• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

58 3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian yang dipilih oleh penulis dalam menyusun skripsi ini adalah kualitas layanan sistem informasi, kualitas sistem informasi, dan kualitas informasi pada staf pelaksana KPU Subbagian Program dan Data serta Subbagian Keuangan, Umum, dan Logistik yang berpengaruh terhadap kepuasan pengguna akhir sistem informasi. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga lembaga negara Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang bertugas sebagai penyelenggara pemilu pada tabel 3.1.

Tabel 3.1

Daftar Satker Komisi Pemilihan Umum

No Nama Satuan Kerja Alamat

1 KPU Kabupaten Bandung Jl. Raya Taman Kopo Indah I Blok F No. 5 Margahayu Kab. Bandung

2 KPU Kota Bandung Jl. Soekarno Hatta No. 260 Bandung 3 KPU Kota Cimahi Jl. Pasantren – TTUC No. 108 Cimahi

Sesuai dengan kebutuhan dan tujuan penelitian ini, maka dapat dilihat bahwa penelitian merupakan hal yang mendasari pemilihan, pengolahan, dan penafsiran suatu data dan keterangan yang berkaitan dengan apa yang menjadi tujuan dalam penelitian.

3.1.1 Sejarah Singkat Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Satu tahun setelah penyelenggaraan pemilihan umum (Pemilu) tahun 1999, pemerintah bersama DPR mengeluarkan UU No 4 Tahun 2000 tentang

(2)

Perubahan Atas UU No 3 Tahun 1999 tentang Pemilu. Pokok isi dari UU No. 4/ 2000 adalah adanya perubahan penting, yaitu bahwa penyelenggaraan pemilihan umum tahun 2004 dilaksanakan oleh sebuah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang indepeden dan non independen

Independen dan non partisan inilah label baru yang disandang oleh KPU saat ini. KPU baru ini terdiri atas para anggota yang dipilih dari orang-orang yang independen dan Pembentukan KPU yang demikian tidak bisa dilepaskan dengan aktivitas KPU masa lalu, yaitu pada pemilu 1999. Pada saat itu KPU beranggotakan para fungsionaris partai peserta Pemilu. Dalam perjalanan KPU saat itu, publik melihat secara jelas bagaimana sangat kuatnya unsur kepentingan (interest) mewarnai setiap kegiatan KPU, sehingga sangat sering dalam pembahasan keputusan-keputusan KPU harus menghadapi situasi deadlock. Kenyataan ini tentu tidaklah menggembirakan, khususnya dilihat dari sudut pengembangan citra dan perkembangan KPU sebagai lembaga penyelenggara Pemilu. Atas dasar pemikiran bahwa KPU sebagai lembaga penyelenggara Pemilu seharusnya bebas dari tekanan kepentingan-kepentingan, serta kuatnya tuntutan dari banyak pihak bahwa lembaga penyelenggara Pemilu harus bersih dari intervensi partai politik dan pemerintah, maka DPR bersama pemerintah mengeluarkan UU No.4 tahun 2000 yang secara tegas menyatakan bahwa anggota KPU terdiri dari orang-orang independen dan non inependen.

Sifat independen dan non independen KPU saat ini tercermin dari proses seleksi calon anggota KPU. Dari semua calon anggota KPU yang diajukan presiden kepada DPR untuk mendapat persetujuan tidak satu pun yang berasal

(3)

dari partai politik. Pada umumnya para calon berasal dari kalangan perguruan tinggi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Secara lebih jelas persyaratan untuk menjadi anggota KPU secara lebih rinci adalah sebagai berikut :

1. Sehat jasmani dan rohani. 2. Berhak memilih dan dipilih.

3. Mempunyai komitmen yang kuat terhadap tegaknya demokrasi dan keadilan. 4. Mempunyai integritas pribadi yang kuat, jujur, dan adil.

5. Memiliki pengetahuan yang memadai tentang politik, kepartaian, pemilu, dan kemampuan kepemimpinan.

6. Tidak menjadi anggota atau pengurus partai politik.

7. Tidak sedang menduduki jabatan struktural dalam jabatan pegawai negeri.

KPU adalah lembaga yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Hal ini tercantum dalam UUD Negara Republik Indonesia 1945 dan UU tentang Pemilu. Seluruh anggota KPU dan perangkat pendukungnya menyadari bahwa rakyat menghendaki Pemilu 2004 lebih berkualitas dari pemilu-pemilu sebelumnya. Oleh karena itu, pada Pemilu 2004, KPU harus mampu meyelenggarakan pemilu dengan tetap mengedepankan pencapaian asas-asas umum penyelenggaraan pemilu, yaitu: langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil serta beradab. Guna mendukung tercapainya sasaran tersebut, KPU menyiapkan sejumlah peraturan yang berlaku untuk penyelenggara Pemilu. Misalnya Peraturan Tata Tertib KPU dan Kode Etik Pemilu. Selain Hak dari kewajiban sebagaimana diatur dalam ketentuan perundangan, KPU juga wajib:

(4)

2. Menghormati asas keterbukaan dan pentingnya memberikan informasi yang tepat, jujur, dan dapat memberikan akuntabilitas kepada masyarakat.

3. Melaksanakan tugas yang ditetapkan sesuai UU.

4. Mengusahakan agar setiap peserta pemilihan umum yang meliputi partai politik, calon anggota legislatif dan pemilih, mendapat perlakukan yang adil dan setara.

5. Melaksanakan tugas secara terkoordinasi antar anggota atau dengan instansi terkait.

6. Menunjang pemantauan pemilihan umum agar berjalan secara efektif dan efisien.

3.1.2 Visi dan Misi KPU

Visi dan Misi KPU adalah sebagai berikut : A. Visi KPU

Terwujudnya Komisi Pemilihan Umum sebagai penyelenggara Pemilihan Umum yang memiliki integritas, profesional, mandiri, transparan dan akuntabel, demi terciptanya demokrasi Indonesia yang berkualitas berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

B. Misi KPU

1. Membangun lembaga penyelenggara Pemilihan Umum yang memiliki kompetensi, kredibilitas dan kapabilitas dalam menyelenggarakan Pemilihan Umum.

