1
I. PENDAHULUAN
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes spp.
Aedes aegypti adalah vektor utama dari penyakit DBD. A. albopictus merupakan vektor sekunder DBD yang biasanya hidup dikebun atau pekarangan rumah, kecuali daerah dengan ketinggian di atas 1000 m di atas permukaan laut (Suyasa, 2008).
Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar diseluruh wilayah Jawa Tengah, dan saat ini endemik hampir di seluruh kabupaten yang ada. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Banyumas diketahui memiliki 30 kecamatan dan Kota Purwokerto adalah ibukota Kabupaten Banyumas. Purwokerto memiliki 4 kecamatan dan kasus terbanyak DBD pada tahun 2013 ada di Kecamatan Purwokerto Selatan, hingga mencapai 43 penderita yang tersebar di 7 kelurahan. Tahun 2010-2013 Kecamatan Purwokerto Selatan menjadi daerah endemik DBD selama 4 tahun berturut-turut sampai tahun 2013, tercatat hampir setiap tahunnya 12 penderita DBD terdapat di Kelurahan Teluk (Puskesmas Purwokerto Selatan, 2013). Kelurahan Teluk memiliki luas kurang lebih 351,4 ha dengan jarak setiap rumah yang satu dengan yang lainnya sekitar 1-5 meter. Kejadian DBD yang tinggi di Kelurahan Teluk, dipengaruhi dengan jumlah penduduk yang padat di Kelurahan Teluk yaitu lebih dari 13.392 jiwa (BPS Kabupaten Banyumas, 2013).
Berdasarkan survey terdahulu menunjukkan Kelurahan Teluk memiliki kondisi lingkungan yang mendukung untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes
spp. Mulai dari kelembaban nisbi berkisar 40%-70%, intensitas cahaya yang tinggi, kepadatan penduduk yang tinggi, jarak rumah yang tidak lebih dari 5 meter apalagi kawasan perumahan, temperatur berkisar 27°-34°C, kondisi geografis kurang dari 500 mdpl, dan kebersihan lingkungan yang kurang baik, kondisi tersebut sangat mendukung untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes spp. Penelitian yang dilaporkan (SEARO, 2008) menunjukan terdapat hubungan antara kepadatan penduduk dengan kejadian penyakit DBD disuatu wilayah yang padat penduduknya memudahkan terjadinya penularan penyakit DBD. Demikian juga
2
antara keberadaan kontainer dengan kejadian penyakit DBD yaitu keberadaan jumlah kontainer yang ada disetiap rumah mempunyai risiko terjadinya kasus DBD lebih besar dibandingkan dengan keberadaan jumlah kontainer yang lebih sedikit. Jumlah kontainer tersebut mempengruhi kepadatan nyamuk. Kepadatan nyamuk adalah banyaknya nyamuk perspesies pada setiap jam yang menghisap darah manusia, dapat ditentukan menggunakan rumus MHD (Man Hour Density) yaitu jumlah nyamuk yang tertangkap per spesies dibagi jumlah jam penangkapan dikalikan jumlah pengumpan. Pola makan nyamuk yang menggigit berkali-kali membuat parousitas tinggi. Parousitas yang tinggi mempengaruhi kepadatan karena parousitas merupakan bagian dari perkembangbiakan nyamuk. Nyamuk parous adalah nyamuk yang pernah bertelur dapat diamati ketika dilakukan pembedahan ovarium nyamuk tracheolus dan ujung pipa-pipa udaranya sudah terurai sedangkan nyamuk nulliparous adalah nyamuk yang belum pernah bertelur dilihat dari tracheolus masih rapat dan ujung pipa-pipa udara masih menggulung dan belum mengalami dilatasi. (Marzuki, 2005).
Salah satu upaya untuk mencegah penularan, maka perlu diadakan survey kepadatan dan pemeriksaan ovarium nyamuk A. aegypti dan A. albopictus untuk mengetahui dugaan resiko penularan DBD di Kelurahan Teluk. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk menjawab permasalahan sebagai berikut:
1. Berapa kepadatan nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penyakit demam berdarah dengue di Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan.
2. Berapa nilai parousitas nyamuk betina Aedes spp. yang ditangkap di Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan.
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Mengetahui kepadatan nyamuk Aedes spp. vektor penyakit demam berdarah dengue di Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan.
2. Mengetahui nilai parousitas nyamuk Aedes spp. vektor penyakit demam berdarah dengue di Kelurahan Teluk Kecamatan Purwokerto Selatan.
Manfaat dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan informasi potensi wilayah Kelurahan Teluk yang memiliki penyebaran DBD tinggi, kepada masyarakat agar mengetahui kondisi lingkungannya dari bahaya penyakit demam berdarah yang ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes spp. Manfaat untuk Dinas
3
Kesehatan Kabupaten Banyumas yang dalam hal ini menangani masalah kesehatan yang ditunjuk oleh Pemerintah sebagai data dan acuan untuk lebih memperhatikan lingkungan yang endemis demam berdarah. Puskesmas dan Rumah sakit di Purwokerto Selatan sebagai data untuk KDRS (Kewaspadaan Dini Rumah Sakit), Civitas akademika untuk menambah ilmu dan wawasannya agar dapat mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan vektor DBD dan pengendaliannya.