• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengukuran Keterampilan Profesional Mahasiswa Calon Guru Jurusan Matematika FMIPA UNM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Pengukuran Keterampilan Profesional Mahasiswa Calon Guru Jurusan Matematika FMIPA UNM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

29

Pengukuran Keterampilan Profesional Mahasiswa Calon Guru Jurusan Matematika FMIPA UNM

Ruslan1, Sahid2, Iwan Setiawan HR3 Universitas Negeri Makassar1,2 STKIP Pembangunan Indonesia3 Email: [email protected]

Abstrak. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan mengadaptasi model plomp untuk mengembangkan suatu instrument pengukuran keteraampilan professional calon guru matematika dan keseluruhan bentuk instrumen yang dikembangkan memenuhi kriteria kualitas yaitu valid, reliabel, dan obyektif Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dan gambaran hasil pengukuran keterampilan profesional mahasiswa calon guru Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar. Adapun hasil validasi instrumen didapatkan koefisien validitas isi untuk soal pilihan ganda yang awalnya didapatkan 0,41 menjadi 0,98 dengan memperbaiki butir- butir yang dinilai lemah berdasarkan saran dari validator, dan untuk soal essay koefisien validitas isinya 0,917. Untuk validitas konstruknya soal di bagi menjadi dua paket. dari ke-31 butir pada paket 1 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 5 butir yang digugurkan (butir 3, 4, 5, 27, dan 29) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir-butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan. Sedangkan hasil penelitian dari ke-30 butir pada paket 2 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 4 butir yang digugurkan (butir 6, 14, 29, dan 30) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir- butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan.

Kata Kunci: Keterampilan Profesional; Validitas isi; Validitas Konstruk.

PENDAHULUAN

Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti), sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 Pasal 1, menyatakan kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan Pendidikan Tinggi. Kurikulum Pendidikan Tinggi merupakan amanah institusi yang harus senantiasa diperbaharui sesuai dengan perkembangan kebutuhan dan IPTEKS yang dituangkan dalam Capaian Pembelajaran (Aris, 2020).

Perguruan tinggi sebagai penghasil sumber daya manusia terdidik perlu mengukur lulusannya, apakah lulusan yang dihasilkan memiliki ‘kemampuan dan keterampilan’

setara dengan ‘kemampuan dan keterampilan’ (capaian pembelajaran) yang telah dirumuskan dalam jenjang kualifikasi KKNI (Aris, 2020).

(2)

30

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 Pasal 35 ayat 2 mengamanatkan bahwa Kurikulum Pendidikan Tinggi dikembangkan oleh setiap Perguruan Tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi untuk setiap Program Studi yang mencakup pengembangan kecerdasan intelektual, akhlak mulia, dan keterampilan.

Begitupun yang tertuang dalam kurikulum Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar dan setiap tahun melahirkan calon-calon guru matematika yang telah dibekali keterampilan profesional sebagai outcome kurikulum.

Selanjutnya Direktur Pendidikan Tinggi, menyatakan untuk meningkatkan link and match antara lulusan pendidikan tinggi dengan dunia usaha dan dunia industri serta masa depan yang semakin cepat mengalami perubahan, pada awal tahun 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberlakukan kebijakan baru di bidang pendidikan tinggi melalui program “Merdeka Belajar–Kampus Merdeka (MBKM)”.

Kebijakan MBKM memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas dan kompetensi baru melalui beberapa kegiatan pembelajaran di luar program studinya, dengan harapan kelak pada gilirannya dapat menghasilkan lulusan yang siap untuk memenangkan tantangan kehidupan yang semakin kompleks di abad ke-21 ini (Aris, 2020) .

Kebijakan pemerintah tersebut sesungguhnya mencerminkan spirit, kesungguhan, dan tanggung jawab pendidik untuk menyajikan pembelajaran secara profesional untuk melahirkan lulusan yang bermutu serta mampu mengatasi tantangan terkini yaitu perubahan yang cepat (volatility), ketidakpastian (uncertainty), kompleksitas (complexity), dan kerancuan (ambiguity).

