• Tidak ada hasil yang ditemukan

StasiunKarantinaPertanian KelasICilacap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "StasiunKarantinaPertanian KelasICilacap"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

S

t

a

s

i

u

n

Ka

r

a

n

t

i

n

a

Pe

r

t

a

n

i

a

n

Ke

l

a

s

I

Ci

l

a

c

a

p

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan taufik dan hidayahNya kita masih diberi kesempatan untuk berkarya menyelesaikan Laporan Tahunan Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I CilacapTahun Anggaran 2017.

Laporan ini menyajikan data hasil kegiatan selama satu tahun anggaran dengan segala keberhasilan dan kekurangannya, sehingga diharapkan dapat memberikan gambaran hasil kerja yang telah dicapai dan dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan langkah-langkah strategis untuk penyempurnaan kegiatan operasional maupun non operasional baik karantina hewan maupun karantina tumbuhkan, serta untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat pengguna jasa di masa yang akan datang.

Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan kepada seluruh jajaran pegawai SKP Kelas I Cilacap atas partisipan, kerja kerasnya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi unit kerja SKP Kelas I Cilacap. Demikian juga kepada masyarakat pengguna jasa karantina dan masyarakat lainnya yang peduli terhadap perkarantinaan, yang telah memberikan andil yang sangat besar dalam rangka mewujudkan karantina hewan dan tumbuhan yang profesional, modern dan terpercaya. Harapan kami semoga laporan tahunan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Cilacap, 12 Januari 2017 Kepala,

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

DAFTAR TABEL v

DAFTAR GAMBAR vii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan 1

C. Keadaan Umum StasiunKarantinaPertanian Kelas I Cilacap 1. Keadaan Umum

2. Wilayah Kerja

2 2 7

BAB II KEGIATAN UMUM 10

A. Perencanaan dan Keuangan 1. Realisasi Anggaran

10 10 B. Kepegawaian dan Tata Usaha

1. Kondisi Umum Pegawai a. KenaikanPangkat b. KenaikanGajiBerkala c. MutasiJabatan

d. Pegawai yang MelakukanCuti e. CPNS 2017

2. Ketatausahaan

a. Kondisi Kerasipan

b. Kondisi Perpustakaan atau Pengadaan Buku c. BarangMilik Negara (BMN) 15 15 18 19 19 20 20 20 21 18 23

BAB III KEGIATAN OPERASIONAL 24

A. Karantina Hewan

1. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHK Impor

2. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHK Ekspor

3. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHK yang diantarareakan

4. Kegiatan 8 P

5. Penggunaan Formulir Karantina Hewan 24 24 25 25 26 32

(4)

6. Kegiatan Pemantauan Daerah Sebar HPHK 7. Kegiatan Koleksi HPHK

32 37 B. Karantina Tumbuhan

1. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa OPTK keDalam Wilayah Negara Republik Indonesia

2. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa OPTK keLuar Wilayah Negara Republik Indonesia

3. Tindakan Karantina Tumbuhan terhadap Media Pembawa OPTK Antar-area

4. Kegiatan 8 P

5. Pemantauan Daerah Sebar OPT/OPTK di Wilayah Kerja Stasiun Karantina PertanianKelas I Cilacap

6. Koleksi OPT/OPTK dan Media Pembawa 7. Penyidikan Kasus Tindak Karantina

8. Penggunaan Formulir 38 38 44 51 53 55 56 59 59

BAB IV KEGIATAN LAIN-LAIN 63

A. Koordinasi dan Kerjasama

1. Koordinasi / Kerjasama lingkup Badan Karantina Pertanian 2. Koordinasi / Kerjasama dengan instansi terkait di daerah

64 63 64 B. Kegiatan Public Awareness

1. Standar Pelayanan Publik 2. Wilayah Bebas Korupsi 3. Sistem Manajemen Mutu

4. Indeks Penerapan Nilai Budaya Kerja (IPNBK) 5. Indeks Kepuasan Masyarakat

6. Refleksi Budaya Kerja

67 67 69 70 70 72 77 C. Apresiasi/Sosialisasi/workshop/Seminar

1. Sosialisasi Tupoksi Karantina Pertanian 2. Seminar Lokal Pemantauan OPTK 3. Kunjungan Kerja Mahasiswa Unsoed D. Lain-lain

1. Skim Audit Badan Karantina Pertanian 2. Penilaian Instalasi Karantina

a. Karantina Hewan b. Karantina Tumbuhan

3. Pembinaan Mental Pegawai SKP Kelas I Cilacap

80 80 82 83 84 84 91 91 93 95

(5)

A. Permasalahan 1. Kegiatan umum 2. Kegiatan Operasional 97 97 97 B. Solusi Umum 101

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN 102

A. Kesimpulan 102

B. Saran 103

(6)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perbandingan Anggaran Belanja antara DIPA TA 2013 sd 2017

Tabel 2. Realisasi Anggaran Belanja Pegawai tahun 2013 s/d 2017 Stasiun

Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

11 Tabel 3. Realisasi Anggaran Belanja Barang tahun 2013 s/d 2017 Stasiun

Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

12 Tabel 4. Realisasi Anggaran Belanja Modal tahun 2013 s/d 2017 Stasiun

Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

13 Tabel 5. DIPATahun Anggaran 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas

I Cilacap

14 Tabel 6. Jumlah pegawai menurut jenis jabatan.

15 Tabel 7. Jumlah pegawai merurut klasifikasi pendidikan.

16 Tabel 8. Jumlah Pegawai Menurut Pangkat dan Golongan/Ruang

17 Tabel 9. Pegawai Naik Pangkat TA. 2017

18 Tabel 10. Pegawai Naik Gaji Berkala TA. 2017

19 Tabel 11. Rekapitulasi Surat Keluar/Masuk Tahun Anggaran 2017

21 Tabel 12. Kegiatan Importasi Sapi Bakalan dan sapi Indukan dari Negara Asal

Australia ke SKP Kelas I Cilacap tahun 2013 S/D 2017

25 Tabel 13. Penggunaan & Persediaan formulir karantina Hewan tahun 2017

32 Tabel 14. Penggunaan & Persediaan formulir karantina Hewan tahun 2017

32 Tabel 15. Kegiatan Pemasukan MP-PSAT ke wilayah SKP Kelas I Cilacap Tahun

2013 sd 2017

39 Tabel16. Kegiatan Pemasukan Biji Gandum ke wilayah SKP Kelas I Cilacap

Tahun 2013– 2017 berdasarkan Negara Asal

40 Tabel17. Kegiatan Pemasukan Kedelai ke wilayah SKP Kelas I Cilacap Tahun

2013– 2017 berdasarkan Negara Asal

40 Tabel 18.Frekwensi Kegiatan Impor Gandum tahun 2013 – 2017

(7)

Tabel 19.Frekwensi Kegiatan Impor Kedelai tahun 2013 – 2017

41 Tabel 20. Rangkuman Hasil Pengujian Kesehatan MP PSAT (OPT/K) Media

Pembawa Gandum dan Kedelai sebagai berikut

43 Tabel 21. Frekuensi dan Jumlah komoditas pada Pengeluaran MP dari wilayah

negara RI di SKP Kelas I Cilacap Tahun 2017 Golongan Bibit/Benih

46 Tabel 22. Frekuensi dan Jumlah komoditas pada Pengeluaran MP dari wilayah

negara RI di SKP Kelas I Cilacap Tahun 2017 berupa hasil tanaman mati

46 Tabel 23. Frekuensi dan Jumlah komoditas pada Pengeluaran MP Antar Area

52 Tabel 24. Kegiatan Pemeriksaan Pada Tahun 2017

53 Tabel 25. Frekuensi lalu lintas kegiatan karantina

54 Tabel 26. Temuan OPTK tahun 2017

55 Tabel 27. Penggunaan formulir karantina tumbuhan tahun 2017

59 Tabel 28. Penerimaan PNBP 2017

60 Tabel 29.Realisasi PNBP Tahun 2011 hingga Tahun 2017 pada SKP Kelas I

Cilacap.