2. Menyelenggarakan Pemilihan Umum untuk memilih Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat

(5)

Daerah, Presiden dan Wakil Presiden serta Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, adil, akuntabel, edukatif dan beradab.

3. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilihan Umum yang bersih, efisien dan efektif.

4. Melayani dan memperlakukan setiap peserta Pemilihan Umum secara adil dan setara, serta menegakkan peraturan Pemilihan Umum secara konsisten sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Meningkatkan kesadaran politik rakyat untuk berpartisipasi aktif dalam Pemilihan Umum demi terwujudnya cita-cita masyarakat Indonesia yang demokratis

3.1.3 Struktur Organisasi KPU Kab/Kota

Struktur organisasi KPU Kab/Kota menurut Pasal 61 Peraturan Komisi Pemilihan Umum No 04 tahun 2010 mengenai Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

Staf pelaksana pada Sekretariat KPU Kabupaten/Kota terdiri atas : a. Staf pelaksana pada Subbagian Program dan Data.

b. Staf pelaksana pada Subbagian Hukum.

c. Staf pelaksana pada Subbagian Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat.

d. Staf pelaksana pada Subbagian Keuangan, Umum, dan Logistik. 3.1.4 Deskripsi Tugas KPU Kab/Kota

(6)

Deskripsi tugas KPU Kab/Kota menurut Pasal 62 Peraturan Komisi Pemilihan Umum No 04 tahun 2010 mengenai Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:

1. Staf Pelaksana pada Subbagian Program dan Data mempunyai tugas :

a. Mengumpulkan dan mengolah bahan penyusunan rencana anggaran Pemilu.

b. Menyusun dan mengelola perencanaan anggaran Pemilu. c. Mengelola, menyusun data pemilih.

d. Mengumpulkan dan menyiapkan bahan penyusunan kerjasama dengan lembaga pemerintahan lain yang terkait.

e. Mengumpulkan dan mengolah bahan penyusunan kerjasama dengan lembaga non pemerintahan.

f. Melakukan survei untuk mendapatkan bahan kebutuhan Pemilu. g. Mengumpulkan dan mengolah bahan kebutuhan pemilu.

h. Mengumpulkan dan mengolah bahan hasil monitoring penyelenggara Pemilu.

i. Mengumpulkan dan mengolah bahan hasil supervisi penyelenggara Pemilu.

j. Menyusun dan mengelola laporan pelaksanaan kegiatan Subbagian Program dan Data.

k. Memberikan dan mengelola bahan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

(7)

l. Melaporkan hasil penyusunan dan pengelolaan pelaksanaan tugas kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

m. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

n. Menyusun dan merencanakan kebutuhan anggaran proses rekrutmen anggota KPU Kabupaten/Kota.

o. Menyusun dan merencanakan anggaran proses Penggantian Antar Waktu Anggota KPU.

p. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan. 2. Staf Pelaksana pada Subbagian Hukum mempunyai tugas :

a. Mengumpulkan dan mengelola bahan untuk materi penyuluhan peraturan perundang-undangan tentang Pemilu.

b. Mengumpulkan dan mengelola bahan untuk advokasi dan konsultasi hukum penyelenggara Pemilu.

c. Menyusun dan mengolah bahan-bahan yang sudah dikumpulkan untuk advokasi dan konsultasi hukum penyelenggara hukum.

d. Mengumpulkan dan menyusun bahan-bahan untuk pembelaan dalam sengketa hukum penyelenggaraan Pemilu.

e. Menyusun dan mengolah bahan-bahan untuk verifikasi administrasi dan faktual partai politik peserta Pemilu.

f. Menyusun dan mengelola evaluasi terhadap kegiatan verifikasi partai politik peserta pemilu dan pelaporannya.

(8)

g. Menyusun dan mengelola verifikasi calon anggota DPRD Kabupaten/Kota.

h. Menyusun laporan kegiatan verifikasi partai politik peserta Pemilu.

i. Mengumpulkan dan menyusun bahan-bahan untuk verifikasi administrasi dan faktual perseorangan peserta Pemilu.

j. Menyusun dan mengolah bahan-bahan yang sudah dikumpulkan untuk verifikasi administrasi dan faktual calon perseorangan peserta Pemilu. k. Mengumpulkan dan mengolah bahan-bahan informasi administrasi

pelaporan dana kampanye peserta Pemilu.

l. mengumpulkan dan mengolah identifikasi kinerja staf di Subbagian Hukum.

m. Menghimpun dan mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk teknis serta bahan-bahan lainnya yang materinya berhubungan dengan bidang tugas Subbagian Hukum.

n. Menyusun dan mencari bahan permasalahan yang terjadi dan menyiapkan bahan-bahan yang di perlukan dalam rangka pemecahan masalah.

o. Menyusun dan mencari bahan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

p. Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

q. Menyusun dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Subbagian Hukum Kabupaten/Kota.

(9)

s. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan.

3. Staf Pelaksana pada Subbagian Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat mempunyai tugas :

a. Mengumpulkan dan menyusun identifikasi bahan dan informasi pembagian daerah pemilihan dan alokasi kursi untuk Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD Kabupaten/ Kota.

b. Menyusun draft pembagian daerah pemilihan dan alokasi kursi untuk Pemilu Anggota DPRD Kabupaten/Kota.

c. Mengumpulkan dan menyusun identifikasi bahan dan informasi tentang pemunggutan suara, perhitungan suara, dan penetapan hasil Pemilu.

d. Menyusun dan mencari bahan draft pedoman dan petunjuk teknis pemungutan, perhitungan suara, dan penetapan hasil Pemilu.

e. Mengumpulkan dan menyusun identifikasi bahan informasi untuk penyusunan pedoman dan petunjuk teknis penggantian antar waktu dan pengisian Anggota DPRD Kabupaten/Kota.

f. Menyiapkan semua berkas kelengkapan Penggantian Antar Waktu Anggota DPRD Kab/Kota dan hubungan calon pengganti untuk melengkapi kekurangan persyaratan.

g. Mengumpulkan dan mengidentifikasi bahan pemberitaan dan penerbitan informasi Pemilu.

h. Menyusun draft pemberitaan dan penerbitan informasi Pemilu.

i. Mengumpulkan dan mengidentifikasi bahan dan informasi pelaksanaan kampanye.

