PENGARUH SUHU KALSINASI TERHADAP STRUKTUR,
MORFOLOGI DAN SIFAT MAGNET BARIUM HEKSAFERIT DENGAN DOPING NIKEL DAN COBALT
TESIS
Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Magister Sains Universitas Sumatera Utara
Oleh :
HERYANI FUJIATI 167026012
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018
ABSTRAK
BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19telah disintesis menggunakan metode kopresipitasi kimia.
Serbuk BaCl
2, FeCl
3, NiCl
2dan CoCl
2dicampur dan diendapkan dengan menggunakan presipitan larutan NaOH 1M. Pengaruh dari doping dan suhu kalsinasi pada struktur, morfologi dan sifat magnet dikarakterisasi menggunakan XRD, SEM dan VSM. Hasil dari analisa XRD menunjukkan bahwa semua sampel memiliki struktur utama BaFe
12O
19heksagonal, namun pada sampel murni masih terbentuk fase impuritas. Pergeseran sudut ditinjau dari bidang (114) menunjukkan sudut 2θ bergeser ke arah yang lebih kecil. Data VSM menunjukkan bahwa sampel tanpa doping menunjukkan angka koersivitas tertinggi dan semakin menurun seiring meningkatnya konsentrasi mol dopan. Penambahan doping Co
2+dan Ni
2+juga diyakini akan mempengaruhi morfologi permukaannya.
Kata Kunci : Barium Heksaferit, Cobalt, Kalsinasi, Kopresipitasi, Nikel
ABSTRACT
BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19has been synthetized by co-presipitation method. The pollen of BaCl
2, FeCl
3, NiCl
2and CoCl
2were mixed and precipitated by using of NaOH 1M. The effect of %mol dopan and calcination temperature on the structure, morphology and magnetic characteristic was characterisized by using XRD, SEM, and VSM. The result of XRD analysis showed that dominant sample has majority peak with the main structure BaFe
12O
19but for the other sample there was a forming of minority peak of barium monoferit as impurities. The angle movement observed from (114) showed that the peak of 2θ move to the bigger angle. So that it was improving the lattice parameter value. The temperature given influenced the structure BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19which was not calcined structure as amorf and still paramagnetic, while other which calcined on the temperature of 750
oC and 950
oC structured became BaFe
12O
19. The data of VSM showed that the pure sample have the highest coercive value and decreasing as the adding %mol dopan. The variation of calcination temperature also causing the changed of magnetization value. The sample using calcination temperature 950
oC has the smallest magnetization value. The adding of Co
2+and Ni
2+gave influence to morphology result
Keyword : Barium Hexaferrite, Calcination, Cobalt, Co-precipitation, Nikel.
RIWAYAT HIDUP
Data Pribadi
Nama : Heryani Fujiati Tempat/Tgl. lahir : Binjai, 20 Maret 1994 Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan Status : Belum Menikah
Alamat Asal : Perum PKS. PT Asam Jawa
Kec. Torgamba Kab. Labuhan Batu Selatan Sumatera Utara
No. Hp : 082390810781
E-mail : [email protected] Latar Belakang Pendidikan
1998 – 2000 : Taman Kanak-Kanak Widiya Dharma 2000 – 2006 : Sekolah Dasar Widiya Dharma
2006 – 2009 : Sekolah Menengah Pertama Widiya Dharma 2009 – 2012 : Sekolah Menengah Atas Widiya Dharma
2012 – 2016 : Strata I Jurusan Fisika FMIPA Universitas Riau Pekanbaru
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya serta shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul: “Pengaruh Suhu Kalsinasi terhadap Struktur, Morfologi dan Sifat Magnet Barium Heksaferit dengan Doping Nikel dan Cobalt”.
Penyusunan tesis ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak secara moril maupun materil. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
Dr. Kerista Sebayang, MS selaku Dekan FMIPA USU dan Dr. Kurnia Sembiring, M.S selaku ketua prodi magister ilmu Fisika FMIPA USU.
Dr. Kurnia Sembiring, MS, Prof. Drs. H. Perdamean Sebayang, M.Si selaku pembimbing yang telah bersedia membimbing, meluangan waktu, pikiran dan ilmunya serta motivasi kepada penulis selama proses penulisan sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Dr. Kerista Tarigan, M.Eng.Sc, Dr. Syahrul Humaidi, M.Sc, dan Prof. Dr.
Zuriah Sitorus, M.Sc selaku penguji yang telah banyak memberikan saran dan masukan guna meningkatkan kualitas penulisan tesis ini.
Silviana Simbolon, M.Sc, Chandra Kurniawan, M.Sc, Eko Arief Setiadi, M.Sc, Muhammad Yunus, S.Si, dan Nur Wijayanti, S.Si yang telah memberikan kritik, saran, dan masukan kepada penulis selama menjalani masa penelitian di Pusat Penelitian Fisika (P2F) Serpong.
Seluruh dosen dan staf jurusan Fisika FMIPA USU yang telah
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada Ayahanda Heryadi Syahputra dan Ibunda Nuryati serta adik semata wayang penulis Siti Rahmawati yang tiada hentinya memberikan doa, motivasi, dan semangat serta bantuan moril maupun materil yang tiada terkira jumlahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliah dan terkhusus tugas akhir ini.
Rekan-rekan satu tim penelitian Martha Rianna, M.Si, Veryyon Harahap, S.Si, yang telah berkontribusi besar dalam penyelesaian tesis ini.
Sahabat penulis selama perkuliahan Adi S. Purba, S.Pd, Khairizar Sapwan, S.Si, Irwanto, S.Pd, Mutia Amalia, S.Si, Zehan Yuliana, S.Pd dan teman- teman seperjuangan terkhusus angkatan 2016, terimakasih untuk semua kisah yang telah terukir selama perkuliahan ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan.
Kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi kesempurnaan penelitian selanjutnya. Harapan penulis semoga tesis ini bernilai dan bermanfaat untuk yang membacanya.