62 Tabel 30.Penilaian IPNBK

71 Tabel 31. Penilaian IKM

73 Tabel 32.Responden Tahun 2017

74 Tabel 33. Responden Pelayanan 2016 s/d 2017

77

Tabel 34.Dosis penggunaan fumigasi

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Struktur Organisasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap 2 Gambar 2 : Peta Wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap 8

Gambar 3 : Peta Wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap 9

Gambar 4. Peta Status dan Situasi HPHK Untuk Hewan Besar di Daerah

Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013 35

Gambar 5. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan Ternak Kecil dan Kesayangan di Daerah Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013 35

Gambar 6. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan Ternak Unggas Daerah

Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013 36

Gambar 7. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan dari Data Gejala Klinis, Uji

Laboratorium Tahun 2015 36

Gambar 8. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan dari Data Gejala Klinis, Uji

Laboratorium Tahun 2017 37

Gambar 9. Pengambilan sampel di palka kapal dan identifikasi di laboratorium 42

Gambar 10..Kegiatan Pemeriksaan Barecore (Produk kayu olahan) dan Gula

Jawa di Gudang Pemilik 50

Gambar 11. salah satu komoditas domestik keluar 53

Gambar 12 : Peta Temuan OPTK Kabupaten Banjarnegara kegiatan

Pemantauan OPTK Tahun 2017 57

Gambar 13 : Peta Temuan OPTK Kabupaten Kebumen kegiatan Pemantauan

OPTK Tahun 2017 57

Gambar 14 : Peta Temuan OPTK Kabupaten Purbalingga kegiatan Pemantauan

OPTK Tahun 2017 58

Gambar 15 : Peta Temuan OPTK Kabupaten Purworejo kegiatan Pemantauan

OPTK Tahun 2017 58

Gambar 16. Sesi dialog bersama kejaksaan Negeri Cilacap 64

Gambar 17. Kegiatan Coffie Morning dalam rangka kerjasama lingkup

Kepabeanan 66

Gambar 18. Peserta Sosialisai Permentan 01/Permenten/KR.020/ 1/2017 68

Gambar 19. Sesi diskusi Sosialisasi 01/Permenten/KR.020/ 1/2017 68

Gambar 20. Penghargaan Terbaik dari KPPN Cilacap 69

Gambar 21. Diagram capaian IPNBK 72

(9)

Gambar 23. Koordinasi Internal SKP Kelas I Cilacap 79

Gambar 24. Pegawai SKP Kelas I Cilacap beserta narasumber 79

Gambar 25. Family Gathering SKP Kelas I Cilacap 80

Gambar 26. Kegiatan Family Gathering SKP Kelas I Cilacap 80

Gambar 27. Sesi diskusi Kuliah Lapang mahasiswa Unsoed Purwokerto 81

Gambar 28. Sesi diskusi operasional perkarantinaan hewan dalam Kuliah

Lapang mahasiswa Unsud Purwokerto 82

Gambar 29. Kegiatan Seminal Nasional Hasil Pemantauan OPT OPTK 83

Gambar 30. Sesi Fotobersama mahasiswa dan pegawai SKP 83

Gambar 31. Sesi Kunjungan mahasiswa Unsoed 84

Gambar 32. IKH SKP Cilacap Jl. Laut Jawa Pelabuhan Tanjung Intan 92

Gambar 33. Timbangan Individu Gangway dan kandang Isolasi 92

Gambar 34.Instalasi Karantina Tumbuhan 94

Gambar 35.Pemeriksaan Tempat lain Karantina Tumbuhan 94

Gambar 36. Pembinaan Mental Pegawai SKP Kelas I Cilacap 95

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Laporan Tahunan 2017 menggambarkan laporan kegiatan hasil pelaksanaan dari tugas pokok, dan fungsi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap seperti yang diamanatkan dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tanggal 3 April 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian.

Penyusunan Laporan Tahunan ini berdasarkan Pedoman Laporan Tahunan Balai Besar/Balai/Stasiun Karantina Pertanian. Informasi yang disajikan di dalamnya disusun sesuai ketentuan yang berlaku.

Laporan Tahunan ini menggambarkan keseluruhan kegiatan hasil kinerja yang telah dilaksanakan oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap sepanjang tahun 2017, sehingga dapat dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan tugas pokok dan fungsi untuk menentukan kebijakan di tahun mendatang.

B. Tujuan

Tujuan penyusunan Laporan Tahunan 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah :

1. Bahan informasi hasilpelaksanaan kegiatan tugas pokok, dan fungsi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap selama kurun waktu tahun 2017

2. Bahan informasi terhadap tingkat pengukuran capaian kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap sampai akhir tahun 2017

3. Sebagai bahan evaluasi dan monitoring untuk kebijakan penyelenggaraan perkarantinaan di tahun-tahun mendatang.

(11)

C. Keadaan Umum Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap 1. Keadaan Umum

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap merupakan unit pelaksana teknis di bidang karantina hewan dan tumbuhan serta pengawasan keamanan pangan hayati hewani dan nabati yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 61/Permentan/OT.140/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian, struktur organisasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah sebagaiberikut :

STRUKTUR ORGANISASI INTERNAL STASIUN KARANTINA PERTANIAN KELASI I CILACAP

TAHUN 2017

Gambar 1 : Struktur Organisasi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap dipimpin oleh seorang Kepala Stasiun berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia

(12)

Nomor 43/Permentan/OT.010/8/2015 tentang Organisasi dan Tata Kementerian Pertanian.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah organisasi dengan eselon IV a, dengan demikian Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah pejabat eselon IV a yang membawahi KepalaUrusan Tata Usaha (eselon Va), Kepala Sub Seksi Pelayanan Operasional (eselon Va), serta kelompok Jabatan Fungsional, sebagaimana gambar 1 di atas.

Dasar Hukum penyelenggaraan Karantina Pertanian adalah UU No.16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, PP No. 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan dan PP No.14 Tahun 2002 tentang Karantina Tumbuhan dan sejumlah peraturan perundang-undangan turunannya, serta peraturan-peraturan daerah yang terkait. Berdasarkan Permentan No. 22 Tahun 2008, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap melaksanakan kegiatan operasional perkarantinaan hewan dan tumbuhan, serta pengawasan keamanan hayatihewani dan nabati, dan dalam melaksanakan tugas dimaksud, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap menyelenggarakan fungsi :

1) Penyusunan rencana, evaluasi dan laporan;

2) Pelaksanaan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan dan pembebasan media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK);

3) Pelaksanaan pemantauan daerah sebar HPHK dan OPTK; 4) Pelaksanaan pembuatan koleksi HPHK dan OPTK;

5) Pelaksanaan pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati;

6) Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional karantina hewan dan tumbuhan;

7) Pelaksanaan pemberian pelayanan operasional pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati;

8) Pelaksanaan sistem informasi, dokumentasi dan sarana teknik karantina hewan dan tumbuhan;

(13)

9) Pelaksanaan pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan, bidang karantina tumbuhan dan keamanan hayati hewani dan nabati;

10) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga. Tugas Tambahan

Selain tugas pokok yang harus dilakukan, SKP Kelas I Cilacap juga mempunyai tugas tambahan, yaitu :

1. Auditor Instalasi Karantina Hewan (IKH) berdasarkan Surat Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian nomor : 349/Kpts/PD.670.210/L/12/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Instalasi Karantina Hewan untuk Ruminansia Besar. Hal ini dimaksudkan untuk menjadi acuan secara nasional akan pembangunan/penetapan Instalasi Karantina Hewan baik milik negara ataupun pihak ketiga sebagai tempat pelaksanaan tindak karantina hewan.

2. Penilaian untuk Penetapan Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 73/permentan/OT.140/12/2012 tentang Persyaratan dan Tata Cara Penetapan Instalasi Karantina Tumbuhan Milik Peroranganatau Badan Hukum, serta tempat lain berdasarkan permentan no 38 tahun 2014. 3. Koordinator Skim Audit Barantan sesuai Keputusan Kepala Barantan

No. 20/Kpts/PD.540.210/L.2/04 dalam pelaksanaan kegiatan skim audit Fumigasi dan Ispm.

Sedangkan tugas masing-masing pejabat struktural dibawah Kepala Stasiun adalah sebagai berikut :

a. Kepala Urusan Tata Usaha (Kaur TU) mempunyai tugas melakukan : a.1. penyiapan bahan penyusunan rencanakerja,

a.2. sistimevaluasi dan pelaporan,

a.3. menjalankanurusan ketata usahaan dan rumah tangga.

b. Sub Seksi Pelayanan dan Operasional (Kasiyan-op) melakukan tugas: b.1. pemberian pelayanan operasional karantina hewan dan karantina

(14)

b.2. pengawasan keamanan hayati hewani, b.3. dukungan sarana teknikperkarantinaan,

b.4. pengelolaan sistem informasi dan dokumentasi,

b.5. melakukan pengawasan dan penindakan pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang karantina hewan dan tumbuhan, serta keamanan hayati hewani dan nabati.

Kelompok Jabatan Fungsional Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner mempunyai tugas :

a. Melakukan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, dan pembebasan media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK);

b. Melakukan pemantauan daerah sebar HPHK; c. Melakukan pembuatan koleksi HPHK;

d. Melakukan pengawasan keamanan hayati hewani;

e. Melakukan kegiatan fungsional lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kelompok Jabatan Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan mempunyai tugas :

a. Melakukan pemeriksaan, pengasingan, pengamatan, perlakuan, penahanan, penolakan, pemusnahan, dan pembebasan media pembawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK);

b. Melakukan pemantauan daerah sebar OPTK; c. Melakukan pembuatan koleksi OPTK;

d. Melakukan pengawasan keamanan hayati nabati;

e. Melakukan kegiatan fungsional lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Masing- masing kelompok jabatan fungsional dikoordinasikan oleh seorang tenaga fungsional yang kompeten dengan ketetapan oleh Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacapdengansuratkeputusan.

(15)

Koordinator Jabatan Fungsional KH dan POPT memiliki tugas dan fungsi selain tugas pokok sesuai jenjangnya antara lain :

 Bimbingan dan pengaturan kegiatan operasional oleh masing-masing jenjang jabatannya.

 Penyiapan bahan penyusunan rencana kerja,sistim evaluasi dan pelaporan.

 Penyelarasan dukungan sarana teknik dan metode operasiona lperkarantinaan.

Sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh SKP Kelas I Cilacap sampai saat ini berupa :

a. Gedung perkantoran utama yang cukup representatif pelaksanaan kegiatan pelayanan operasional bertempat di Komplek Bandar Udara Tunggul Wulung Cilacap

b. Gedung Instalasi Karantina Hewan (IKH) dan Gudang yang berada di Jl. Laut Jawa Pelabuhan Tanjung Intan – Cilacap;

c. Gedung tempat peristirahatan para supir truk yang ada di Instalasi Karantina Hewan.

d. Rumah Dinas dan Sarana Gudang di Jl. Swadaya no. 45 – Cilacap; e. Mess Pegawai dan Sarana Gudang di Jl. Kuntul no. 7 Tegalreja -

Cilacap;

Khusus untuk Gedung perkantoran utama, kini memiliki Gedung Pelayanan terhadap pengguna jasa yang cukup representatif, untuk meningkatkan kinerja dalam melaksanakan tugas. Ditambah dengan gedung fungsional untuk mendukung setiap kegiatan dari setiap jajaran fungsional baik fungsional karantina hewan maupun fungsional karantina tumbuhan dan Ruang Rapat.

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap hingga saat ini (per 31 Desember 2017) memiliki 37 pegawai/staff yang terdiri dari 37 orang PNS.

(16)

2. Wilayah Kerja

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 94/Permentan/OT.140/12/2011 tentang tempat-tempat Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Hama dan Penyakit Hewan Karantina dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah sbb:

A. TEMPAT-TEMPAT PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT HEWAN KARANTINA DAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA KE DALAM WILAYAH NEGARA RI (IMPOR)

1. Pelabuhan Laut atau Pelabuhan Sungai Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap

B. TEMPAT-TEMPAT PENGELUARAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT HEWAN KARANTINA DAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA DARI DALAM WILAYAH NEGARA RI (EKSPOR)

1. Pelabuhan Laut dan Pelabuhan Sungai Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap

C. TEMPAT-TEMPAT PEMASUKAN DAN PENGELUARAN MEDIA

PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT HEWAN KARANTINA DAN ORGANISME PENGGANGGU TUMBUHAN KARANTINA DI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA (ANTAR AREA)

1. Bandar Udara

(17)

2. Pelabuhan Laut atau Pelabuhan Sungai Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap

3. Kantor Pos

Kantor Pos Purwokerto

Untuk kegiatan karantina hewan, ada beberapa kegiatan lintas provinsi dikarenakan IKH (Instalasi Karantina Hewan) terletak di Provinsi Jawa Barat, yaitu di Kecamatan Malangbong, Kab. Garut yaitu di Jl. Raya Malangbong Wado KM 5 dan KM 6. Kedua IKHS milik swasta yang terletak di Provinsi Jawa Barat tersebut berada di bawah pengawasan SKP Kelas I Cilacap.

Wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap dapat dilihat pada peta berikut ini :

(18)

Gambar 3 : Peta Wilayah Kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Bandara Tunggul Wulung

(19)

BAB II KEGIATAN UMUM

Salah satu fungsi dari Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap sesuai dengan Permentan Nomor : 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelayanan Teknis Karantina Pertanian adalah melakukan penyiapan bahan penyusunan rencana, evaluasi dan pelaporan serta urusan tata usaha dan rumah tangga yang menjadi tanggung jawab urusan tata usaha.

A. Perencanaan dan Keuangan

1. Realisasi Anggaran

Pelaksanaan anggaran instansi pemerintah pada tahun 2017 tetap mengacu pada sistem anggaran yang tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Stasiun Karantina Pertanian (SKP) Kelas I Cilacap.

Anggaran Belanja Negara yang digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap sesuai dengan DIPA No. SP DIPA018-12.2.237369/2017 tanggal 30 Nopember 2016 sebesar Rp. 6.399.038.000,00 terdiri dari Rupiah Murni Rp. 6.398.538.000,00 dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 500.000,00.

Tabel 1:Perbandingan Anggaran Belanja antara DIPA TA 2013 sd 2017 (dalam ribuan rupiah)

No. Uraian Belanja

Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Jumlah 1. DIPA 2013 2.247.154.000 3.294.174.000 1.827.450.000 7.368.778.000 2. DIPA 2014 2.328.764.000 3.105.047.000 235.460.000 5.669.271.000 3 DIPA 2015 2.484.061.000 3.116.782.000 3.147.080.000 8.747.923.000 4 DIPA 2016 2.397.704.000 3.008.680.000 1.907.500.000 7.313.884.000 5 DIPA 2017 2.301.632.000 2.641.966.000 1.454.440.000 6.398.038.000

(20)

Grafik I. Pagu Anggaran SKP Kelas I Cilacap TA 2013 s/d 2017

Berdasarkan tabel 1 di atas, maka anggaran tahun 2017 mengalami penurunan Rp 915.846.000,00 atau sebesar 83,60% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 7.313.884.000 menjadi Rp 6.398.038.000

Realisasi anggaran belanja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap tahun 2017, sebesar Rp.6.301.611.117,00 (98,49%) dengan realisasi anggaran masing-masing belanja pegawai, belanja barang maupun belanja modal kurang dari pagu yang tersedia.

Anggaran tersebut direalisasikan melalui 3 jenis belanja yaitu belanja pegawai, belanja barang dan belanja modal. Besar realisasi anggaran per jenis belanja dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2. Realisasi Anggaran Belanja Pegawai tahun 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

0 1,000,000,000 2,000,000,000 3,000,000,000 4,000,000,000 5,000,000,000 6,000,000,000 7,000,000,000 8,000,000,000 9,000,000,000 DIPA 2013 DIPA 2014 DIPA 2015 DIPA 2016 DIPA 2017 Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal Jumlah

No Belanja Pegawai Pagu Realisasi % Saldo

1. T.A 2013 2.247.154.000 2.173.121.230 96,71 74.032.770

2. T.A 2014 2.328.764.000 2.297.858.655 98,67 30.905.345

(21)

G

Grafik 2. Realisasi Anggaran Belanja Pegawai tahun 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Tabel 3. Realisasi Anggaran Belanja Barang tahun 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

G r 0 2,000,000,000 4,000,000,000 6,000,000,000 8,000,000,000 10,000,000,000 12,000,000,000

T.A 2013 T.A 2014 T.A 2015 T.A 2016 TA 2017 Jumlah

Pagu Realisasi % Saldo 4. T.A 2016 2.397.704.000 2.393.864.468 99,84 3.838.532 5. TA 2017 2.301.632.000 2.265.191.128 98,42 36.440.872 Jumlah 11.759.315.000 11.611.771.652 98,74 111.101.476

No Belanja Barang Pagu Realisasi % Saldo

1. T.A 2013 3.294.174.000 2.845.011.520 86,36 449.162.480 2. T.A 2014 3.105.047.000 3.016.228.801 97,14 88.818.199 3. T.A 2015 3.116.782.000 3.022.943.359 96,98 93.838.641 4. T.A 2016 3.008.680.000 2.878.926.778 95,69 129.752.222 5. TA 2017 2.641.966.000 2.594.747.591 98,21 47.218409 Jumlah 7.368.778.000 6.717.202.750 91,16 651.575.250

(22)

Grafik 3. Realisasi Anggaran Belanja Barang tahun 2013 s/d 2017Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Tabel 4. Realisasi Anggaran Belanja Modal tahun 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

G G r Pagu % 0 1,000,000,000 2,000,000,000 3,000,000,000 4,000,000,000 5,000,000,000 6,000,000,000 7,000,000,000 8,000,000,000 Pagu Realisasi % Saldo

No Belanja Modal Pagu Realisasi % Saldo

1. T.A 2013 1.827.450.000 1.699.070.000 92,97 128.380.000 2. T.A 2014 235.460.000 229.431.120 97,44 6.028.880 3. T.A 2015 3.147.080.000 3.131.498.700 99,50 15.581.300 4. T.A 2016 1.907.500.000 1.900.791.645 99,65 6.708.355 5. T.A 2017 1.454.440.000 1.441.672.398 99,12 12.767.602 Jumlah 8.571.930.000 8.402.463.863 98,02 169.466.137

(23)

Grafik 4. Realisasi Anggaran Belanja Modal tahun 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Tabel 5. DIPATahun Anggaran 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Grafik 5. DIPA TA 2013 s/d 2017 Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap

Pagu % 0 1,000,000,000 2,000,000,000 3,000,000,000 4,000,000,000 5,000,000,000 6,000,000,000 7,000,000,000 8,000,000,000 9,000,000,000 Pagu Realisasi % Saldo T.A 2013 T.A 2014 T.A 2015 T.A 2016 T.A 2017

No T.A 2013 T.A 2014 T.A 2015 T.A 2016 T.A 2017

(24)

B. Kepegawaian dan Tata Usaha

1. Kondisi Umum Pegawai

Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) SKP Kelas I Cilacap per31 Desember 2017 berjumlah 37 (tiga puluh tujuh) orang PNS. Jenis jabatan,latar belakang pendidikan dan jenjang kepangkatan dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini.

Tabel 6. Jumlah pegawai menurut jenis jabatan.