Pendidikan yang berkualitas dan bermutu sangat dipengaruhi oleh guru yang berkualitas. Dengan kata lain, hanya guru yang berkualitas yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan (HR & Hindi, 2020). Guru adalah pendidik profesional yang memerlukan kemahiran, keahlian, keterampilan, dan kecakapan minimal untuk memenuhi kompetensi dan standart tertentu. Guru harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana cara mengajarkan materi yang biasa disebut pengetahuan pedagogik (pedagogical knowledge). Bukan hanya itu saja pastilah seorang guru pun harus memiliki pendalaman materi yang akan di ajarkan dan kemampuan ini biasa disebut content knowledge dan kemampuan inilah harus dimiliki guru melalui keterampilan profesional. Banyak yang beranggapan jika seorang guru pengetahuan pedagogiknya baik maka pasti dapat mengajar dengan baik (Alfiah &

Iwan, 2020). Hal ini belum tentu dapat tercapai karena jika seorang guru tidak memiliki keterampilan profesional, maka hasil pembelajaran pun akan sulit tercapai. Dengan demikian seorang calon guru atau guru membutuhkan keterampilan propesional untuk mencapai hasil pembelajaran yang baik dan menunjang keberhasilan dalam proses pembelajaran.

Sujana dalam Sagala (Isriyati, 2020) berpendapat bahwa, kata “profesional”

berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan

(3)

31

kata lain pekerjaan yang bersifat professional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Prinsip-prinsip tersebut tidak boleh berhenti sebatas prinsip, tetapi juga harus diimplementasikan dalam aktifitas sehari-hari. Wujudnya berupa rasa tanggung jawab sebagai pengelola belajar, pengarah belajar, dan perencana masa depan masyarakat. Dengan tanggung jawab ini pendidik memiliki tiga fungsi, yaitu : 1) fungsi instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran 2) fungsi edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan, dan 3) fungsi managerial yang bertugas memimpin dan mengelola proses pendidikan (Nidawati, 2020).

Seorang guru yang memiliki keterampilan profesional yang baik dan cara mengajar yang tepat akan membatu siswa untuk lebih mudah membangun pemahaman mereka terhadap materi yang disampaikan. Oleh karena itu seorang calon guru harus memiliki perpaduan keterampilan profesional dengan kemampuan pedagogik terutama dalam pembelajaran matematika yang sangat menekankan kemampuan pemahaman konsep matematika. Hal ini juga tertuang dalam PP Nomor 14 tahun 2005 tentang standart nasional pendidikan membagi kompetensi guru dalam kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Calon guru harus di bekali dengan kemampuan propfesional yang mempunyai keterampilan-ketrampilan yang mampu mempermudah siswa dalam pembelajaran. (Santosa, 2019).

Di pihak lain, rendahnya penguasaan guru atas kompetensi profesional mengungkapakan bahwa guru masih lemah dan tidak cukup kompeten atas sejumlah subkompetensi berikut: (1) menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu; (2) menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran/bidang ilmu yang diampu; (3) mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif; (4) mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif; dan (5) memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri (Departemen Pendidikan Nasional, 2008)

Dari aspek keterampilan profesional, banyak guru yang dianggap masih gagap dalam menguasai materi ajar secara luas dan mendalam sehingga gagal menyajikan kegiatan pembelajaran yang bermakna dan bermanfaat bagi siswa. Dari keempat kompetensi yang harus dimiliki guru, satu di antaranya dinilai masih menjadi permasalahan serius dan krusial di kalangan guru, yakni kompetensi profesional (Eliterius, 2017).

Menurut Shaukat (2020) menyatakan bahwa standar guru secara umum yaitu mampu mendefinisikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang berlaku untuk semua guru termasuk guru matematika. Standar profesional baru bagi guru menggambarkan kinerja yang konsisten dalam hal pengetahuan guru, pemahaman dan praktek secara professional (Call, 2018). Jadi guru matematika dikatakan profesional jika guru tersebut tahu, paham dan mampu mengajarkan tentang matematika dan pembelajaran matematika.

(4)

32

Hasil penelitian Rezan (2020), menyatakan bahwa mayoritas calon guru memiliki pengetahuan teoritis dan umumnya bisa menafsirkan pengetahuan teoritis tersebut.

Namun, keterampilan calon guru semakin menurun ketika diminta untuk mengajukan masalah kontekstual yang sesuai dengan pembelajaran berbasis Realistic Mathematics Education.

Sehubungan dengan hal tersebut yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini ditujukan untuk mengukur keterampilan professional mahasiswa calon guru jurusan matematika FMIPA UNM

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Pengembangan (Research and Development), untuk mengembangkan suatu instrument pengukuran keteraampilan professional calon guru matematika dan keseluruhan bentuk instrumen yang dikembangkan memenuhi kriteria kualitas yaitu valid, reliabel, dan obyektif.

Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar (UNM) pada bulan Mei sampai bulan Agustus tahun 2021. Subyek pada penelitian ini adalah semua mahasiswa calon guru matematika di Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar. Adapun sebaran subyek penelitian yang dimaksud terdiri atas mahasiswa calon guru matematika dengan rentang semester 5 hingga semester 8, dengan pertimbangan rasional bahwa mahasiswa calon guru matematika tersebut seharusnya sudah pernah mempelajari/memprogram mata kuliah dasar matematika dan microteaching.

Penelitian ini mengembangkan instrumen keterampilan profesional calon guru matematika dengan mengadopsi model Plomp: investigasi awal (preliminary investigation); fase desain (design); fase realisasi/konstruksi (realization/ construction);

fase tes, evaluasi, dan revisi (test, evaluation, and revision); dan fase implementasi (implementation) yang dipadukan dengan tahap-tahap penulisan tes menurut Shultz, dkk. (2005) yang membaginya menjadi 6 langkah yaitu: (1) menentukan spesifikasi tipe dari instrumen, (2) menentukan domain dari instrumen, (3) menentukan apakah format open-ended atau closed-ended yang akan digunakan, (4) menentukan format tes/instrumen, (5) menetukan apakan instrumen digunakan untuk kelompok atau individu, (6) menentukan panjang instrumen.

Perangkat-perangkat penilaian yang dikembangkan pada penelitian ini, antara lain: Kisi-kisi, Pedoman Pensekoran (Rubrik), Instrumen Pengukuran Keterampilan Profesional dan Instrumen validitas. Pengelolaan data ini dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Validitas dan Reliabilitas dengan analisis validaitas isi Gregory (Ruslan,2009), dan juga Objektifitas yang merupakan kriteria kualitas utama pengembangan instrument keterampilan profesional mahasiswa calon guru matematika dan analisis deskreptif untuk memberi gambaran hasil pengukuran keterampilan profesional mahasiswa calon guru matematika dalam penelitian ini.

(5)

33 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang diperoleh akan dipaparkan mengenai hasil-hasil pengembangan instrument pengukuran keterampilan professional mahasiswa calon guru. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah untuk memperoleh suatu bentuk instrument pengukuran keterampilan professional mahasiswa calon guru jurusan matematika FMIPA UNM yang valid, reliabel dan objektivitasnya. Untuk itu ditempuh suatu proses pengembangan yang sistematis dengan menggunakan model pengembangan Plomp dengan langkah-langkah tertentu seperti yang telah dijalaskan sebelumnya.

Tahap pertama, analisis materi, mengidentifikasi materi mata kuliah yang akan dijadikan sebagai bahan untuk mendesain instrument keterampilan professional calon guru matematika yang telah diajarkan, mengingat instrument ini diberikan setelah bebarapa mata kuliah telah dikuliahkan oleh dosen. Terdapat beberpa materi yang digunakan yaitu peluang, statistika, fungsi, persamaan dan pertidak samaan linear, SPLDV, persamaan kuadrat, program linear, system bilangan riil, logika matematika, dan bangun datar.

Tahap kedua, merancang, semua aspek yang diperlukan untuk pengembangan instrumen mulai dari menentukan spesifikasi dari instrumen yang akan dibuat, yaitu kisi-kisi instrumen dan lembar validitas isi semuanya dirancang. Dalam menyusun aspek-aspek yang diperlukan dalam pengembangan instrument ini juga harus menentukan domain dari instrument yang dibuat, agar nantinya produk yang dihasilkan sejalan dengan harapan yang diinginkan. Pada langkah ini kita juga menentukan bentuk instumen yang kita kembangakan apakah berupa closed-ended atau open-ended. Sehingga terdapat 61 soal pilihan ganda dan 41 soal essay.