(10)

j. Menyusun draft tata cara pelaksanaan sosialisasi dan kampanye.

k. Mengumpulkan dan mengidentifikasi bahan dan informasi pedoman teknis bina partisipasi masyarakat, dan pelaksanaan pendidikan pemilih.

l. Melakukan identifikasi kinerja staf di Subbagian Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat.

m. Mengiventarisasi permasalahan yang terjadi dan menyiapakan bahan-bahan yang diperlukan dalam rangka pemecahan masalah.

n. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

o. Melaksanakan dan menjalankan tugas-tugas lain yang di berikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

p. Membantu dan mengelola memfasilitasi pemeliharaan data dan dokumentasi hasil Pemilu.

q. Menyiapkan pelaporan hasil pelaksanaan tugas kepada Subbag Teknis dan Hubmas.

r. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan. 4. Staf Pelaksana pada Subbagian Keuangan mempunyai tugas :

a. Mengelola dan menyusun rencana Subbagian Keuangan.

b. Memberi informasi terbaru menyangkut penggelolahan keuangan yang menjadi kewenangan KPU Kabupaten/Kota.

c. Menyusun dan mengelola bahan peneliti laporan keuangan.

d. Menyiapkan dan menyusun bahan-bahan untuk keperluan realisasi anggaran (SAI dan LPJ/LPAK).

(11)

e. Menyusun dan memperbaharui apabila ada peraturan atau ketentuan keuangan yang terbaru.

f. Mengumpulkan dan menyusun data untuk keperluan perhitungan akuntansi.

g. Menyusun dan membuat daftar gaji/honor pegawai.

h. Menyusun dan membuat daftar pengadaan barang dan jasa.

i. Mengelola dan membuat kartu pengawasan pembayaran yang telah diajukan oleh PPK dan diselesaikan oleh KPPN.

j. Menyusun dan membantu pejabat penandatanganan SPM untuk meneliti dokumen pembayaran yang telah diajukan oleh PPK agar sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

k. Menyusun dan membantu mengawasi dan mengecek pembuatan SPM sebelum diajukan dan di tandatangani oleh pejabat penandatangan SPM. l. Menyiapkan dan menyusun, mempelajari peraturan perundang-undangan,

kebijakan, serta pedoman dan petunjuk teknis tentang pengelolaan keuangan Pemilu.

m. Mengelola dan memonitor serta mengevaluasi pelaksanaan teknis kegiatan pengelolaan keuangan.

n. Menyusun dan mencari bahan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

o. Menyusun dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

(12)

p. Menyusun dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

q. Mengelola dan melakukan koordinasi dengan Subbagian lain. r. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan. 5. Staf Pelaksana pada Subbagian Umum mempunyai tugas :

a. Mengelola dan menyusun rencana Subbagian Umum.

b. Menyusun dan melakukan urusan kearsipan, surat-menyurat, dan ekspedisi.

c. Menyusun dan melaksanakan penomoran, pengetikan dan pengadaan naskah dinas.

d. Menyusun dan melakukan urusan perlengkapan di subbagian masing-masing.

e. Menyusun dan mengelola urusan rumah tangga. f. Mencatat dan menyusun surat masuk/keluar. g. Menyusun dan mengarsipkan surat masuk/keluar.

h. Menyusun dan Mengarsipkan himpunan-himpunan naskah dinas.

i. Menyusun dan mencatat himpunan-himpunan naskah dinas yang keluar. j. Menyiapkan dan menyusun arsip dinas dan arsip statis.

k. Mengumpulkan dan penyusunan arsip inaktif.

l. Mengelola dan memelihara barang inventaris milik negara.

m. Menyusun dan mencari bahan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

(13)

n. Menyusun dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

o. Menyusun dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

p. Mengelola dan melakukan koordinasi dengan Subbagian lain. q. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan. 6. Staf Pelaksana pada Subbagian Logistik mempunyai tugas :

a. Mengelola dan menyusun rencana Subbagian Logistik.

b. Menyusun dan mendokumentasikan laporan pelaksanaan kegiatan subbagian penyusunan, pengolahan data, dan dokumentasi kebutuhan sarana Pemilu.

c. Mengumpulkan dan mengolah bahan alokasi barang kebutuhan Pemilu serta membuat laporannya.

d. Mengalokasikan barang keperluan Pemilu.

e. Menyusun dan merencanakan alokasi kebutuhan sarana Pemilu bagi panitia Pemilu.

f. Menyusun dan mencari bahan pertimbangan kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

g. Menyusun dan melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

h. Menyusun dan melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Sekretaris KPU Kabupaten/Kota.

(14)

j. Menjalankan tugas lain yang diperintahkan oleh pimpinan.

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1 Populasi

Setiap penelitian memerlukan data atau informasi dari sumber-sumber yang dapat dipercaya agar data dan informasi tersebut dapat digunakan menjawab masalah penelitian atau menguji hipotesis, data yang diperoleh merupakan respon dari populasi atau sampel penelitian. Menurut Sugiyono (2009:117) menerangkan bahwa:

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengguna software aplikasi sistem informasi akuntansi yaitu staf pelaksana Subbagian Program dan Data serta Subbagian Keuangan, Umum, dan Logistik pada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Bandung, KPU Kota Bandung dan KPU Kota Cimahi.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah mewakili populasi yang diteliti. Sampel menurut Sugiyono (2009:118) adalah:

“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.”

(15)

Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel. Pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah penarikan sampel

nonprobability sampling dengan jenis sampel jenuh yang jumlahnya sama dengan

jumlah populasi, sesuai dengan yang diutarakan oleh Sugiyono (2009:124) yaitu : “Sampel jenuh adalah teknik sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.”

Alasan peneliti menggunakan sampel jenuh adalah populasi kurang dari 100, hal ini senada dengan Arikunto (2006:120) yang mengemukakan bahwa :

“Apabila subjek kurang dari 100 lebih baik diambil semua sehingga penelitian merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subjek besar maka dapat diambil 10-15% atau 20-25% atau lebih.”

