• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Agama Katolik sebagai salah satu agama terbesar di dunia sudah mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan sosial, tidak terkecuali media. Katolik sudah menjadi bagian dari sejarah media khususnya dalam film. Katolik banyak mempengaruhi tempat-tempat yang ikonik, cerita yang menarik, dan tentunya karakter-karakter berkarisma dari tokoh agamanya menjadi alasan mengapa Katolik sangat menginspirasi film-film dunia. Karakter Katolik, tempat-tempat, dan ritual- ritual telah menjadi inspirasi film sejak era film bisu. Tokoh agama Katolik seperti pastor dan biarawati sudah banyak memerankan dalam film sejak saat itu. Sebuah visual yang intens dari agama dengan sistem ritual dan otoritas terstruktur adalah perpaduan yang pas dijadikan cerita. Katolik dan tokoh agama katolik menyatu dengan drama yang menjadi ikon dalam film. Para pecinta film sudah terbiasa melihat tokoh agama Katolik berhubungan dengan supranaturalis, pastor lain, dan berkonsiliasi dengan tokoh politik, begitu juga dengan uskup yang ikut memerangi kejahatan dalam lingkungan sosial. Para tokoh agama yang menjadi karakter dalam film juga mewakili sisi luar layaknya cara hidup orang Amerika. (McDannell, 2008, p.14). Tokoh agama juga memainkan peran yang sangat penting dalam film hingga banyak sutradara-sutradara membuat film menampilkan tokoh agama Katolik. Motif dari para sineas Hollywood dalam membuat film bertemakan Katolik adalah karena karakter Katolik telah mewakilkan cara hidup orang Amerika, bahkan dunia. Katolik telah banyak mempengaruhi melalui karakter, tempat-tempat indah, simbol-simbol agama Katolik yang becirikhas, dan ritual-ritual yang selalu dipakai dalam film-film.

Ditambah Amerika menjadi salah satu pusat agama Katolik yang mewajibkan film bertema religi digarap dengan bersih tanpa menyudutkannya hingga marak film-film bertemakan Katolik bermunculan pada era emas saat itu (1930-1950) (McDannell, 2008, p.14).

Tokoh agama Katolik sebagai salah satu unsur dan daya tarik dari film bertemakan Katolik menjadi salah satu hal yang banyak dipakai oleh para pembuat

(2)

film. Sosok yang dermawan dalam balutan busana yang khas serta menjadi orang yang selalu diperhatikan membuat sineas Hollywood menggunakan karakter ini sebagai alat untuk membuat cerita yang unik dan berbeda-beda, tak terkecuali film bergenre horor. Banyak film sulit untuk terhindar dari peran tokoh agama Katolik sebagai identitas pada film tersebut. Awalnya film-film bertemakan Katolik di Amerika dimunculkan sejak era film bisu adalah tahun 1915 saat film regeneration yang dapat dikatakan sebagai film bertemakan Katolik awal diproduksi. Lalu pada tahun 1930-1950 merupakan era emas dari film-film bertemakan Katolik. Tokoh agama Katolik digunakan sebagai pesan untuk mengajak penonton melihat kebaikan film-film Hollywood saat itu. Terlebih dengan ditambah motion picture code yang salah satu tujuannya untuk menghadirkan pesan Katolik yang baik pada tiap film ke arah positif.

Pada era ini juga hadir film-film yang menggunakan kultur Katolik yang dibintangi artis-artis Hollywood terkenal dan banyak mendapatkan penghargaan dengan memerankan tokoh agama Katolik. Namun setelah banyak kontroversi yang terjadi dan pertentangan tentang kode yang harus dipatuhi pada tahun 1960 hingga awal 1980 rating adalah sesuatu yang harus dipatuhi menggantikan motion picture code. Film berbau religi khususnya Katolik mulai berkurang, namun tetap saja menjadi perhatian ketika mengangkat sebuah film dengan kultur Katolik dan tokoh agama di dalamnya. Pada era ini film-film seperti The Exorcist (1973) dapat menampilkan film religi dengan genre yang lebih leluasa seperti Catholic horor.