Medan, Maret 2018
Heryani Fujiati
NIM. 1203111913
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iii
HALAMAN PERSETUJUAN PENGUJI iv
LEMBAR PERNYATAAN v
KATA PENGANTAR vi
ABSTRACT viii
ABSTRAK ix
DAFTAR ISI x
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
DAFTAR SIMBOL xvi
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang 1
1.2 Rumusan masalah 3
1.3 Batasan Masalah 4
1.4 Tujuan Penelitian 4
1.5 Manfaat Penelitian 5
BAB II. LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Magnetik 6
2.1.1 Feromagnetik 6
2.1.2 Ferimagnetik 7
2.1.3 Diamgnetik 7
2.1.4 Paramagnetik 8
2.1.5 Antiferomagnetik 8
2.2 Sifat Bahan Magnet 9
2.2.1 Temperatur Curie 10
2.3.1 Magnet Permanen 10
2.3.2 Magnet Tidak Tetap 14
2.3.3 Magnet Buatan 14
2.3.4 Magnet Keramik 14
2.4 Barium Heksaferit 16
2.4.1 Struktur Barium Heksaferi 17
2.4.2 Sifat Magnet Barium Heksaferit 18
2.5 Nikel 19
2.6 Cobalt 20
2.7 Metode Pembuatan Barium Heksaferit 21
2.7.1 Metode Kopresipitasi 21
2.7.2 Sol-gel 22
2.7.3 Solid State Reaction 22
2.8 Proses Kalsinasi 23
2.9 Difraksi Sinar-X 24
2.10 Vibration Sample Magnetometry 28
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 30
3.1.1 Tempat Penelitian 30
3.1.2 Waktu Penelitian 30
3.2 Alat dan Bahan 30
3.2.1 Alat-Alat 31
3.2.2 Bahan-bahan 31
3.3 Prosedur Penelitian 31
3.3.1 Preparasi Larutan Prekursor 31
3.3.2 Sintesis BaFe
12-2xNi
xCo
xO
1932
3.4 Diagram Alir
3.5 Karakterisasi Sampel Uji 35
3.5.1 Pengujian Mikrostruktur 35
3.5.2 Pengujian Sifat Magnet 36
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis DTA/TGA 39
4.2 Analisis XRD 40
4.2.1 Analisis XRD untuk BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19pada suhu 750
oC 41 4.2.2 Analisis XRD untuk BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19pada suhu 950
oC 45 4.2.3 Analisis XRD untuk BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19suhu 750 dan 950
oC 49
4.3 Analisis SEM 54
4.3.1 Analisis morfologi barium heksaferit murni dan doping 54
4.3.2 Analisis SEM EDX 58
4.3.2.1 Analisis kandungan unsur barium heksaferit murni & doping 750
o56 4.3.2.2 Analisis kandungan unsur barium heksaferit 0,1 suhu 750
o& 950
o57 4.3.3 Analisis sebaran unsur menggunakan mapping 58
4.4 Analisis Sifat Magnet 61
4.4.1 Analisis Sifat Magnet BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19sebelum kalsinasi 61 4.4.2 Analisis Sifat Magnet BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19suhu 750
oC 63 4.4.3 Analisis Sifat Magnet BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19suhu 950
oC 64
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 68
5.2 Saran 69
DAFTAR PUSTAKA 70
LAMPIRAN
FTAR TABEL
Tabel 2.1 Material berdasarkan bahan magnet 9
Tabel 2.2 Karakteristik Nikel 20
Tabel 2.3 Karakteristik Cobalt 21
Tabel 3.1 Alat-alat 30
Tabel 3.2 Bahan-bahan 31
Tabel 4.1 Variasi Sampel 41
Tabel 4.2 Parameter kisi sampel suhu 750
oC 47
Tabel 4.3 Parameter kisi karbon aktif 950
oC 51
Tabel 4.4 Hasil SEM-EDX barium heksaferit pada suhu kalsinasi 750
oC 57
Tabel 4.5 Hasil SEM-EDX barium heksaferit x = 0,2 %mol 57
Tabel 4.6 Nilai magnetisasi sebelum kalsinasi 51
Tabel 4.7 Nilai magnetisasi sampel suhu 750
oC 63
Tabel 4.8 Nilai magnetisasi sampel suhu 950
oC 64
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 2.1 Ilustrasi dipol magnetik feromagnetik 6 Gambar 2.2 Ilustrasi dipol magnetik ferimagnetik 7 Gambar 2.3 Ilustrasi dipol magnetik diamagnetik 8 Gambar 2.4 Ilustrasi dipol magnetik paramagnetik 8 Gambar 2.5 Ilustrasi dipol magnetik antiferomagnetik 9
Gambar 2.6 Kurva histeresis magnet 10
Gambar 2.7 Kurva histeresis soft magnet dan hard magnet 12 Gambar 2.8 Skema struktur kristal barium heksaferit 17 Gambar 2.9 Kurva histeresis barium heksaferit dengan variasi suhu sintering 18
Gambar 2.10 Kisi orientasi bidang kristal 25
Gambar 2.11 Perjalanan sinar-X 25
Gambar 2.12 Skema Lc dan La 28
Gambar 2.12 Skema komponen SEM 29
Gambar 2.13 Diagram skematik VSM 30
Gambar 3.1 Diagram alir penelitian 34
Gambar 3.2 Diffarktometer 37
Gambar 4.1 Grafik DTA/TGA 42
Gambar 4.2 Pola difraksi sinar-X Barium heksaferit suhu 750
oC 44 Gambar 4.3 Plane peak barium heksaferit suhu 750
oC 45 Gambar 4.4 Grafik parameter kisi barium heksaferit suhu 750
oC 46 Gambar 4.5 Pola difraksi sinar-X Barium heksaferit suhu 950
oC 49 Gambar 4.6 Plane peak barium heksaferit suhu 950
oC 50 Gambar 4.7 Grafik parameter kisi barium heksaferit suhu 950
oC 51 Gambar 4.8 Pola difraksi sinar-X Barium heksaferit suhu 750
oC dan 950
oC 53
Gambar 4.9 Morfologi permukaan 56
Gambar 4.10 Hasil mapping x = 0 %mol suhu kalsinasi 750
oC 58
Gambar 4.11 Hasil mapping x = 0,1 %mol suhu kalsinasi 750
oC 59
Gambar 4.12 Hasil mapping x = 0%mol suhu kalsinasi 950
oC 60
Gambar 4.14 Kurva histeresis sampel murni 65
Gambar 4.14 Kurva histeresis sampel x = 0,1 %mol 66
Gambar 4.14 Kurva histeresis sampel x = 0,2 %mol 67
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Perkembangan nanoteknologi menjadi perhatian besar para ilmuwan dan peneliti. Nanoteknologi bukan hanya sebatas cara menghasilkan partikel yang berukuran nanometer, tetapi juga cara memproduksi dan memanfaatkan sifat baru yang muncul. Bidang yang paling mendapat perhatian biasanya nanomaterial, nanokluster, nanokoloid dan nanopartikel. Nanopartikel bersifat unggul jika dibandingkan dengan bentuk kasar (bulk) baik itu karakteristik dari sifat kimia maupun fisikanya (Abdullah, 2009). Perubahan sifat kimia dan fisika dari nanopartikel disebabkan karena meningkatnya fraksi permukaan-permukaan atom.
Peningkatan ini terjadi karena berkurangnya ukuran partikel. Material yang termasuk nanopartikel adalah nanopartikel emas, nanopartikel silika, dan nanopartikel magnetik.
Nanomagnetik telah banyak dikaji dan dilakukan penelitian karena
aplikasinya yang sangat luas seperti komponen elektronik untuk mobile dan
nirkabel pada frekuensi gelombang mikro / GHz, peredam gelombang
elektromagnetik dan untuk teknologi electro magnetic component (EMC), radar
absorber material (RAM) dan teknologi untuk peralatan militer (Pullar et al.,
2012). Sifat kemagnetan suatu bahan sangat ditentukan oleh ukuran partikel hal
ini dikarenakan respon magnetik akan semakin tinggi jika ukuran partikel semakin
kecil.
Material nanomagnetik yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Barium Heksaferit. Barium Heksaferit (BaFe
12O
19) merupakan magnet permanen (Ahmed et al, 2013; Choi et al, 2013; An et al, 2014) yang paling banyak digunakan. Hal ini dikarenakan BaFe
12O
19memiliki keunggulan seperti biaya produksi rendah, stabilitas kimia, koersivitas dan temperatur Curie yang tinggi (450
oC) serta ketahanan terhadap korosi (Kaynar et al, 2015). Barium heksaferit merupakan magnet oksida karena terdapat oksigen di dalamnya dan morfologinya cenderung hexagonal.
