PENGARUH KARAKTERISTIK KADER KESEHATAN TERHADAP PERILAKU MENGGERAKKAN MASYARAKAT
DALAM PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DI KECAMATAN BAJENIS
KOTA TEBING TINGGI
TESIS
Oleh:
SADAT MUHAMMAD HARAHAP 157024001/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
PENGARUH KARAKTERISTIK KADER KESEHATAN TERHADAP PERILAKU MENGGERAKKAN MASYARAKAT
DALAM PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DI KECAMATAN BAJENIS
KOTA TEBING TINGGI
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Studi Pembangunan (MSP) Program Studi Magister Studi Pembangunan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh
SADAT MUHAMMAD HARAHAP 157024001/SP
PROGRAM STUDI MAGISTER STUDI PEMBANGUNAN FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
Judul Tesis : PENGARUH KARAKTERISTIK KADER
KESEHATAN TERHADAP PERILAKU
MENGGERAKKAN MASYARAKAT DALAM
PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DI KECAMATAN BAJENIS KOTA TEBING TINGGI Nama Mahasiswa : Sadat Muhammad Harahap
Nomor Pokok : 157024001
Program Studi : Magister Studi Pembangunan
Menyetujui : Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si) (Nurman Achmad, S.Sos, M.Soc, Sc) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Prof. Dr. Badaruddin, M.Si) (Dr. Muryanto Amin, M.Si)
Tanggal lulus : 09 Mei 2017
Telah diuji pada Tanggal: 09 Mei 2017
PANITIA PENGUJI :
Ketua : Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si Anggota : 1. Nurman Achmad, S.Sos, M.Soc, Sc
2. Drs. Bengkel Ginting, M.Si 3. Hatta Ridho, S.Sos, MSP
4. Prof. Dr. Badaruddin, M.Si
PERNYATAAN
PENGARUH KARAKTERISTIK KADER KESEHATAN TERHADAP PERILAKU MENGGERAKKAN MASYARAKAT DALAM
PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH DI KECAMATAN BAJENIS
KOTA TEBING TINGGI
TESIS
Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Studi Pembangunan pada Program Studi Magister Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara adalah benar hasil karya penulis sendiri.Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian- bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Mei 2017 Penulis,
Sadat Muhammad Harahap
PENGARUH KARAKTERISTIK KADER KESEHATAN TERHADAP PERILAKU MENGGERAKKAN MASYARAKAT DALAM
PENANGGULANGAN DBD DI KECAMATAN BAJENIS KOTA TEBING TINGGI
ABSTRAK
Dalam melaksanakan pembangunan nasional penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia termasuk di antaranya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu daerah endemis penyakit DBD, di mana daerah yang memiliki distribusi frekuensi terbesar terhadap penyakit DBD yaitu Kecamatan Bajenis. Program prioritas pemberantasan DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang pelaksanaanya melibatkan partisipasi masyarakat. Salah satu faktor yang dapat menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi adalah kader yang ada di temgah masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bajenis dari bulan Desember 2016 sampai Februari 2017 tentang pengaruh karakteristik kader kesehatan terhadap perilaku menggerakkan masyarakat dalam penanggulangan DBD di Kecamatan Bajenis menggunakan metode survei. Hasil penelitian melalui analisis regresi menunjukkan bahwa karakteristik pengetahuan (p = 0,034), dan sikap (p = 0,000) berpengaruh terhadap perilaku kader kesehatan menggerakkan masyarakat dalam penanggulangan DBD, sedangkan karakteristik pendidikan (p=0,111) dan penghasilan (p=0,608) tidak berpengaruh terhadap perilakunya tersebut.Persamaan regresi linier berganda yang diperoleh adalah Model persamaan regresi yang terbentuk adalah Y = 0,147 (konstanta) + 0,250 X3(pengetahuan) + 0,479 X4(sikap).
Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa karakteristik pengetahuan dan sikap kader kesehatan berpengaruh terhadap perilaku kader kesehatan dalam menggerakkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam melaksanakan penanggulangan DBD.
Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan kepada Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan sikap kader dalam upaya penanggulangan penyakit DBD di masyarakat.
Kata kunci : Karakteristik, Kader, Perilaku, Partisipasi, DBD
THE INFLUENCE OF THE CHARACTERISTICS OF HEALTH CADRES ON THE BEHAVIOR IN ENCOURAGING PEOPLE TO HANDLE DBD
(HEMORRHAGIC FEVER) IN BEJENIS SUBDISTRICT, TEBING TINGGI
ABSTRACT
In the implementation of the national development, transmitted diseases are still the health problem in Indonesia; one of them is DBD (hemorrhagic fever).
Tebing Tinggi is one of the endemic areas of DBD; one of them which has the highest frequency in DBD is Bajenis Sub-district. The prioritized program of handling DBD is by PSN (combating mosquito breeding places) which involves public participation.
One of the factors which can encourage people to participate is health cadres. The research was conducted in Bajenis Sub-district from December, 2016 until February, 2017. It was about the characteristics of health cadres’ behavior in encouraging people to handle DBD in Bajenis Sub-district by using survey method.
The result of the research showed that the characteristics of knowledge (p = 0.034) and attitude (p = 0.000) had the influence on health cadres’ behavior in encouraging people to handle DBD, while the characteristics of education (p = 0.111) and income (p = 0.608) did not have any influence on their behavior. The result of multiple linear regression equation showed that the regression equation model was Y = 0.147 (constant) + 0.250 x3(education) + 0.479 x4(attitude). The research conclusion was that the characteristics of health cadres’ knowledge and attitude had the influence on their behavior in handling DBD. It is recommended that the Health Agency in Tebing Tinggi increase the health cadres’ knowledge and attitude in handling DBD in society.
Keywords: Characteristic, Cadre, Behavior, Participation, DBD
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur pada Allah Jalla Jalaluhu atas segala hikmah-Nya, sehingga penulisan penelitian ini dapat diselesaikan, sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan Program Studi Magister Studi Pembangunan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Karakteristik Kader Kesehatan Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat dalam Penanggulangan Demam Berdarah di Kecamatan Bajenis Kota Tebing Tinggi”, dalam menjalani proses penyusunan penulisan penelitian ini, mulai dari awal perencanaan hingga sentuhan akhir dalam penyelesaiannya, tidak terlepas dari bantuan yang bersifat materil dan imateril oleh berbagai pihak yang mendukung, sehingga ucapan terima kasih disampaikan kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Si selaku Rektor Universitas Sumatera
Utara;
2. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara;
3. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku ketua Mangister Studi Pembangunan Universitas Sumatra Utara;
4. Bapak Prof. Dr. R. Hamdani Harahap, M.Si selaku dosen pembimbing I dan dosen metodologi penelitian yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan dalam penyelesaian penulisan penelitian ini;
5. Bapak Nurman Achmad, S.Sos, M.Soc, Sc selaku Dosen Pembimbing II, yang telah banyak memberikan masukan dan bimbingan dalam penyelesaian penulisan penelitian ini;
6. Bapak Drs. Bengkel Ginting, M.Si dan Bapak Hatta Ridho, S.Sos, MSP selaku dosen Penguji yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyempurnaan dalam penelitian ini;
7. Bapak Dr. Humaizi, MA sebagai dosen metodologi penelitian;
8. Seluruh pejabat, staf dan jajaran Pustanserdik SDMK Badan PPSDMK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang telah menanggung seluruh pembiayaan dalam penyelesain studi ini;
9. Bapak Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM. selaku Walikota Tebing Tinggi yang telah memberikan kesempatan dalam mengikuti studi ini;
10. Bapak Muhammad Syah Irwan, SKM, M.Kes selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi yang telah banyak memberikan bantuan;
11. Camat Bajenis, Kepala Puskesmas Brohol dan Puskesmas Teluk Karang yang banyak membantu di mana lokus penelitian ini berlangsung;
12. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Program Magister Studi Pembangunan yang telah memberikan ilmu dan pelayanan kepada penulis;
13. Teman teman Angkatan 31 Program Magister Studi Pembangunan Fisip USU dan peserta tugas belajar Pustanserdik SDMK Badan PPSDMK Kementerian Kesehatan Republik Indonesia angkatan 2015 di USU;
14. Teman-teman di Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi yang telah banyak membantu.
15. Teman dan kerabat yang ikut membantu dalam menyelesaikan pendidikan ini Ida, Emi, Sari, Semi, Wagimen, Heri, Rahmat, Neni, dan lainnya yang tak dapat disebutkan satu persatu.
