PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF HADITS NABI SAW.

Teks penuh

(1)

PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG

PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF

HADITS-HADITS NABI SAW

SKRIPSI

Disusun oleh:

Mochamad Bahrur Rozak

NIM: D01212034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga Perspektif Hadits-Hadits Nabi SAW ini merupakan hasil penelitian kepustakaan yang bertujuan untuk mengetahui dan menjawab pertanyaan tentang bagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dalam keluarga apabila ditinjau dari hadits-hadits Nabi SAW tentang pendidikan dan untuk mengetahui sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang cara mendidik anak dalam lingkungan keluarga serta dalam pendidikan Islam jika dikaitkan pada masa sekarang.

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analisis yakni menguraikan data-data dari hasil penelusuran kepustakaan selanjutnya melalui proses pemaparan data, penyajian data, pengolahan data dan penarikan kesimpulan secara umum mengenai pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan di lingkungan keluarga.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pusat pendidikan yang utama terdapat di lingkungan keluarga, oleh sebab itu alam keluarga menuntut terjadinya pendidikan bagi anak baik pendidikan individual maupun sosial. Karena lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan sebagai permulaan bagi setiap individu untuk mengembangkan potensinya, disitulah pertama kalinya pendidikan yang diberikan oleh orangtua yang berkedudukan sebagai guru (penuntut), pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan (pemberi contoh). Oleh sebab itu peran orang tua sangat penting dalam memberikan pendidikan budi pekerti sejak dini. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci, secara pengetahuan belum tahu apa-apa dan belum mendapatkan bimbingan pendidikan dari segi manapun, disinilah tugas orang tua dalam lingkup keluarga untuk mengasah pola pikir anak untuk mengembangkan potensi anak. Sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan adalah adanya kebebasan dan spontanitas untuk mendapatkan kemerdekaan hidup seluas-luasnya melalui bidang pendidikan.

(7)

x DAFTAR ISI

Halaman

SAMPUL DALAM ... i

PERNYATAAN KEASLIAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Rumusan Masalah ... 5

C.Tujuan Penelitian ... 5

D.Manfaat Penelitian ... 5

E. Definisi Operasional ... 6

F. Kajian Pustaka ... 7

G.Metode Penelitian ... 9

H.Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA DAN HADITS-HADITS NABI SAW TENTANG PENDIDIKAN ... 14

A. Pengertian Pendidikan ... 14

B. Konsep Pendidikan Keluarga ... 21

C. Dasar dan Tujuan Pendidikan Keluarga ... 25

(8)

BAB III KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA MENURUT KI

HAJAR DEWANTARA ... 43

A. Biografi Ki Hajar Dewantara ... 43

B. Konsep Pendidikan Keluarga Menurut Ki Hajar Dewantara ... 53

C. Pendidikan Keluarga dan Pengaruhnya Terhadap Budi Pekerti ... 58

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA ... 62

A. Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga Perspektif Hadits-Hadits Nabi SAW ... 62

1. Tabulasi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Hadits-hadits Nabi SAW ... 62

2. Relevansi Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Hadits-hadits Nabi SAW ... 63

B. Sumbangan Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga ... 68

BAB V PENUTUP ... 73

A. Kesimpulan ... 73

B. Saran ... 74

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Istilah pendidikan berasal dari bahasa yunani dari kata “pais” artinya

anak dan “again” berarti membimbing.1 Pendidikan merupakan bimbingan

atau pertolongan yang diberikan dengan sengaja terhadap anak didik oleh

dewasa agar ia menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan

yang lebih tinggi dalam arti mental. Dengan demikian pendidikan berarti

segala usaha orang dewasa dalam pergaulan anak-anak untuk memimpin

perkembangan jasmani dan rohani.2

Kebutuhan manusia akan pendidikan merupakan suatu yang sangat

mutlak dalam hidup ini, dan manusia tidak bisa dipisahkan dari kegiatan

pendidikan. Fatah Yasin mengutip perkataan John Dewey yang juga dikutip

dalam bukunya Zakiyah Daradjat menyatakan bahwa “Pendidikan merupakan

salah satu kebutuhan hidup manusia guna membentuk dan mempersiapkan

pribadinya agar hidup dengan disiplin”.3

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peranan untuk

menjamin perkembangan dan kelangsungan kehidupan suatu bangsa,

sehingga dapat dikatakan bahwa maju mundurnya suatu bangsa sebagian

besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan di negara tersebut.

1 Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rieka Cipta, 1991), h.69. 2 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia,1998), hl.

(10)

2

Sementara ini orang beranggapan bahwa apabila berbicara tentang pendidikan

maka orientasinya ke dunia sekolah dan menghubungkannya dengan

guru dan murid. Mereka kurang menyadari sebelum seorang anak

memasuki dunia sekolah, mereka telah memperoleh pendidikan

yang diberikan oleh keluarganya, terutama ayah dan ibunya baik secara

langsung maupun tidak langsung.

Pendidikan secara langsung artinya bentuk asuhan orang tua yang

berkaitan dengan pembentukan kepribadian, kecerdasan dan keterampilan

yang dilakukan secara sengaja baik berupa perintah, larangan, hukuman

maupun pemberian hadiah sebagai alat pendidikan. Di dalam lingkungan

keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama,

karena dalam keluarga inilah anak mendapatkan pendidikan dan

bimbingan. Di samping itu keluarga merupakan wadah pertama dan

utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Jika suasana dalam

keluarga itu baik dan menyenangkan, maka anak akan tumbuh dengan baik

pula. Jika tidak, tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut.

Sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah

keluarga.4

Keluarga merupakan wahana yang mampu menyediakan kebutuhan

biologis dari anak, dan sekaligus memberikan pendidikannya sehingga

menghasilkan pribadi-pribadi yang dapat hidup dalam masyarakat sambil

(11)

3

)

menerima dan mengolah serta mewariskan kebudayaannya.5 Anak

merupakan amanah yang diberikan oleh Allah SWT kepada orang tuanya,

maka dari itu orang tua harus menjaga dan memelihara sebaik-baiknya serta

menyampaikan amanah tersebut kepada yang berhak menerimanya.

Orang tua bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak dalam

keluarga sejak lahir sampai mereka mampu menemukan dirinya sendiri dan

dapat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri.6 Keluarga berperan

sebagai pengarah yang dapat dilakukan sendiri, pertama-tama untuk

mendorong bakat yang baru muncul, kemudian orang tua mencarikan guru

yang baik untuk anaknya. Selain itu untuk menangani anak yang sedang

mengembangkan bakatnya, maka keluarga harus terus menerus mendorong

semangatnya dan menegur kelalaiannya apabila ia berteman dengan

anak yang kurang baik.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi:

(

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya dia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: setiap kelahiran (anak yang lahir) berada dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanya yang mempengaruhi anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Abu Daud).”

Hadits tersebut secara tersurat menandakan bahwa peran orang

tua dalam keluarga terhadap anak sangatlah mendasar. Lingkungan

5 Mahhfud Junaidi, Kiai Bisri Musthafa: Pendidikan Keluarga Berbasis Pesantren, (Semarang: Walisongo Press, Cet I, 2009), h.13.

(12)

4

yang mengitari anak secara tidak sadar merupakan alat pendidikan meskipun

kejadian atau peristiwa yang berada di sekeliling anak tidak dirancang

namun keadaan-keadaan tersebut mempunyai pengaruh terhadap pendidikan

baik positif maupun negatif.

