analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Dijelaskan oleh Budiman dalam (Wahjuwibowo, 2018) lima jenis kode baca model semiotika yang dikemukakan oleh Roland Barthes. Yaitu, sebagai berikut:

1. Kode Hermeneutik, kode ini berfungsi sebagai pemberi solusi dan juga penjelasan mengenai persoalan yang terjadi, bahkan sebab munculnya suatu masalah dan penghalang terjadinya penyelesaian juga dapat dijelaskan.

2. Kode Semik (Konotasi), merupakan isyarat makna yang dihasilkan oleh penanda, dan pada penanda tertentu digunakan menjadi yang utama dalam kode ini. Sehingga konotasi yang didasari oleh kajian penelitian dapat dihasilkan menggunakan kode ini.

3. Kode Simbolik, kode ini berfungsi sebagai dasar dari suatu struktur simbolik. Kode ini sering kali muncul dan tidak sulit untuk mengenalinya.

4. Kode Proairetik (Tindakan), berfungsi untuk menentukan hasil dari perilaku dan logika manusia. Yang pada akhirnya masing-masing dampak akan memiliki nama umum tersendiri.

5. Kode Referensi (cultural code), merupakan kumpulan gagasan yang terbentuk dari pengalaman manusia. Gagasan tersebut bisa dibilang sebagai representatif dari kebijakan di kalangan masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif pendekatan analisis semiotika mitologi Roland Barthes untuk melihat dan menganalisis

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif pendekatan analisis semiotika mitologi Roland Barthes untuk melihat dan menganalisis

Analisis data, membedah objek penelitian menggunakan teori yang digunakan, dalam penelitian ini enam prosedur analisis semiotika Roland Barthes digunakan untuk

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif pendekatan analisis semiotika mitologi Roland Barthes untuk melihat dan menganalisis

Penelitian ini menggunakan analisis resepsi yang melalui dua langkah, langkah pertama adalah metode analisis semiotika dari Roland Barthes untuk menganalisis makna

Penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan perangkat analisis semiologi Roland Barthes signifikasi dua tahap (two order significations). Fokus dari penelitian ini

Untuk itulah penulis akan melakukan penelitian tentang representasi metroseksual pada fashion balita dengan analisis semiotika Roland Barthes terhadap foto Daffa

Analisis data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini menggunakan semiotika model Roland Barthes, objek penelitian ini adalah Iklan Top Coffee versi Bongkar