BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu diperlukan untuk memperkuat penelitian terkait tingginya tingkat cerai gugat di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Berikut skipsi dan jurnal yang pernah dilakukan oleh beberapa peneliti dan memiliki relevansi dengan penelitian yang penulis teliti.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Judul Penelitian Temuan Relevansi
1 Mochamad Iqbal Ghonzali 2015.. Pengaruh Pemahaman isu kesetaraan gender dalam kasus cerai gugat dipengadilan negeri sleman
`
Dari hasil temuan lapangan, ditemukan bahwa perempuan di Kabupaten Sleman yang telah melakasanakan gugatan perceraiannya dipengadilan agama terbukti adanya pengaruh pemahaman isu kesetaraan gender adapun buktinya.
Pertama, dari
konvensional menuju emansipasi terbukti pergeseran nilai dimasyarakat oleh perempuan telah banyak terjadi. Kedua,
Hasil penelitian ini memiliki relevansi yang sama, peneliti akan membahas mengenai
kesetaraan Gender peremupan.
Namun dalam penelitian
tersebut terjadi di wilayah Sleman..
pergeseran adanya alasan perceraian uang memicu istri menggugat suaminya terbukti diawalidengan adanya tindakan tindakan yang mengacu
padaketidakadilan gender.Ketiga, adanya informasi yang menuju
pada indikasi
pemahaman isu
kesetaraan gender terhadap perempuan dikabupaten sleman.baik dari bupati Sleman Sri purnomo.
2 Mar atus Sholehah 2017 JURNAL ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK FENOMENA
MENINGKATNYA GUGATAN CERAI OLEH KALANGAN WANITA KARIER DI SURABAYA (Studi Deskriptif terhadap Kalangan Wanita Karier
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diperoleh kesimpulan bahwa dalam keputusan tindakan menggugat cerai suami oleh istri yang berprofesi sebagai wanita karier terdapat berbagai latar belakang permasalahan pemicu gugatan perceraian dan
Relevansi
penelitian ini adalah
meningkatnya fenomena cerai gugat dari sudut pandang apa yang
menyebabkan status pernikahan mereka cerai.
yang Menggugat Cerai Suami di Kota Surabaya)
aktor aktor yang berpengaruh. Dalam latar belakang pemicu keputusan tindakan bercerai oleh istri yang berprofesi sebagai
wanita karier
dipengaruhi oleh berbegai permasalahan dari dalam keluarga maupun dari luar keluarga. Hal ini dapat ditemukan dari temuan data yaitu latar belakang keluarga pasangan ( Pekerjaan orang tua, status keluarga utuh/tidak utuh dan pola asuh), ketimpangan ekonomi, selingkuh, kdrt, talaq, csmpur tangan keluarga, kekuasaan tersangkut kasus hukum, hubungan seks, dampak ekonomi, dampak sosial, trauma dan keinginan menikah lagi.
Peneliti tentu akan mengkaji lebih dalam mengenai kasus perceraian di Kec. Pakis Kab.
Malang.
3 Lilik Andaryuni Pemahaman gender Relevansi
“PEMAHAMAN memberikan dampak Penelitian
GENDER DAN terhadap tingginya angka terdahulu dan TINGGINYA ANGKA cerai gugat di penelitian yang CERAI GUGAT DI Pengadilan Agama akan diangkat PENGADILAN AGAMA Samarinda. Fakta-fakta oleh peneliti SAMARINDA” Volume tersebut menjelaskan, adalah. Tingkat 9, No 1, 2017 IAIN bahwa telah terjadi kesadaran
Samarinda pergeseran tentang perempuan persepsi perceraian, mengenai perempuan mulai berani kesadaran memposisikan dirinya
sama dengan laki-laki, sudah mengerti akan hak- haknya dalam rumah tangga dan berani menunjukkan
eksistensinya, perempuan tidak mau lagi diperlakukan sewenang- wenang, sehingga hak- haknya terabaikan dan
Gender pada kasus Cerai Gugat. Pada penelitian
tersebut
perempuan mulai sadar mengenai hak-hak nya dan itu merupakan sesuatu yang dilanggar, dan sudah tidak postif.
dapat ditolerir lagi olehnya, maka perempuan akan mempertahankan haknya, yaitu dengan cara mengajukan gugatan cerai.
Paparan di atas menjelaskan, bahwa telah terjadi pergeseran tentang persepsi perceraian,
perempuan mulai berani memposisikan dirinya sama dengan laki-laki, sudah mengerti akan hak- haknya dalam rumah tangga dan berani menunjukkan
eksistensinya, perempuan tidak mau lagi diperlakukan
sewenangwenang,
sehingga hak-haknya terabaikan dan dilanggar, dan sudah tidak dapat ditolerir lagi olehnya, maka perempuan akan mempertahankan haknya, yaitu dengan cara mengajukan gugatan cerai.