Untuk memperoleh data tentang bagaimana kualitas layanan sistem informasi, kualitas sistem informasi, kualitas informasi dan kepuasan pengguna akhir sistem informasi pada satker KPU, maka sampel yang diperlukan adalah sejumlah populasi berjumlah 35 orang. Dalam penelitan ini penulis meneliti staf pelaksana subbagian program dan data serta subbagian umum, keuangan, dan logistik yang menggunakan software aplikasi Sistem Informasi Akuntansi di KPU Kabupaten, KPU Kota Bandung, dan KPU Kota Cimahi.

3.3 Metode Pengumpulan Data

3.3.1 Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian terhadap masalah yang akan dibahas, penulis melakukan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei pada KPU Kab/Kota Bandung dan Cimahi yang mana penulis mengamati

(16)

aspek-aspek yang berkaitan erat dengan masalah yang diteliti secara lebih spesifik sehingga diperoleh data yang menunjang penelitian untuk kemudian diproses dan dianalisis berdasarkan teori yang telah dipelajari sehingga diperoleh gambaran mengenai objek dan dapat ditarik kesimpulan mengenai masalah yang diteliti. Menurut Sugiyono (2009:169-170) metode deskriptif adalah:

“Metode deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan variabel satu dengan variabel lainnya.”

Adapun ditinjau dari jenis masalah yang diteliti, teknik, alat, serta tempat dan waktu penelitian, maka penelitian ini merupakan studi survei, yaitu jenis penelitian deskriptif yang berusaha mencermati suatu unit tertentu dan mencoba menemukan semua variabel itu. Selanjutnya terhadap hasil penelitian ini dilakukan perbandingan variabel-variabel yang diteliti untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh antara variabel-variabel tersebut. Menurut Nazir (2003:65) metode survei adalah :

“Metode survei adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang intuisi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok atau suatu daerah.”

3.3.2 Sumber Data Penelitian

Data yang digunakan pada penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data-data yag diperoleh langsung dari perusahaan melalui observasi, wawancara dan penyebaran angket kuisioner untuk memperoleh data dan informasi yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian yang penulis angkat, sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui penelitian

(17)

kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data dengan mencari dan mempelajari bahan-bahan dan membandingkan dengan beberapa sumber kepustakaan seperti buku litelatur, majalah-majalah, dan sebagainya. Dalam penelitian ini, data sekunder selain digunakan untuk membangun landasan teori yang kuat guna mendukung analisis yang digunakan, juga sebagai alat perbandingan sudut keilmuan.

3.3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang dilakukan untuk mengumpulkan data dan keterangan-keterangan lainnya dalam penelitian yang akan dilakukan. Dalam penelitian ini penulis mengumpulkan data dengan cara sebagai berikut:

1. Penelitian Lapangan (Field Research)

Yaitu dengan melakukan penelitian pada perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh data primer dan penelitian ini dilaksanakan dengan cara pengumpulan data melalui :

a. Observasi, yaitu dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap staf pelaksana khususnya yang berkaitan dengan kinerja di bagian Subbagian Program dan Data serta Subbagian Keuangan, Umum, dan Logistik.

b. Wawancara, yaitu pengumpulan data untuk melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti.

c. Kuesioner, yaitu mengajukan beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, kemudian hasilnya diuji dengan menggunakan kriteria yang telah ditetapkan.

(18)

2. Penelitian Kepustakaan (Library Reseach)

Yaitu pengumpulan data teoritis sebagai data pemecahan masalah dalam pembahasan. Data yang diambil bersumber dari buku, media cetak, dan internet sebagai bahan referensi pendukung dalam penelitian ini.

3.4 Operasionalisasi Variabel Penelitian

Sebelum mengadakan penilaian dalam penelitan, maka penulis perlu menentukan terlebih dahulu variabel-variabel yang akan diteliti, hal ini dimaksudkan agar dapat mempermudah dalam melakukan penelitian. Menurut Sugiyono (2009:60) menerangkan bahwa:

“Variabel penelitian pada dasarnya adalah sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.”

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar sesuai dengan judul penelitian mengenai “Pengaruh kualitas layanan sistem informasi, kualitas sistem informasi, dan kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna akhir sistem informasi”, maka variabel-variabel yang terkait dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas/Independent (X)

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel lain, variabel terebut fungsinya menerangkan atau mempengaruhi variabel lainnya. Dalam

(19)

penelitian ini, yang menjadi variabel bebas (variabel X) adalah kualitas layanan sistem informasi (X1), kualitas sistem informasi (X2), dan kualitas

informasi (X3) dapat mempengaruhi kepuasan pengguna akhir sistem

informasi.

2. Variabel Terikat/Dependent (Y)

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel terikat (Variabel Y) adalah kepuasan pengguna akhir sistem informasi, karena apabila dilihat dari indikator-indikator kepuasan pengguna akhir sistem informasi akan dipengaruhi oleh kualitas layanan sistem informasi, kualitas sistem informasi, dan kualitas informasi.

Untuk dapat menyusun kuisioner maka harus menetapkan terlebih dahulu variabel-variabel yang akan diukur beserta indikator-indikatornya. Variabel dan pengukuran disajikan dalam tabel 3.2, operasionalisasi variabel sebagai berikut:

Tabel 3.2

Operasionalisasi Variabel

Variabel Dimensi Indikator Skala Instrumen

Independen Kualitas Layanan Sistem Informasi (X1) Dimensi Kualitas Layanan Sistem Informasi Parasuraman yang diterjemahkan oleh Sutanto (2001:165) 1. Bukti Fisik (Tangibles) 2.Keandalan (Reability) 3.Daya Tanggap (Responsiveness) 4.Jaminan (Assurance) 5.Empati (Emphaty) Ordinal Kuisioner

(20)