Keluarga yang baik mencerminkan suasana keagamaan yang baik

sehingga bisa diandalkan sebagai pusat pendidikan pertama dan utama,

karena keluarga mempunyai tugas dalam mempersiapkan anak untuk

kemajuan di masa yang akan datang. Oleh karena itu keluarga harus

mengajarkan landasan bagi pribadi sehingga tidak mudah untuk diubah

walaupun dalam pergaulan sehari-hari dengan teman yang kurang

mendukung dalam bidang kemajuan dan perkembangan pribadi anak.7

Karena tujuan dari pendidikan baik keluarga maupun pendidikan

Islam sendiri bukan hanya ilmu pengetahuan, melainkan mendidik ahklak

dengan memperhatikan segi-segi kesehatan, pendidikan fisik dan mental,

perasaan dan praktek serta menyiapkan manusia menjadi anggota

masyarakat yang baik dan bertanggungjawab. Berdasakan uraian tersebut,

peneliti bermotivasi mengangkat tema ini dengan judul: Pemikiran Ki Hajar

Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga Perspektif Hadits-hadits Nabi

SAW.

(13)

5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dipaparkan di

atas maka ada beberapa permasalahan yang menjadi pokok kajian penulis

dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan

keluarga perspektif hadits-hadits Nabi SAW?

2. Bagaimana sumbangan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang

pendidikan keluarga konteks pola informal pada masa sekarang?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan penelitian di atas, maka tujuan yang hendak dicapai ini

adalah:

1. Untuk mengetahui pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan

keluarga perspektif hadits-hadits Nabi SAW tentang pendidikan.

2. Untuk mengetahui pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang cara

mendidikan anak perspektif hadits-hadits Nabi SAW tentang

pendidikan.

D. Manfaat Penelitian

1. Secara Teoretis dari penulisan skripsi ini, maka diharapkan akan

diperoleh pengetahuan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang

pendidikan keluarga dalam karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama

(14)

6

2. Secara Praktis, setelah konsep skripsi ini diperoleh, maka diharapkan

akan dapat dijadikan tuntutan bagi guru dan murid dalam rangka

mencapai tujuan pendidikan yang optimal, baik di dalam maupun di luar

proses belajar mengajar.

E. Definisi Operasional

Pemikiran : Merupakan aksi yang menyebabkan pikiran mendapat

pengertian baru dengan perantaraan hal yang sudah diketahui, atau

kegiatan akal manusia mencermati suatu pengetahuan yang telah ada

untuk mendapatkan atau mengeluarkan pengetahuan yang baru.8

Pendidikan keluarga: usaha sadar yang dilakukan orang tua, karena mereka

pada umumnya merasa terpanggil (secara naluriah) untuk

membimbing dan mengarahkan, pengendalian dan pembimbing

(direction control and guidance, konservatif (mewariskan dan

mempertahankan cita-citanya), dan progressive (membekali dan

mengembangkan pengetahuan nilai dan keterampilan bagi

putra-putri mereka sehingga mampu menghadapi tatanan hidup di masa

datang.9

Hadits Nabi : Segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan

persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan

ataupun hukum dalam agama Islam.

8 Jamaluddin, Berfikir Apa dan Bagaimana, (Surabaya: Indah, 1989), h.45.

(15)

7

F. Kajian Pustaka

Dengan adanya telaah pustaka adalah sebagai perbandingan terhadap

penelitian yang ada baik mengenai kekurangan atau kelebihan yang ada

sebelumnya. Di samping itu, telaah pustaka juga mempunyai andil besar

dalam rangka mendapatkan suatu informasi yang ada tentang teori-teori yang

ada kaitannya dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori

ilmiah, untuk itu penulis mengambil skripsi dan tesis yang judulnya hampir

sama dengan penelitian ini sebagai acuan bahan perbandingan dari penelitian

yang sudah dilakukan oleh beberapa mahasiswa terdahulu, antara lain:

Siti Roychana Nadziroh, dengan judul skripsi “Peran Pendidikan Keluarga dalam Pembentukan Karakter Displin Ibadah Anak Pada Keluarga

TNI Angkatan Laut (Studi Kasus di Rumdis Bhumi Marinir Karang Pilang

Surabaya)” skripsi ini membahas bagaimana peran pendidikan keluarga

menurut konsepsi Islam yang di implementasikan kedalam format pendidikan

keluarga TNI yang dapat membentuk dan membangun karakter disiplin pada

anak usia sekolah dasar untuk `berdisiplin waktu dan giat beribadah.

Sohabatul Munawarah dengan judul skripsi “Pola Pembentukan

Karakter Anak Melalui Pendidikan Ramah Anak Dalam Perspektif

Pendidikan Agama Islam. Kesimpulan skripsi ini penerapan konsep

pendidikan ramah anak baik secara umum dalam Pendidikan Islam meskipun

terdapat perbedaan dalam landasannya dimana dalam perspektif pendidikan

agama Islam berlandaskan pada al-Quran dan Hadis sedangkan konsep secara

(16)

8

namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk membentuk karakter anak

yang berkarakter positif (berakhlakul karimah) dengan pendekatan kasih

sayang dan berbasis humanistic.

Rodiyah, Cholifah. 2011. Judul Skripsi “Pendidikan Karakter

Dalam Perspektif Pemikiran Ki Hajar Dewantara”. Dalam penelitian ini Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk

memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak agar selaras dengan alam

dan masyarakatnya.

Maftuchatul Choiriyah dengan judul “Studi Komparasi Nilai

Pendidikan Akhlak dala Perspektif Ibnu Miskawaih dan Syed Muhammad

Naquib Al Atas.” Menyimpulkan bahwa konsep akhlak yang dikembangkan

oleh ibnu miskawiah dan syed Muhammad naquib al atas memiliki banyak

kesamaan dibandingkan perbedaannya, diatara persamaan-persamaan tersebut

adalah konsep keduanya sama-sama berlandaskan pada ontology (tauhid),

epistimologi (ilmu), dan aksiologi (akhlak/moral) yang mengacu pada Al

Quran dan Hadits, materi pendidikan akhlak, serta tujuan pendidikan akhlak.

Dari uraian kajian kepustakaan diatas penulis dapat memberikan

simpulan bahwa masih belum ada penelitian yang mengkaji tentang

Pemikiran Ki Hajar Dewantara Tentang Pendidikan Keluarga Perspektif

(17)

9

G. Metode Penelitian

1. Jenis dan Pendekatan Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitan ini adalah

kepustakaan (library research), yaitu penelitian yang menggunakan data

dan informasi dengan bantuan bermacam-macam dalam kepustakaan.

Analisis ini akan digunakan dalam usaha mencari dan mengumpulkan

data, menyusun, menggunakan serta menafsirkan data yang sudah ada.

Berdasarkan hal itu, maka penelitian ini akan menguraikan secara lengkap

terhadap suatu obyek penelitian, yaitu menjelaskan tentang Pemikiran Ki

Hajar Dewantara tentang Pendidikan Keluarga Perspektif Hadits-hadits

Nabi SAW tentang pendidikan.

2. Sumber Data

a. Data Primer yaitu hasil-hasil penelitian atau tulisan-tulisan

karya peneliti atau teoritisi yang orisinil.10 Dalam hal ini yaitu buku

Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan, tentang

pendidikan keluarga.

b. Data sekunder adalah sumber-sumber yang diambil dari sumber

lain yang tidak diperoleh dari sumber primer.11 Dalam hal ini adalah

buku- buku yang relevan dengan permasalahan di atas, yaitu

pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan keluarga, antara

lain:

10 Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kwantitatif dalam Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h.83.

(18)

10

1) Mahhfud Junaidi, Kiai Bisri Musthafa: Pendidikan

Keluarga

2) Berbasis Pesantren, Semarang: Walisongo Press, 2009.

3) Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

4) Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam,

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data berupa teknik dokumentasi atau

studi dokumenter yang menurut Suharsimi Arikunto yaitu

mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan,

transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan

sebagainya.12 Untuk menggali datanya, maka teknik dokumentasi atau

studi dokumenter menggunakan kitab-kitab, buku-buku, artikel dan

internet. Setelah data terkumpul, selanjutnya dilakukan pengolahan data

yang terkumpul untuk kemudian dilakukan deskripsi secara obyektif dan

sistematis.