Banyak penelitian yang dilakukan untuk merekayasa sifat hardmagnetik Barium Heksaferit. Subtitusi atau doping menggunakan unsur divalent dapat mengubah sifat magnetik Barium Heksaferit. Hal ini dikarekan unsur –unsur golongan tersebut memiliki jari-jari ionik dan konfigurasi elektron yang hampir sama (Efhana dkk., 2013). Contoh unsur yang biasanya digunakan sebagai doping adalah Mn, Ni, Co, Cu dan Zn.
Sintesis nanomagnetik Barium Heksaferit dapat dilakukan dengan
beberapa metode diantaranya metode keramik, kopresipitasi, sol gel, ion
exchange, autocombustion dan lain sebagainya (Pullar et al., 2012). Metode
kopresipitasi adalah metode yang terbaik untuk mempreparasi heksaferit murni
karena menghasilkan kehomogenan yang lebih baik, kemudahan dalam
mengontrol komposisi di dalamnya dan dapat disintesis pada suhu rendah
(Kanagesan et al., 2012).
Giordani et al., (2015) telah melakukan penelitian terkait pendopingan oleh unsur Ni dan Co menggunakan metode kopresipitasi kimia untuk tipe W- heksaferit. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk mempreparasi Barium Heksaferit (BaFe
12O
19) yang di substitusi dengan Nikel (Ni) dan Kobalt (Co) menggunakan metode kopresipitasi kimia dengan x = 0; 0,1; 0,2; dan 0,3 pada suhu 1100
oC. Kanagesan et al., (2012) juga telah melakukan penelitian terkait barium strontium heksaferit yang di doping menggunakan divalen Ni
2+dan Co
2+dengan x = 0; 0,2; 0,4; 0,6 dan 0,8 pada suhu 1150
oC selama 3 jam. Oleh karena itu penelitian ini diarahkan untuk mempreparasi barium heksaferit yang di doping Ni dan Co dengan x = 0; 0,1; 0,2 dan 0,3 melalui tiga perlakuan panas yakni pada suhu 0
oC, 750
oC dan 850
oC. Mikrostruktur sampel sebelum dan sesudah heat treatmentakan dianalisa menggunakan X-Ray Diffractometer (XRD), morfologi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan sifat magnetik dengan menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh dopan Ni dan Co terhadap mikrostruktur, morfologi dan sifat magnetik dari BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19(x = 0 - 0,3) 2. Bagaimana pengaruh suhu kalsinasi 750
oC dan 950
oC dengan holding
time 4 jam terhadap mikrostruktur, morfologi dan sifat magnetik dari
BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19(x = 0 - 0,3)
1.3 Batasan Masalah
Untuk menjawab permasalahan yang muncul dalam latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini dibatasi oleh beberapa batasan masalah, diantaranya :
1. Bahan baku yang digunakan adalah BaCl
2.6H
2O, FeCl
3.6H
2O, NiCl
2.6H
2O, CoCl
2.6H
2O
2. Metode yang digunakan adalah metode kopresipitasi.
3. Sintesa BaFe
12O
19disubstitusi dengan Ni dan Co dengan konsentrasi Ni dan Co (x= 0; 0,1; 0,2; 0,3 dalam % mol).
4. Variasi suhu kalsinasi (750
oC dan 950
oC) selama 4 jam.
5. Analisa struktur dengan X-Ray Diffraction (XRD), morfologi dengan Scanning Electron Microscope (SEM), dan pengujian sifat magnetik dengan menggunakan Vibrating Samples Magnetometer (VSM) sebelum dan sesudah kalsinasi.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah :
1. Mensintesis BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19(x = 0 - 0,3) dengan metode kopresipitasi 2. Memahami efek dopan Ni dan Co terhadap mikrostruktur, morfologi dan
sifat magnetik dari BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19(x = 0 - 0,3)
3. Mengetahui pengaruh suhu kalsinasi 750
oC dan 950
oC terhadap
mikrostruktur, morfologi dan sifat magnetik dari BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19(x =
0 - 0,3)
1.5 Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam merekayasa
material Barium Heksaferit (BaFe
12O
19) dengan doping Ni dan Co yang
divariasikan konsentrasi dan suhu kalsinasi dengan metode kopresipitasi
kimia.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Magnetik
Prinsip utama dari kemagnetan suatu atom baergantung pada spin elektronnya. Menurut Miller (2014) fenomena magnetik didasarkan pada spin elektron yang tidak berpasangan pada atom. Jika elektron pada atom suatu medium berpasangan, maka elektron tersebut tidak akan menarik garis-garis gaya magnetik luar dan juga sebaliknya. Berdasarkan sifatnya terhadap pengaruh kemagnetan (kombinasi gerak elektron), bahan magnet ini digolongkan menjadi lima yaitu : diamagnetik, paramagnetik, feromagnetik, antiferomagnetik dan ferimagnetik.
2.1.1 Feromagnetik
Feromagnetik disebut juga magnet permanen. Bahan magnet ini memiliki momen magnet yang teratur dan searah, sama besar, saling menguatkan, dan sifat magnet tetap ada walaupun tidak diberikan medan magnet eksternal. Hal ini dikarenakan bahan ini mempuntyai sifat remanensi. Ilustrasi arah momen magnet feromagnetik dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2. 1 Ilustrasi Dipol Magnetik Feromagnetik (Kolhatkar et al., 2013)
Bahan feromagnetik juga memiliki suseptibilitas yang tinggi, sangat berguna karena menghasilkan medan magnet B yang kuat dengan arus relatif kecil dari koil. Permeabilitas µ ˃˃ µ
odengan suseptibilitas bahan µ
m˃˃ 0. Contoh bahan feromagnetik adalah besi, baja. Namun sifat kemagnetan bahan feromagnetik bisa hilang pada temperatur Curie.
2.1.2 Ferimagnetik
Ferimagnetik merupakan bahan magnet permanen (termasuk kelompok feromagnetik) yang memiliki momen magnet yang berlawanan tetapi tidak sama besar sehingga margin momen magnet seperti magnetit Fe3O4 dan maghemite γ- Fe
2O
3. Gambar 2.2 menunjukkan ilustrasi arah momen magnet ferimagnetik.
Gambar 2.2 Ilustrasi dipol magnetik ferimagnetik (Kolhatkar et al., 2013)
2.1.3 Diamagnetik
Diamagnetik adalah bahan magnet yang tidak memiliki momen magnet
atau medan magnet atau dengan definisi lain diamagnetik memiliki kulit elektron
lengkap dan terisi oleh spin elektron yang berpasangan. Momen magnet hanya
muncul saat diberikan medan magnet eksternal tetapi menghasilkan arah momen
magnetik yang berlawanan dengan arah kuat medan magnet eksternal sehingga
Ilustrasi arah momen magnet diamagnetik pada saat ada dan tidak ada medan magnet eksternal apat dilihat pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Ilustrasi dipol magnetik diamagnetik (Kolhatkar et al., 2013) 2.1.4 Paramagnetik
Paramagnetik adalah bahan megnet yang memiliki momen magnet karena terdapat spin elektron yang tidak berpasangan tetapi dalam keadaan acak. Sifat magnet pada bahan paramagnetik hanya muncul saat diberikan medan magnet eksternal. Menurut Issa, B. et al (2013) bahan paramagnetik tidak mempertahankan momen magnetik saat medan magnet eksternal dihapus sehingga paramagnetik digolongkan menjadi jenis magnet nonpermanen.
