EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR
SHARE (TPS) PADA SISWA KELAS VIII MTsS MUHAMMADIYAH LIKUBO’DONG
KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
AHMAD SYARIF NIM 10536 4749 14
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2019
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : AHMAD SYARIF
Nim : 10536 4749 14
Jurusan : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan
Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Kabupaten Gowa
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan TIM Penguji adalah ASLI hasil karya saya sendiri, bukan hasil ciplakan dan tidak dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, April 2019
Yang membuat pernyataan
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
N a m a : AHMAD SYARIF
N I M : 10536 4749 14
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya. Saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada point 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, April 2019 Yang Membuat Perjanjian
MOTTO DAN
PERSEMBAHAN
Motto:
“ Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, maka apabila engkau
telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan
yang lain)”
(Q.S Al Insyirah: 6-8)
“Man Shabara Zhafira”
(Siapa yang bersabar akan beruntung)
Persembahan:
Dengan penuh keikhlasan dan rasa syukur kepada Allah SWT kupersembahkan Skripsi ini untuk:
Kedua orangtua ku dan Saudariku yang telah mencurahkan kasih sayang, pengorbanan dan doa restunya dengan penuh ketegaran serta kesabaran
Keluarga tercinta
Bapak dan Ibu dosen serta staf di Program Studi Pendidikan Matematika yang telah mendidik sekaligus menyalurkan ilmu dan pengalamannya secara ikhlas
Teman-teman seperjuangan kelas G 2014
ABSTRAK
Ahmad Syarif, 2019. Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Kabupaten Gowa. Skripsi. Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Alimuddin sebagai Pembimbing I dan Andi Husniati sebagai Pembimbing II.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VIII MTsS Likubo‟dong tahun ajaran 2018/2019. Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-Experimental Desaign yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen tanpa adanya kelas kontrol dengan desain penelitian One Group Pretest-Posttest. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII sebanyak 31 orang siswa. Penelitian dilaksanakan selama 6 kali pertemuan. Instrumen dalam penelitian ini adalah tes hasil belajar (THB) untuk melihat hasil belajar siswa, lembar observasi untuk mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung, serta lembar angket untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Hasil penelitian menunjukkan hasil analisis deskriptif yaitu (1) skor rata-rata tes hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) telah mencapai ketuntasan individu dan ini berarti bahwa ketuntasan secara klasikal telah tercapai. (2) Terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berada pada kategori tinggi. (3) Rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa untuk setiap indikator mencapai kriteria aktif. (4) Angket respon siswa menunjukkan bahwa respon siswa terhadap model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) positif. Hasil analisis inferensial yaitu hasil rata-rata uji normalitas untuk posttest menunjukkan bahwa H0 diterima yang berarti skor posttest dan
indeks gain termasuk kategori normal. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif diterapkan pada siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong
Kata kunci: Efektivitas pembelajaran matematika, model kooperatif tipe Think
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan sebagai tugas akhir guna memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Makassar. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW yang telah meyinari dunia ini dengan cahaya Islam.
Penulis menyadari bahwa selama penyusunan skripsi ini bukan tanpa hambatan. Namun berkat motivasi, dukungan dan bantuan dari berbagai pihak segala hambatan tersebut dapat terlewati. Penghargaan dan terima kasih yang setulus-tulusnya dengan segenap cinta dan hormat kepada orangtua tercinta Ayahanda Abustam dan Ibunda Helmina, serta Kakanda Fahrul Rijal, S.IP. dan Musdalifah, S.Farm. dengan segenap cinta dan kasih sayang serta pengorbanannya telah mendidik, membesarkan, dan mendoakan keberhasilan penulis. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, kesehatan, karunia dan keberkahan di dunia dan akhirat atas budi baik yang telah diberikan kepada penulis.
Dengan penuh kerendahan hati, tak lupa pula penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, S.E., M.M., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Mukhlis, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. 4. Ma‟rup, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar atas segala ilmu, arahan dan bimbingan yang diberikan kepada penulis selama studi hingga saat ini.
5. Dra. Syaribulan K., M.Pd sebagai Penasihat Akademik yang telah membimbing selama perkuliahan.
6. Dr. Alimuddin, M.Si. sebagai pembimbing I dan Andi Husniati, S.Pd., M.Pd. sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktunya disela kesibukan beliau untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.
7. Amri. S.Pd., M.M dan Ilhamuddin, S.Pd., M.Pd validator yang telah meluangkan waktunya memvalidasi dan memberikan saran terhadap perbaikan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian, serta segala ilmu, motivasi dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama studi hingga saat ini.
8. Bapak dan Ibu dosen serta staf di Program Studi Pendidikan Matematika yang telah mendidik sekaligus menyalurkan ilmu dan pengalamannya secara ikhlas selama penulis menimba ilmu.
9. Kakanda Fathrul Arriah, S.Pd., M.Pd., Ahmad Syamsuadi, S.Pd., M.Pd., Muhammad Firdaus Ahmad, S.Pd., Susilawati, S.Pd., serta Kakanda-kakanda dewan senior HMJ Pendidikan Matematika yang telah banyak memberikan arahan, bimbingan dan motivasi kepada penulis.
10. Rohani, S.Pd. sebagai Kepala MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut.
11.Teman-teman kelas A angkatan 2014 serta rekan-rekan seperjuangan pengurus HMJ Pendidikan Matematika Periode 2016-2017 atas arahan dan dampingannya selama ini penulis ucapkan banyak terima kasih.
Semoga bantuan yang telah diberikan mendapat balasan dari Allah SWT dengan pahala yang berlipat ganda. Aamiin ya Rabbal Alamin.
Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi diri penulis. Dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritikan dari berbagai pihak yang sempat membaca demi menuju sempurnanya skripsi ini.
Makassar, Mei 2019
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ...xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A.Latar Belakang ... 1
B.Rumusan Masalah ... 4
C.Tujuan Penelitian ... 5
D.Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS A.Kajian Pustaka ... 7
1. Efektivitas Pembelajaran Matematika ... 7
2. Pengertian Hasil Belajar ... 10
3. Pengertian Matematika ... 11
4. Pembelajaran Model Kooperatif ...12
5. Pembelajaran Model Kooperatif Tipe Think Pair Share ...16
B.Penelitian Relevan ...20
C.Kerangka Pikir ...22
D.Hipotesis ...23
A.Jenis penelitian ...24
B.Variabel dan desain penelitian ...24
C.Populasi dan sampel ...25
D.Definisi operasional variabel ...26
E. Prosedur penelitian ...26
F. Instrumen penelitian ...27
G.Teknik pengumpulan data ...29
H.Teknik analisis data ...30
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ...36
1. Hasil analisis statistika deskriptif ...36
a. Deskripsi hasil belajar matematika ...36
b. Deskripsi hasil pengamatan aktivitas siswa ...41
c. Deskripsi respons siswa ...43
2. Hasil analisis inferensial ...46
a. Uji normalitas ...47
b. Pengujian hipotesis ...47
B. Pembahasan Hasil Penelitian ...49
1. Pembahasan hasil analisis deskriptif ...49
a. Hasil belajar siswa ...49
b. Aktivitas siswa ...51
c. Respons siswa ...52
2. Pembahasan hasil analisis inferensial ...52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A.Kesimpulan ...55
B. Saran ...56
DAFTAR PUSTAKA ...57 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Sintak Model Pembelajaran Kooperatif ... 13 2.1 Tahapan tipe Think Pair Share ... 17 3.1 One Group Pretest-posttest Design ... 25 3.2 Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan
Nasional ... 30 3.3 Kriteria Tingkat Gain Ternormalisasi ... 31 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong sebelum dan setelah diterapkan Model
Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 37 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong Sebelum diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 37 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong Setelah
diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... . 38 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Sebelum diterapkan
Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 39 4.5 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika Setelah diterapkan
Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 39 4.6 Deskripsi Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII
MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong Setelah diterapkan Model
4.7 Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong Selama Pembelajaran Matematika melalui Penerapan
Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 41 4.8 Hasil Respons Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong
terhadap Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) ... 44
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) A.2 Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) A.3 Daftar Hadir Siswa
LAMPIRAN B
B.1 Tes Hasil Belajar Pretest B.2 Tes Hasil Belajar Posttest
B.3 Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran
LAMPIRAN C
C.1 Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Siswa C.2 Instrumen Angket Respons Siswa
LAMPIRAN D
D.1 Daftar Nilai Tes Hasil Belajar
D.2 Hasil Analisis Data Tes Hasil Belajar D.3 Hasil Analisis Data Aktivitas Siswa D.4 Hasil Analisis Data Respons Siswa
D.5 Analisis Deskriptif dan Inferensial (SPSS)
LAMPIRAN E
E.1 Lembar Jawaban Tes Hasil Belajar E.2 Lembar Observasi Aktivitas Siswa E.3 Lembar Angket Respons Siswa
LAMPIRAN F
F.1 Dokumentasi F.2 Persuratan F.3 Validasi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki abad ke-21, system pendidikan nasional menghadapi banyak tentangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang bersaing di era global. Trianto (Afoan dkk, 2016:1) mengemukakan bahwa upaya yang tepat menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan merupakan satu-satunya wadah yang dapat berfungsi sebagai alat yang membangun SDM yang bermutu tinggi adalah pendidikan.
Menurut Nurhasanah (2013:1) Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Pendidikan yang berkualitas akan menciptakan SDM yang berkualitas pula. Untuk mewujudkannya pendidikan di Indonesia perlu dibenahi menuju kearah kualitas yang lebih baik. Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Hasil survei tahun 2015 yang di release ini menunjukkan kenaikan pencapaian pendidikan di Indonesia yang signifikan yaitu sebesar 22,1 poin. Peningkatan tersebut mengangkat posisi Indonesia 6 peringkat ke atas bila dibandingkan posisi peringkat kedua dari bawah pada tahun 2012. (Kemendikbud : 2016). Hal ini menunjukkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan kualitas pendidikan Negara-negara lain di Asia.
Pendidikan menurut Salam (2014:230) merupakan salah satu usaha sadar untuk menumbuhkembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM), yang mampu mengusai IPTEK. Dengan pendidikan, siswa diharapkan memiliki bekal
yang mantap, baik dari segi emosional maupun dari segi intelektual dalam merespon perubahan zaman yang penuh dengan problematika kehidupan.
Menurut Afoan dkk (2016:1) Perubahan kurikulum menghendaki bahwa suatu pembelajaran pada dasarnya tidak hanya mempelajari tentang konsep, teori, dan fakta, tetapi juga aplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, materi pembelajaran yang diajarkan disekolah tidak hanya tersusun atas hal-hal sederhana yang bersifat hafalan dan pemahaman, tetapi juga tersusun atas materi yang kompleks yang mana dalam berlangsungnya proses belajar mengajar, guru harus bijaksana dalam menentukan suatu model yang sesuai yang dapat menciptakan situasi dan kondisi kelas yang kondusif agar proses belajar mengajar dapat berlangsung sesuai tujuan yang diharapkan.
Pendidikan matematika merupakan salah satu pembelajaran yang diberikan kepada siswa dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi yang berguna untuk membekali siswa dengan kemampuan berfikir logis, analisis, sistematis, dan kreatif serta kemampuan bekerja. Menurut Hudojo (Patrianto, 2012:1) Matematika merupakan ilmu yang memiliki objek abstrak, yaitu pada hakekatnya matematika hanya terdapat pada pikiran manusia.
Berdasarkan data dari TIMSS tahun 2015, prestasi belajar matematika Indonesia berada pada urutan 45 dari 50 dengan skor 397 poin. (Puspendik, 2016). Data tersebut menunjukkan hasil belajar matematika di Indonesia masih sangat rendah.
Pembelajaran matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang penting disekolah karena matematika merupakan mata pelajaran pokok dan bahkan sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Berdasarkan hasil
observasi yang dilakukan oleh Sugiyantoko (2014), ditemukan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika masih rendah, hal ini dilihat dari rata-rata nilai ujian tengah semester (UTS) ganjil kelas VIII yaitu 6,6 yang belum mencapai standar KKM 7,2 dimana pembelajaran yang dilakukan umumnya masih menggunakan metode pembelajaran ekspositori atau ceramah.
Menurut Munif dkk (2013:2) selama ini pembelajaran matematika masih berpusat pada guru. Guru aktif menyampaikan informasi dan siswa hanya aktif menerima informasi dengan cara mendengarkan dan mencatat. Guru memberikan contoh soal dan memberikan tugas untuk latihan, sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran yang mengakibatkan rendahnya hasil belajar siswa.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan upaya agar tercipta suasana pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar siswa, yakni pembelajaran yang semula berpusat pada guru (techer centered) beralih pada murd (student centered) sehinggah siswa dapat aktif dalam proses belajar mengajar. Salah satu model pembelajaran yang bisa mengaktifkan siswa adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Menurut Slavin dan Trianto (Afoan dkk, 2016 : 2) model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Model pembelajaran Think-Pair Share (TPS) meliputi sintaks berfikir (Think) yang artinya guru mengajukan pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pelajaran dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atau masalah yang dikaitkan mandiri dalam kelompok. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau megerjakan bukan bagian berfikir.
Tahap selanjutnya ialah tahap berpasangan (Pair) yaitu guru memninta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah pikirkan pada tahap Think.Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika telah diajukan suatu pertanyaan atau menyatukan ide jika suatu masalah khusus telah diidentifikasi.Tahap terakhir ialah tahap berbagi (Share) yaitu guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk berbagi dengan keseluruhan kelas tentang yang telah mereka disdusikan. Hal ini dilakukan secara bergilir dan dilanjutkan sampai sebagian pasangan mendapat tempat untuk melaporkan.
Model pembelajaran TPS dirasakan perlu diterapkan dalam pengajaran matematika karena dapat mendorong aktivitas belajar siswa. Sehingga siswa lebih aktif dan lebih mandiri. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian dengan judul: Efektivitas
Pembelajaran Metematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Pada Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Kabupaten Gowa
B. Rumusan Masalah
Atas dasar latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah: Apakah pembelajaran Matematika menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif diterapkan pada siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong?
Adapun pertanyaan-pertanyaan khusus yang dikemukakan sebagai berikut: 1. Bagaimana hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTsS Likubo‟dong
2. Bagaimana aktivitas siswa kelas VIII MTsS Likubo‟dong dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)?
3. Bagaimana respon siswa kelas VIII MTsS Likubo‟dong terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS)?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah: “untuk mengetahui
efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong”.
Ditinjau dari indikator efektivitas pembelajaran matematika, yaitu:
1. Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong dengan menerapkan model kooperatif tipe
Think Pair Share (TPS).
2. Untuk mengetahui aktivitas siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong dalam mengikuti pembelajaran matematika dengan
menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
3. Untuk mengetahui respons siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan
D. Manfaat Penelitian
Diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi setiap pihak
1. Bagi Sekolah secara tidak langsung dapat meningkatkan hasil belajar siswa serta memperoleh masukan untuk proses pembelajaran berikutnya 2. Bagi guru, diharapkan guru dapat memperoleh suatu variasi model
pembelajaran yang lebih efektif dalam pembelajaran matematika.
3. Bagi Peneliti dapat memperoleh jawaban dari permasalahan yang ada dan pengalaman langsung menerapkan pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada pembelajaran matematika yang kelak dapat Diterapkan saat telah terjun di lapangan.
4. Bagi siswa, diharapkan siswa dapat berperan aktif dan berpartisipasi dalam proses belajar sehingga dapat mengekspresikan ide mereka. Dan dapat meningkatkan hasil belajar sehingga dapat belajar lebih efektif.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1. Efektivitas Pembelajaran Matematika
Efektivitas berasal dari kata “efektif”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “efektif” berarti: (1) ada efeknya (akibatnya, pengaruhnya, kesannya), (2) dapat membawa hasil, berhasil guna. Sedangkan efektivitas berarti: (1) keadaan berpengaruh: hal berkesan, (2) keberhasilan usaha atau tindakan.
Menurut Uno dan Nurdin (2011 : 29) pada dasar efektivitas ditunjukkan untuk menjawab pertanyaan seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dapat dicapai oleh peserta didik. Sedangkan menurut Munandir (syarif, 2015:1) efektivitas adalah seberapa besar tingkat kelekatan tujuan pembelajaran yang tercapai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan dari sejumlah input.
Menurut Supardi (2013:25) pembelajaran efektif adalah kombinasi yang tersusun meliputi manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur diarahkan untuk mengubah perilaku siswa kearah positif dan perbedaan yang dimiliki siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Menurut Rohmawati (2015 : 34) untuk mencapai suatu konsep pembelajaran yang efektif dan efisien perlu adanya hubungan timbal balik antara siswa dengan guru untuk mencapai suatu tujuan bersama.
John Carroll (Supardi, 2013 :28) yang termasyhur dalam bidang pendidikan psikologi , dan dalam bukunya yang berjudul “A Model of School Learning”. Menyatakan bahwa Intructional Effectiveness tergantung pada 5 faktor : 1) Attitude; 2) Ability to Understand Instruction; 3) Perseverance; 4) Opportunity; 5) Quality of Instruction.
Maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran keberhasilan dari proses interaksi dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dilihat dari aktivitas selama pembelajaran, respon dan penguasaan konsep. Pembelajaran yang efektif mempunyai karakteristik dimana siswa dapat melihat, mendengarkan, mendemonstrasikan, bekerja sama, menemukan, dan membangun konsep diri.
Adapun yang menjadi indikator keefektifan pembelajaran matematika adalah sebagai berikut :
a. Ketuntasan belajar
Ketuntasan hasil belajar dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kriteria ketuntasan belajar dapat dilihat dari kriteria ketuntasan minimal perorangan secara klasikal, yaitu:
1.) seorang siswa dikatakan telah tuntas belajar jika siswa tersebut telah memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah yang bersangkutan yaitu 75%
2.) Suatu kelas dikatakan belajar tuntas secara klasikal apabila 80% dari jumlah siswa keseluruhan telah mencapai skor ketuntasan minimal. b. Aktivitas siswa
Menurut pandangan konstruktivis tujuan pembelajaran akan terjadi apabila siswa aktif membangun pengetahuannya dalam pembelajaran. Karena itu keefektifan juga dipengaruhi oleh aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang berada pada kategori baik, yaitu presentase jumlah siswa yang terlibat aktif lebih dari 75%.
c. Respons siswa
Respon siswa merupakan salah satu kriteria suatu pembelajaran dikatakan efektif atau tidak. Respon siswa dibagi dua, yaitu respon positif dan respon negatif. Respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih dari 75% merespon positif.
2. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Suprijino (Thobroni, 2016 : 20) hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan.
Menurut Oemar (Rusman, 2015 : 67) yang menyatakan bahwa hasil belajar itu dapat terlihat dari terjadinya perubahan dari persepsi dan perilaku, termasuk juga perbaikan perilaku. Sedangkan menurut Nawawi (Susanto, 2013 : 5) menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran disekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu.
Bloom (Anas, 2012 : 49) membedakan hasil belajar ke dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.
3. Pengertian Matematika
Menurut Anitah dkk (Ali Hamzah, 2014 : 48) matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan besaran, dan konsep-konsep hubungan lainnya yang jumlahnya banyak dan terbagi kedalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.
Menurut Ismail dkk (Ali Hamzah, 2014 : 53) dalam bukunya mendefenisikan bahwa matematika adalah ilmu yang membahas angka-angka dan perhitungannya, membahas masalah-masalah numeric, mengenai kuantitas dan besaran, mempelajari hubungan pola, bentuk dan struktur, sarana berfikir, kumpulan sistem, struktur dan alat.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika dan pola berfikir.
4. Pembelajaran Model Kooperatif
Menurut Fathurrohman (2015: 44) “pembelajaran kooperatif merupakan
model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama di antara siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran”. Menurut Parker (Huda, 2015: 29) “mendefinisikan kelompok kecil kooperatif sebagai suasana pembelajaran di
mana para siswa saling berinteraksi dalam kelompok-kelompok kecil untuk
Menurut Artz dan Newman (Huda, 2015: 32) “mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai small group of learners working together as a team to solve a problem, complete a task, or accomplish a common goal (kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai satu tujuan bersama).
Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menggunakan sistem pengelompokan. Menurut Anita Lie (Fitriaini, 2015:90) pembelajaran kooperatif disebut dengan istilah pembelajaran gotong royong, yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. Menurut Nurhadi dan Senduk (Fitriaini, 2015:90) pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru saja, tetapi juga semua siswa.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain dalam menyelesaikan tugas untuk mencapai satu tujuan bersama.
Tabel 2.1 Sintak Model Pembelajaran Kooperatif
FASE-FASE PERILAKU GURU
Fase-1: Present goals and set Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
Menjelaskan tujuan pembelajaran dan mempersiapkan peserta didik siap belajar.
Fase-2: Present Information Menyajikan informasi
Mempresentasikan informasi kepada peserta didik secara verbal
Fase-3: Organize students into learning teams
Mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar
Memberikan penjelasan kepada peserta didik tentang cara pembentukan tim belajar dan membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
Fase-4: Assist team work and study Membantu kerja tim dan belajar
Membantu tim-tim belajar selama peserta didik mengerjakan tugasnya
Fase-5: Test on the materials Mengevaluasi
Menguji pengetahuan peserta didik mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6: Provide recognition Memberikan pengakuan atau penghargaan
Mempersiapkan cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok
Sumber: Suprijono (2015: 84) Slavin (Sutomo, 2017: 13) Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan dan dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Arends (Sutomo, 2017:13) pembelajaran kooperatif dikembangkan dengan tujuan untuk mencapai tiga hal, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keberagaman dan pengembangan keterampilan sosial.
Menurut Fathurrohman (2015: 52) ciri-ciri model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut.
1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Jika mungkin anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memerhatikan kesetaraan gender.
3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu. Dalam pembelajaran, dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan, dan peranan diri sendiri maupun teman lain.
Sadker (Huda, 2015: 66) menjabarkan beberapa manfaat pembelajaran kooperatif. Selain dapat meningkatkan keterampilan kognitif dan afektif siswa, pembelajaran kooperatif juga memberikan manfaat-manfaat besar lain seperti berikut ini.
1. Siswa yang diajari dengan dan dalam struktur-struktur kooperatif akan memperoleh hasil pembelajaran yang lebih tinggi: hal ini khususnya berlaku bagi siswa-siswi SD untuk mata pelajaran matematika.
2. Siswa yang berpartisipasi dalam pembelajaran kooperatif akan memiliki sikap harga-diri yang lebih tinggi dan motivasi yang lebih besar untuk belajar.
3. Dengan pembelajaran kooperatif, siswa menjadi lebih peduli pada teman-temannya, dan di antara mereka akan terbangun rasa ketergantungan yang positif untuk proses belajar mereka nanti.
4. Pembelajaran kooperatif meningkatkan rasa penerimaan siswa terhadap teman-temannya yang berasal dari latar belakang ras dan etnik yang berbeda-beda.
Ministry of Education (Huda. 2014: 65) pembelajaran kooperatif dipandang sebagai a powerful tool to motivate learning and has a positive effect on the classroom climate which leads to encourage greater achievement, to foster positive attitudes and higher self-esteem, to develop collaborative skills and to promote greater social support (saran ampuh untuk memotivasi pembelajaran dan memberikan pengaruh positif terhadap iklim ruang kelas yang pada saatnya akan turut mendorong pencapaian yang lebih besar, meningkatkan sikap-sikap positif dan harga diri yang lebih dalam, mengembangkan skill-skill kolaboratif yang lebih besar dan mendorong motivasi sosial yang lebih besar kepada orang lain yang membutuhkan).
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Think Pair Share (TPS) merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan pertama kali oleh Prof. Frank Lyman (Huda, 2013 : 206)
dimana strategi ini memperkenalkan gagasan tentang waktu „tunggu atau berfikir‟ (wait or think time) pada elemen interaksi pembelajaran
kooperatif yang saat ini menjadi salah satu faktor ampuh dalam meningkatkan respon siswa terhadap pernyataan.
Menurut Lestari (2015 : 52) TPS merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang merangsang aktivitas berfikir siswa secara berpasangan dan berbagi pengetahuan kepada siswa lainnya.
Guru memilih menggunakan tipe Think Pair Share (TPS) untuk membandingkan hasil kerja kelompok keseluruhan dapat menggunakan tahapan sebagai berikut:
Table 2.2 Tahapan Tipe Think Pair Share (TPS)
Tahapan Deskripsi
Thinking Guru mengajukan suatu permasalahan yang merangsang
kemampuan berfikir siswa. Siswa memikirkan jawaban dari permasalahan yang diajukan secara mandiri
Pairing Guru mengarahkan siswa untuk berpasangan dan
mendiskusikan apa yang telah dipikirkan
Sharing siswa berbagi pengetahuan yang diperoleh dari hasil diskusi
Muhajir (2013:15) manfaat pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) sebagai berikut.
1. Para siswa menggunakan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan tugasnya dan untuk mendengarkan satu sama lain, ketika mereka terlibat dalam kegiatan Think Pair Share (TPS) lebih banyak siswa yang mengangkat tangan mereka untuk menjawab setelah berlatih dengan pasangannya. Para siswa mungkin mengingat secara lebih seiring penambahan waktu tunggu dan kualitas jawaban mungkin menjadi lebih baik.
2. Para guru juga mungkin mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berpikir ketika menggunakan Think Pair Share (TPS). Mereka dapat berkonsentrasi mendengarkan jawaban siswa, mengamati reaksi siswa, dan mengajukan pertanyaan tingkat tinggi.
Junaedi (2013: 14) langkah-langkah atau alur pembelajaran dalam model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah:
1. Guru menyampaikan pertanyaan
Guru melakukan apersepsi, menjelaskan tujuan pembelajaran dan meyampaikan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan.
2. Siswa berpikir secara individual
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari permasalahan yang disampaikan guru. Langkah ini dapat dikembangkan dengan meminta siswa untuk menuliskan hasil pemikirannya masing-masing.
3. Setiap siswa mendiskusikan hasil pemikiran masing-masing dengan pasangan
Guru mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan jawaban yang menurut mereka paling benar atau paling meyakinkan. Guru memotivasi siswa untuk aktif dalam kerja kelompoknya.
4. Siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas
Siswa mempresentasikan jawaban atau pemecahan masalah secara individual atau kelompok di depan kelas.
5. Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap hasil pemecahan masalah yang telah mereka diskusikan.
Menurut Wahid (Hamzah. 2014: 17) kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yaitu:
1. Memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain
2. Meningkatkan partisipasi akan cocok untuk tugas sederhana
3. Lebih banyak kesempatan untuk kontribusi masing-masing anggota kelompok
4. Interaksi lebih mudah
5. Lebih mudah dan cepat membentuk kelompok
6. Seorang siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas
7. Dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas
8. Siswa dapat mengembangkan keterampilan berpikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil
Wahid (Hamzah. 2014: 18) Adapun kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yaitu:
1. Membutuhkan koordinasi secara bersamaan dari berbagai aktivitas 2. Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas
3. Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Untuk itu guru harus dapat membuat perencanaan yang seksama sehingga dapat meminimalkan jumlah waktu yang terbuang.
4. Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor
5. Jumlah siswa yang ganjil berdampak pada saat pembentukan kelompok, karena ada satu siswa tidak mempunyai pasangan
B. Penelitian Relevan
1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Masita, 2016 dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Penerapan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas VIII.B SMP Guppi Samata Kabupaten
Gowa”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) hasil belajar matematika
siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) hanya terdapat 2 atau 12,5% siswa berada pada kategori tidak tuntas sedangkan 14 atau 87,5% siswa berada pada kategori tuntas dan memenuhi
indikator ketuntasan belajar siswa secara klasikal yaitu ≥ 85% dibandingkan
dengan hasil belajar siswa sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) di mana semua siswa 100% masuk dalam kategori tidak tuntas. (2) Rata-rata aktivitas siswa selama diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berada pada kategori aktif. (3) Rata-rata respons siswa terhadap pembelajaran matematika setelah diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah efektif. Jadi dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VIII.B SMP Guppi Samata Kabupaten Gowa.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Asriani Amir, 2016 dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas VIII9 SMP Negeri 7 Makassar”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Sekurang-kurangnya 80% siswa telah mencapai kriteria ketuntasan minimal. (2) Persentase aktivitas siswa selama pembelajaran yaitu 78,13% melakukan aktivitas positif dengan indikator
keberhasilan aktivitas siswa sekurang-kurangnya 75% siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran. (3) respons siswa terhadap pembelajaran matematika menunjukkan bahwa dari 7 aspek yang ditanyakan, respons positif siswa mencapai 94,79% dan respons negatif siswa yaitu 5,12%. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) efektif diterapkan pada Siswa Kelas VIII9 SMP Negeri 7 Makassar.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Wawan Setiawan, 2014 dengan judul
“Efektivitas Pembelajaran Matematika melalui Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) pada Siswa Kelas XI SMAN 1
Turatea Kab. Jeneponto”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Hasil
belajar matematika yang dicapai siswa termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai rata-rata 68,90 dan standar deviasi 6,05. (2) Rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa 61,77% dengan indikator keberhasilan aktivitas siswa sekurang-kurangnya 75%. (3) Rata-rata persentase siswa yang memberi respon positif di atas 65%.
C. Kerangka Pikir
Salah satu faktor keberhasilan dalam proses belajar mengajar ditentukan oleh model pembelajaran. Seorang guru harus cermat dan pandai memilih model pembelajaran yang cocok untuk materi yang diajarkan agar dapat menunjang keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Pemilihan model pembelajaran yang kurang tepat akan berdampak pada kurang efektifnya proses belajar mengajar yang pada akhirnya bedampak pada hasil belajar yang tidak sesuai dengan apa
yang diharapkan. Materi yang disajikan dengan model pembelajaran yang tepat akan lebih mudah dipahami oleh siswa serta tidak membosankan, sehingga memberikan hasil yang optimal.
Salah satu model pembelajaran yang dipandang efektif meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar adalah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) merupakan struktur kelompok yang dibuat secara berpasangan atau terdiri dari 2 orang. Terlebih dahulu siswa diberi masalah-masalah matematika secara individu sehingga setiap individu memiliki persepsi awal tentang masalah tersebut. Setelah itu, siswa dibentuk dalam kelompok dengan cara berpasangan. Asumsi awal yang terbentuk ini akan dipertemukan dalam tahap ini dan menyamakan persepsi untuk memecahkan masalah-masalah matematika yang diberikan sebelumnya. Setiap pasangan akan diminta kepada semua siswa berbagi di dalam kelas dengan melaporkan apa yang telah mereka peroleh dari proses tersebut.
Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) ini, diharapkan dapat memaksimalkan proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
D. Hipotesis
1. Hipotesis mayor
Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka pikir yang telah dikemukakan, maka dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
“Pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe Think Pair Share
(TPS) efektif diterapkan pada siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong kabupaten Gowa”
2. Hipotesis minor a. Hasil belajar siswa
1. Rata-rata skor hasil belajar matematika siswa kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong kabupaten Gowa meningkat setelah
diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) > 74% (KKM 75%).
Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis kerja sebagai berikut.
melawan
Keterangan: = rata-rata skor hasil belajar matematika siswa 2. Ketuntasan belajar matematika siswa kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong setelah diterapkan model kooperatif
tipe Think Pair Share (TPS) secara klasikal > 79%.Untuk keperluan pengujian statistik, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
melawan
3. Rata-rata gain (peningkatan) ternormalisasi hasil belajar
matematika siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong
setelah diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) lebih besar dari 0,29. Untuk keperluan pengujian secara statistik, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
melawan
Keterangan: = parameter skor rata-rata gain ternormalisasi b. Aktivitas siswa dalam pembelajaran
Rata-rata aktivitas siswa dalam proses pembelajaran melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) berada pada kategori baik, yaitu persentase jumlah siswa yang terlibat aktif ≥ 75 %. c. Respons siswa terhadap proses pembelajaran
Respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) ≥ 75 % merespons positif.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pre-Experimental Desaign yang melibatkan hanya satu kelas sebagai kelas eksperimen dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong.
B. Variable dan Desain Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika siswa, aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran dan respon siswa terhadap pembelajaran.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Group Pretest-Posttest yang dilakukan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding, menggunakan tes awal (pretest) kemudian setelah diberikan perlakuan dilakukan pengukuran (posttest) lagi untuk mengetahui akibat dari perlakuan tersebut.
Sugiyono (2017: 110-111) pada desain ini terdapat pretest, sebelum di beri perlakuan. Dengan demikian hasil perlakuan dapat diketahui lebih akurat, karena dapat membandingkan dengan keadaan sebelum di beri perlakuan. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Table 3.1 One-Group Pretest-Posttest Desaign
Pretest Treatment Posttest
O1 X O2
Sumber: Sugiyono (2017: 111)
Keterangan
O1 = nilai pretest (sebelum perlakuan) O2= nilai posttest (setelah perlakuan)
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII
MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong yang berjumlah 31 siswa dan hanya
terdiri dari satu kelas. 2. Sampel
Adapun jumlah kelas yang terdapat di sekololah pada setiap tingkatan hanya terdiri dari satu kelas, maka seluruh siswa yang berada pada kelas VIII merupakan populasi sekaligus merupakan sampel dalam penelitian ini.
3. Definisi Operasional Variabel
1. Hasil belajar matematika dalam penelitian ini adalah skor yang dicapai oleh siswa setelah proses pembelajaran dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) melalui tes belajar.
2. Aktivitas siswa adalah perilaku siswa selama kegiatan pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
3. Respons siswa adalah ukuran kesukaan, minat, ketertarikan, atau pendapat ssiwa tentang proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
4. Prosedur Penelitian
1. Tahap Perencanaan
a) Melihat keadaan lapangan, seperti terdapatnya berapa kelas, jumlah siswa dan bagaimana cara guru matematika dalam pembelajaran. b) Menentukan kelas untuk dijadikan sampel penelitian.
c) Menyusun perangkat pembelajaran d) Menyusun instrument penelitian
e) Menelaah kurikulum matematika pada MTsS Muhammadiyah
Likubo‟dong
f) Menyiapkan perangkat pembelajaran dan instrument penelitian 2. Tahap pelaksanaan
a. Memberikan pretest kepada siswa.
b. Melakukan proses pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
c. Mengisi lembar observasi siswa untuk melihat aktivitas siswa pada saat proses belajar-mengajar berlangsung.
d. Memberikan posttest kepada siswa setelah diajar dengan menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). e. Memberikan angket respons siswa mengenai tanggapan siswa
setelah mengikuti pembelajaran matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
3. Tahap Analisis
Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah menganalisis data yang telah diperoleh.
5. Instrumen Penelitian
1. Tes hasil belajar
Tes hasil belajar matematika digunakan untuk memperoleh informasi tentangpenguasaan siswa terhadap pembelajaran matematika sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang biasa disebut pretest dan setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang biasa disebut posttest. Tes ini berupa soal essay, tes dibuat berdasarkan materi yang diberikan selama penelitian ini berlangsung dengan berdasarkan rumusan indikator pembelajaran.
Tes hasil belajar matematika dibuat dan dikembangkan sendiri oleh peneliti berdasarkan persetujuan dosen pembimbing/validator serta disetujui oleh guru matematika di MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong, tes itu kemudian diberikan ke siswa. Adapun bentuk data yang diperoleh yaitu dalam bentuk skor, penskoran hasil tes siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal tersebut.
2. Lembar observasi aktivitas siswa
Instrumen ini digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa saat mengikuti pembelajaran di kelas dengan menerapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Adapun indikator dari aktivitas siswa yakni menyimak dan memperhatikan pelajaran, mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran yang belum dimengerti, menjawab pertanyaan yang diajukan guru ataupun teman, terlibat aktif dalam kerja kelompok menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru, tampil mempresentasikan hasil kerja kelompok sesuai dengan nomor yang dipanggil, melakukan kegiatan diluar dari proses belajar mengajar seperti bermain, mengganggu teman, dan masih perlu bimbingan mengenai materi pelajaran.
3. Angket Respons Siswa
Angket respons siswa merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipeThink-Pair Share (TPS). Model pembelajaran yang baik dapat memberi respons yang positif bagi siswa setelah mereka mengikuti kegiatan pembelajaran.
Angket respons siswa yang telah divalidasi oleh tim validator dirancang untuk mengetahui respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Aspek respons siswa menyangkut suasana kelas, minat mengikuti pembelajaran berikutnya, cara-cara guru mengajar dan saran-saran. Bentuk data yang diperoleh yaitu dalam bentuk persentase respons siswa.
6. Teknik Pengumpulan Data
Data hasil penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian, yaitu:
1. Data mengenai hasil belajar matematika siswa diperoleh dari tes hasil belajar yang dilaksanakan sebelum pertemuan (pretest) dan setelah pertemuan (posttest).
2. Data tentang aktivitas belajar siswa diambil pada saat diterapkan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.
Data tentang respons siswa terhadap pembelajaran diperoleh dengan cara memberikan angket kepada siswa
7. Teknik Analisi Data
1. Analisis statistika deskriptif
Sugiyono (2017: 207) Analisis data deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran umum data yang diperoleh. Pengolahan data dengan cara membuat tabel distribusi frekuensi, mencari nilai rata-rata, skor tertinggi, skor terendah, deviasi standar dan variansi.
a. Analisis hasil belajar matematika
Hasil belajar siswa dianalisis dengan menggunakan analisis statistik deskriptif dengan tujuan mendeskripsikan pemahaman materi matematika siswa setelah mengikuti proses pembelajaran melalui model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS).
Data yang dianalisis untuk mendeskripsikan ketuntasan hasil belajar siswa adalah data pretest dan post test. Seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditentukan sekolah yaitu 75%.Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal tercapai paling sedikit 80% siswa di kelas tersebut telah tuntas belajar.
Untuk keperluan analisis deskriptif digunakan pengkategorisasian hasil belajar matematika berdasarkan ketetapan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tabel 3.2 Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional No Nilai Kategori 1. Sangat Rendah 2. Rendah 3. Sedang 4. Tinggi 5. Sangat Tinggi
Sumber: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Nehru. 2016:18)
Di samping itu hasil belajar siswa juga diarahkan pada pencapaian hasil belajar secara individual dan klasikal. Ketuntasan belajar dapat dicapai jika nilai yang diperoleh siswa minimal sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan oleh sekolah, sedangkan ketuntasan klasikal tercapai minimal 80% siswa mencapai skor minimal 75.
Selanjutnya untuk mengetahui selisih antara nilai posttest dan pre test digunakan digunakan skor gain ternormalisasi. Menurut Prichard (Jannah, 2016: 47) skor gain ternormalisasi yaitu perbandingan dari skor gain aktual dan skor gain maksimal. Skor gain aktual yaitu skor gain yang diperoleh siswa sedangkan skor gain maksimal yaitu skor gain tertinggi yang mungkin diperoleh siswa. Gain menunjukkan peningkatan pemahaman atau penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan guru.
Besarnya peningkatan yang terjadi sebelum dan sesudah pembelajaran dihitung dengan rumus gain ternormalisasi (N-Gain) sebagai berikut.
Keterangan:
= Skor tes akhir = Skor tes awal
= Skor maksimum yang mungkin dicapai Tabel 3.3 Kriteria Tingkat Gain Ternormalisasi
Batasan Kategori
g 0,30 Rendah 0,30 g 0,70 Sedang
g ≥ 0,70 Tinggi
Sumber: Nehru (2016: 37)
Hasil belajar siswa dikatakan efektif jika rata-rata gain ternormalisasi siswa minimal berada dalam kategori sedang atau lebih dari 0,29.
b. Analisis data aktivitas siswa
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui keaktifan siswa selama proses pembelajaran. Kriteria keberhasilan aktivitas siswa dalam penelitian ini dikatakan efektif apabila minimal 75% siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Adapun langkah-langkah untuk menentukan persentase rata-rata keaktifan siswa setiap pertemuan dengan menggunakan rumus:
1. Menentukan frekuensi hasil pengamatan aktivitas siswa untuk setiap indikator dalam satu kali pertemuan.
2. Mencari persentase frekuensi setiap indikator dengan membagi besarnya frekuensi dengan jumlah siswa, kemudian dikalikan dengan 100%. % 100 n Xi Si Keterangan:
Si = Persentase aktivitas siswa indikator ke-i Xi = Banyaknya aktivitas siswa indikator ke-i ni = Jumlah siswa
c. Respons siswa
Data tentang respons siswa diperoleh dari angket respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran.Selanjutnya dianalisis dengan mencari persentase jawaban siswa untuk tiap-tiap pertanyaan dalam angket.
Kriteria yang ditetapkan untuk mengatakan bahwa para siswa memiliki respons positif terhadap kegiatan pembelajaran apabila rata-rata
Analisis yang dilakukan dalam hal ini adalah menentukan persentase rata-rata jumlah siswa yang memberi respons terhadap pembelajaran, dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
= persentase rata-rata jumlah siswa yang memberi respons = frekuensi respon siswa tiap aspek yang muncul
= jumlah seluruh aspek
2. Teknik analisis inferensial
Statistika inferensial digunakan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi.Teknik statistika ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis penelitian.
a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data tentang hasil belajar matematika siswa sebelum dan setelah perlakuan berasal dari populasi yang berdistribusi normal. Untuk pengujian tersebut digunakan uji Kolmogrov Smirnov dengan menggunakan taraf signifikan 5% atau 0,05, dengan syarat:
Jika Pvalue ≥ α=0,05 maka data berasal dari distribusi normal.
Jika Pvalue< α=0,05 maka data berasal dari distribusi yang tidak normal.
b. Pengujian hipotesis
1. Pengujian hipotesis minor berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) menggunakan uji kesamaan rata-rata yaitu dengan menerapkan teknik uji-t satu sampel (One Sample t-test).
Sultan (2016: 42) One Sample t-test merupakan teknik analisis untuk membandingkan satu variabel bebas. Teknik ini digunakan untuk menguji apakah nilai tertentu berbeda secara signifikan atau tidak dengan rata-rata sebuah sampel. Pada uji hipotesis ini, diambil satu sampel yang kemudian dianalisis apakah ada perbedaan rata-rata dari sampel tersebut.
Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:
melawan
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
H0 ditolak jika Pvalue> α dan H0 diterima jika Pvalue≤ α, di mana α = 5%.
Jika Pvalue< α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai KKM
75.
2. Pengujian hipotesis minor berdasarkan ketuntasan klasikal menggunakan uji proporsi
Jannah (2016: 50) Pengujian hipotesis proporsi adalah pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah proporsi yang dihipotesiskan didukung informasi dari data sampel (apakah proporsi sampel berbeda dengan proporsi yang dihipotesiskan).Dalam pengujian hipotesis ini menggunakan pengujian hipotesis satu populasi.
Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:
H0 : π ≤ 79 melawan H1 : π > 79 Kriteria pengambilan keputusan adalah:
H0 ditolak jika z > z(0,5-α) dan H0 diterima jika z ≤ z(0,5-α) di mana α = 5%. Jika z <z(0,5-α) berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 80%.
3. Pengujian hipotesis berdasarkan Gain (peningkatan) menggunakan uji t satu sampel
Pengujian Gain digunakan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar matematika yang terjadi pada siswa kelas eksperimen, diperoleh dengan membandingkan skor rata-rata pretest dan posttest.
Uji hipotesis dibuat dalam situasi ini, yaitu:
H0 : µg ≤ 0,29 melawan H1 : µg > 0,29
Kriteria pengambilan keputusan adalah:
H0 ditolak jika P>α dan H1 diterima jika P ≤ α dimana α = 5%. Jika P ≤ α berarti hasil belajar matematika siswa bisa mencapai 0,30.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Data hasil penelitian ini dianalisis menggunakan analisis statistika deskriptif dan analisis inferensial. Hasil analisis deskriptif meliputi nilai rata-rata, median, standar deviasi, variansi, nilai minimum dan nilai maksimum. Sedangkan analisis inferensial meliputi pengujian persyaratan analisis dan pengujian hipotesis. Adapun hasil analisis masing-masing data tersebut sebagai berikut:
1. Hasil Analisis Statistika Deskriptif
Berikut ini akan diuraikan hasil analisis statistika deskriptif yaitu hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS), hasil observasi aktivitas siswa dan hasil angket respons siswa terhadap pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) pada siswa kelas VIII MTsS
Muhammadiyah Likubo‟dong
a. Deskripsi Hasil Belajar Siswa
Skor hasil belajar matematika siswa sebelum diberikan perlakuan (pretest) dan setelah diberikan perlakuan (posttest) pada siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong disajikan secara lengkap pada lampiran D. Selanjutnya berdasarkan hasil analisis deskriptif terhadap skor hasil belajar matematika siswa
sebelum dan setelah diberikan perlakuan ditunjukkan seperti pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Sebelum dan Setelah diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Statistik
Nilai Statistik
Pretest Posttest Gain
Sampel Penelitian 31 31 31 Skor Ideal 100 100 100 Skor Maksimum 75 98 0,96 Skor Minimum 30 70 0,52 Rentang Skor 45 28 0,45 Skor Rata-rata 40,77 83,71 0,729 Standar Deviasi 9,91 7,64 0,111 Median 38 84 0,727 Variansi 98,25 58,35 0,012
Sumber: Data olah lampiran D.5 Dari tabel diatas, ditunjukkan besar nilai rata-rata hasil belajar siswa pretest 40,77 dan posttest 83,71 apabila nilai tersebut dikonveksi kedalam skala 5 yang ditunjukkan pada kategori pencapaian siswa. Sedangkan standar deviasi pretest 9,91 dan posttest 7,64 menggambarkan bahwa nilai variansi mencapai 98,25 pada pretest dan 58,35 pada posttest. Hal ini menunjukkan bahwa nilai variansi menurun setelah dilakukannya perlakuan pada proses pembelajaran.
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Sebelum diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
No. Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
1. Sangat Rendah 29 93,56 2. Rendah 1 3,22 3. Sedang 1 3,22 4. Tinggi 0 0 5. Sangat Tinggi 0 0 Jumlah 31 100
Sumber: Data olah lampiran D.4
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo’dong Setelah diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
No. Skor Kategori Frekuensi Persentase
(%) 1. 0 ≤ x < 55 Sangat Rendah 0 0 2. 55 ≤ x < 70 Rendah 0 0 3. 70 ≤ x < 80 Sedang 9 29,03 4. 80 ≤ x < 90 Tinggi 13 41,94 5. 90 ≤ x ≤ 100 Sangat Tinggi 9 29.03 Jumlah 31 100
Sumber: Data olah lampiran D.4
Berdasarkan Tabel 4.1, Tabel 4.2 dan Tabel 4.3 di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut.
1) Skor rata-rata posttest setelah mengikuti pembelajaran matematika melalui penerapan model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) adalah 83,71 (kategori tinggi) dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai oleh siswa, sedangkan sebelumnya
skor rata-rata pretest 40,77 (kategori sangat rendah) dari skor ideal 100 yang mungkin dicapai oleh siswa. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong terjadi peningkatan rata-rata 42,94 yang cukup berarti dari kategori sangat rendah menjadi kategori tinggi. 2) Skor rata-rata gain adalah 0,729. Hal ini berarti berada pada
interval indeks gain g 0,70 maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar dikategorikan tinggi.
3) Median untuk skor pretest dan posttest berturut-turut 38 dan 84, hal ini menunjukkan bahwa untuk skor pretest di kelas tersebut ada 50% siswa yang memperoleh paling tinggi 38 atau paling rendah 38 dan untuk skor posttest ada 50% siswa yang memperoleh paling tinggi 84 dan paling rendah 84.
Selanjutnya data hasil belajar matematika siswa sebelum dan sesudah diterapkan model pembelajaran kooperaif tipe Think Pair Share (TPS) yang dikategorikan berdasarkan kriteria ketuntasan dapat dilihat pada Tabel 4.4 dan Tabel 4.5.
Tabel 4.4 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika sebelum diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 ≤ x < 75 Tidak Tuntas 30 96,78
75 ≤ x ≤ 100 Tuntas 1 3,22
Jumlah 31 100
Tabel 4.5 Deskripsi Ketuntasan Hasil Belajar Matematika setelah diterapkan Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS)
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
0 ≤ x < 75 Tidak Tuntas 3 9.68
75 ≤ x ≤ 100 Tuntas 28 90.32
Jumlah 31 100
Sumber: Data olah lampiran D.1 Kriteria seorang siswa dikatakan tuntas belajar apabila memiliki nilai paling sedikit 75. Dari Tabel 4.4 di atas terlihat bahwa jumlah siswa yang tidak memenuhi kriteria ketuntasan individu adalah sebanyak 30 orang atau 96,78% dari 31 jumlah keseluruhan siswa sedangkan yang tuntas sebanyak 1 orang atau 3,22% dari jumlah keseluruhan siswa. Berdasarkan deskripsi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar siswa Kelas VIII
MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong sebelum diterapkan
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) tergolong sangat rendah. Dari Tabel 4.5, terlihat bahwa siswa yang tidak tuntas sebanyak 3 orang (9,68%), sedangkan siswa yang memiliki kriteria ketuntasan individu sebanyak 28 orang (90,32%). Jika dikaitkan dengan indikator ketuntasan hasil belajar siswa, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa kelas VIII MTsS Muhammadiyah Likubo‟dong setelah diterapkan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) sudah memenuhi indikator ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal yaitu 80%.
Data pretest dan postest siswa selanjutnya dihitung dengan menggunakan rumus normalized gain. Tujuannya adalah untuk