Ucapan terima kasih yang sebesarnya kepada Ayah dan Ibu, Burhanuddin Harahap dan Chadijah Siregar serta Mulyadi dan Nadia, yang telah sabar menjaga dan medoakan anak-anaknya, Junica, istri yang selalu sabar dan terus mendoakan kebaikan, Sahani dan Sahaji, anak yang selalu memotivasi dan medoakan kebaikan pada diri sendiri, orang tua, bangsa dan negara. Kakak, abang, dan adik yang telah banyak membantu, Budi, Darma, Jani, Nita, Wanda, Zunaida, Ricky, dan Utami.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna pada penulisan tesis ini, untuk itu masukan yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaannya, dan akhirnya diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat.
Medan, Mei 2017 Penulis
Sadat Muhammad Harahap
RIWAYAT HIDUP
1. Nama : Sadat Muhammad Harahap
2. NIM : 157024001
3. Tempat dan Tanggal Lahir : Tebing Tinggi, 19 Desember 1978 4. Alamat : Jl. Bhakti No.56 Kelurahan Satria
Kecamatan Padang Hilir Kota Tebing Tinggi 5. Jenis Kelamin : Laki - Laki
6. Agama : Islam
7. Nama Orang Tua
a. Ayah : Burhanuddin Harahap
b. Ibu : Chadijah Siregar
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Manfaat Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Konsep Pemberdayaan Masyarakat ... 11
2.1.1 Agen Perubahan ... 15
2.2.1.1 Kualifikasi Agen Perubahan ... 16
2.1.1.2 Peranan Agen Perubahan ... 17
2.1.2 Pengertian Partisipasi Masyarakat ... 18
2.2 Perilaku ... 24
2.2.1 Karakteristik Personal ... 27
2.2.1.1 Pengetahuan ... 28
2.2.1.2 Sikap ... 29
2.2.1.3 Pendidikan ... 30
2.2.1.4 Penghasilan ... 32
2.3 Kader Jumantik ... 33
2.3.1 Tujuan Kader Jumantik ... 34
2.4 Pengertian Demam Berdarah Dengue (DBD) ... 36
2.5 Nyamuk Aedes aegypti ... 38
2.5.1 Perilaku Nyamuk Dewasa ... 39
2.5.2 Pemberantasan Nyamuk Dewasa ... 40
2.6 Penelitian Terdahulu ... 41
2.7 Kerangka Konsep ... 43
2.8 Hipotesis Penelitian ... 46
BAB III METODE PENELITIAN ... 47
3.1 Jenis Penelitian ... 47
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 47
3.3 Populasi dan Sampel ... 48
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 48
3.5 Defenisi Operasional ... 50
3.5.1 Variabel Independen ... 50
3.5.2 Variabel Dependen ... 51
3.6 Aspek Pengukuran ... 52
3.7 Teknik Analisa Data ... 53
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 57
4.1 Gambaran Umum Kota Tebing Tinggi ... 57
4.1.1 Gambaran Umum Kecamatan Bajenis ... 58
4.1.2 Pembangunan Kesehatan di Kota Tebing Tinggi... 59
4.2 Karakteristik Responden ... 62
4.2.1 Pendidikan dan Penghasilan ... 62
4.2.2 Pengetahuan Responden Berdasarkan Etiologi, Perilaku Nyamuk Aedes aegypti, Gejala Penyakit DBD, Proses Penularan dan Pencegahan Terhadap DBD ... 63
4.2.3 Sikap Responden Berdasarkan Sikap untuk Memberikan Informasi dan Sikap untuk Terlibat Langsung dalam Kegiatan Penanggulangan Penyebaran Penyakit DBD ... 71
4.2.4 Perilaku Responden Memberikan Informasi dan Terlibat Langsung dalam Kegiatan Penanggulangan DBD ... 72
4.3 Analisis Bivariat ... 79
4.4 Analisis Multivariat ... 80
BAB V PEMBAHASAN ... 83
5.1 Pengaruh Karakteristik Kader Kesehatan Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat Dalam Penanggulangan DBD ... 83
5.2 Pengaruh Karakteristik Penghasilan Kader Kesehatan Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat Dalam Penanggulanagn DBD ... 85
5.3 Pengaruh Karakteristik Pengetahuan Kader Kesehatan Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat Dalam Penanggulangan DBD ... 87
5.4 Pengaruh Karakteristik Sikap Kader Kesehatan Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat Dalam Penanggulangan DBD ... 90
5.5 Keterbatasan Penelitian ... 93
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 94
6.1 Kesimpulan ... 94
6.2 Saran ... 95
DAFTAR PUSTAKA ... 97
DAFTAR TABEL
No Judul Halaman
1.1. Distribusi Jumlah Penderita DBD di Kota Tebing Tinggi
Berdasarkan Tahun 2013-2015 ... 4 1.2. Distribusi Jumlah Penderita DBD di Kota Tebing Tinggi Menurut
Kecamatan dan Kelurahan Tahun 2015 ... 5 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Penelitian ... 52 4.1. Distribusi Kategori Karakteristik Responden Berdasarkan
Pendidikan dan Penghasilan ... 63 4.2. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarka Etiologi ... 64 4.3. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Perilaku
Nyamuk Aedes aegypti ... 64 4.4. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Gejala Penyakit
DBD ... 65 4.5. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Proses Penularan
DBD ... 66 4.6. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Pencegahan
Terhadap Penyakit DBD ... 67 4.7. Distribusi Pengetahuan Responden Berdasarkan Etiologi, Perilaku Nyamuk
Aedes aegypti, Gejala Penyakit DBD, Proses Penularan
dan Pencegahan Terhadap Penyakit DBD ... 68 4.8. Distribusi Kategori Karakteristik Responden Berdasarkan
Pengetahuan ... 70 4.9. Distribusi Sikap Responden Berdasarkan Sikap dalam
Memberikan Informasi dan Sikap untuk Terlibat Langsung dalam Kegiatan Penanggulangan Penyebaran Penyakit DBD ... 71 4.10. Distribusi Kategori Karakteristik Responden Berdasarkan Sikap ... 72 4.11. Distribusi Perilaku Responden Berdasarkan Perilaku Memberikan
Informasi dalam Kegiatan Penanggulangan DBD ... 73 4.12. Distribusi Perilaku Responden Berdasarkan Perilaku Terlibat
Langsung dalam Kegiatan Penanggulangan DBD di Masyarakat ... 75 4.13.Distribusi Perilaku Responden yang Dikategorikan Berdasarkan
Perilaku Memberikan Informasi dan Terlibat Langsung dalam
Kegiatan Penanggulangan DBD ... 77 4.14. Distribusi Kategori Variabel Perilaku Responden Menggerakkan
Masyarakat Dalam Penanggulangan DBD ... 78 4.15. Hasil Uji Statistik Korelasi Pearson Variabel Karakteristik
Dengan Perilaku Menggerakkan Masyarakat dalam
Penanggulangan DBD ... 79 4.16. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Variabel Karakteristik Responden
Terhadap Perilaku Menggerakkan Masyarakat dalam Penanggulangan DBD ... 82
DAFTAR GAMBAR
No Judul Halaman
2.1 Kerangka Konsep... 45
DAFTAR TABEL
No Judul
Lampiran 1 Kuesioner Penelitian
Lampiran 2 Hasil-hasil pengolahan statistik Lampiran 3 Foto-foto
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam melaksanakan pembangunan nasional, kesehatan masyarakat merupakan modal dasar pelaksanaan pembangunan nasional yang pada hakikatnya adalah, pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia, melalui pembangunan kesehatan akan tercipta masyarakat yang sehat produktif secara sosial dan ekonomi.
