BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang MasalahADB (Asian Development Bank) dan ILO (International Labour
Organization) dalam laporan publikasi ”ASEAN Community 2015: Managing integration for better jobs and shared prosperity” pada tahun 2014 menemukan
fakta bahwa sejak tahun 2007 ASEAN merupakan perkumpulan negara-negara yang paling dinamis di dunia karena performa pertumbuhan ekonomi yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan tingkat rata-rata pertumbuhan ekonomi per tahun (annual
growth rate) ASEAN yang mencapai 5,1 % antara tahun 2007 hingga 2014,
sementara perekonomian global hanya mencapai 3,3 % di rentang waktu yang sama. Peningkatan pertumbuhan yang dinamis tersebut juga dapat dirasakan dengan meningkatnya standar hidup masyarakat ASEAN (1991-2013) dengan meningkatkan taraf hidup 83 juta tenaga kerja dari tingkat ekonomi miskin ke tingkat ekonomi menengah. Selain itu masuknya arus modal asing (foreign direct
investment) yang terus meningkat dari 5% investasi global pada tahun 2007 menjadi
11% pada tahun 2014 (136 Miliar USD) menjadi salah satu gambaran bagaimana menariknya pertumbuhan ekonomi ASEAN yang memiliki kuantitas SDA dan SDM yang melimpah dengan 300 juta angkatan kerja dan dengan tingkat pertumbuhan konsumen pasar serta pembangunan di bidang infrastruktur yang juga terus meningkat.
Dalam laporan publikasi kerjasama ADB dan ILO tersebut selain berbicara mengenai fakta pertumbuhan ASEAN dan kabar baik lainnya, ASEAN justru
dihadapkan pada sebuah masalah klasik. Masih ada sebagian negara anggota ASEAN yang belum mampu lepas dari permasalahan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi yang dibayang-bayangi oleh adanya ketidakmerataan pendapatan serta ketimpangan dalam memperoleh kesempatan kerja (tenaga kerja terampil tidak merata). Ditambah lagi secara keseluruhan masih banyak tenaga kerja yang terperangkap dalam kualitas kerja yang tergolong rendah. Data menyebutkan sebanyak kurang lebih 179 juta dari 300 juta (59,67 %) angkatan kerja di ASEAN masih dalam status yang mengkhawatirkan yang 92 juta (30,67 %) di antaranya menerima upah dibawah standar minimum serta masuk dalam kategori masyarakat dengan status ekonomi miskin. Dari sekilas uraian singkat laporan publikasi ILO dan ADB1 di atas dapat disadari bahwa beberapa hal tersebut merupakan gambaran bagaimana kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) ASEAN yang harus segera dicari solusinya baik dengan memaksimalkan potensi kekuatan dan atau meminimalisasi kelemahan yang dimiliki.
Selain kekuatan dan kelemahan, tentunya ASEAN juga menghadapai berbagai peluang (opportunity) dan tantangan atau ancaman (threat). Momentum hadirnya ASEAN Economic Community (AEC) atau juga dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diharapkan dapat menjadi peluang dengan mengatasi berbagai masalah ekonomi yang terjadi di antara negara-negara ASEAN tersebut. Peluang yang datang didapat dari visi dan misi AEC yang ingin berusaha meningkatkan arus perdagangan internasional dan FDI, meningkatkan mobilitas
1 Asian Development Bank and International Labour Organization (2014), “ASEAN Community 2015: Managing integration for better jobs and shared prosperity” p. xi-xiv
tenaga kerja terampil, dan semakin kuatnya berbagai insititusi terkait. Disamping adanya peluang, AEC nampaknya juga akan memunculkan beberapa tantangan yakni melalui meningkatnya iklim persaingan, semakin terbukanya pintu perdagangan bebas, dan melebarnya jarak ketimpangan yang sebelumnya telah ada. Kesimpulan awal yang dapat diambil ASEAN akan menjadi sasaran yang sangat empuk dengan semakin meningkatnya era keterbukaan dan kerjasama internasional saat ini apabila setiap negara anggotanya tidak segera bergerak dalam memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem perekonomian terbuka dunia.
