• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. terbukti PBB telah menetapkan Millenium Development Goals (MDGs). Salah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENGANTAR. 1.1 Latar Belakang. terbukti PBB telah menetapkan Millenium Development Goals (MDGs). Salah"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

1 1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, masalah kemiskinan telah menjadi masalah internasional, terbukti PBB telah menetapkan Millenium Development Goals (MDGs). Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah memberantas kemiskinan dan kelaparan, di mana pada tahun 2015 proporsi penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan harus dikurangi hingga 50 persen dari kondisi tahun 1990. Menurut World Bank (2006) ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP (Purchasing Power Parity) 1,55 dolar AS per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi pendapatan, dapat dikatagorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antardaerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan.

Menurut Arsyad (2010: 299) masalah kemiskinan itu sangatlah kompleks dan pemecahannya pun tidak mudah. Bagi yang memperhatikan konsep masalah- masalah kebijakan sosial secara lebih luas biasanya lebih memperhatikan konsep tingkat hidup, yaitu tidak hanya menekankan pada tingkat pendapatan saja, namun

(2)

juga masalah pendidikan, perumahan, kesehatan dan kondisi-kondisi sosial lainnya dari suatu masyarakat. Selanjutnya permasalahan standar hidup yang rendah berkaitan pula dengan jumlah pendapatan yang sedikit, perumahan yang kurang layak, kesehatan yang buruk, tingkat pendidikan yang rendah hingga berakibat pada rendahnya sumber daya manusia.

Pembangunan dalam jangka panjang, diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga dapat mengurangi kemiskinan. Hal ini sesuai dengan pendapat Todaro dan Smith (2006: 26) yang menyebutkan bahwa tujuan utama dari pembangunan ekonomi adalah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya dan mengurangi tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan dan tingkat pengangguran.

Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dapat dipandang sebagai suatu strategi yang memiliki tujuan untuk memperkuat perekonomian daerah dalam rangka memperkokoh perekonomian nasional untuk menghadapi era perdagangan bebas. Krisis yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 hingga kini telah menyebabkan meningkatnya orang miskin, pengangguran, meningkatnya anak putus sekolah, meningkatnya kriminalitas, menurunnya kualitas kesehatan serta efek negatif lainnya.

Pemerintah mempunyai peran sangat penting di dalam ekonomi. Peranan pemerintah ini direalisasikan lewat berbagai macam kebijakan, peraturan, dan perundang-undangan dengan tujuan untuk mendorong atau menggairahkan ekonomi pada saat ekonomi sedang lesu dan mengerem laju ekonomi pada saat memanas, terutama untuk mencegah inflasi tinggi. Dalam kata lain, tugas

(3)

pemerintah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang menciptakan kesempatan kerja penuh, yang berarti mengurangi atau menghilangkan pengangguran dan kemiskinan (Tambunan, 2009: 162).

Salah satu aspek terpenting untuk mendukung strategi penanggulangan kemiskinan adalah tersedianya data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran.

Pengukuran kemiskinan yang dapat dipercaya bisa menjadi instrumen tangguh bagi pengambilan kebijakan dalam memfokuskan perhatian pada kondisi penduduk miskin. Data kemiskinan yang baik dapat digunakan untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah terhadap kemiskinan, membandingkan kemiskinan antarwaktu dan daerah, serta menentukan target penduduk miskin dengan tujuan agar memperbaiki kondisi penduduk miskin (BPS, 2011).

Tabel 1.1

Jumlah Penduduk Miskin dan Tingkat kemiskinan di Indonesia Tahun 2004 – 2010

Tahun

Jumlah Penduduk

Miskin (Juta)

Tingkat Kemiskinan

(%)

Penurunan /Kenaikan

(%)

Garis Kemiskinan (rupiah/kapita/

Bulan) 2004

2005 2006 2007 2008 2009 2010

36,10 35,10 39,30 37,17 34,96 32,53 31,02

16,66 15,97 17,75 16,58 15,42 14,15 13,33

- -0,69

1,78 -1,17 -1,16 -1,27 -0,82

126.090 134.029 152.437 167.390 183.364 200.979 212.672 Sumber : BPS, Statistik Indonesia, 2011

Tabel 1.1 menununjukkan bahwa dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2010, data kemiskinan di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun. Namun pada tahun 2006, presentase penduduk miskin meningkat 1.78

(4)

persen dari tahun 2005 yang hanya sebesar 15,97 persen dengan garis kemiskinan Rp134.029,00 per kapita per bulan menjadi 17,75 persen dengan garis kemiskinan sebesar Rp152.437,00 per kapita per bulan. Hal ini terjadi karena adanya kebijakan pemerintah tentang pengurangan subsidi BBM yang diberlakukan sejak bulan oktober 2005. Secara keseluruhan, pada periode tahun 2004-2010 tingkat kemiskinan di Indonesia menurun dengan rata-rata 0,5 persen per tahun.

Tabel 1.2

Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi tahun 2012

Provinsi Jumlah penduduk miskin Prosentase penduduk miskin Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa

Maluku 51,10 287,80 338,90 8,39 28,12 20,76

Maluku Utara 8,70 79,60 88,30 2,92 9,98 8,06

Papua Barat 13,30 210,00 223,20 5,36 36,33 27,04

Papua 48,10 928,30 976,40 5,81 39,39 30,66

Nusa Tenggara Barat 415,40 412,90 828,30 21,65 15,41 18,02 Nusa Tenggara Timur 117,40 882,90 1000,30 12,21 22,41 20,41 Kalimantan Barat 74,20 281,50 355,70 5,49 9,04 7,96 Kalimatan Tengah 32,30 109,60 141,90 4,21 7,19 6,19 Kalimantan Selatan 56,50 132,70 189,20 3,56 6,07 5,01 Kalimantan Timur 91,50 154,60 246,10 3,82 10,56 6,38

Sulawesi Utara 66,80 110,70 177,50 6,36 8,69 7,64

Sulawesi Tengah 60,20 349,40 409,60 9,02 16,85 14,94 Sulawesi Selatan 133,60 672,30 805,90 4,44 12,93 9,82 Sulawesi Tenggara 29,60 274,70 304,30 4,62 16,24 13,06

Gorontalo 17,80 169,90 187,70 4,80 23,63 17,22

Sulawesi Barat 29,10 131,50 160,60 10,03 13,92 13,01

DKI Jakarta 366,80 - 366,80 3,70 0,000 3,70

Jawa Barat 2560,00 1861,50 4421,50 8,71 12,13 9,89 Jawa Tengah 1946,50 2916,90 4863,40 13,11 16,55 14,98 DI Yogyakarta 306,50 255,60 562,10 13,10 21,29 15,88 Jawa Timur 1606,00 3354,60 4960,50 8,90 16,88 13,08 Sumber : BPS 2012

Tabel 1.2 menunjukkan jumlah penduduk dan presentase kemiskinan masing-masing daerah di Indonesia, di mana Provinsi Maluku termasuk katagori tingkat kemiskinan ke-3 pada tahun 2012 yaitu sebesar 20,76 dengan jumlah penduduk sebesar 338,90 juta. Maluku Utara dengan jumlah presentase kemiskinan sebesar 8,06 dan jumlah penduduk sebesar 88,30 juta. Hal ini

(5)

berindikasi bahwa tingkat kemiskinan masih tinggi pada Provinsi Maluku sehingga memerlukan kerja keras bagi pemerintah daerah untuk mengurangi tingkat kemiskinan di Maluku.

Dari gambaran data kemiskinan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kemiskinan masih menjadi masalah pokok nasional yang penanggulangannya harus dijadikan sebagai prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Kebijakan penanggulangan kemiskinan tidak terlepas dari konteks pembangunan masyarakat. Pembangunan yang selama ini dilakukan adalah untuk mencapai kondisi yang lebih baik.

Menurut Korten (1984) ada dua pendekatan dalam pembangunan yang dilakukan selama ini, yakni pendekatan top down dan pendekatan bottom up.

Pendekatan top down merupakan bentuk blue print strategy (cetak biru) yakni pendekatan yang bersumber pada pemerintah, dengan demikian masyarakat hanyalah sebagai sasaran atau objek pembangunan saja. Sebaliknya pendekatan bottom up adalah pembangunan yang memposisikan masyarakat sebagai pusat

pembangunan atau pusat perubahan sehingga terlibat dalam proses perencanaan sampai pada pelaksanaan dan evaluasi. Pendekatan ini sering disebut sebagai people centered development (lihat Sulistiyani, 2004: 37).

Dalam rangka penanggulangan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja di perdesaan, Presiden Republik Indonesia pada tanggal 30 April 2007 di Palu, Sulawesi Tengah mencanangkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MP). Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM Mandiri Perdesaan) merupakan salah satu mekanisme

(6)

program pemberdayaan masyarakat yang digunakan PNPM Mandiri dalam upaya mempercepat penanggulangan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja di wilayah perdesaan. Program ini dilakukan untuk lebih mendorong upaya peningkatan kualitas hidup, kesejahteraan dan kemandirian masyarakat di perdesaan. PNPM Mandiri Perdesaan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari PNPM Mandiri dan telah dilakukan sejak 1998 melalui Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Dalam PNPM Mandiri Perdesan, seluruh anggota masyarakat diajak terlibat dalam setiap tahap kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pengambilan keputusan dalam penggunaan dan pengelolaan dana sesuai kebutuhan paling prioritas di desanya, sampai pada pelaksanaan kegiatan pelestariannya. Pelaksanaan program PNPM-MP memberi bantuan berupa fisik dan non fisik di desa-desa seperti pembangunan jalan, jembatan, gedung sekolah, gedung Pos Kesehatan Desa (PKD), pasar desa, talud, irigasi, pemberian pinjaman, pelatihan ketrampilan, modal usaha produktif dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat sekitar.

Pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan berada di bawah binaan Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD), Kementerian Dalam Negeri dan juga program ini didukung dengan pembiayaan yang berasal dari alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Provinsi Maluku merupakan salah satu provinsi yang menjadi target PNPM Mandiri Perdesaan, di mana terdapat sebelas Kabupaten penerima Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) pada tahun 2013.

Pada tahun 1999, pemerintah Negara Republik Indonesia memberlakukan

(7)

kebijakan desentralisasi atau yang lebih dikenal dengan Otonomi Daerah. Salah satu ciri utama Otonomi Daerah sebagaimana tersirat dalam UU Nomor 25 tahun 1999 adalah Daerah Otonom memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan, mengelola dan menggunakannya sendiri untuk pembiayaan pembangunan Daerah (Daryanto dan Hafizrianda, 2010: 4).

Wilayah Provinsi Maluku berada di ujung timur Indonesia dengan memiliki luas wilayah secara keseluruhan adalah 581.376 km2, terdiri dari luas lautan 527.191 km2 dan luas daratan 54.185 km2. Dengan kata lain sekitar 90 persen wilayah Provinsi Maluku adalah lautan. Jumlah penduduk Maluku mencapai 1.457.070 jiwa. Kepadatan penduduk sekitar 27 orang per km2. Laju pertumbuhan penduduk adalah sebesar 3,65 persen (BPS 2012 : 61). Sejak tahun 2013 Provinsi Maluku memiliki 11 Kabupaten, 73 Kecamatan dan 906 Desa/Kelurahan (BPS 2012: 3).

Gambaran umum perkembangan tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku tahun 2002-2013 dapat dilihat pada Tabel 1.3. Pada periode 2002-2004 jumlah penduduk miskin berkurang sebesar 21.200 orang, namun pada periode 2004- 2006 penduduk miskin cenderung meningkat. Selanjutnya pada periode 2007- 2012 jumlah penduduk miskin terus mengalami penurunan yaitu dari 404.700 orang menjadi 321.840 orang (Maret 2013).

Secara relatif juga terjadi penurunan Presentase penduduk miskin dari 34,78 persen pada tahun 2002 menjadi 32,13 persen pada tahun 2004. Pada tahun 2005, presentase penduduk miskin bertambah menjadi 32,28 persen dan terus

(8)

bertambah pada tahun 2006 menjadi 33,03 persen. Pada Maret 2013 tingkat kemiskinan di Maluku turun lagi menjadi 19,49 persen.

Selama periode Maret 2012-Maret 2013, penduduk miskin di daerah perdesaan berkurang 18.670 orang, sementara di daerah perkotaan berkurang 9.720 orang. Presentase penduduk miskin di daerah perdesaan masih cukup tinggi, yaitu sebesar 26,35 persen dibandingkan dengan daerah perkotaan mencapai 7,93 persen. Peningkatan jumlah dan presentase penduduk miskin selama tahun 2004- 2006 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, akibatnya penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada di sekitar garis kemiskinan banyak yang tergeser posisinya menjadi miskin.

Tabel 1.3

Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin di Maluku Tahun 2002-2013

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin Prosentase Penduduk Miskin Kota Desa Kota +

Desa

Kota Desa Kota+Desa 2002 40.200 378.600 418.800 12,76 42,82 34,78 2003 41.900 358.000 399.900 12,53 40,56 32,85 2004 41.100 356.500 397.600 11,99 39,86 32,13 2005 45.100 366.400 411.500 13,57 38,89 32,28 2006 46.200 372.400 418.600 13,86 39,87 33,03 2007 49.100 355.600 404.700 14,49 37,02 31,14 2008 44.700 346.700 391.300 12,97 35,56 29,66 2009 38.770 341.240 380.010 11,03 34,30 28,23 2010 36.350 342.280 378.630 10,20 33,94 27,74 2011 59.600 300.720 360.320 10,24 30,54 23,00 Maret 2012 58.470 291.760 350.230 9,78 28,88 21,78 Sept 2012 51.100 287.790 338.890 8,39 28,12 20,76 Maret 2013 48.750 273.090 321.840 7.93 26,35 19,49

Sumber: BPS Maluku 2013

Jika dilihat dari pada realisasi belanja modal pemerintah Provinsi Maluku khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan secara rata-rata pada lima tahun

(9)

terakhir yakni tahun 2008-2012, pengeluaran tertinggi secara rata-rata adalah pada bidang pendidikan yakni sebesar 121.986.979.903 rupiah kemudiaan diikuti dengan bidang kesehatan sebesar 89.129.855.077 rupiah, hal ini mengindikasikan bahwa selama lima tahun terakhir kebijakan Pemerintah Provinsi Maluku adalah peningkatan pada sektor pendidikan. Perkembangan pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan di Provinsi Maluku selama tahun 2008-2012 dapat dilihat pada Tabel 1.4.

Tabel 1.4

Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Provinsi Maluku Dalam Bidang Kesehatan dan Pendidikan, Tahun 2008-2012

Tahun

Bidang

Kesehatan Pendidikan

2008 55.959.826.000 116.735.825.047

2009 68.735.038.631 106.140.191.696

2010 87.061.105.393 137.965.362.566

2011 115.912.897.571 144.827.299.455

2012 117.980.407.791 104.266.220.752

Rata-rata 89.129.855.077 121.986.979.903 Sumber : Kementerian Keuangan RI, 2012.

Gambaran umum perkembangan kinerja perekonomian Provinsi Maluku secara agregat dapat dijelaskan oleh PDRB berdasarkan harga konstan. PDRB Provinsi Maluku selama 2008-2011 mengalami kenaikan, pada tahun 2008 PDRB Provinsi Maluku sebesar 3.787.104 rupiah dan pada tahun 2011 naik menjadi 4.507.336 rupiah atau naik sebesar 720.232 rupiah. Perkembangan PDRB Provinsi Maluku dapat dilihat pada Tabel 1.5.

(10)

Tabel 1.5

Perkembangan PDRB Sektoral Provinsi Maluku Berdasarkan Harga Konstan 2000, 2008-2011

(Juta Rupiah)

Sektor 2008 2009 2010 2011

Pertanian

Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan

Listrik &Air Minum Bangunan

Perdagangan, Hotel &

Restoran

Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan

Jasa-Jasa

1.209.850 27.004 188.445

20.958 49.848 971.534

407.690 209.645 702.130

1.258.949 28.071 201.585

17.491 53.324 1.029.788

436.237 218.900 748.443

1.330.244 30.901 202.399

20.305 78.468 1.094.626

464.618 224.370 805.425

1.377.545 33.418 217.022

21.753 87.239 1.169.116

490.018 232.184

879.042 PDRB 3.787.104 3.992.788 4.251.356 4.507.336

Sumber : BPS Maluku

Berdasarkan uraian tersebut di atas, walaupun jumlah penduduk dan presentse kemiskinan terus mengalami penurunan namun Provinsi Maluku masih termasuk kategori termiskin ke 3 di Indonesia pada tahun 2012, sehingga masalah kemiskinan tetap saja masih menjadi hal yang serius dan harus terus diperhatikan oleh pihak-pihak terkait dalam usaha untuk menanggulanginya hingga pada akhirnya benar-benar menciptakan kondisi ekonomi masyarakat yang sejahtera., sehingg dalam penelitian ini mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian, yaitu.

1. Bagaimanakah pengaruh program PNPM mandiri perdesaan kabupaten terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku pada tahun 2008-2012?

2. Bagaimana pengaruh belanja modal di bidang kesehatan dan pendidikan kabupaten terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku pada tahun 2008- 2012?

3. Bagaimana pengaruh PDRB kabupaten terhadap tingkat kemiskinan di

(11)

Provinsi Maluku pada tahun 2008-2012?

1.2 Keaslian Penelitian

Fokus penelitian ini untuk melihat pengaruh Program PNPM Mandiri Perdesaan, pengeluaran pemerintah di bidang kesehatan dan pendidikan serta PDRB terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku. Kajian penelitian tentang program-program penanggulangan kemiskinan telah banyak dilakukan oleh para peneliti sebelumnya dengan daerah dan periode waktu yang berbeda. Hal ini berarti bahwa masalah kemiskinan daerah menarik untuk diteliti.

Tabel 1.6

Hasil Penelitian yang Terkait dengan Kemiskinan No Nama Peneliti Lokasi,

Periode

Alat Analisis Hasil Penelitian 1. Bahmani dan

Oyolola (2009)

49 negara berkembang, 1981-2002

Regresi data panel

Bantuan luar negeri dan pertumbuhan ekonomi berhubungan negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, sementara ketimpangan, pengeluaran untuk program sosial dan kualitas

institusi/kelembagaan berhubungan positif dengan kemiskinan.

2, Pradeep (2008) Kazakhastan, 2000-2003

Regresi data panel

Pertumbuhan ekonomi dan pengeluaran pemerintah untuk sektor sosial (jaminan sosial, pendidikan dan kesehatan) berpengaruh terhadap pengurangan kemiskinan.

3. Widodo,Waridin dan Maria (2011)

Jawa Tengah, 2007-2008

Multiple Regression Analysis

Alokasi pengeluaran pemerintah sektor publik di bidang pendidikan dan

(12)

kesehatan tidak secara langsung mempengaruhi

IPM ataupun

kemiskinan, namun secara bersama-sama pengeluaran sektor publik di bidang pendidikan dan kesehatan serta IPM dapat mempengaruhi kemiskinan.

4 Kifli (2007) Provinsi Lampung, 2000-2005

Regresi data panel

Pendapatan per kapita, angka melek huruf, dan belanja publik berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran dan angka keluhan kesehatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan

5 Rusdarti dan Sebayang (2013)

Jawa Tengah, 2006-2007

Ordinary Least Square (OLS)

PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran tidak berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan dan belanja publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan 6 Park dan Sangui

(2010)

Cina, 2001- 2004

Ordinary Least Square (OLS)

Bantuan luar negeri berupa pelayanan

kesehatan dan

pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan.

7 Syukri, Mawardi dan Akhmadi (2013)

Jawa Timur, Sumatra Barat, Sulawesi Tenggara

Panel kualitatif

PNPM mandiri

kesehatan negatif dan tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan.

(13)

Dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mempunyai persamaan dan perbedaan. Penelitian ini mempunyai persamaan pada alat analisis yang digunakan yaitu regresi data panel, sedangkan perbedaannya adalah periode penelitian dan variabel yang digunakan. Ruang lingkup penelitian ini adalah Provinsi Maluku dengan menggunakan data dari tujuh kabupaten selama periode penelitian tahun 2008-2012.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan penelitian

Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut di atas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. untuk menganalisis pengaruh program PNPM Mandiri perdesaan kabupaten terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku pada tahun 2008-2012;

2. untuk menganalisis pengaruh belanja modal di bidang kesehatan dan pendidikan kabupaten terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Maluku pada tahun 2008-2012;

3. untuk menganalisis PDRB kabupaten terhadap tingkat kemiskinan Provinsi Maluku pada tahun 2008-2012.

1.3.2 Manfaat penelitian

Hasil dari penelitian ini mempunyai manfaat untuk memberikan sumbangan pemikiran seperti berikut:

1. dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Maluku dalam penentuan arah

(14)

dan kebijakan untuk mengurangi tingkat kemiskinan.

2. sebagai referensi bagi peneliti berikutnya terkait dengan PNPM-Mandiri Perdesaan, pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan dan kesehatan serta PDRB terhadap tingkat kemiskinan.

1.4 Sistematika Penulisan

Penulisan tesis ini terdiri dari empat bab. Bab I pengantar, yang memuat dan menguraikan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian, pertanyaan penelitian, keaslian penelitian, tujuan dan manfaat penelitian serta sistematika penulisan. Bab II Tinjauan pustaka dan alat analisis, berisikan uraian tentang tinjauan pustaka, landasan teori serta alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini. Bab III analisis data dan pembahasan, berisi Gambaran umum subjek penelitian, metoda penelitian, variabel dan data yang digunakan, teknik analisis data, definisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini serta pembahasan terhadap hasil analisis data. Bab IV kesimpulan dan saran, Memuat kesimpulan hasil penelitian yang telah dilakukan dan saran-saran dalam perumusan kebijakan pembangunan manusia serta keterbatasan penelitian.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil perkembangan produksi telur dan DOC dari diseminasi paket teknologi ayam KUB di dua wilayah penangkaran diamati dalam selang waktu mulai produksi akhir tahun 2012

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja finansial usaha pembibitan dan penetasan ayam lokal dengan manajemen perkawinan menggunakan IB metode pellet , IB semen segar, dan

Pada temperatur beban rata-rata dengan suhu 65°C pada setiap unit transformator daya pusat listrik kota panjang mengalami penurunan, hal tersebut diakibatkan adanya

Merujuk pada kinerja yang dilakukan oleh negara pesaing, hal yang cukup penting dilakukan oleh para calon pemasok di Indonesia adalah perhatian atas penguasaan

Berdasarkan hasil analisis tersebut maka dapat disimpulkan. Pertama, letak konsentra- si spasial industri manufaktur di Jawa Tengah tertinggi berada di Kabupaten Kudus, Kota

Maksud dari Penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data, sehingga dapat diolah dan dihasilkan suatu deskripsi secara menyeluruh tentang “ Pengaruh Implementasi Whistle

Nama alat : Alat semprot tangan (hand sprayer) Produsen : PT.. Data