4. Metode Analisis Data

Setelah data-data terkumpul, tahap selanjutnya adalah menganalisis

data. Sugiyono menegaskan bahwa analisis data adalah proses mencari

dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil

wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara

(19)

11

mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam

unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang

penting dan mana yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan

sehingga mudah difahami diri sendiri maupun orang lain.13

Dalam tahap ini peneliti menggunakan teknik yang dianggap

representatif untuk menyelesaikan pembahasan penelitian ini, yaitu:

analisis isi. Analisis isi adalah teknik penelitian untuk membuat

kesimpulan yang valid dan dapat diteliti ulang dari data

berdasarkan konteksnya.14 Berdasarkan definisi di atas, kegunaan

analisis isi adalah untuk keperluan mendeskripsikan secara obyektif dan

sistematis tentang isi dan manifestasi pemikiran Ki Hajar Dewantara

tentang pendidikan keluarga dalam buku karya Ki Hajar Dewantara

Bagian Pertama Pendidikan, tentang pendidikan keluarga. Analisis isi

sebagaimana diungkapkan oleh Noeng Muhadjir secara teknis mencakup

upaya:

1) Klasifikasi tanda-tanda yang dipakai dalam komunikasi

2) Menggunakan kriteria sebagai dasar klasifikasi

3) Menggunakan teknik analisis tertentu untuk membuat prediksi.

4) Penerapan analisis ini adalah dengan membaca, mencermati,

memahami, serta mendeskripsikan buku karya Ki Hajar Dewantara

Bagian Pertama Pendidikan.

13 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif Cet 4, (Bandung: Alfabeta, 2008), h.89.

14 Andi Prastowo, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan

(20)

12

H. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah pemahaman, sistematika pembahasan

dimaksudkan sebagai gambaran yang akan menjadi pokok bahasan dalam

penelitian ini sehingga memudahkan dalam memahami masalah-masalah

yang akan dibahas. Berikut sistematikanya:

BAB I : pendahuluan, pada bab ini terdapat latar belakang

Masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi

operasional, tinjauan pustaka, metode penelitian dan sistematika

pembahasan.

BAB II : Kajian teori tentang konsep pendidikan keluarga

perspektif hadits-hadits Nabi SAW, meliputi: pengertian pendidikan,

konsep pendidikan keluarga, macam-macam pendidikan, dasar-dasar dan

tujuan pendidikan, pengertian keluarga, pengertian pendidikan keluarga

serta memaparkan hadits-hadits Nabi saw tentang pendidikan keluarga.

BAB III : Pada bab ini didalamnya terdapat : Biografi Ki Hajar

Dewantara, meliputi: riwayat hidup, riwayat pendidikan, riwayat

karir/pekerjaan, karya-karya dan pemikiran umum Ki Hajar Dewantara

mengenai pendidikan di dalam keluarga. Selanjutnya menjelaskan tentang

konsep pendidikan keluarga serta pengaruhnya terhadap pendidikan budi

pekerti.

BAB IV : Analisis mengenai konsep pemikiran Ki Hajar

Dewantara tentang Pendidikan Keluarga berdasarkan hadits-hadits Nabi

(21)

13

keluarga dalam konteks pola informal terhadap pengaruh lingkungan saat

ini.

BAB V : Penutup, pada bab ini di dalamnya berisi kesimpulan

dari skripsi dan saran-saran dari penulis untuk perbaikan-perbaikan yang

mungkin dapat dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan daftar pustaka dan

(22)

BAB II

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA DAN HADITS-HADITS NABI SAW TENTANG PENDIDIKAN KELUARGA

A. Pengertian Pendidikan

Pendidikan secara etimologi disebut “Paedagogie” berasal dari

bahasa yunani, terdiri dari kata “Pais”, artinya anak, dan “Again, yang

diterjemahkan membimbing, jadi Paedagogie yaitu bimbingan yang

diberikan kepada anak.1

Dalam bahasa Inggris, pendidikan disebut education berasal dari kata

to educate berarti “mendidik”.2 Jadi mendidik adalah pengertian yang sangat

umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejala pendidikan.

Dalam arti yang luas meliputi semua perbuatan dan usaha dari generasi tua

untuk menyalurkan pengetahuan, pengalaman dan keterampilannya kepada

generasi muda sebagai usaha untuk memenuhi fungsi jasmani maupun

rohaniah.3

1 Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: Rieka Cipta, 1991), h.64. 2 John M.Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta: Gramedia,

1991), h.207.

3 R. Soegarda Poerbakawatja dan H.A.H. Harahap, Ensiklopedi Pendidikan, (Jakarta:

(23)

15

Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang berbunyi:

ْﻦَﻋَو

Barang siapa yang menempuh perjalanan dengan tujuan mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju surga” (HR Turmudzi).

Dari hadits tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan

adalah sebuah usaha untuk mencari ilmu. Dan mencari ilmu merupakan

kewajiban bagi setiap muslim, karena dengan ilmu manusia dapat

membedakan hal yang benar dan salah. Dan Allah akan meningkatkan derajat

orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu satu tingkat.

Para ahli juga banyak yang berpendapat tentang pendidikan.

Pendidikan menurut Ahmad D. Marimba, merupakan bimbingan dan

pimpinan secara sadar oleh si pendidikan terhadap perkembangan jasmani

dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.5

Sedangkan Menurut Ngalim Purwanto, mengemukakan bahwa pendidikan

ialah segala usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk

memimpin perkembangan jasmani dan rohani kearah kedewasaan.6

4 Muhammad bin Isa at Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi, (Maktabah Syamilah), versi 1, jilid

10, h.147.

5 Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: Al-Ma’rifat, 1989), h.19. 6 Ngaliktim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: Remaja Rosda

(24)

16

M. Arifin mengemukakan bahwa pendidikan yang benar adalah yang

memberikan kesempatan pada keterbukaan terhadap pengaruh dari dunia

luaran perkembangan dari diri anak didik.7

Dalam bahasan ini lebih ditekankan pada pemikiran Ki Hajar

Dewantara tentang pendidikan. Menurutnya pendidikan yaitu pada umumnya

berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan bathin),

pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan

masyarakat, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat

dapat mencapai keselamatan dan bahagia setinggi-tingginya.8

Menurut Ki Hajar Dewantara manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta

(kognitif), rasa (afektif) dan karsa (konatif). Pengembangan manusia

seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.

Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan

menghasilkan ketidaktahuan perkembangan sebagai manusia. Beliau

mengatakan bahwa pendidikan yang menekankan pada aspek intelektual

belaka hanya akan menjauhkan peserta didik dari masyarakatnya. Dan

ternyata pendidikan sampai sekarang ini hanya menekankan pada

pengembangan daya cipta dan kurang memperhatikan pengembangan oleh

rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang humanis

atau manusiawi. Dari titik pandang sosioantropologis, kekhasan manusia

yang membedakannya dengan makhluk lain adalah manusia itu berbudaya,

sedangkan makhluk lainnya tidak berbudaya. Maka salah satu cara yang

7 M. Arifin, Filasafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2000), h.18.

8 Kartini, Kartono, Bimbingan dan Dasar-dasar Pelaksanaannya, (jakarta:Rajawali,

(25)

17

efektik untuk menjadikan manusia lebih manusiawi adalah mengembangkan

kebudayaannya.

Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan

diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanis).

Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya

pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik

mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya.

Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.