AEC dengan empat pilar utamanya yang tercantum dalam AEC Blueprint yaitu; (1) Menciptakan pasar dan basis produksi tunggal. (2) Meningkatkan persaingan ekonomi regional, (3) Menyamaratakan atau mengurangi kesenjangan pembangunan, dan (4) Menguatkan integrasi dalam perekonomian global, menjadi sebuah pedoman bagi majunya pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara. Namun adanya AEC seharusnya dapat diimbangi dengan strategi kebijakan untuk mendukung setiap pilar yang ada. Sebagai contoh dalam pilar pertama blueprint AEC disebutkan bahwa dengan adanya AEC akan tercipta sebuah pasar tunggal bahan baku produksi dan tenaga kerja. Dari sisi ketenagakerjaan pilar pertama tersebut tentunya akan meningkatkan permintaan dan penawaran terhadap tenaga kerja yang diharapkan dapat mengatasi masalah kemiskinan dan menyamaratakan kesempatan kerja. Meskipun demikian, berbagai konsekuensi pun hadir sebagai dampak meningkatnya permintaan dan penawaran tenaga kerja, salah satunya adalah kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil (skilled labor) yang semakin meningkat. Maka dari itu peningkatan dalam kualitas tenaga kerja yang
digambarkan sebagai bentuk peningkatan kualitas modal manusia (human capital) dalam teori produksi menjadi salah satu solusi bagi ASEAN dalam menghadapi berbagai masalah dan ancaman serta mengoptimalkan kelebihan dan peluang yang dimiliki berdasar analisis SWOT secara singkat di paragraf sebelumya.
Pentingnya peran tingkat modal manusia (human capital) berkaitan dengan kualitas perekonomian negaranya. ASEAN yang terdiri 10 negara seperti yang kita ketahui memiliki pembagian klasifikasi berdasar kemampuan dan skala pertumbuhan ekonomi. Negara-negara emerging economies yang memiliki pertumbuhan tinggi tergabung dalam ASEAN-6 (Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, dan Indonesia) sementara negara-negara dengan kategori pertumbuhan rendah tergabung dalam negara CLMV (Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam). Grafik di bawah memaparkan negara-negara ASEAN dengan rata-rata indeks modal manusia (human capital index) berdasar perhitungan
years of schooling (Barro dan Lee, 2013) dan returns to investment in education
(Psacharopoulos, 1994). Dari grafik tersebut dapat kita lihat Singapura sebagai negara dengan pertumbuhan tinggi dan termasuk negara maju di dunia memiliki tingkat rata-rata Indeks Modal Manusia yang paling tinggi dibanding negara-negara ASEAN lainnya (2.94). Negara ASEAN-6 yang lain memiliki tingkat rata-rata saling berurutan di bawah Singapura (Malaysia 2.8, Brunei Darussalam 2.67, Filipina 2.55, Thailand 2.46, dan Indonesia 2.33). Sedangkan negara CLMV menempati empat posisi terendah dengan Kamboja di posisi paling bawah (1.66).
Grafik 1 Rata-rata Indeks Modal Manusia (Human Capital Index) ASEAN
Sumber: Penn World Table (PWT) 9.0 (diolah)
Fakta mengenai keterkaitan tingkat modal manusia dengan pertumbuhan ekonomi seperti yang telah dijelaskan di atas merupakan suatu kesimpulan awam yang menyimpulkan tentang pentingnya tingkat dan kualitas modal manusia bagi pertumbuhan serta pembangunan. Dalam teori pertumbuhan ekonomi oleh Krugman (1994) disebutkan bahwa faktor modal manusia (human capital) memiliki peran yang penting dalam konsep pembangunan. Hal ini disebabkan kegiatan dalam akumulasi modal fisik dapat mengakibatkan penambahan hasil yang menurun dalam penggunaan modal (marginal diminishing return of capital), padahal pembangunan membutuhkan kelangsungan secara jangka panjang. Maka dari itu peningkatan dalam modal manusia akan meningkatkan kemajuan teknologi yang dalam jangka panjang akan meningkatkan produktivitas (Deolalikar, 1997:13). Sesuai dengan teori produksi yang menjelaskan bahwa untuk mendapatkan sejumlah output tertentu dibutuhkan suatu modal atau investasi, maka modal atau
2.67 1.67 2.33 1.78 2.8 1.66 2.55 2.94 2.46 2.31 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 Brunei Kamboja Indonesia Laos Malaysia Myanmar Filipina Singapura Thailand Vietnam
Rata-rata Indeks Modal Manusia
(Human Capital Index) ASEAN, 2001-2014
investasi yang dapat dilakukan untuk meningkatkan modal manusia atau dalam kata lain meningkatkan produktivitas seorang individu adalah dengan meningkatkan tingkat pendidikan dan kesehatannya. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Todaro dan Smith dalam bukunya yang berjudul Economic Development, 2006:
“Without some minimal levels of education and health like basic literacy, specific skills, and good health, an individual is difficult to be productive.”
Pendidikan dan kesehatan menjadi dua variabel yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas modal manusia (Becker, 1964; Schultz, 1961). Dalam fungsi produksi Cobb-Douglas model, tingkat modal manusia diukur melalui pendekatan faktor tenaga kerja yang menjadi satu dari tiga elemen penting penentu output produksi. Lucas pada tahun 1988 juga menyampaikan temuannya bahwa variabel tenaga kerja dapat dilihat dari adanya alokasi investasi modal manusia. Kemudian David N. Weil pada tahun 2007 juga menambahkan bahwa investasi tenaga kerja tersebut dapat dihasilkan dari adanya investasi di bidang pendidikan dan kesehatan.
Penelitian terbaru oleh Mohd Nahar bin Mohd Arshad dan Zubaidah binti Abd Malik pada tahun 2015 kemudian mengaitkan berbagai penelitian sehingga menghasilkan sebuah model adanya hubungan antara investasi di bidang pendidikan dan kesehatan (sebagai proksi tingkat modal manusia) dengan tingkat produktivitas tenaga kerja. Dalam penelitian tersebut mengutip pernyataan Bong (2009) menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas dengan adanya tenaga kerja dengan keterampilan (skills) dan pendidikan yang tinggi bersamaan dengan kondisi kesehatan fisik dan mental yang baik akan menghasilkan kualitas pekerjaan yang semakin efisien dan efektif. Baik penelitian tersebut dan juga penilitian-penelitian
yang dilakukan sebelumnya sebagian besar menyatakan bahwa baik pendidikan maupun kesehatan secara signifikan berpengaruh positif terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja, ceteris paribus.
1.2. Rumusan Masalah
Dari berbagai temuan fakta menarik dalam latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, urgensi dalam mengetahui tingkat kualitas modal manusia bagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi prioritas utama bersamaan dengan hadirnya AEC yang akan semakin meningkatkan persaingan antar negara ASEAN. Pengetahuan akan kualitas modal manusia (human capital) menjadi sangat penting mengingat faktor tenaga kerja akan menjadi salah satu komoditas utama dalam pasar persaingan bebas ASEAN dengan meningkatnya mobilitas serta permintaan dan penawaran tenaga kerja. Pengetahuan mengenai kualitas modal manusia yang salah satu caranya dapat dilihat dari tingkat produktivitas tenaga kerja juga akan menentukan perencanaan jangka panjang suatu negara dalam mempersiapkan kompetisi menyambut dan mengarungi AEC ke depannya.
Munculnya permasalahan kemudian didapatkan dengan fakta bahwa
pertumbuhan ekonomi ASEAN yang tinggi tidak didukung dengan tingkat produktivitas tenaga kerjanya yang juga tinggi. Laporan Asian Productivity
Organization (APO) dalam APO Productivity Databook 2015 mengatakan bahwa
pada tahun 2013 produktivitas tenaga kerja per jumlah tenaga kerja (labor
productivity per-worker GDP) ASEAN hanya mencapai 19,4 ribu Dolar AS, jauh
dibanding dengan Amerika Serikat yang mencapai 107,6 ribu Dolar AS, Hongkong 99,8 ribu Dolar AS, Australia 86,6 ribu Dolar AS, dan Jepang 71, 4 ribu Dolar AS.
Grafik 2 Produktivitas Tenaga Kerja ASEAN dan Beberapa Negara
Sumber: APO Productivity Database, 2015 (diolah)
Rendahnya produktivitas tenaga kerja ASEAN tidak dialami oleh seluruh negara anggotanya, buktinya Singapura justru menjadi negara dengan produktivitas tenaga kerja tertinggi di dunia sebesar 121, 9 ribu Dolar AS. Hal ini menandakan adanya disparitas yang sangat tinggi antar negara ASEAN. Negara-negara selain ASEAN-6 yaitu Kamboja Laos, Myanmar, dan Vietnam (CLMV) menjadi negara dengan rata-rata produktivitas tenaga kerja yang rendah sebesar 7,8 ribu Dolar AS (6,4 % dari Singapura) dengan Kamboja sebagai negara dengan produktivitas terendah di ASEAN sebesar 4,9 ribu Dolar AS (4% dari Singapura).