Sejak film inilah banyak film yang bertema sama mencoba mengeksplor sisi lain dari Katolik, tentunya menampilkan tokoh agama Katolik. Beberapa film seperti The Godfather Trilogy (1972, 1974, 1990) juga masih mempengaruhi kekuatan film bertemakan Katolik pada era itu. Sebut saja scene yang mungkin menjadi favorit bagi para pecinta Hollywood adalah scene ritual baptisan The Godfather (1972). Film bertemakan Katolik dengan menggunakan pernak-pernik tokoh agama beserta ritual telah menjadi hal yang disukai banyak para pembuat film. Hingga akhir era abad 19, banyak film-film bertemakan religi baik yang meneguhkan kesucian Katolik maupun yang mencoba untuk menunjukkan perbedaan dengan pesan negatif Katolik

(3)

diproduksi, walaupun yang kedua lebih banyak dimunculkan. Pada era 2000 mungkin adalah era dimana film-film bertemakan Katolik mulai banyak menampilkan kisah- kisah dari dalam Katolik yang lebih terbuka dan secara ‘jujur’ diungkapkan baik negatif seperti film Philomena atau The Da Vinci Code, dan yang menceritakan tokoh sentral Katolik seperti The Passion of The Christ (2004) yang disutradarai oleh seorang sutradara Katolik yaitu Mel Gibson. Banyak orang yang berpendapat bahwa tahap ini adalah kebalikan dari era emas (1930-1950) karena film-film Amerika berbau Katolik banyak menampikan sisi negatif dari tokoh agama Katolik. Hingga yang terakhir film yang mencoba untuk menampilkan keterbukaan Vatikan, yaitu Vatican Tapes (2015). Tanpa sadar film-film bertemakan Katolik menghiasi tahap perkembangan perfilman Hollywood entah itu meneguhkan kesakralan dari Katolik ataupun desakralisasi dari film bertemakan Katolik Hollywood.

Ide desakralisasi sendiri berawal dari perubahan nilai yang coba ditunjukkan dari film-film bertemakan Katolik dengan menggunakan tokoh agama Katolik sebagai peran yang penting tersebut. Desakralisasi dalam kehidupan sosial mengacu pada penurunan makna dari nilai atau hal-hal yang dianggap sakral (Svensson, 2008).

Sakral adalah suatu konsep yang mengacu pada agama. Durkheim berpendapat bahwa sifat sakral dimiliki oleh agama karena mempunyai suatu perangkat yang disebut ritual.

Era 2000 khususnya telah banyak film yang menampilkan perbedaan dari film-film bertemakan Katolik sebelumnya. Desakralisasi dalam film mencoba untuk mengungkapkan nilai yang dianggap turun dari sakral seorang tokoh agama Katolik dan lebih bersifat ke arah negatif. Desakralisasi tidak bisa lepas dari sifat sakral walaupun sifat sakral di dalamnya memudar. Desakralisasi banyak dipakai sebagai solusi untuk mengurangi sifat dari masyarakat tentang sesuatu yang dianggap sakral terlalu berlebih. Dalam dunia kedokteran misalnya, desakralisasi pada sifat yang tabu atau dianggap sakral disarankan untuk membantu menyelamatkan pasien. Contohnya saat dokter harus menjalankan operasi kanker payudara. Dalam hal agama desakralisasi berfungsi untuk mengurangi kekecewaan terhadap masyarakat terhadap sikap seseorang atau sesuatu yang dianggap sakral hingga terjadi pembelokkan maka

(4)

masyarakat dapat mengerti dan tidak terikut dalam pembelokkan tersebut. Proses ini juga terdapat dalam sebuah film, sebagai media untuk memberikan pesan bagi masyarakat tentang sesuatu atau seseorang yang dianggap sakral namun dapat berubah menjadi tidak sakral atau desakralisasi. Proses ini sering terlihat dalam sejarah film khususnya di Amerika, negara adidaya dengan penduduk religius yang banyak (McDannell, 2008)

Pada era 1930-1950 film-film disimbolkan melalui tokoh agama Katolik yang menampilkan nilai-nilai ritual agama Katolik yang ditunjukkan oleh tokoh dalam film tersebut yang ketat tergambarkan. Berbeda dengan film-film yang menampilkan tokoh agama Katolik sebelumnya. Film-film yang menggunakan tokoh agama Katolik akhir-akhir ini adalah film seperti The Exorcism of Emily Rose (2005), Conjuring (2013), Philomena (2013), dan Paranormal Activity 5 (2015), mengindikasikan adanya pergeseran nilai dari film-film tokoh agama Katolik sebelumnya berupa penurunan nilai yang dahulu dianggap rohani yaitu kesakralan pada tokoh agama Katolik. Pergeseran nilai pada tokoh agama Katolik ini menunjukkan indikasi desakralisasi pada tokoh agama Katolik. Desakralisasi dalam tokoh agama Katolik di film era 2000 seperti contohnya, biarawati sadis, pastor pedofil, dan penutupan kasus dari gereja Katolik Roma yang mengandung desakralisasi pada tokoh agama Katolik diproduksi. Ini berdasarkan fakta film-film seperti The Magdalene Sister (2002), The Exorcism of Emily Rose (2005), The Philomena (2013), The Conjuring (2013), The Philomena (2013), Jimmy’s Hall (2014), Paranormal Activity 5 (2015), dan Spotlight (2015) (Beale, Los Angeles Times, 2015).