Meningkatnya kesadaran perempuan akan hak- haknya ini merupakan suatu perkembangan yang cukup positif
4 Abdul Kholiq Syafa’at Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada prinsipnya kesadaran gender perempuan terhadap
hakhaknya pada
prakteknya masih terdapat kontrofersi perbedaan
Persamaan
(KESADARAN penelitian ini
GENDER PEREMPUAN mengakaji
TERHADAP HAK- mengenai upaya
HAKNYA (Studi Kasus menyadarkan
Gugat Cerai Guru kesetaran gender
Perempuan Di Kabupaten perempuan
Banyuwangi) IAIN Sunan Ampel Surabaya Volume 02, Nomor 02,
Desember 2012;
ISSN:2089-7480
pendapat dikalangan tokoh agama. Di satu sisi ada tokoh agama yang
menyetujui dan
mendukung adanya kesadaran gender, akan tetapi disisi lain ada tokoh agama yang belum bisa
menerima adanya
kesadaran ataupun mengakui hak-hak perempuan sebagaimana mempunyai hak-hak yang sama dengan laki-laki.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa beberapa faktor yang melatar belakangi munculnya kesadaran gender adalah jenis usia, pendidikan, kondisi keluarga, kondisi ekonomi.
mengenai hak nya, namun penelitan tersebut termasuk dalam kontek agama.
5 Fikri “Fleksibilitas Hak Perempuan Dalam Cerai Gugat di Pengadilan Agama Parepare“ Institut Agama Islam Negeri Parepare VOLUME 12 NO. 1
JUNI 2019 ISSN 1979- 245X (print) ISSN 2548-
bukti fleksibilitas di Pengadilan Agama dalam memutus perkara cerai gugat dari gugatan istri. Perkara cerai gugat refleksi kesetaraan dan keadilan dalam hak perempuan kaitannya
Relevansi penelitian
tersebut dengan penelitian penulis adalah,
flesibelitas perkara cerai gugat refleksi
9887 (online) menegakkan hukum di kesetaran dan Pengadilan Agama, keadilan dalam sehingga perceraian hak perempuan, tidak hanya menjadi hak sedangkan dalam mutlak suami. Hak penelitian penulis perempuan dalam cerai nanti nya akan gugat sekaligus menepis membahas
sikap dan budaya tentang hak hak patriarki yang perempuan mendudukan perempuan terkait
sebagai second class. permasalahan Hak cerai gugat cerai gugat di merupakan salah satu Kecamatan Pakis.
hak perempuan untuk memperoleh hak istimewa. Perempuan (Istri) berhak atas cinta, kasih sayang, dan ketenangan dikonstruksi melalui perkawinan sah yang dibingkai dalam perjanjian suci, sangat kuat dan sakral dengan suaminya. Dengan demikian, istri memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan suaminya, baik dalam keluarga atau rumah tangganya maupun melakukan perbuatan
hukum lainnya.
2.2 Kajian Pustaka
2.2.1 Kesadaran Perempuan
a. Pengertain Kesadaran Perempuan.
Menurut Zeman (dalam Hastjarjo, 2005:81) kesadaran merupakan pikiran.
Kesadaran digambarkan sebagai keadaan mental yang berisi hal-hal proporsional seperti keyakinan, harapan, kekhawatiraan dan keinginan. Penulis ingin menjadikan penelitian ini sebagai bahan pertimbangan, khususnya bagi masyarakat luas.Pemahaman gender perempuan juga melibatkan feminisme dalam realitas sosial, yang mengacu pada pemberian status yang setara kepada perempuan dan menjaga keadilan. Penulis berharap dapat mengurangi jumlah orang yang bias gender.
Menurut Susilastuti (dalam Suharto, 2016) teori struktural didasarkan pada asumsi bahwa status subordinat perempuan bersifat kultural dan universal.
Sebuah kelompok menyatakan bahwa perempuan memiliki status yang lebih rendah dan kekuasaan yang lebih rendah karena perannya hanya terkait dengan rumah tangga, sedangkan peran laki-laki lebih terlihat dalam arena publik.
Analisis gender sendiri digunakan gender serta memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil pembangunan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penulis ingin mengkaji lebih dalam mengenai kesadaran perempuan dalam kehidupan berumah tangga mereka bagaimana cara mereka menyikapi jika dalam berumah tangga ada
sesuatu yang tidak seharusnya perempuan peroleh atau perempuan dapatkan.
Seperti kekerasaan dalam rumah tangga, tidak stabilnya ekonomi dan kehidupan sosial mereka.
2.2.2 Aspek Kesadaran Perempuan.
Adapun aspek yang mempengaruhi kesadaran perempuan dalam kehidupan mereka baik itu dalam kehidupan social ataupun jika sudah berumah tangga yang nanti akan menentukan kesadaran perempuan.