Dari berbagai temuan di atas akan menjadi suatu hal yang menarik diteliti
apakah pengukuran kualitas modal manusia dengan mengukur tingkat pendidikan dan kesehatan negara-negara ASEAN akan berpengaruh terhadap produktivitas tenaga kerja di masing-masing negara. Selain itu menarik diketahui adanya AEC apakah memberi pengaruh terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja di
121.9 107.6 99.8 86.6 71.4 61.5 50.2 24.8 24.5 21.9 19.4 18.8 15.7 8.4 8.4 7.8 7.7 4.9 0 20 40 60 80 100 120 140 rib u US$ (Ha rga ko n sta n 2011 PPP )
Produktivitas Tenaga Kerja
ASEAN dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir dengan telah dimulainya persiapan dan penerapan langkah-langkah strategis mewujudkan AEC pada tahun 2015 sejak tahun 2007 silam. Didukung temuan dari hasil penelitian sebelumnya penulis ingin melakukan penelitian lanjutan mengenai beberapa hal terkait pentingnya kualitas modal manusia dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi dengan (1) mengukur tingkat produktivitas tenaga kerja, (2) pengaruh tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja, (3) serta menyimpulkan adanya pengaruh dari momentum diberlakukannya AEC pada tahun 2015 akhir melalui adanya tahun persiapan AEC yaitu antara tahun 2008 hingga 2014 (dengan dipublikasikannya blueprint AEC pada tahun 2007).
1.3. Batasan Penelitian
Penelitian ini terbatas pada ketersediaan data dari 10 Negara ASEAN pada periode 2001-2014. Selain karena adanya keterbatasan data, pemilihan tahun 2001 sebagai tahun awal dan 2014 sebagai tahun akhir karena keperluan dalam menyesuaikan dengan data terbaru dan kepentingan dalam menentukan peran pengaruh AEC sejak diluncurkannya Blueprint AEC pada tahun 2007. Blueprint AEC tersebut memuat pedoman dan arahan tahun persiapan AEC yakni tahun 2008 hingga 2015 (data pada tahun 2015 belum tersedia), sehingga rentang periode antara 2001 hingga 2014 (14 tahun) dirasa cukup merepresentasikan dummy adanya pengaruh AEC terhadap variabel dependen (2001-2007 bernilai 0 dan 2008-2014 bernilai 1) yang juga diperkuat dengan adanya AEC scorecard oleh ASEAN untuk mengukur kinerja dan implementasi AEC yang dimulai pada Januari 2008.
Variabel dalam penelitian ini adalah data output dan input dalam teori pertumbuhan yang diakses secara sekunder dari database Penn World Table 9.0 dan juga CEIC Global Database. Dalam studi mengenai pertumbuhan dan analisis
cross country penggunaan database PWT 9.0 dirasa cukup menjadi sumber data
yang terpercaya karena karakteristik khususnya dalam analisis ekonomi pembangunan dan ekonomi makro.
1.4. Tujuan Penelitian
1. Menganalisis hubungan dan pengaruh tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap produktivitas tenaga kerja negara-negara ASEAN antara tahun 2001-2014
2. Menganalisis adanya pengaruh AEC terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja di negara-negara ASEAN
1.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
1. Bagi peneliti, penelitian ini akan memberikan tambahan wawasan tentang studi mengenai modal manusia dan hubungannya terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dengan pendekatan melalui teori produksi 2. Bagi pemerintah, penelitian ini dapat memberikan gambaran bagi
pemerintah negara-negara ASEAN untuk menyusun kebijakan yang efektif dan efisien dalam menghadapi AEC yang telah berlangsung dengan pengetahuan di bidang kualitas modal manusia yang diproksi dari produktivitas tenaga kerja yang dihitung dari tingkat pendidikan dan kesehatan di masing-masing negara
3. Bagi khasanah ilmu pengetahuan, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian-penelitian berikutnya, khususnya bagi pengembangan analisis lingkup ASEAN-AEC dan studi-studi pembangunan serta studi mengenai modal manusia
1.6. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan berupa:
1. Bab I menjelaskan latar belakang permasalahan, rumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan. 2. Bab II menguraikan definisi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan neo klasik solow swan, pertumbuhan endogen, labor augmented technological
progress, produktivitas tenaga kerja, hubungan teori pertumbuhan ekonomi
dengan produktivitas tenaga kerja, definisi pendidikan, definisi kesehatan, penjelasan ASEAN Economic Community sebagai sebuah studi kasus dan penelitian sebelumnya.
3. Bab III membahas metodologi penelitian yang terdiri dari uraian mengenai jenis dan sumber data, dan metode analisis. Penelitian ini akan menggunakan metode analisis data panel.
4. Bab IV menjelaskan model penelitian, gambaran deskriptif data, analisis data, dan interpretasi hasil penelitian.
5. Bab V merupakan penutup yang meliputi kesimpulan, keterbatasan penelitian, rekomendasi dan saran.