PENGUATAN KARAKTER SISWA MIM BANDAR 1 MELALUI PERMAINAN TRADISIONAL ENGKLEK
Linda Sri Hastutik1, Sugiyono2, Afid Burhanuddin3
1,2,3Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, STKIP PGRI Pacitan
[email protected]1, [email protected]2, [email protected]3
Abstrak : Tujuan peneletian ini yaitu: 1) untuk mengetahui penerapan permainan tradisional engklek dalam pembelajaran, 2) untuk mengetahui karakter apa yang bisa dikuatkan melalui permainan tradisional engklek. Penellitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Waktu penelitian yaitu bulan Februari-Juli 2021. Subjek penelitian adalah 5 orang siswa MIM (ke 5 subjek adalah siswa kelas 3) di lingkungan Dusun Tratas Desa Bandar dan dua guru MIM (seorang guru kelas 3 dan seorang kepala sekolah). Metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini yaitu: (1).
Reduksi data, (2).Penyajian data, (3). Penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini: 1) permainan tradisional engklek dapat digunakan sebagai media, model, dan pendekatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013. Penelitian ini juga menunjukan bahwa siswa mampu memahami permainan engklek, menguasai dan juga mempraktekan dengan baik. 2) penguatan karakter siswa MIM Bandar 1 melalui permainan tradisional engklek dalam kategori cukup baik diantaranya karakter jujur, kerja keras, tanggung jawab, dan juga toleransi. Pada aspek pemahaman, hampir semua siswa mampu memahami permainan engklek ini.
Kata Kunci: Karakter, Engklek, Permainan tradisional.
Abstract : The aims of this research were: 1) to find out the application of the traditional engklek game in learning, 2) to find out what characters can be strengthened through the engklek traditional game. This research is a qualitative research using an ethnographic approach. The time of the study was February-July 2021. The research subjects were 5 MIM students (the 5 subjects were 3rd grade students) in Dusun Tratas Desa Bandar and two MIM teachers (a 3rd grade teacher and a principal). Methods of data collection used observation, interviews, and documentation. The data analysis used in this research were:
(1). Data reduction, (2). Data presentation, (3). Conclusion drawing. The results of this study: 1) the traditional engklek game can be used as a medium, model, and learning approach in accordance with the 2013 curriculum. This research also showed that students were able to understand the engklek game, master it and also practice it well. 2) character strengthening of MIM Bandar 1 students through traditional engklek games was in a fairly good category including honest characters, hard work, responsibility, and tolerance. In the aspect of understanding, almost all students were able to understand this engklek game.
Keywords: Character, Engklek, Traditional game.
PENDAHULUAN
Pendidikan dan budaya selalu menyatu baik dalam hal nilai-nilai yang ada dalam budaya tersebut maupun pengetahuan yang terdapat di dalam kebudayaan. Hal tersebut menjadikan unsur kebudayaan sangat penting dalam proses pendidikan. Pendidikan yang berbudaya menjadikan manusia tetap mengingat akan budayanya dan berperilaku sesuai nilai-nilai budaya sehingga manusia tidak lupa akan budaya dan sifat serta nilai yang terkandung dalam kebudayaan tersebut.Kebudayaan juga memiliki kaitan yang
masih dimainkan di berbagai daerah sampai sekarang ini merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional yang masih dan berkembang di setiap daerah di Indonesia.
Permainan tradisional merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun temurun dan mempunyai bermacam-macam fungsi atau pesan dibaliknya. Permainan tradisional merupakan hasil budaya yang besar nilainnya bagi anak-anak dalam rangka berfantasi, berekreasi, berkreasi, berolah raga yang sekaligus sebagai sarana berlatih untuk hidup bermasyarakat, keterampilan, kesopanan serta ketangkasan. Permainan tradisional yang telah lahir sejak ribuan tahun yang lalu merupakan hasil dari proses kebudayaan manusia zaman dahulu yang masih kental dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Meskipun sudah sangat tua, ternyata permainan tradisional memiliki peran edukasi yang sangat manusiawi bagi proses belajar seorang individu, terutama anak-anak. Dikatakan demikian, karena secara alamiah permainan tradisional mampu menstimulasi sebagai aspek-aspek perkembangan anak yaitu: motoric, kognitif, Bahasa,sosial, spiritual, ekologis, dan nilai-nilai/moral Misbach dalam Irman (2017).
Pada zaman sekarang anak-anak jarang mengenal permainan tradisional bahkan ada yang tidak yang tidak mengenal permainan tradisional. Kemajuan teknologi yang pesat ternyata juga mempengaruhi aktivitas bermain anak. Sekarang anak-anak sering bermain permainan video games, playstation (PS), dan games online. Permainan ini memiliki kesan sebagai permainan modern kerena dimainkan menggunakan peralatan yang canggih dengan teknologi yang mutakhir, yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan permainan anak tradisional. Permainan anak tradisional kadang tidak membutuhkan peralatan saat bermain kalaupun ada peralatan yang digunakan hanyalah peralatan yang sederhana yang mudah didapatkan, dan biasanya ada disekitar anak saat bermain, seperti batu , ranting kayu, atau daun kering.
Kenyataannya siring dengan berjalannya waktu permainan tradisional khususnya permainan tradisional engklek seperti kehilangan tempat di hati anak-anak zaman sekarang, teknologi seperti mengambil alih peran permainan tradisional sehingga sedikit demi sedikit permainan tradisional terkikis keberadaannya. Apalagi seperti saat masa pandemic covid-19 seperti ini anak-anak lebih tertarik bermain gadget dirumah daripada bermain permainan tradisional diluar rumah karena adanya aturan menjaga jarak akibat pandemic.
Langkah-langkah bermain engklek ialah sebelum bermain terlebih dahulu menggambar bentuk engklek nya setelah sudah Digambar masing-masing peserta mencari gacuk atau batu yang akan di lempar pada kolom-kolom kosong Digambar tersebut. Lalu menentukan siapa yang main, terlebih dahulu dilakukan undian dengan cara suit, yang menang suit itulah yang main duluan.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek teori pengetahuan (cognitive), perasaan (felling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaanya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pendidikan karakter disekolah sangat diperlukan, walaupun dasar dari pendidikan karakter adalah didalam keluarga. Kalua seorang anak mendapat pendidikan karakter yang baik dari keluarganya, anak tersebut akan berkarakter baik pada tahap selanjutnya. Namun banyak orang tua yang lebih mementingkan aspek kecerdasan otak ketimbang pendidikan karakter.
Fakta tersebut juga ditemui di salah satu sekolah dasar di kabupaten Pacitan.
berdasarkan studi awal penelitian di MIM Bandar 1, yang dimulai dari bulan Maret 2020, siswa MIM tersebut lebih senang bermain gadget atau games online daripada bermain permainan tradisional. Siswa lebih mudah memainkan games online yang tersebar luas di dunia maya apalagi di tambah dengan kondisi pandemic seperti ini.
Pada umumnya siswa senang mencoba hal-hal yang baru karena games selalu ada pembaruan, dapat dimainkan setiap saat secara individual maupun tim, dan juga banyak variasinya. kondisi ini berbeda dengan karakteristik jenis permainan tradisional.
diketahui bahwa ada siswa yang mengalami kesulitan bermain permainan tradisional contohnya congklak, karena mereka kurang terbiasa memainkanya. Temuan ini menunjukan bahwa terdapat siswa MIM yang senang bermain gadget atau bermain game online.
Permainan tradisional gobag sodor, bekel, memancing, laying-layang ,boi- boiunan, kasti dan lain sebagainya kurang diminati karena keterbatasan permainan tradisional tersebut. Siswa lebih terlihat antusias Ketika memainkan gadget dan juga game online dari pada permainan tradsional hal tersebut karena permainan tradisional sudah jarang di mainkan oleh anak-anak zaman sekarang. Akan tetapi tidak menutup
bersanding dengan permainan berbasis teknologi jika Lembaga pendidikan dan masyarakat memfasilitasinya. Oleh karena itu, peran pendidik di perlukan untuk melestarikan kebudayaan sebagai kekayaan bangsa.
Pendidikan karakter, menurut Megawangi dalam Muslich Masnur (2011), “ sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikkanya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.” Definisi lainnya dikemukakan oleh Fakry Gaffar (2010:1): “sebuah transformasi nilai-nilai kehidupan untuk ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu”.
Upaya penguatan karakter siswa disekolah salah satunya dapat diwujudkan melalui penggunaan permainan tradisional didalam pembelajarannya. Masnur Muslich (2011:86-87) Menjelaskan bahwa Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan,dieksplisitkan,dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai tidak hanya pada tataran kognitif,tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengalaman nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Fakta di lapangan, pemanfaatan sumber belajar berbasis budaya belum popular digunakan guru. Ini berdasarkan studi awal (hasil pengamatan dan wawancara kepada guru kelas 3 MIM Bandar 1) menunjukkan permainan tradisional pernah di praktekkan di sekolah namun jarang diintegrasikan dalam pembelajaran. alat permainan tradisional yang dapat dikembangkan sebagai sumber belajar bervariasi, mudah di buat dan dirancang, serta mudah ditemukan di sekitar siswa namun ini kurang digunakan sebagai alat bantu belajar sehingga siswa jenuh karena tidak ada hal yang berbeda dan menarik pada pembelajaran.jika guru menggunakan sumber belajar berupa permainan tradisional yang sering dimainkan siswa, ini akan menarik siswa pada pembelajaran di kelas . hal ini karena permainan yang sering mereka gunakan sudah dikenal baik oleh siswa.
Upaya melestarikan permainan tradisional pada tingkat SD/MI dapat membantu siswa memahami konsep di setiap mata pelajaran dalam situasi belajar yang bernmakna dan menyenangkan. Alat permainan tradisional engklek memiliki konsep dalam bentuk
visual maupun gerak secara interaktif dengan memanfaatkan teknologi atau menjadi games yang interaktif. Ini dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan media atau sumber belajar berbasis budaya akan mentransfer iptek secara kontekstual. Harapanya adalah siswa akan mengetahiui bahwa pemainan tradisional yang dimainkan ada hubunganya dengan mata pelajaran tersebut. Berdasarkan temuan awal ini maka perlu dikaji lebih mendalam tentang konsep penggunaan alat tradisional dalam pembelajran melalui penelitian dengan judul “Penguatan Karakter Siswa MIM Bandar 1 Melalui Permainan Tradisional Engklek”
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif sebagaimana dikemukakan oleh (Moleong, 2017: 6) adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian. Menurut Arikunto dalam Mustagfiroh Nurlaela (2014) mengemukakan bahwa “ pendekatan kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati”. Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian bertujuan untuk mencari data secara merata siswa tentang penguatan karakter siswa. Penelitian ini untuk mendeskripsikan suatu keadaan, melukiskan dan menggambarkan pelaksanaan pendidikan karakter di MIM Bandar 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang disajikan secara deskriptif. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif.
Penelitian ini dilaksanakan di MIM Bandar 1 yang beralamatkan di RT 02, RW 05,Dusun Tratas, Desa Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. MIM Bandar 1 memiliki letak yang strategis karena terletak di pinggir jalan.
Mudah diakses oleh berbagai kendaraan baik kendaraan umum maupun pribadi.
Penelitian ini dilakukan pasda awal semester II tahun pelajaran 2020/2021 tepatnya pada bulan Februari-Juli 2021. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III MIM Bandar 1, yang berjumlah 5 orang siswa, 1 guru kelas, dan kepala sekolah. Berdasarkan pertimbangan pihak sekolah dan keadaan di lapangan, dari sampel yang ada maka 5 orang siswa dapat diamati pada kegiatan bermain engklek, siswa-siswa di observasi, dan di wawancarai lebih lanjut. Hal ini karena keterbatasan waktu penelitian dan juga adanya wabah pandemi covid-19 yang menjadi hambatan peneliti untuk berkomunikasi
purposive sampling dengan pertimbangan adanya kesesuaian penelitian dengan kelas yang akan diteliti.
Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi.
Wawancara digunakan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai penguatan karakter siswa melalui permainan tradisuonal engklek. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik, dilanjutkan analisis dengan menggunakan Milles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis data observasi, wawancara, dan dokumentasi yang telah diuraikan diperoleh hasil bahwa: Siswa mengetahui dan memahami dengan baik permainan tradisional engklek. Terdapat penguatan karakter di dalam permainan tradisional engklek. Permaianan tradisional engklek terdapat hubungan dengan pembelajaran kurikulum k 13.
Hasil wawancara dengan subjek guru dan siswa permainan tradisional engklek dapat digunakan sebagai media, metode dan pendekatan pembelajaran kurikulum 2013.
Hanya bagaimana cara guru menempatkan alat tradisional tersebut, sebagai metode, model dan, pendekatan pembelajaran. Selain itu, permainan tradisional engklek dapat digunakan dan dibuat dimana saja. Hal tersebut karena sekarang pembelajaran learing by doing atau belajar sambil melakukan, anak-anak senang belajar dengan melakukan atau mengalami dan mengamati sendiri. Hal tersebut sesuai dengan kurikulum 2013 mengajar siswa bermain sambil belajar. Hal tersebut akan menyenangkan bagi siswa.
permainan tradisional engklek yang digunakan adalah permainan tradsional engklek gunung. Bentuknya hampir sama dengan engklek robot yang membedakan hanyalah garis lengkung yang di gambar di ujung. Sedangkan engklek robot garis di ujungnya berbentuk kotak bukan lengkung. di dalam permainan tradisional engklek terdapat 8 kotak dan satu garis lengkung (berbentuk gunung).
Cara bermain permainan tradisional engklek cukup sederhana dengan melompat menggunakan satu kaki di setiap petak-petak (kotak-kotak) yang telah digambarkan sebelumnya di tanah. Untuk bermain setiap anak harus mempunyai kereweng atau gacuk (panggal) yang biasanya berupa pecahan genting, keramik lantai ataupun batu yang datar. Kereweng/gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar ditanah, petak yang ada gacuknya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para
pemain harus lompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada. Saat melemparkannya tidak boleh melebihi kotak yang sudah disediakan jika melebihi maka dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya. Pemain yang menyelesaikan putaran terlebih dahulu melempar gacuk dengan cara membelakangi engkleknya, jika pas pada petak yang dikehendaki maka petak itu akan menjadi ‘ sawah’nya, artinya dipetak tersebut pemain yang bersangkutan dapat menginjak petak tersebut dengan dua kaki, sementara pemmain lain tidak boleh menginjak petak itu selama permainan. Peserta yang memiliki ‘sawah’ paling banyak adalah pemenangnya.
Permainan ini sangat seru karena biasanya paling sering kesalahan yang dilakukan adalah saat kita melempar gacuk tidak pas di kotaknya atau meleset dari tempatnya.
penguatan karakter yang diperoleh melalui permainan tradisional engklek sebagai berikut: Penguatan karakter jujur, Jujur merupakan karakter yang terbentuk dari sikap amanah, Yaumi (dalam Andika Novriyansah, dkk: 2017). Penguatan karakter kerja keras, kerja keras adalah perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi dalam berbagai hambatan belajar serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya Wibowo (dalam Eko Suryanto, dkk: 2017). Penguatan tanggung jawab, melakukan atau menyelesaikan tugas (ditugaskan oleh sesorang, atau diciptakan oleh janji sendiri atau keadaan) yang seseorang harus penuhi, dan yang mempunyai konsekuensi hukuman terhadap kegagalan keras dan juga penguatan karakter toleransi, Salah satu contoh penguatan karakter toleransi dalam permaianan tradisional engklek bisa gender dalam pembagian tugas saat bermain.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan data dan pembahasan yang telah dilakukan serta dijabarkan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Pertama, melalui permainan tradisional terdapat kaitannya dengan pembelajaran, permainan tradisional engklek dapat digunakan sebagai media, model ,pendekatan pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2013 yang berlaku saat ini, karena konsep permainan yang cocok dengan kurikulum 2013 yaitu learning by doing atau belajar sambil melakukan, dengan begitu siswa akan lebih mudah menyerap materi pelajaran karena mereka melakukan, dan mengamati sendiri media pembelajran yang digunakan.
Kedua, tedapat juga penguatan karakter di dalam permainan tradisional engklek.
Hal ini dilihat pada saat proses bermain anak-anak menunjukan penguatan karakter, dari karakter jujur yang ditujukkan ketika mereka memiliki rasa malu saat berbuat curang dengan temannya, karakter kerja keras ditujukkan dengan mereka berupaya menyelesaikan permainan dari awal hingga selesai dengan peraturan kaki engleng, kemudian karakter tanggung jawab yang mereka tonjolkan ketika diberikan peraturan harus menyelesaikan permainan hingga selesai dan mereka menyelesaikan nya dengan penuh tanggung jawab, yang terakhir karakter toleransi yang ditunjukan saat bermain mereka dengan seneng hati bergantian dengan temannya yang lain.
Saran
Penelitian ini diharapkan mampuu memberikan masukan dan manfaat bagi pembaca utamanya siswa dan guru. Bagi siswa hendaknya lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran dan mrngurangi kegiatan yang tidak prnting pada saat pembelajaran, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lancer. Bagi guru sebaiknya dapat mengelola pembelajaran dengan baik dan lebih kreatif lagi dalam mencari referensi untuk diterapkan pada pembelajaran utamanya untuk pembentukan penguatan karakter siswa melalui permainan tradisional. Salah satu media pembelajaran yang dapat merangsang keaktifan siswa ketika pembelajaran adalah media permainan. Bagi peneliti lain penelitian ini telah dilakukan sesuai sistematika dan metode penelitian. Hasil penelitian yang dilakukan peneliti ini dapat dpat ditindak lanjuti oleh peneliti lain dengan lebih cermat dan lebih luas terkait lokasi penelitian maupun materi ajar.
DAFTAR PUSTAKA
Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta. PT Bumi Aksara.
Kesuma, Triatna Cepi dan Permana Johar. 2011. Pendidikan Karakter. Bandung. PT Remaja Rosdakarya Offset.
Gustiana Mega Anggita, Siti Baitul Mukarromah & Mohammad Arif Ali (2018) dengan judul “Eksistensi Permainan Tradiaional Sebagai Warisan Budaya Bangsa”, Journal Of Science And Education (Jossae) Vol:3, No : 2, Tahun 2018. Diunduh tanggal 18 April 2021 pukul 15.01.
Tuti Andriani (2012) dengan judul “Permainan Dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini” , Journal Sosial Budaya Vol 9 No.1, Tahun 2012. Diunduh tanggal 31 Oktober 2020 pukul 09.22.
Fad Aisyah. 2019. Kumpulan Permaian Anak Tradisional Indonesia. Niaga Swadaya.
Lukman Hakim Alfajar (2014) dengan judul penelitian “Upaya Pengembangan Pendidikan Karakter Di Sekolah Dasar Negeri Sosrowijayan”. Diunduh pada tanggal 09 november 2020 pukul 14.00.
Arifin, Zaenal. 2010. Metodologo Penelitian Pendidikan. Surabaya Lentera Cedekia
Sugiyono. 2015. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
Yudesta Erfayliana (2015) dengan judul penelitian “Pendidikan Jasmani Dalam Membentuk Etika, Moral, Dan Karakter” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Vol 2 No. 2, Tahun 2015. Diunduh pada tanggal 19 April 2021 Pukul 09.11.
Rifa Pramasanti,dkk. (2020) dengan judul penelitian “Implementasi Pendidikan Karakter Tanggung Jawab dan Kerja Sama dalam Pembelajaran Tematik Kurikulum 2013 Di SD Negeri 2 Berkoh” Jurnal Papeda Vol 2, No.1, Januari Tahun 2020. Diunduh pada tanggal 26 Juli 2021 Pukul 11:31.
Eko Suryanto, dkk. (2017) dengan judul penelitian “Pembentukan Karakter Kerja Keras Pada Siswa Melalui Kegiatan Hizbul Wathan” Jurnal HISTORIKA Vol.20, No. 1 Tahun 2017. Diunduh pada tanggal 26 Juli 2021 Pukul 13:00.