• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. satu contoh luka terbuka adalah insisi dengan robekan linier pada kulit dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. satu contoh luka terbuka adalah insisi dengan robekan linier pada kulit dan"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1 Luka adalah suatu diskontinuitas jaringan yang disebabkan karena trauma, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, atau gigitan hewan. Bentuk dari luka berbeda tergantung penyebabnya, ada yang terbuka dan tertutup. Salah satu contoh luka terbuka adalah insisi dengan robekan linier pada kulit dan jaringan di bawahnya oleh karena itu sangat penting untuk mengembalikan integritas kulit sesegera mungkin. Kulit berperan penting dalam kehidupan manusia, antara lain dengan mengatur keseimbangan air serta elektrolit, termoregulasi, dan berfungsi sebagai sawar terhadap lingkungan luar termasuk mikroorganisme (Pusponegoro dkk., 2005; Cohen dkk., 1999).

Tujuan utama pengobatan luka adalah mengembalikan fungsi dan bentuk jaringan kulit kembali normal dengan komplikasi seminimal mungkin. Luka yang terjadi akan mengalami proses penyembuhan secara alami dengan melewati tahap- tahap penyembuhan luka. Proses penyembuhan luka adalah proses normal yang terjadi di dalam tubuh (Guo dan Dipietro, 2010). Proses ini dapat dibagi ke dalam 3 fase utama yaitu inflamasi, proliferasi atau fibroplasia, dan remodeling. Proses proliferasi dimulai pada hari ke-4 dan akan mencapai puncaknya pada hari ke-7.

Ketiga tahap proses penyembuhan luka tersebut terjadi secara tumpang tindih (Kalfas, 2001).

(2)

Penyembuhan luka dapat terhambat karena faktor lokal karena adanya benda asing, jaringan mati, kurangnya pasokan oksigen, dan wound tension.

Perencanaan perawatan luka sebaiknya mempertimbangkan 4 hal tersebut. Benda asing dan jaringan mati yang terdapat pada luka dapat digunakan bakteri sebagai perlindungan diri ketika mendapat perlawanan dari host, sehingga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya infeksi yang dapat menghambat proses penyembuhan luka (Hupp 2003).

Infeksi luka pasca operasi merupakan kejadian yang sering ditemukan pada kasus tindakan bedah. Sekitar 10-16% dari seluruh kasus infeksi di rumah sakit adalah infeksi luka pasca operasi (Singhal dan Zammitt, 2002) dan 77% dari kasus infeksi tersebut menyebabkan kematian (Mangram, 1999). Luka yang terinfeksi akan menghambat proses penyembuhan bahkan menyebabkan luka menjadi lebih buruk, oleh karena itu pengendalian infeksi pada luka dapat dilakukan dengan memberikan perawatan sebelum, selama, dan sesudah operasi.

Saat ini salah satu yang harus diperhatikan dalam pembedahan adalah pemahaman bagaimana mengurangi risiko infeksi selama dan setelah operasi karena setiap prosedur pembedahan sekecil apapun dapat menimbulkan risiko infeksi (Dow dkk., 1999; Khan, 2005).

Salah satu cara yang digunakan ahli bedah untuk mengurangi risiko terjadinya infeksi pada luka yaitu menggunakan larutan antiseptik. Antiseptik adalah agen untuk menghancurkan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme. Syarat utama penggunaan antiseptik pada luka adalah aman, tidak toksik, serta tidak menyebabkan penenundaan penyembuhan

(3)

luka (Drosou, dkk., 2003). Penggunaan larutan antiseptik sebagai bahan irigasi pada luka bertujuan untuk menghilangkan eksudat, debris, kotoran, dan bahan- bahan yang mengkontaminasi. Irigasi larutan antiseptik dapat menggunakan syringe yang memiliki tekanan lebih dari 8 psi (Khan, 2005; Stone, 2014).

Hingga saat ini penggunaan larutan antiseptik pada luka di bedah mulut dan maksilofasial masih kontroversial. Beberapa ahli bedah melaporkan tindakan tersebut menurunkan infeksi selama tindakan operasi tetapi banyak ahli bedah tidak merasa yakin dengan efek larutan antiseptik dalam menurunkan infeksi (Toljanik, 1992; Veksler cit. Kosutic, 2009). Khan (2005) menyebutkan bahwa berbagai larutan antiseptik menunjukkan efek antibakteri namun selain itu larutan antiseptik juga bersifat toksik terhadap sel host. Penelitian secara in vitro menunjukkan efek toksik pada sel host tetapi secara klinis tidak menunjukkan hasil yang berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan kontrol. Sifat sitotoksik dari larutan antiseptik menjadi bahan pertimbangan dalam perawatan luka karena hal ini dapat menghambat proses penyembuhan. Kurangnya penelitian secara klinis menyebabkan belum ada standar aturan baku yang ditetapkan dalam penggunaan larutan antiseptik (Drosou dkk., 2003; Khan, 2005). Penelitian Atkinson (2010) yang membandingkan antara saline, povidone iodine dengan chlorhexidine sebagai bahan irigasi ternyata saline menunjukkan tingkat toksisitas yang paling rendah terhadap fibroblas, keratinosit, dan pada proses angiogenesis.

Standar Pelayanan Medis Rumah Sakit Dr Sardjito dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo menetapkan penggunaan antiseptik sebagai tindakan yang dilakukan sebelum tindakan bedah minor dalam tindakan bedah mulut

(4)

(Komite Medis RSUP Dr. Sardjito, 2005; Komite Medis RSGM Prof. Soedomo, 2008). Selama ini belum pernah ada evaluasi tentang panggunaan larutan antisepik sebagai pengendali infeksi dan efeknya terhadap proses penyembuhan dalam tindakan bedah mulut dan maksilofasial sebagai dasar pertimbangan pemilihan larutan antiseptik yang digunakan di kedua rumah sakit tersebut.

Antiseptik yang sering digunakan pada praktik kedokteran gigi dan bedah mulut adalah povidone iodine, chlorhexidine, alkohol, asetat, hidrogen peroksida, asam borik, silver nitrat, silver sulfadiazine, dan sodium hipoklorit (Drosou dkk., 2003). Pemilihan bahan antiseptik untuk perawatan luka berdasarkan pertimbangan efektifitas dan keamanan penggunaan bahan terhadap sel host.

Keamanan bahan untuk perawatan luka dapat ditentukan dari pengaruhnya terhadap kecepatan proses penyembuhan luka. Pemakaian antiseptik perlu ditinjau dari 3 aspek yaitu apakah pemakaian antiseptik sendiri memang bermakna dalam meningkatkan efektifitas pembersihan secara mekanis, aspek kedua adalah jenis antiseptik mana yang dapat digunakan secara efektif, terlepas dari tingkat efektifitasnya adalah efek samping dari pemakaian antiseptik tersebut (Stern, 1993; Mandell, 2000).

Povidone iodine merupakan antiseptik yang sudah digunakan secara luas.

Povidone iodine merupakan kombinasi molekul iodine dan polivinilpyrrolidone yang memiliki sifat sebagai antimikroba dan bereaksi terhadap bakteri termasuk bakteri anaerob, jamur, protozoa, dan virus serta memiliki efek samping yang rendah serta harga yang sangat murah (Zamora, 1985; Greenstein, 1999).

Povidone iodine, selain memiliki sifat antiseptik juga memiliki sifat toksik

(5)

terhadap fibroblas kulit, paru-paru dan gingiva, keratinosit, serta osteoblas pada embrio ayam, fibroblas pada embrio binatang bertaring dan pada sel tulang tikus.

Konsentrasi yang sering digunakan pada rongga mulut berkisar antara 1 – 10%

dan yang paling sering digunakan adalah 1% (Cabral dan Fernandes, 2007).

Povidone iodine digunakan untuk mengurangi terjadinya bakteriemia pasca operasi bedah mulut. American Dental Association dan American Heart Association juga menyarankan untuk melakukan irigasi subgingival sebelum

operasi yang bertujuan untuk mengurangi bakteri endokarditis (Rahn dkk., 1995;

Dajani dkk., 1997).

Chlorhexidine saat ini juga digunakan sebagai bahan antiseptik yang efektif terhadap bakteri gram negatif maupun gram positif. Beberapa ahli penyakit mulut berpendapat bahwa penggunaan chlorhexidine dapat mempercepat penyembuhan dan regenerasi jaringan pada mulut seperti pada kasus gingivitis, trauma pada gigi, peridontitis, kista pada rongga mulut, dan pasca pencabutan gigi molar ketiga. Konsentrasi chlorhexidine yang sering digunakan adalah 0,12 ; 0,2 ; 0,1% (Rath dan Sigh, 2013; Lang dan Breck, 1986; Kosutic dkk., 2009).

Penelitian secara in vivo dilakukan oleh Sanchez dkk. (1988) untuk melihat efek chlorhexidine dan povidone iodine terhadap penyembuhan luka pada kulit anjing dan disimpulkan bahwa penggunaan irigasi larutan chlorhexidine 0,05% dan 0,005% dapat mempercepat penyembuhan dibandingkan irigasi larutan povidone iodine 0,1% dan 1%. Berdasarkan latar belakang, penulis ingin meneliti perbedaan efek antara chlorhexidine 0,2% dengan povidone iodine 10% terhadap sel inflamasi, proliferasi sel, dan jumlah sel apoptosis pada kulit hewan percobaan

(6)

tikus Sprague Dawley (Rattus Norvegicus). Penelitian ini menggunakan povidone iodine 10% dikarenakan bahan tersebut sering digunakan sebagai bahan irigasi pasca operasi di Rumah Sakit Dr. Sardjito, dan chlorhexidine 0,2% biasanya digunakan sebagai bahan irigasi pada luka setelah dilakukan bedah gingiva di RSGM Prof. Soedomo.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas maka muncul permasalahan bagaimana pengaruh chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 10%

pada luka terbuka terhadap jumlah sel radang, proliferasi sel, dan sel apoptosis pada luka pasca insisi di kulit punggung hewan percobaan.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 10% pada luka terbuka terhadap jumlah sel radang, proliferasi sel, dan sel apoptosis pada luka pasca insisi hari ke-4 dan ke-7 di kulit punggung hewan percobaan.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai tingkat keamanan penggunaan chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 10% pada luka terbuka terhadap jumlah sel radang, proliferasi sel, dan sel apoptosis pada luka insisi di kulit punggung hewan percobaan.

(7)

E. Keaslian Penelitian

Penelitian Thomas dkk. (2009) secara in vitro terhadap efek chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 10% pada kultur normal human dermal fibroblast menunjukkan adanya hambatan pada migrasi sel fibroblas dan proliferasi sel fibroblas. Penelitian ini untuk melihat perbedaan pengaruh antiseptik chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 10% terhadap proses penyembuhan luka pada kulit pasca insisi secara in vivo dengan pengamatan histologi untuk menilai jumlah sel inflamasi serta kajian imunohistokimia untuk menilai proliferasi sel dan jumlah sel apoptosis. Penelitian seperti ini belum pernah dilakukan sebelumnya.

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa mereka terdakwa masing-masing selaku cash officer dan cash supervisior menyadari, bahwa jika proses transaksi pemindahbukuan dilakukan tidak sesuai dengan

Tahap ini oleh Brunner dinamakan juga proses seleksi melalui pintu gerbang ( selective geating process ). Pada tahapan konfirmasi perempuan pelaku perkawinan siri

Dalam konteks dukungan terhadap kekerasan, hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian lain tentang dukungan terhadap kekerasan seperti penelitian Levin dkk (2003)

bahwa perubahan tata guna lahan pada daerah hulu, tidak terlalu signifikan, sedangkan pada daerah hilir pada DAS Malalayang terjadi perubahan tata guna lahan yang cukup

Kemudian dari obeservasi yang peneliti lakukan masih adanya pegawai yang tidak berada ditempatnya bekerja saat jam kerja, selanjutnya dari hasil wawancara yang dilakukan

dengan kedua tabung polos dan tabung sirip desain multitubular, baffle perifer mungkin diperlukan untuk memblokir area kebocoran antara bundel dan shell

Telah dilakukan pengujian terhadap viskositas yang bertujuan untuk menentukan kekentalan yang dimiliki oleh pulp setelah dilakukan proses pemutihan (bleaching).. Pengujian

Dari hasil pengalamatan dinamis Treecast, metode ini mampu diimplementasikan secara nyata dan mampu memberikan alamat serta waktu untuk mendapatkan alamat pada