• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGHADAPI BABAK BARU DALAM UNIVERSAL HEALTH COVERAGE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "MENGHADAPI BABAK BARU DALAM UNIVERSAL HEALTH COVERAGE"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

“MENGHADAPI BABAK BARU DALAM UNIVERSAL HEALTH COVERAGE”

Kementerian Kesehatan

Disampaikan pada Seminar Nasional XV Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia

18 Oktober 2017

(2)

Outline

 Pendahuluan

 UHC di Indonesia

 Babak Baru RS dalam UHC

 Penutup

(3)

 Pendahuluan

(4)

Deklarasi PBB 1948 ttg HAM Pasal 25, Ayat

(1)

JAMINAN KESEHATAN BAGI SEMUA ORANG MERUPAKAN HAK AZASI

MANUSIA.

Resolusi WHA ke58 2005 di

Jenewa

Setiap negara perlu mengembangkan UHC

melalui mekanisme asuransi kesehatan sosial untuk menjamin pembiayaan kesehatan yang yang berkelanjutan.

Pancasila

Sila ke 5

(5)

Universal Health Coverage

3 Dimensi UHC:

1. Seberapa besar prosentase penduduk yang dijamin

2. Seberapa lengkap pelayanan yang dijamin

3. Seberapa besar proporsi cost sharing oleh penduduk

Pentahapan cakupan universal sangat dipengaruhi oleh kemauan politik Pemerintah, konsensus penduduk, dan kemampuan keuangan

suatu negara.

Universal health coverage merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap warga dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif bermutu dengan biaya terjangkau.

(6)

Visi dan Misi Presiden

6 3 DIMENSI PEMBANGUNAN: PEMBANGUNAN MANUSIA, SEKTOR UNGGULAN, PEMERATAAN DAN KEWILAYAHAN

NUSANTARA SEHAT 9 AGENDA PRIORITAS (NAWA CITA)

Agenda ke 5: Meningkatkan kualitas Hidup Manusia Indonesia

TRISAKTI:

Mandiri di bidang ekonomi; Berdaulat di bidang politik; Berkepribadian dalam budaya

PROGRAM

INDONESIA SEHAT

PROGRAM INDONESIA

PINTAR

PROGRAM INDONESIA KERJA PROGRAM INDONESIA SEJAHTERA RENSTRA

2015-2019

NORMA PEMBANGUNAN KABINET KERJA

PENDEKATAN KELUARGA PARADIGMA

SEHAT

PENGUATAN

YANKES

JKN

KELUARGA SEHAT

DTPK

GERMAS

(7)

RENSTRA 2015-2019

Program

• Promotif – preventif sebagai landasan pembangunan kesehatan

• Pemberdayaan masyarakat

• Keterlibatan lintas sektor

Program

• Peningkatan Akses terutama pd FKTP

• Optimalisasi Sistem Rujukan

• Peningkatan Mutu

Program

• Benefit

• Sistem

pembiayaan:

asuransi – azas gotong royong

• Kendali Mutu &

Kendali Biaya

• Sasaran: PBI & Non

Tanda kepesertaan PBI

KIS

D T P K

KELUARGA SEHAT

Penerapan pendekatan continuum of care Intervensi berbasis resiko kesehatan (health risk)

PENDEKATA N

KELUARGA

PROGRAM INDONESIA SEHAT

7

Pilar 1.

Paradigma Sehat

Pilar 2.

Penguatan Yankes

Pilar 3. JKN

(8)

Elemen inti dalam UHC

1. Akses pelayanan kesehatan yang merata 2. Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas

3. Perlindungan risiko finansial ketika memerlukan pelayanan

kesehatan.

