• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

Papua adalah bagian dari wilayah kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), wilayah yang sudah diakui secara de facto dan de Jure sebagai bagian dari Indonesia. Pengakuan diberikan berdasarkan petimbangan unsur-unsur pembentukan negara bangsa. Perlu ada penyamaan pemahaman mengenai status politik Papua yaitu pulau Papua secara deadministrasi, pemerintah Indonesia membagi menjadi dua bagian yaitu propinsi Papua dan propinsi Papua Barat, hal ini penting terkait nama Papua Barat mengarah kepada keyakinan beberapa kalangan untuk membentuk suatu negara Papua yang berdaulat dan terpisah sendiri dari NKRI. Latar belakang dan sejarah Papua sendiri terlebih khusus dalam proses integrasi Papua ke dalam NKRI terlihat berjalan mulus, namun pada konteks dan situasi tertentu proses integrasi diyakini memiliki kejanggalan.

Salah satu bukti adanya kejanggalan dari proses integrasi adalah dalam Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) yaitu adanya ketidakpuasan beberapa oknum yang hingga kini meyakini bahwa terjadi kecurangan dalam proses PEPERA di lain sisi sejarah menjadi penting untuk dikaji lebih rinci mengenai Papua sejak masah penjajahan hingga kepada integras ke dalam NKRI.

Salah satu hal di Papua yang dapat menggambarkan situasi yang konfliktual adalah dengan adanya aktivitasa-aktivitas pro kemerdekaan Papua yang eksis di suarakan baik di rana lokal di Papua, nasional dan internasional mampu menjelaskan dinamika konflik Papua yang hingga saat ini bersifat dinamis. Dinamika konflik di Papua dapat dilihat dari kasus kekerasan yang terjadi di Papua, kekerasan yang bersifat horizontal artinya kekerasan yang terjadi diantara orang Papua sendiri dan kekerasan bersifat vertikal artinya kekerasan antara warga Papua dan pemerintah Indonesia, hal ini menjelaskan bahwa konflik adalah bentuk manifestasi dari kekerasan. Data menunjukan bahwa hampir setiap minggu terjadi kekerasan di Papua. Kasus-kasus kekerasan itu terjadi salah satunya karena dampak dari pembangunan integrasi Papua dengan pendekatan keamanan yang

(2)

justru menimbulkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)1, akhir tahun 2016, sudah hampir 8.000 orang Papua yang ditangkap, dianiaya serta ditahan dan diproses secara hukum, karena menyampaikan pandangan politik yang berbeda secara damai. Mereka berada di sejumlah kota besar di Tanah Papua seperti di Jayapura, Wamena, Merauke, Timika, Nabire, Serui, Biak, Manokwari, Sorong dan Fakfak serta beberapa kota besar di luar Papua seperti Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, Makassar dan Manado,” ungkap Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH)2. Kondisi yang sama di sampaikan oleh Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) berdasarkan catatan Kontras, kasus pelanggaran HAM di Papua mencapai 30 persen dibandingkan kasus serupa di daerah lain pada tahun yang sama yaitu 20163. Jauh sebelumnya kasus-kasus kekerasan berat terjadi sejak integarasi Papua ke dalam NKRI hal ini dibuktikan dengan data dari Pemerintah Indonesia melalui Menkopolhukam terdapat 11 kasus pelanggaran HAM berat di Papua sejak tahun 1998 hingga 2014, beberapa diantaranya yang masuk kategori (pelanggaran) HAM berat, yaitu kasus Wasior (2001) dan Wamena (2003), kasus Paniai (Desember 2014), dan masih usulan tapi belum disepakati betul yaitu kasus Biak berdarah (Juli 1998)4.

Dari data di atas menunjukan bahwa kasus kekerasan yang terjadi di Papua mengalami peningkatan, data ini seiringan dengan semakin banyaknya dukungan terhadap organisasi-organisasi yang pro akan kemerdekaan Papua baik dalam kanca lokal maupun internasional, salah satu dukungan nyata yaitu datang dari negara-negara Kepluauan Pasifik yang tergabung dalam satu komunitas untuk membentuk kerjasama regional yaitu Melanesian Spearhead Group (MSG).