No Jenis Jabatan Jumlah

1 Kepala SKP Kelas I Cilacap 1

2 Kepala Urusan Tata Usaha 1

3 Kepala Sub Seksi Pelayanan Operasional 1

4 Medik Veteriner Madya 2

5 Medik Veteriner Muda 1

6 Medik Veteriner Pertama 2

7 Paramedik Veteriner Penyelia 3

8 Paramedik Veteriner Pelaksana Lanjutan 3

9 Paramedik Veteriner Pelaksana -

10 Paramedik Veteriner Pemula 2

11 POPT Ahli Madya -

12 POPT Ahli Muda 1

13 POPT Ahli Pertama 2

14 POPT Terampil Penyelia 2

15 POPT Terampil Pelaksana Lanjutan -

16 POPT Terampil Pelaksana -

17 Calon Medik Veteriner -

(25)

18 Calon POPT Ahli -

19 Calon POPT Terampil -

20 Tenaga Administrasi Umum *) 16

Total Jumlah : 37

Keterangan :

*) Pelaksana pada Subbag/Seksi.

Tabel 7. Jumlah pegawai merurut klasifikasi pendidikan.

No. Pendidikan Program Pend./ Jurusan Jumlah

1 SD - 1 2 SLTP - 3 SLTA/SPP/SPMA/SNAKMA - IPA - IPS - SMT Pertanian - SPMA Peternakan - SMEA Tata Niaga - SPP Pertanian - STM MESIN 4 6 - 2 5 2 4 DIPLOMA (D3) - Peternakan - Kesehatan Hewan 1 4

5 Sarjana (S1) - Ekonomi Manajemen

- Pertanian - Biologi - Peternakan 1 4 1 6 Pasca Sarjana (S2) - Teknologi Hasil Pertanian

- Kedokteran Hewan

2 5

(26)

Tabel 8. Jumlah Pegawai Menurut Pangkat dan Golongan/Ruang.

No. Jenis Pangkat Gol. Ruang Jumlah

1 Juru Muda I/a -

2 Juru Muda Tk. I I/b -

3 Juru I/c 1

4 Juru Tk. I I/d -

5 Pengatur Muda II/a 3

6 Pengatur Muda Tk.I II/b 3

7 Pengatur II/c 3

8 Pengatur Tk. I II/d 3

9 Penata Muda III/a 3

10 Penata Muda Tk. I III/b 8

11 Penata III/c 6

12 Penata Tk. I III/d 5

13 Pembina IV/a 2

14 Pembina Tk. I IV/b -

15 Pembina Utama Muda IV/c -

16 Pembina Utama Madya IV/d -

17 Pembina Utama IV/e -

(27)

Secara rinci dan detail uraian kepegawaian dari masing-masing pegawai yang meliputi tempat tanggal lahir, pangkat terakhir dan lain-lain dapat dilihat pada Lampiran 1.

Selain jumlah pegawai tersebut diatas, SKP Kelas I Cilacap masih memiliki tenaga harian lepas (THL) sebanyak 16 (enambelas) orang, dengan masa pengabdian dari 1 hingga 5 tahun. Data selengkapnya terdapat pada Lampiran 2.

Untuk kelancaran tugas dan fungsi SKP Kelas I Cilacap dalam Tahun Anggaran 2017 Sub Bagian Kepegawaian dan Tata Usaha telah melakukan tugas dan fungsi Kepegawaian dan Tata Usaha sebagai berikut :

a. Kenaikan Pangkat

Dalam Tahun Anggaran 2016 SKP Kelas I Cilacap telah mengusulkan 5(lima) orang yang memenuhi persyaratan untuk mendapat Kenaikan Pangkat regular dan fungsional untuk periode April dan Oktober 2017 dengan rincian sebagaimana Tabel berikut ini:

Tabel 9. Pegawai Naik Pangkat TA. 2017

No N a m a Sebelum

Kenaikan

Setelah

Kenaikan Jabatan Tmt

1 Triyanto II/a II/b

Paramedik Veteriner Pelaksana

01 April 2017

2 drh. Aan Setianto III/a III/b Fungsional

Umum 01 April 2017

3 Hardiyanto II/b II/c Bendahara

Pengeluaran

01 Oktober 2017

4 Arsanudin III/c III/d POPT Terampil

Pelaksana

01 Oktober 2017

(28)

b. Kenaikan Gaji Berkala

Dalam Tahun Anggaran 2017 pegawai SKP Kelas I Cilacap yang mendapatkan Kenaikan Gaji Berkala (KGB) sebanyak19 (sembilan belas)orang pegawai, seperti terlihat pada Tabel berikut :

Tabel 10. Pegawai Naik Gaji Berkala TA. 2017

No N a m a Dalam Gol/Pkt Jabatan TMT

1 Triyanto II/b PV Pelaksana 01 Februari 2017

2 Drh Agus Wasana III/d MV Madya 01 Mei 2017

c. Mutasi Jabatan/ Alih tugas

Selama tahun 2017 dilingkungan SKP Kelas I Cilacap terdapat 3 kali mutasi alih tugas pegawai yaitu :

c.1. Mutasi Kesatu yang mendapatkan adalah pegawai bernama Hom Hom,SP,MM selaku fungsional umum (pelaksana kepegawaian) yang dimutasi alih tugas ke SKP Kelas I Bengkulu,

c.2. Mutasi Kedua yang mendapatkan adalah pegawai sebagaimana tersebut dibawah ini :

c.2.1. Jamaludin selaku fungsional POPT Terampil Penyelia yang dimutasi ke Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok,

c.2.2. Yoga Yahman Herdiyana selaku Calon POPT terampil yang dimutasi alih tugas ke SKP Kelas I Bandung.

c.3. Mutasi Ketiga yang mendapatkan pegawai mutasi alih tugas bernama drh. Puji Hartono,MP selaku Kepala Seksi Karantina Hewan yang dimutasi alih tugas menjadi kepala UPT dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Lampung ke SKP Kelas I Cilacap.

c.4. Mutasi keempat yang mendapatkan pegawai mutasi alih tugas bernama Indra Tri Wibowo,A.Md selaku Paramedik Veteriner Pelaksana Lanjutan yang dimutasi alih tugaskan dari Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok ke SKP Kelas I Cilacap.

(29)

c.5. Mutasi keempat yang mendapatkan pegawai mutasi alih tugas bernama Trimo Bekti selaku Paramedik Veteriner Pemula yang dimutasi alih tugaskan dari SKP Kelas II Ende ke SKP Kelas I Cilacap

d. Pegawai yang Melakukan Cuti tahun 2017 pada Stasiun

KarantinaPertanian Kelas I Cilacap

Pegawai yang melakukan cuti di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap sepanjang tahun 2017 sebanyak 31 pegawai, dengan rincian

Cuti tahunan = 28 orang

Cuti alasan penting = 2 orang

Cuti melahirkan = 2 orang

Cuti besar = 0 orang

Cuti dalam tanggungan Negara = 0 orang

e. CPNS 2016

SKP Kelas I Cilacap belum mendapatkan tambahan pegawaibaik dari CPNS maupun PNS selama kurun waktu 2017 sementara PNS yang alih tugas ada beberapa pegawai. Hal ini akan menambah berat beban kinerja buat pegawa maupun SKP Kelas I Cilacap, utamanya beban pekerjaan fungsional POPT Terampil dan Fungsional Umum.

2. Ketatausahaan

Kegiatan ketatausahaan di Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap suatu kegiatan yang cukup vital dalam menunjang semua kegiatan operasionalnya. Hal ini harus didukung dengan tenaga yang mampu menangani salah satunya adalah urusan surat menyurat. Kegiatan ini meliputi penanganan surat keluar masuk, penggandaan surat, pendistribusian, dan pengarsipan.Indikator keberhasilan unit kerja dalam sistim pelayanan public adalah kecepatan dan kemudahan dalam pencarian arsipsurat yang masih dibutuhkan.

(30)

Dengan kusus kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap menunjuk 2 (dua) pegawai untuk penatausahaan persuratan, yaitu untuk Pramu Publikasi dan Penatausahaan dokumen, agar kedepan kegiatan tersebut semakin baik. Khususnya surat menyurat dalam tahun 2017 telah memproses surat masuk maupun surat keluar dengan rekapitulasi sebagai mana tercantum pada tabel di bawah ini:

Tabel 11. Rekapitulasi Surat Keluar/Masuk Tahun Anggaran 2017

No. Jenis Surat Jumlah

1 Surat Masuk SKP Kelas I Cilacap 660 surat 2 Surat Keluar SKP Kelas I Cilacap 3.541 surat

a. Kondisi Kearsipan

Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap telah memfungsikan gudang untuk kegiatan kearsipan surat masuk dan surat keluar serta dokumen lainnya. Hal ini dimaksudkan agar capaian kinerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap lebih efisien dan mampu bersaing dengan upt lainnya. Tata kearsipan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu :

 Kategori arsip aktif

Arsip kategori ini merupakan persuratan yang setiap saat masih dibutuhkan baik dalam monitoring maupun untuk evaluasi. Pada umumnya kategori ini persuratan/kearsipan maksimal waktunya 1 (satu) tahun, dan tata kelola kearsipan ini berada dalam kantor.