Kualitas Sistem Informasi (X2) Dimensi Kualitas Sistem Informasi DeLone dan McLean, (1992) dalam Rachmawati (2012) 1.Fleksibilitas (Flexibility) 2.Kemudahan Penggunaan (Ease of use) 3.Keandalan Sistem (Reability) Ordinal Kuisioner Kualitas Informasi (X3) Dimensi Kualitas Informasi Sutabri (2004:30) 1.Akurat (Accuracy) 2.Ketepatan Waktu (Timeliness) 3.Relevan (Relevance) Ordinal Kuisioner Dependen Kepuasan Pengguna Akhir Sistem Informasi (Y) Dimensi Kepuasan Pengguna Akhir Sistem Informasi EUCS (Doll dan Torkzadeh, 1988) dalam Ahmar dan Paramon (2005) 1.Kelengkapan Isi (Content) 2.Akurat (Accuracy) 3.Tampilan (Format) 4.Kemudahan (Ease of use) 5.Ketepatan (Timeliness) Ordinal Kuisioner

3.5 Metode Analisis Data

3.5.1 Analisis Data

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan, diperlukan serangkaian pengujian baik terhadap instrumen kuisioner, hubungan antar variabel maupun hipotesis yang diajukan penulis. Dalam proses

(21)

perhitungannya, penulis menggunakan alat bantu SPSS versi 13.0. Adapun metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana suatu alat pengukur dapat mengukur apa yang ingin diukur. Hasil penelitian dikatakan valid bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Sedangkan penelitian yang dikatakan tidak valid bila tidak ada kesesuaian antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek.

Bila suatu alat ukur sudah dikatakan valid, maka selanjutnya dapat dilakukan pengujian reliabilitas alat ukur. Sebaliknya bila alat ukur dikatakan tidak valid, maka alat ukur yang telah digunakan sebelumnya harus dievaluasi atau diganti dengan alat ukur yang lebih tepat/efektif.

Menurut Arikunto (2006:168) validitas adalah sebagai berikut:

“Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan suatu instrumen.”

Dalam menguji instrumen tersebut maka diigunakan uji korelasi, karena data yang didapat adalah data ordinal. Adapun rumus dari uji korelasi dengan tehnik Sperman Rank adalah sebagai berikut:

 = 1- 6 ∑   (− 1)

(Sugiyono 2009:357)

(22)

 = Koefisien korelasi Spearman Rank

n = banyaknya sampel yang diteliti

b = pembeda

Menurut Azwar dalam Sitomurang (2011:68) ditetapkan patokan besaran koefisien item total dikoreksi sebesar 0,25 atau 0,30 sebagai batas minimal valid tidaknya sebuah item. Artiinya, semua item pertanyaan dan pernyataan yang memiliki koefisien korelasi item total dikoreksi sama atau lebih besar dari 0,25 atau 0,30 diindikasikan memiliki validitas internal yang memadai dan kurang dari 0,25 atau 0,30 diindikasikan item tersebut tidak valid.

2. Uji Reliabilitas

Jika alat ukur telah dinyatakan valid, selanjutnya reliabilitas alat ukur tersebut diuji. Reliabilitas adalah suatu nilai yang merupakan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang lama. Suatu alat ukur yang reliabel adalah bila alat ukur yang digunakan itu stabil, dapat diandalkan, dan dapat diramalkan. Sedangkan alat ukur yang tidak reliabel adalah bila alat ukur yang digunakan tidak tetap atau berubah-ubah dan bila alat ukur tersebut dipakai berkali-kali akan memberikan hasil yang tidak sama (tidak konsisten).

Pada penelitian ini tingkat reliabilitas akan dicari dengan rumus alpha atau

Cronbach Alpha (α). Menurut Umar (2008:170) Alpha Cronbach adalah:

“Alpha Cronbach adalah koefisien keandalan yang menunjukan seberapa

baik item dalam suatu kumpulan secara positif berkorelasi satu sama lain.”

(23)

 =  − 1 1 − ∑ 

Keterangan:

r = reliabilitas instrumen k = banyaknya butir pertanyaan s = deviasi standar total

∑  = jumlah deviasi standar butir

Alpha cronbanch dihitung dalam rata-rata interkorelasi antar item yang

mengukur konsep. Semakin dekat Alpha Cronbach dengan 1 (satu), semakin tinggi keandalan konsistensi internal (Sekaran, 2006:177). Adapun pengambilan keputusan untuk uji reliabilitas ini didasarkan menurut Sekaran, reliabilitas kurang dari 0,6 adalah kurang baik, sedangkan 0,7 dapat diterima, dan diatas 0,8 adalah baik.

3.5.2 Teknik Analisis Data

Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan adanya pengaruh antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (dependent

variable). Metode analisis kuantitatif yang sesuai dengan menggunakan metode

statistika adalah analisis jalur (path analysis), dimana satu variabel terikat dipengaruhi oleh satu atau beberapa variabel bebasnya, dan diantara variabel bebas terdapat hubungan. Menurut Riduwan dan Kuncoro (2008,2) path analysis adalah :

(24)

“Path analysis digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas terhadap variabel terikat.” Analisis jalur yang dikenal dengan path analysis dikembangkan pertama tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright (Joreskog & Sorbom, 1996; Johnson & Wichern, 1992). Pada saat ini, penggunaan analisis jalur telah meluas dan banyak diadopsi oleh berbagai disiplin ilmu untuk menerangkan pola hubungan keterkaitan antar variabel yang terjadi di dalam sebuah sistem kausalitas. Sistem kausalitas yang dimaksudkan dalam penelitian ini merupakan kerangka pikir yang telah disusun sebelumnya kemudian digambarkan melalui suatu model. Analisis jalur memiliki daya guna untuk menguji sistem kausalitas yang telah terbentuk berdasarkan kerangka pikir.

Proses transformasi data menggunakan successive interval merupakan salah satu cara untuk mengoperasikan data berskala ordinal menjadi data berskala interval. Maksud transformasi ini adalah agar dapat dapat mengoperasikan data variabel secara aritmetik dalam metode statistik parametrik.