Gambar 2.4 Ilustrasi dipol magnetik paramagnetik (Kolhatkar et al., 2013) 2.1.5 Antiferomagnetik
Antiferomagnetik memiliki momen magnet saling berlawanan dan sama
besar sehingga tidak memiliki margin momen magnet. Antiferomagnetik
termasuk jenis magnet permanen.
Magnet jenis ini menjadi paramagnetik pada saat di atas suhu transisi atau yang dikenal sebagai neel temperature. Ilustrasi arah momen magnet antiferomagnetik dapat dilihat pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Ilustrasi dipol magnetik antiferomagnetik (Kolhatkar et al., 2013)
Karlsson dan Soderstrom (2012) memberikan contoh material berdasarkan bahan magnet yang dapat dilihat dalam Tabel 2.1.
Tabel 2. 1 Material berdasarkan bahan magnet (Karlsson dan Soderstrom, 2012) Bahan Magnet Contoh material
Diamagnetik Cu, C, H
2, NaCl
Paramagnetik Al, O
2Feromagnetik Fe, Ni, FeNi Antiferomagnetik Cr, FeO, NiO
Ferimagnetik SrFe
12O
19, BaFe
12O
192.2 Sifat Bahan Magnet
Sifat bahan magnet secara umum yang terdapat dalam magnet logam dan
magnet keramik adalah temperatur curie, magnetik saturasi, magnetik remanensi,
dan koersivitas. Magnetik saturasi, magnetik remanensi dan koersivitas akan
2.2.1 Temperatur Curie
Temperatur Curie adalah temperatur kritis suatu bahan. Sifat paramagnetik dari bahan ini akan menghilang karena gaya-gaya molekular yang menyebabkan sifat kemagnetan itu dikalahkan oleh vibrasi atom. Jika vibrasi atom semakin meningkat akibat temperatur semakin tinggi maka gaya kopel antar momen dipol menjadikan susunan dipol tidak teratur. Hal ini menyebabkan terjadinya penetralan sehingga medan magnet menjadi hilang. Bahan feromagnetik dan ferimagnetik akan berubah sifat menjadi paramagnetik apabila temperaturnya melebihi temperatur Curie.
2.2.2 Kurva Histeresis
Kurva histeresis adalah hasil magnetisasi suatu bahan yang menunjukkan adanya pengaruh momen magnet terhadap pemberian variasi momen magnet eksternal dengan arah yang berlawanan dalam bentuk kurva. Gambar 2.6 menggambarkan kurva histeresis.
Gambar 2. 6 Kurva histeresis magnet
Kurva histeresis menampilkan tiga sifat penting dari magnet seperti magnetisasi koersifitas (Mc), magnetisasi saturasi (Ms) dan magnetisasi remanansi (Mr). Nilai magnetisasi remanensi menunjukkan tingkat kualitas suatu magnet permanen.
Semakin tinggi nilai Mr suatu bahan maka semakin tinggi momen magnetiknya.
Magnetisasi remanensi adalah induksi magnetisasi yang tersisa setelah medan magnet internal dihapus. Magnetisasi koersivitas adalah indikator kekuatan suatu magnet untuk mempertahankan sifat magnetnya dari gangguan medan magnet eksternal atau dapat pula diartikan kemampuan untuk menahan demagnetisasi.
Magnetisasi saturasi adalah magnetisasi maksimum dari momen magnetik yang dapat dicapai pada medan magnetik eksternal setelah medan ini tidak ada peningkatan megnetisasi lagi (Kolhatkar et al (2013). Magnet permanen memiliki magnetisasi saturasi yang lebih besar dari soft magnet (Smith dan Wijn, 1959).
Kurva histeresis dapat dijadikan dasar untuk menentukan bahan tersebut termasuk jenis hard magnet atau soft magnet. Menurut Gutfleisch (2011) bahan yang termasuk jenis hard magnet memiliki nilai Hc > 31 kAm
-1(0,039 T) sedangkan bahan soft magnet memiliki nilai Hc << 1 kAm
-1(12,56 x 10
-4T) dan nilai Hc diantara 1-31 kAm
-1termasuk bahan semihard magnet. Menurut James (2015) kurva histeresis yang lebar/besar menunjukkan magnet tersebut termasuk hard magnet, sedangkan soft magnet memiliki kurva histeresis yang tipis/kecil.
Kurva histeresis dari hard magnet dan soft magnet dapat dilihat pada Gambar 2.7.
Gambar 2.7 Kurva histeresis dari (a) Hard magnet dan (b) Soft magnet (James, 2015)
2.3 Material Magnetik
Magnet yang paling banyak dikenal adalah yang mengandung besi metalik, namun tidak semua magnet berwujud logam. Material magnetik terdiri dari tiga kriteria yaitu magnet permanen, magnet tidak permanen dan magnet buatan.
2.3.1 Magnet Permanen
Magnet permanen didefinisikan sebagai magnet yang tidak memerlukan tenaga dari luar untuk menghasilkan daya magnet. Magnet ini dapat mempertahankan kemagnetannya dalam waktu yang sangat lama. Jenis magnet tetap selama ini yang diketahui terdapat pada :
1. Magnet Samarium-Cobalt (SmCo).
Magnet jenis ini dikembangkan di awal tahun 1970-an oleh Albert Gale dan
Dr. Daas, Raytheon Corporation. Magnet SmCo memiliki koersivitas yang
tinggi namun rapuh dan rentan terhadap retak dan chipping. Energi
maksimum dari magnet jenis ini adalah 16 MegaGauss-Oersteds (MGOe).
Magnet SmCo terbuat dari perpaduan Samarium dan Cobalt. Jenis magnet ini dapat ditemukan di dalam alat-alat elektronik seperti VCD, DVD, VCR player, handphone, dan lain-lain.
2. Neodymium Magnet
Magnet Neodymium (NdFeB, NIB atau magnet Neo) adalah sebuah magnet kuat yang terbuat dari kombinasi neodymium, besi, dan boron (Nd₂Fe₁₄B). dan merupakan magnet yang paling kuat. Keunggulan dari magnet ini adalah koersivitasnya yang tinggi dan rentan terhadap korosi.
3. Keramic Magnet
Ferrite adalah senyawa kimia yang terdiri dari keramik bahan dengan besi (III) oksida (Fe2O3). Bahan ini digunakan untuk membuat magnet permanen, seperti core ferit untuk transformator. Ferit keras banyak digunakan dalam komponen elektronik seperti pengeras suara (loud speaker), meteran air, KWH- meter, telephone receiver ,circulator , dan rice cooker.
4. Magnet Plastik
Magnet plastik dibuat dengan menggulung atau metode ekstrusi. Keuntungan dari magnet ini adalah biaya rendah dan kemudahan dalam penggunaan. Magnet plastik biasanya diproduksi dalam bentuk lembaran strip. Aplikasi dari magnet ini sebagai mikro-motor, gasket dan lain-lain.