Melanesian Spearhead Group (MSG) merupakan sebuah kerjasama negara-negara pasifik dalam bidang perdagangan yang ditanda tangani pada tahun 1993 setelah melakukan pertemuan pada tahun 1986 oleh tiga pemimpin negara yaitu Papua New

1Humas komnasham, Laporan Tahunan Komnasham 2015, diakses dari:

https://www.komnasham.go.id/files/20161008-laporan-tahunan-komnas-ham-2015-$R0EQA7F.pdf, diakses pada 29/07/2017, pukul 13.00

2Arnold Belau, LP3BH; pelanggaran ham meningkat di papua, diakses dari, http://suarapapua.com/2017/01/11/lp3bh- pelanggaran-ham-meningkat-papua-2016/ diakses pada 29/07/2017, pukul 13,15

3Dani Prabowo, kontras; banyak kasus pelanggaran ham di papua yang belum tersentuh, diakses dari http://nasional.kompas.com/read/2016/12/27/18215841/kontras.banyak.kasus.pelanggaran.ham.di.papua.yang.belum .tersentuh. diakses pada 29/07/2107.pukul 13.30

4BBC,Indonesia.ham.papua,.diakses.dari,http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160518_indonesi a_ham_papua, diakses pada 29/07/2017, pukul 13.50

(3)

Guinea, Vanuatu dan Salomon Islands. Forum negara-negara Pasifik ini tidak hanya bergerak dalam bidang perdagangan (ekonomi) namun juga bergerak dalam isu-isu politik, khsusunya di kawasan kepulauan Pasifik. Pada saat ini jumlah anggota MSG ada 5 yaitu, Fiji, Vanuatu, Papua New Guinea, Salomon Islands dan Kanak Socialist National Liberation Front (*FLNKS). Dalam keanggotaan ini juga perwakilan atau suara actor-aktor pro kemerdekaan masuk di MSG melalui organisasi yang bernama, United Liberation Movement for Free West Papua (ULMWP) yang mana saat ini terdaftar sebagai observer.

Dalam mejelaskan konflik yang terjadi di Papua melalui aktivitas yang dilakukan oleh organsisasi atau individu yang proakan kemerdekaan Papua sebagai Negara yang berdiri sendiri memiliki hubungan yang erat dengan komunitas kawasan, (regional community) terlebih khusus komunitas di kawasan kepulauan Pasifik, negara-negara Pasifik yang bersatu dalam kerjasama di kawasan yang disebut dengan Melanesian Spearhead Group (MSG) memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam pergerakan kemerdekaan Papua, dan cukup juga untuk menggambarkan situasi konflik yang ada di Papua melalui keterlibatan negara-negara Pasifik. Faktor persamaan ras, keprihatinan terhadap pelanggaran dan kekerasan terhadap orang Papua memberikan perhatian khusus dari negara anggota MSG dalam memperjuangkan hak nasib sendiri bagi rakyat Papua, dukungan terhadap aktor pro kemerdekaan Papua memberikan dampak terhadap rakyat Papua. Data di atas menunjukan bahwa adanya peningkatan jumlah kasus kekerasan di Papua setelah tahun 2014 hal ini seiring dengan datangnya dukungan dari MSG yang begitu nyata dalam menyuarakan aspirasi rakyat Papua, menjadi kajian menarik karena akan dilakukan perbangingan intensitas konflik sebelum dan sesudah adanya MSG di Papua.

Menjelaskan konflik Papua perlu adanya kajian dari berbagai aktor yang yang memiliki pengaruh secara langsung dan tidak langsung terhadap Papua, MSG tidak membuat konflik secara langsung terhadap orang Papua namun konflik muncul karena adanya dukungan MSG terhadap Papua dalam upaya menentukan nasib sendiri. Situasi konflik adalah situasi yang bisa diciptkan (conflict by design). Pandangan optimis masyarakat Papua terlebih khusus pihak pro kemerdekaan terhadap MSG dan upaya yang dilakukanya dalam mencapai kemerdekaan turut membawa Papua dalam situasi konflik yang tak kunjung habis hingga saat ini.

(4)

Upaya untuk menyelesaikan konflik dari pemerintah Indonesia hingga saat ini masih belum mampu menuntaskan masalah yang terjadi di Papua. Kalangan yang tidak puas akan hasil PEPERA terus melakukan perlawan kepada pemerintah Indonesia dengan mengatasnamakan diri sebagai Organisasi Papua Merdeka (OPM) istilah OPM juga merupakan nama yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia saat itu terhadap semua orang yang melakukan perlawanan dan mereka bukan organisasi yang memiliki struktur, kalangan ini dalam dunia internasional menyebut diri sebagai West Papua (Papua Barat) Papua Barat bukan dalam konteks administrasi namun lebih luas sebagai status politik Papua. Sekalipun dalam buku “Profil Provinsi Republik Idonesia, Irian Jaya” mengatakan bahwa para tokoh OPM satu per satu ditangkap dan pada akhirnya gerakan ini benar-benar lumpuh, menjadi terbalik dengan situasi yang terjadi saat ini. Karena justru pergerakan muncul semakin kuat, dan konflik di Papua semakin tidak mudah untuk dihentikan karena para pejuang kemerdekaan hadir dan menjalin hubungan dengan Negara-negara lain untuk dibantu agar dapat membebaskan diri dari NKRI. Gerakan perjuangan kemerdekaan memiliki basis pergerakan di luar negeri seperti pembukaan kantor cabang di Inggris, Australia, dan mendapat dukungan penuh dari negara-negara di kawasan kepulauan Pasifik, seperti, Fiji, Vanuatu, Salomon Islands, Papua New Guinea, bahkan pengaruh dari negara-negara Kepuluan Pasifik sangat nyata dalam memperjuangkan hak dan upaya kemerdekaan Papua di kanca internasional hingga pada forum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Dari uraian diatas maka penelitian ini akan memberi fokus kepada peran MSG sendiri dalam pergerakan kemerdekaan Papua. Pergerakan pemebebasan sendiri masih sangat eksis di Papua bahkan Papua menjadi sorotan internasional karena upaya yang dilakukan organsiasi- organsiasi kemerdekaan isu-isu pelanggaran HAM, kajian sejarah, dan kekerasan yang terajadi di Papua baik yang dilakukan oleh militer secara langsug maupun melalui kebijakan yang bersifat struktur. Papua dijadikan atau menjadi daerah konflik merupakan suatu awal dari munculnya konflik, dan akan menjadi perhatian berikutnya yaitu kepada MSG yang intens meneriakan kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua dan memberikan bantuan terhadap organsiasi yang fokus dalam upaya kemerdekaan.

1.2.Rumusan Masalah

(5)

Dari latar belakang yang dijelaskan di atas muncul pertanyaan yang penting untuk diteliti, yaitu:

a. Bagaimana dinamika konflik di dalam pergerakan kemerdekaan di Papua?

b.Bagaimana Peran MSG dalam upaya kemerdekaan Papua?

1.3.Tujuan Penelitian

a. Mendekripsikan dinamika konflik dalam pergerakan kemerdekaan di Papua b.Mendeskripsikan peranan MSG dalam pergerakan kemerdekaan Papua 1.4.Manfaat Penelitian

1.4.1. Manfaat Praktis

Melalui penelitian ini dapat memperjelas situasi konflik yang ada di Papua dan perjuangan pergerakan Papua Merdeka di Papua yang turut menyumbangkan konfik di Papua dan organisasi regional dalam hal ini MSG juga tutut ambil andil dalam perjuangan kemerdekan melaui diplomasi sehingga pemerintah Indonesia dapat menyikapi dan mempertegas status Papua. Penyelesaian konflik ini menjadi sebuah tanggung jawab yang penting dalam menjaga kedaulatan negara NKRI sehingga pendekatan dalam menganalis konfli ini menjadi penting agar dapat diselesaikan konflik yang terjadi di Papua.

1.4.2. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian diharapkan dapat menjadi referensi pengembangan ilmu Hubungan Internasional terutama dalam analis studi konflik dan studi-studi perdamaian kedepannya.

1.5.Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian meberikan fokus pada konflik yang terjadi di Papua melalui pergerakan kemerdekaan Papua dan peran dari MSG yang merupakan negara negara yang berada di Kepualuan Pasifik dalam konflik di Papua dan lebih fokus lagi peranan MSG dalam upaya kemerdekaan yang dilakukan di Papua

Bagian akhir dari penelitian ini berisi mengenai kritik dan saran terhadap aktor dan elit-elit politik yang terlibat dalam konflik sekaligus berisikan daftar pustaka.

Referensi

Dokumen terkait

“Enhance Learning Based on Psychological Indexes and Individual Preferences for a Physics Course Using An Adaptive Hypermedia Learning

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas masyarakat Desa Klampok beragama Islam, terbukti dari sarana peribadatan yang sangat memadai. Salah satunya yaitu masjid

Borges (2008) mengatakan nilai rendahnya DIC dan TA pada musim hujan di ekosistem mangrove terkait dengan salinitas, yaitu pada musim kemarau tingginya temperatur

a) Data sekunder bahan hukum primer, yaitu bahan yang sifatnya mengikat masalah-masalah yang akan diteliti, berupa peraturan perundang-undangan yang berkitan dengan

Jangan sampai kita malah menyakiti orang lain karena lidah kita, tapi mari kita mau menjadi berkat bagi orang lain dengan kata-kata yang keluar dari

Ringkasnya, meskipun struktur kristal serbuk ferit hasil sintesis telah sama dengan produk komersial, namun sifat-sifat magnetik magnet yang dihasilkan masih belum dapat

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Estimasi Parameter Model Regresi

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).