• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KOMPETENSI PENGETAHUAN IPA SISWA KELAS IV SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KOMPETENSI PENGETAHUAN IPA SISWA KELAS IV SD"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE TERHADAP KOMPETENSI PENGETAHUAN IPA

SISWA KELAS IV SD

Ni Pt. Tanya Aryani1, I. B. Surya Manuaba2, I Ngh. Suadnyana3

1,2,3 Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]1, [email protected]2 [email protected]3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017. Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini eksperimental yaitu quasi eksperiment (eksperimen semu) dengan menggunakan rancangan kelompok non-ekuivalen. Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas IV SD Negeri Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017. Sampel diambil dengan teknik random sampling. Data yang dikumpulkan adalah data kompetensi pengetahuan IPA dan dianalisis dengan uji-t. Setelah dianalisis dengan uji-t, diperoleh thitung = 3,333 dan pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dengan dk = 72 diperoleh ttabel = 2,000.

Berdasarkan kriteria pengujian, thitung = 3,333 > ttabel (α = 0,05,72) = 2,000. Dengan demikian, terdapat perbedaan yang sigifikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Think Talk Write (TTW) dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA yang diperoleh kelompok eksperimen Me = 0,41 > Me = 0,26 rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA yang diperoleh kelompok kontrol. Dapat disimpulkan terdapat pengaruh model pembelajaran Think Talk Write (TTW) terhadap kompetensi pengetahuan IPA pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017.

Kata kunci: model pembelajaran Think Talk Write, kompetensi pengetahuan IPA.

Abstract

The aim of this research is to determine significant diferences knowledge competence of natural science the student group that studied through Think Talk Write (TTW) learning model and the student group that studied through conventional learning model for students in the 4th grade of elementary school at SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik in 2016/2017 year of study. The type of this research experimental, in this case is quasi eksperiment that use non-equivalent group design. The population of this research all of the students in the 4th grade of elementary school at SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik in 2016/2017 year of study. The sample of this research is taken by random sampling technic. The collected data is natural science knowledge competence and analyzed with t-test. After being tested by t-test, it is obtain that thitung

= 3,333 in 5% ( =0,05) of significant standard with dk = 72 and ttabel(α = 0,05,72) = 2,000.

According to the test criterion thitung = 3,333 > ttabel(α = 0,05) = 2,000. Therefore, there are significant differences of natural science knowledge competence between the student

(2)

2

group that studied by Think Talk Write (TTW) learning model and the student group that studied through conventional learning for students in the 4th grade of elementary school at SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik in 2016/2017 year of study.The result showed an average gain score of natural science knowledge competence obtained by experiment group Me = 0,41 > Me = 0,26 an average gain score of natural science knowledge competence by control group. So, it can be conclude there was the influence of Think Talk Write (TTW) learning model to natural science knowledge competence for students in the 4th grade of elementary school at SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik in 2016/2017 year of study.

Keywords : Think Talk Write learning model, natural science knowledge competence.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (1) Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat dikatakan tujuan pendidikan nasional memengaruhi potensi peserta didik. Ada beberapa jenjang dalam pendidikan, salah satunya jenjang sekolah dasar. Sekolah dasar merupakan jenjang yang berperan penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Tujuan pendidikan sekolah dasar yaitu memberi bekal kemampuan dasar yang berguna bagi siswa berdasarkan tingkat perkembangannya.

Oleh karena itu, sistem pengelolaan pendidikan harus bisa menciptakan perubahan yang lebih baik. Perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan memang seharusnya terjadi seiring dengan perubahan kehidupan.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk menciptakan perubahan yang lebih baik yaitu dengan pengembangan kurikulum.

Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bentuk pembaharuan dan inovasi terhadap kualitas pendidikan.

Perubahan kurikulum didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan kurikulum.

Kurikulum bersifat dinamis, yaitu harus terus beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan yang ada. Kurikulum yang diterapkan di Indonesia merupakan kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan karakteristik siswa, lingkungan belajar, dan sumber belajar khususnya pada tingkat sekolah dasar. Menurut Kurniasih dan Sani (2014:7), “kurikulum 2013 merupakan serentetan rangkaian penyempurnaan terhadap kurikulum yang pernah dirintis tahun 2004 yang berbasis kompetensi lalu diteruskan dengan kurikulum 2006 (KTSP)”.