5. AlNiCo Magnet
Alnico magnet mengandung Alumunium (Al), Nikel (Ni), Cobalt (Co). Magnet
ini juga mengandung besi dan tembaga namun jumlahnya relatif sedikit. Metode
pembuatan Alnico magnet yang paling umum adalah metode casting namun dapat pula dibuat dengan metode sintering.
Aplikasi magnet ini dapat dilihat pada alat-alat motor seperti kipas angin, speaker dan mesin motor. Magnet ini memiliki kekuatan relatif sedang dan termasuk bernergi rendah.
2.3.2 Magnet Tidak Tetap
Magnet tidak tetap tergantung pada medan listrik untuk menghasilkan medan magnet. Magnet ini akan memiliki daya magnet bila diberi arus listrik dan daya magnetnya akan hilang ketika arus listrik dihilangkan. Contohnya adalah elektromagnetik.
2.3.3 Magnet Buatan
Magnet buatan meliputi hampir seluruh magnet yang ada. Bentuk magnet buatan antara lain magnet U, magnet ladam, magnet batang, magnet lingkaran, dan magnet jarum.
2.4 Magnet Keramik
Keramik adalah bahan-bahan yang tersusun dari senyawa anorganik bukan
logam yang pengolahannya melalui perlakuan dengan temperatur tinggi. Magnet
keramik memiliki peranan yang sangat penting pada berbagai aplikasi, seperti
dalam rangkaian-rangkaian frekuensi tinggi. Material ini dapat menghasilkan
medan magnet tanpa harus diberi arus listrik . Selain itu, magnet permanen jenis
ini juga dapat memberikan medan yang konstan tanpa mengeluarkan daya yang
terus menerus.
Keramik yang bersifat magnetik umumnya merupakan golongan ferit oksida yang disusun oleh hematit (α-Fe2O3) sebagai komponen utama. Material ini menunjukkan induksi magnetik spontan meskipun medan magnet luar yang diberikan terus dihilangkan.
Ferit dibagi menjadi tiga kelas, yaitu : 1. Ferit lunak
Ferit ini mempunyai rumus MFe
2O
4, dimana M = Cu, Zn, Ni, Co, Fe, Mn, dan Mg dengan struktur kristal seperti mineral spinel. Sifat bahan ini mempunyai permeabilitas, hambatan jenis yang tinggi, dan koersivitas yang rendah.
2. Ferit Keras
Ferit jenis ini adalah turunan dari struktur magneto plumbit yang dapat ditulis sebagai MFe
12O
19, dimana M = Ba, Sr, Pb. Bahan ini mempunyai gaya koersivitas dan remanen yang tinggi dan mempunyai struktur kristal heksagonal dengan momen-momen magnetik yang sejajar dengan sumbu c.
3. Ferit berstruktur Garnet
Magnet jenis ini mempunyai magnetisasai spontan yang bergantung pada temperatur. Strukturnya rumit dengan bentuk kubik dan sel satuan disusun tidak kurang dari 160 atom.
Magnet keramik yang merupakan magnet permanen mempunyai struktur
hexagonal close-pakced (HCP). Bahan yang sering digunakan adalah Barrium
Ferrite (BaO.6Fe
2O
3), dapat juga barium digantikan dengan bahan yang
segolongan dengannya, misalnya Strontium.
2.4.1 Barium Heksaferit
Barium heksaferit terdiri dari beberapa tipe diantaranya tipe-M (BaFe12O19 ), tipe-W (BaMe2Fe16O27 ), tipe-X (Ba2 Me2 Fe28O46 ), tipe-Y (Ba2 Me2 Fe12O22 ), tipe-Z (Ba3Me2Fe24O41 ) dan tipe-U (Ba4 Me2 Fe36O60 ) (Özgüri dkk,2009). Barium hexaferrite memiliki rumus kimia BaO.6Fe2O3 (BaFe12O19). Sel komplek Barium heksaferit tersusun atas 2 sistem kristal yaitu struktur kubus-pusat-sisi (face-centered-cubic) dan heksagonal mampat (hexagonal-close-packed). Menurut Humaidi et al., (2016) magnet ini telah banyak digunakan sebagai media perekaman magnetik high-density dan menyerap gelombang mikro karena saturasi magnetisasi yang tinggi, koersifitas besar dan sstabilitas kimia yang sangat baik.
Studi terbaru tentang barium heksaferit yang dilakukan oleh Martirosyan (2011) difokuskan pada sintesis serbuk nanokristalin untuk meningkatkan sifat magnetik dengan meningkatkan luas permukaan dan sintering pada suhu rendah.
Perlakuan yang seperti ini menguntungkan karena menghemat biaya, namun
untuk mendapatkan baraium heksaferit dalam ukuran nano (kurang dari 100 nm)
merupakan sebuah tantangan. Menurut (Mandizadeh, 2014) barium heksaferit
berstruktur nano memiliki sifat magnetik dan listrik yang berbeda jika
dibandingkan dengan BaFe
12O
19berstruktur bulk. Sifat magnetik suatu bahan
menurut Galvao et al (2014) dipengaruhi oleh bentuk anisotropi dan ukuran nano
partikel.
2.4.2 Struktur Barium Heksaferit
Tanda panah pada ion Fe menunjukkan arah polarisasi spin. 2a, 12k, dan 4f2 adalah struktur oktahedral, 4f1 adalah struktur tetrahedral, dan 2b adalah struktur heksahedral (trigonal bipiramida). Satu unit sel berisi 38 ion O
2-, 2 ion Ba
2+, dan 24 ion Fe
3+. Ion Fe
3+dalam 12k, 2a dan 2b (16 atom tiap satu unit sel) memiliki spin up, sedangkan ion Fe
3+dalam 4f1 dan 4f2 (8 atom tiap satu unit sel) memiliki spin down, maka jumlah totalnya adalah 8 spin up (Pullar, 2012). Oleh karena itu, momen magnet total setiap satu unit sel adalah 8 x 5 μB = 40 μB yang berisi dua ion Ba
2+. Sub unit R dan S menunjukkan rumus kimia R = (Ba
2+Fe6
3+O11
2)
2-dan S = (Fe6
3+O8
2-)
2+. Struktur kristal molekul BaFe12O19 dapat dilihat pada Gambar 2.8.
Gambar 2.8 Skema struktur kristal BaFe
12O
192.4.3 Sifat Magnetik Barium Heksaferit
Nilai Hc dari barium heksaferit bervariasi berdasarkan metode pengolahan dan ukuran butir. Menurut Pullar (2012) sifat magnetik barium heksaferit pada suhu kamar dapat diperoleh sebagai berikut :
a. Magnetisasi saturasi = 72 Am
2kg
-1b. Koersivitas = 594 kAm
-1c. Magnetisasi remanensi (Mr) = 65 Am
2kg
-1d. Temperatur Curie = 450
oC e. Bohr magnetons = 20 µB
Contoh kurva histeresis barium heksaferit dapat dilihat pada Gambar 2.12 berikut. Gambar dibawah ini memperlihatkan perubahan nilai Hc terhadap perubahan suhu sintering.
Gambar 2.9 Kurva Histeresis Variasi Suhu Sintering Barium Heksaferit (Pullar,
2012)
2.5 Nikel
Nikel (Ni) adalah unsur kimia metalik dalam tabel periodik yang memiliki nomor atom 28. Nikel mempunyai sifat tahan karat. Dalam keadaan murni, nikel bersifat lembek, tetapi jika dipadukan dengan besi, krom, dan logam lainnya, dapat membentuk baja tahan karat yang keras. Nikel merupakan logam berwarna putih keperak – perakan, ringan, kuat antin karat, bersifat keras, mudah ditempa, sedikit ferromagnetis, dan merupakan konduktor yang agak baik terhadap panas dan listrik.
Berdasarkan tahapan proses, pengolahan nikel dapat dilakukan dalam tiga tahapan yaitu tahap preparasi, tahap pemisahan, dan tahap dewatering. Kegiatan pengolahan ini bertujuan untuk membebaskan dan memisahkan mineral berharga dari mineral yang tidak berharga atau mineral pengotor sehingga setelah dilakukan proses pengolahan dihasilkan konsentrat yang bernilai tinggi. Metode yang dipakai bermacam-macam tergantung dari sifat kimia, sifat fisika, sifat mekanik dari mineral itu sendiri.
Secara umum, mineral bijih di alam ini dibagi dalam 2 (dua) jenis yaitu
mineral sulfida dan mineral oksida. Begitu pula dengan bijih nikel, ada sulfida dan
ada oksida (laterit). Masing-masing mempunyai karakteristik sendiri dan cara
pengolahannya pun juga tidak sama. Karakteristik dari nikel dapat dilihat pada
Tabel 2.2
Tabel 2.2 Karakteristik Nikel (M. Carnes et al., 2009)
No Sifat Karakteristik
1 Fase Solid
2 Titik lebur 1455
oC
3 Titik didih 2913
oC
4 Jari-jari atom 124 pm
5 Modulus Young 200 Gpa
6 Konfigurasi elektron [Ar] 4s
23d
82.6 Cobalt
Cobalt (Co) adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki nomor atom 27. Elemen ini biasanya hanya ditemukan dalam bentuk campuran di alam. Elemen bebasnya, diproduksi dari peleburan reduktif, adalah logam berwarna abu-abu perak yang keras dan berkilau. Karakteristik sifat kimia dan fisika cobalt dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Karakteristik sifat kimia dan fisika Cobalt (Greenwood et al., 1997)
No Sifat Karakteristik
1 Fase Solid
2 Titik lebur 1495
oC
3 Titik didih 2927
oC
4 Jari-jari atom 125 pm
5 Modulus Young 209 Gpa
6 Konfigurasi elektron [Ar] 4s
23d
72.7 Metode Pembuatan Barium Heksaferit 2.7.1 Metode Kopresipitasi
Metode kopresipitasi merupakan cara mudah untuk mensintesis nanopartikel magnetik dari larutan garam. Menurut (Faraji et al., 2010) metode kopresipitasi dilakukan dengan menambahkan basa dibawah atmosfer inert pada suhu kamar atau pada suhu di atas titik didih air. Metode kopresipitasi memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah teknik yang ekonomis dan beberapa variasi kondisi dapat dipilih mulai dari suhu, pH, agen pengendap dan lain-lain. Metode kopresipitasi atau pengendapan dilakukan dengan menambahkan larutan pengendap pada pH larutan yang mengandung prekursor material pendukung dan katalis, sehingga terbentuk spesi logam hidroksida yang akan bereaksi dengan gugus hidroksil permukaan yang diikuti dengan lepasnya molekul air. Menurut (Nurhayati, 2008) metode ini umumnya digunakan untuk memperoleh distribusi fasa aktif yang sangat seragam.
Jenis garam yang digunakan mempengaruhi ukuran, bentuk dan komposisi nanopartikel magnetik (misalnya: klorida, sulfat, nitrat), serta rasio dari Fe
2+/Fe
3+(Faraji et al., 2010). Menurut Hermawanti (2009) ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh endapan yang baik yaitu:
(1) Pengendapan dilakukan dalam larutan encer.
(2) Pereaksi pengendap ditambahkan perlahan-lahan sambil diaduk.
(3) Pengendapan dilakukan pada daerah pH yang akan membentuk secara
2.7.2 Metode Sol-Gel
Metode sol-gel dilakukan dengan mencampurkan koloid (sol) dengan menggunakan larutan polymer. Larutan tersebut awalnya dalam fasa koloid (sol) kemudian berubah menjadi fasa gel. Fasa gel adalah fasa dimana fasa solidnya lebih banyak dibandingkan fasa cair. Reaksi dalam metode sol-gel biasanya dibantu dengan katalis. Katalis yang biasanya digunakan adalah asam sitrat, polyvinyl dan urea.
Metode sol gel biasanya digunakan untuk membuat partikel berukuran kecil. Setelah larutan dicampur, maka larutan dipisahkan dari pelarut dengan berbagai metode, seperti centrifugal dan dapat juga digunakan dengan cara dikeringkan. Setelah melalui proses pemisahan, dilakukan proses sintering atau annealing. Kelebihan dari metode ini adalah bisa terbentuk fasa pada suhu rendah.
2.7.3 Solid State Reaction
Metode solid state reaction merupakan metode yang paling konvensional dalam proses material. Kontrol yang mudah dan biaya yang relatif rendah merupakan alasan metode ini banyak digunakan. Tahapan sintesis dengan metode ini yaitu pencampuran dengan milling, kalsinasi pada suhu 1200
oC, kompaksi dan sintering pada suhu di atas 1000
oC.
Milling merupakan metode untuk mencampur material yang juga
berfungsi untuk mengurangi ukuran butir. Semakin lama waktu milling, maka
semakin kecil ukuran partikel. Milling dilakukan dengan memasukkan bahan
dasar kedalam vial yang berisi bola-bola milling. Secara umum milling ada
beberapa jenis, yaitu attritor mills, planetary mill dan high energy mills.
2.8 Proses Kalsinasi
Kalsinasi adalah proses pemanasan tanpa fusi, untuk mengubah bentuk fisik atau kimia dari suatu bahan. Tujuan proses kalsinasi adalah untuk menghilangkan air yang diserap sebagai kristal. Tujuan kedua adalah untuk menghilangkan CO
2, SO
2dan zat volatile lainnya. Tujuan ketiga adalah oksidasi zat sepenuhnya atau sebagian. Secara kimiawi kalsinasi dapat didefinisikan sebagai proses dekomposisi termal yang diterapkan pada zat dan bijih untuk membawa transisi fasa, menghilangkan fraksi yang mudah menguap dan dekomposisi termal. Kalsinasi dilakukan pada suhu tinggi yang suhunya tergantung pada jenis bahannya.
Kalsinasi merupakan tahapan perlakuan panas terhadap campuran serbuk pada suhu tertentu, tergantung pada jenis bahan. Kalsinasi diperlukan sebagai penyiapan serbuk keramik untuk diproses lebih lanjut dan juga untuk mendapatkan ukuran partikel yang optimum serta menguraikan senyawa-senyawa dalam bentuk garam atau dihidrat menjadi oksida, dan membentuk fasa kristal.
Peristiwa yang terjadi selama proses kalsinasi antara lain:
a. Pelepasan air bebas (H
2O) dan terikat (O-H) berlangsung sekitar suhu 100 hingga 300
oC.
b. Pelepasan gas-gas, seperti: CO
2berlangsung sekitar suhu 600
oC dan pada tahap ini disertai terjadinya pengurangan berat yang cukup berarti.
c. Pada suhu lebih tinggi, sekitar 800
oC struktur kristalnya sudah terbentuk,
dimana pada kondisi ini ikatan diantara partikel serbuk belum kuat dan mudah
Sebagai contoh proses kalsinasi pada pembentukan magnet permanen Barium Heksaferit, BaFe
12O
19ditandai dengan terjadinya kristalisasi yang dipengaruhi oleh suhu pada proses kalsinasi. Barium Heksaferit nano partikel akan membentuk struktur kristal heksagonal pada suhu minimal 600
oC. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa pembentukan magnet permanen Barium Heksaferit semakin baik dengan meningkatnya suhu kalsinasi hingga 1000
oC.
Karakteristik magnet terbaik yang didapat ialah nilai Br = 1,19 kG, Hc = 5,54 kOe, BHmax = 0,33MGOe pada suhu kalsinasi 1000ºC (Sudrajat dan Idayanti, 2007).
2.9.2 Difraksi Sinar-X
Difraksi sinar-X (XRD) digunakan untuk menganalisa fasa kristalin dalam struktur material dengan menentukan parameter struktur kisi. Selain itu, alat ini juga digunakan untuk mendapatkan ukuran partikel dengan memanfaatkan radiasi sinar-X.
Orientasi dan interplanar jarak dari bidang didefenisikan oleh 3 bilangan
bulat h, k, l yang disebut indeks . Sebuah himpunan bidang dengan indeks h, k, l
memotong sebuah sumbu dari sel satuan a di bagian h, b sumbu di bagian k dan
sumbu c di bagian l. Angka 0 menunjukkan bahwa bidang sejajar dan sesuai
sumbu. Misalnya, (220) bidang memotong a dan sumbu b setengah , tetapi sejajar
dengan sumbu c.
Gambar 2.10 Kisi dan orientasi bidang kristal
Hasil yang diperoleh dari sampel adalah intensitas relatif dan sudut hamburan (2 ). Ketika foton sinar-X bertumbukan dengan elektron-elektron pada atom maka beberapa dari sinar datang akan dihamburkan secara elastis oleh atom dari sampel. Gambar 2.6 menunjukkan perjalanan sinar-X sesuai hukum Bragg.
Gambar 2. 11 Perjalanan sinar-X sesuai hukum Bragg (Beiser, 1992) Jarak antar kisi kristal (d) dapat diketahui dengan menyelesaikan persamaan Bragg sebagai berikut :
(2.1)
adalah jarak antar bidang kristal, adalah sudut difraksi, adalah panjang
gelombang. Nilai 2θ adalah refleksi yang ditentukan oleh dimensi sel satuan.
Kerapatan elektron tertinggi ditemukan disekitar atom. Oleh karena itu, intensitas tergantung pada jenis atom yang di difraksi serta keberadaannya. Bidang akan melalui daerah dengan kerapatan elektron tinggi dan akan memantulkan kembali dengan kuat, bidang dengan kerapatan elektron rendah akan memberikan intensitas lemah.
Jarak antar bidang kristal sejajar yang berdekatan merupakan fungsi dari indeks Miller (hkl) dan tetapan kisi (a). Persamaan d
hkluntuk kristal kubus dapat dilihat pada Persamaan (2)
√
(2.2)
Dari persamaan (2.1) dan (2.2) untuk n = 1 dapat diperoleh persamaan (2.3) berikut:
(2.3)
Menurut Wang Lu (2014) kisi bravais kristal sistem heksagonal dengan sumbu sel konvensional adalah a = b ≠ c, α = β = 90
odan γ = 120
o. Jarak d
hklantar bidang hkl dapat dicari menggunakan Persamaan (2.4)
(
) (2.4)
Kombinasi persamaan (2.1) dengan persamaan (2.4) diperoleh:
(
)
(2.5)
Persamaan (2.5) dapat ditulis menjadi:
*
(
) + (2.6)
Uji diffraksi sinar x (XRD) dilakukan untuk menentukan fasa yang terbentuk
setelah serbuk mengalami proses kalsinasi.
Dari data yang akan dihasilkan dapat diprediksi ukuran kristal serbuk dengan bantuan software Xpowder dan Match.
Berdasarkan hasil XRD dapat ditentukan parameter kristal seperti kisi konstan, rasio kisi parameter, d-spacing dan ukuran kristal (D). Parameter kisi ( a dan c) dari fase hexagonal dengan persamaan :
√
√ (2.7)
dan
(2.8)
Sedangkan untuk menentukan nilai volumenya menggunakan persamaan :
√
(2.9)
Kisi regangan (ԑ) dihitung dengan menggunakan rumus tangen :
(2.10)
Ukuran kristalin ditentukan dengan pelebarah puncak difraksi sinar x yang muncul. Makin lebar puncak difraksi yang dihasilkan maka makin kecil ukuran kristal serbuk. Hubungan antara ukuran kristal dengan lebar puncak difraksi sinar x dapat diproximasy dengan persamaan Schrerer berikut :
(2.11)
dengan D adalah ukuran (diameter ) kristal, λ adalah panjang gelombang sinar x yang digunakan (λ = 0,154056 nm), θ adalah sudut Bragg, β adalah satu puncak yang dipilih.
Puncak-puncak pada pola difraksi sinar-X yang didapatkan dari data pengukuran
2.7 menunjukkan skema tinggi lapisan (L
c), lebar lapisan (L
a) dan jarak antar lapisan (d
hkl).
Gambar 2.12 Skema tinggi lapisan (Lc), lebar lapisan (La), jarak antar lapisan (dhkl) kristalit karbon (Schukin et al., 2002)
Pola difraksi sinar-X dapat digunakan untuk mengetahui dimensi mikrokristalin seperti tinggi lapisan (L
c) dan lebar lapisan (L
a) menggunakan persamaan Debye-Scaherre berikut:
L
c= 0,89 ⁄
(2.12)
L
a= 1,84 ⁄
(2.13)
2.9.3 Scanner Electron Microscope (SEM) dan Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS)
Mikroskop pindaian elektron (SEM) adalah mikroskop yang menggunakan
hamburan elektron sebagai pengganti cahaya untuk membentuk bayangan atau
gambar yang dapat digunakan untuk pengamatan dan pengkajian morfologi
material padatan berskala mikro sampai nanometer dengan resolusi hingga 3 nm
dan pembesaran hingga 50.000 kali.
SEM merupakan tipe mikroskop elektron yang menggambarkan permukaan sampel melalui proses scan dengan menggunakan pancaran energi tinggi dari elektron dalam suatu pola scan raster.
SEM sangat berguna untuk proses karakterisasi karena data atau tampilan yang diperoleh adalah data dari permukaan atau dari lapisan yang tebalnya sekitar 100 µm – 2 µm dari permukaan. SEM juga digunakan untuk mengetahui struktur mikro suatu material meliputi tekstur, morfologi, komposisi dan informasi kristalografi permukaan sampel. Morfologi yang teramati oleh SEM berupa bentuk, ukuran dan susunan partikel. Skema SEM dapat dilihat pada Gambar 2.13.
Gambar 2.13 Skema Komponen SEM
Prinsip kerja SEM sama dengan mikroskop optik, namun SEM menggunakan
elektron sebagai sumber pencitraan dan lensa magnetik sebagai lensanya. Berkas
elektron yang ditembakkan dari electron gun diteruskan menuju sampel melalui
Setelah berkas mengenai sampel, berkas dipantulkan dan ditangkap oleh detektor.