(9)

LANDASAN HUKUM JKN

UU No. 40 Tahun 2004 Tentang SJSN

Jaminan Kesehatan diselenggarakan dengan tujuan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam

memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

Jaminan kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan asuransi social dan prinsip ekuitas

UU No. 36 Tahun 2009 Tentang

Kesehatan

• Semua orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan

• Setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau

BPJS menyelenggarakan SJSN

UU No. 24 Tahun 2011

Tentang BPJS

(10)

 UHC di Indonesia

(11)

UHC di Indonesia

1. Akses pelayanan kesehatan yang merata

(12)

Peta Jalan Menuju Universal Health Coverage

2015 2016 2017 2018 2019

Penduduk (Jiwa) 255 259 262 265 268

Peserta JKN (Jiwa) 136 156 211 231 258

PBI-KIS (Jiwa) 88 92 97 102 107

255 259 262 265 268

136

156

211

231 258

88 92 97

102

107

00 50 100 150 200 250 300

PROYEKSI JUMLAH PENDUDUK ,

TARGET PESERTA JKN & PBI-KIS 2015-2019

Tahun

%- Peserta

JKN 2015 60%

2016 70%

2017 80%

2018 90%

2019 95%

(13)

Pentingnya Perluasan Cakupan JKN

1. Amanah UUD bahwa negara harus mengembangkan Jaminan social bagi seluruh warganya

2. Bonus Demografi dan kompetisi global membutuhkan SDM yang sehat

3. Perlindungan Kesehatan bagi kelompok misin dan rentan

Sumber : BPS

(14)

Sasaran Peserta Penerima Bantuan Iuran

Kelompok Masyarakat Miskin dan Rentan 40% Tingkat Sosek Terbawah

Miskin 29 juta

Rentan 70 juta

Menengah 100 juta

Atas 50 juta

Jumlah Rumah Tangga (RT)

26.589.774

Jumlah Keluarga (KK)

28.488.031

Jumlah Penduduk

96.705.167 Jiwa Data Terpadu Berisi Kelompok Masyarakat

40% Status Sosial Ekonomi Terendah

GARIS KEMISKINAN (Maret 2017)

PENERIMA KPS/KKS/

KIP/Rastra

10,64 % 40

%

25%

PENERIMA BANTUAN IURAN (PBI) JKN

38

%

PROGRAM KELUARGA HARAPAN (PKH)

8%

DATA TERPADU

*

Exclusion Error

Inclusion Error

Sumber : TNP2K

(15)

CAKUPAN KEPESERTAAN JKN

15

- 20,000,000 40,000,000 60,000,000 80,000,000 100,000,000 120,000,000 140,000,000 160,000,000 180,000,000 200,000,000 2014

2015 2016 Oktb 2017

Peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI)

Peserta yang

didaftarkan Pemda

Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU)

Pekerja bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja (BP)

Target Cakupan Semesta JKN di Tahun 2019

Sumber data BPJS Kesehatan

65%

56%

53%

51% 10 %

9 % 7 % 7 %

23%

24 %

24 % 18 %

16 %

14 %

13 %

10 % 133.423.653 Jiwa

156.790.287 jiwa

171.939.254 jiwa

182.036.673 jiwa 70,69

% 66,7%

60,8%

51,8%

(16)

Survey LPEM FEB UI

Kenapa Peserta Non PBI Informal Sektor blm berpartisipasi dalam

JKN??

(17)

POTRET EKUITAS Akses Rawat Jalan Ke RS Pemerintah VS RS SWASTA : Data Observasi Susenas

• Nilai estimasi ekuitas akses rawat jalan ke RS Pemerintah dan RS juga ditemui cenderung membaik pada 5 jika dibandingkan tahun 2013.

• Namun tidak seperti RS Pemerintah nilai estimasi ekuitas akses rawat jalan ke RS Swasta hanya sedikit membaik pada 2015 jika dibandingkan tahun 2013.