Kurikulum 2013 lebih ditekankan pada kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Kemampuan guru dalam mencari tahu pengetahuan sebanyak- banyaknya merupakan hal yang dituntut dalam Kurikulum 2013 karena siswa zaman sekarang telah mudah mencari informasi dengan bebas melalui teknologi yang berkembang saat ini. Selain itu, siswa didorong untuk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antarpersonal, maupun memiliki kemampuan berpikir kritis. Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 dilaksanakan menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah juga dapat disebut pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik meliputi pengalaman belajar mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik sangat cocok diterapkan untuk muatan materi IPA, karena selama ini IPA hanya dibelajarkan dengan menghafal sehingga kurang menarik bagi siswa. Pendekatan saintifik dapat membuat muatan materi IPA menjadi

(3)

3 lebih menarik dan bermakna karena siswa diberikan kesempatan untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui berbagai kegiatan, sehingga pengetahuan yang didapat oleh siswa tidak bersifat hafalan semata. Hal ini akan membuat pengetahuan yang diterima tidak cepat dilupakan.

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada tanggal 20 Januari 2017 dengan mewawancarai wali kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik, dapat diketahui jumlah keseluruhan siswa kelas IV dari 3 sekolah dengan 5 kelas adalah 179 siswa.

Selain itu, dijelaskan terdapat banyak siswa yang masih mengalami kesulitan dalam muatan materi IPA, terutama pada kompetensi pengetahuannya. Dilihat dari nilai ulangan umum semester I, siswa kelas IV di SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik, sebagian besar hasil kompetensi pengetahuan IPA siswanya belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan yakni 75,00 (Sumber: Informasi dari wali kelas IV di SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik). Berkaitan dengan hal tersebut, banyak faktor yang memengaruhi, salah satunya karena semua kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru. Walaupun telah menggunakan pendekatan saintifik, yaitu pendekatan yang mengedepankan aktivitas siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendiri secara aktif melalui kegiatan mengamati,

menanya, mengumpulkan

informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan hasil belajar.

Namun hal tersebut, tidak didukung oleh kemampuan siswa sendiri. Siswa masih bergantung pada guru dan masih perlu dibimbing untuk membiasakan diri dalam mencari dan membuka wawasannya sendiri. Hal ini tentunya, menciptakan kondisi pembelajaran yang kurang menarik dan menyenangkan, sehingga siswa merasa cepat bosan. Kondisi tersebut juga membawa pengaruh terhadap hasil belajarnya.

Pelaksanaan pembelajaran di kelas perlu didesain secara kreatif dan inovatif dengan memperhatikan karakteristik perkembangan siswa kelas IV. Berdasarkan permasalahan tersebut, dipandang perlu adanya inovasi dalam pembelajaran, yakni

pembelajaran yang mengutamakan kompetensi pengetahuan, berpusat pada siswa, memberikan pengalaman belajar, dan relevan dengan kehidupan nyata.

Salah satu inovasi yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah model pembelajaran Think Talk Write (TTW).

Model pembelajaran TTW merupakan kegiatan pembelajaran yang mendorong siswa mampu untuk berpikir, berbicara dalam diskusi sehingga interaksi siswa dapat terjalin, dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu yang dilandasi argumen yang logis dan ilmiah. Penggunaan model pembelajaran TTW juga dapat menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga, model tersebut efektif untuk membuat inovasi suasana pola diskusi kelas. Hal ini dikarenakan model pembelajaran TTW dimulai dari alur berpikir (think) melalui kegiatan membaca, berbicara (talk) melalui kegiatan diskusi, bertukar pendapat dan menulis (write) melalui kegiatan menuliskan hasil diskusinya tanpa menghilangkan pendekatan saintifik sebagai ciri khas Kurikulum 2013. Suasana ini lebih efektif, jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini, siswa diminta membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengarkan dan membagi ide bersama teman, kemudian mengungkapkannya melalui tulisan. Selain itu, model pembelajaran TTW dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna dalam pembelajaran serta meningkatkan minat dan partisipasi juga dapat meningkatkan pemahaman dan daya ingat siswa (Ambari, 2013).

Terkait dengan permasalahan tersebut, dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write (TTW) terhadap Kompetensi Pengetahuan IPA pada Siswa Kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik Tahun Ajaran 2016/2017.

Berdasarkan uraian diatas, adapun tujuan dari penelitian ini, yaitu, (1) untuk mendeskripsikan kompetesi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017; (2) untuk

(4)

4 mendeskripsikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017; (3) untuk mengetahui perbedaan yang signifikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017.

METODE

Penelitian ini dilaksanakan di SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik. Pemilihan gugus ini sebagai tempat penelitian karena SD di Gugus tersebut memiliki beberapa aspek pendukung agar penelitian dapat berjalan dengan baik. Aspek pendukung yang dimaksud yaitu seluruh SD di Gugus I Gusti Ngurah Jelantik menerapkan kurikulum yang sama yaitu kurikulum 2013.

Masalah dalam penelitian ini juga ditemukan di SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik dan di gugus tersebut belum pernah diadakan penelitian dengan model pembelajaran TTW. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai bulan Juni 2017. Kegiatan yang dilakukan selama penelitian dimulai dari pengajuan judul dan penyusunan proposal hingga laporan penelitian ini selesai.

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini eksperimental yaitu quasi eksperiment (eksperimen semu) dengan menggunakan rancangan kelompok Non- ekuivalen. “Dalam rancangan ini, ada dua kelompok subyek satu mendapat perlakuan dan satu kelompok sebagai kelompok kontrol” (Setyosari, 2015:210). Pretest diberikan untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kemudian diberikan perlakuan, yaitu dengan memberikan perlakuan model pembelajaran TTW kepada kelompok eksperimen. Setelah diberikan perlakuan, dilakukan posttest untuk mengetahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan akhir

eksperimen. Pada tahap persiapan eksperimen kegiatan yang dilakukan yaitu, 1) mempersiapkan sarana pendukung pembelajaran, 2) menyusun instrumen penelitian berupa tes kompetensi pengetahuan IPA, 3) mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan ahli, 4) mengadakan validasi instrumen penelitian, 5) menentukan sampel penelitian dengan undian, 6) sampel yang telah didapat, kemudian dilakukan pretest, 7) Setelah sampel dinyatakan setara dengan menguji kesetaraan berdasarkan data hasil pretest, sampel kemudian diundi untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelas yang pertama muncul saat undian dijadikan kelompok eksperimen sedangkan kelas kedua yang muncul dijadikan kelompok kontrol. Pada tahap pelaksanaan eksperimen, kegiatan yang dilakukan adalah memberikan perlakuan kepada kelompok eksperimen berupa model pembelajaran TTW sebanyak 6 kali.

Kelompok kontrol dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional sebanyak 6 kali. Pada tahap akhir eksperimen, kegiatan yang dilakukan adalah memberikan posttest untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Menurut Sugiyono (2014:117),

“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas : objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Populasi dalam penelitian ini siswa kelas IV di SD Negeri yang terdapat pada Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017 yang berjumlah 179 siswa. Populasi tersebut terdiri dari 3 sekolah dan 5 kelas yaitu, 3 kelas di SD N 28 Dangin Puri, 1 kelas di SD N 17 Dangin Puri, dan 1 kelas di SD N 21 Dangin Puri.

Penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling.

Sugiyono (2014:132) mengemukakan

“Karena teknik pengambilan sampel adalah random, maka setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel”.

Pengambilan sampel secara acak dilakukan dengan undian. Pemilihan sampel dalam penelitian ini tidak dilakukan pengacakan individu, karena tidak mungkin mengubah

(5)

5 kelas yang telah terbentuk sebelumnya.

Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti, kemungkinan pengaruh-pengaruh dari keadaan siswa mengetahui dirinya dilibatkan dalam eksperimen dapat dikurangi sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ketua Gugus I Gusti Ngurah Jelantik diketahui bahwa tidak ada kelas unggulankan atau dianggap sama. Oleh karena itu, undian dilakukan terlebih dahulu.

Pengundian tahap pertama untuk memilih dua kelas yang dijadikan sampel penelitian dari seluruh populasi. Setelah dua kelas terpilih, maka kedua kelas tersebut diberikan pretest. Nilai atau skor dari pretest yang dilakukan tersebut, digunakan untuk mengetahui kesetaraan sampel secara akademik. Kesetaraan sampel digunakan uji-t dengan rumus polled varian. Pengundian tahap kedua untuk menentukan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelas yang muncul pertama saat diundi dijadikan sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelas yang muncul kedua dijadikan sebagai kelompok kontrol. Berdasarkan hasil undian, diperoleh kelas IV SD N 17 Dangin Puri berjumlah 36 siswa yang muncul pertama dijadikan sebagai kelompok eksperimen dan kelas IV SD N 21 Dangin Puri berjumlah 38 siswa yang muncul kedua dijadikan sebagai kelompok kontrol.

Sugiyono (2014:193) mengemukakan,

“Pengumpulan data dapat dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara”. Teknik pengumpulan data dapat dikumpulkan melalui metode tes dan nontes. Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode tes. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kompetensi pengetahuan IPA. Suharsimi (2015:67) menyatakan, “tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur suatu suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan”. Tes yang akan digunakan untuk mengukur kompetensi pengetahuan IPA berupa tes objektif dalam bentuk pilihan ganda biasa (PGB) dilakukan pengujian

instrumen yaitu uji validitas, uji daya beda, uji tingkat kesukaran, dan uji reliabilitas.

Sudijono (2011:118) menyatakan, tes objektif pilihan ganda biasa yaitu salah satu tes objektif yang terdiri atas pertanyaan atau pernyataan yang sifatnya belum selesai, dan untuk menyelesaikannya harus dipilih salah satu (atau lebih) dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan pada tiap-tiap butir soal yang bersangkutan. Uji instrumen dilakukan dengan jumlah responden sebanyak 39 siswa. Dari 40 soal yang diujikan, diperoleh 30 soal yang dinyatakan layak untuk digunakan pada penelitian ini.

Setelah data dalam penelitian ini terkumpul, maka selanjutnya dilakukan analisis data. Dalam menganalisis data ini digunakan metode analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Data yang dianalisis adalah data gain skor yang dinormalisasikan dari data pretest dan data posttestnya. Dalam penelitian ini statistik deskriptif yang digunakan adalah menghitung mean, standar deviasi dan varian. Tingkat kompetensi pengetahuan IPA dapat ditentukan dengan membandingkan Me (rata-rata) dengan tabel konversi skor mentah menjadi nilai dengan menggunakan PAN skala lima.

Menurut Koyan (2012:25), rentang Mi + 1,5 SDi -< Mi + 3,0 SDi berada pada kategori sangat baik, Mi + 0,5 SDi -< Mi + 1,5 SDi

berada pada kategori baik, Mi – 0,5 SDi -

<Mi + 0,5 SDi berada pada kategori cukup baik, Mi - 1,5 SDi -< Mi – 0,5 SDi berada pada kategori tidak baik, Mi - 3,0 SDi -< Mi – 1,5 SDi berada pada kategori sangat tidak baik.

Analisis statistik inferensial digunakan untuk menguji kebenaran hipotesis.

Sebelum dilakukan uji hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis data.

Pada uji prasyarat analisis data dilakukan uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varian. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah uji hipotesis dengan statistik parametrik dapat dilakukan atau tidak. “Penggunaan Statistik Parametris mensyaratkan bahwa data setiap variabel yang akan dianalisis harus berdistribusi normal” (Sugiyono, 2014:241).

Uji normalitas sebaran data dalam penelitian ini menggunakan Chi-Kuadrat.

(6)

6 Kriteria pengujian adalah jika harga

x

h2

x

t2,

maka data berdistribusi normal.

Sedangkan, jika harga

x

h

x

t 2

2 , maka sebaran data tidak berdistribusi normal.

Pada taraf signifikansi 5 % dan derajat kebebasannya n-1.

Uji homogenitas dilakukan untuk menunjukkan bahwa perbedaan yang terjadi pada uji hipotesis benar-benar terjadi akibat adanya perbedaan varian antar kelompok. Uji homogenitas dapat dilakukan, apabila kelompok data tersebut berdistribusi normal. Uji homogenitas varian dilakukan dengan uji F. Kriteria pengujian, jika harga Fhitung < Ftabel, maka data homogen. Sedangkan jika harga Fhitung >

Ftabel, maka data tidak homogen. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1-1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2- 1. Data yang telah diuji normalitas sebaran data dan homogenitas variannya, diuji hipotesisnya. Data yang diperoleh sudah memenuhi prasyarat uji normalitas dan homogenitas, maka analisis yang digunakan adalah statistik parametris.

Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji-t dengan rumus polled varian. Rumus uji-t dengan rumus polled varian digunakan karena jumlah anggota sampel n1 ≠ n2 dan varian homogen (σ12 = σ22). Kriteria pengujian, jika harga thitung ≤ ttabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak. Jika harga thitung >

ttabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Pada taraf signifikansi 5% dan dk = n1 + n2 - 2.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kelompok eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas IV SD N 17 Dangin Puri.

Setelah diberikan pretest dilanjutkan dengan pemberian perlakuan dengan model pembelajaran TTW sebanyak 6 kali pertemuan, kemudian diberikan posttest untuk memperoleh hasil kompetensi pengetahuan IPA siswa. Setelah memperoleh skor posttest, kemudian dicari gain skor yang dinormalisasikan dari hasil pretest dan posttest.

Tabel 1. Deskripsi Data Gain Skor Kompetensi Pengetahuan IPA Kelompok

Eksperimen

Rata-rata 0,41

Standar Deviasi 0,2

Varian 0,04

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, pengelompokkan distribusi frekuensi untuk kompetensi pengetahuan IPA pada kelompok eksperimen diperoleh rata-rata gain skor yaitu 0,41. Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut kemudian dikonversikan pada tabel pengkategorian kompetensi pengetahuan IPA kelompok eksperimen pada Penilaian Acuan Norma (PAN) skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok eksperimen berada pada rentang 0,31 – 0,51 dengan kategori cukup baik.

Kelompok kontrol dalam penelitian ini adalah kelas IV SD N 21 Dangin Puri.

Setelah diberikan pretest dilanjutkan dengan pemberian pembelajaran konvensional sebanyak 6 kali pertemuan, kemudian diberikan posttest untuk memperoleh hasil kompetensi pengetahuan IPA siswa. Setelah memperoleh skor posttest kemudian dicari gain skor yang dinormalisasikan dari hasil pretest dan posttest.

Tabel 2. Deskripsi Data Gain Skor Kompetensi Pengetahuan IPA Kelompok

Kontrol

Rata-rata 0,26

Standar Deviasi 0,17

Varian 0,03

Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, pengelompokkan distribusi frekuensi untuk kompetensi pengetahuan IPA pada kelompok kontrol diperoleh rata- rata gain skor yaitu 0,26. Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut kemudian dikonversikan pada tabel pengkategorian kompetensi pengetahuan IPA kelompok kontrol pada Penilaian Acuan

(7)

7 Norma (PAN) skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok kontrol berada pada rentang 0,18 – 0,35 dengan kategori cukup baik. Berdasarkan hasil analisis data kompetensi pengetahuan IPA, menunjukkan bahwa rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompok kontrol (Me = 0,41 > Me = 0,26).

Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi yaitu uji prasyarat analisis data yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varian.

Uji normalitas sebaran data menggunakan rumus Chi-Kuadrat, dengan kriteria pengujian jika harga

x

h2

x

t2, maka

data berdistribusi normal. Sedangkan, jika harga

x

h

x

t

2

2 , maka sebaran data tidak berdistribusi normal. Pada taraf signifikansinya adalah 5% dan dk n-1.

Berdasarkan kelas interval, frekuensi observasi (fo), dan frekuensi harapan (fh) dari data gain skor kelompok eksperimen diperoleh x2hitung = 6,27 dengan taraf signifikansi 5% dan dk = 5 diperoleh x2tabel(α=0,05) = 11,070. Karena x2hitung = 6,27 < x2tabel(α=0,05) = 11,070, maka data berdistribusi normal. Sedangkan kelompok kontrol diperoleh x2hitung = 4,90 dengan taraf signifikansi 5% dan dk = 5 diperoleh x2tabel(α=0,05) = 11,070. Karena x2hitung = 4,90 < x2tabel(α=0,05) = 11,070, maka data berdistribusi normal.

Selanjutnya dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui bahwa sebaran data kedua kelompok homogen. Untuk menentukan homogenitas variannya menggunakan uji F. Kriteria pengujian jika harga Fhitung < Ftabel, maka data homogen.

Sedangkan jika harga Fhitung > Ftabel, maka data tidak homogen. Pengujian dilakukan dengan taraf signifikansi 5% dengan dk untuk pembilang n1-1 = 36-1=35 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2-1 = 38-1=37. Dari hasil perhitungan, diperoleh Fhitung = 1,33 sedangkan Ftabel pada taraf signifikansi 5% dengan dk (37,35) adalah 1,75. Ini berarti Fhitung = 1,33 < Ftabel(α=0,05)

=1,75 maka data homogen.

Berdasarkan hasil uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varian diperoleh data kedua kelompok berdistribusi normal dan varian kedua kelompok homogen, maka uji statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji-t dengan rumus polled varian. Dengan kriteria pengujian adalah jika harga thitung ≤ ttabel maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Sebaliknya, jika harga thitung > ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. ttabel dihitung dengan derajat kebebasan = n1 + n2 -2, derajat kebebasan = 36 + 38 - 2 = 72 pada taraf signifikansi 5%. Rekapitulasi hasil analisis data menggunakan uji-t sebagai berikut.

Berdasarkan hasil uji-t, diperoleh thitung

= 3,333. Kemudian dibandingkan dengan ttabel dengan dk = 36 + 38 – 2 = 72 dan taraf signifikansi 5% sehingga diperoleh ttabel = 2,000. Karena thitung = 3,333 > ttabel = 2,000 maka Ho ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran

TTW dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017 diterima.

Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA kelompok eksperimen yaitu, 0,41. Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut kemudian dikonversikan pada tabel pengkategorian Sampel Rata-rata Gain

Skor Varian N thitung ttabel Kesimpulan Kelompok Eksperimen 0,41 0,04 36

3,333 2,000 Ho ditolak

Kelompok Kontrol 0,26 0,03 38

Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis

(8)

8 kompetensi pengetahuan IPA kelompok eksperimen pada Penilaian Acuan Norma (PAN) skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok eksperimen berada pada rentang 0,31 – 0,51 dengan kategori cukup baik.

Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA kelompok kontrol yaitu, 0,26. Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut kemudian dikonversikan pada tabel pengkategorian kompetensi pengetahuan IPA kelompok kontrol pada Penilaian Acuan Norma (PAN) skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok kontrol berada pada rentang 0,18 – 0,35 dengan kategori cukup baik.

Setelah dikonversikan pada PAN skala lima, rata-rata gain skor kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sama- sama berada pada kategori cukup baik.

Walaupun sama-sama berada pada kategori cukup baik, namun hasil rentang pengkategorian yang diperoleh pada setiap kelompok berbeda sehingga hanya berlaku di kelompok yang bersangkutan dan tidak bisa dibandingkan dengan kelompok lain.

Dilihat dari rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA yang diperoleh kelompok eksperimen lebih dari kelompok kontrol (Me = 0,41 > Me = 0,26).

Maka hal tersebut berarti terdapat pengaruh model pembelajaran TTW terhadap kompetensi pengetahuan IPA pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017. Dengan demikian, model pembelajaran TTW dapat direkomendasikan dalam membelajarkan siswa khususnya pada kegiatan pembelajaran yang berisi muatan materi IPA.

Pembelajaran tema 8 (Daerah Tempat Tinggalku) pada muatan materi IPA pada kelompok yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW berjalan dengan baik dan kondusif. Siswa sangat antusias dan terlibat aktif dalam pembelajaran. Hal ini disebabkan model pembelajaran TTW yang mendorong siswa mampu untuk berpikir, berbicara dalam diskusi sehingga interaksi siswa dapat terjalin, dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu yang dilandasi argumen yang logis dan ilmiah.

Suatu inovasi pembelajaran yang

mendorong siswa aktif dalam kegiatan berdiskusi untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar berjalan sesuai tujuan pembelajaran. Selama kegiatan pembelajaran siswa dapat berpikir, berbicara dan kemudian menuliskan suatu topik tertentu. Penggunaan model pembelajaran TTW mengarahkan siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dimana kelompok secara heterogen yang terdiri dari 3 – 5 siswa.

Serta dapat dipadukan dengan pendekatan saintifik sebagai ciri khas dalam kegiatan pembelajaran kurikulum 2013 sehingga kegiatan pembelajaran lebih inovatif dan variatif. Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan siswa yang mempunyai pengetahuan lebih, sedang dan kurang saling berbaur dan saling mengisi satu dengan yang lainnya.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Juniasih (2013), yaitu pembelajaran yang dilakukan melatih kemampuan siswa dalam berpikir, membiasakan siswa untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat saat berdiskusi, dan menuliskan hasil diskusi secara terstruktur, sehingga siswa dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran.

Berbeda pada kelompok kontrol, kegiatan pembelajaran konvensional yang hanya menggunkaan pendekatan saintifik berjalan kurang optimal. Hal ini disebabkan siswa yang kurang mampu mengaitkan antar materi pada muatan materi IPA dan kesulitan mengikuti setiap langkah pembelajaran yang perlu diberikan bimbingan lebih khusus. Pembelajaran menggunakan model pembelajaran TTW pada muatan materi IPA memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa untuk mengonstruksikan pengetahuannya melalui berbagai kegiatan bermakna dan teratur yang tentunya menyenangkan bagi siswa pada setiap langkah pembelajarannya.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa model pembelajaran TTW memberi pengaruh terhadap kompetensi pegetahuan IPA karena melatih siswa dalam berpikir, berbicara dalam diskusi, dan kemudian menuliskan pemahaman yang diperoleh dari hasil diskusi secara terstruktur untuk mendapatkan pengalaman belajar. Selain

(9)

9 itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa model pembelajaran TTW menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan sehingga motivasi siswa akan terus tercipta dalam proses pembelajaran.

Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi guru dalam mencapai tujuan pembelajaran khususnya dalam kompetensi pengetahuan IPA. Guru dapat menggunakan model pembelajaran TTW sebagai inovasi dalam pembelajaran dengan mengarahkan siswa untuk aktif berpikir dalam berdiskusi lalu menuliskan suatu topik tertentu yang diperoleh dari hasil diskusi. Sehingga pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran TTW dapat berjalan dengan kondusif dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran khususnya kompetensi pengetahuan IPA.

SIMPULAN DAN SARAN

Kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017 diperoleh rata-rata gain skor yaitu 0,41. Dari rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut, kemudian dikonversikan pada PAN skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok eksperimen berada pada rentang 0,31 – 0,51 dengan kategori cukup baik.

Kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017 diperoleh rata-rata gain skor yaitu 0,26. Dari rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA tersebut, kemudian dikonversikan pada PAN skala lima, sehingga dapat diketahui kompetensi pengetahuan IPA siswa kelompok kontrol berada pada rentang 0,18 – 0,35 dengan kategori cukup baik.

Berdasarkan hasil analisis dengan uji-t, diperoleh thitung = 3,333. Kemudian dibandingkan dengan ttabel dengan dk = 36 + 38 – 2 = 72 dan taraf signifikansi 5%

sehingga diperoleh ttabel = 2,000. Karena thitung = 3,333 > ttabel = 2,000, ini berarti bahwa terdapat perbedaan yang signifikan

kompetensi pengetahuan IPA kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017. Rata-rata gain skor kompetensi pengetahuan IPA yang diperoleh kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW lebih tinggi dari kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional (Me = 0,41 >

Me = 0,26). Hal tersebut menyatakan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran TTW terhadap kompetensi pengetahuan IPA pada siswa kelas IV SD Gugus I Gusti Ngurah Jelantik tahun ajaran 2016/2017.

Adapun saran yang dapat disampaikan setelah dilaksanakan dan diperoleh hasil dari penelitian yaitu, (1) Kepada guru, penelitian ini bisa dijadikan acuan untuk meningkatkan keterampilan dalam merancang pembelajaran dengan tujuan memperoleh hasil belajar yang optimal.

Khusunya guru yang mengajar di kelas IV yang menggunakan tematik disarankan untuk mengembangkan inovasi pembelajaran dengan menerapkan strategi, pendekatan, model, dan metode yang mampu mengoptimalkan hasil belajar siswa, (2) Kepada sekolah, Penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi pengetahuan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TTW lebih tinggi dari kompetensi pengetahuan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Diharapkan sekolah memberikan sosialisasi secara berkelanjutan mengenai inovasi-inovasi pembelajaran kepada guru dalam membelajarkan siswa, dan (3) Kepada peneliti lain, Bagi peneliti lainnya, bahwa dalam penelitian ini terbatas pada pokok bahasan tematik tema 8 (Daerah Tempat Tinggalku) siswa kelas IV. Untuk memperoleh kompetensi yang berbeda dan pada muatan materi yang berbeda peneliti menyarankan kepada peneliti lainnya untuk melakukan penelitian pada pokok bahasan yang lebih beragam untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

(10)

10 DAFTAR PUSTAKA

Ambari, Ni Luh Putu Desy, dkk. 2013.

“Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write Berbantuan Media Gambar Terhadap Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV Gugus 1 Kecamatan Tegallalang”. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendidikan Ganesha Volume 1 (hlm. 5-8). Tersedia pada http://ejournal.undiksha.ac.id/index.ph p/JJPGSD/article/view/856/728 (diakses tanggal 8 Januari 2017)

Arikunto, Suharsimi. 2015. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Koyan, Wayan. 2012. Statistika Pendidikan.

Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

Kurniasih, Imas dan Berlin Sani. 2014.

Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013. Jakarta: Kata Pena.

Setyosari, Punaji. 2015. Metode Penelitian dan Pendidikan Pengembangan.

Jakarta: Prenadamedia.

Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:

Alfabeta.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2003. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasionl.

(11)

11

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil analisis penilaian, peserta didik yang sudah mencapai kentuntasan belajar diberi kegiatan pembelajaran pengayaan untuk perluasan dan/atau pendalaman

(kabel power, selang angin, kabel grounding, dll) yang menjulur di lantai Cutomer yang melakukan proses FAT, berdiskusi, meninjau pekerjaan di area FQC LV Terjatuh akibat

[r]

Dengan luas areal kopi yang mencapai lebih dari 102.000 ha serta budidaya hortikultura seperti kentang, tomat, alpukat, jeruk dan lain-lain, maka potensi sisa panen baik

• PM China Li Keqiang mengakui pertumbuhan ekonomi China sulit untuk naik hingga 6% atau lebih dan menurut para analis, akan kembali melambat pada kuartal III 2019 atau mencapai

Namun demikian, Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun demikian penulis berharap semoga ini dapat memberikan sumbangan berarti

Hal tersebut ditunjukkan dengan 89% dari responden yang mengikuti pawai kebangsaan menganggap bahwa telah paham mengenai pergerakan mahasiswa.. Dan, dari keseluruhan

kehamilannya baik-baik saja sehingga ia memeriksakan kehamilannya secara teratur agar selama kehamilannya tidak ada masalah yang terjadi sehingga berakhir dengan baik