Detektor mengumpulkan X-ray, backscatteredelectron dan elektron sekunder.
Kemudian diubah menjadi sinyal yang dikirim ke layar monitor menghasilkan citra akhir yang mirip tampilan foto tiga dimensi. Energi elektron sekunder ≤ 50 eV dan energi inbackscattered electrons ≥ 50 eV (Suga et al., 2014)
2. 9.4 Vibration Sample Magnetometer
Vibration Sample Magnetometer (VSM) digunakan untuk mengukur sifat magnetik suatu bahan dengan presisi yang sangat tinggi. Alat tersebut bekerja berdasarkan metode induksi induksi yaitu mengukur magnetisasi dari signal yang diinduksikan oleh bahan yang bergetar dalam lingkungan medan magnet pada sepasang kumparan berdasarkan rumus Faraday. Hasil pengujian sifat magnetik berupa kurva histeresis. Diagram skema VSM dapat dilihat pada Gambar 2.14.
Gambar 2.14 Diagram Skematik VSM
Osilator memberikan sinyal sinusoidal yang diterjemahkan oleh transduser menjadi getaran vertikal. Sampel kemudian digetarkan dengan frekuesi 60-80 Hz dan amplitudo 1 mm. Hal ini berpusat antara 2 potong tiang elektromagnet yang menghasilkan medan magnet H
0 dari homogenitas tinggi. Kekuatan lapangan dikisaran 106 A/m umumnya mungkin dengan sistem VSM laboratorium.
Kumparan penarik stasioner dipasang di kutub elektromagnet. Pusat simetri mereka bertepatan dengan pusat magnet statis. Oleh karena itu, perubahan flux magnetik yang berasal dari gerakan vertikal sampel magnet menginduksi U
indtegangan di kumparan. H
0 yang konstan, tidak memiliki efek pada tegangan
tetapi diperlukan hanya untuk magnetizing sample.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.11 Tempat Penelitian
Penelitian Tugas Akhir ini dilakukan di Laboratorium Magnet, Pusat Penelitian Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2F-LIPI), Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dari Juni hingga November 2017.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat Penelitian
Alat – alat yang digunakan dalam pembuatan BaFe
12O
19yang didoping Ni dan Co dengan metode kopresipitasi ditunjukkan pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 Alat yang digunakan dalam penelitian
No Alat Fungsi
1 Neraca digital Menimbang prekursor 2 Gelas ukur Alat ukur volume
3 Spatula Alat untuk mengambil bahan kimia berbentuk padatan dan pengaduk larutan.
4 Mortar Alat untuk menghaluskan bahan 5 Hot Plate Alat pemanas
6 Magnetic stirrer Alat pengaduk bahan agar terjadi homogenisasi 7 Universal Indicator Alat pengukur pH
8 Kertas timbang Alat tempat bahan ketika ditimbang
9 Centrifuge Alat untuk mempercepat proses pengendapan
10 Gelas beker Wadah dari sampel yang dipreparasi
3.2.2 Bahan-Bahan Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Bahan-bahan yang digunakan
No Bahan Kegunaan
1 BaCl
2.2H
2O Prekursor 2 FeCl
3.6H
2O Prekursor 3 NiCl
2.6H
2O Dopan 4 CoCl
2.6H
2O Dopan
5 Air suling Pelarut dan penetral pH 6 NaOH (1M) Presipitan
7 Ethanol Pembersih sampel
3.3 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahap yaitu : preparasi, sintesis dan karakterisasi. Gambar 3.1 menunjukkan diagram alir untuk menjelaskan prosedur penelitian secara rinci.
3.3.1 Preparasi Larutan Prekursor
Prekursor yang digunakan dalam penelitian ini adalah BaCl
2.2H
2O, FeCl
3.6H
2O, NiCl
2.6H
2O, CoCl
2.6H
2O dengan variasi (x = 0; 0,1; 0,2; 0,3; 0,5) %.
Perbandingan tersebut menggunakan stokiometri perbandingan mol. Proses preparasi larutan prekursor adalah sebagai berikut :
1. Menghitung massa dari masing-masing prekursor dengan menggunakan rumus stokiometri yang sesuai.
2. Mengukur air demineralisasi sebanyak 50 mL dengan menggunakan gelas ukur.
3. Menimbang prekursor sesuai hasil perhitungan massa dengan
menggunakan rumus stokiometri.
3.3.2 Sintesis Ba Fe
12-2xNi
xCo
xO
19Proses sintesis dengan menggunakan metode kopresipitasi kimia diawali dengan pembuatan larutan prekursor. Proses pembuatan prekursor adalah sebagai berikut:
1. Siapkan 100 mL air demineralisasi di dalam gelas beker dan kemudian diletakkan diatas hot plate dan dimasukkan stirrer sambil terus diaduk.
2. Kemudian kedalam air demineralisasi tersebut ditambahkan FeCl
3.6H
2O dan diaduk hingga larut. Selanjutnya ditambahkan BaCl
2.2H
2O sambil terus di aduk.
3. Tambahkan NiCl
2.6H
2O dan CoCl
2.6H
2O sambil diaduk hingga dipastikan prekursor ini benar-benar telah larut.
4. Larutan perkursor tanpa doping (x=0) dibuat sebagai pembanding mikrostuktur dan morfologi serta sifat magnetik dari larutan prekursor yang didoping.
5. Larutan NaOH (1M) di stiring sambil di tetesi larutan prekursor secara perlahan dan kontiniu.
6. Setelah selesai proses penetesan, larutan tersebut terus di stiring selama 2 jam untuk menghasilkan larutan yang benar-benar homogen.
7. Larutan dibiarkan agar terjadi pengendapan. Selanjutnya, dilakukan proses
pencucian secara berkala dengan menggunakan air demineralisasi dan
ethanol untuk menetralkan pH dan membuang garam-garam yang
terbentuk saat terjadi reaksi.
8. Endapan yang bersih dari garam dan telah memiliki pH netral selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan oven listrik pada suhu T=100
oC dan t = 12 jam.
9. Endapan yang telah kering kemudian dijadikan bentuk serbuk.
Pembentukan serbuk ini bertujuan agar endapan yang diperoleh mudah untuk dikarakterisasi. Pembuatan serbuk dilakukan dengan cara menggiling endapan yang telah kering tersebut menggunakan mortar.
10. Serbuk halus kemudian dikalsinasi pada suhu 750
oC, 850
oC dan 950
oC
selama 4 jam. Kalsinasi dilakukan dengan menggunakan furnace.
3.4 Diagram Alir Penelitian
Serbuk dikalsinasi T = 750
oC ; t = 4 jam
VSM XRD SEM Serbuk dikalsinasi T = 950
oC ; t = 4 jam
Serbuk Kristalin BaFe
12-2xNi
xCo
xO
19Selesai
DTA/TGA VSM XRD Pengeringan
T = 100
oC t = 20 jam Pencucian
FeCl
3.2H
2O NiCl
3.2H
2O BaCl
3.6H
2O CoCl
2.2H
2O
Dilarutkan 100 mL aquades
Presipitasi NaOH (1M)
Endapan
?
Ya
Tidak