Dari beberapa pendapat ahli pendidikan di atas, maka dapat diambil

kesimpulan bahwa pendidikan adalah salah satu proses bimbingan secara

sadar dari pendidik untuk mengembangkan kepribadian serta kemampuan

dasar seorang anak agar membu ahkan hasil yang baik, jasmani yang sehat,

kuat dan berketerampilan, cerdas dan pandai, hatinya penuh iman kepada

Allah SWT dan membentuk kepribadian ulama.

Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar dan terencana

untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta

didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan

spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak

mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan

negara.

Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila

dan Undang-Undang Dasar 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama,

(26)

18

Fungsi dan tujuan pendidikan nasional tercantum dalam UU Nomor 20 tahun

2003 bab II pasal 3.

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk

mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai

dengan tujuan pendidikan. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003

Pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri dari pendidikan

formal, non-formal dan informal.

1. Pendidikan Formal

Menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 merupakan

pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya.

Pendidikan formal didefinisikan sebagai jalur pendidikan yang terstruktur

dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah,

dan pendidikan tinggi.

2. Pendidikan Non-Formal

Pendidikan Non Formal dapat didefinisikan sebagai jalur

pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara

terstruktur dan berjenjang. Pendidikan non-formal paling banyak terdapat

pada usia dini, serta pendidikan dasar, adalah TPA, atau Taman

Pendidikan Al Quran, yang banyak terdapat di Masjid dan Sekolah

Minggu, yang terdapat di Gereja. Selain itu juga bebagai kursus,

diantaranya kursus musik, bimbingan belajar dan sebagainya.

Sebagai sasarannya, pendidikan non-formal diselenggarakan bagi

(27)

19

sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal

dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Fungsi dari pendidikan non-formal itu sendiri yakni

mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada

penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta

pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Pendidikan nonformal

meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini,

pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan,

pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja.

Pendidikan kesetaraan meliputi Paket A, Paket B dan Paket C,

serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan

peserta didik seperti: Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM),

lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, majelis taklim,

sanggar, dan lain sebagainya, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk

mengembangkan kemampuan peserta didik.

3. Pendidikan Informal

Pendidikan menurut Undang-Undang No 23 Tahun 2003 adalah

jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan secara

mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggungjawab.9 Hasil

pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan

non-formal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standart nasional

pendidikan.

9 Suprijanto, Landasan Pendidikan, (Surakarta: Universitas Muhammadiyah, 2005),

(28)

20

Alasan pemerintah menggagas pendidikan informal adalah:

 Pendidikan dimulai dari keluarga

 Informal diundangkan juga karena untuk mencapai tujuan

pendidikan nasional dimulai dari keluarga

 Homeschooling: pendidikan formal tapi dilaksanakan secara

informal.

 Anak harus dididik dari sejak ia dilahirkan.

Terdapat perbedaan mendasar antara Pendidikan formal, pendidikan

non-formal dan pendidikan innon-formal. Diantaranya yakni:

Pendidikan Formal Pendidikan Non-formal Pendidikan Informal

(29)

21

pendidikan adalah pemerintah atau swasta.

- Tenaga pengajar memiliki klasifikasi tertentu.

- Diselenggarakan dengan administrasi yang seragam.

- Terkadang ada ujian

- Dapat dilakukan oleh pemerintah atau swasta.

B. Konsep Pendidikan Keluarga

Seorang anak akan tumbuh dengan baik manakala ia memperoleh

pendidikan secara menyeluruh, agar kelak menjadi manusia yang berguna

bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama, oleh sebab itu makna pendidikan

tidaklah semata-mata hanya menyekolahkan anak ke sekolah untuk menimba

ilmu pengetahuan, namun lebih luas daripada itu.

Di dalam lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan

yang pertama dan utama, karena dalam keluarga inilah anak mendapatkan

bimbingan dan pendidikan. Keluarga juga dapat menjadi wadah partama dan

utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila suasana dalam

(30)

22

Jika sebaliknya tentu akan terhambatlah pertumbuhan anak tersebut. Sehingga

pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah keluarga.10

Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari

kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu

tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan yang

bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota

keluarga.

Fungsi dan peranan keluarga, disamping pemerintah dan masyarakat,

dalam Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Indonesia tidak terbatas

pendidikan keluarga saja, melainkan turut serta bertanggung jawab terhadap

pendidikan lainnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur

pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan

memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan.11

Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang

paling penting dan menentukan, karena itu tugas pendidikan adalah mencari

cara, membantu para orang tua dalam mendidik anak-anaknya dengan

optimal. Keluarga juga membina dan mengembangkan perasaan sosial anak

seperti menghargai kebenaran, toleransi, hidup hemat, hidup sehat, saling

tolong menolong, dll.12

10 Zakiyah Darajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: CV

Ruhama, 1995), h.47.

(31)

23

Pendidikan dalam keluarga mempunyai pengaruh yang sangat

signifikan dalam pembentukan karakter individu anak. Hal tersebut dapat

diwujudkan dengan adanya motivasi dan rangsangan kepada anak dalam

memahami, menerima dan meyakini serta mengamalkan ajaran Islam. Namun

jika di lingkungan keluarga terdapat pengaruh yang negatif seperti

menghalangi atau kurang menunjang anak dalam memahami, menerima dan

meyakini ajaran agama Islam tersebut, maka perlu penanaman ajaran

keimanan terlebih dahulu secara mendasar, dengan begitu orang tua akan

lebih mudah membentuk anak untuk mencapai akhlak yang mulia.13

Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan keluarga ini adalah suatu

tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial, sehingga

bolehlah dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih

sempurna sifat dan wujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk

melangsungkan pendidikan kearah kecerdasan budi pekerti dan sebagai

persediaan hidup kemasyarakatan.14

Dalam sejarah perkembangan Islam juga dapat diketahui bahwa

sebelum berdakwah kepada masyarakat luas, Rasulullah SAW, diperintahkan

untuk berdakwah kepada anggota keluarga dan kerabat dekatnya. Hal ini

menunjukkan bahwa kondisi keagamaan dan keselamatan keluarga harus

lebih diprioritaskan. Pada hakekatnya dari kebaikan dan keselamatan keluarga

akan muncul kebaikan dan keselamatan masyarakat dan negara. Hal ini sesuai

13 Mansur, Pendidikan Anak Usia Dini dalam Islam, h.319-320.

14 Ki Hajar Dewantara, Bagian Pertama Pendidikan, (Yogyakarta: Majelis Luhur Taman

(32)

24

dengan firman Allah SWT. Dalam QS. Al-Tahrim ayat: 06. Dia menyerukan

kepada orang-orang beriman untuk menjaga keselamatan keluarganya dari api

neraka.

ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﻫُدﻮُﻗَو اًرﺎَﻧ ْﻢُﻜﻴِﻠْﻫَأَو ْﻢُﻜَﺴُﻔْـﻧَأ اﻮُﻗ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ ﺎَﻳ

15

ُةَرﺎَﺠِْﳊاَو

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Q.S. al-Tahrim/66: 06)

Dalam ayat tersebut, Allah telah memerintahkan kepada orang-orang

yang beriman agar memelihara dirinya dan keluargnya yang terdiri dari istri,

anak, saudara, kerabat, hamba sahaya untuk taat kepada Allah. Dan agar ia

melarang dirinya beserta semua orang yang berada dibawah tanggung

jawabnya untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah. Supaya ia

mengajar, mendidik dan memimpin mereka dengan perintah Allah. Ini

merupakan kewajiban setiap muslim untuk mengajarkan kepada orang yang

berada di bawah tanggung jawabnya segala sesuatu yang telah diwajibkan

dan dilarang oleh Allah. Ayat tersebut juga mengisyaratkan bahwa atas dasar

tugas atau kedudukannya, orang tua mempunyai kewajiban mendidik

anak-anaknya sebagai upaya dalam memelihara dirinya dan keluarganya dari api

neraka. Oleh karena itu ayat tersebut dapat dijadikan dasar untuk pendidikan

anak dalam keluarga.