Tahap ketiga, konstruksi, dimana pada lankah ini dilakukan konstruksi instrumen hingga siap divalidasi, hal lain yang juga dilakukan adalah mengkonstruksi lembar validasi sebagai pedoman validasi dan pedoman penskoran (rubric) dari instrumen yang dikembangkan. Kemudian menentukan bagaimana format/bentuk penulisan jawaban dari instumen yang dikembangkan sesuai dengan jenisnya.

Penentuan jumlah butir soal juga perlu diperhatikan untuk menjaga kualitas instrument yang dikembangakan. Menentukan tingkat kesukaran dari suatu instrument juga kita lakukan. Meskipun hal ini sulit untuk dilakukan karena tingkat kesukaran suatu instrument tes dapat dipengaruhi oleh tingkat kemampuan test.

Olehnya itu tingkat kesukaran suatu instrument test dapat dipengaruhi oleh kemampuan testte sesuai dengan asumsi dari teori klasik.

Tahap keempat, tes, revisi, dan evaluasi, yang terdiri dari 2 kegiatan utama yaitu validasi instrumen dan uji coba terbatas instrumen yang telah divalidasi. Berikut hasil validasi instrument dengan menggunakan dua pakar ahli.

(6)

34

Penilaian Pakar 1 Relevansi Lemah

(butir bernilai 1 atau 2)

Relevansi Kuat (butir bernilai 3 atau

4)

Penilaian Pakar 2

Relevansi Lemah (butir bernilai 1 atau

2)

1 0

Relevansi Kuat (butir bernilai 3 atau

4)

35 25

Gambar 1. Hasil analisis konsentrasi antar penilai untuk validitas isi instrumen soal pilihan ganda

𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑉𝑎𝑙𝑖𝑑𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐼𝑠𝑖 = 𝐷

(𝐴 + 𝐵 + 𝐶 + 𝐷)= 25

(1 + 0 + 35 + 25)= 0,41

Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh koefisien validitas isi = 0.41, karena koefisien validitas isi 0.41 ≯ 0.75, Maka terdapat butir-butir instrumen soal pilihan ganda adalah Tidak valid, sehingga butir bernilai B atau C diperbaiki berdasarkan saran dari validator yang menilai lemah terhadap butir tersebut.

Sehingga,

𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑉𝑎𝑙𝑖𝑑𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐼𝑠𝑖 = 𝐷

(𝐴 + 𝐵 + 𝐶 + 𝐷)= 60

(1 + 0 + 0 + 60)= 0,98

Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh koefisien validitas isi = 0.958, karena koefisien validitas isi 0.98 > 0.75, Maka butir-butir instrumen soal pilihan ganda adalah valid, sehingga dapat digunakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kosistensi internal (reliabilitas) yang merupakan makna dari koefisen validitas isi suatu instrumen, dalam hal instrumen ini dinyatakan Reliabel. Sedangkan validitas butirnya dapat dilihat dari masing-masing penilaian validator yang memberikan nilai skala 1 sampai 4. Hal yang perlu diperhatikan/direvisi yakni saran-saran yang diberikan oleh validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang dinilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang kemudian dianalisis kembali. Demikian seterusnya hingga dapat dinyatakan sahih/valid.

(7)

35

Penilaian Pakar 1 Relevansi Lemah

(butir bernilai 1 atau 2)

Relevansi Kuat (butir bernilai 3

atau 4)

Penilaian Pakar 2

Relevansi Lemah (butir bernilai 1

atau 2)

0 0

Relevansi Kuat (butir bernilai 3

atau 4)

8 33

Gambar 2. Hasil analisis konsentrasi antar penilai untuk validitas isi instrumen soal essay

𝐾𝑜𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑉𝑎𝑙𝑖𝑑𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐼𝑠𝑖 = 𝐷

(𝐴 + 𝐵 + 𝐶 + 𝐷)= 33

(0 + 0 + 8 + 33)= 0,80

Berdasarkan perhitungan diatas diperoleh koefisien validitas isi = 0.917, karena koefisien validitas isi 0.917 > 0.75, Maka butir-butir instrumen soal essay adalah valid, sehingga dapat digunakan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kosistensi internal (reliabilitas) yang merupakan makna dari Koefisen validitas isi suatu instrumen, dalam hal instrumen ini dinyatakan Reliabel. Sedangkan validitas butirnya dapat dilihat dari masing-masing penilaian validator yang memberikan nilai skala 1 sampai 4. Hal yang perlu diperhatikan/direvisi yakni saran-saran yang diberikan oleh validator atau dengan melihat kembali aspek-aspek yang dinilainya kurang. Selanjutnya dilakukan validasi ulang kemudian dianalisis kembali. Demikian seterusnya hingga dapat dinyatakan sahih/valid.

Selanjutnya, hasil pengujian validitas konstruk instrumen dalam penelitian ini menggunakan analisis faktor dengan pendekatan konfirmatori (confirmatory factor analysis) melalui metode analisis Maximum Likelihood (ML). Pendekatan konfirmatori digunakan untuk menguji apakah jumlah faktor yang diperoleh secara empirik sesuai dengan jumlah faktor yang telah disusun secara teoretik.

Validasi konstruk tertuju pada dua hal yaitu: (1) internal yaitu hubungan- hubungan di dalam instrumen itu hendaknya seperti yang diramalkan oleh konstruk tersebut, dan (2) eksternal yaitu hubungan antar skor tes/butir dengan pengamatan- pengamatan lainnya hendaknya konsisten dengan konstruk tersebut. Pengujian validasi konstruk melalui analisis faktor menggunakan pendekatan konfirmatori (confirmatory analysis) yaitu menguji apakah jumlah faktor yang diperoleh secara empirik sesuai dengan jumlah faktor yang telah disusun secara teoretik/ menguji eksistensi konstruk. Berdasarkan hasil analisis faktor diperoleh hasil sebagai berikut:

Hasil analisis faktor dapat dinyatakan memadai atau tepat digunakan dengan memakai sebuah statistik yang disebut ukuran ketepatan Kaisar-Meyer-Olkin (KMO)

(8)

36

Measures of Sampling Adequacy dengan nilai di atas 0,50 yang merupakan indeks untuk membandingkan koefisien korelasi sampel (yang di observasi) dengan koefisien korelasi parsial. Hasil analisis menunjukkan bahwa analisis lanjutan/perbaikan dilakukan pada paket 1 yaitu tes peluang, statistika, dan bangun datar. Sedangkan untuk paket 2 yaitu tes statistika, persamaan linear dua variabel, dan bangun datar.

Sesuai dengan klasifikasi yang ditentukan oleh Kaiser yang menyatakan nilai di bawah 0,50 sebagai unacceptabel (tidak dapat diterima). Dengan demikian, statistik Kaisar- Meyer-Olkin (KMO) Measures of Sampling Adequacy digunakan sebagai indeks untuk membandingkan koefisien korelasi sampel (yang diobservasi) dengan koefisien korelasi parsial (Agung, 1998).

Angka eigenvalues ≥ 1 yang digunakan dalam menghitung jumlah faktor yang terbentuk yang dikaitkan dengan nilai eigen dan tabel factor matrix menunjukkan distribusi tiap butir pada satu faktor yang terbentuk. Jumlah faktor yang terbentuk pada dimensi/indikator menunjukkan bahwa analisis lanjutan/perbaikan dilakukan pada tes dilakukan pada paket 1 yaitu tes peluang, statistika, dan bangun datar, sedangkan untuk paket 2 yaitu tes statistika, persamaan linear dua variabel, dan bangun datar agar terbentuk satu faktor sehingga beberapa butir digugurkan. Jumlah butir yang gugur untuk paket 1 sebanyak 5 butir dari jumlah keseluruhan butir yaitu 31 butir. Adapaun butir yang gugur pada tes peluang adalah butir 3, butir yang gugur pada tes statistika adalah butir 4 dan butir 5, serta pada tes bangun datar adalah butir 27 dan butir 29. Pada paket 2, jumlah butir yang gugur sebanyak 4 butir dari jumlah keseluruhan butir yaitu 30 butir. Adapun butir yang gugur pada tes statistika adalah butir 6 , pada tes persamaan linear dua variabel adalah butir 14, serta pada tes bangun datar adalah butir 29 dan butir 30. Sesuai dengan pendekatan konfirmatori, digunakan untuk menguji apakah jumlah faktor yang diperoleh secara empirik sesuai dengan jumlah faktor yang telah disusun secara teoretik. Kriteria yang digunakan untuk menentukan suatu instrumen yang di ujicoba akan gugur atau tidak yakni berdasarkan muatan faktor serta melihat apakah butir-butir instrumen tersebut mengukur lebih dari satu dimensi teoritis (Ruslan, 2006).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian dari ke-31 butir pada paket 1 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 5 butir yang digugurkan (butir 3, 4, 5, 27, dan 29) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir-butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan. Sedangkan hasil penelitian dari ke-30 butir pada paket 2 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 4 butir yang digugurkan (butir 6, 14, 29, dan 30) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir-butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan.

Tahap terakhir, implementasi, yang dimana instrument yang kita kembangkan dapat dipergunakan oleh orang lain.

(9)

37 KESIMPULAN

Kualitas pengukuran keterampilan profesional mahasiswa calon guru Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar valid dan reliabel berdasarkan hasil validitas dari dua pakar, dengan mempertimbangkan saran-saran dari validator dan memperbaiki berdasrkan saran dari validator. Sedangkan, untuk gambaran hasil pengukuran keterampilan profesional mahasiswa calon guru Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Makassar berdasarkan dari validitas konstruk yaitu, soal di bagi menjadi dua paket. dari ke-31 butir pada paket 1 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 5 butir yang digugurkan (butir 3, 4, 5, 27, dan 29) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir-butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan. Sedangkan hasil penelitian dari ke-30 butir pada paket 2 ditinjau dari validitas konstruk menunjukkan bahwa terdapat 4 butir yang digugurkan (butir 6, 14, 29, dan 30) dan 26 butir yang tidak digugurkan dan valid karena butir-butir dapat menggambarkan indikator dari variabel yang dimaksudkan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penelitian yang berjudul

“Pengukuran Keterampilan Profesional Mahasiswa Calon Guru Jurusan Matematika FMIPA UNM” dapat terselesaikan yang merupakan penelitian dari dana hibah PNBP dengan Nomor: SP-DIPA-023.17.2.677523/2021, tanggal 23 November 2020 sesuai surat keputusan Rektor UNM Nomor: 550/UN36/HK/2021 tanggal 5 mei 2021.

Penelitian ini dapat terselesaikan berkat bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan kepada staff pembantu yang membantu dalam teknisi penelitian. Pada kesempatan ini pula, dengan segala ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada: Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) UNM, Bapak/Ibu Guru Matematika SMA Negeri di Kabupaten Bone melalui MGMP Matematika dalam penyusunan instrument, dan para mahasiswa calon guru di jurusan matematika FMIPA UNM.

Semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga selesainya laporan ini. Akhirnya, tiada gading yang tak retak. Walaupun hasil penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan, namun peneliti berharap akan ada manfaatnya bagi pengembangan mutu pendidikan di secara khusus dan pengembangan mutu pendidikan di Indonesia secara umum

DAFTAR PUSTAKA

Agung, I. G. N. (1998). Metode penelitian sosial, Bagian 2: Pengertian dan pemakaian praktis. P.T Gramedia Pustaka utama. Jakarta

(10)

38

Alfiah N, A. M., & Iwan S, H. R. (2020). Analysis of Understanding Concept in Solving Mathematics Story problems Using CRI in Terms of Personality Types. Daya Matematis: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika, 8(3), 229-236.

Aris Junaidi, (2020). Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi Era Industri 4.0 Untuk Mendukung Merdeka Belajar-Kampus Merdeka. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Call, K. (2018). Professional teaching standards: A comparative analysis of their history, implementation and efficacy. Australian Journal of Teacher Education, 43(3), 6.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Draf Naskah Akademik Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan. Jakarta: Direktorat Ketenagaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Eliterius Sennen, 2017, Problematika Kompetensi Dan Profesionalisme Guru, Prosiding Seminar Nasional, HDPGSDI Wilayah IV Tahun 2017, ISBN : 978-602-51434-0-3.

HR, I. S., & Hindi, A. N. A. (2020). Analysis of Cognitive Conflict with Intervention on the Understanding of Geometry Concepts in SMA. Daya Matematis: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika, 8(3), 193-199.

Isriyati, I. (2020). Pernanan Kepemimpinan Kepala PAUD Formal Terhadap Profesionalitas Guru. In Prosiding Seminar Nasional Pascasarjana (PROSNAMPAS) (Vol. 3, No. 1, pp. 964-972).

Nidawati, N. (2020). Penerapan Peran Dan Fungsi Guru Dalam Kegiatan Pembelajaran.

Pionir: Jurnal Pendidikan, 9(2).

Rezan Yilmar, (2020). Prospective Mathematics Teachers’ Cognitive Competencies On Realistic Mathematics Education, Journal on Mathematics Education, Ondokuz Mayis University, Faculty of Education, Samsun, Turkey, ISSN 2087-8885 E-ISSN 2407-0610, Volume 11, No. 1, January 2020, pp. 17-44.

Ruslan (2006). Aplikasi Analisis Faktor dalam Uji Validitas Instrumen Penelitian. Seminar Nasional Statistika : Institut Teknologi Surabaya dan Jurusan Matematika FMIPA UNM. 4 Februari 2006

Ruslan (2009). Validitas Isi. Pa’biritta: Media Informasi & Komunikasi Pendidikan.

Makassar: LPMP Sulawesi Selatan.

Santosa, M. G. W., Kusumaningsih, W., & Endahwuri, D. (2019). Profil Pedagogical Content Knowledge(PCK) Calon Guru Matematika dalam Kesiapan Mengajar (Jurnal Matematika dan Matematika) Vol. 1 No. 5 Hal. 186.

Shaukat, S., & Chowdhury, R. (2020). Teacher educators' perceptions of professional standards: Implementation challenges in Pakistan. Issues in Educational Research, 30(3), 1084-1104.

Shultz, Kenneth S. dan David J. Whitney. (2005). Measurement Theory in Action.

California: Sege Publications

Gambar

Gambar 1. Hasil analisis konsentrasi antar penilai untuk validitas isi instrumen  soal pilihan ganda
Gambar 2. Hasil analisis konsentrasi antar penilai untuk validitas isi instrumen  soal essay

Referensi

Dokumen terkait

Positron emission tomography (PET) belum menjadi prosedur diagnostic yang rutin dan tidak diindikasikan untuk mengevaluasi tumor primer kecuali kasus nodul soliter.

Untuk meyakinkan bahwa setiap user mendapatkan jatah waktu menggunakan CPU sesuai dengan haknya maka sistem harus tahu berapa CPU time yang diperlukan oleh setiap proses dalam

Adapun kendala atau masalah yang dihadapi oleh para pelaku travel dan calon traveler diantaranya, tempat atau destinasi yang dituju tidak sesuai dengan yang

Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi TLD Badge dengan menentukan besarnya nilai faktor kalibrasi, mengetahui besarnya faktor hamburan balik (

Hasil pemeriksaan radiografi Co-60 pada Manhole bejana tekan sebelum dan setelah PWHT menggunakan film AGFA D7 dengan ketebalan material las uji 83 mm pada sambungan las

Beberapa manfaat implementasi metode Quantum Teaching dalam pembelajaran bahasa Arab di SMA Darul Quran Mojokerto, yakni: a) terciptanya suasana kelas menyenangkan

Proporsi sari buah anggur Bali dan susu sapi serta lama penyimpanan memberikan pengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan dan sifat fisikokimia (pH, tingkat keasaman,

Sebuah Tesis yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada Program Studi Pendidikan Fisika. © Agus Budiyono 2015