A. Partisipasi atau peran.
Adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kesamaan untuk terlihat dan ikut serta dalam perencaan pengambilan keputusan maupun pelaksanaan segala kegiatan baik dalam wilayah public maupun domestic.
B. Akses
Adalah mengetahui, merasakan dan meyakini bahwa laki-laki dan perempuan memiliki peluang atau kesempatan yang sama untuk meggunakan sumber daya. Sumber daya yang dimaksud adalah potensi yang dimiliki individu untuk menyelenggarakan kegitan produktif untuk menghasilkan pemenuhan kebutuhan. Sumber daya terdiri dari.
1. Sumber Daya Fisik
Sumber daya fisik dibagi menjadi dibagi 2 yaitu :
a) Sumber daya buatan seperti modal berupa uang, perlatan, alat-lat produksi, Gedung, rumah, sarana dan prasaran.
b) Sumber daya alami seperti air kekayaan hutan tumbuhan dan heawan 2. Sumber daya social-budaya, misalnya informasi, Pendidikan atau ilmu
pengetahuan, pelatihan, pelayanan social ( Kesehatan, organisasi lingkungan) dan lain sebagainya.
3. Sumber daya manusia , misalnya relasi sosial C. Kontrol
Adalah mengetahui merasakan dan meyakini bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewenagan penuh untuk mengambil keputusuan atas penggunaan dan pemanfaatan berbagai macam hasil sumber daya.
2.2.3 Cerai Gugat
Cerai Gugat adalah ikatan pernikahan yang putus dikarenakan istri melakukan permohonan yang diajukan ke Pengadilan Agama, dan selajutnya termohon (suami) menyetujuinya, sehingga pengadilan agama mengabulkan permohonan yang telah diajukan. Subekti mengatakan bahwa Perceraian merupakan perkawinan dihapus dengan keputusan dari Hakim, atau tuntutan dari satu pihak didalam perkawinan tersebut. Dalam Hukum Talak merupakan perceraian yang dilakukan dalam Hukum Islam atau kehendak suami.
Di dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 114 bahwa putusnya perkawinan disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena Talak atau Gugatan Perceraian.
Menurut UUPA Nomor 7 Tahun 1989 telah mengubahnya dengan istilah baru.
Istilah yang dipergunakan untuk permohonan Talak disebut “Cerai Talak”, sedang untuk Gugat Cerai istilahnya dibalik menjadi “Cerai Gugat”.
Dengan istilah baru ini, dipertegas bentuk pemecahan perkawinan berdasarkan putusan Pengadilan Agama sesuai dengan Hukum Islam. Ahrum Hoerudin juga mengartikan Cerai Gugat secara luas yaitu penggugat (pihak istri) yang mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, agar tali perikatan pernikahan dirinya dengan suaminya diputuskan melalui keputusandari Pengadilan Agama yang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku.
2.3 Teori Konstruksi Sosial Peter Ludwig Berger
Kesadaran perempuan memang sangat berpengaruh terhadap tinginnya cerai gugat, dimana itu semua sejalan dengan banyaknya faktor perceraian yang terjadi karena semakin banyaknya perempuan yang sadar bagaimana pentingnya kesetaraan gender dalam berumah tangga. Perbedaan peran hak dan kewajiban yang dirasa tidak setara menjadi alasan para perempuan di Kecamatan Pakis tersebut melakukan gugatan perceraian.
Berbagai persoalan yang terjadi dalam keluarga sebenernya menjadi masalah setiap rumah tangga, tidak sedikit memang perengkaran kerap trerjadi, sehingga pertengkaran itulah yang perlahan menjadi penyebab secara tidak langsung yang akhirnya menjadi reakitas yang terjadi pada setiap keluarga yang bercerai. Semua persoalan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tersebut sesuai dengan istilah dalam sosiologi. Berger dan Luckmann menjelaskan realitas sosial dengan memisahkan pemahaman kenyataan dan pengetahuan. Realitas
didefinisikan sebagai kualitas yang terkandung dalam realitas, yang dianggap memiliki keberadaan independen dari kehendak kita sendiri.
Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas itu nyata dan memiliki karakteristik tertentu. Berger dan Lukeman percaya bahwa realitas yang terkait dengan pengetahuan memiliki dua objek utama: realitas subjektif dan realitas objektif. Realitas subjektif berupa pengetahuan pribadi.
Selain itu, realitas subjektif merupakan konstruksi definisi individu tentang realitas, yang dikonstruksi melalui proses internalisasi. Realitas subjektif setiap individu menjadi dasar untuk berpartisipasi dalam proses eksternalisasi atau interaksi sosial dengan individu lain dalam struktur sosial. Melalui proses eksternalisasi, kolektif individu dapat mengobjektifikasi dan menciptakan konstruksi realitas objektif baru.