 Kategori arsip tidak aktif

Arsip kategori ini merupakan persuratan yang kebutuhannya tidak setiap saat, dan lebih cenderung sebagai dokumen/bukti dari suatu kegiatan. Pada umumnya kategori persuratan/kearsipan ini di arsipkan dengan kurun waktu minimal 5 (lima) tahun, sebelum dialihkan kedalam kategori

(31)

purna (pemusnahan) dan tata kelola kearsipan ini berada dalam gudang kearsipan. Untuk penempatan arsip tersebut berada dan menyatu denngan rumah dinas Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap di JalanSwadaya, KelurahanTambakreja, KecamatanCilacap Selatan.

 Kategori arsip purna

Arsip kategori tersebut merupakan persuratan yang tidak dibutuhkan dan lebih cenderung sebagai dokumen/bukti yang bersifat purna (dimusnahkan) agar tidak menjadi beban operasional. Kegiatan pemusnahan arsip dan/atau dokumen lain yang akan dimusnahkan pada umumnya sudah lebih dari 5 (lima) tahun, dalam kategori arsip tidak aktif,dantata kelola kearsipan ini berada dalam gudang kearsipan dalam lingkungan instalasi karantina hewan, untuk persiapan pemusnahan menggunakan metode pembakaran di incenerator. Lokasi incenerator sebagai peralatan pemusnahan berada di jalan jawa komplek pelabuhan tanjung intan Cilacap yang masuk dalam wilayah KelurahanTambakreja, KecamatanCilacap Selatan.

b. Kondisi Perpustakaan atau Pengadaan Buku

Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Hingga saat ini koleksi bahan pustaka hanya didapat dari sumber-sumber berupa Peraturan Peraturan baru baik dari Kementerian pertanian maupun beberapa kementerian lain yang menunjang tugas pokok dan fungsi SKP, Laporan Tahunan, karya tulis ilmiah pegawai Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap, materi-materi pelatihan seperti TC, diklat, leaflet-leaflet seputar Karantina Hewan dan Karantina Tumbuhan dsb dalam bentuk soft dan hard copy.

(32)

c. Barang Milik Negara (BMN)

Mutasi transaksi terkait Barang Milik Negara adalah sebagai berikut :

c.1. Penambahan Asset Peralatan dan Mesin

Penambahan Asset terdiri dari belanja modal peralatan dan mesin senilai Rp. 580.259.548-. Terdiri dari :

c.1.1. Reklasifikasi masuk senilai Rp. 4.800.000,-

c.2. Penambahan Asset Gedung dan Bangunan

Belanja Modal pengembangan gedung dan bangunan senilai Rp. 23.779.100,-terdiri dari :

c.2.1. Pengembangan melalui KDP senilai Rp. 705.744.500,-

c.3.Pengurangan Asset

Penghentian asset (proses penghapusan) peralatan dan mesin dalam kurun waktu tahun 2017 senilai Rp. 302.849.232,-terdiri dari :

(33)

BAB III

KEGIATAN OPERASIONAL

Kegiatan operasional pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap merupakan kegiatan tindakan karantina terhadap media pembawa HPHK dan OPTK. Kegiatan tindakan karantina terhadap media pembawa HPHK seluruhnya merupakan kegiatan import selama tahun 2017. Sedangkan kegiatan tindakan karantina terhadap media pembawa OPTK adalah kegiatan antar area, import dan eksport.

Pelabuhan Laut Cilacap, yang lebih dikenal dengan nama Pelabuhan Laut Tanjung Intan, mempunyai potensi yang cukup besar untuk menjadi pelabuhan samudera atau pelabuhan internasional. Saat ini pelabuhan mempunyai fasilitas 23 buoy, dan kedalaman efektif antara 11 s.d. 12 meter mLWS dengan panjang dermaga 742,2 meter, yaitu meliputi:

Dermaga I s.d. dermaga III; Dermaga Multi Purpose; Dermaga IV;

Dermaga VI.

Dermaga Multi Purpose sepanjang 150 meter diperuntukkan untuk dermaga peti kemas dengan kapasitas ruang penumpukan seluas 30.055,5 m2.

BandarUdara Cilacap, dikenal dengan Bandar Udara Tunggul Wulung. Bandar Udara Tunggul Wulung sampai saat ini hanya melayani penerbangan antar area dengan rute Jakarta - Cilacap. Lalu lintas komoditas hewan maupun tumbuhan nihil sampai akhir tahun 2017.

A. Karantina Hewan

1. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHKImport

Kegiatan impor untuk karantina hewan didominasi pemasukan sapi impor oleh PT. Citra Agro Buana Semesta, dengan negara pemasok sapi jenis pedaging Australia dengan jumlah 13.927 ekor sapi potong pada tahun 2017. Untuk lebih jelas mengenai kegiatan importasi sapi dapat dilihat pada tabel.

(34)

Tabel 12. Kegiatan Importasi Sapi Bakalan dan sapi Indukan dari Negara Asal Australia ke SKP Kelas I Cilacap tahun 2013 S/D 2017

No Tahun Frekuensi Jumlah

(Ekor) Ket 1 2013 14 20.727 Sapi Bakalan 2 2014 14 27.197 Sapi Bakalan 3 2015 11 21.707 Sapi Bakalan 4 2016 8 18.892 Sapi Bakalan 5 2017 6 13.751 Sapi Bakalan 6 2017 1 176 Sapi indukan

Berdasarkan tabel di atas didapatkan bahwa tahun 2017 terjadi penurunan importasi sapi.Hal ini dikarenakan kuota sapi impor yang dikeluarkan oleh Menteri Perdagangan diperkecil untuk menstabilkan harga pasar dan mendorong petani peternak lebih bergairah dalam usahanya.

Tindakan karantina untuk semua sapi bakalan impor dilakukan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) milik SKP Kelas I Cilacap yang beralamat di Jalan laut Jawa Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap dan Instalasi Karantina Hewan (IKH) milik swasta yaitu PT. Citra Agro Buana Semesta yang beralamat di Jl. Raya Malangbong KM 5 dan KM 6 Kabupaten Garut Jawa Barat.

2. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHK

Ekspor

Selama tahun 2017, komoditi wajib periksa karantina hewan pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap adalah nihil

3. Tindakan Karantina Hewan terhadap Media Pembawa HPHK

(35)

a. Kegiatan Domestik Masuk

Kegiatan domestik masuk pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap tahun 2017 terhadap komoditi wajib periksa karantina hewan adalah nihil.

b. Kegiatan Domestik Keluar

Selama tahun 2017, pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap komoditi wajib periksa karantina hewan untuk domestik keluar adalah nihil.

4. Kegiatan 8P

Pelaksanaan tindakan karantina hewan pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap meliputi 8P yang terdiri dari pemeriksaan, pengasingan, pengamatan,perlakuan, penahanan,penolakan, pemusnahan dan pembebasan.

Persiapan kandang dilakukan sebelum digunakan yaitu didesinfektasi menggunakan larutan desinfektan.Alat angkut (truck) diberi pengaman agar sapi tidak melompat. Lantai bak truck diberi pengaman alas dari serbuk gergaji agar tidak licin dan mencegah urine dan kotoran tercecer di jalan. Kemudian didesinfektan / disemprot di ruangan carwash (bersamaan dengan sapi) agar semuanya bebas dari hama penyakit.

a. Pemeriksaan

Pelaksanaan tindak karantina berupa pemeriksaan yaitu pemeriksaan dokumen, pemeriksaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium. Pada tahun 2017 terdapat 7 (Tujuh) kali permohonan sehingga dilakukan pemeriksaan sebanyak 7 (Tujuh) kali. Semua dokumen yang diperiksa sah dan lengkap sesuai dengan fisik media pembawa.Pada tahun 2017 tidak ditemukan adanya ketidak lengkapan dokumen.Hal ini menunjukkan bahwa pengguna jasa telah mengetahui semua

(36)

b. Pengasingan

Pengasingan dilakukan untuk memastikan media pembawa terbebas dari HPHK, sehingga diperlukan tindakan karantina lebih lanjut dengan lebih intensif di Instalasi Karantina Hewan baik milik pemerintah maupun pihak ketiga yang telah ditetapkan.Lamanya pengasingan untuk sapi bakalan sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) hari. Selama masa pengasingan pelaksana Medik dan Paramedik Veteriner secara bergantian melakukan tindakan karantina baik di IKH maupun di IKHS. Di tahun 2017 terdapat pemasukan sapi indukan sebanyak 176 ekor dengan uraian dibawah ini :

Pada hari Minggu tanggal 17 Desember 2017 PT CABS melakukan pemasukan sapi impor dari Australia sejumlah 1878 ekor yang terdiri dari Sapi Bakalan 1.702 ekor dan Sapi Indukan 176 ekor yang di lakukan pemasukan dengan satu kapal yang sama yaitu MV Kaihou.Dari pemasukan tersebut Sapi Bakalan dengan jumlah 1.702 ekor di lakukan Tindakan Karantina di Instalasi Karantina Hewan Sementara(IKHS) Malangbong milik PT CABS yang beralamat di Jalan Malangbong-Wado KM 06 Desa Mekarasih Kec.Malangbong Kab.Garut yang telah di tetapkan sebagai IKHS oleh Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian dengan penetapan No.1170/Kpts/KR.130/L/09/2015 Tanggal 15 September 2015 dengan masa berlaku IKHS sampai dengan 15 September 2018.

Tindakan Karantina Hewan terhadap Sapi Indukan milik PT CABS dengan jumlah 176 ekor sapi indukan di lakukan di IKH Tanjung Intan milik SKP Kelas I Cilacap.pemeriksaan stasus HPHK terhadap sapi indukan di lakukan dengan pengambilan sampel 100% (seratus persen) berupa preparat ulas darah(PUD) untuk pemeriksaan parasit darah dan sampel darah untuk

(37)

pengujian RBT untuk penyakit Brucellosis serta pengujian serologis dengan metode uji elisa terhadap penyakit Johne’s Disease/Paratuberculosis.

Hasil pengujian penyakit Brucella dengan metode pengujian RBT yang di lakukan oleh Laboratorium Karantina Hewan SKP Kelas I Cilacap berdasarkan keputusan hasil uji No.(... )/K.40.D/12/2017 tanggal 20 Desember 2017 Di nyatakan negatif sehingga tidak di lakukan pemeriksaan lanjutan.Pemeriksaan PUD untuk parasit darah telah di kirim ke Laboratorum BBVet Wates untuk di lakukan pemeriksaan di karenakan di Laboratorium SKP Kelas I Cilacap belum memiliki ruang lingkup pengujian tersebut dan sampai dengan tahun berakhir hasil pengujian belum di ketahui.Pemeriksaan terhadap penyakit Paratuberculosis dengan metode uji elisa telah di kirimkan ke Balai Veteriner (BBVet) Subang Jawa Barat dengan bukti surat pengantar sampel No.3483/KR.120/K.40.D/12/2017 tanggal 20 Desember 2017 dan sampai dengan tahun berakhir belum diketahui hasil pengujian tersebut oleh BBVet Subang.

Sapi Indukan yang ada di IKH Tanjung Intan Cilacap yang dalam masa karantina pada Hari Jumat taggal 22 Desember 2017 sapi dengan identitas No 57 ditemukan dalam keadaan yang lemah,kemudian sapi tersebut di pindahkan ke kandang isolasi serta dilakukan pemeriksaan dan perlakuan dengan pemberian vitamin berupa Hematodin 10ml tetapi kemudian pada siang hari sapi tersebut ditemukan mati,selanjutnya atas kejadian tersebut di lakukan pemeriksaan post mortem dan hasilnya terangkum dalam surat keterangan kematian ternak tanggal 20 Desember 2017.

(38)

c. Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh Medik dan Paramedik selama masa pengasingan dan didokumentasikan dalam catatan harian tindak karantina mengenai kondisi kesehatan sapi impor. Pemberian pakan dan minum, serta catatan pemeriksaan laboratorium selama tahun 2017 sebanyak 1.184 (seribu seratus delapan puluh empat) sampel.Kegiatan importasi sapi dari Australia berdasarkan hasil pengamatan dan pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan adanya gejala HPHK.

d. Perlakuan

Perlakuan berupa pengobatan diberikan kepada sapi-sapi impor jika ditemukan dan dicurigai adanya penyakit.Pemeriksaan laboratorium dibutuhkan untuk mengetahui apakah sapi-sapi yang dikarantina terjangkit Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) atau tidak.Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan mikroskopis terhadap parasit darah dan pemeriksaan serologis terhadap penyakit brucellosis.Pemeriksaan mikroskopis menggunakan metode PUD (Preparat Ulas Darah).Pemeriksaan serum menggunakan metode uji RBT (Rose Bengal Test).

(39)

Gambar 4. Kegiatan Perlakuan, Pengobatan terhadap sapi sakit.

e. Penahanan

Pada tahun 2017 tidak ada kegiatan penahanan.

f. Penolakan

Pada tahun 2017 tidak ada kegiatan penolakan. g. Pemusnahan

Pada pemasukan Sapi Bakalan tanggal 07 Oktober 2017 sejumlah 2048 ekor dari PT Citra Agro Buana Sejahtera (CABS) di lakukan pemeriksaan rapid test uji Rose Bengal Test (RBT) yang berjumlah 170 sampel.Berdasar surat hasil pengujian yang di lakukan oleh Laboratorium Karantina Hewan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap no 2696/KR.120/K.40.D/10/2017 tanggal 12 Oktober 2017 di dapatkan satu ekor sapi dengan identitas Eartag No.7501 di

(40)

penyakit Brucellosis di lakukan pemeriksaan lanjutan dengan rujukan ke Laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates di Yogyakarta untuk pemeriksaan dengan pengujian metode Complement Fixation Test (CFT) sebagai peneguhan diagnosa dengan bukti surat permohonan pengujian Laboratorium yang dikeluarkan oleh Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap kepada BBVet Wates No.2700/KR.120/K.40.D/10/2017 tanggal 13 Oktober 2017.

Hasil pemeriksaan lanjutan yang di lakukan oleh BBVet Wates dengan metode uji CFT terhadap sapi dengan identitas No.7501 berdasar Surat Jawaban Hasil Pengujian No.24128/PD.650/F.5.G/10/2017 tanggal 20 Oktober 2017 yang di keluarkan oleh BBVet Wates menyatakan sapi tersebut di nyatakan positif Brucella.dengan hasil uji positif Brucella maka sapi dengan identitas eartag No.7501 di lakukan pemusnahan dengan pemotongan bersyarat.Untuk menghindari penyebaran Hama Penyakit Hewan Karantina(HPHK) serta adanya kelengkapan fasilitas pemusnahan berupa Incenerator ternak besar Tindakan pemusnahan pemotongan bersyarat di lakukan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) Tanjung Intan milik SKP Kelas I Cilacap dan atas kesediaan PT CABS sebagai pemilik Tindakan pemusnahan yang seharusnya cukup potong bersyarat terhadap sapi tersebut akhirnya di lakukan pemusnahan.

h. Pembebasan

Pembebasan dilaksanakan setelah masa karantina selesai dan mendapatkan sertifikat pembebasan.Pada tahun 2017 telah membebaskan sapi impor sebanyak 13.751 ekor.

(41)

Penggunaan Formulir Karantina Hewan

Selama tahun 2017, total penggunaan sertifikat karantina hewan sebanyak 6 sertifikat berupa 6 sertifikat KH-12 dan 2 buah sertifikat kh12 batal cetak (rusak)

Tabel 13. Penggunaan & Persediaan formulir karantina Hewan tahun 2017

No Jenis Formulir Saldo awal tahun (set) Pemakaian (set) Saldo (set)

1 KH -9 250 0 8

2 KH -12 388 6 1

3 KH -10 240 0 5

4 KH -11 240 0 5

Keterangan : Untuk formulir KH 9, KH 10, KH 11 dan KH12 ditarik kembali oleh pusat untuk diberikan kepada UPT lain yang lebih membutuhkan

Dokumen Dengan peraturan baru

Tabel 14. Penggunaan & Persediaan formulir karantina Hewan tahun 2017

No Jenis Formulir Saldo awal tahun (set) Pemakaian (set) Saldo (set) 1 KH -11 250 0 8 2 KH -12 250 0 1 3 KH -13 250 0 5 4 KH -14 250 0 5

5. Kegiatan Pemantauan Daerah Sebar HPHK

Pembuatan peta status dan situasi HPHK merupakan salah satu tugas dan fungsi karantina dalam memberikan gambaran situasi penyakit hewan khususnya Hama Penyakit Hewan Karantina golongan I dan seluruh HPHK golongan II yang terjadi di wilayah SKP Kelas I Cilacap.

Berdasarkan pasal 76 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang karantina hewan, bahwa kebijakan karantina dan

(42)

pembatasan lalu lintas media pembawa diatur berdasarkan penggolongan hama penyakit hewan karantina dan pemetaan hama penyakit hewan karantina. Pemetaan tersebut akan menggambarkan status suatu Negara, area, atau tempat yang diperoleh melalui kegiatan pengamatan. Adapun pengamatan adalah merupakan bagian dari tindakan karantina 8 P.

Berdasarkan pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 bahwa selain pengamatan dilakukan di tempat pemasukan selama media pembawa diasingkan untuk mengamati timbulnya gejala Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK), pengamatan juga memiliki makna mengamati situasi Hama Penyakit Hewan Karantina pada suatu negara, area, atau tempat. Pengamatan terhadap situasi HPHK dapat dilakukan melalui 2 (dua) cara yaitu secara langsung dan/ atau secara tidak langsung.Pengamatan secara langsung dilakukan di tempat pemasukan, tempat pengeluaran, instalasi karantina, tempat transit, dan diatas alat angkut.Pengamatan secara tidak langsung dilakukan di tempat lainnya dengan melibatkan atau memperoleh informasi dari pihak yang berwewenang dalam kegiatan tersebut.

SKP Kelas I Cilacap merupakan unit pelaksana teknis dari Badan Karantina Pertanian juga berperan aktif dalam upaya mencegah masuk, tersebar, dan keluarnya hama penyakit hewan karantina (HPHK).

Pemantauan daerah sebar HPHK yang dilakukan melalui kegiatan pengamatan status dan situasi HPHK tahun 2017 di fokuskan pada HPHK Golongan II, sebagaimana diatur dalam Kepmentan Nomor : 3238/Kpts/PD.630/9/2009 tentang Penggolongan Jenis-jenis Hama Penyakit Hewan Karantina, Penggolongan Dan Klasifikasi Media Pembawa.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian, maka UPTKP menyelenggarakan fungsi yaitu pelaksanaan pemantauan daerah sebar

(43)

HPHK.Fungsi pemantauan UPTKP tersebut selanjutnya dilaksanakan dengan melakukan pengamatan status dan situasi HPHK pada area dimana UPTKP berada. Pengamatan status dan situasi HPHK dilakukan secara tidak langsung, dengan memperoleh informasi dari instansi berwenang yaitu Balai Besar Veteriner / Balai Veteriner, dan dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan di Propinsi, Kabupaten dan/ atau kota.

Dalam peta status dan situasi HPHK di wilayah SKP Kelas I Cilacap ini analisis data disajikan secara kualitatif atau kuantitatif sesuai dengan jenis data yang diperoleh.Data diekspresikan dalam bentuk table dan grafik serta dalam bentuk peta status dan situasi HPHK yang memuat keterangan lokasi keberadaan penyakit.

Pemantauan daerah sebar Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) tahun 2017 bertujuan untuk mendapatkan data status dan situasi penyakit HPHK di wilayah Pemantauan Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap.Sasaran kegiatan ini adalah tersusunnya informasi kejadian penyakit HPHK di sembilan (9) kabupaten antara lain Cilacap, Banyumas, Kebumen, Purbalingga, Banjarnegara, Brebes, Purworejo, Wonosobo dan Temanggung, dengan tujuan kegiatan pemantauan ini sebagai berikut :

1. Setiap UPT Karantina Pertanian mengetahui status dan situasi kejadian penyakit di sekitar wilayahnya masing-masing

2. Kebijakan yang dihasilkan untuk pencegahan penyebaran HPHK diharapkan akan menjadi lebih optimal

Pemantauan Status dan Situasi Hama Penyakit Hewan Karantina tahun 2017 dilingkup Badan Karantina Pertanian dilakukan dengan cara pengambilan data sekunder hasil pengumpulan informasi penyakit yang dibuat oleh dinas peternakan kabupaten/ kota, dan BBvet melalui kunjungan ke dinas kabupaten/kota dan Balai Besar Veteriner Wates

(44)

Secara umum gambaran HPHK dari daerah pemantauan SKP Kelas I Cilacap berasal dari data gejala klinis, uji lab. pasif dan surveilans dari dinas yang membidangi fungsi teknis kesehatan hewan di 9 Kabupaten/Kota dan bersumber dari hasil surveilans Balai Besar Veteriner Wates dan tersaji dalam peta status dan situasi HPHK sebagai berikut:

Gambar 4. Peta Status dan Situasi HPHK Untuk Hewan Besar di Daerah Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013

Gambar 5. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan Ternak Kecil dan Kesayangan di Daerah Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013

(45)

Gambar 6. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan Ternak Unggas Daerah Pemantauan SKP Kelas I Cilacap tahun 2011-2013

Secara umum gambaran HPHK dari daerah pemantauan SKP Kelas I Cilacap berasal dari data gejala klinis, uji lab. pasif dan surveilans dari dinas yang membidangi fungsi teknis kesehatan hewan di 9 Kabupaten/ Provinsi, Balai Besar Veteriner Wates dan hasil penelitian di Fakultas Kedokteran Hewan UGM yang tersaji dalam peta status dan situasi HPHK sebagai berikut:

(46)

Gambar 8. Peta Status dan Situasi HPHK Hewan dari Data Gejala Klinis, Uji Laboratorium Tahun 2017

6. Kegiatan Koleksi HPHK

Kegiatan koleksi HPHK sampai dengan tahun 2017 belum dilaksanakan pada Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap karena belum ditemukan adanya media pembawa karantina hewan yang dilalulintaskan yang tertular HPHK.

(47)

B. KARANTINA TUMBUHAN

Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pemasukan Media Pembawa Ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia

Pemasukan Media Pembawa ke dalam wilayah negara Republik Indonesia harus memenuhi persayaratan administrasi seperti yang tertuang dalam Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 antara lain :

a. Melalui pintu pemasukan yang telah ditetapkan b. Dilaporkan kepada petugas karantina

c. Dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari negara asal

Pelabuhan Tanjung Intan yang berada di wilayah kerja Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap merupakan salah satu pintu pemasukan Media Pembawa PSAT khususnya biji gandum dan kedelai. Biji gandum dan kedelai masuk ke wilayah SKP Kelas I Cilacap guna memenuhi bahan baku tepung dan tempe mendoan di wilayah Cilacap, Banyumas dan sekitarnya. Terdapat tiga Importir yang rutin melakukan kegiatan importasi melalui wilker tanjung intan yaitu PT. Pangan Inti Persada dan PT Manunggal Perkasa (Importir gandum) dan PT FKS Multi Agro (Importir Kedelai).

Pengawasan keamanan pangan biji gandum ke wilayah SKP Kelas I Cilacap mengacu pada Permentan Nomor 55/Permentan/KR.040/11/2016 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT). Dalam tentang Pengawasan Keamanan Pangan Terhadap Pemasukan. Permentan ini diatur mengenai persyaratan dan tata cara pemasukan MP PSAT serta cara pengawasan terhadap MP PSAT, di mana gandum dan kedelai merupakan salah satu MP PSAT yang termasuk dalam permentan tersebut.

Daftar pemasukan MP PSAT melalui pelabuhan tanjung intan dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

(48)

Tabel 15. Kegiatan Pemasukan MP-PSAT ke wilayah SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013 sd 2017

NO NAMA MP Jumlah MP-PSAT (TAHUN DALAM KG)

2013 2014 2015 2016 2017

1 Biji Gandum 170.365.680 171.513.827 128.596.130 240.127.000 427.803.527

2 Biji Kedelai 0 0 0 20.250.000 75.158.734

TOTAL 170.365.680 171.513.827 128.596.130 260.377.000 502.962.261

Grafik 6.Impor Gandum pada SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013 – 2017

Grafik 7.Impor Kedelai pada SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013 – 2017

0 100,000,000 200,000,000 300,000,000 400,000,000 500,000,000 2013 2014 2015 2016 2017 170,365,680 171,513,827 128,596,130 240,127,000 427,803,527

GRAFIK IMPOR GANDUM

VOLUME (M3) 0 50000000 10000000 15000000 20000000 25000000 30000000 35000000 40000000 2013 2014 2015 2016 2017 0 0 0 61,335,000 360,564,076

GRAFIK IMPOR KEDELAI

(49)

Tabel16.Kegiatan Pemasukan Biji Gandum ke wilayah SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013– 2017 berdasarkan Negara Asal

No Negara Asal

Importasi Pada Tahun

2013 2014 2015 2016 2017 1 Australia 61.490.000 76.463.310 97.343.140 143.077.000 293.227.160 2 Kanada 11.000.000 13.500.000 10.800.000 23.050.000 40.623.572 3 Rusia 32.858.280 71.750.000 20.452.990 15.000.000 4 India 27.123.000 0 0 0 5 Ukraina 37.894.400 0 0 74.000.000 44.935.795 6 Amerika Serikat 9.800.517 0 34.017.000 TOTAL 170.365.680 171.513.827 128.596.130 260.377.000 427.803.527

Tabel17. Kegiatan Pemasukan Kedelai ke wilayah SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013– 2017 berdasarkan Negara Asal

No Negara Asal

Importasi Pada Tahun

2013 2014 2015 2016 2017

1 Amerika

Serikat 0 0 0 61.335.000 75.158.734

TOTAL 0 0 0 61.335.000 75.158.734

Tabel 18.Frekwensi Kegiatan Impor Gandum tahun 2013 – 2017 Frekwensi Importasi Gandum Pada Tahun

(Kali)

Total

2013 2014 2015 2016 2017

(50)

Grafik 8.Frekwensi Impor Gandum pada SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013 – 2017

Tabel 19.Frekwensi Kegiatan Impor Kedelai tahun 2013 – 2017 Frekwensi ImportasiKedelai Pada Tahun

(Kali)

Total

2013 2014 2015 2016 2017

0 0 0 5 16 21

Grafik 9.Frekwensi Impor Kedelai pada SKP Kelas I Cilacap Tahun 2013 – 2017

Berdasarkan tabel di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemasukan biji gandum dan biji kedelai tahun 2017 mengalami kenaikan.Hal ini disebabkan oleh kondisi pasar dan permintaan dalam negeri yang kecenderungan mengalami peningkatan tiap tahunnya.

0 10 20 30 40 2013 2014 2015 2016 2017 10 12 13 24 36

GRAFIK FREKWENSI IMPORTASI

GANDUM

FREKWENSI (KALI) 0 5 10 15 20 2013 2014 2015 2016 2017 0 0 0 5 16

GRAFIK FREKWENSI IMPORTASI

KEDELAI

(51)

Pada setiap pemasukan MP PSAT dilakukan pengambilan sampel oleh petugas pengambil contoh (PPC). Pengambilan sampel dilakukan secara acak atau random agar dapat mewakili. Pengambilan sampel dilakukan pada palka di atas kapal. Sampelyang diambil digunakan untuk pengujian kesehatan (ada/tidaknya OPTK). Sedangkan pengujian PSAT untuk residu pestisida dan logam berat sesuai dengan ketentuan dalam Permentan Nomor 55/Permentan/KR.040/11/2016 tentang Pengawasan Keamanan Pangan terhadap Pemasukan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT) hanya dilakukan untuk kegiatan monitoring. Kegiatan monitoring dilakukan apabila ada surat perintah dari Kepala Badan Karantina Pertanian. Pada tahun 2017 ini SKP Kelas I Cilacap mendapatkan tugas kegiatan monitoring PSAT untuk pemasukan kedelai dari Ukraina. Sampel yang diambil di kirim ke Laboratorium BBUSKP, untuk dilakukan pengujian terhadap residu pestisida. Laporan hasil pengujian yang dilakukan oleh laboratorium penguji menunjukkan bahwa kandungan bahan aktif pestisida tidak terdeteksi pada sampel yang diuji (terlampir).

. Berdasarkan hasil pengujian pada pelaksanaan monitoring, di simpulkan bahwa komoditas PSAT gandum biji yang berasal dari negara Ukraina yang masuk melalui pintu pemasukan Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap masih aman dan layak dikonsumsi.

(52)

Tabel 20. Rangkuman Hasil Pengujian Kesehatan MP PSAT (OPT/K) Media Pembawa Gandum dan Kedelai sebagai berikut :

No. Negara Asal Hasil Pengujian Golongan Status

1.

MEDIA PEMBAWA BIJI GANDUM

AUSTRALIA

Tidak ditemukan baik yang hidup

maupun mati SERANGGA --

Alternaria alternata, Alternaria triticina, Epicoccum

purpurascens, Drechslera tritici reoentis, Stemphylum

sorcinacforme, Cladosporium herbarum, Puccinia graminis, Nigrospora panici,

Alternari, Alternaria triticina Alternaria brassicae, Alternaria brassicicola, Cladosporium herbarum,

Puccinia graminis, Melanospora zamiae, Alternaria alternantheae, Curvularia lunata

CENDAWAN OPT

Avena fatua, Brassica juncea, Brassica kaber, Chenopodium album, Sonchus oleraceous, Chromolaena odorata, Tribulus terrestris,

Lithospermum arvense, Vicia angustifolia

GULMA OPT

2. MEDIA PEMBAWA BIJI GANDUM

UKRAINA

Nezara viridula f.torquata ( dalam keadaan mati), Coccinella septempunctata (dalam keadaan mati)

SERANGGA OPT

Alternaria daucifolli, A. japonica, A. sonchi, A. triticina, Puccinia graminis,

Tilletia laevis, Tilletia tritici, Alternaria triticina, Alternaria triticicola, Drechslera tetramera, Puccinia graminis

Tilletia contraversa, Mortierella gemmifera, Pithomycetes cartarum, Alternaria triticicola, Epicoccum purpurascens, Periconia macrospinosa CENDAWAN Tilletia laevis, Tilletia tritici (OPTK), Cendawan yang lain OPT

Avena fatua, Saponaria vaccaria, Convolvulus arvensis, Rumex crispus, Polygonum convolvulus, Setaria viridis, Polygonum persicaria, Brassica nigra, Thalspi arvense, Vicia angustifolia, Chromolaena odorata.

GULMA OPT

3. MEDIA PEMBAWA BIJI GANDUM

KANADA Tidak ditemukan baik yang hidup

(53)

Alternaria tennuissima, Fusarium culmorum, Epicocum

purpurasens

CENDAWAN OPT

Saponaria vaccaria, Brassica kaber, Avena fatua, Polygonum convolvulus

GULMA OPT

4 MEDIA PEMBAWA KEDELAI

USA

Tidak ditemukan baik yang hidup

maupun mati SERANGGA --

Peronospora manshurica (sudah tidak viabel/mati), Cercopsora kikuchii, Fusarium solani

CENDAWAN OPT

- Ambrasia trifida

- Ambrasia artemisiifolia GULMA OPT

5 MEDIA PEMBAWA GANDUM

USA

Tidak ditemukan baik yang hidup

maupun mati SERANGGA

--

Alternaria tenuissima, Alternaria alternata, Epicoccum

purpurascens, Chaetomium fusisporum

CENDAWAN OPT

Avena fatua, Saponaria vaccaria, Chenopodium album, Polygonum persicaria, Vicia angustifolia, Chromolaena odorata.

GULMA OPT

6 MEDIA PEMBAWA GANDUM

RUSIA

Tidak ditemukan baik yang hidup

maupun mati SERANGGA --

Alternaria alternata , Nigrospora

panici, Fusarium oxysporum CENDAWAN OPT Polygonum convolvulus,

Convolvulus sepium, Avena fatua, Rumex crispus, Setaria faberii

GULMA

1. Tindakan Karantina Tumbuhan Terhadap Pengeluaran Media Pembawa

OPTK Ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia

Berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 1992 pasal 6 bahwa setiap media pembawa HPHK dan media pembawa OPTK akan dikeluarkan dari wilayah negara Republik Indonesia wajib :

a. Dilengkapi sertifikat kesehatan

b. Melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan

c. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina

Persyaratan tersebut harus dipenuhi oleh pemilik barang/media pembawa apabila akan mengeluarkan MP tersebut dari wilayah negara RI,

(54)

sehingga beberapa pemilik barang yang berada di wilayah Layanan SKP Kelas I Cilacap selalu melaporkan apabila akan mengeluarkan MP tersebut meskipun pelabuhan pengeluarannya melalui Pelabuhan Tanjung Emas Semarang maupun Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Media pembawa yang sering dilaporkan pengeluarannya di wilayah SKP Kelas I Cilacap yaitu kayu albasia yang telah diolah, Gula Semut, Biji Kopi, Teh dan bahan-bahan herbal. Berdasarkan lampiran Permentan Nomor 38/Permentan/OT.140/3/2014 tentang Tindakan Karantina Tumbuhan di luar Tempat Pemasukan dan Pengeluaran bahwa wilayah layanan SKP Kelas I Cilacap meliputi kabupaten Cilacap, Kebumen, Banyumas, dan Purworejo. Pemilik barang yang berada di wilayah tersebut antara lain :

a. PT. Waroeng Batok Industry (Perusahaan kayu olahan) b. PT. Mitra Cimalati Indonesia (Perusahaan kayu olahan) c. PT. Sabda Alam Prima Nusa (Perusahaan kayu olahan) d. CV. Hikmat Jaya (Perusahaan kayu olahan)

e. PT. Mitra Karya Usaha Sejahtera (Perusahaan kayu olahan) f. UD. Hasil Saw Mill (Perusahaan kayu olahan)

g. PT. Rama Gombong Sejahtera (Perusahaan kayu olahan) h. PT. Indotama Omicron Kahar (Perusahaan kayu olahan) i. PT. Anugerah Karya Trisakti (Perusahaan kayu olahan) j. PT Sinar Abadi Utama (Perusahaan kayu olahan) k. PT. Kemilau Anugrah Sejati (Perusahaan kayu olahan) l. PT. Cebong Kayuindo (Perusahaan kayu olahan) m. PT. Albasia Cipta Sejahtera (Perusahaan kayu olahan) n. PT. Rich Harvest Hasil Timber (Perusahaan kayu olahan) o. PT. Arumbai Kasembadan (Perusahaan kayu olahan) p. PT. Cocos Sugar Indonesia (Perusahaan Gula Semut) q. PT. Pundi Indo kayu Industri (Perusahaan kayu olahan) r. PT. Girisantosa Adiraya (Perusahaan kayu olahan) s. CV. Inagro Jinawi (Perusahaan Gula Semut)

t. CV. Karya Purabaya (Perusahaan kayu olahan) u. PT Muara Kayu Sengon (Perusahaan kayu olahan)

Gambar

Tabel  2.  Realisasi  Anggaran  Belanja  Pegawai  tahun  2013  s/d  2017  Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap
Tabel  3 .  Realisasi  Anggaran  Belanja  Barang  tahun  2013  s/d  2017  Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap
Grafik  3.  Realisasi  Anggaran  Belanja  Barang  tahun  2013  s/d  2017Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap
Grafik 4. Realisasi Anggaran Belanja Modal tahun 2013 s/d 2017 Stasiun  Karantina Pertanian Kelas I Cilacap
+7

Referensi

Dokumen terkait

untuk mengatur hanya user tertentu saja yang dapat mengakses data sesuai dengan yang dibutuhkan.  Level Sistem

Penyelesaian TSP multi obyektif dengan algoritma genetika akan berdampak pada fungsi fitness yang diterapkan untuk kasus tersebut, sekaligus yaitu waktu dan

Prinsip Restorasi Hidrologi di lahan gambut adalah menaikkan muka air tanah gambut setinggi mungkin, yang pada akhirnya diharapkan dapat: menurunkan laju oksidasi dan

[r]

The primary drainage maintenance only once a month (50%) on the building of permanent and non- permanent channel, secondary permanent buildings (80%) and permanent (20%) and

Penghulu yang merupakan kepanjangan lidah dan tangan raja, diberi kekuasaan untuk mengatur segala tingkah laku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan

Diberitahukan kembali kepada seluruh PTP Sertifikasi Dosen tahun 20 13 yang telah mengetahui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Tentang Penetapan

Hasil penelitian, Optimasi variable pada proses pembuatan kecap dari biji buah lamtoro gung dengan cara hidrolisa menggunakan HCl diperoleh kecap berkadar protein 2,982