3.5.2.1 Transformasi Data Ordinal menjadi Data Interval

Riduwan dan Kuncoro (2008:30) menyatakan bahwa mentransformasi data ordinal menjadi data interval berguna untuk memenuhi sebagian dari syarat analisis statistik parametrik yang mana data setidak-tidaknya berskala interval. Teknik transformasi yang paling sederhana dengan menggunakan MSI (Method of

Successive Intervals). Langkah-langkah transformasi data ordinal menjadi interval

sebagai berikut:

(25)

2. Pada setiap butir ditentukan berapa orang yang mendapat skor 1, 2, 3, 4 dan 5 yang disebut frekuensi.

3. Setiap frekuensi dibagi dengan banyaknya responden dari hasilnya disebut proporsi.

4. Tentukan nilai proporsi kumulatif dengan menjumlahkan nilai proporsi secara berurutan per kolom skor.

5. Gunakan tabel distribusi normal, hitung nilai z untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh.

6. Tentukan nilai tinggi densitas untuk setiap nilai z untuk setiap proporsi kumulatif yang diperoleh.

7. Tentukan nilai skala (Scale Value) dengan menggunakan rumus :

Scale Value = (Density at Lower Limit) – (Density at Upper Limit) (Area Below Upper Limit) – (Area Below Lower Limit) 8. Sesuai dengan skala ordinal ke interval, yakni skala terkecil (harga negatif

yang terbesar) diubah menjadi sama dengan satu melalui transformasi sebagai berikut :

Transformasi Scale Value = Scale Value + (1+ (Scale Value minimum) 3.5.2.2 Analisis Jalur

Pada tahap analisis, data diolah dan diproses menjadi kelompok-kelompok, diklasifikasikan, dikategorikan, dan dimanfaatkan untuk memperoleh kebenaran sebagai jawaban dari masalah dalam hipotesis yang diajukan dalam penelitian. Penelitian ini bermaksud untuk mengungkapkan adanya pengaruh

(26)

antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (dependent

variable).

Teknik analisis jalur menurut Riduwan dan Kuncoro (2008:115) adalah : “Teknik ini digunakan dalam pengujian kontribusi yang ditunjukkan oleh koefisien jalur pada tiap diagram jalur dari hubungan kausal antar variabel X1, X2, X3 terhadap Y.”

Analisis jalur digunakan untuk menentukan berapa besarnya pengaruh variabel bebas kualitas layanan sistem informasi (X1), kualitas sistem informasi

(X2), dan kualitas informasi (X3) terhadap kepuasan pengguna akhir sistem

informasi sebagai variabel terikatnya. Besarnya pengaruh dari suatu variabel bebas ke variabel terikatnya disebut koefisien jalur dan diberi simbol  dengan menggunakan data yang berasal dari suatu sampel berukuran n.

Untuk menentukan besarnya pengaruh dari suatu variabel terhadap variabel lainnya diperlukan persyaratan :

1. Pada model path analysis, hubungan antar variabel adalah bersifat linier, adaptif, dan bersifat normal.

2. Hanya sistem aliran kausal ke satu arah artinya tidak ada arah kausalitas yang berbalik.

3. Independent variable dan dependent variable minimal dalam skala ukur

interval.

4. Observed variables diukur tanpa kesalahan (instrumen pengukuran valid dan reliable) artinya variabel yang diteliti dapat diobservasi secara langsung.

(27)

5. Model yang dianalisis dispesifikasikan dengan benar berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep yang relevan artinya model teori yang dikaji atau diuji dibangun berdasarkan kerangka teoritis tertentu yang mampu menjelaskan hubungan kausalitas antar variabel yang diteliti.

Apabila persyaratan ini dipenuhi, maka koefisien jalur dapat dihitung dengan langkah kerja seperti berikut :

a. Langkah-langkah Menghitung Koefisien Jalur

Untuk menghitung koefisien jalur pada struktur hubungan yang digunakan dalam pengujian hipotesis dilakukan berdasarkan matriks invers korelasi, dengan langkah sebagai berikut :

1. Menghitung koefisien korelasi sederhana antar variabel dengan koefisien korelasi Pearson, sebagai berikut :

Berdasarkan Riduwan dan Kuncoro (2008:61) untuk mengetahui hubungan antara variabel X1 dengan Y, X2 dengan Y, X3 dengan Y dan X1, X2 dan X3

terhadap Y digunakan teknik korelasi. Analisis korelasi yang digunakan adalah

Pearson Product Moment, dengan rumus:  = ! ∑ ∑"  ∑  ∑"# ! ∑ . ∑"  ∑  "#

Berdasarkan Riduwan dan Kuncoro (2008:62), apabila nilai koefisien korelasi Pearson (r) = +1 maka korelasinya positif dan sempurna. Sedangkan kalau nilai koefisiennya (r) = -1 maka korelasinya negatif dan sempurna. Positif dalam konteks ini adalah searah, jika variabel X naik maka variabel Y ikut naik dan begitu juga sebaliknya. Jika negatif maka hubungannya berbanding terbalik,

(28)

misalkan variabel X naik maka variabel Y akan turun. Ini berlaku untuk hal sebaliknya. Jika harga r = 0 maka artinya tidak ada korelasi.

Arti harga r akan dikonsultasikan dengan tabel nilai interpretasi r sebagai berikut:

Tabel 3.3

Interpretasi Koefisien Korelasi Nilai r Interval Koefisien r Tingkat Hubungan 0,80 – 1,000 Sangat Kuat

0,60 – 0,799 Kuat

0,40 – 0, 599 Cukup Kuat

0,20 – 0,399 Rendah

0,00 – 0,199 Sangat rendah Sumber : Riduwan dan Kuncoro (2008:62) 2. Membentuk matriks korelasi antar variabel

Nilai koefisien korelasi antar variabel dibentuk ke dalam matriks korelasi sebagai berikut : $%% %  %& & && ' $((% (& '

3. Menghitung matriks invers korelasi antar variabel

$%% %  %& & && ' % $((% (& '

4. Menghitung koefisien jalur dengan rumus :

yxi = R-1Ryxi 1 1 1 1 1 2 1 3 1 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 yx x x x x x x yx yx x x x x yx yx x x yx

r

r

r

r

r

r

r

r

r

ρ

ρ

ρ

=

(29)