Kajian Dampak JKN, Kemenkes , 2016

pada Tahun 2015 ( setelah era JKN)

pelayanan kesehatan rawat Jalan RS Pemerintah dan RS

Swasta semakin mendekati garis equity

(pro poor) Bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebelum era

JKN

(18)

POTRET EKUITAS Akses Rawat Inap Ke RS Pemerintah VS RS Swasta:

Data Observasi Susenas

• Nilai estimasi ekuitas akses rawat inap ke RS Pemerintah dan RS Swasta juga cenderung membaik pada 2015 jika dibandingkan 2013.

• Jika dibandingkan estimasi ekuitas RS Pemerintah sedikit lebih Baik dari Pada Swasta

• Pada kasus utilisasi rawat inap RS Pemerintah, cenderung memberikan benefit ke kelompok pendapatan bawah atau miskin dalam hal utilisasi rawat inap.

Kajian Dampak JKN, Kemenkes , 2016

pada Tahun 2015( setelah era JKN) pelayanan kesehatan rawat inap RS Pemerintah dan RS Swasta semakin mendekati garis equity (pro poor) Bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebelum era JKN

(19)

PEMANFAATAN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL

19 2014

( Laporan Audited Des)

2015

(Laporan Audited Des)

2016

(Laporan Non Audited Des)

2017

(Laporan Bulanan BPJS Sampai dengan Bulan Juni)

Pemanfaatan di FKTP (Puskesmas, Dokter Praktek Perorangan/

Klinik Pratama)

66,8 juta 100,6 juta 134,9 juta 73 juta

Pemanfaatan di

Poliklinik Rawat jalan RS

21,3 juta 39,8 Juta 50,4 Juta 29,2 juta

Pemanfatan Rawat Inap RS

4,2 juta 6,3 juta 7,6 Juta 4 juta

Total Pemanfaatan 92,3 juta 146,7 Juta 192,9 Juta 106,2 juta

(20)

UHC di Indonesia

2. Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas

(21)

KOMPETENSI FASKES

Sarana

UHC 2019

Akses dan Mutu

HARAPAN FASKES 2019

Prasarana Sumber Daya Alat Kesehatan Kesehatan

Mutu melalui Akreditasi

Sistem Rujukan

(22)

SISTEM RUJUKAN

REGIONALISASI SISTEM RUJUKAN

RSU H Adam Malik

RSU Dr. M.Jamil

RSU Dr. Mohammad Hoesin

RSU Dr. Cipto Mangunkusumo

RSU Dr Hasan Sadikin RSU Dr. Soetomo RSU Dr. Kariadi

RSUP Dr. Sarjito

RSUP Sanglah Denpasar RSU Dr Sudarso PTK

RSUD H A WahabSjahranie

RSU Prof.Dr. R.D Kandou

Rs wahidin

RSU Jayapura RSU Dr. Zainoel Abidin

RSUD Kep. Riau

RSUD Arifin Achmad RSUD Raden Mattaher

RSU Dr. Ir. Soekarno RSUD Dr. M. Yunus

RSU Dr. H. Abdul Moelok RSU Tangerang

RSUD Tarakan

RSUD Dr. Doris Sylvanus RSUD Ulin

RSU Sorong RSU Dr. Hasan Busor RSU Prof. Dr. Aloei

RSUD Mamuju RSU Kendari

RSU Dr. M Haulussy

RSU Prof. Dr. WZ Johanes RSUD Prov NTB

**Kepmenkes HK.02.02/MENKES/390/2014 dan HK.02.02/MENKES/391/2014

RUMAH SAKIT RUJUKAN NASIONAL RUMAH SAKIT RUJUKAN PROVINSI

RS RUJUKAN NASIONAL : 14 RS RS RUJUKAN PROVINSI : 20 RS RS RUJUKAN REGIONAL : 110 RS

Tipe Rujukan Berjenjang Nasional

RUJUKAN NASIONAL

FASKES TERTIER

FASKES SEKUNDER FASKES PRIMER

POSYANDU POLINDES POSBINDU

MASYARAKAT/

SELF CARE

RS KHUSUS

KLINIK UTAMA

KLINIK PRATAMA

PRAKTIK BIDAN

LABORATORIUM LABORATORIUM BP, BPKIA

Sumber: Dit. Yankes Rujukan

(23)

Penyusunan Clinical Pathway

 Rumah Sakit sebagai pemberi pelayanan

kesehatan perlu menyusun langkah pelayanan yang lebih detail yang diberikan pada masing- masing pasien berdasarkan PNPK dan PPK

 Beberapa Diagnosis & Tindakan dibuat Clinical Pathway:

- High Cost - High Volume - High Risk

 Implementasi Clinical Pathways berkaitan erat dengan Clinical Governance dalam

hubungannya menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan dengan biaya yang dapat

diestimasikan dan terjangkau

(24)

Akreditasi adalah suatu pengakuan publik melalui suatu badan nasional akreditasi rumah sakit atas prestasi RS dalam memenuhi standar akreditasi yang dibuktikan melalui suatu asesment pakar sebaya (peer) eksternal yang independen.

Akreditasi Mutu RS

Struktur Proses Outcome

(25)

STATUS AKREDITASI RUMAH SAKIT

Sumber: KARS (Data per 25 Agustus 2017)

TOTAL : 1.062 RS TERAKREDITASI

39% RUMAH SAKIT DI INDONESIA

TERAKREDITASI NASIONAL

(26)

UHC di Indonesia

3. Perlindungan risiko finansial ketika memerlukan

pelayanan kesehatan.

(27)

Belanja Kesehatan Indonesia, 2010 – 2015

Setelah implementasi JKN

Belanja Jaminan Sosial meningkat secara substansial, Proporsi OOP menurun

Struktur dasar pembiayaan kesehatan di Indonesia belum banyak berubah, OOP masih merupakan sumber

pembiayaan terbesar 2010 – Rp 131,5 triliun 2015 – Rp 184,4 triliun

Proporsi OOP terhadap Belanja Kesehatan Nasional menurun

OOP tinggi  inefficient dan inequalities

*draft, do not cite

(28)

Potret Out of Pocket Indonesia

Negara Tahun mulai implementasi UHC

Proporsi OOP terhadap THE

Perubahan Proporsi OOP semenjak UHC smp 2014 Sebelum UHC Tahun Pertama

UHC**** 2014

Thailand 2002* 29,3% 21,5% 7,9% -21,4%

Korsel 2000** 42,5% 41,1% 36,1% -6,4%

Filipina 2011*** 54,1% 57,7% 53,7% -0,4%

Indonesia 2014 (JKN) 48,4% 45,3% 45,3% -3,1%

*http://heapol.oxfordjournals.org/content/early/2014/11/05/heapol.czu120.full diakses pada 6 Desember 2016

**www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1447690 diakses pada 5 Desember 2016

***www.forum2015.org/index.php/component/phocadownload/category/67-session-12?download=153:karlo-parades diuduh pada 5 Desember 2016

****http://apps.who.int/nha/database/Key_Indicators_by_Country diunduh pada 6 Desember 2016

Sumber: NHA, Kemenkes

(29)

ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN

RPJMN I 2005 -2009

Arah pengembangan upaya kesehatan, dari kuratif bergerak ke arah promotif, preventif sesuai kondisi dan kebutuhan

Bangkes

diarahkan untuk meningkatkan akses dan mutu yankes

Akses

masyarakat thp yankes yang

berkualitas telah lebih berkembang dan meningkat

Akses

masyarakat

terhadap yankes yang berkualitas telah mulai

mantap

Kes masyarakat thd yankes yang berkualitas telah menjangkau dan merata di

seluruh wilayah Indonesia

UNIVERSAL COVERAGE

RPJMN II 2010-2014

RPJMN III 2015 -2019

RPJMN IV 2020 -2025

Kuratif-

Rehabilitatif

PROMOTIF - PREVENTIF

29

(30)

 BABAK BARU RS DALAM UHC

(31)

Berbagai Isu dalam Implementasi JKN

• Ketidakpuasan Peserta

• Defisit

• Resiko Fiskal

• Keluhan Masyarakat

• Overload

• Ketidakcukupan tarif

• Distribusi tidak merata

• Kekosongan Obat

• Antrian

• Pelayanan berbelit-belit

• Tunggakan Iuran

• Penolakan pasien di RS

• Pasien harus Iur Biaya

Peserta Faskes

BPJS

Pemerintah

(32)

PERKEMBANGAN Jumlah RS : Provider BPJS TAHUN 2014-2016

2408 2490 2601

1681 1839 2086

Tahun 2014 Tahun 2015 Tahun 2016

Jumlah seluruh RS Jumlah provider BPJSK Peserta

133,4 juta jiwa 156,7 juta jiwa 171,9 juta jiwa

- 20 40 60 80 100 120 140 160

KLINIK UTAMA RS D RS C RS B RS A Peserta

Distribusi RS Provider BPJS

UHC : Kesiapan sisi Suplay

-Kuantitas -Distribusi

-Kompetensi dan Standarisasi

(33)

Strategic Purchasing

What To Buy

From Whom To Buy

How To Buy

Benefit JKN : Pelayanan

Kesehatan yang dijamin oleh JKN

Provider yang berkualitas  Seleksi, kredensialing dan akreditasi

- Mekanisme pembayaran - Kendali mutu dan kendali

Biaya

(34)

Kondisi saat ini…….

Pemahaman dr dan dr spesialis

Pemahaman RS : obat

menjadi sumber pemasukan

bagi RS

Paradigma Lama : FFS

Sistem saat ini : menggunakan

INA CBG

vs

• Perbaikan manajemen rumah sakit

• Pelaksanaan PPK & Clinical Pathway di RS

• Formularium Nasional sebagai acuan

• Pengembangan Budaya Anti Fraud

• dsb

Pelayanan Kesehatan : Kendali Mutu & Kendali Biaya berbasis evidence

(35)

Distribusi Tarif Paket INA -CBG

Jasa Sarana

Operasional RS

Fixed Cost Variabel Cost

Jasa Pelayanan

Jasa Dokter Jasa Manajemen

Jasa Lab

Jasa Perawat Jasa Farmasi

Jasa Radiologi Jasa Lainnya

(36)

Regulasi pembayaran Jasa di FKRTL/RS

Regulasi Pembayaran

Jasa di FKRTL RSUD

RS TNI Polri

RS Vertikal RS

Swasta

BLUD  Peraturan BLUD

Non BLUD  Regulasi daerah, remunerasi ( IDI, Arsada)

Permenkeu

Sistem Remunerasi  KMK 625 Thn 2010 dan PMK 63 Tahun 2016

Regulasi pemilik/

manajemen

Acuan pada Manlak JKN untuk Jaspel dalam kisaran 30-50%

(37)

Prospektif Payment

BENEFIT

1. Improve hospital management 2. Improve hospital data system

3. Reduct of excess hospital capacity 4. Shorter LOS

5. Fewer Unneccesary test/services

UNINTENDED CONSEQUENCES

1. Increase unneccessary admission, readmission, transfer

2. Increase in hospital casemix due to change in coding (DRG creep)

3. Separate provision of services which previously were considered part of routin in patient care

(Unbundling)

(38)

• Pencegahan kecurangan pada penerapan pembayaran Ina CBG

• Pengendalian utilisasi (utilization review, audit coding, audit medis)

• Optimalisasi pengendalian Tim Kendali Mutu & Kendali Biaya (KMKB),Dewan Pertimbangan Medik, BPRS, Dewan Pertimbangan Klinis

Potensi Kecurangan/Fraud di RS

1 Upcoding

2 Type of room change 3 Unnecessary treatment

4 No Medical Value

5 Service Unbundling or Fragmentation

6 Phantom Prosedur

7 Standard of care

8 Cancelled Service

9 Readmisi

10 Phantom Billing

11 Inflated Bills 12 Repeat billing

13 Length of Stay 14 Cloning

15 Penggunaan Ventilator berlebih 16 Iur Biaya

17 Self Referral

TOTAL

NO TIPE FRAUD

(39)

Penanganan Fraud Dalam JKN

Kecurangan

BPJS Kesehatan - Verifikator - SPI

Tim Monev Dinas Kesehatan

KPK

Kemenkes

Kecurangan

Tim Bersama Penanganan Kecurangan JKN

Sebelum Sesudah

(40)

Apa yang harus dipersiapkan RS dalam menghadapi UHC??

• Remunerasi

• Pemetaan Kompetensi dan rasio tenaga

• RS mulai menghitung Unit Cost Dalam membentuk tarif RS

• Melakukan Analisa Utilisasi/ Klaim

• Akreditasi tidak hanya di atas kertas

• Team work Klinisi & Manajemen

• Peningkatan Sistem Informasi

• Budaya anti Fraud

• Clinical Pathway

• Manajemen Rujukan

• Penerapan Kendali Mutu dan Kendali Biaya dalam Pelayanan

Aspek Manajemen

Klinis

Aspek Budaya &

Organisasi

Aspek Manjemen

SDM

Aspek Manajemen

Keuangan

EFISIEN EFEKTIF

(41)

 PENUTUP

(42)

KESIMPULAN

 Pencapaian UHC tahun 2019 meliputi cakupan masyarakat, pelayanan kesehatan yangberkualitas dan perlindungan finansial masyarakat melalui jaminan kesehatan

 Jaminan Kesehatan Nasional merupakan salah satu tools dalam mencapai UHC 2019

 Pemerintah saat ini terus mempersiapkan SISI SUPPLY yang memadai dalam mendukung UHC

 Pencapaian UHC Tahun 2019 membutuhkan dukungan dan kerjasama semua stake holder baik Pemerintah maupun pihak Swasta

 Dalam implementasi program JKN, RS diharapkan dapat mengembangkan

pelayanan yang bermutu dan terstandarisasi dengan prinsip kendali mutu

dan kendali biaya

(43)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Klasifikasi dalam sindroma antifosfolipid, morbiditas obstetrik disebabkan secara langsung dan tidak langsung oleh aktivitas antibodi antifosfolipid dan pembentukan

Klasifikasi nomenklatur sedimen pada endapan sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik dan endapan sungai aktif didapat pasir sebanyak, masing masing 19, 35, 15 dan

Stadium-stadium cacing Cestoda yang siklus hidupnya melibatkan hospes intermedier yang terestik adalah telur  embrioheksakan atau onkosfer  ( berbagai bentuk larva cacing

Cara yang digunakan oleh Bandler dan Grinder dalam belajar begitu efektif, mereka memodel tokoh yang memang sudah sangat kompeten di bidangnya.Mereka tidak hanya membaca buku

Jadi selama tahun 90an perusahaan ini melakukan beberapa akuisisi terhadap perusahaan telekomunikasi lain yang kemudian meningkatkan pendapatnnya dari $152 juta pada tahun 1990

Hasil penelitian ini bagi Lembaga diklat RCChem Chem Chem Chem Learning Centre – Pusat Penelitian Kimia - LIPI Bandung Melalui penelitian ini diharapkan dapat

Apa lagi, tambahnya, ke depan kita di dalam negeri bisa memilih kontrak berjangka apa yang mau ditransaksikan, dengan beroperasinya bursa berjangka baru yakni Bursa Komoditi

Waktu merupakan nikmat yang apabila dibuang tidak akan dapat diambil kembali dan dengan waktu yang sangat terbatas ini kita harus mampu melaksanakan misi kita dengan sebaik