Dalam film Paranormal Activity 5 (2015), misalnya. Film horror sekuel ke-5 garapan sineas Hollywood ini sangat ditunggu-tunggu. Menceritakan tentang sebuah rumah yang sudah dihuni oleh beberapa penghuni sebelumnya. Setelah merasa terganggu Ryan Fleege sang kepala keluarga memanggil seorang pastor untuk melakukan pengusiran setan pada rumah tersebut. Namun pastor Todd lari sangat ketakutan saat pertama masuk di rumah tersebut. Nilai sakral yang disematkan pada Pastor Todd hilang saat ia menjadi takut untuk melakukan ritual keagamaannya dan

(5)

kalah dalam ritual yang ia lakukan sendiri. Hal yang sama yang terjadi pada Pastor Todd juga dialami dalam film yang mengindikasikan desakralisasi dari tokoh agama Katolik yang terjadi pada tahun 2002, berjudul The Magdalene Sister. Kisah tentang rumah laundri biara bagi perempuan-perempuan yang dibuang masyarakat bernama Magdalene Asylum atau Magdalene Laundry yang menyiksa pasien-pasiennya. Film ini juga diwarnai dengan kisah korupsi yang terjadi di dalam rumah penampungan tersebut yang dilakukan oleh biarawati-biarawati yang mengurus rumah tersebut.

Cerita yang hampir serupa pun digambarkan dalam The Philomena (2013). Film yang bercerita tentang seorang jurnalis yang ingin menceritakan seorang perempuan yang terpisah oleh anaknya karena berada dalam rumah laundri biara. Martin Sixmisth dan Philomena akhirnya menemukan fakta bahwa anaknya sudah meninggal dan ditutup- tutupi oleh biarawati yang menerima ia dan menjauhkannya dari anaknya. Sikap yang digambarkan biarawati dalam film-film tersebut melanggar pandangan bahwa suster tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik seperti menipu dan menutupi hal-hal yang salah, yang menurunkan nilai sakral dalam penggambaran biarawati, seorang tokoh agama Katolik. Namun film Vatican Tapes (2015) adalah film yang memunculkan 3 tokoh agama Katolik yang berperan besar dalam film tersebut.

Kemunculan 3 tokoh sentral tersebut menunjukkan bahwa film tersebut tidak main- main dengan sifat sakral atau desakral pada tokoh tersebut.

Film Vatican Tapes yang juga mengangkat tokoh agama Katolik dalam keseluruhan scene nya dalah film karya Lakeshore Entertainment yang diangkat dari sebuah naskah. Film Vatican Tapes dalam garapan sutradara baru Mark Neveldine mencoba menampilkan film dengan unsur Katolik yang kental dalam film Vatican Tapes (2015) di tengah-tengah film yang menyudutkan Katolik dan tokoh agama Katolik pada era sekarang ini.

Hal yang menarik dalam Film “Vatican Tapes” tidak hanya diangkat dari kisah nyata. Melainkan film ini menunjukkan bahwa film yang diarahkan oleh Hollywood menggunakan tokoh agama Katolik sebagai pemeran utama dan pembantu yang dianggap sakral dan bisa menyelamatkan nyawa dengan ritual keagamaannya.

Film yang dibuat tahun 2015 ini seperti ingin mengubah pandangan bahwa tokoh

(6)

agama Katolik masih dianggap sakral dan bisa menyelamatkan orang sama seperti film terdahulunya. Beberapa film sebelumnya yang mencoba menunjukkan nilai tokoh agama yang lebih seperti film-film klasik dengan genre yang sama seperti The Exorcist (1973).

Alur cerita yang diangkat dalam film Vatican Tapes diinspirasi dari aktifitas gereja Katolik yang salah satunya adalah menyediakan layanan pengusiran setan, yang kemudian menggerakkan pastor Vicar Imani dan Kardinal Brunn dari Vatikan, serta Pastor Lozano, pemimpin atau tokoh agama lokal untuk menolong Angela seorang warga yang terindikasi kerasukan.