15 Departemen Agama, Al-Quran dan Terjemah, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989),

(33)

25

Berdasarkan pemaparan di atas bahwa pendidikan keluarga

merupakan tanggungjawab orang tua kepada anak, sebab anak merupakan

amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dirawat dan diperhatikan segala

kebutuhannya, baik jasmani maupun rohani. Hal tersebut dikarenakan

ketidakmampuan seorang anak dalam memelihara dirinya seorang diri. Sebab

sejatinya anak terlahir dalam kondisi serba tidak berdaya, belum mengerti

apa-apa dan belum dapat menolong dirinya, oleh sebab itu ia bergantung

kepada orang-orang terdekatnya terutama kedua orang tuanya.

C. Dasar dan Tujuan Pendidikan Keluarga 1. Dasar

Dasar pendidikan anak di sini merupakan pandangan yang

mendasari seluruh aktifitas dalam mendidik anak, baik dalam rangka

penyusunan teori, perencanaan maupun pelaksanaan pendidikan. Dalam

hal ini, lebih difokuskan pada pendidikan dalam keluarga yang berada di

bawah tanggung jawab kedua orang tuanya. Oleh sebab itu maka tentunya

orang tua mempunyai dan memerlukan landasan untuk memberikan arah

bagi pendidikan anaknya. Dasar adanya kewajiban orang tua untuk

mendidik anak-anaknya adalah yakni terdapat dalam firman Allah SWT

(34)

26

َو اًرﺎَﻧ ْﻢُﻜﻴِﻠْﻫَأَو ْﻢُﻜَﺴُﻔْـﻧَأ اﻮُﻗ اﻮُﻨَﻣآ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ﺎَﻬﱡـﻳَأ ﺎَﻳ

ُسﺎﱠﻨﻟا ﺎَﻫُدﻮُﻗ

16

ُةَرﺎَﺠِْﳊاَو

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (Q.S. al-Tahrim/ 66:6)

Dalam ayat di atas, Allah telah memerintahkan kepada orang-orang

yang beriman agar memelihara dirinya dan keluarganya yang terdiri dari

istri, anak, saudara, kerabat, hamba sahaya untuk taat kepada Allah SWT.

Dan agar dapat menjauhkan dirinya beserta keluarganya untuk tidak

melakukan hal yang dilarang oleh Allah SWT seperti kemaksiatan. Agar

ia mendidik dan mengajar dengan perintah Allah. Ini merupakan

kewajiban setiap muslim untuk mengajarkan untuk melaksanakan segala

sesuatu yang menjadi perintah Allah dan menjauhi segala

larangan-Nya.17 Ayat tersebut pula mengisyaratkan bahwa sebagai orang tua yang

memiliki kedudukan berkewajiban mendidik anak-anaknya sebagai

upaya dalam menjaga diri dan keluarganya dari siksa neraka. Oleh sebab

itu ayat tersebut dapat dijadikan sebagai sebagai dasar untuk pendidikan

dalam keluarga.

16 Ibid.

17 Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jilid IV (Jakarta: Gema

(35)

27

2. Tujuan

Tujuan merupakan apa yang dicanangkan oleh manusia, dijadikan

sebagai pusat perhatian dan demi merealisasikannya dengan cara menata

tingkah lakunya.18

Pada dasarnya tujuan pendidikan dalam keluarga adalah

menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri seseorang anak sedari kecil.

Dalam hal ini tujuan tersebut dapat terbagi dalam tiga aspek utama, yaitu

dari aspek pribadi, moral, dan sosial.

a) Aspek Pribadi

Pada aspek ini, tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah

mengajarkan kepada anak agar kedepannya menjadi pribadi yang

bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam artian anak kelak

mampu menjadi individu yang dapat menjaga nama keluarga dan

membanggakan bagi kedua orang tua.

b) Aspek Moral

Pendidikan dalam keluarga penting untuk memberikan bekal moral

bagi anak. Keluarga adalah tempat awal pendidikan dimulai.

Pendidikan moral dalam keluarga tidak hanya berisi penyampaian

mengenai apa yang salah. Anak pasti juga akan melihat tingkah laku

orang tuanya.

18 Abdurrahman an-Nahlawi, Usul al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Asalibuha, Terj. Herry

(36)

28

c) Aspek Sosial

Tujuan yang ingin dicapai oleh aspek ini adalah menciptakan

generasi yang berguna tidak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga

bagi lingkup sosial yang lebih besar. Sejak dini anak telah ditanamkan

nilai-nilai luhur agar mampu menjadi pribadi yang baik kedepannya.

Bekal yang ditanamkan dari orang tua bertujuan agar anak memiliki

kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuan pendidikan dalam

keluarga akan tercapai ketika orang tua juga belajar untuk

bertanggung jawab dengan perbuatannya agar semua aspek

pembelajaran dapat diterima oleh anak dengan baik.

Sebagai karakteristik pendidikan anak yang bercorak Islami, maka

tentunya dalam perumusan tujuan pendidikannya mengacu dan berpijak

pada hukum-hukum ajaran Islam. Dalam konsep Islam, anak dilahirkan

dalam keadaan yang suci, tetapi secara pengetahuan ia belum tahu

apa-apa. Namun mereka telah dianugerahkan oleh Allah yaitu berupa alat

indera, akal dan hati.19 Di sinilah pentingnya pendidikan bagi anak untuk

mengembangkan potensi yang dimilikinya.

(37)

29

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Nabi:

َﺮُﻫ ِْﰊَأ ْﻦَﻋ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ ﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪّﻠﻟا ُلْﻮُﺳَر َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ُﻪْﻨَﻋ ﻪﱡﻠﻟا َﻲِﺿَر َةَﺮْـﻳ

ْﻮُـﻳ ٍدْﻮُﻟْﻮَﻣ ﱡﻞْﻛ َﻢﱠﻠَﺳَو

ِﻪِﻧاِﺮﱢﺼَﻨُـﻳْوَأ ِﻪِﻧاَدﱢﻮَﻬُـﻳ ُﻩاَﻮَـﺑَﺄَﻓ ِةَﺮْﻄِﻔْﻟا ﻰَﻠَﻋ ُﺪَﻟ

20

(دواد ﻮﺑأ ﻩاور) ِﻪِﻧﺎَﺴﱢﺠَُﳝْوَأ

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya dia berkata bahwa Rasulullah saw telah bersabda: setiap kelahiran (anak yang lahir) berada dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang mempengaruhi anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Abu Daud).”

Hadits tersebut menjelaskan bahwa peran orang tua dalam keluarga

terhadap anak sangatlah mendasar. Lingkungan disekitar anak secara

tidak sadar merupakan alat pendidikan meskipun peristiwa sekeliling

anak tidak ada unsur kesengajaan namun keadaan tersebut mempunyai

pengaruh terhadap pendidikan baik positif maupun negatif.

Adapun tujuan pendidikan anak dalam Islam dapat dilihat dari

kesimpulan Muhammad Fadllil al-Jamali. Ia menyimpulkan bahwa

tujuan pendidikan anak berdasarkan al-Qur’an adalah:21

a) Mengenalkan anak akan perannya di antara sesama manusia dan

tanggungjawab pribadinya di dalam hidup.

b) Mengenalkan anak-anak terhadap interaksi sosial dan tanggung

jawabnya dalam tata kehidupan.

20 Abu Daud Sulaiman, Sunan Abi Daud, (Maktabah Syamilah), versi 1, jilid 4, h.229. 21 Muhammad Fadlli al-Jamali, al-Falsafah at-Tarbiyah fi al-Quran, Terj. Judi

(38)

30

c) Mengenalkan anak tentang memahami hikmah akan terciptanya alam

serta bagaimana cara memanfaatkannya.

d) Mengenalkan anak akan pencipta alam ini (Allah) dan

memerintahkan beribadah kepada-Nya.

Dari pemaparan keempat tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa

pendidikan anak yang diberikan dalam lingkungan keluarga oleh orang

tuanya, bertujuan untuk membentuk anak menjadi manusia yang bertaqwa

kepada Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.

Berdasarkan rumusan tujuan diatas, maka dapat diformulasikan bahwa

tujuan pendidikan anak adalah untuk mengembangkan potensi-potensi (fitrah)

anak sehingga terbentuk kepribadian manusia Kamil yang mengabdi kepada

Allah SWT. Serta mampu mengemban amanat Allah sebagai khalifah di

muka bumi. Dengan demikian tujuan pendidikan tersebut selaras dengan

tujuan diciptakannya manusia oleh Allah yaitu untuk menjadi khalifah di

muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah ayat 30 yang

berbunyi:

22

ًﺔَﻔﻴِﻠَﺧ ِضْرﻷا ِﰲ ٌﻞِﻋﺎَﺟ ﱢﱐِإ ِﺔَﻜِﺋﻼَﻤ ْﻠِﻟ

َﻚﱡﺑَر َلﺎَﻗ ْذِإَو

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi".” (Q.S. al-Baqarah: 30)

Di samping untuk mengabdi kepada Allah, tujuan Allah menciptakan

manusia itu dapat diketahui dari firman Allah yang berbunyi:

(39)

31

23

ِنوُﺪُﺒْﻌَـﻴِﻟ ﻻِإ َﺲْﻧﻹاَو

ﱠﻦِْﳉا ُﺖْﻘَﻠَﺧ ﺎَﻣَو

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat: 56)

Dengan demikian jelas bahwa tujuan pendidikan anak dalam keluarga

adalah selaras dan sejalan dengan tujuan diciptakannya manusia. Yaitu

terbentuknya insan kamil, yang mengabdi kepada Allah dan mampu menjadi

khalifah di muka bumi.

Berpedoman pada pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan

pendidikan anak adalah agar anak menjadi muttaqin, insan yang

berkepribadian muslim dan insan kamil. Kesemuanya itu menghendaki insan

yang mengabdi kepada Allah SWT secara tulus. Sehingga dalam

perwujudannya baik perilaku lahir, kegiatan-kegiatan jiwanya, sikap, minat,

falsafah hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian serta

penyerahan dirinya kepada Allah.

D. Telaah Hadits-Hadits Nabi SAW Tentang Pendidikan Keluarga

Tahapan seorang manusia dapat dikatakan sebagai individu yang

dapat berdiri sendiri dan pada umumnya disebut sebagai seorang anak, harus

melalui beberapa proses yang cukup panjang yaitu:

1. Masa dalam Kandungan (Prenatal)

Dalam masa ini pendidikan yang dilakukan oleh calon ayah dan

ibu pada saat masih dalam kandungan. Orang tua melakukan pendidikan

terhadap calon anak secara lahir dan batin. Setelah diketahui

(40)

32

perkembangan anak dalam kandungan mulai beberapa tahap. 40 hari

pertama masih embrio belum terlihat bentuknya, 40 hari kedua menjadi

arah kental (alaqah) mulai tampak permulaan munculnya wajah

panjangnya sekitar 2,5 cm, 40 hari ketiga menjadi segumpal daging

(mudghah) panjang sekitar 12,5 cm, mulai terbentuk manusia. Jari-jari

tangan dan kaki serta alat kelamin eksternal terbentuk. Setelah sempurna,

turunlah malaikat untuk meniupkan roh disertai catatan empat perkara

yakni: rezeki, umur, amal dan nasib.24 Rasulullah saw bersabda:

َﺣ ِﻊﻴِﺑﱠﺮﻟا ُﻦْﺑ ُﻦَﺴَْﳊا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

“Sesungguhnya, seorang dari kalian dikumpulkan

penciptaannya dalam rahim ibu selama 40 hari menjadi mani. Kemudian menjadi segumpal darah selma itu pula. Menjadi segumpal daging selama itu pula. Selanjutnya diutuslah malaikat untuk meniup roh atasnya serta menulis empat ketetapan, yakni: rezeki, umur, amal dan nasibnya.”

Dari hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah menciptakan

manusia dari (saripati) tanah, setelah itu fase berikutnya adalah:

24 Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren: Pendidikan Alternatif Masa Depan,

(Jakarta: Gema Insani Press, 1997), h.27.

25 Muhammad bin Ismail al Bukhari, Shahih Bukhari, (Maktabah Syamilah), versi 1, jilid

(41)

33

a) Fase Nutfah yaitu fase terpancarnya air mani ke dalam vagina (rahim

perempuan) kemudian terjadilah pembuahan (yaitu bertemunya sel

sperma dan sel telur). Pada fase ini sel sperma tersebut kemudian

mengental.

b) Fase Alaqah adalah fase pembentukan manusia berupa segumpal

darah meski demikian jaringan orang tubuh sudah mulai terbentuk.

c) Fase Mudhgah adalah fase pembentukan manusia berupa segumpal

daging. Pada fase ini sudah berupa janin yang sudah sempurna dan

bernyawa dengan ditiupkan ruh oleh malaikat, setelah itu janin

tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya hingga waktunya

untuk dilahirkan ke dalam dunia ini.26

2. Masa Bayi dan Menyusui

Masa ini disebut juga Masa Radhi, berkisar antara umur 0 sampai 2

tahun dan Masa Fathim yaitu masa ketika anak disapih (dilepas dari ASI)

waktu anak berumur 2 tahun. Masa bayi berlangsung sejak dilahirkan

sampai berumur 2 tahun, pada masa bayi inilah seorang ibu dianjurkan

untuk menyusui anaknya sampai genap umur 2 tahun, sesuai firman Allah

SWT:

ِﰲ ُﻪُﻟﺎَﺼِﻓَو ٍﻦْﻫَو ﻰَﻠَﻋ ﺎًﻨْﻫَو ُﻪﱡﻣُأ ُﻪْﺘَﻠََﲪ ِﻪْﻳَﺪِﻟاَﻮِﺑ َنﺎَﺴْﻧﻹا ﺎَﻨْـﻴﱠﺻَوَو

27

ُﲑِﺼَﻤْﻟا ﱠَﱄِإ َﻚْﻳَﺪِﻟاَﻮِﻟَو ِﱄ ْﺮُﻜْﺷا ِنَأ ِْﲔَﻣﺎَﻋ

26 Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, Cet 1 (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

2005), h.61.

(42)

34

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapak; ibunya telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Q.S. Luqman/31:14).

Berikut adalah pola umum pertumbuhan dan perkembangan sejak

lahir sampai usia 1 tahun dengan saran yang sebaiknya dilakukan oleh

orang tuanya:

a) Umur 0-1 bulan

Waktu lebih banyak untuk tidur, beberapa kali menggeliat dan

menyusu. Pada masa ini jangan biarkan bayi kedinginan.

b) Umur 1-2 bulan

Lebih sering terjaga. Mulai dapat mendesis, dapat melihat benda

sekeliling. Coba biasakan bayi dengan udara di luar rumah.

c) Umur 2-3 bulan

Mulai mengedip-ngedipkan mata. Ada yang mulai mengangkat

badanya dan tengurap. Pada masa ini ibu jangan selalu memegang si

bayi, biarkan dia bergerak sendiri.

d) Umur 3-4 bulan

Tertawa dan mulai menghisap jarinya. Mulai dapat mengangkat

kepala sedikit lebih tinggi. Hentikan pemberian susu di waktu malam,

(43)

35

e) Umur 4-5 bulan

Mulai dapat memegang. Mulai dapat mengenal ibu sendiri daripada

orang lain. Mulai dapat tengkurap.

f) Umur 5-6 bulan

Memasukkan apa saja yang dipegang ke dalam mulut. Dapat

mengubah sendiri posisi tidur. Mulai mengenal orang. Diharapkan

dapat menjauhkan barang-barang berbahaya yang dapat dijangkau

bayi.

g) Umur 6-7 bulan

Mulai dapat berdiri sejenak. Dapat memindahkan mainan dari tangan

satu ke tangan lain. Pada masa ini kekebalan yang dimiliki sejak lahir

mulai berkurang.

h) Umur 7-8 bulan

Gigi mulai tumbuh. Merespon bila namanya dipanggil. Mulai dapat

memegang mainan dengan kedua tangan. Sediakan makanan untuk

disuapkan dua kali sehari.

i) Umur 8-9 bulan

Mulai dapat meniru orang. Ada yang sudah mulai merangkak, apabila

ini terjadi diharapkan para orang tua hati-hati supaya bayi tidak

sampai mendekati tempat berbahaya.

j) Umur 9-10 bulan

Dapat merangkak lebih kuat dan mantap. Ada bayi yang mulai dapat

(44)

36

biskuit, dan sejenisnya. Pada masa inilah saat terbaik untuk latihan

menggunakan toilet.

k) Umur 10-11 bulan

Dapat berdiri tegak dengan pegangan. Ada bayi yang mulai dapat

berjalan dengan pegangan. Mulai dapat mengucapkan kata-kata

papa-mama atau ayah-ibu, dll. Orang tua agar lebih hati-hati karena pada

masa ini anak mulai dapat bergerak ke sana ke mari.

l) Umur 11-12 bulan

Dapat mengucapkan kalimat pendek. Pada masa ini kenalkan bayi

dengan kalimat yang baik (kalimat thayyibah) dan nama-nama benda

sekitar. Mulai pula menyuapkan nasi secara teratur tiga kali sehari

membiarkan anak makan sendiri.28

3. Masa Anak/Kanak-kanak

Masa ini disebut juga sebagai masa Shabi, berlangsung dari usia 2

tahun sampai dengan 12 tahun, pada masa inilah anak mulai lebih

mengenal keadaan lingkungan sekitar, bermain, sekolah di playgroup,

Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar sampai tamat.

Masa ini merupakan masa pembentukan pribadi dan karakter anak

yang ditandai dengan pertumbuhan fisik dan psikis anak yang pesat. Oleh

sebab itu pada masa ini peran keluarga sangat penting dalam membentuk

(45)

Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu menjalankan ibadah salat jika mereka sudah berusia tujuh tahun. Dan jika mereka sepuluh tahun, maka pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah tempat tidur mereka”.

Dari hadits di atas tampak sebuah metode pendidikan anak yaitu:

Pertama, perintah anak untuk melakukan shalat pada usia 7 tahun. Kedua,

setelah usia 10 tahun, bila seorang anak masih terlihat belum

melaksanakan sholat, padahal orang tua sudah mengingatkannya orang

tua boleh dengan peringatan yang agak keras yaitu memukul anak

tersebut pada bagian yang tidak membahayakan. Ketiga, pada masa ini

anak menginjak usia puber (baligh), maka diantara mereka harus sudah

dipisahkan tempat tidurnya. Pada fase ini pendidikan dan pengarahan

orang tua sangat penting karena anak memiliki kecenderungan untuk lebih

mudah terpengaruh oleh temannya dari pada orangtua dan anggota

keluarga lainnya, kecenderengan ini akan hilang setelah anak memasuki

masa remaja.

29 Heri Jauhari Muchtar,..., h.66-67.

(46)

38

Berikut ini adalah ciri-ciri perkembangan masa kanak-kanak:

a) Pra Sekolah (2-6 tahun)

1. Ingin berkembang menjadi independen, mandiri, dan tidak ingin

ditolong

2. Mulai memasuki lingkungan di luar rumah

3. Proses persiapan memasuki Sekolah Dasar

4. Terjadi perkembangan sikap sebagai bekal pergaulan

Masa ini ditandai pula dengan perilaku anak suka berkumpul atau

berkelompok, menjelajah, bertanya, dan meniru.

b) Sekolah Dasar

1. Masa Anak Usia 6-9 tahun:

- Ada kecenderungan memuji diri sendiri

- Kalau tidak menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap

tidak penting

- Pada masa ini anak menghendaki (angka) rapor yang baik,

tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi

nilai baik atau tidak.

2. Masa Anak usia 9-12 tahun:

- Dalam bermain mempunyai peraturan sendiri

- Sangat realistis, ingin tahu, dan ingin belajar.

- Minat tertuju pada kehidupan praktis konkrit sehari-hari

(47)

39

Pada masa sekolah dasar pada umumnya dikenal dengan masa

berkelompok dan penyesuaian diri. Bagi orang tua usia ini sebagai

masa sulit, karena pendapat kelompok lebih diikuti daripada orang

tua.

Sedangkan bagi pendidik masa usia tersebut sangat

memerlukan pendidikan agama, anak harus dipisah dari tempat tidur

bersama orang tuanya. Mulai dikenalkan ucapan, sifat dan perbuatan

apa saja yang baik dan apa saja yang buruk. Selanjutnya anak dilatih

untuk melaksanakan rukun Islam, yakni syahadad, shalat, puasa,

membayar zakat dan mulai mengenal ibadah haji.

4. Masa Remaja

Masa remaja disebut juga masa Ghulam. Masa dimana disebut

sebagai masa peralihan (transisi) dari masa anak-anak ke masa dewasa.

Secara fisik terlihat sudah menyerupai dewasa, namun secara psikis ia

belumlah dewasa. Usia pada masa remaja ini berkisr antara 12-20 tahun.

Secara biologis masa remaja ditandai dengan perubahan bentuk

fisik yang sangat pesat, seperti perubahan suara, tumbuhnya bulu pada

bagian terentu, tumbuhnya jakun (pada pria), mulai membesarnya organ

tubuh tertentu (pada wanita), serta fungsinya organ-organ seksual baik

pada pria maupun wanita.

Pada masa ini seringkali remaja bersifat mencoba hal-hal baru dan

mulai memiliki seseorang atau tokoh yang dijadikan sebagai idola atau

(48)

40

pencarian dan pembentukan karakter. Namun hal tersebut tidak semuanya

bersifat positif, ada pula yang malah melakukan

penyimpangan-penyimpangan akibat lepasnya kendali dari orang tua mereka, misalnya

perkelahian, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas,

dll. Disinilah peran orangua pendidik dan pemerintah sangat penting agar

remaja tidak terjerumus dalam perbuatan negatif.

Dalam menyikapi hal tersebut, perlu adanya kebutuhan akan

perhatian khusus untuk remaja, diantaranya adalah:

a) Kebutuhan akan kasih sayang

b) Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok

c) Kebutuhan mandiri

d) Kebutuhan untuk berprestasi

e) Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain

f) Kebutuhan untuk dihargai

g) Kebutuhan untuk memperoleh fasilitas hidup

Tentu semua kebutuhan tersebut tidak lepas dari peran orang tua

yang membimbing dan mendidik putra-putrinya agar tumbuh sesuai

dengan fitrahnya, yakni dengan pendidikan agama Islam.31

5. Masa Dewasa

Masa ini disebut juga masa Syab, berkisar antara umur 21-40

tahun. Bagi mereka yang sudah mencapai masa ini sebenarnya sudah

mencapai usia menikah, dengan syarat apabila sudah mampu dalam hal

(49)

41

fisik, psikis dan materi. Pada masa dewasa ini ada beberapa ciri utama

yaitu matang (secara fisik maupun psikis), mandiri (tidak bergantung

kepada orang lain), dan bertanggungjawab pada setiap apa yang telah dia

lakukan.

Selain itu ada beberapa kemampuan atau hal-hal yang sudah

seharusnya dimiliki dan dilakukan oleh orang dewasa yaitu:

a) Memiliki teman bergaul

b) Belajar hidup bersama dengan suami/istri

c) Mulai hidup dalam keluarga

d) Belajar mengasuh anak-anak

e) Mengelola rumah tangga

f) Mulai bekerja dalam suatu jabatan

g) Mulai bertanggungjawab sebagai warga Negara secara layak

h) Memperoleh kelompok sosial yang sesuai dengan nilai-nilai

pemahamannya.

Apabila diperhatikan kedelapan kemampuan tersebut hampir

seluruhnya merupakan tugas dan kewajiban sebagai orang tua dalam

keluarga. 32

6. Masa Tua

Menurut para ahli psikologi, khususnya para ahli psikologi

perkembangan, masa ini merupakan masa akhir kehidupan manusia. Masa

tua berlangsung antara 60 tahun hingga meninggal dunia. Masa ini

(50)

42

ditandai dengan perubahan-perubahan kemampuan motorik yang semakin

menurun.33

Keadaan masa tua digambarkan dalam Al-Quran dan Hadits, antara

lain sebagai berikut:

ﱠﻦَﻐُﻠْـﺒَـﻳ ﺎﱠﻣِإ ﺎًﻧﺎَﺴْﺣِإ ِﻦْﻳَﺪِﻟاَﻮْﻟﺎِﺑَو ُﻩﺎﱠﻳِإ ﻻِإ اوُﺪُﺒْﻌَـﺗ ﻻَأ َﻚﱡﺑَر ﻰَﻀَﻗَو

ُﺪَﺣَأ َﺮَـﺒِﻜْﻟا َكَﺪْﻨِﻋ

ْﻞُﻗَو ﺎَُﳘْﺮَﻬْـﻨَـﺗ ﻻَو ﱟفُأ ﺎَﻤَُﳍ ْﻞُﻘَـﺗ ﻼَﻓ ﺎَُﳘﻼِﻛ ْوَأ ﺎَُﳘ

34

ﺎًﳝِﺮَﻛ ﻻْﻮَـﻗ ﺎَﻤَُﳍ

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al-Isra’:23).

Dan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yang artinya:

“Peliharalah kasih sayang orangtuamu, janganlah engkau putuskan jika

engkau putuskan, maka Allah akan memadamkan cahayamu.”

Maksud hadits di atas berbuat baik pada orangtua itu diwajibkan

oleh Allah SWT kepada setiap manusia, dan barang siapa tidak

mengacuhkan orangtuanya (putus hubungan) maka dikemudian hari Allah

menghapuskan cahaya dari mereka atau mereka tidak dapat petunjuk dan

tidak mendapat pertolongan Allah SWT.

33 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo

Persada, 2006), h.45.

(51)

43 BAB III

KONSEP PENDIDIKAN KELUARGA MENURUT KI HAJAR DEWANTARA

A. Biografi Ki Hajar Dewantara

Raden Mas Soewardi Soeryaningrat terlahir di Yogyakarta pada

tanggal 2 Mei 1889, bertepatan dengan 1330 H dan wafat pada 26 April 1959

(berusia 70 tahun). Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun

Caka, berganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Sejak saat itu ia tidak lagi

menggunakan gelar kebangsaannya di depan namanya. Hal ini dimaksudkan

supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Dilihat dari leluhurnya, ia adalah putra dari Suryaningrat, putra Paku

Alam III. Perjalanan hidupnya benar-benar diwarnai dengan perjuangan dan

pengabdian demi kepentingan bangsanya. Ia menamatkan Sekolah Dasar di

ELS (Sekolah Dasar Belanda), kemudian sempat melanjutkan ke Sekolah

Guru (Kweek School), tetapi belum sempat menyelesaikannya, ia pindah ke

STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra), tapi tidak sampai tamat pula karena

sakit. Kemudian ia bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar antara

lain Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Koem Moeda,

(52)

44

Tulisan-tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotok sehingga mampu

membangkitkan semangat antiokolonial bagi pembacanya.1

Pada tahun 1912, nama Ki Hajar Dewantara dapat dikategorikan

sebagai tokoh muda yang mendapat perhatian Cokroaminoto untuk

memperkuat barisan Syarikat Bandung Islam cabang Bandung. Oleh karena

itu, ia bersama dengan Wignyadisastra dan Abdul Muis, yang masing-masing

diangkat Ketua dan Wakil Ketua, Ki Hajar Dewantara diangkat sebagai

sekretaris. Namun keterlibatannya dalam Syarikat Islam ini terhitung singkat,

tidak genap satu tahun. Hal ini terjadi, karena bersama dengan Douwes

Dekker (Danudirja Setyabudhi) dan Cipto Mangunkusumo, ia diasingkan ke

Belanda (1913) atas dasar orientasi politik mereka yang cukup radikal.

Kemudian alasan lain yakni Ki Hajar jauh lebih mengaktifkan dirinya pada

program Indische Partij (Partai politik pertama yang beraliran nasionalisme

Indonesia) yang didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 yang bertujuan

untuk mencapai Indonesia merdeka.2

Sebagai tokoh pergerakan politik dan tokoh pendidikan nasional, Ki

Hajar Dewantara tidak hanya terlibat dalam konsep dan pemikiran melainkan

juga aktif sebagai pelaku yang berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari

penjajahan Belanda dan Jepang melalui pendidikan yang diperjuangkannya

melalui sistem Pendidikan Taman Siswa yang didirikan dan diasuhnya.

Sebagai tokoh Nasional pula yang disegani dan dihormati baik oleh kawan

maupun lawan, Ki Hajar Dewantara sangat kreatif, dinamis, jujur, sederhana,

(53)

45

`

konsisten, konsekuen dan berani. Wawasan beliau sangat luas dan tidak

berhenti berjuang untuk bangsanya hingga akhir hayat. Perjuangan beliau

dilandasi dengan rasa ikhlas yang mendalam, disertai rasa pengabdian dan

pengorbanan yang tinggi dalam mengantar bangsanya ke alam merdeka.3

Karena pengabdiannya terhadap bangsa dan negara, pada tanggal 28

November 1959, Ki Hajar Dewantara ditetapkan sebagai “Pahlawan

Nasional”. Dan pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan

tanggal lahir Ki Hajar Dewantara tanggal 2 Mei sebagai “Hari Pendidikan

Nasional” berdasarkan keputusan Presiden RI Nomor: 316 tahun 1959.4

Selain mendapat pendidikan formal di lingkungan Istana Paku Alam

tersebut, Ki Hajar Dewantara juga mendapat pendidikan formal antara lain:

1) ELS (Europeesche Legere School). Sekolah Dasar Belanda III.

2) Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta.

3) STOVIA (School Tot Opvoeding Van Indische Arsten) yaitu sekolah

kedokteran yang berada di Jakarta. Pendidikan di STOVIA ini tak dapat

diselesaikan karena Ki Hajar Dewantara sakit.5

4) Europeesche Akte, Belanda 1914.

Selain itu, Ki Hajar Dewantara memiliki karir dalam dunia jurnalistik,

politik dan juga sebagai pendidik, diantaranya:

3 Ki Hariyadi, Ki Hadjar Dewantara sebagai Pendidik, Budayawan, Pemimpin Rakyat, dalam Buku Ki Hadjar Dewantara dalam Pandangan Para Cantrik dan Mentriknya, (Yogyakarta: MLTS, 1989), h.39.

4 Ki Hajar Dewantara, Karya Bagian I: Pendidikan, (Yogyakarta: MLPTS, cet. II, 1962), h.XIII.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...