Pembangunan kesehatan pada hakikatnya adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif, dalam mewujudkan hal tersebut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) telah menetapkan sejumlah target kinerja dan salah satu programnya adalah Program Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, termasuk di dalamnya penanggulangan penyakit menular (Kemenkes RI, 2015).
Penyakit menular masih merupakan masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia, di samping mulai meningkatnya masalah penyakit tidak menular.
Beberapa penyakit menular yang menjadi masalah utama di Indonesia salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD), yang sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat, yang dapat menimbulkan dampak sosial
dan ekonomi serta berkaitan dengan perilaku manusia (Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI), 2006).
Pengertian DBD adalah penyakit menular yang ditandai dengan panas (demam) dan disertai dengan perdarahan, disebabkan oleh virus dengue (baca : dengge), ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang hidup di dalam dan di sekitar rumah, dalam darah manusia virus dengue akan mati dengan sendirinya dalam waktu lebih kurang satu minggu. Gejala/tanda DBD diawali dengan mendadak panas tinggi selama 2-7 hari dan penderita tampak lemah/lesu, ulu hati terasa nyeri karena terjadi perdarahan di lambung, tampak bintik-bintik merah pada kulit seperti bekas gigitan nyamuk dan apabila kulit direnggangkan bintik merah tersebut tetap kelihatan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di kulit (Depkes RI, 2006).
Menurut Sukana (1993), upaya pemberantasan vektor demam berdarah akan berhasil bila tingkat perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat dapat mendukung. Kegagalan dalam mencapai atau mempertahankan upaya pemberantasan tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya derajat penularan, tetapi juga oleh perubahan lingkungan yang terjadi selama kegiatan pemberantasan berlangsung. Perubahan lingkungan tersebut dapat berdampak positif maupun negatif sesuai dengan peranan faktor masing-masing.
Dampak sosial akibat DBD di masyarakat berkaitan dengan pemberian Fogging (pengasapan) nyamuk Aedes aegypti dewasa melalui kebijakan pemerintah sebagai upaya mengontrol terjadinya epidemi di suatu wilayah, dalam menangani DBD di tengah masyarakat, namun hal tersebut tidak efektif sebagai pemberantasan
sarang nyamuk, dan menjadikan masyarakat tidak ikut berpartisispasi dalam pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan mereka, disebabkan keyakinan mereka terhadap Fogging yang diberikan pemerintah, sedangkan dampak ekonomi yang terjadi di beberapa negara berkaitan dengan pembiayaan kesehatan akibat DBD yang di keluarkan oleh pemerintah dan masyarakat, seperti yang terjadi di Puerto Rico, Cuba, dan Thailand yang memakan biaya hingga jutaan dolar amerika termasuk kerugian akibat hilangnya pekerjaaan dan produktivitas, turunnya kunjungan wisatawan, dan lainnya (Gubler, 2002).
Pada tahun 1968 penyakit DBD pertama kali dijumpai di Indonesia bagian tengah tepatnya Provinsi Jawa Timur di Kota Surabaya, akan tetapi konfirmasi hasil penelitian virologist baru didapat pada tahun 1972. Sejak saat itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai daerah. KLB terbesar pertama kali terjadi pada tahun 1998, dengan incidence rate 35,19 per 100.000 penduduk dengan case fatality rate 2% di seluruh wilayah Indonesia. Pada tahun 2004 penyebaran penyakit DBD meningkat kembali dengan total kasus DBD di seluruh propinsi di Indonesia mencapai 79.480 kasus dan jumlah kematian 800 orang, dengan kasus tertinggi di Propinsi DKI Jakarta dengan jumlah kasus 11.534 orang dan untuk angka kematian case fatality rate terdapat di Propinsi Nusa Tenggara Timur dengan 3,96% (Depkes RI, 2006).
Menurut Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara (2015), daerah yang tergolong endemis DBD di Provinsi Sumatera Utara selama tiga tahun berturut-turut dari 2013-2015 adalah : 1) Medan; 2) Deli Serdang; 3) Langkat; 4) Binjai; 5) Asahan; 6) Tebing Tinggi; 7) Pematang Siantar; 8) Karo; 9) Labuhan Batu; dan 10) Labuhan Batu Utara.
Menurut data tersebut Kota Tebing Tinggi termasuk salah satu daerah endemis DBD. Kota Tebing Tinggi merupakan pemerintahan kota yang terdiri dari 5 kecamatan, 35 kelurahan, dan 9 puskesmas. Data dari Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi mengenai distribusi penyakit DBD di kota Tebing Tinggi periode 2013- 2015 secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.1. berikut.
Tabel 1.1. Distribusi Jumlah Penderita DBD di Kota Tebing Tinggi Berdasarkan Tahun 2013 - 2015
No Tahun Jumlah Penderita
Jumlah Penduduk
Jumlah Kematian
incidence rate
case fatality
rate
1 2013 153 149.065 - 103/100000 -
2 2014 177 154.804 1 114/100000 0.57%
3 2015 195 ±154.804 - 126/100000 -
Sumber Data Bidang PMK Dinas Kesehatan dan BPS Kota Tebing Tinggi
Data tersebut menunjukkan bahwa, angka kejadian kasus DBD setiap tahun mengalami peningkatan, tercatat pada tahun 2015 mengalami peningkatan yang cukup tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan jumlah penderita sebanyak 195 kasus dengan incidence rate 126 per 100.000 penduduk, angka tersebut menunjukkan bahwa capaian tersebut masih jauh dari target nasional berdasarkan Rencana Strategi Kemenkes RI 2015-2019 yaitu 49 per 100.000 penduduk.
Adapun distribusi jumlah penderita DBD menurut kecamatan dan kelurahan serta angka kejadian/incidence rate berdasarkan jumlah penduduk dapat dilihat pada Tabel 1.2. berikut.
Tabel 1.2. Distribusi Jumlah Penderita DBD di Kota Tebing Tinggi Menurut Kecamatan dan Kelurahan Tahun 2015
No Kecamatan Jlh Pende
rita
Jlh pendu
duk
Insidence Rate
Jlh Kemat
ian
Case Fatality rate
1 Satria 2 5211 0.3/1000 - -
2 Damar Sari 5 4731 1.0/1000 - -
3 Bagelen 5 4486 1.1/1000 - -
4 Deblod Sundoro 5 4859 1.0/1000 - -
5 Tebing Tinggi 7 6818 1.0/1000 - -
6 Tambangan 6 2807 2.1/1000 - -
7 Tambangan Hulu 3 3135 0.9/1000 - -
33 32047 1.0/1000 - -
1 Pabatu 4 2419 1.6/1000 - -
2 Padang Merbau 9 3285 2.7/1000 - -
3 Bandar Sono 2 4839 0.4/1000 - -
4 Persiakan 14 6037 2.3/1000 - -
5 Tualang 12 5757 2.0/1000 - -
6 Lubuk Baru 2 2072 0.9/1000 - -
7 Lubuk Raya 6 4238 1.4/1000 - -
49 28647 1.7/1000 - -
1 Tanjung Marulak 10 5752 1.7/1000 - -
2 Tanjung Marulak Hilir 2 5121 0.3/1000 - -
3 Rantau Laban 2 3037 0.6/1000 - -
4 Mekar Sentosa 6 4183 1.4/1000 - -
5 Lalang 6 5366 1.1/1000 - -
6 Sri Padang 3 4072 0.7/1000 - -
7 Karya Jaya 15 6320 2.3/1000 - -
44 33851 1.2/1000 - -
1 Bulian 6 6351 0.9/1000 - -
2 Bandar Sakti 13 5270 2.4/1000 - -
3 Pinang Mancung 3 4623 0.6/1000 - -
4 Teluk Karang 7 2693 2.5/1000 - -
5 Pelita 8 2661 3.0/1000 - -
6 Berohol 8 6322 1.2/1000 - -
7 Durian 9 7554 1.1/1000 - -
54 35474 1.5/1000 - -
3 Rambutan
Sub Jumlah
4 Bajenis
Kelurahan
Sub Jumlah
2 Padang Hulu
Sub Jumlah
Sub Jumlah 1 Padang Hilir
Tabel 1.2. (Lanjutan)
1 Pasar Gambir 5 3015 1.6/1000
2 Badak Bejuang 1 3031 0.3/1000 -
3 Pasar Baru 0 2119 0.0/1000 -
4 Bandar Utama 2 5299 0.3/1000 -
5 Rambung 3 5749 0.5/1000 -
6 Tebing Tinggi Lama 1 2487 0.4/1000 -
7 Mandailing 3 3085 0.9/1000 -
15 24785 0.6/1000 - -
195 154804 1.2/1000 - -
5 Tebing Tinggi Kota
Sub Jumlah Total
Sumber Data Bidang PMK Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi
Tabel 1.2. menjelaskan yang memiliki frekuensi tertinggi adalah Kecamatan Bajenis dengan jumlah kasus 54 orang dari 195 orang di seluruh Kota Tebing Tinggi, dengan incidence rate 1,5 per 1.000 penduduk.
Permasalahan utama dalam upaya menekan angka kesakitan DBD adalah masih belum berhasilnya upaya penggerakan peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD) yaitu melakukan pengendalian terhadap jentik Aedes aegypti melalui cara fisik, kimia, dan biologi yang mulai di intensifkan sejak tahun 1992. Berbagai gerakan yang pernah ada di masyarakat seperti Gerakan Disiplin Nasional (GDN), Gerakan Jumat Bersih (GJB), Adipura, Kota Sehat dan gerakan lain yang serupa dapat dihidupkan kembali untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) sehingga partisipasi masyarakat dalam PSN DBD perlu lebih ditingkatkan (Depkes RI, 2006).
Partisipasi masyarakat merupakan suatu hasil dari pemberdayaan masyarakat, yang memiliki beberapa konsep partisipasi dari kata lain untuk mobilisasi (misalnya partisipasi dalam pelaksanaan pembangunan) sampai konsep
pilihan tindakan berdasarkan kesadaran sendiri. Dari konsep partisipasi sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi proyek pembangunan sampai konsep partisipasi sebagai tujuan akhir pembangunan (Agusta, 2006).
Zulkifli (2003), mengatakan kader kesehatan merupakan perwujudan peran aktif masyarakat dalam pelayanan terpadu, sejalan dengan pernyataan tersebut Nasution dalam Saragi (2016), menyampaikan bahwa, kader Posyandu merupakan agen perubahan dalam bidang kesehatan yang bekerja secara profesional yang selalu berusaha memotivasi dan menggerakkan masyarakat agar berprilaku sehat yang pada gilirannya, mempercepat momentum akselerasi pergerakan paradigma sehat yang diinginkan masyarakat Indonesia, kegiatan tersebut sama halnya dengan kader kesehatan lainnya khususnya kader juru pemantau jentik (Jumantik) yang berfungsi dalam mengakselerasikan penanggulangan DBD di tengah masyarakat dengan melibatkan seluruh masyarakat agar ikut bergerak di dalam PSN DBD.
Kemenkes RI (2014), menyatakan peran serta masyarakat dalam hal ini adalah peran serta sebagai kader Jumantik yang melaksanakan pemantauan jentik, pemberantasan sarang nyamuk bersama masyarakat yang dilakukan secara rutin, meliputi kegiatan menguras, menutup, dan mengubur atau memanfaatkan kembali barang – barang yang bernilai ekonomis. PSN DBD secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vektor, berdampak pada menurunnya kontak antara manusia dengan vektor, akhirnya terjadinya penurunan kasus DBD.
Menurut Notoatmodjo (2007), perilaku sangat dipengaruhi oleh karakteristik manusia itu sendiri, oleh sebab itu dalam membina dan meningkatkan kesehatan masyarakat, maka intervensi atau upaya yang ditujukan kepada faktor perilaku ini
sangat strategis. Oleh sebab itu, apabila kader sudah mempunyai perilaku sehat, akan mudah ditiru oleh anggota masyarakat yang lain sehingga efevektivitas dalam penanggulangan DBD dapat tercapai.
Masyarakat Kota Tebing Tinggi umumnya memiliki sikap saling toleransi, rasa kebersamaan, dan kekeluargaan, bersifat paternalistik sehingga terdapat banyak panutan di masyarakat di antaranya, tokoh masyarakat, aparatur pemerintah sampai kepada kader masyarakat yang merupakan agen-agen perubahan di tengah masyarakat, mereka memiliki peranan yang penting di dalam upaya pembangunan masyarakat. Pemerintah Kota Tebing Tinggi melalui Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi telah melakukan perekrutan kader kesehatan melalui kelurahan yang berada di wilayah kerja pemerintah kota. Adapun yang menjadi dasar perekrutan kader kesehatan di Kota Tebing Tinggi khususnya kader juru pemantau jentik (Jumantik) adalah melalui buku panduan PSN-DBD oleh Jumantik yang diterbitkan oleh Depkes RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjend P2P dan PL) tahun 2007, sebagai upaya untuk meningkatkan pemberantasan penyakit DBD melalui kader Jumantik yang merupakan katalisator dalam proses pembangunan di masyarakat khususnya berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.
Kader kesehatan merupakan cerminan dari bergeraknya elemen masyarakat dalam berpartisipasi untuk mengembangkan program pemerintah pada pembangunan.
Adapun salah satu dampak dari kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat adalah menghasilkan kader-kader baru di masyarakat, yang diharapkan dapat meningkatkan hubungan yang sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memobilisasi tindakan untuk proses pembangunan yang ada di masyarakat.
Data dari Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi menjelaskan bahwa jumlah kader Jumantik yang tercatat di seluruh kota sebanyak 360 orang, di luar kader kesehatan lainnya seperti kader Posyandu, kader Poskeskel dan kader Lansia.
Kecamatan Bajenis sebagai tempat penelitian ini berlangsung memiliki kader Jumantik yang berjumlah 68 orang. Berdasarkan uraian tersebut penulis ingin mengetahui pengaruh karakteristik kader Jumantik terhadap perilaku menggerakkan masyarakat dalam penanggulangan DBD di Kecamatan Bajenis Kota Tebing Tinggi.
1.2. Perumusan Masalah
Adapun yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana pengaruh karakteristik kader kesehatan (pendidikan, penghasilan, pengetahuan, dan sikap) terhadap perilaku menggerakkan masyarakat dalam penanggulangan DBD di Kecamatan Bajenis Kota Tebing Tinggi.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan pengaruh karateristik yang meliputi pendidikan, penghasilan, pengetahuan dan sikap kader kesehatan terhadap perilaku menggerakkan masyarakat dalam penanggulangan DBD di Kecamatan Bajenis Kota Tebing Tinggi.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Memberikan masukan kepada pemerintah kota khususnya Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi dalam menyusun kebijakan mengenai penanggulangan penyebaran penyakit DBD;
2. Memberikan pengalaman, menambah pengetahuan serta ilmu pada penulis selama dalam mengadakan penelitian;
3. Memberikan informasi dan bahan referensi bagi penelitian selanjutnya khususnya yang berhubungan dengan studi pembangunan khususnya pembangunan kesehatan;
4. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian tentang kader pembangunan kesehatan khususnya kader Jumantik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Pemberdayaan Masyarakat
Sumodiningrat (1995), menyatakan konsep pemberdayaan masyarakat berarti meningkatkan kemampuan atau meningkatkan kemandirian masyarakat dalam kerangka pembangunan nasional, upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilihat dari sisi :
1) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan masyarakat berkembang;
2) Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam membangun melalui berbagai bantuan dana, pelatihan, pembangunan prasarana baik fisik maupun sosial, serta pengembangan kelembagaan di daerah;
3) Melindungi/memihak yang lemah untuk mencegah persaingan yang tidak seimbang dan menciptakan kemitraan yang menguntungkan.
Dahama dan Bhatnagar dalam Mardikanto dan Soebiato (2012), mengungkapkan prinsip-prinsip pemberdayaan yang mencakup :
1) Minat dan kebutuhan, artinya pemberdayaan akan efektif jika selalu mengacu kepada minat dan kebutuhan masyarakat. Mengenai hal ini, harus dikaji secara mendalam, apa yang benar-benar menjadi minat dan kebutuhan yang dapat menyenangkan setiap individu maupun segenap warga masyarakatnya, kebutuhan apa saja yang dapat dipenuhi sesuai dengan
tersedianya sumber daya, serta minat dan kebutuhan mana yang perlu mendapat prioritas untuk dipenuhi terlebih dahulu;
2) Organisasi masyarakat bawah, artinya pemberdayaan akan efektif jika mampu melibatkan /menyentuh organisasi masyarakat bawah, sejak dari setiap keluarga/kekerabatan;
3) Keragaman budaya, artinya pemberdayaan harus memperhatikan adanya keragaman budaya. Perencanaan pemberdayaan harus selalu disesuaikan dengan budaya lokal yang seragam. Sementara itu di lain pihak perencanaan pemberdayaan yang seragam untuk setiap wilayah seringkali akan menemui hambatan yang bersumber pada keragaman budaya;
4) Perubahan budaya, artinya setiap kegiatan pemberdayaan akan mengakibatkan perubahan budaya. Kegiatan pemberdayaan harus dilaksanakan dengan bijak dan hati-hati agar perubahan yang terjadi tidak menimbulkan kejutan-kejutan budaya. Karena itu, setiap penyuluh perlu untuk terlebih dahulu memperhatikan nilai-nilai budaya lokal sperti tabu, kebiasan-kebiasaan;
5) Kerjasama dan partisipasi, artinya pemberdayaan hanya akan efektif jika mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk selalu bekerjasama dalam melaksanakan program-program pemberdayaan yang telah dirancang;
6) Demokrasi dalam penerapan ilmu, artinya dalam pemberdayaan harus selalu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menawar setiap ilmu alternatif yang ingin diterapkan. Demokrasi di sini, bukan terbatas pada tawar-menawar tentang ilmu alternatif saja, tetapi juga dalam penggunaan
metoda pemberdayaan, serta proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan oleh masyarakat sasarannya;
7) Belajar sambil bekerja, artinya dalam kegiatan pemberdayaan harus diupayakan agar masyarakat dapat ”belajar sambil berkerja” atau belajar dari pengalaman tentang segala sesuatu yang ia kerjakan. Pemberdayaan dengan istilah lainnya adalah tidak hanya sekedar menyampaikan informasi atau konsep-konsep teoritis, tetapi harus memberikan kesempatan kepada masyarakat sasaran untuk mencoba atau memperoleh pengalaman melalui pelaksanaan kegiatan secara nyata;
8) Penggunaan metoda yang sesuai, artinya pemberdayaan harus dilakukan dengan penerapan metoda yang selalu disesuaikan dengan kondisi (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan nilai sosial budaya) sasarannya. Dengan perkataan lain, tidak satupun metoda yang dapat diterapkan di semua kondisi sasaran dengan efektif dan efesien;
9) Kepemimpinan, artinya penyuluh tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang hanya bertujuan untuk kepentingan/kepuasan sendiri, dan harus mampu mengembangkan kepemimpinan. Dalam hubungan ini, penyuluh sebaiknya mampu menumbuhkan pemimpin-pemimpin lokal yang telah ada untuk membantu kegiatan pemberdayaan;
10) Sepesialis yang terlatih, artinya penyuluh harus benar-benar pribadi yang telah memperoleh latihan khusus tentang segala sesuatu yang sesuai dengan fungsinya sebagai penyuluh. Penyuluh-penyuluh yang disiapkan untuk menangani kegiatan-kegiatan khusus akan lebih efektif dibanding yang
disiapkan untuk melakukan beragam kegiatan (meskipun masih berkaitan dengan kegiatan kesehatan dalam hal ini);
11) Segenap keluarga, artinya penyuluh harus memperhatikan keluarga sebagai satu kesatuan dari unit sosial. Dalam hal ini, terkandung pengertian- pengertian di antaranya bahwa pemberdayaan harus dapat memengaruhi segenap anggota keluarga, dan lainnya;
12) Kepuasan, artinya pemberdayaan harus mampu mewujudkan tercapainya kepuasan. Adanya kepuasan, akan sangat menentukan keikutsertaan sasaran pada program-program pemberdayaan selanjutnya.
Shardlow dalam Adi (2003), menjelaskan bahwa pemberdayaan pada intinya membahas bagaimana individu, kelompok ataupun komunitas berusaha mengontrol kehidupan mereka sendiri dan mengusahakan untuk membentuk masa depan sesuai dengan keinginan mereka.
Bahari dalam Siagian dan Suriadi (2010), mengungkapkan pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai suatu proses pengupayaan masyarakat yang di dalamnya terkandung gagasan dan maksud kesadaran tentang martabat dan harga diri, hak-hak masyarakat mengambil sikap, membuat keputusan, dan selanjutnya secara aktif melibatkan diri dalam menangani perubahan.
Pemberdayaan masyarakat akan memiliki target dan tujuan yang berbeda sesuai dengan bidang pembangunan yang ingin dicapai, misalnya tujuan pemberdayaan di bidang ekonomi yaitu agar kelompok sasaran dapat mengelola usahanya kemudian dapat memasarkan dan membentuk siklus pemasaran yang baik, begitu juga dengan pemberdayaan di bidang sosial, bertujuan untuk kelompok sosial
dapat menjalankan fungsi sosialnya sesuai dengan peran dan tugas sosialnya, begitu juga bila dikaitkan dengan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan merupakan suatu upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri melalui proses memampukan masyarakat,
“dari, oleh, dan untuk” masyarakat itu sendiri (Notoatmodjo, 2007).
Berdasarkan uraian tersebut dapat dipahami berkaitan dengan kajian ini bahwa kehadiran kader Jumantik dalam hal ini bukan sebagai penentu atau pemaksa, tetapi seharusnya mampu menciptakan suasana dialogis dengan masyarakat dan mampu menumbuhkan, menggerakkan, serta memelihara partisipasi masyarakat sebagaimana agen perubahan di tengah-tengah masyarakat, sesuai dengan pendapat Nasution (2004), yang menyatakan kader Posyandu merupakan agen perubahan dalam bidang kesehatan yang bekerja secara profesional yang selalu berusaha memotivasi dan menggerakkan masyarakat agar berperilaku sehat yang pada gilirannya mempercepat momentum akselerasi pergerakan paradigma sehat yang diinginkan masyarakat Indonesia.
2.1.1. Agen Perubahan
Soekanto (2012), menyebutkan pihak-pihak yang menghendaki perubahan dinamakan agen perubahan (agent of change). Dalam melaksanakannya, agen perubahan langsung tersangkut dalam tekanan-tekanan untuk mengadakan perubahan.
Bahkan mungkin menyiapkan pula perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya. Cara-cara memengaruhi masyarakat dengan sistem yang
teratur dan direncanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau sering pula dinamakan perencanaan sosial (social planning)
merupakan suatu usaha perubahan sosial yang berencana dan tentu ada yang memprakarsainya. Prakarsa itu dimulai sejak menyusun rencana, hingga mempelopori pelaksanaannya.
2.1.1.1 Kualifikasi Agen Perubahan
Duncan dan Zaltman dalam Nasution (2004) mengemukakan kualifikasi dasar agen perubahan, yakni tiga yang utama di antara sekian banyak kompetensi yang mereka miliki, yaitu:
1) Kualifikasi teknis, kompetensi teknis dalam tugas spesifik dari proyek perubahan yang bersangkutan. Misalnya pengetahuan dan keterampilan menjadi juru pemantau jentik;
2) Kemampuan administratif, yaitu persyaratan administratif yang paling dasar dan elementer, yakni kemauan untuk mengalokasikan waktu untuk persoalan- persoalan yang relatif menjelimet (detailed). Maksudnya para agen perubahan merupakan orang yang menyediakan waktu dan tenaga mereka untuk secara sepenuh hati mengurus masyarakat yang dibinanya;
3) Hubungan antarpribadi. Suatu sifat yang paling penting adalah empati, yaitu kemampuan seseorang dalam memproyeksikan diri dengan hal yang dirasakan oleh orang lain, berbagi akan perspektif dan perasaan mereka dengan seakan- akan mengalaminya sendiri.
Seorang agen perubahan tidak dengan mudahnya mampu membuat perubahan tanpa menanamkan karakteristik dalam dirinya sendiri agar dapat menjadi panutan atau teladan terhadap sekelompok orang yang menjadi target perubahannya.
2.1.1.2 Peranan Agen Perubahan
Menurut Rogers dan Shoemaker dalam Nasution (2004), agen perubahan berfungsi sebagai mata rantai komunikasi antar dua (atau lebih) sistem sosial.
Menghubungkan antara suatu sistem sosial yang mempelopori perubahan tadi dengan sistem sosial masyarakat yang dibinanya dalam usaha perubahan tersebut. Hal itu tercermin dalam peranan utama seorang agen perubahan yaitu :
1) Sebagai katalisator, menggerakkan masyarakat untuk mau melakukan perubahan;
2) Sebagai pemberi pemecahan persoalan;
3) Sebagai pembantu proses perubahan, membantu dalam proses pemecahan masalah dan penyebaran inovasi, serta memberi petunjuk mengenai bagaimana:
a. Mengenali dan merumuskan kebutuhan;
b. Mendiagnosa permasalahan dan menentukan tujuan;
c. Mendapatkan sumber-sumber yang relevan;
d. Memilih atau menciptakan pemecahan masalah;
e. Menyesuaikan dan merencanakan pentahapan pemecahan masalah;
4) Sebagai penghubung (linker) dengan sumber-sumber yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.
Inti dari peranan agen perubahan dalam proses pembangunan masyarakat, menurut O’Gorman dalam Nasution, (2004) adalah:
1) Mengidentifikasi tujuan, isu, dan permasalahan;
2) Melakukan identifikasi dan pemanfaatan dari:
a. Sumber-sumber;
b. Kepemimpinan;
c. Organisasi.
3) Menetapkan dan menegakkan prioritas, rencana dan pelaksanaan, serta evaluasi yang dilakukan menurut urutan yang teratur agar alternatif yang telah dipilih dapat membawa hasil yang diharapkan.
Keseluruhan peran agen perubahan dapat dikelompokkan menjadi peran yang laten dan peran yang manifes. Peran yang manifes adalah yang kelihatan “di permukaan” dalam hubungan antara agen perubahan dengan masyarakatnya, dan merupakan peran yang dengan sadar dipersiapkan sebelumnya. Peran yang manifes ini kelak merupakan bukti yang nyata baik bagi si agen maupun masyarakat.
Sedangkan peran yang laten merupakan peran yang timbul dari “arus bawah” yang memberi petunjuk bagi si agen dalam mengambil tindakan-tindakan yang dilakukannya.
2.1.2 Pengertian Partisipasi Masyarakat
Darwanto (2009), menjelaskan bahwa partisipasi berfokus pada bagaimana mereka diberdayakan dan peran apa yang mereka mainkan setelah mereka menjadi bagian dari kelompok yang diberdayakan. Menyediakan ruang partisipasi bagi
masyarakat, dalam pembangunan adalah memberi mereka otoritas dan kontrol atas keputusan mengenai sumber-sumber pembangunan.
Sejalan dengan penejelasan tersebut Rachmat (2004), menyatakan bahwa dewasa ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan upaya kesehatan beserta penyediaan sumber dayanya. Selanjutnya pemerintah mempunyai kewajiban dan wewenang untuk membina, mendorong dan menggerakkan swadaya masyarakat agar dapat lebih berhasil guna dan berdaya guna dengan mempersiapkan perangkat peraturan dan tata caranya. Pemberdayaan masyarakat melalui lembaga ketahanan mayarakat desa baik itu namanya dewan kelurahan sampai dengan dewan kecamatan yang melibatkan berbagai unsur, memiliki potensi besar untuk meningkatkan upaya kesehatan masyarakat.
Potensi masyarakat baik berupa organisasi, upaya, tenaga, dana, sarana, teknologi, maupun mekanisme pengambilan keputusan belum optimal. Peran serta masyarakat di bidang kesehatan telah banyak berkembang, antara lain di mulai dengan tumbuhnya PKMD (Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa) dan sekarang berkembang menjadi Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM).
Nasdian (2015), menyatakan bahwa pemberdayaan dan partisipasi di tingkat komunitas merupakan dua konsep yang erat kaitannya dan dalam konteks ini pernyataan Craig dan Mayo bahwa: “empowerment is road to participation” adalah sangat relevan. Pemberdayaan merupakan jalan atau sarana menuju partisipasi.
Sebelum mencapai tahap tersebut, tentu saja dibutuhkan upaya-upaya pemberdayaan
masyarakat. Pemberdayaan memiliki dua elemen pokok, yakni kemandirian dan partisipasi.
Partisipasi adalah keterlibatan anggota/organisasi di dalam semua kegiatan organisasi, partisipasi masyarakat merupakan tindakan ikut serta masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan di dalam organisasi (Handoko dalam Agusta, 2006).
Menurut Mikkelsen yang dikutip Ardian (2006), yang mengutip mengenai berbagai kajian Food Agriculture Organization (FAO) terdapat beragam arti kata partisipasi, antara lain:
1) Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada program tanpa ikut serta dalam pengambilan keputusan;
2) Partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) pihak masyarakat untuk meninggalkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi program pembangunan;
3) Partisipasi adalah suatu proses yang aktif yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk menggunakan hal itu;
4) Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, dan monitoring agar memperoleh informasi mengenai konteks sosial dan dampaknya;
5) Partisipasi adalah keterlibatan sukarela dari masyarakat dalam perubahan yang ditentukan sendiri;
6) Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri, kehidupan, dan lingkungannya.
Chambers dalam Mikkelsen dalam Rukminto (2008), menyatakan apabila melihat istilah partisipasi sering kali digunakan dalam tiga bentuk, yaitu :
1) Partisipasi digunakan sebagai label kosmetik, artinya partisipasi seringkali digunakan agar proyek yang diusulkan terlihat lebih cantik sehingga lembaga donor akan mau membiayai proyek tersebut;
2) Partisipasi digunakan untuk memobilisasi tenaga-tenaga tingkat lokal dan mengurangi pembiayaan proyek, misalnya komunitas memberikan sumbangan waktu, dana, tenaga, dan materiil untuk menyukseskan suatu proyek yang dibantu oleh pihak luar, hal ini sering kali digambarkan sebagai “mereka berpartisipasi dalam proyek” kita;
3) Partisipasi digunakan untuk menggambarkan proses pemberdayaan (empowering process), dalam hal ini partisipasi dimaknai sebagai suatu proses yang memampukan masyarakat lokal untuk melakukan analisis masalah mereka, memikirkan bagaimana cara mengatasinya, mendapatkan rasa percaya diri untuk mengatasi masalah, mengambil keputusan sendiri tentang alternatif pemecahan masalah apa yang ingin mereka pilih.
Conyers dalam Soetomo (2008), menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat secara suka rela yang didasari oleh determinan dan kesadaran diri masyarakat itu sendiri dalam program pembangunan, apabila yang muncul hanya unsur keterlibatan dan tidak didorong oleh kesadaran, hal tersebut tidak termasuk partisipasi melainkan lebih tepat disebut sebagai mobilisasi, oleh
karena itu, dengan melihat partisipasi sebagai suatu kesatuan dari proses pemberdayaan masyarakat maka akan diketahui bahwa pendekatan partisipatif muncul dari suatu proses yang cukup panjang sehingga suatu komunitas telah mencapai pada taraf di mana dia berada pada saat ini. Hampir semua komunitas memiliki kearifan lokal sendiri, setiap komunitas umumnya telah mengembangkan metode adaptasi yang relatif canggih dalam rangka mengelola lingkungannya, dengan pengertian lain partisipasi masyarakat harus selalu mengikutsertakan masyarakat dimulai dari proses pengidentifikasian masalah, pengidentifikasian potensi, pemilihan dan pengambilan keputusan sampai kepada evaluasi dari suatu kegiatan sehingga keterlibatan masyarakat dalam setiap prosesnya akan membuat masyarakat lebih berdaya dan dapat semakin memiliki ketahanan dalam menghadapi perubahan, sebaliknya jika masyarakat tidak banyak dilibatkan dalam setiap proses yang terjadi dan hanya bersikap pasif dalam setiap perubahan yang direncanakan oleh pelaku perubahan baik dari pemerintah maupun pihak swasta, maka hal ini cenderung akan membuat masyarakat menjadi lebih tergantung kepada pelaku perubahan dan bila hal ini terjadi secara terus-menerus ketergantungan tersebut akan semakin meningkat.
Ketergantungan tersebut telah dilihat oleh Bunch (2001), melalui masalah- masalah dalam pembangunan pertanian di negara-negara sedang berkembang. Bukan semata-mata karena ketidaksiapan petani menerima inovasi hingga akhirnya menjadi ketergantungan, tetapi hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan perencana program pembangunan pertanian menyesuaikan program-program itu dengan kondisi dari petani-petani yang menjadi “klien” dari program-program tersebut, Bunch mempertegas bahwa tugas perancang dan pelaksana program (diistilahkan: program)
adalah bukan sekedar meningkatkan dan mengembangkan usaha tani petani, tapi jauh lebih penting adalah untuk mengajarkan kepada petani untuk belajar mengembangkan usaha taninya bagi dirinya dan lingkungannya. Sejalan dengan hal tersebut bila terjadi dalam pembangunan kesehatan, maka program yang dilakukan yang bertujuan untuk menekan angka kejadian penyakit di suatu daerah, melalui partisipasi masyarakat akan tetap tidak merubah kondisi angka kejadian penyakit di suatu daerah tersebut selama ketergantungan masih tetap dipertahankan.
Menurut Notoatmodjo (2007), partisipasi masyarakat di bidang kesehatan berarti keikutsertaan seluruh anggota masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan mereka sendiri. Dalam berpartisipasi mengandung makna bahwa, setiap anggota masyarakat dituntut untuk berkontribusi atau sumbangan yang diwujudkan dalam 4 M, yakni manpower (tenaga), money (uang), material (benda-benda lain seperti kayu, bambu, beras, dan sebagainya), dan mind (ide atau gagasan).
Bila seseorang hadir pada suatu peristiwa, maka kehadirannya itu dapat kita bagi dalam dua bentuk. Pertama, ia hanya hadir untuk melihat, dan tidak melakukan apapun. Dalam hal ini kita katakan ia tidak berpartisipasi di dalam peristiwa, ia hanya menyaksikan peristiwa itu. Pada bentuk kedua orang itu terlibat di dalam peristiwa.
Faktor–faktor yang memengaruhi peran serta/partisipasi masyarakat salah satunya adalah faktor tokoh-tokoh yang ada di masyarakat, karena jika dalam kegiatan yang diselenggarakan, masyarakat melihat bahwa tokoh tersebut ada apalagi yang mereka segani juga ikut serta maka mereka akan tertarik untuk ikut serta. Peranan tokoh- tokoh yang ada di masyarakat akan menjadi semakin penting, jika dalam kehidupan keseharian mereka merupakan orang-orang yang memang dapat dijadikan panutan,
akrab dengan anggota masyarakat dan menyadari pentingnya peran serta masyarakat dalam suatu kegiatan (Depkes RI, 1987).
2.2. Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2003), Perilaku merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya berkaitan dengan hal tersebut juga menyatakan bahwa perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan, yang dapat dibedakan atas 3 kelompok yaitu : 1) Perilaku pemeliharaan kesehatan. 2) Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). 3) Perilaku kesehatan lingkungan.
Sunaryo (2004) menyatakan perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yang disebut rangsangan, dengan pengertian bahwa rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu.
Berkaitan dengan adanya rangsangan terhadap perilaku Purwanto (2005), juga menjelaskan bahwa perilaku individu tidak timbul dengan sendirinya tetapi sebagai akibat dari adanya rangsangan baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar individu. Pada hakekatnya perilaku individu mencakup perilaku yang tampak (overt behaviour) dan perilaku yang tidak tampak (inert behaviour/covert behaviour).
Perilaku yang tampak adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat atau metode tertentu, sedangkan perilaku yang tidak tampak adalah perilaku yang hanya dapat dimengerti dengan menggunakan alat atau metode tertentu, misalnya berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut dan sebagainya.
Perilaku dapat dibatasi sebagai jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) untuk memberikan respon terhadap situasi di luar objek tersebut, respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) ataupun aktif (dengan tindakan) dan hal ini dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis yaitu :
1) Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi dan rangsangan;
2) Perilaku dalam bentuk sikap, yaitu tanggapan batin terhadap keadaan atau rangsangan dari luar diri si subjek sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia yang hidup di dalamnya, sesuai dengan sifat keadaan alam tersebut (lingkungan fisik) dan keadaan lingkungan sosial budaya yang bersifat non fisik tetapi mempunyai pengaruh kuat terhadap pembentukan perilaku manusia. Lingkungan ini merupakan keadaan masyarakat dan segala budaya masyarakat itu lahir dalam mengembangkan perilakunya;
3) Perilaku dalam bentuk tindakan, yang sudah konkrit yaitu perbuatan terhadap situasi dan suatu rangsangan dari luar. (Notoatmodjo, 2010)
Green dan Kreuter (2000), berpendapat faktor perilaku dibentuk oleh tiga faktor utama yaitu :
1) Faktor predisposisi (predisposing factors), yaitu faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya perilaku seseorang antara lain :
a. Pengetahuan, adalah hasil dari tahu yang terjadi melalui proses sensoris khususnya mata dan telinga terhadap objek tertentu.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku terbuka. Perilaku yang didasari pengetahuan umumnya bersifat langgeng;
b. Sikap, adalah respon tertutup seseorang terhadap suatu stimulus atau objek, baik yang bersifat intern ataupun yang bersifat extern sehingga manifestasinya tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup tersebut. Sikap secara realistis menunjukkan adanya kesesuaian respon terhadap stimulus tertentu. Adapun tingkatan respon adalah menerima (receiving), merespon (responding), menghargai (valuing), dan bertanggung jawab (responsible);
c. keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.
2) Faktor pemungkin (enabling factors), yaitu faktor yang memungkinkan atau yang memfasilitasi perilaku atau tindakan antara lain umur, status sosial ekonomi, pendidikan, prasarana dan sarana serta sumber daya;
3) Faktor pendorong atau penguat (reinforcing factors), faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku misalnya dengan adanya contoh dari para tokoh masyarakat ataupun kader di masyarakat yang menjadi panutan.
Sedangkan Azwar (2010), menyatakan bahwa perilaku merupakan fungsi karakteristik individu dan lingkungan. Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat, keperibadian, dan sikap yang saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan kekuatannya lebih besar dari karakteristik individu.
Gochman dalam Smet (1994), menjelaskan bahwa riset perilaku kesehatan menjadi sesuatu yang penting, karena dulu banyak usaha yang berupaya untuk merubah perilaku kesehatan namun secara pragmatis, tergesa-gesa dan kurang dasar empiris dan teoritis. Alasan utama untuk ini adalah kurangnya pengetahuan dasar tentang perilaku target, tentang di mana perilaku-perilaku itu terjadi dan faktor-faktor yang menentukan dan membuat stabil perilaku tersebut. Riset dasar dalam perilaku kesehatan akan meningkatkan efektivitas rancangan intervensi serta program untuk membawa perubahan perilaku, Smet (1994), menambahkan bahwa analisis perilaku berperan penting dalam menggiatkan program promosi kesehatan.
2.2.1 Karakteristik Personal
Menurut Blumm derajat kesehatan (sehat-sakit) seseorang sangat dipengaruhi oleh empat hal, yaitu: lingkungan, kelengkapan fasilitas kesehatan, perilaku dan genetika. Dari ke empat faktor tersebut, perilaku merupakan faktor terbesar yang memengaruhi kesehatan seseorang. Perilaku yang terbentuk
dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor internal (umur, pendidikan, jenis kelamin, pengetahuan, sikap dan berbagai faktor lainnya) dan faktor eksternal (budaya, nilai- nilai, sosial, politik). Faktor internal sering juga disebut sebagai karakteristik personal. Hal ini membuktikan bahwa karakteristik personal sangat berpengaruh terhadap sehat sakitnya seseorang (Notoatmodjo, 2007).
2.2.1.1 Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, pengetahuan adalah segala apa yang diketahui berkenaan dengan sesuatu hal, pada dasarnya pengetahuan terdiri dari jumlah fakta dan teori yang memungkinkan seseorang dapat memahami sesuatu gejala dan memecahkan masalah yang di hadapinya.
Pada tahap pertama, bahwa salah satu faktor yang memengaruhi perilaku adalah pengetahuan (knowledge). Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Komponen kognitif merupakan representasi yang dipercaya oleh individu. Komponen kognitif berisi persepsi dan kepercayaan yang dimiliki individu mengenai sesuatu kepercayaan datang dari yang telah dilihat, kemudian terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai
sifat atau karakteristik umum suatu objek. Sekali kepercayaan telah terbentuk, akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai yang dapat diharapkan dari objek tertentu. Namun kepercayaan sebagai komponen kognitif tidak terlalu akurat.
Kadang-kadang kepercayaan tersebut terbentuk justru dikarenakan kurang atau tiadanya informasi yang benar mengenai objek yang dihadapi. Seringkali komponen kognitif ini dapat disamakan dengan pandangan atau opini. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang mencakup di dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan yaitu : 1) Tahu;
2) Memahami;
3) Aplikasi;
4) Analisis;
5) Sintesis;
6) Evaluasi.
Menurut Bloom dan Skinner dalam Notoatmodjo (2003) pengetahuan adalah kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahuinya dalam bentuk bukti jawaban baik lisan atau tulisan, bukti atau tulisan tersebut merupakan suatu reaksi dari suatu stimulasi yang berupa pertanyaan baik lisan atau tulisan. Arikunto (2006), pengetahuan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
1) Baik : Bila subjek mampu menjawab dengan benar 76%-100% dari seluruh pertanyaan;
2) Cukup : Bila subjek mampu menjawab dengan benar 56%-75% dari seluruh pertanyaan;
3) Kurang : Bila Subjek mampu menjawab dengan benar 40%-55% dari seluruh pertanyaan.
2.2.1.2 Sikap
Sikap mulai menjadi fokus pembahasan dalam ilmu sosial semenjak awal abad 20. Secara bahasa, Oxford Advanced Learner Dictionary mencantumkan bahwa sikap (attitude), berasal dari bahasa Italia attitudine yaitu “Manner of placing or holding the body, dan Way of feeling, thinking or behaving”. Sikap adalah cara
menempatkan atau membawa diri, atau cara merasakan, jalan pikiran, dan perilaku.
Menurut Aiken dalam Ramdhani (2009), Sikap adalah predisposisi atau kecenderungan yang dipelajari dari seorang individu untuk merespon secara positif atau negatif dengan intensitas yang moderat dan atau memadai terhadap objek, situasi, konsep, atau orang lain. Definisi yang dikemukakan Aiken ini sudah lebih aktif dan operasional, baik dalam hal mekanisme terjadinya maupun intensitas dari sikap itu sendiri. Predisposisi yang diarahkan terhadap objek diperoleh dari proses belajar. Definisi di atas nampaknya konsisten menempatkan sikap sebagai predisposisi atau tendensi yang menentukan respon individu terhadap suatu objek.
Predisposisi atau tendensi ini diperoleh individu dari proses belajar, sedangkan objek sikap dapat berupa benda, situasi, dan orang. Notoatmodjo (2003), juga sependapat melalui pernyataannya yang menyatakan bahwa sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap belum