5. Menghitung koefisien determinasi. Koefisien determinasi digunakan untuk melihat seberapa besar variabel independen ( X% , X , X& ) memiliki dampak terhadap variabel dependen (Y) dengan rumus :

(1 2 3) 1 2 1 2 3 2 3 yx yx yx yx yx y x x x yx r R r r ρ ρ ρ       =    

6. Menghitung koefisien jalur variabel lain dengan rumus :

Yε = 1 - ( 1 2)

2

y x x

R

Besarnya pengaruh dari suatu variabel bebas terhadap variabel terikat disebut dengan koefisien jalur dan diberi simbol +. Besarnya pengaruh dari X1 terhadap Y dinyatakan oleh besarnya numerik koefisien jalur yaitu %, pengaruh X2 terhadap Y dinyatakan dengan , dan seterusnya. Pengaruh residu atau variabel variabel lain di luar variabel X1, X2, X3 terhadap Y adalah ,. Adapun pengaruh analisis jalur diperlihatkan pada gambar 3.2 di bawah ini.

X1 X2 X3 Y % ρYx1 ρYx2 ρYx3 ε ρYε & %&

(30)

Gambar 3.1

Diagram Jalur Hubungan antar Variabel Keterangan:

X1 = kualitas layanan sistem informasi

X2 = kualitas sistem informasi

X3 = kualitas informasi

Y = kepuasan pengguna akhir sistem informasi

ε = nilai residu

% = koefisien korelasi X1 dengan X2, menggambarkan intensitas keeratan

hubungan antara X1 dengan X2

& = koefisien korelasi X2 dengan X3, menggambarkan intensitas keeratan

hubungan antara X2 dengan X3

%& = koefisien korelasi X1 dengan X3, menggambarkan intensitas keeratan

hubungan antara X1 dengan X3

% = koefisien analisis jalur X1 terhadap Y, menggambarkan besarnya

pengaruh langsung X1 terhadap Y

 = koefisien analisis jalur X2 terhadap Y, menggambarkan besarnya

pengaruh langsung X2 terhadap Y

& = koefisien analisis jalur X3 terhadap Y, menggambarkan besarnya

pengaruh langsung X2 terhadap Y

, = koefisien residu, menggambarkan besarnya pengaruh langsung ε

(31)

Diagram jalur ini mencerminkan hipotesis konseptual yang diajukan sehingga tampak dengan jelas mana sebagai variabel bebas dan mana yang sebagai variabel terikat. Dalam melaksanakan perhitungan dan pengujian menggunakan analisis jalur, diagram struktur jalur mengacu pada model persamaan fungsi sebagai berikut :

Y = % X1 +  X2 + & X3 + -

b. Penjabaran dalam Analisis Jalur

Menurut Riduwan dan Kuncoro (2008:152), pengaruh kausal antar variabel dapat dibedakan menjadi tiga, sebagai berikut:

1. Direct effect = DE (pengaruh langsung) adalah pengaruh satu variabel bebas

terhadap variabel terikat yang terjadi tanpa melalui variabel bebas lain.

2. Indirect effect = IE (pengaruh tidak langsung) adalah pengaruh satu variabel

bebas terhadap variabel terikat yang terjadi melalui variabel terikat lain yang terdapat dalam satu model yang sedang dianalisis.

3. Total effect = TE (pengaruh total) adalah jumlah dari pengaruh langsung dan

pengaruh tidak langsung atau TE = DE +IE.

Pengaruh langsung variabel bebas Xi terhadap variabel terikat Y adalah DE = =  . . pengaruh tidak langsung variabel bebas Xi terhadap variabel terikat Y adalah IE =  . + . +. Jumlah pengaruh langsung dan tidak langsung Xi terhadap Y melalui Xj adalah TE =  .  +  . + . +.

(32)

Arti koefisien jalur akan dikonsultasikan dengan tabel nilai interpretasi sebagai berikut :

Tabel 3.4

Kategori Hubungan Pengaruh Variabel yang Diteliti Koefisien Path Analysis Interval Koefisien Tingkat Pengaruh

0,05-0,09 Lemah

0,10-0,29 Sedang

0,30 ke atas Kuat

Sumber: Suwarno dalam Kuncoro (2008:75) 3.5.3 Pengujian Hipotesis

Pengertian hipotesis menurut Sugiyono (2009:377) adalah sebagai berikut: “Hipotesis didefinisikan sebagai dugaan atas jawaban sementara mengenai suatu masalah yang masih perlu diuji secara empiris untuk mengetahui apakah pernyataan atau dugaan jawaban itu dapat diterima atau tidak.”

Rancangan pengujian hipotesis ini dinilai dengan penetapan hipotesis nol dan hipotesis alternatif, penelitian uji statistik dan perhitungan nilai uji statistik, perhitungan hipotesis, penetapan tingkat signifikan dan penarikan kesimpulan.

Hipotesis yang akan digunakan dalam penelitian ini berkaitan dengan ada tidaknya dampak variabel bebas terhadap variabel terikat. Hipotesis nol (Ho) tidak terdapat dampak yang signifikan dan Hipotesis alternatif (Ha) menunjukkan dampak antara variabel bebas dan variabel terikat. Rancangan pengujian hipotesis penelitian ini untuk menguji ada tidaknya pengaruh antara variabel independent yaitu Kualitas Layanan Sistem Informasi (X1), Kualitas Sistem Informasi (X2),

Kualitas Informasi (X3) terhadap variabel dependen yaitu Kepuasan Pengguna

Akhir Sistem Informasi (Y), hipotesis yang diuji dapat dirumuskan sebagai berikut:

(33)

3.5.3.1 Pengujian Hipotesis secara Keseluruhan

Untuk menguji adanya hubungan antara variabel bebas (X1, X2, X3) secara

keseluruhan berpengaruh terhadap variabel terikat (Y) maka pengujian dilakukan dengan menggunakan uji statistik F dengan langkah- langkah sebagai berikut :

1. Menentukan hipotesis secara keseluruhan antara variabel bebas kualitas layanan sistem informasi (X1), Kualitas sistem informasi (X2) dan kualitas

informasi (X3) berpengaruh terhadap kepuasan pengguna akhir sistem

informasi (Y). Hipotesis penelitian tersebut dinyatakan dalam hipotesis statistik berikut ini:

H0 : ρ = 0, tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel secara

simultan dari variabel X1, X2, dan X3 terhadap Y.