Gambar 1.1 Poster Vatican Tapes Sumber: http://scene7.targetimg1.com

Film ini memperlihatkan bahwa pastor dan kardinal ingin menyelamatkan Angela dan membawa perubahan pada dirinya lewat sikap rohani dari tokoh-tokoh agama Katolik, misalnya: ketika dalam salah satu adegan film ini, kardinal Bruun berbincang dengan pastor Lozano untuk siap sedia melawan iblis yang ada di dalam

(7)

tubuh Angela melalui ritual. Orang tua Angela percaya bahwa yang bisa menyelamatkan anaknya hanyalah kardinal dan pastor tersebut. Kardinal dan pastor yang dikirim dari Vatikan ini percaya bahwa mereka bisa berusaha menyelamatkan Angel.

Vatican Tapes disutradarai oleh Mark Neveldine, seorang sutradara baru yang pertama kali memimpin sebuah produksi film secara solo setelah beberapa kali menjadi co-director. Seperti yang diutarakan oleh beberapa pemeran dan sutradara.

Vatican Tapes ingin menampilkan sebuah film horor yang bertemakan demonic possession. Walaupun sempat ditunggu-tunggu penggemar film horror yang haus dengan film bertemakan film yang sama dengan The Exorcist (1973), faktanya Vatican Tapes mendapat apresiasi yang kurang baik dari penonton karena gagal menampilkan film horor yang bagus seperti terdahulunya. Namun yang menjadi perhatian peneliti cerita film ini menggunakan tiga tokoh agama Katolik yang protagonist dan bukan sebagai pemeran utama. Berbeda dengan film dengan tema sama sebelumnya yang menggunakan tokoh agama Katolik berjumlah satu orang dan sebagai pemeran utama yang mencirikan nilai sakral dari tokoh tersebut. Vatican Tapes juga berbeda dengan film-film sekarang yang menggunakan tokoh agama Katolik sebagai tokoh antagonis yang menggambarkan penurunan nilai sakral, Vatican Tapes memilih ketiga tokoh tersebut sebagai pemeran protagonist yang ingin menolong Angela. Sehingga peneliti ingin meneliti bagaimana gambaran tokoh agama yang berjumlah 3 orang, bukan pemeran utama namun protagonis yang mengindikasikan bahwa pembuat film ini secara sadar atau tidak ingin menampilkan nilai sakral dari beberapa tokoh agama Katolik dalam film horror ditengah-tengah film yang menyudutkan Katolik dan tokoh agama Katolik saat ini.

Melalui latar belakang film “Vatican Tapes”, pada penelitian ini peneliti akan memfokuskan representasi desakralisasi yang coba disampaikan dalam film tersebut.

Penelitian mengenai representasi desakralisasi tokoh agama dalam film sebelumnya belum pernah ada.

Dalam penelitian ini, metode semiotika merupakan metode untuk menganalisis konstruksi sosial dalam media massa termasuk film. Semiotika

(8)

merupakan studi tentang tanda, sebuah tanda yang dapat dilihat kapan saja mengindikasikan makna lain (Griffin, 2006, p.26-27), termasuk tanda dan lambang dalam sebuah film. Metode yang dipakai adalah semiotika John Fiske. Sebab metode ini memiliki tingkatan yang rinci dalam menganalisis media film. Tingkatan pengkodean tersebut antara lain level realitas, level representasi, dan level ideologi.

Berdasarkan tingkatan itu peneliti dapat melihat tentang apa yang ditampilkan di layar kaca termasuk film menunjukkan suatu realitas sosial. Sehingga akan menjelaskan representasi desakralisasi tokoh agama Katolik. Representasi adalah penggambaran suatu tanda oleh bahasa sehingga menjelaskan bagaimana makna suatu objek. Representasi dalam penelitian ini akan mencoba untuk menjelaskan penggambaran bahasa dari tokoh agama Katolik dengan memakai kode televisi dari John Fiske. Maka dari itu peneliti memakai kode-kode televisi John Fiske untuk meneliti dan menggali lebih dalam serta dapat memunculkan realitas sosial dalam penggambaran desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film “Vatican Tapes”.

1.2 Rumusan Masalah

Pokok pembahasan yang akan diteliti oleh peneliti adalah “Bagaimana representasi desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film Vatican Tapes?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin diperoleh dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui representasi desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film Vatican Tapes?

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Akademis

Berdasarkan penelitian ini diharapkan dapat memberikan analisis representasi secara kualitatif pada kajian semiotika, serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa lain tentang bagaimana sebuah film dapat menyampaikan pesan yang tersembunyi mengenai representasi desakralisasi.

(9)

1.4.2 Manfaat Praktis

Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai representasi desakralisasi dalam film. Hasil penelitian ini akan memberikan gambaran bagaimana para sineas perfilman dapat mengetahui informasi bahwa terdapat desakralisasi dalam film.

1.5 Batasan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan memakai pendekatan kualitatif dengan metode semiotika dan memakai kode-kode televisi John Fiske untuk memperdalam penelitian. Berkaitan dengan rumusan masalah yang telah disampaikan, penelitian ini akan memfokuskan topik mengenai representasi desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film “Vatican Tapes”. Subjek penelitian adalah film “Vatican Tapes” dimana peneliti akan mengamati tokoh-tokoh yang terdapat dalam film ini yang menggambarkan tentang desakralisasi. Sedangkan objek dalam film tersebut yang akan diteliti adalah desakralisasi tokoh agama Katolik yang digambarkan dalam film tersebut.

1.6 Sistematikan Penulisan

Penelitian ini terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bab dijelaskan sebagai berikut:

BAB 1 : PENDAHULUAN

Bab ini berisi latar belakang masalah peneliti yang meneliti representasi desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film “Vatican Tapes”.

Selain itu peneliti akan menjelaskan rumusan masalah melalui sebuah pertanyaan dan tujuan penelitian. Bab ini juga akan menjelaskan tentang manfaat penelitian baik yang bersifat akademis untuk kepentingan peneliti selanjutnya atau praktis yang dapat diaplikasikan oleh pembaca penelitian ini, batasan penelitian, dan sistematika penulisan dari penelitian ini yang mencakup bab 1 hingga pada bab 5 yaitu kesimpulan

(10)

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini akan menjelaskan teori yang akan dipakai dalam penelitian yang meliputi teori tentang film karena subjek dari penelitian ini adalah sebuah film, desakralisasi dan sakralisasi yang ingin diteliti, tokoh agama Katolik dalam media sebagai objek yang akan diteliti tentang desakralisasinya, representasi, semiotika, kode-kode televisi John Fiske sebagai metode penelitian karena dianggap dapat menjalaskan realita sosial dalam film tersebut, dan teori lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Bab ini juga berisi nisbah antar konsep dan kerangka pemikiran.

BAB 3 : METODE PENELITIAN

Bab ini akan menjelaskan tentang metode yang digunakan dalam penelitian yang meliputi definisi konseptual seperti representasi dan desakralisasi, jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif, metode penelitian semiotika yang akan dikaitkan dengan kode televisi John Fiske, unit analisis, teknik pengumpulan data yang meliputi data primer dan sekunder, teknik analisis data, serta triangulasi.

BAB 4 : ANALISIS DATA

Bab ini akan menjelaskan tentang analisis data peneliti berdasarkan penelitian pada film Vatican Tapes yang meliputi analisis data mencakup sinopsis film, kru dan pemeran film Vatican Tapes, latar belakang film Vatican Tapes, dan analisis data sendiri, lalu terakhir peneliti melakukan interpretasi data.

BAB 5 : KESIMPULAN

Bab ini berisi tentang kesimpulan dari penelitian tentang desakralisasi tokoh agama Katolik dalam film Vatican Tapes, serta saran akademis dan praktis.

Gambar

Gambar 1.1 Poster Vatican Tapes  Sumber: http://scene7.targetimg1.com

Referensi

Dokumen terkait

Event-driven Process Chain(2) Tindakan Medis Bed Alat Medis Obat- obatan X Pelayanan Bedah Pelayanan Lab PK Pelayanan Radiologi V Pelayanan Medis Selesai Dilakukan XOR Pasien

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yang diperoleh dari hasil pemeriksaan serologi sifilis dan HIV pada ABK dan TKBM Kantor

PLTM (Pembangkit Mini Hidro) termasuk ke dalam jenis pembangkit run off river karena memanfaatkan aliran Sungai Damar untuk membangkitkan tenaga listrik dan

Pokok permasalahan penelitian ini adalah apakah komunikasi, penempatan dan kepemimpinan berpengaruh secara simultan maupun parsial terhadap konflik karyawan pada

Perilaku merokok pada remaja saat ini sudah tidak tabu lagi, dimanapun tempat tidak sulit menjumpai anak remaja dengan kebiasaaan merokok.Orang tua mempunyai pengaruh

Maksud Paulus bukanlah bahwa pekerjaan sampingan harus dilakukan untuk mendatangkan uang supaya bisa makan dan memenuhi kebutuhan hidup, melainkan dengan mengerjakan

pendidikan rumah tangga miskin di Kelurahan Binuang Kampung Dalam Kecamatan Pauh Kota Padang, 2) Pekerjaan rumah tangga miskin di Kelurahan Binuang Kampung Dalam

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul