• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hak Asasi Manusia Dalam Bingkai ACFTA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Hak Asasi Manusia Dalam Bingkai ACFTA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Dalam Bingkai ACFTA

Arief Setiawan1

Abstract

Entry into free trade area (FTA) in the context of ASEAN-China Free Trade Area does not only have implications for the economic domain. ACFTA wide-scale implementation which is starting on January 1, 2010 also has implications in many aspects of life, especially welfare. Trickle down effect which expected from free trade is difficult to be realized because of the nature of homo economicus in humans. Of course this is a distinct threat to the fulfillment of economic, social, and cultural rights of citizens. Indonesia as the country whose participates in the International Covenant on Economic, Social, and Culture can be said it is violating human rights if it escaped from its responsibility with give it to market mechanism.

Keywords: ACFTA, Human Rights, Free Trade

Abstrak

Masuk dalam area pasar bebas dalam konteks ACFTA tak hanya membawa implikasi dalam arena ekonomi an sich. Penerapan ACFTA dalam skala luas yang dimulai pada 1 Januari 2010 juga berimplikasi pada banyak aspek kehidupan, khususnya kesejahteraan. Trickle down effect yang diharapkan dari perdagangan bebas sangat sulit untuk direalisasikan karena sifat alamiah manusia sebagai homo economicus.

Tentu saja hal ini merupakan ancaman terhadap pemenuhan hak ekonomi, sosial, dan budaya warga negara. Indonesia sebagai negara peserta dalam Kovensi Hak Ekosob dapat dikatakan melakukan pelanggaran HAM bila lepas tanggung jawab terhadap hak ini dengan menyerahkannya pada mekanisme pasar.

1. Staf Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis, bukan lembaga.

(2)

Dalam Bingkai ACFTA

…Economic rooted in nationalism, Joao Robinson”

Sejarah baru terukir dengan dramatis tepat pada 1 Januari 2010. Sejarah yang bisa mengubah seluruh per- jalanan bangsa Indonesia de ngan pem- bukaan pasar secara luas dalam kerangka ASEAN-China. ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) menjadi keniscayaan karena per- dagangan bebas negara anggota ASEAN dengan China semakin luas. Babak baru ekonomi pasar dimulai dan sistem kapita- lisme mendapatkan legalisasi di Indonesia

yang selama ini enggan untuk mengakui- nya.

Perjalanan ACFTA tidak berjalan sing- kat dengan patokan 2010. Bagi Indonesia, kesepakatan antara Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu dan Menteri Bo Xi- Lai dari pihak China pada 29 November 2004 di Laos merupakan tonggak sejarah tersendiri. Indonesia secara resmi masuk dalam rezim pasar bebas meski dalam lanskap regional. Namun, secara substansi tetap dalam kerangka pembangunan re- zim kapitalisme global. Indonesia dalam

(3)

ini “terperangkap” oleh kekuatan ekonomi global, yaitu China.2

Perangkap kapitalisme global dalam konteks ini adalah nyata adanya. Konsep- si laissez faire, laissez passer begitu nyata implementasinya karena batas negara melebur. Negara hanya menjadi “penja- ga malam” dengan menyediakan regu- lasi yang sedia nya bisa memperlancar arus barang, modal, dan manusia tanpa adanya hambatan. China dengan kekua- tan ekonominya yang menggurita dapat mengakses pasar Indonesia secara bebas, begitupula sebaliknya.

Resiproksitas perlakuan terhadap pasar lokal secara Teoritik, dalam per- spektif David Ricardo, akan melahirkan keuntung an komparatif. Kedua negara akan meraup keuntungan dengan me- maksimalkan sumber daya yang mereka miliki. Tak hanya itu saja, persaingan be- bas tersebut, dalam bahasa buku teks, dapat menumbuhkan persaingan serta

free-entry dan free exit. Kenyataannya, free-entry bakal memunculkan predator dan free-exit menjadi keterpaksaan gu- lung tikar.3

Situasi demikian tentu saja tak menguntungkan bagi Indonesia. Serbu- an produk dari China memunyai makna lain di bandiingkan sekedar terfasilitasi- nya barang murah. Ancaman de-indus- trialisasi beserta multi-player effect-nya hampir mustahil untuk bisa dihindari.

Pasar dalam hal ini akan terus berjalan sesuai koridornya. Tak akan pernah me- mikirkan agenda-agenda sosial, hanya berkutat pada urusan bagaimana meng- hasilkan keuntungan dengan maksimal tanpa tahu-menahu dampaknya bagi masyarakat.4

Ketiadaan agenda sosial dalam mekanisme pasar bebas berdampak pada lahirnya kelas pemenang dan pe cundang, homo humini lupus. Pemenang adalah

3. ibid.

4. Setiawan, Bonnie. “Globalisasi, Utang, dan Privatisasi”

dalam Pulungan, Amalia (ed.). Jurnal Keadilan Global.

Vol. 01 Tahun I 2003. Jakarta: Institute for Global Justice, hal. 16

2. Swasono, Sri Edi. “ASEAN-China Free Trade Agree- ment: LEARN TO FIGHT - NOT LEARN TO SURRENDER” da- lam http://www.ekonomirakyat.org/_artikel.php?id=1.

Diakses pada 7 Agustus 2010 pukul 21.09 WIB.

(4)

mereka yang memunyai kekuatan modal-finansial besar dan terus-menerus mengakumulasi kapitalnya. Mereka yang lemah akan terperosok akibat ketiadaan perlindungan sosial dari regulator (negara) akibat beralih fungsi sebagai penjaga malam saja. Asumsi adanya trickle down effect dalam mekanisme ini hanya berlaku dalam buku teks mengingat sifat manusia yang tak pernah puas dengan hasil yang diperolehnya.

Pembukaan perekonomian nasional dalam kerangka pasar bebas berimplikasi pada pemenuhan hak asasi manusia (HAM) yang sejatinya jadi tanggung jawab nega- ra. Kerangka HAM yang terancam akibat ACFTA dalam konteks Indonesia adalah hak ekonomi, sosial, dan budaya (ekosob).

Pemenuhan hak ekosob tak sama dengan hak sipil dan politik. Dalam hak ekosob, in- tervensi negara haruslah positif. Artinya, ne- gara harus jadi regulator guna meme nuhi hak warga negara. Penerapan ACFTA mau tak mau mengurangi derajat intervensi ne- gara sehingga pemenuhannya terancam.

Penerapan free trade area de ngan model regionalisme dalam bingkai ACFTA ini tak bisa dipisahkan dari aspek HAM.

Adanya ancaman terhadap pemenuhan hak ekosob menjadikannya perlu untuk di cermati. ACFTA tak sekedar berjalan da- lam rel ekonomi belaka, juga menyang- kut aspek politik, sosial, dan budaya.

Pengalam an lahirnya pemberontakan Zapatista di Meksiko yang bertepatan dengan pemberlakuan North America Free Trade Agreement (NAFTA) menjadi bukti nyata ancamannya. Masyarakat adat Meksiko pada 1 Januari 1994 menegas- kan ancaman pasar bebas terhadap ke- manusiaan.

NAFTA is a death sentence for the indigenous people. NAFTA sets up competition among farmers, but how can our campesinos- who are mostly illiterate-compete with U. S. and Canadian farmers?

And look at this rocky land we have here. How can we compete with the land in California, or in

(5)

Canada? So the people of Chiapas, as well as the people of Oaxaca, Varacruz, Quitana Roo, Guerrero, and Sonora were the sacrificial lambs of NAFTA.5

Untuk itu, tulisan ini berusaha men- jelaskan bahaya ACFTA terhadap pe- menuhan HAM, terutama hak ekosob.

Negara yang seharusnya bertanggung- jawab untuk memenuhi hak tersebut cenderung diminimalkan fungsinya meskipun mempunyai tanggung jawab besar didalamnya. Tanggung jawab ne- gara tersebut pada dasarnya tak bisa di- hindari sebagaimana mandat Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, serta ber- bagai instrumen internasional lainnya seperti: Konvensi Hak Ekonomi, Sosial, dan budaya, serta Konvensi ILO menge- nai hak buruh.

Kerangka Teoritik

Pertengahan dekade 1980-an me- rupakan sejarah tersendiri bagi perkem- bangan regionalisme. Perkembangan ini dipengaruhi oleh semakin menguatnya globalisasi ekonomi dengan ciri khas me- kanisme pasar sebagai pijakan. Pergerakan regionalisme yang terbentuk pada masa tersebut berbeda dengan model pada dekade 1950-an dan 1960-an. Pergerakan regionalisme pada era 1980-an hingga sekarang banyak dipengaruhi oleh faktor globalisasi ekonomi. Hal ini terjadi seba- gai akibat penyesuaian terhadap dampak dari ekonomi global dan menjadi solusi agar mampu bertahan dalam persaingan (globalisasi).6

Pergerakan regionalisme tersebut melahirkan integrasi ekonomi sebagai tahapan selanjutnya, tak sekedar sebagai organisasi kawasan. Integrasi ekonomi dalam konteks regionalisme secara men- dasar hanyalah “miniatur” dari globalisa- si mengingat secara prinsip memunyai

6. Ohmae, Kenichi. 2001. Hancurnya Negara-Bangsa, terj. Ruslani. Yogyakarta: Qalam, hal. 1-7

5. Kutipan pidato Subcomandante Marcos di Balaikota Chiapas pada 1 Januari 1994 terkait penentangan implementasi NAFTA yang dinilai mengancam ke- manusiaan dan masyarakat adat pada khususnya sebagaimana dikutip Justice, Jason. 1996. Opposing NAFTA: International Opposition To The North America Free Trade Agreement. Edinburgh: Haymarket Press, hal.

12-13.

(6)

mekanisme sama, yaitu pasar bebas. Oleh karena itu, berbagai organisasi regional se- perti NAFTA, ACFTA, dan Uni Eropa lebih fokus pada aspek ekonomi akibat desakan dari globalisasi yang menuntut “lokalisasi”

kekuatan ekonomi dalam spektrum ka- wasan.

Merujuk pada globalisasi, re gio- nalisme juga menganut prinsip dasar bekerjanya mekanisme ekonomi secara fundamental. Menurut Stiglitz, globalisa- si tak hanya terbatas pada perpindahan modal-finansial dan barang secara bebas melampaui batas negara. Globalisasi juga memuat unsur perpindahan secara bebas manusia yang melampaui batas negara.

What is this phenomenon of globalization that has been subject, at the same time, to such vilification and such praise? Fundamentally, is it the closer integration of the countries and peoples of the world which has been brought about by the enormous reduction of costs of transportation and communication, and the breaking

down of artificial barriers to the flows of goods, services, capital, knowledge, and (to a lesser extent) people across borders.7

Prinsip dasar globalisasi versi Stig- litz tersebut juga berlaku pada lanskap regionalisme secara umum. Namun, per- pindahan barang, jasa, dan modal tetap jadi kerangka utama regionalisme kare- na mengacu pada perdagangan bebas sebagai basis. Penggunaan logika pasar memunyai implikasi terhadap kebijakan negara dan relasi sosial. Sistem ekonomi pasar jadi tolok ukur evaluasi kebijakan negara dan relasi sosial dipahami dalam kerangka tersebut.8

Penerapan pasar bebas tak bisa lepas dari perspektif neoliberalisme.

Neoliberalisme dalam hal ini menjadi ideologi mekanisme pasar meski dalam lanskap regional. Peran negara harus se minimal mungkin dalam globalisasi

7. Stiglitz, Joseph E. 2002. Globalization and its Discontents. New York: W. W. Norton & Company Inc., hal. 9

8. Priyono, B. Herry. “Sesudah Modal Lolos Dari Trias Economica” dalam Pulungan (ed.). op. cit. Hal. 29

(7)

model neoliberal jadi referensi penerasan in tegrasi ekonomi dalam suatu kawasan.

Peran negara dalam melakukan interven- si ekonomi idealnya negatif, bahkan un- tuk sekedar jadi regulator. “… in terms of real flows of economy activity, nation-states have already lost their role as meaningful units of participation in the global economy of today’s bordereless world.”9

Aspek ekonomi tidaklah berdiri sen- diri tanpa mempengaruhi kondisi lain- nya. Dalam perspektif marxian, ekonomi merupa kan basis, sedangkan aspek lain- nya adalah superstruktur. Artinya, ekono- mi memunyai efek domino dan mempe- ngaruhi seluruh aspek kehidupan manusia secara keseluruhan. Mekanisme pasar da- lam ekonomi memaksa berbagai aspek kehidup an juga terpengaruh. Metamorfo- sis tersebut kemudian berkembang men- jadi neoliberalisme yang menjadikan pasar sebagai ukuran pemenuhan hak. Lambat laun, pasar bebas pun berusaha mencip-

takan kehidupannya sendiri, yaitu: “proyek pengatur seluruh bidang kehidupan de- ngan dalil harga.”10

Kondisi demikian tentunya ber- pengaruh terhadap pemenuhan HAM bagi warga negara. Hak asasi yang seja- tinya melekat pada setiap individu war- ga negara terpelanting ke ranah pasar.

Artinya, hak bertemali erat dengan daya beli. Pemenuhan hak sangat tergantung dengan kekuatan ekonomi individu un- tuk bisa menjangkaunya. Situasi seperti ini tercipta sebagai dampak dari ketiadaan peran negara sebagai regulator. Hilangnya peran positif negara yang sejatinya sangat dibutuhkan tersebut membuat kelompok sub-altern tak bisa terlindungi dengan maksimal. Padahal, disinilah letak fungsi negara untuk menyejahterakan rakyatnya tapi cenderung terlupakan.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manu- sia 1948 pada Pasal 22 deklarasi ini de- ngan tegas menyebutkan, setiap orang berhak mendapatkan jaminan sosial dan

9. Ohmae, “The End of the Nation State” dalam Lechner, Frank J. dan John Boli (eds.). 2000. The Globalization Reader. Massachusetts: Blackwell Publisher Inc., hal.

207-211.

10. Priyono, Herry B. “Sesat Neoliberalisme” dalam Harian Kompas edisi 28 Mei 2009.

(8)

terwujudnya hak ekonomi, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, negara dengan sumber daya yang mereka miliki wajib mengusahakan pemenuhan hak terse- but. Disamping itu, Konvensi Hak Eko- nomi, Sosial, dan Budaya juga mengatur lebih terperinci lagi. Hak ekosob merupa- kan tanggung jawab negara sehingga penyerahan pada mekanisme pasar ada- lah bentuk pelanggaran ter hadap atur- an ini. Regulator yang dimaksud bukan sekedar berperan sebagai “tukang stem- pel,” tapi pro-aktif terhadap perlindung- an warga negara.

Dalam konteks ACFTA, penerapan per- dagangan bebas di antara entitas politik tersebut menimbulkan persoalan tersen- diri bagi pemenuhan HAM. Perlindung an terhadap kekuatan ekonomi lemah dapat terancam karena ketiadaan retriski yang mengatur pertukaran barang dan mo- dal. Ancaman terhadap ACFTA memang belum nyata terjadi, tapi potensi untuk muncul setiap saat akan selalu ada. Ser- buan barang dari China menjadi ancaman tersendiri bagi Indonesia. Industri Kecil Menengah dan Usaha Kecil Menengah

berpotensi jadi korban pertama kerjasama ekonomi ini. Tentu saja, hak buruh pun bisa tercerabut akibat de-industrialisasi secara massif.

Kerangka kerja ACFTA hendaknya tak dilihat sebagai proses ekonomi se- mata. Didalamnya juga terdapat banyak aspek kehidupan yang saling terkait dengan kebijakan tersebut. HAM me- rupakan salah satu sisi kehidupan yang mendapat ancaman paling serius, ter- utama hak ekosob akibat minimnya pe- ran negara dalam memenuhi dan melin- dungi. ACFTA dalam tulisan ini diletakkan dalam bingkai bagaimana tanggung ja- wab negara dalam memenuhi dan me- lindungi HAM warga negara. Tentu saja, lebih dititikberatkan pada hak ekosob yang bertemali erat dengan kerjasama ekonomi ini.

Argumen

Implementasi kesepakatan perjanji- an terkait ACFTA memunyai multiplayer effect yang sangat besar. Dampak ter- sebut tak hanya bekerja dalam ranah

(9)

Tabel 1 – Kesepakatan-Kesepakatan Terkait ACFTA

No. Kesepakatan Tanggal

Kesepakatan 1.

Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation Between ASEAN and the People’s Republic of China.

Phnom Penh, 5 November 2002

2.

Protocol to Amend the Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation Between the Association of South East Asian Nations and the People’s Republic of China.

Bali,

6 October 2003 ekonomi, juga merambah ke arena kese-

jahteraan sosial. Hak warga negara pun terancam, terutama hak ekosob akibat absennya negara dalam pemenuhan dan perlindungan HAM. Kondisi demiki- an tentu saja tak menguntungkan bagi masyarakat secara umum meskipun beberapa diantaranya dapat meraup keuntungan. Pengangguran, kemiskin- an, de-industrialisasi, dan terabaikannya hak buruh merupakan ancaman nyata dari penerapan ACFTA. Timbulnya an- caman dari ACFTA idealnya tak perlu terjadi mengingat negara dalam hal ini harus bertanggungjawab sebagaima- na diatur dalam Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Oleh karena itu, implementasi kesepakatan ACFTA terindikasi melanggar HAM kare-

na tak terpenuhi dan terlindunginya hak ekosob warga negara secara utuh.

Menghitung Kembali ACFTA

Perjanjian ACFTA yang gempar sejak 2010 sejatinya melalui proses panjang se- belumnya. Perundingan area perdagangan bebas antara China dan ASEAN ini dimulai pada 2001-2002. Puncak dari perundingan tersebut ditandai dengan penandatangan- an Perjanjian Kerangka Kerjasama Ekono- mi Menyeluruh antara ASEAN dan RRC di Phnom Penh pada 5 November 2002.

Gemparnya pemberlakuan perjanjian Free Trade Area (FTA) pada 2010 pada dasarnya terlambat karena beberapa kesepakatan perdagangan sudah diimplementasikan sejak 2005.

(10)

Pemberlakuan kesepakatan FTA ini menimbulkan berbagai kekhawatir- an berbagai pihak. Beberapa ekonom seringkali mengingatkan ancaman dari implementasi kesepakatan ini karena berpotensi menghancurkan perekono- mian nasional.11 Serbuan produk China

yang sudah membanjir sedari lama bakal tak terbendung lagi. Apalagi dengan pemberlakuan ACFTA yang membe- baskan bea masuk suatu produk dari China, dan begitupula sebaliknya. Reak- si penolakan juga muncul dari kalangan pengusaha, serikat pekerja, maupun ma- syarakat umum. Bahkan, di dalam inter- nal pemerintah pun masih terjadi silang

11. Ekonom UI Faisal Basri meminta DPR untuk me ngajukan hak angket atas FTA ASEAN-China karena nilai ke rugiannya sangat besar, lebih dari kerugian akibat bail-out Bank Century yang besarnya mencapai 6 triliun rupiah lebih. Lebih jelasnya, lihat “ACFTA, Kado Pahit di Awal Tahun”, dalam http://berita.liputan6.com/

mendalam/201001/258439/ACFTA.Kado.Pahit.di.Awal.

Tahun sebagaimana diakses pada 15 Agustus 2010 pukul 23.09 WIB.

3.

Agreement on Dispute Settlement Mechanism of the Framework Agreement on Comprehensive Economic Co-Operation Between the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China.

Vientiane,

29 November 2004

4.

Agreement on Trade in Goods of the Framework Agreement on Comprehensive Economic

Co-operation between the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China.

Vientiane,

29 November 2004

5.

Agreement on Trade in Services of the Framework Agreement on Comprehensive Economic

Co-operation between the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China.

Cebu,

14 Januari 2007

6.

Agreement on Investment of the Framework Agreement on Comprehensive Economic

Co-operation between the Association of Southeast Asian Nations and the People’s Republic of China.

Bangkok, 15 August 2009

Sumber: Diolah dari http://www.aseansec.org/19105.htm

(11)

pendapat terkait butir- butir kesepakatan dalam perjanjian ACFTA ini.12

Di samping itu, kesepakatan ACFTA memunyai permasalahan terhadap as- pek lain. Buruh dalam hal ini dapat jadi pihak yang paling dirugikan akibat ada- nya kesepakatan perdagangan bebas antara ASEAN dan China. De-industriali- sasi tetap jadi ancaman menakutkan bagi masa depan buruh meskipun nilai

ekspor Indonesia ke China terus me- ningkat. Namun, meningkatnya nilai ekspor Indonesia tersebut juga berlaku per se yang nilai peningkatannya jauh lebih besar. Serbuan produk dari Chi- na bisa mengakibatkan industri dalam negeri kolaps sehingga berdampak bagi kesejahteraan buruh. Tak hanya itu saja, hal ini juga berpengar uh terhadap UKM dan IKM dalam negeri akibat memban- jirnya produk China di pasar domestik.13

Tabel 2 - Produk China yang Sering Dibeli

No. Jenis Produk Persentase

1. Elektronik 34

2. Telepon Seluler 19

3. Mainan Anak 11,10

4. Alat Rumah Tangga (non-elektronik, alat teknik) 9,90

5. Pakaian/Produk Tekstil 9,30

6. Tas dan Sepatu 2,90

7. Alat Transpotasi 2,20

8. Komputer dan Perlengkapan 1,30

9. Lain-lain 3,80

Sumber: Litbang Kompas, dalam Harian Kompas edisi 3 Februari 2010

12. IGJ. “Meggugat Perjanjian kerjasama ASEAN-China”, dalamhttp://www.globaljust.org/index.php?otion=

com_content&task=view&id=385&Itemid=1, diakses pada 12 Agustus 2010 pukul 21.32 WIB. Kekacauan koordinasi dalam penandatanganan kesepakatan ACFTA. Hal ini bisaa dilihat dari kekecewaan Menteri Perindustrian akibat kegagalan renegosiasi 228 pos yang dinilai bisa mengancam industri dalam negeri.

Lihat, “Menperin Kecewa Gagalnya Renegosiasi

228 Pos ACFTA”, dalam http://bisniskeuangan.kom- pas.com/read/2010/04/06/12075431/Menperin.

Kecewa.Gagalnya.Renegosiasi.228.Pos.ACFTA, diakses pada 23 Mei 2010 pukul 19.06 WIB.

13. Lihat, IGJ. “CAFTA sebagai Momentum Instropeksi Nasional”, dalam http://www.globaljust.org/index.

php?option=com_content&task=view&id=384&It emid=!, diakses pada 18 Agustus 2010 pukul 19.25 WIB.

(12)

Serbuan produk China ke pasar domestik dapat dilihat dari volume ekspor- impor selama semester I Tahun 2010. Pemberlakuan ACFTA membawa dampak signifikan terhadap ekspor China ke Indonesia yang terus me- ningkat meskipun nilai impor mereka juga mengalami hal sama. Peningkatan ini banyak ditengarai disebabkan oleh pemberlakuan ACFTA. Namun, kesen-

jangan antara ekspor dan impor terse- but cukup signifikan. Kesenjangan ini dapat memicu terjadinya stagnasi per- ekonomian domestik akibat terhentinya produksi dalam negeri akibat gempuran produk China. Kondisi tersebut ditambah lagi dengan murahnya produk China se- hingga bisa menyingkirkan produk da- lam negeri yang saat ini sudah bisa mulai dirasakan.

14. “ACFTA terindikasi Langgar UU Tenaga Kerja”, dalam http://bisnis.vivanews.com/news/read/133650-acfta_

bisa_langgar_uu_tenaga_kerja, diakses pada 3 Maret 2010 pukul 22.05 WIB.

Tabel 3 - Nilai Ekspor-Impor Antara Indonesia-China

Januari-Juni 2009 Januari-Juni 2010

Ekspor Impor Ekspor Impor

USD 3.769,5 Miliar USD 5,9 miliar USD 6.048,1 miliar USD 8,99 miliar

Sumber: BPS, “Laporan Bulanan Data Ekonomi Edisi 3 agustus 2010” dalam http://dds.bps.go.id/download_

file/IP_Agustus_2010.pdf, diakses pada 25 Agustus 2010 pukul 20.36 WIB

Kesepakatan ACFTA tak hanya me- nyangkut penghapusan bea masuk atau perdagangan bebas. Kesepakatan ACFTA juga masuk dalam ranah perpindahan secara bebas tenaga kerja atau manusia.

Dalam hal ini, terdapat kejanggalan antara ACFTA dengan UU No. 13/2003 tentang Ketenagakerjaan. Maraknya tenaga kerja asing menjadi perhatian serius banyak kalangan, terutama buruh. Terbukanya ker- an masuknya pekerja asing dikhawatir kan

dapat mengurangi kesempatan kerja yang akhirnya semakin memperbanyak jumlah pengangguran. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyatakan, perjan- jian dalam kesepakatan ACFTA terindikasi melanggar UU No. 13/2003 tentang Ke- tenagakerjaan.14 Tentu saja hal ini semakin

(13)

menunjukkan ketidak berpihakan ACFTA terhadap perekonomi an nasional.

Persoalan perburuhan lebih kom- pleks ketika ACFTA mulai berlaku. Ma- suknya tenaga asing secara bebas ber- implikasi pada menyempitnya lapangan pekerjaan bagi angkatan kerja produktif.

Sempitnya lapangan kerja pada dasarnya sudah terjadi sebelum ACFTA dinyatakan mulai efektif. Oleh karena itu, kesepakat- an perdagangan bebas antara ASEAN de- ngan China membawa implikasi sangat berarti terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam perspektif dependensia, nega- ra dengan kekuatan yang rendah akan menjadi tergantung. Menurut Sanjaya Lall, dependensia akan selalu membawa kondisi kemiskinan. Disamping itu, per- tumbuhan dibatasi oleh terbatasnya pa- sar dan negara satelit selalu menjadi sub- ordinate dari center yang memungkinkan terjadinya eksploitasi.15

Ketimpangan dalam perdagang- an bebas meskipun dengan model

15. Fakih, Mansour. 2002. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press, hal. 130

16. Stiglitz. op. cit. hal. 176

17. Green, Penny dan Ward, Tonny. 2009. Kejahatan Negara: Pemerintah, Kekerasan, dan Korupsi, terj. Fajar S.

Roekminto. Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manu- sia, hal. 287-299

regionalisme akan merugikan kelompok lemah. Bagi Indonesia, implikasi ini akan tampak nyata walaupun bakal terjadi da- lam jangka panjang. Dampak dari ACFTA tak hanya muncul di ranah ekonomi saja, meluas ke aspek lain mengingat faktor ini merupakan basis kehidupan. Ditun- jang lagi dengan anakronisme kebijakan dalam menghadapi ACFTA di lingkup pe- nyelenggara negara. Tentu saja kondisi demikian akan membuat situasi sema- kin runyam. Situasi seperti ini menjadi- kan upaya untuk bangkit kembali akan mengalami kesulitan akibat absennya negara dalam mengatur perekonomian.

“Unbelievable as it may seem, the fair trade laws were again invoked, to to impede this transfer.”16 Bagaimana pun juga, absen- nya negara dalam perekonomian berpe- ngaruh terhadap upaya pemenuhan hak warga negara, terutama perlindungan kelompok lemah. Pelepasan tanggung jawab tersebut merupakan bagian dari kejahatan negara terhadap warganya.17

(14)

Penolakan terhadap FTA sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. NAFTA dalam hal ini mengalami resistensi dari masyarakat adat Meksiko yang ditandai dengan adanya pemberontakan 1 Januari 1994, tepat mulai efektinya kesepakatan NAFTA. Adanya resistensi dari masyarakat secara massif tersebut, dan sampai se- karang terus berlangsung, menandakan adanya ketimpangan. Ketidakmerataan kekuatan ekonomi atau kesiapan negara peserta dalam mengimplementasikan kesepakat an pada dasarnya bukanlah alasan utama resistensi tersebut. Neo- liberalisme yang menjadi nafas perda- gangan bebas merupakan alasan utama munculnya resistensi di Meksiko. Melalui Gerakan Zapatista, masyarakat Meksiko Tenggara, Chiapas, menolak FTA di Ame- rika Utara ini.

Terdapat perselisihan menge- nai proyek globalisasi di seluruh dunia. mereka yang ada di atas meng globalkan konformisme, sinisme, kebodohan, perang, penghancuran, dan kemati- an. Dan mereka yang di bawah meng globalkan pemberontakan,

harapan, kreativitas, kecerdasan, imajinasi, kehidupan, ingatan, dan pembangun an sebuah dunia di mana kita semua bisa cocok, semua dunia dengan demokrasi, kebebasan, dan keadilan. 18

Berkaca Dari Meksiko: NAFTA

Keberadaan Meksiko dalam NAFTA dapat jadi cerminan bagaimana model ekonomi kawasan ini mengancam kemanusiaan. Protes keras terhadap mekanisme yang dibangun NAFTA jadi bukti adanya ancaman serius terhadap kemanusiaan. Pemberlakuan NAFTA dinyatakan memunyai pengaruh da- lam skala luas, tak hanya ekonomi saja.

Pe nerapannya mempengaruhi seluruh aspek kehidupan dan kelompok ma- syarakat rentan merupakan bagian yang paling serius terkena dampaknya.

Kehidupan nya tercerabut karena peng- gunaan logika pasar yang secara nyata sangat bertentangan dengan nilai kolek- tivitas masyarakat.

18. Marcos, Subcomandante. 2006. Kata Adalah Senjata, terj. Ronny Agustinus. Yogyakarta: Resist Book, hal. 77

(15)

Munculnya gerakan zapatista di Mek- siko merupakan cermin terbaik dalam memotret persoalan ini. Gerakan yang lahir dari rahim masyarakat adat ini me- rupakan anti-thesis atas dominasi peran negatif negara terhadap pemenuhan hak ekosob. Masuknya Meksiko dalam lingkar- an NAFTA menjadikan negara ini harus mengurangi perannya sebagai regulator.

Degradasi peran negara mengakibatkan perlindungan terhadap masyarakat adat berkurang sehingga identitas mereka pun terancam. Identitas sebagai masyarakat adat seutuhnya karena dalam kerangka NAFTA terdapat item mengenai liberalisasi pertanahan.

Tepat saat dimulainya pemberlaku- an NAFTA pada 1 Januari 1994, zapatista secara resmi menyatakan dirinya sebagai pemberontak. Mereka menentang rezim NAFTA yang diberlakukan di negaranya.

“NAFTA is death sentence for the indigenous people.” Begitulah slogan sederhana me- reka ke tika secara resmi bergerak mela- wan rezim pasar yang berkuasa di Mek- siko. “NAFTA is centrally about protecting the rights of U. S. and Canadian investors

in Mexico, locking into a dependency path, foreclosing radical options.cukup”19 Artinya, dependensia masih akan terus mem- bayangi negara yang secara ekonomi lemah sehingga upaya untuk lebih maju terhambat.

Mekanisme pasar sebagai roh per- dagangan bebas juga berimplikasi pada tuntutan demokrasi gerakan zapatista.

Demokrasi bisa tergadaikan akibat pe- nerapan fundamentalisme pasar, dapat dijual kepada penawar tertinggi.20 Di samping itu, juga mereduksi makna kebe- basan dan HAM. HAM tak lagi dilihat se- bagai hak dasar manusia, tapi diukur dari daya beli warga negara.21 Seperti halnya yang terjadi di Meksiko, masyarakat adat di sana pun menjadi kelompok sub-altern.

Kelompok yang tak dapat bersuara aki- bat kekuasaan negara yang tak berpihak.

Karena itu, mereka mengeluarkan tiga

19. Lihat, Korten, David C. 2002. The Post-Corporate World, terj. A. Rahman Zainuddin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hal. 1

20. “Liberalisasi: Kebebasan dan HAM dapat Tereduksi”

dalam Harian Kompas edisi 24 maret 2010

21. Cuninghame, Patrick dan Corona, Carolina Ballesteros.

“A Rainbow at Midnight: Zapatista and Autonomy”

dalam Capital & Class: Autum 1998; 66.

(16)

tuntutan pokok terhadap pemerintah Meksiko, yaitu: demokrasi, kebebasan, dan keadilan.22

Analogi penerapan NAFTA di Meksi- ko dengan ACFTA dalam kerangka perda- gangan bebas kawasan dapat jadi rujukan dalam konteks HAM. Keduanya memunyai kerangka sama, perdagangan bebas ka- wasan. Di satu sisi proyek besar terus terja- di. Di sisi lain, terdapat ancaman potensial akibat penerapannya, terutama terhadap kelompok rentan. Oleh karena itu, Mek- siko bisa dijadikan cermin ketika menga- mati fenomena ACFTA yang saat ini sudah berjalan. Bukan sekedar dilihat dari kaca- mata ekonomi an sich. Namun, juga ber- kelindan dengan semua aspek kehidupan karena memunyai efek di semua aspek ke- hidupan.

Pemberlakuan ACFTA dalam hal ini memunyai potensi sama dengan apa yang terjadi ketika NAFTA secara resmi berjalan. Apa yang terjadi di Meksiko bisa

jadi gambaran terkait pengabaian HAM warga negara. Aspek kesejahteraan da- lam hal ini memunyai proporsi lebih be- sar karena agreement tersebut lebih fokus pada persoalan ekonomi. Meski demiki- an, kondisi tersebut tetap akan memba- wa pada implikasi pada banyak aspek, salah satunya yaitu HAM. Terutama erat sekali dengan hak ekosob karena perda- gangan bebas tersebut memunyai impli- kasi sangat besar terhadap nasib kesejah- teraan warga negara.

Masa Depan Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya

Dunia HAM di Indonesia memulai babak baru ketika DPR pada Sidang Pa- ripurna 30 September 2005 mengesahkan UU No. 11/2005 tentang Pengesahan Ko- venan Internasional tentang Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Pengesahan kovenan internasional ini membawa harapan baru bagi upaya penegakan dan pemajuan HAM di Indonesia. Tentu saja, pengesah an kove- nan ini bukan sekedar meratifikasi saja, tapi ada banyak hal yang harus dipatuhi oleh negara peserta. Didalamnya mengandung

22. Zen, Patra M. dan Hardiyanto, Andik. “Bukan Sekedar Menandatangani: Obligasi Negara Berdasarkan Kovenan Hak Ekosob” dalam Jurnal HAM Vol. 4 Th. 2007.

Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, hal. 23-25

(17)

Tabel 4 - Kewajiban Negara Terkait Ketentuan Kovenan Hak Ekosob No. Kewajiban Negara Rincian

1. Mengakui • Negara mengakui semua mekanisme dan konsekuensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob;

• Negara mengakui semua mekanisme dan konsekuensi yang mesti ditanggung para pelaku pelanggaran hak ekosob.

23. ibid., hal. 22

suatu obligasi (kewajiban) bagi negara un- tuk melaksanakan aturan yang ada sebagai bentuk pertanggung jawaban.

Implementasi hak ekosob tidaklah berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Berbagai penafsiran muncul terhadap ko- venan internasional ini. Penafsiran terse- but membawa dampak pada kurang opti- malnya pengaplikasian hak ekosob seperti yang diatur dalam kovenan de ngan se- mestinya. Pandangan yang muncul terse- but pada dasarnya merupakan kekeliruan penafsiran sehingga menciptakan ambi- guitas didalamnya. Kekeliruan pandangan tersebut terjadi pada penafsiran23:

1. Seluruh prinsip dan pemenuhan hak ekosob dipenuhi secara bertahap

2. Semua pemenuhan hak ekosob membutuhkan biaya

3. Semua pemenuhan hak ekosob mesti menunggu sumber daya yang berlimpah

Penafsiran seperti di atas tentu saja melemahkan implementasi pelaksanaan hak ekosob oleh negara. Dengan dalih ter- tentu, negara cenderung menghindar dari obligasi nya dengan berbagai macam alasan.

Nyata adanya, Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya ini mengikat komitmen suatu negara untuk melaksana- kannya. Bukan sekedar pernyataan “komit- men” dan “kemauan baik”, yang tidak me- ngenal “sete ngah komitmen” atau “komitmen setengah- setengah” melainkan “komitmen penuh” untuk mengimplementasikannya.24

(18)

2. Mempromosikan • Sosialisasi hak eksosob kepada masyarakat luas;

• Menggugah partisipasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam implementasi hak ekosob secara menyeluruh.

3. Menghormati Negara tidak melakukan tindakan yang justru membatasi sebagian atau seluruhnya hak-hak ekosob masyarakat.

4. Melindungi • Adaanya jaminan secara hukum oleh negara;

• Memastikan setiap orang terpenuhi hak ekosobnya tanpa terkecuali, misal: bebas dari kelaparan, bisa menikmati pendidikan dasar, dan bebas dari kemiskinan.

5. Memenuhi • Menyediakan lapangan kerja dan memfasilitasi bimbingan teknis, program-program pelatihan, dan kegiatan ekonomi produktif (Pasal 6 Kovenan);

• Menyediakan dan memfasilitasi jaminan sosial termasuk asuransi sosial bagi setiap warga negara (Pasal 9 Kovenan);

• Menyediakan bantuan kepada keluarga untuk merawat dan mendidik anak-anak yang masih dalam tanggungannya (Pasal 10 Kovenan);

• Dengan kerjasama internasional, negara menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pangan, sandang dan perumahan, dan perbaikan kondisi hidup semua orang secara terus menerus (Pasal 11 Kovenan);

• Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas standar kesehatan fisik dan mental setinggi- tingginya yang dapat dicapai (Pasal 12 Kovenan);

• Menyediakan dan memfasilitasi (akses) atas pendidikan, termasuk memenuhi hak setiap orang menikmati pendidikan dasar yang wajib dan cuma-cuma (compulsory and free of charge) (Pasal 13 dan 14 Kovenan).

(19)

• Menyediakan dan memfasilitasi (akses) semua orang untuk menikmati manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapannya (Pasal 15 ayat (1) Kovenan);

Sumber: Diolah dari Jurnal HAM Vol. 4 Th. 2007

Tabel 5 - Tanggung Jawab Negara Terhadap Hak Ekosob Situasi atau Bentuk

Pelanggaran Hak Ekosob oleh Negara

Pelanggaran Hak Ekosob yang Bisa Ditangani Segera oleh Pihak Yudikatif (Contoh)

1. Gagal mengambil langkah- langkah seperti yang disyarat- kan dalam Kovenan;

2. Gagal menyingkirkan segera atas berbagai hambatan yang menghalangi realisasi hak secara penuh;

3. Gagal untuk mengimplemen- tasikan hak yang perlu segera direalisasikan;

4. Menerapkan pembatasan atas hak yang diakui dalam Kovenan dengan alasan- alasan yang tidak sesuai seperti yang disyaratkan Kovenan;

5. Sengaja menghambat atau menghalangi realisasi bertahap atas hak-hak yang diakui dalam Kovenan;

6. Gagal menyampaikan laporan sebagai ditentukan dalam Kovenan.

1. Non-diskriminasi dalam realisasi hak (Pasal 3 Kovenan);

2. Upah yang adil dan setara; upah yang sama bagi pekerjaan yang sama antara laki-laki dan perempuan (Pasal 7 huruf (a) angka (i)

Kovenan);

3. Hak untuk membentuk serikat buruh dan hak mogok (Pasal 8 Kovenan);

4. Perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi dan sosial (Pasal 10 ayat (3) Kovenan);

5. Pendidikan dasar (Pasal 13 angka (2) huruf (a) Kovenan);

5. Hak orang tua untuk memilihkan sekolah bagi anak-anaknya guna menjamin pendidikan agama

6. serta moral yang sesuai dengan keyakinan mereka (Pasal 13 ayat (3) Kovenan);

7. Hak untuk mendirikan dan mengarahkan sekolah (Pasal 13 ayat (4) Kovenan);

8. Kebebasan melakukan penelitian ilmu pengetahuan serta kegiatan kreatif (Pasal 15 ayat (3) Kovenan).

Sumber: Diolah dari Jurnal HAM Vol. 4 Th. 2007

(20)

Tanggung jawab negara dalam hak - ekosob seperti paparan di atas paradoks dengan situasi yang tercipta sebagai dam- pak implementasi ACFTA. Hak warga negara bisa tercerabut akibat minimnya perlindu- ngan dari negara akibat dilepasnya obligasi negara ke mekanisme pasar. Ke lompok marjinal dalam hal ini akan mendapatkan dampak terbesar dari lepasnya tanggung jawab negara. Padahal, terang sekali bila hak ekosob harus dipenuhi negara tanpa ada alasan apa pun setelah bersedia merati- fikasinya. Ke senjangan antara aturan dalam ACFTA dengan Kovenan Internasional Hak Ekosob ini membawa sejumlah implikasi, antara lain:

1. Terabaikannya hak ekosob;

2. Penyelewengan obligasi negara terhadap hak ekosob yang menye- babkan terjadinya pelanggaran HAM;

3. Meningkatnya jumlah pengangguran yang linear dengan kemiskinan;

4. Menurunnya kualitas kehidupan ma- syarakat.

Pemberlakuan FTA dalam konteks ACFTA memunyai implikasi sangat besar

terhadap hak ekosob. Masa depan hak ekosob warga negara dalam hal ini men- jadi taruhannya mengingat lepasnya peran negara sebagai regulator. Dampak yang timbul tak akan dapat dirasakan dalam jangka pendek. Dampaknya akan terlihat jelas ketika implementasi ACFTA sudah berjalan beberapa tahun. Serbuan produk asing tanpa adanya proteksi dari negara merupakan potensi negatif ter- hadap perekonomian nasional. Gulung tikarnya UKM dan IKM akan menciptaakan permasalahan tersendiri akibat gempuran produk asing, terutama China. Ketiadaan proteksi terhadap produk dalam negeri akan menjerumuskan industri domestik.

Hal ini bukan terkait kalah persaingan atau belum siap berkompetisi, tapi lebih pada bayangan adanya trickle down effect yang sulit terjadi.

Suramnya masa depan hak eko- sob merupakan kabar buruk bagi masa depan HAM di Indonesia. HAM secara mendasar tak hanya terkait dengan aksi kekerasan aparat negara atau tindakan pembiaran pelanggaran HAM, juga dalam ranah kesejahteraan. Untuk itu, perhatian

(21)

khusus atas kesepakatan dalam ACFTA harus ditempuh dengan melakukan re- negoisasi. Meskipun pernah mengalami kegagalan dalam melakukan renegoisasi, upaya ini harus terus-menerus dilaku- kan agar tak mengorbankan hak warga negara. Keadilan bagi warga negara harus mendapatkan perhatian serius dalam hal ini agar “perampokan” negara terhadap hak warganya tak terus berlangsung. Me- nurut Santo Agustinus dalam bukunya The City of God, negara yang tak memiliki keadilan hanyalah gerombolan perampok yang tersebar di mana-mana.24

Buramnya pemenuhan dan perlindungan hak ekosob di Indonesia bukanlah barang baru. Merajalelanya kemiskinan, pengabaian hak buruh, dan minimnya jaminan sosial merupa- kan gambaran kecil dari pelanggaran terhadap hak ekosob. Gambaran su- ram hak ekosob tersebut dapat dilihat dari jumlah pengaduan yang masuk ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Pada periode Januari Januari-Juni 2010, pengaduan pelang- garan hak atas kesejahteraan sebanyak 808 berkas.

Tabel 6 - Jumlah Pengaduan Pelanggaran HAM Berdasar Klasifikasi Hak Periode Januari-Juni 2010

No. Klasifikasi Hak Jumlah

1. Hak untuk hidup 60

2. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan 01

3. Hak mengembangkan diri 22

4. Hak memperoleh keadilan 927

5. Hak atas kebebasan pribabdi 59

6. Hak atas rasa aman 274

7. Hak atas kesejahteraan 808

8. Hak turut serta dalam pemerintahan 18

9 Hak Wanita 42

10. Hak Anak 26

Jumlah 2237

Sumber: LAPORAN TENGAH TAHUN SUB BAGIAN PENERIMAAN DAN PEMILAHAN PENGADUAN KOMNAS HAM

24. Penny dan Ward. op. cit. hal. 1

(22)

Berdasarkan klasifikasi kasus, pe- ngaduan pelanggaran HAM terkait ketenagakerjaan menduduki peringkat kedua setelah sengketa lahan. Se banyak 168 berkas aduan ketenagakerjaan pada periode Januari-Juni 2010 masuk ke Komnas HAM. Kondisi demikian menun- jukkan bahwa tenaga kerja atau buruh dalam hal ini masih saja tersisihkan da- lam pemenuh an hak mereka. Pemutusan

hubungan kerja atau pengabaian hak bu- ruh lainnya masih jadi ancaman tersendiri bagi mereka. Disamping itu, persoalan sengketa lahan juga layak diperhitungkan terkait ACFTA. Pengaduan jenis kasus ini didominasi oleh sengketa antara korpo- rasi dengan masyarakat dan hal tersebut bisa lebih besar apabila keran investasi dibuka tanpa regulasi jelas dan memihak masyarakat.

Tabel 7 - Jumlah Pengaduan Pelanggaran HAM Berdasar Klasifikasi Kasus Periode Januari-Juni 2010

NO. KLASIFIKASI HAK JUMLAH

1. Buruh Migran 36

2. Kebebasan Beragama 30

3. Kepegawaian 96

4. Kesehatan 20

5. Ketenagakerjaan 168

6. Lingkungan 46

7. Masyarakat Hukum Adat 26

8. Pendidikan 16

9 Penggusuran 61

10. Kewarganegaraan 13

11. Sengketa Lahan 278

Sumber: LAPORAN TENGAH TAHUN SUB BAGIAN PENERIMAAN DAN PEMILAHAN PENGADUAN KOMNAS HAM

(23)

Data pengaduan pelanggaran HAM yang masuk ke Komnas HAM di atas merupakan gambaran kecil dari terabaikannya hak warga negara. Da- lam konteks ACFTA, hak ekosob paling terpengaruh dengan adanya kebijakan ini. Persoalan ketenagakerjaan dan hak atas kesejahteraan akan meningkat ka- rena minimnya peran serta negara se- bagaimana diatur dalam butir-butir kesepakatan. Persoalan ketenagaker- jaan tak hanya berkutat pada masalah perburuh an saja, juga menyangkut pembukaan lapangan kerja penyelesai- an masalah pengangguran.

Adanya ACFTA mempunyai potensi untuk memperbesar jumlah pengaduan pelanggaran HAM. Tak bisa dipungkiri, PHK secara massal akibat de-industri- alisasi bisa menjadi keniscayaan yang tak bisa di hindari. Gulung tikarnya UKM dan IKM akan menciptakan persoalan tersendiri dalam upaya mengurangi ang- ka pe ngangguran. Serbuan produk China maupun negara lainnya dapat meluluh- lantakkan perekonomian, apalagi barang yang masuk ke Indonesia mayoritas dalam

bentuk jadi, bukan mentah. Ditunjang dengan harga yang murah sebagai dam- pak produksi massal, industri dalam negeri akan semakin ter bebani. Untuk itu, protek- si terhadap produk dalam negeri sangat penting dalam upaya stabilisasi ekonomi nasional, bukan sebaliknya, melepasnya ke dalam me kanisme pasar yang tak per- nah mengenal agenda sosial.

Penutup

Pemberlakuan NAFTA di kawasan Amerika Utara yang diikuti oleh resistensi merupakan pelajaran berharga bagi In- donesia. Resistensi yang timbul terhadap NAFTA bukanlah tanpa alasan. Resistensi tersebut muncul sebagai wujud respon atas ancaman eksistensi masyarakat, meskipun masyarakat adat. Atas dasar itulah mempertanyakan kembali keikut- sertaan Indonesia dalam kesepakatan ACFTA sangat diperlukan. Bukan dalam kerangka menutup perekonomian nasio- nal atau politik isolasi, tapi dititikberatkan pada upaya perlindungan hak asasi ma- nusia, terutama hak ekonomi, sosial, dan budaya.

(24)

Berbagai kekhawatiran yang mun- cul akibat ACFTA bukanlah sekedar om- ong kosong. Serbuan produk luar nege- ri, khususnya China, bisa merontokkan industri dalam negeri. De-industrialisasi ini memunyai multiplayer effect yang sangat luas. Hak atas kesejahteraan war- ga negara jadi taruhan. Padahal, dalam soal ini negara punya tanggung jawab untuk memenuhi dan melindunginya.

Peran serta negara secara aktif sangat diperlukan dalam proses ini. Absennya negara, dengan menyerahkan kepada mekanisme pasar, dapat melahirkan ke- timpangan. Untuk itu, obligasi negara seperti dalam Kovenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang sudah diratifikasi Indonesia harus jadi perhatian serius. Tanpa itu, hak asasi warga negara bakal menjadi korban karena negara le- pas tangan.

Untuk itu, pengarusutamaan HAM dalam pembuatan kebijakan harus jadi perhatian serius. Kebijakan yang tak berperspektif HAM hanya akan men- jerumuskan masyarakat, terutama ke- lompok marjinal. Proteksi terhadap

kelompok ini harus dilakukan secara serius oleh negara, bukan malah absen, sebagai bentuk pertanggungjawaban secara internasional atas ratifikasi ko- venan hak ekosob. Disamping itu, sudah menjadi tanggung jawab negara untuk menyejahterakan rakyat. ACFTA yang di- indikasikan akan mengganggu pereko- nomian nasional dan jadi akar terjadinya pelanggaran HAM perlu untuk ditelaah kembali.

Berbagai upaya atau langkah stra- tegis perlu diambil institusi penegakan dan pemajuan HAM. Komnas HAM, dari perspektif Indonesia, perlu melakukan serangkaian upaya agar hak warga ne- gara tak tercerabut. Komnas HAM dalam hal ini perlu merangkul institusi sejenis di negara yang jadi anggota ASEAN.

Salah satu langkah strategis yang bisa diambil adalah dengan memanfaatkan infrastruktur kawasan. South East Asia NHRI Forum (SEANF) dapat jadi sarana untuk mengimbangi kepentingan atau kekuat an besar dalam ACFTA. Aliansi perlu di bangun untuk mencegah terja- dinya korban akibat kebijakan tersebut.

(25)

Di samping itu, telaah lebih lanjut atas keterkaitan eksistensi SEANF dengan

Piagam ASEAN perlu dilakukan agar dimensi HAM tetap bisa terlindungi.

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Capital & Class: Autum 1998; 66. Academic Research Library

Fakih, Mansour. 2002. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi.

Yogyakarta: Insist Press

Green, Penny dan Ward, Tonny. 2009.

Kejahatan Negara: Pemerintah, Kekeras an, dan Korupsi, terj. Fajar S.

Roekminto. Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

J., Frank dan Boli, John (eds.). 2000.

The Globalization Reader. Massachu- setts: Blackwell Publisher Inc.

Jurnal HAM Vol. 4 Th. 2007, Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

Justice, Jason. 1996. Opposing NAFTA:

International Opposition To The North America Free Trade Agreement.

Edinburgh: Haymarket Press

Korten, David C. 2002. The Post-Corporate World, terj. A. Rahman Zainuddin.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

LAPORAN TENGAH TAHUN SUB BAGIAN PENERIMAAN DAN PEMILAHAN PENGADUAN KOMNAS HAM 2010

Marcos, Subcomandante. 2006. Kata Adalah Senjata, terj. Ronny Agustinus, Yogyakarta: Resist Book

Ohmae, Kenichi. 2001. Hancurnya Negara- Bangsa, terj. Ruslani. Yogyakarta: Qalam

Pulungan, Amalia (ed.). Jurnal Keadilan Global. Vol. 01 Tahun I 2003. Jakarta:

Institute for Global Justice

Stiglitz, Joseph E. 2002. Globalization and its Discontents. New York: W. W. Norton

& Company Inc.

Triyono, Ignas (ed.). 2008. Kompilasi Instrumen HAM Internasional. Jakarta:

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia

(27)

Internet

http://www.ekonomirakyat.org/_artikel.php?

id=1. Diakses pada 7 Agustus 2010 pukul 21.09 WIB.

http://berita.liputan6.com/mendalam/

201001/258439/ACFTA.Kado.Pahit.

di.Awal.Tahun sebagaimana diakses pada 15 Agustus 2010 pukul 23.09 WIB

http://www.globaljust.org/indexphp?

option=com_content&task=view&

id=385&Itemid=1, diakses pada 12 Agustus 2010 pukul 21.32 WIB.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/

2010/04/06/12075431/Menperin.

Kecewa.Gagalnya.Renegosiasi.228.

Pos.ACFTA, diakses pada 23 Mei 2010 pukul 19.06 WIB.

http://www.globaljust.org/indexphp?

option=com_content&task=view&

id=384&Itemid=1, diakses pada 18 Agustus 2010 pukul 19.25 WIB.

http://bisnis.vivanews.com/news/read/

133650-acfta_bisa_langgar_uu_tena- ga_kerja, diakses pada 3 Maret 2010 pukul 22.05 WIB.

http://dds.bps.go.id/download_file/IP_

Agustus_2010.pdf, diakses pada 25 Agustus 2010 pukul 20.36 WIB

http://www.aseansec.org/19105.htm

Media Massa

Harian Kompas edisi 3 Februari 2010 Harian Kompas edisi 24 maret 2010 Harian Kompas edisi 28 Mei 2009.

Referensi

Dokumen terkait

unit kearsipan dan unit pengolah yang belum memiliki Arsiparis, untuk sementara tugas, fungsi, dan tanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan kearsipan dilaksanakan

Jumlah skor yang peneliti peroleh dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL adalah 26 dan skor maksimal 36. Dengan demikian persentase

At the same time, Bank Indonesia shared that it may maintain the benchmark rate at 7.5%, this would trigger more selling activity as market will start to

Penelitian ini tidak sesuai dengan Teori Tira (2019) dan peneliti berpendapat bahwa terdapat hubungan antara penggunaan media sosial terhadap pengetahuan remaja

Komposisi mineralogi dari batuan beku merupakan ciri penting karena digunakan untuk klasifikasi dan interprestasi dari asal evolusi magma, sebagian besar batuan

Pemilu dalam negara demokrasi Indonesia merupakan media atau sarana yang diberikan oleh Negara untuk pergantian pemegang kekuasaan baik dieksekutif maupun

MENINGKATKAN PEMAHAMAN PERILAKU GREEN CONSUMER PESERTA DIDIK MELALUI PROJECT-BASED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN IPS. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Hasil akhir dari analisis multivariat menunjuk- kan bahwa komponen motivasi yang paling berhubungan dengan kinerja perawat dalam pendokumentasian asuhan keperawatan adalah