H1 : ρi ≠ 0, terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan variabel

X1, X2, X3 terhadap Y.

2. Menentukan nilai signifikasi yaitu 5% atau 0,05 dan derajat bebas db1 = k,

dan db2 = n-k-1, untuk mengetahui daerah F/0123 penolakan.

3. Selanjutnya menghitung nilai F45/678 sebagai berikut:

1 1 ( 1) (1 ) k yxi yxi i k yxi yxi i n k p r F k p r = = − − = −

Keterangan:

(34)

n = Jumlah anggota sampel

4. Hasil F hitung dibandingkan dengan F tabel dengan kriteria :

• Tolak Ho jika F45/678 > F/0123 pada alpha 5% untuk koefisien positif. • Tolak Ho jika F45/678 < F/0123 pada alpha 5% untuk koefisien negatif. 3.5.3.2 Pengujian Hipotesis secara Parsial

Untuk menguji apakah ada hubungan signifikan dari variabel-variabel bebas (X) berdampak terhadap variabel terikat (Y), selanjutnya pengujian dilakukan dengan menggunakan uji statistik t dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menentukan hipotesis parsial variabel bebas (Xi) yaitu kualitas layanan

sistem informasi (X1), Kualitas sistem informasi (X2) dan kualitas informasi

(X3) berpengaruh terhadap kepuasan pengguna akhir sistem informasi (Y).

Hipotesis statistik dari penelitian ini adalah :

Ho : ρi = 0, Tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel (Xi)

terhadap variabel (Y).

Ha : ρi ≠ 0, Terdapat pengaruh yang signifikan (Xi) terhadap variabel

(Y).

2. Menentukan tingkat signifikan. Ditentukan dengan 5% dari derajat bebas (dk) = n–k–l, untuk menentukan t/0123 sebagai batas daerah penerimaan dan penolakan hipotesis. Tingkat signifikan yang digunakan adalah 0,05 atau 5% karena dinilai cukup untuk mewakili hubungan variabel-variabel yang diteliti dan merupakan tingkat signifikasi yang umum digunakan dalam penelitian.

(35)

3. Menghitung nilai t45/678 dengan mengetahui apakah variabel koefisien korelasi signifikan atau tidak dengan rumus :

2 (1 ) 1 yxi i ii t R CR n k ρ = − − − i = 1,2 dan 3 Keterangan :

R = koefisien determinasi yang menyatakan determinasi total dari semua variabel bebas terhadap variabel terikat

CRii = unsur pada baris ke i dan kolom ke i pada invers matriks korelasi n = Jumlah sampel

t = t hitung

4. Kemudian dibuat kesimpulan mengenai diterima tidaknya hipotesis setelah dibandingkan antara t45/678 dan t/0123 dengan kriteria:

• Tolak Ho jika t45/678 > t/0123 pada alpha 5% untuk koefisien positif. • Tolak Ho jika t45/678 < t/0123 pada alpha 5% untuk koefisien negatif. 3.5.3.3 Menggambar Daerah Penerimaan dan Penolakan

Gambar 3.2

Daerah Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Terima Ho

Ho ditolak

Ho ditolak

(36)

3.5.3.4 Penarikan Kesimpulan

Jika t45/678 jatuh di daerah penolakan, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya koefisian regresi signifikan. Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas layanan sistem informasi, kualitas sistem informasi dan kualitas informasi terhadap kepuasan pengguna akhir sistem informasi.

Tingkat signifikannya yaitu 5% (α=0,05), artinya jika hipotesis nol ditolak dengan taraf kepercayaan 95%, maka kemungkinan bahwa hasil dari penarikan kesimpulan mempunyai kebenaran 95% dan hal ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan antara dua variabel tersebut.

3.6 Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini adalah alat yang dipakai untuk menghimpun data. Data yang dikumpulkan itu terdiri dari data primer dan data sekunder. Salah satu cara mengumpulkan data primer adalah dengan menggunakan koesioner yang merupakan alat komunikasi peneliti dengan responden.

Alat ukur yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah skala likert. Menurut Sugiyono (2009:86)

“Skala likert digunakan sebagai teknik penskalaan banyak digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosialnya.”

Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk

(37)

menyusun item-item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan. Dalam skala likert, jawaban yang dikumpulkan dapat berupa pernyataan positif ataupun pertanyaan negatif. Untuk setiap item pertanyaan akan diberi bobot skor 1 (satu)-5 (lima). Skor dari alternatif jawaban kuisioner tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 3.5

Bobot Penilaian Skala Likert

Jawaban Skor

Sangat Tidak Setuju STS

Tidak Setuju TS

Netral N

Setuju S

Sangat Setuju SS

Sumber : Sugiyono (2009:133)

Jawaban responden tersebut akan dikategorikan ke dalam beberapa kriteria menurut alternatif jawaban. Kriteria variabel tersebut akan ditentukan dengan rumus sebagai berikut :

Skor = frekuensi x bobot (Sugiyono 2009:58)

Kategori jawaban responden dengan jumlah 35 responden, maka perhitungannya sebagai berikut :

Nilai indeks maksimum = 5 x 35 = 175 Nilai indeks minimum = 1 x 35 = 35

Jarak Interval = (nilai maksimum - nilai minimum) : 5 = (175 – 35) : 5

Gambar

Diagram  jalur  ini  mencerminkan  hipotesis  konseptual  yang  diajukan  sehingga  tampak  dengan  jelas  mana  sebagai  variabel  bebas  dan  mana  yang  sebagai  variabel  terikat

Referensi

Dokumen terkait

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis

Adapun operasionalisasi variabel yang digunakan untuk menentukan jenis, indikator dan skala dari variabel-variabel yang terkait di dalam penelitian, sehingga dapat dilakukan

Operasional variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator serta skala dari variable-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat

Operasionalisasi variabel diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat